HARUSKAH BANGSA KAYA SUMBER DAYA ALAM BERGANTUNG PADA PANGAN IMPOR ???????

Luasnya hamparan lautan Indonesia, menyimpan banyak sumberdaya alam yang beragam jenis dan ukurannya. Produk bersumber dari lautan yang sangat sederhana dalam proses pembuatan dan mudah pengambilannya adalah produk garam. Luasnya lautan mencerminkan banyaknya persediaan garam untuk diproses menjadi barang konsumsi.

Teknologi sederhana sampai teknologi modern telah dimiliki bangsa Indonesia, sebab sejak lama masyarakat Indonesia telah menjadi produsen garam yang memenuhi kebutuhan rakyatnya dan masyarakat dunia lainnya.

Tahun 2011 konon Indonesia melakukan impor garam dari India, meski sangat rentan dengan kontradiksi dan perdebatan sengit antar Menteri terkait, selayaknya hal ini tidak harus terjadi. Kekeliruan pemikiran yang menghasilkan kesimpulan bahwa Indonesia harus impor, terletak pada murahnya harga garam impor dan kekurangan pasokan garam dalam negeri. Artinya pemerintah berharap ketersediaan untuk memenuhi permintaan garam dalam negeri yang berharga murah mencukupi. Namun logika murahnya harga barang impor sesungguhnya dari sudut pandang Indonesia, jika dari sudut pandang India harga Garam tersebut normal, hal ini menunjukan terdapat aspek bisnis instan dalam transaksi impor garam, bukan melindungi pengusaha garam negeri, atau bahkan memenuhi kebutuhan garam nasional dalam jangka panjang.

Apabila pemerintah menghendaki terpenuhinya permintaan produk garam dalam negeri dan sekaligus melindungi pengusaha garam nasional dalam jangka panjang, maka sebaiknya memberikan kemudahan birokrasi dan bantuan teknis bagi para pengusaha garam, sebab sering terjadi mahalnya harga barang yang diproduksi di dalam negeri diakibatkan biaya birokrasi yang mahal dan peralatan teknis yang belum terbarukan.

Tanggungjawab pengembangan produk nasional, khususnya produksi garam semestinya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri secara kontinue dan berjangka panjang. Kebijakan impor garam sesungguhnya merupakan ketidak mampuan mengelola sumberdaya alam nasional untuk mensejahterakan masyarakat dalam negeri. Jika memang tidak mampu, telah banyak contoh pengelola negara yang mundur dinegara asing, di Indonesiapun bisa dilakukan…………

Belum selesai kasus impor garam, dilanjutkan pula dengan susu impor….Kebijakan inipun sedang menjelaskan bahwa Indonesia bukanlah negara yang subur alamnya dan berlimpah sumberdaya alamnya. Hal ini terbukti betapa susahnya memelihara sapi di Indonesia untuk menghasilkan susu.

Lagi-lagi alasan impor dilakukan karena produktivitas pabrik susu yang rendah, dan harga susu dalam negeri yang mahal, padahal tingginya harga produk tersebut lebih banyak disebabkan oleh biaya birokrasi yang sangat tidak rasional, serta harga pakan yang ternyata kandungan impornya masih tinggi.

Manajemen distribusi pakan yang masih didominasi oleh distributor besar serta belum berkembangnya pakan organik yang dikelola masyarakat pengusaha dalam negeri, sesungguhnya peluang bagi pemerintah untuk mengembangkannya dan tentu perlu keterlibatan perguruan tinggi terkait dan lembaga penelitian lainnya. Apabila semangat membangun bangsa dengan motivasi mengembangkan kebutuhan masyarakat bersumber dari kandungan lokal terus diupayakan, maka tentu ketergantungan terhadap produk pangan impor dapat dicegah, yang pada akhirnya tidak mematikan para pengusaha pioner dalam negeri, bahkan mengembangkan untuk memenuhi permintaan dalam negeri dalam jangka panjang.

Efisiensi dan efektifitas produk nasional dapat dicapai, hanya dengan satu cara hilangkan biaya yang bersumber dari birokrasi, atau berbagai high cost economy dihilangkan dari negeri ini, maka harga komoditas dijamin terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s