BPR Syari’ah VS Kredit Konsumtif

Pendirian BPR Syariah di Kota Tasikmalaya memberikan kesejukan bagi masyarakat, sebab keberadaannya merupakan cerminan pengelolaan keuangan masyarakat sesuai Syariah Islam telah siap dilaksanakan di Kota Tasikmalaya.
Problema ekonomi yang dihadapi masyarakat Tasikmalaya, adalah tidak tersedianya dana investasi skala mikro yang dapat diakses oleh masyarakat yang tidak memiliki jaminan, kecuali hanya kekuatan kreatifitas dan inovasi yang kadang dipandang sebelah mata oleh lembaga keuangan. Jika kita tengok keahlian masyarakat Kota Tasikmalaya yang mampu membuat aneka design batik, membuat berbagai busana muslim dengan design bordir, industri makanan berbahan baku lokal, serta industri pengolahan logam, sangat banyak ditemui diberbagai pelosok Kota, namun keberadaan mereka dibiarkan dalam kemandirian yang sangat memprihatinkan. Mereka dibiarkan sebagai buruh tanpa disentuh pengembangan yang berarti, para pengrajin bordir yang seharusnya menjadi pengusaha dibiarkan menjadi “tenaga maklun”, bagi pengusaha besar yang tidak ingin berisiko membangun pabrik yang memelihara tenaga kerjanya dengan selimut keselamatan kerja dan tunjangan yang selayaknya mereka berikan.
Jika kita tengok pedagang kaki lima yang menjajakan produk mereka, nampak terlihat produk yang mereka jual mayoritas produk lokal hasil karya anak bangsa, namun mereka tidak dapat singgah di pasar yang memiliki fasilitas memadai untuk melakukan aktivitas berdagangnya, malah mereka selalu dikhawatirkan dengan larangan untuk berdagang di tempat yang banyak dilalui dan disinggahi masyarakat, dengan alasan mengganggu keindahan kota. Pada saat yang sama dibiarkan dengan leluasa produk impor digelar di pasar-pasar yang layak dan di tempat-tempat yang seringkali petugas pengaman enggan singgah ditempat itu, sebab pasar-pasar tersebut telah memiliki satpam dan pengamanan khusus.
Apakah dampak dari ketimpangan ini ?, adalah…penurunan jumlah produsen lokal yang tidak memiliki pasar lokal bagi produknya, mereka yang berkreasi hanya menyediakan produk yang telah dipesan oleh perusahaan besar, mereka tidak memiliki kemandirian sebagai pengusaha sebab mereka berada dalam tekanan kurangnya kekuatan negosiasi, kecilnya daya tawar, yang akhirnya mereka diposisikan sebagai pekerja yang melayani pesanan majikannya. Gairah usaha menjadi menurun sebab sokongan modal usaha untuk pengembangan dari lembaga keuangan relatif kecil, meskipun ada ternyata hambatan administratif dan sejumlah jaminan menjadi kendala. Hal ini terjadi karena lembaga keuangan perbankan merupakan lembaga profit, sehingga mereka sangat ketakutan terhadap resiko kerugian jika berhadapan dengan pengusaha mikro dan pengusaha kecil yang hanya mengandalkan kemampuan/keatifitas tanpa memiliki kekayaan yang dapat disita dikemudian hari jika gagal bayar sesuai kontrak pinjaman.
Kehadiran Bank Perkreditan Rakyat Syariah Al-Madina Kota Tasikmalaya, memberikan harapan baru bagi masyarakat kreatif Kota Tasikmalaya, untuk memberikan ruang yang besar bagi para pengusaha kecil dan calon usahawan baru untuk memperoleh dukungan modal dalam usahanya, sebab prioritas lembaga keuangan berbasis Syariah Islamiah adalah pembiayaan produktif, yang artinya masyarakat produktif yang mampu membuat komoditas yang diperlukan masyarakat akan didukung maksimal pengembangannya serta pengembangan pasar bagi komoditas tersebut akan didorong keberadaannya. BPRS adalah agent of development yang dimaknai sebagai lembaga yang menjembatani kreatifitas masyarakat menjadi subjek ekonomi masyarakat melalui pembiayaan bagi proses produksi dan pembiayaan untuk sarana pasar hasil produksi.
Keberadaan BPRS akan mengikis kebiasaan masyarakat konsumtif, sebab produk Perbankan Syariah lebih diarahkan kepada bertumbuhnya kebiasaan masyarakat produktif, hal ini akan menciptakan gairah wirausaha masyarakat, serta mendorong masyarakat berinovasi meningkatkan kemampuan teknologi produksi dan penemuan teknologi baru, sehingga dapat memperkecil ketergantungan masyarakat dalam mengkonsumsi barang-barang impor.
Berbeda dengan Lembaga Keuangan Perbankan Konvensional yang lebih bergairah memberikan kredit konsumtif, apalagi kepada masyarakat berpenghasilan tetap. Alasan mereka sangat sederhana yakni takut nasabah gagal bayar, melalui program kredit konsumtif kepada pegawai berpenghasilan tetap, cukup dengan daftar gaji dan pembayaran melalui pemotongan gaji secara langsung, maka amanlah bisnis keuangan mereka, nampaknya tak perlu susah-susah menyalurkan kredit produktif yang resikonya sangat besar bagi pengembalian pinjaman mereka. Besarnya jumlah produk kredit konsumtif yang digelar perbankan konvensional melahirkan budaya konsumtif di masyarakat, dimata masyarakat kemampuan memperoleh pinjaman diartikan sama dengan kemampuan beli/daya beli, padahal sesungguhnya daya beli mereka semu, sebab kemampuan beli yang bersumber dari kredit saat ini merupakan pengurangan daya beli di masa depan, hal ini mencerminkan terjadinya penurunan kesejahteraan dimasa depan, dengan kata lain sedang meningkatkan kemiskinan di masa depan. Kondisi ini akan sangat berdampak buruk pada perekonomian daerah, apabila pinjaman masyarakat tersebut dipergunakan untuk mengkonsumsi barang impor. Kredit konsumtif yang diarahkan untuk konsumsi barang impor akan memperkecil jumlah permintaan terhadap barang produk lokal, yang artinya produsen lokal sedang bersiap-siap untuk gulung tikar.
Pengusaha lokal yang berskala kecil tengah dihadapkan kepada persaingan global, dan dukungan perbankan lebih mengutamakan kredit konsumtif serta dipergunakan oleh masyarakat untuk mengkonsumsi barang impor, maka harapan pengusaha lokal hanya kepada Lembaga Keuangan yang konsisten untuk memelihara keberadaan mereka, diantaranya Lembaga Keuangan Syariah yang produk pembiayaannya lebih diarahkan kepada masyarakat produktif, dan semoga orientasi mulia BPRS tidak tertular penyakit menyebarkan kredit konsumtif yang berpeluang menghancurkan kreatifitas dan daya inovasi anak bangsa, Bagaimanapun daerah yang masyarakatnya kreatif akan lebih maju daripada daerah yang masyarakatnya konsumtif.


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s