Antisipasi kebijakan bantuan likwiditas The FED

jurnal-ekonomi.org

Kasus bantuan likwiditas Bank Indonesia (BLBI) berulang di Amerika, dimana the FED mengikuti langkah Bank Indonesia untuk menyelamatkan lembaga perbankan yang terkena imbas kredit macet dari sektor perumahan melalui bantuan likwiditasnya. Sungguh sangat aneh ketika banyak praktisi ekonomi dan ahli ekonomi Amerika menyetujui langkah tersebut, apalagi kebijakan ditetapkan setelah kebijakan kenaikan tingkat bunga ditetapkan sebelumnya.

Terdapat kontradiksi logika, bahwa kebijakan peningkatan tingkat bunga menyebabkan kredit macet dan sektor perbankan USA terpuruk sehingga memerlukan uluran pemerintah untuk menyehatkannya. Semestinya kebijakan tingkat bunga berdampak pada semakin likwid lembaga keuangan bank USA sebab gairah penanaman dana dalam bentuk simpanan bank meningkat, artinya kemacetan kredit dari satu sektor ekonomi tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat liwiditas bank, kecuali apabila terjadi kebocoran/mark up akad kredit yang sangat tinggi di sektor kredit perumahan USA.

Analisis lain yang berkenaan dengan terjadinya kredit macet pada sektor perumahan adalah mahalnya harga baku bahan bangunan/properti, sehingga harga jual perumahan menjadi mahal dan tidak terjangkau oleh masyarakat USA. Kebutuhan bahan bangunan/properti yang cukup besar berasal dari bahan bangunan impor (kayu impor, semen impor dll), sehingga diperlukan upaya untuk menekan harga bahan bangunan impor menjadi lebih murah, maka melalui kebijakan penyelamatan likwiditas lembaga keuangan Bank Amerika dengan kucuran dana miliaran USD, sesungguhnya tengah menyiasati agar harga barang impor menjadi rendah melalui proses interaksi USD di Pasar uang Internasional (USD ter-apresiasi).

Melalui perkiraan kedua tersebut di atas, maka perlu Antisipasi terhadap kebijakan keuangan Amerika untuk menghindari  dampak negatif terhadap perekonomian Indonesia. 

Kebijakan injeksi dana ratusan milyar USD oleh pemerintah AS terhadap sektor keuangan, mencerminkan bahwa Amerika menghendaki kecukupan dana (uang) di dalam negeri, hal ini dilakukan sebab Amerika menyadari peredaran USD dipasar Internasional sangat besar dan belum tentu negara lain yang memegang dollar suka rela mengembalikannya ke Amerika, atau Amerika menghendaki agar peredaran USD di Dunia tidak terganggu jumlahnya, bahkan kalau bisa terjadi pertambahan jumlah tanpa mengurangi jumlah peredaran dollar di dalam negerinya.

Kebijakan injeksi dana ratusan milyar USD tersebut akan berdampak kepada peningkatan jumlah peredaran dollar baik di dalam negeri USA maupun di dunia, pada saat kondisi penduduk dunia dan aktivitas perekonomian dunia menyukai dollar (permintaan dollar tinggi). Keadaan ini sangat menguntungkan Amerika, sebab hanya dengan mengendalikan peredaran uang dollar, Amerika memetik keuntungan dari harga minyak dan peredaran barang impor lainnya yang semakin murah bagi negerinya (akibat upresiasi USD), sehingga mampu mempertahankan bahkan meningkatkan daya beli masyarakat, sebab kondisi perekonomian Amerika pada saat ini (terutama sektor riil) sangat bergantung pada komoditas impor, terutama bahan baku industri serta minyak bumi.

Perkembangan sektor riil Amerika yang sangat bergantung kepada bahan baku impor serta pasokan minyak dunia, membutuhkan stok bahan baku dan minyak dengan harga terjangkau, maka jalan yang ditempuh adalah mengupayakan nilai USD semakin tinggi sehingga harga bahan baku impor dan minyak bumi relatif menjadi lebih murah bagi USA.

Menguasai perekonomian dunia melalui kebijakan peredaran uang sungguh sangat efisien, sama artinya bahwa Amerika sebagai otoritas moneter dunia, sehingga aktivitas sektor riil dunia akan sangat mudah dikendalikan oleh kebijakan keuangannya. Mengatur mekanisme pasar uang internasional oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di pasar uang maupun di pasar modal yang sengaja diciptakan oleh Amerika, akan menggusur pelaku ekonomi dunia mengarah kepada kehendaknya. Seperti yang terasa pada saat ini, jika jumlah USD meningkat, maka para pemegang dollar memprediksi kenaikan nilai USD pada beberapa waktu kedepan, namun pada waktu bersamaan prediksi tersebut dimanfaatkan USA dengan meningkatkan impor komoditas terutama impor minyak bumi. Dengan demikian model mempengaruhi prediksi pasar uang internasional akan memberikan keuntungan yang senantiasa mengalir setiap menetapkan kebijakan keuangan dalam negerinya.

