KERJASAMA ANTAR DISIPLIN ILMU BERARTI MENATA HIDUP SEJAHTERA

kuttumbaba.blogspot.com

Tuntutan hidup dan penghidupan adalah kerjasama, interaksi sosial menjelaskan kualitas kerjasama. Tidak ada satupun celah yang tidak terisi dengan kerjasama antar manusia, bahkan fenomena alam sedang memberikan tuntunan bagi manusia tentang hakikat kerjasama, bagaimana mungkin ada hujan tanpa kerjasama matahari dengan lautan, danau, sungai, serta angin, tumbuhan dan tanah. Demikian pula dengan sebuah organisasi, baik berskala kecil seperti keluarga, maupun skala besar seperti sebuah negara. Tanpa kerjasama di dalamnya tidak akan terwujud organisasi dalam skala apapun.

Hasil kerjasama mewujudkan bermacam bentuk, warna, sifat dan manfaat. Kerjasama antara ahli seni dengan ahli bangunan dan ahli ekonomi terwujud bangunan yang artistik dan efisien, kerjasama ahli musik, penyanyi, penata panggung, tata busana, dan ahli lampu dan ahli lainnya terwujud pagelaran orkestra yang mengagumkan ribuan penonton yang diundang dengan promosi yang cantik hasil kerja apik ahli pemasaran.

Tidak seorang di dunia yang memperoleh kesenangan hidup tanpa kehadiran kerjasama, semakin erat dan luas sebuah kerjasama yang diikat dengan saling percaya dan penuh kejujuran serta kesetiaan, akan lahir sebuah organisasi yang kokoh dan senantiasa berkembang, serta melahirkan temuan-temuan baru yang mensejahterakan anggotanya, juga lingkungannya.

Pembelajaran kerjasama yang disemai oleh mekanisme alam semesta dan perilaku kehidupan dunia, nampaknya belum dijadikan fondasi dalam mengembangkan kualitas interaksi dalam dunia keilmuan di Perguruan Tinggi. Berbagai Program studi yang dikembangkan di sebuah perguruan tinggi asik bergelut dengan disiplin ilmunya sendiri, bahkan antar program studi terdapat persaingan untuk menonjolkan keutamaan keilmuannya, dampak yang terasa dalam kehidupan kampus tidak adanya keharmonisan interaksi antar mahasiswa yang berbeda program studi. Jumlah mahasiswa yang banyak namun menjadi terkotak oleh perbedaan ilmu yang dipelajarinya, sehingga interaksi pengetahuan tidak memperoleh titik temu karena pemiliknya congkak dengan eksklusivisme. Jadilah proses pembelajaran yang kaku dan egois seolah kehidupan dapat diselesaikan dengan hanya satu cabang pengetahuan. Padahal satu buah benda diproduksi (misalnya pakaian) merupakan hasil perpaduan beberapa pengetahuan baik teknik yang merancang mesin jahit, pertanian yang menghasilkan bahan benang, design yang merancang mode pakaian, ekonomi yang memasarkan dan merancang anggaran, serta cabang pengetahuan lainnya.

Hendaknya dalam sebuah Perguruan Tinggi, sejak awal dikembangkan kerjasama ilmu pengetahuan antar program studi yang berbeda yang didirikan pada Perguruan tinggi tersebut. Sehingga setiap perguruan tinggi akan mampu menemukan produk riil, atau teknologi yang siap dimanfaatkan oleh lulusan maupun masyarakat. Misalnya perguruan tinggi yang memiliki fakultas ekonomi, pertanian, teknik dan kesehatan masyarakat merencanakan untuk mengembangkan diri sebagai Entrepreneur university, khususnya mengembangkan usaha tanaman pangan lokal, maka melalui kerjasama antar fakultas/program studi akan dihasilkan produk tanaman pangan yang teruji stabilitas ketahanan dan produksinya, ditemukan peralatan mekanik yang relevan dengan tanaman yang dikembangkan, ditemukan biaya yang efisien dalam proses dan pengelolaan serta pemasarannya, dan secara klinis teruji tingkat kesehatannya dari kandungan kimiawi. Perencanaan Pengembangan yang terintegrasi antar ilmuwan berbagai disiplin ilmu akan melahirkan produk berkualitas dan siap guna.

Program kerjasama keilmuan seperti di atas semestinya diterapkan kedalam aktivitas penelitian/akademik mahasiswa, dan aktivitas kemahasiwaan lainnya. Sehingga mahasiswa terbiasa berkoordinasi dalam membuat sebuah kegiatan dalam berbagai disiplin ilmu, sehingga melahirkan mahasiswa yang siap bekerjasama dan saling memberikan manfaat kepada rekan lainnya yang berlainan sudut pandang, serta menciptakan mahasiswa yang tidak mengutamakan persaingan namun lebih mengedepankan kerjasama dan kekeluargaan.

Jika kita menelusuri beberapa kasus perencanaan pembangunan di Indonesia yang bersifat sektoral (kebijakan yang tidak terintegrasi), dan melahirkan kontradiksi atau duplikasi antara kebijakan masing-masing sektor (contoh : Kebijakan peningkatan produk pertanian tanaman pangan dalam negeri bersebrangan dengan kebijakan impor tanaman pangan, serta bertolak belakang dengan kebijakan pembangunan perumahan yang menciptakan alih fungsi lahan). Kejadian ini menunjukan bahwa egoisme keilmuan telah menjalar pada wilayah implementasi ilmu, sehingga kerjasama menjadi sangat sukar ditemukan dan koordinasi menjadi slogan tanpa dipahami maknanya. Maka sangat diperlukan upaya menumbuhkan perlunya interaksi/kerjasama harmonis antar mahasiswa berbagai disiplin ilmu yang digelutinya, agar mereka semakin memahami bahwa hakekat kehidupan adalah menjalin silaturahmi. Melalui silaturahmi keilmuan, maka InsyaALLOH ditemukan teknologi terapan yang implementatif bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan dihasilkan pula mahasiswa yang siap membangun organisasi maupun perusahaan dari hasil kerjasama antar perbedaan keilmuan mereka sejak berada di dalam kampus. Program kerjasama mahasiswa antar prodi sejak awal sesungguhnya tengah mempersiapkan generasi inovatif yang siap membangun, dan menata kesejahteraan dimasa depan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s