Kreativitas Tidak Muncul Kebetulan

http://www.manstep.com

Panorama Indonesia yang merangsang minat  untuk menikmati keindahannya, terhampar dari setiap pojok alam bumi pertiwi, ombak laut teman peselancar, ngarai dan gunung rekan penikmat perjalanan dan pengembaraan, jenis buah-buahan hutan dan binatang langka teman pemerhati dan penelusur alam, seluruhnya tersedia dengan ragam dan jenis yang berbeda dengan keunikan yang bermacam bentuk dan warna. Kedalaman laut yang terbentang luas terhampar  palung laut yang dihiasi relief karang yang beruntai tanaman bak taman surgawi, serta ditemani gemulai satwa laut yang memamerkan keindahan warna dan lekuk tubuh aduhainya.

Kekayaan yang berlimpah sebagai anugerah tak akan menjadi manfaat jika insan Indonesia hanya sebagai penikmat belaka, apalagi jika akalnya hanya berkeinginan meraup keindahan untuk dinikmati sendirian, maka keindahan menjadi barang pribadi yang dikelola dengan tangan-tangan kotor dan keserakahan, yang akhirnya keindahan berubah menjadi lembaran uang, dan membiarkan kekotoran mengganti rupa alam Indonesia. Lihatlah bagaimana orang utan tak lagi leluasa berkomunitas, sungai-sungai tempat bersenda gurau ikan-ikan air tawar yang selalu setia menyediakan protein untuk manusia telah berganti dengan sampah-sampah, bukit-bukit kecil penyangga air telah sirna menjadi rumah dan pabrik sehingga rongga bumi yang dalam harus bersusah payah menyediakan air untuk kehidupan manusia, padahal dulu cukup di permukaan kehausan dapat dituntaskan.

Keadaan ini terjadi pada saat manusia telah memperoleh pengetahuan sistem alam dan keseimbangan alam, namun terkalahkan oleh kurang memahami dampak dan rasa tidak peduli. Akhirnya hari ini diperlukan langkah yang tegas untuk mengajak seluruh penghuni alam Indonesia menjadi manusia yang cerdas menjemput masa depan cerah dan bersahabat dengan alam yang menyediakan seluruh kebutuhan hidup manusia di Indonesia.

Membangun kecerdasan sama artinya dengan menempatkan manusia sebagai khalifah bagi alam semesta, menjadi manusia yang mampu mengelola alam tanpa merubah system, namun mampu meningkatkan manfaat alam bagi kesejahteraan hidup. Inti kecerdasan adalah kreativitas, dan inti kreativitas adalah kemampuan menciptakan nilai tambah manfaat, bukan meniadakan manfaat. Merusak ekosistem  bukan aktualisasi kreativitas, namun sedang melakukan aksi memangkas keteraturan alam dan menghilangkan kebahagiaan masa yang akan datang. Lihatlah bagaimana sebuah eksploitasi alam untuk memperoleh bahan bangunan, batu mulia, emas dan biji besi, serta kandungan alam lainnya yang tanpa diiringi kreativitas, seluruhnya menghasilkan pesimisme kehidupan masa depan, tanah-tanah menjadi enggan mengundang tanaman untuk tumbuh, struktur batuan alam tercerai berai, ikan dan hewan sebagai sumber protein dan vitamin hilang, sehingga ragam hayati dan ragam hewani semakin mengecil. Tanpa kreativitas sama artinya dengan keserakahan, sebab kreativitas cermin kecerdasan, dan kecerdasan cerminan peradaban. Beradab artinya tahu diri tahu memelihara diri dan piawai memanage lingkungan untuk kebutuhan hari ini dan ketersediaan kebutuhan untuk masa depan.

Membangun manusia kreatif harus diawali dengan membuat system pendidikan yang arif dengan visi dan misi pendidikan yang diarahkan kepada mencetak manusia yang mengenal kemampuan dan potensi diri, dan tidak berkeinginan mencetak insan yang hanya memiliki kemampuan menghapal tanpa memiliki kemampuan memahami hapalan dan mengaktualiasikan pemahamannya. Keterjebakan system pendidikan yang menonjolkan hapalan adalah terlahirnya generasi yang mahir menjawab soal-soal ujian karena mereka lebih menyukai kursus membahas soal di lembaga bimbingan belajar, apakah target sebuah proses pendidikan adalah kemampuan menjawab soal ujian, ataukah mahir memanfaatkan ilmu bagi kehidupan ?. Jika suasana seperti ini terus berlanjut maka daya kreativitas generasi bangsa di masa yang akan datang semakin memudar. Dampak dari gejala ini adalah semakin mengecilnya rasa percaya diri generasi muda dapat mengelola hidupnya secara mandiri yang mengandalkan kemampuan diri untuk menyemai manfaat bagi orang lain, dan semakin besar ketergantungan mereka untuk menjadi buruh/pegawai/karyawan, sebab mereka terbiasa dengan mengikuti kreativitas yang sudah ada sebelumnya, pada akhirnya akan terlahir generasi yang siap diperintah oleh pemegang perusahaan, meskipun perintah tersebut berdampak merusak lingkungan fisik maupun non fisik. Bagaimana jika perusahaan tersebut milik asing ?.