Dampak nyata bagi negara lain, terutama Indonesia berupa menurunnya harga komoditas ekspor (terdepresiasi IDR)   di pasar Internasional, khususnya ekspor dengan tujuan Amerika (dimana ekspor Indonesia ke USA menempati ranking ke 2 tertinggi setelah Jepang). Kondisi ini menggambarkan kecenderungan neraca perdagangan Indonesia negatif terhadap USA. Pada kondisi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor hasil industri manufaktur asing serta mempergunakan USD sebagai alat tukar, maka kondisi ini akan mempersulit Indonesia, dimana harga barang impor yang sangat dibutuhkan bagi proses produksi maupun untuk konsumsi di dalam negeri akan semakin mahal, hal ini menyebabkan meningkatnya krisis daya beli masyarakat setelah kenaikan harga BBM.

Peningkatan harga komoditas di dalam negeri yang diakibatkan oleh fluktuasi nilai mata uang dan bukan diakibatkan oleh interaksi penawaran dan permintaan terhadap komoditas tersebut, menunjukan bahwa mekanisme pasar komoditas semakin tidak sehat dan menyesatkan, dan menurunnya harga komoditas ekspor Indonesia di pasar internasional mencerminkan bahwa Indonesia belum memiliki kekuatan keuangan untuk menghindari dampak kebijakan keuangan asing, dan biasanya USD yang terapresiasi akan berpengaruh terhadap menurunnya gairah investasi di pasar modal dimana para investor lebih tertarik menanamkan dananya dalam bentuk mata uang asing (USD). Gejala ini akan memperburuk kondisi perekonomian Indonesia sebab ternyata perekonomian Indonesia sangat dikendalikan oleh perekonomian asing, dan senantiasa menjadi objek dari kebijakan perekonomian (khususnya kebijakan moneter) USA.

Langkah konkrit yang harus segera dilakukan Indonesia adalah :

1.      Kebijakan kurs Indonesia tidak tertuju kepada satu mata uang asing (USD), namun harus di dasarkan kepada beberapa mata uang asing lainnya yang memiliki tingkat stabilitas yang tinggi (Pounds, EURO, dan Dinar). Seandainya tetap memberlakukan satu mata uang asing, sebaiknya dipilih Dinar, sebab mata uang emas lebih menjamin stabilitas nilai uang, serta memperoleh jaminan Syari’ah Islamiah (emas merupakan alat pengukur nilai menurut Al Qur’an dan Sunnah Rosul).

2.      Penetapan kebijakan moneter bukan reaksi dari kebijakan moneter asing, sehingga bangsa Indonesia tidak menjadi ekor bangsa lainnya. Rakyat Indonesia tahu bahwa BI bukan antek Bank Dunia, IMF, maupun The FED mengapa mesti jadi pengikut ?, apakah mereka lebih pintar dari kita ???

3.      Memicu tumbuhnya industri dalam negeri yang tidak bergantung kepada bahan baku impor, serta menumbuhkan industri pengganti barang impor, sehingga ketergantungan terhadap komoditas impor semakin rendah.

4.      Hindari upaya menjual asset nasional kepada pengusaha asing (menjual BUMN kepada Pengusaha asing) apapun alasannya, sebab penguasaan asset bangsa oleh asing akan semakin mempertinggi ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap kebijakan perekonomian asing, serta akan menciptakan kondisi dimana rakyat Indonesia menjadi pegawai/buruh bangsa asing.

5.      Menanamkan kembali rasa kecintaan terhadap bumi pertiwi, sehingga rakyat Indonesia menjadi mahir bersyukur terhadap kekayaan dan kreativitas bangsanya sendiri.

6.      Menetapkan hukuman seumur hidup kepada pengusaha nasional yang melarikan dananya ke luar negeri (apapun alasannya), kepada pengusaha tukang suap, kepada pengusaha jago mark up anggaran proyek, kepada pengusaha monopoli, kepada pengusaha monopsoni, serta kepada pengusaha yang memiliki status kewarganegaraan ganda sebab mereka biasanya menjadi agen penyelewengan asset bangsa (bukankah illegal loging banyak dilakukan oleh pengusaha tersebut).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s