Dimanakah rasa malu terkubur…dan masihkah akan bertunas kembali dinegeri tercinta ini?

Masih jelas bekas jejak kaki perjalanan pengelolaan keuangan bangsa ini, kasus BLBI yang kontroversial masih berbekas dan meninggalkan masalah yang belum usai, entah siapa yang semestinya bertanggung jawab, meski beberapa tokoh telah menghuni kamar-kamar kecil yang mampu merusak nama baik yang telah di bangun penghuninya sejak lama.

Sekarang kasus Bank century berhembus lebih kencang, lingkungan hukum, politik dan tentunya pengelola moneter saling melontarkan tanggapan, semakin tidak jelas, apakah kasus ini akan bermuara pada penyelesaian hukum atau politik. Berbagai tafsiran dan prediksi serta analisis berbagai ahli bercampur menjadi minuman kombinasi, semua berteori dengan landasan teori yang sama-sama kuat menurut pandangan masing-masing, namun…, kita belum mendengar penjelasan resmi dari sumber utama mengenai dampak sistemik yang dijadikan alasan, tentunya dengan sejumlah analisis rasional dan terukur, serta sejumlah kasus empiris yang terjadi di beberapa negara pada kasus yang sama. Sehingga rakyat Indonesia dapat memperoleh kejelasan alasan yang dijadikan sandaran bahwa kebijakan injeksi dana ke Bank Century benar-benar ditujukan untuk menghambat terjadinya krisis ekonomi di Indonesia (apakah ada negara lain yang mengalami perbaikan ekonomi pada saat ini dengan solusi yang berbeda ?).

Apabila kita cermati, dengan merangkai kejadian dari masa lalu tentang terjadinya krisis ekonomi global, hampir seluruhnya bersumber dari operasinal perbankan dan aktivitas memburu keuntungan harga saham (spekulatif) di pasar modal. Jika demikian adanya maka kita dapat berkesimpulan bahwa sumber penyebab krisis ekonomi tersebut adalah tingkat bunga dan aksi spekulatif. Tingkat bunga menjadi sumber penyebab, karena bunga merupakan “harga uang”, sehingga fungsi perbankan seolah menjadi perusahaan jual beli uang, bukan sebagai lembaga intermediasi, bahkan tidak lagi sebagai agent of development. Karakteristik penjual senantiasa mencari selisih harga dari komoditas yang mereka jual, sehingga membeli dengan harga murah dan menjual dengan harga tinggi menjadi sebuah keharusan untuk memperoleh keuntungan.

Dampak nyata dari karakteristik tersebut, maka penjualan uang untuk tujuan konsumtif lebih menggairahkan dan ringan resiko, terlebih kredit konsumtif diarahkan kepada masyarakat berpendapatan tetap. Penggunaan kredit konsumtif yang diterima masyarakat biasanya lebih diarahkan kepada pembelian barang impor, hal ini tentu akan berdampak pada berkurangnya permintaan terhadap barang lokal, serta berkurangnya dana investasi serta mahalnya dana investasi bagi perusahaan dalam negeri.

Kondisi ini akan melahirkan jumlah uang beredar lebih besar daripada jumlah barang yang diproduksi di dalam negeri, yang pada akhirnya inflasi dan penurunan Pendapatan Nasional riil menjadi sebuah keniscayaan.

Kegundahan semakin menganga, ketika DPR RI telah berkesimpulan bahwa kebijakan bailout bank century merupakan kebijakan yang sarat dengan penyimpangan, dan kesimpulan ini bersebrangan dengan pandangan Pemerintah.

Kedua institusi ini dilegalisasi oleh pilihan rakyat, keduanya mengemban amanah rakyat Indonesia….Rakyat Indonesia sebagian besar berharap Pemerintah yang legitimate serta Wakil Rakyat yang cerdas, mampu memberikan kenyamanan berkehidupan sosial, politik dan ekonomi, serta memberikan jembatan yang jujur untuk mengantarkan rakyat Indonesia pada kebahagiaan hidup bernegara dan berbangsa.

Ketika terdapat perbedaan pandangan yang sangat prinsip mengenai sebuah kebijakan antara kedua institusi negara dan produk kebijakan tersebut telah melahirkan aktivitas yang menyimpang berupa pencucian uang, perampokan, dan korupsi, maka rakyat Indonesia wajib bertanya, dimana letak kebohongan tersembunyi ?, dan dimanakah sebuah amanah rakyat tersimpan ?. Semakin gelisah rasa hati rakyat Indonesia, seraya bertanya …Dimanakah rasa malu terkubur…dan masihkah akan bertunas kembali dinegeri tercinta ini?.

Kelalaian mengemban amanah rakyat, tentunya akan menggiring kepada praktik mengamankan diri, lebih jauh fokus memelihara kepentingan rakyat hanya slogan semata, sehingga sinyal-sinyal invasi asing tidak lagi terdeteksi, dan mata terpesona dengan gemerlap aksesoris yang ditawarkan asing dengan konsep-konsep pembangunan ekonomi global. Perekonomian bangsa menjadi bulan-bulanan broker asing yang berinvestasi di dalam negeri dalam jumlah yang tidak seberapa, namun mereka meraup untung yang besar dengan senjata jebakan fluktuasi harga saham dan aksi spekulasi valas, serta fluktuasi tingkat bunga. Bisa jadi kesengsaraan yang menimpa rakyat Indonesia adalah dampak sistemik dari menguapnya amanah yang diemban oleh mereka yang dipercaya rakyat…Wallohu’alam….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s