Sejauh ini kurikulum sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia lebih terarah kepada proses hapalan dan pemecahan kasus dalam bentuk soal, jarang sekali sekolah atau PT yang memprioritaskan kepada kewajiban siswa/mahasiswa untuk menghasilkan karya kreatif, baik dalam gagasan teoritis, maupun gagasan praktis, sehingga lulusan sekolah maupun PT, menjadi manusia yang menunggu untuk dipekerjakan, bukan berkreasi untuk mandiri. Contoh riil yang paling meresahkan adalah rendahnya tingkat penghargaan dan pengakuan dari sebuah karya tulis (skripsi, tesis, disertasi) yang bersifat akualisasi gagasan mandiri, hampir menyeluruh karya tulis harus bersandar pada hasil penelitian sebelumnya (jurnal hasil penelitian) yang lebih diutamakan adalah jurnal ilmiah asing. Kondisi ini menunjukan bahwa karya inovasi mandiri belum memiliki tempat yang layak di negeri sendiri, dan karya asing menjadi satu-satunya karya yang harus ditiru atau diikuti.

Bentuk pengembangan kreativitas generasi telah tertulis dalam banyak buku, kursus kecerdasan serta tes kecerdasan sudah sering dilakukan baik yang bersifat in bond maupun out bond, barangkali tinggal memberikan ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan yang telah mereka peroleh.

Saran yang ingin dikemukakan untuk keperluan di atas adalah :

1.    Tersedia guru atau dosen (untuk mata pelajaran/kuliah yang tidak berkenaan dengan syari’ah (hukum tetap)) yang bersedia memberikan ruang yang luas bagi murid/siswa/mahasiswa untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tengah dipelajarinya sesuai dengan kadar pemikiran masing-masing murid/siswa/mahasiswa, misalnya melalui pembuatan bentuk soal yang menggiring murid/siswa/mahasiswa mengembangkan nalarnya.

2.    Siswa/Mahasiswa diwajibkan membuat karya tulis ilmiah untuk setiap mata pelajaran/kuliah yang dipelajarinya sesuai dengan kadar pemikiran masing-masing, serta diberikan waktu untuk presentasi. Kegiatan dilakukan untuk meningkatkan daya nalar dan rasa percaya diri, serta meningkatkan kemampuan berkarya dari potensi yang terkandung pada individu siswa/mahasiswa.

3.    Setiap sekolah/Perguruan Tinggi mewajibkan siswa/mahasiswa untuk membuat karya kreatif baik bersifat teoritis, maupun praktis pada setiap akhir semester, dan kegitan tersebut dikemas dalam bentuk lomba kreativitas. Kegiatan dilakukan dalam upaya menumbuhkan nilai penghargaan terhadap sebuah karya kreatif, serta sebagai alat evaluasi pengembangan akademik menuju kepada penyediaan laboratorium yang secara leluasa dapat dipergunakan oleh mahasiswa untuk proses pengkajian dan penelitian individu.

4.    Setiap sekolah/perguruan tinggi selalu mendatangkan pakar/ilmuwan dalam bentuk seminasi, serta melakukan kajian keilmuan dengan cabang ilmu lainnya, agar ditemukan keterkaitan kaidah keilmuan secara terintegrasi. Hal ini dilakukan agar implementasi ilmu pengetahuan secara parsial tidak terjadi, sebab implementasi seperti ini mengakibatkan ketidakseimbangan dalam mengelola sumberdaya (baik alam, manusia, maupun kekayaan lainnya), serta melahirkan egoisme cabang ilmu pengetahuan. Misalnya terdapat kontradiksi antara kepentingan pembangunan kota dengan pemeliharaan tanah produktif pertanian, dan seringkali terjadi alih fungsi lahan produktif pertanian menjadi lahan pemukiman atau area perdagangan/industry yang pada akhirnya ketersediaan pangan berkurang, dan tingkat kerusakan alam meningkat.

5.    Pemerintah menyediakan fasilitas sekolah yang diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, dan mencetak generasi kreatif di masa depan, diantaranya membangun sekolah kejuruan dan perguruan tinggi keahlian untuk mempersiapkan tenaga kerja yang mahir sesuai dengan perencanaan pembangunan fisik. Dan mengembangkan sekolah-sekolah (SMP, SMU) dan perguruan tinggi sain dan teknologi yang diarahkan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dimasa depan. Sehingga masyarakat yang memiliki motivasi belajar untuk memperoleh pekerjaan diarahkan kepada sekolah kejuruan/keahlian, sementara masyarakat yang menginginkan menjadi innovator dan intrepreneur diarahkan kepada pendidikan sain dan teknologi. Pemerintah melalui departemen pendidikan harus memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai perbedaan orientasi penyelenggaraan pendidikan pada kedua jenis pendidikan tersebut di atas, serta pengelola sekolah/PT secara cermat membangun kurikulum yang tepat untuk keperluan kedua jenis pendidikan tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s