inkonsistensi sistem ekonomi

Gairah mengentaskan kemiskinan di negeri ini telah lama berkobar, berbagai program akselerasi peningkatan kemampuan masyarakat untuk berwirausaha, peningkatan daya beli masyarakat, sampai menciptakan daya beli masyarakat miskin (BLT). Usaha di atas telah memberikan sunggingan senyum sebagian masyarakat yang menikmatinya, namun masih tersisa cemberut masyarakat ketika distribusi dan alokasi dana diakali oleh oknum berpenyakit.
Ketika masyarakat miskin memperoleh secercah harapan menikmati dayabeli meskipun hanya cukup mengganjal perut, mereka terhenyak dengan kebijakan peningkatan tarif dasar listrik yang berdampak pada peningkatan biaya produksi beberapa industri. Tentu saja dampaknya meningkatkan harga komoditas konsumsi, ditambah perilaku produsen dan pedagang dzalim yang senantiasa senang melihat hiruk pikuk kesengsaraan dan jeritan masyarakat dengan cara menimbun barang, sehingga harga komoditas semakin tinggi, meninggalkan daya beli masyarakat yang baru saja terbangun.
Komitmen mensejahterakan rakyat ternyata cerai berai oleh inkonsistensi dan kebijakan yang tidak terintegrasi antar lembaga pemerintahan, demikian pula dengan lembaga bisnis milik negara.
Seandainya surat keputusan bersama antar beberapa menteri tercipta untuk sebuah kebijakan ekonomi kerakyatan, dan lembaga bisnis milik pemerintah tidak berperilaku seperti perusahaan perseorangan, tentu masyarakat Indonesia memiliki harapan yang semakin jelas menggapai percepatan peningkatan kesejahteraan yang merata.
Fenomena profit oriented pada BUMN khususnya PLN yang meningkatkan tarif dasar listrik, mencerminkan tidak searahnya kebijakan peningkatan daya beli masyarakat dan kebijakan pertumbuhan sektor usaha masyarakat yang dikeluarkan pemerintah dengan lembaga usaha milik pemerintah. Hal ini menunjukan bahwa lembaga usaha milik pemerintah belum diupayakan untuk mendukung percepatan pencapaian kebijakan tersebut.
Profesionalisme perusahaan milik negara ditafsirkan sebagai upaya pemupukan keuntungan, sehingga rakyat Indonesia dianggap sebagai konsumen layaknya interaksi dalam mekanisme pasar, padahal sesungguhnya BUMN merupakan lembaga usaha terdepan untuk mempercepat diraihnya kesejahteraan masyarakat, serta merupakan lembaga penyangga ekonomi masyarakat, ketika lembaga usaha milik perorangan tidak mampu menyediakan kebutuhan masyarakat dengan tingkat harga yang terjangkau.
Apabila BUMN ternyata berperilaku seperti tersebut di atas, maka sesungguhnya BUMN bukan sebagai alat pendukung kebijakan pemerintah, namun berada pada ruang mekanisme pasar. Jika hal ini terjadi, maka masyarakat tidak dapat berharap memperoleh pelayanan kesejahteraan dengan hadirnya perusahaan milik negara yang berada dinegaranya.
Bukankah keberadaan BUMN untuk menciptakan efisiensi produksi di negeri ini ketika perusahaan perseorangan tidak mampu menyediakan kebutuhan masyarakat pada tingkat harga terjangkau dan terdistribusi merata kepada seluruh rakyat Indonesia?. Namun kenyataan yang banyak terlihat, ternyata swastanisasi BUMN menjadi sebuah pilihan, hal ini menunjukan inefisiensi terjadi pada BUMN, sangat disayangkan ketika liberalisme tidak diberikan keleluasaan dalan UUD, namun praktiknya kita menyukai praktik liberal, “bukankah hal ini menunjukan inkonsistensi terhadap komitmen bangsa ?”.
Penerapan sistem ekonomi yang dilandaskan UUD’45 bukan pilihan, namun kewajiban pengelola negara dan rakyat Indonesia untuk menepati janjinya. Sistem ekonomi yang berpihak terhadap rakyat telah nyata tertuang dalam pasal yang sangat jelas di UUD’45, apabila praktik usaha BUMN ternyata lebih memilih beradaptasi pada fluktuasi harga pasar internasional, serta tidak memenuhi janji memenuhi hajat hidup rakyat banyak, maka kecenderungan penghianatan terhadap UUD45 tengah terjadi, haruskah untuk segara melakukan amandemen terhadap pasal-pasal yang berkaitan dengannya…mungkin kita harus menunggu kedatangan OBAMA untuk dimintai sarannya ????????????????????????????????????????.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s