Antisipasi Menghadapi Perang Dunia Ke Tiga

imagesforum.detik.com

Gagalnya negara-negara mengakomodasi pluralisme penduduknya menjadi sebuah kebijakan komprehensif yang melindungi rakyat mencapai keadilan, kesejahteraan, dan keamanan. Gagalnya negara-negara memaksimalkan potensi sumber daya dalam negeri untuk kemakmuran rakyatnya, serta besarnya intervensi asing terhadap kebijakan politik, keamanan, ekonomi dan sosial. Menunjukan bahwa negara-negara tersebut telah kehilangan kekuatannya untuk melindungi rakyat dari berbagai intimidasi asing dan penguasaan asing terhadap berbagai warna kehidupan berbangsa dan berbudaya.

Kebijakan beberapa negara besar di dunia memiliki kepentingan besar terhadap negara lain untuk melindungi kepentingan dalam negerinya melalui imperialisme ekonomi. Berbagai upaya teori yang dipublikasi dan disebarkan melalui berbagai lembaga pendidikan di dunia serta penciptaan lembaga-lembaga pemberi penghargaan dari penemuan teori ilmiah yang mendukungnya, semakin mempertajam kuatnya imperialisme intelektual. Sehingga bentuk penjajahan yang terjadi pada saat ini adalah penjajahan penguasaan sumberdaya dan intelektual.

Indikasi imperialisme telah terasa pada saat terjadi krisis keuangan di USA menjalar menjadi krisis glogal, hal ini menunjukan bahwa integritas bangsa telah melebur atas nama mekanisme pasar dan liberalisasi perdagangan Internasional.

Pertemuan G10 semakin menampakan siapa yang menjadi sosok negara imperialis, dimana setiap negara menginginkan integritas Pemimpin suatu bangsa (Pemerintah) ikut mengendalikan kesejahteraan bangsanya, namun dipatahkan oleh kehendak mempertahankan praktik liberalisme/kapitalisme. Hal ini sangat wajar dilakukan oleh pengusung teori mekanisme pasar ala liberalisme/capitalisme, sebab jika intervensi pemerintah semakin besar dalam mengendalikan aktivitas ekonomi suatu negara, maka perekonomian dunia tidak lagi dilandasi teori-teori yang telah dibangun sangat lama, serta gugurlah teori ekonomi yang telah menjadi dasar pembangunan citra intelektual ekonom capitalis di dunia, sehingga dikhawatirkan kaum intelaktual di dunia enggan menerima teori-teori kapitalisme meskipun telah terbukti gagal dalam mengatisipasi terjadinya krisis.

Kegagalan Pemerintah beberapa negara untuk mempertahankan integritas ekonomi negaranya, tidak didukung oleh sebagian besar penduduknya yang menginginkan kemandirian sosial ekonomi yang berlandaskan kekayaan kultur dan budaya lokal. Beberapa penduduk yang mendukung kebijakan liberalisme/kapitalisme diantaranya adalah masyarakat yang telah teracuni teori kapitalisme yang mereka terima di lembaga pendidikan atau lembaga diskusi ilmiah lainnya, tanpa terlebih dahulu menelaah dampak negatif masa depan bagi kehidupan ekonomi dan sosial bangsanya.

Dapat dipastikan bahwa negara yang perekonomiannya terjajah adalah negara berkembang dan negara miskin yang memiliki potensi sumberdaya alam berlimpah. Negara tersebut akan digiring oleh kekuatan kapitalis untuk menerapkan sistem ekonominya dengan sistem kapitalisme, sehingga negara kaya (kapitalis) dengan sangat mudah menggiring negara berkembang untuk mengembangkan pasar modal dan pasar uang, sehingga negara kapitalis dapat mengendalikan kurs mata uang negara tersebut untuk kepentingannya, serta melakukan Investasi (baik langsung maupun tidak langsung) sesuai dengan kepentingan keuntungan jangka pendek. Mudah ditebak praktik investasi yang mereka lakukan di negara berkembang adalah praktik memperoleh keuntungan jangka pendek, hal terlihat ketika krisis terjadi, maka mereka dengan sangat leluasa menjual asetnya untuk ditukarkan dengan valas demi memperoleh keuntungan dan meninggalkan negara tempat berinvestasi pada kondisi yang carut marut. Maka semakin jelas bahwa negara kapitalis melakukan praktik imperialis pada negara-negara yang memiliki potensi perkembangan di masa depan.

Kerugian yang diterima oleh negara berkembang dan beberapa negara lainnya akibat praktik kapitalisme yang dipaksakan oleh beberapa negara kapitalis melalui jebakan hutang luar negeri IMF dan World Bank, akan mendorong antipati penduduk negara berkembang dan negara lainnya untuk melakukan aksi kemerdekaan ekonomi dan inteletual dengan berbagai cara, yang pada akhirnya aksi-aksi kekerasan akan semakin meningkat skalanya diberbagai negara, baik dinegara berkembang yang dianggap negara mengusung kapitalisme, maupun negara penyebar paham kapitalisme.

Menghindari gejolak kekerasan yang bersumber dari praktik pemiskinan negara-negara berkembang oleh negara kapitalis dan anteknya, adalah berupa keberanian pemerintah negara-negara berkembang untuk melepaskan diri dari segala praktik aktivitas perekonomian kapitalisme (misalnya pasar modal yang berindikasi Judi, dan praktik pasar uang yang berbau riba/spekulatif), serta bentuk teori kapitalisme yang dikembangkan di lembaga pendidikan hanya dijadikan sebagai salah satu perkembangan pemikiran, dalam arti jenis dan bentuk teori lainnya disebarkan pula pada lembaga pendidikan (misalnya teori ekonomi Islam dimasukan kedalam kurikulum pendidikan nasional, sehingga masyarakat tidak gagap terhadap ilmu pengetahuan ekonomi lain yang lebih mensejahterakan).

Praktik investasi yang mengeksplorasi kekayaan alam sebaiknya dilakukan oleh negara, serta praktik lembaga keuangan dilakukan pula oleh negara. Bagaimanapun kerugian yang ditimbulkan oleh kesalahan yang dilakukan oleh negara, pada akhirnya akan memudahkan penyelesaian masalah dimasa depan oleh bangsanya sendiri, daripada eksplorasi dilakukan oleh asing yang hanya meninggalkan residu, serta dampak kesalahan praktik tetap akan ditanggung pemerintah, sebab kebijakan pemerintah membebaskan asing mengeksplor kekayaan alam akan menjadi sorotan, disamping sarat dengan kegiatan korupsi (bukankah harga negosiasi penanaman modal asing di dalam negeri merupakan ruang korupsi yang selalu penuh terisi, serta investor asing sangat suka dengan praktik “melancarkan” negosiasi usaha, daripada melalui legalitas yang harganya lebih mahal ?).

Model kapitalisme ekonomi beserta ilmu pengetahuannya, akan mendorong terjadinya aksi kekerasan dan aksi kemerdekaan dinegara-negara tertindas, yang pada akhirnya akan merebak menjadi suasana yang merugikan dunia. Persiapan yang semestinya dilakukan oleh beberapa negara adalah, melepaskan diri dari keterjebakan kapitalis dengan mengalihkan kepada praktik sosial ekonomi yang berlandaskan kearipan kultur budaya lokal, sebab setiap budaya diberbagai negara telah memiliki tatanan kehidupan untuk memecahkan persoalan sosial ekonomi bangsanya. Semakin mengikuti landasan teori sosial ekonomi bangsa lain, sama artinya sedang menyimpan kultur budaya lokal dalam catatan sejarah saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s