Manusia Ramadhan adalah Manusia


Masa kini adalah masa yang dibanjiri kekhawatiran akan kekurangan, masa yang disesaki waswas menghadapi masa depan, serta masa yang diselimuti aib dunia. Apabila kita mengamati bagaimana alam dieksploitasi tanpa perbaikan, manusia semakin banyak yang kecanduan pil ketenangan, serta langkah terburu-buru siang dan malam untuk menggapai kekayaan. Nampak harga diri tak lagi diamankan, nilai-nilai kemanusiaan dicampakkan, yang ada hanya emosi berebut lahan serta saling menjatuhkan.
Sangat ironis ketika tingkat pengetahuan manusia semakin tinggi, ilmu yang digali semakin dalam, namun kedamaian semakin tergilas ambisi. Ilmu hanya dijadikan petunjuk untuk mengawal keinginan, meraih kedudukan, serta meraih pengakuan dan eksistensi. Orang-orang berilmu saling bertengkar dengan keilmuannya, orang berpengetahuan saling bermusuhan dengan pengetahuannya, padahal mereka sadar bahwa perbedaan adalah hakikat manusia, bahkan perbedaan sumber hikmah kehidupan manusia.
Tingkah kita di hari-hari berlomba mengejar dunia, namun tak jua terkejar dengan tanpa meninggalkannya. Pada bulan Ramadhan dunia nyata hanya sebongkah pasir gersang yang siap untuk ditinggalkan, tanpa lelah maupun ragu kita berpuasa meninggalkan segala pernik godaannya. Bulan Ramadhan menciptakan manusia-manusia kuat yang tidak silau dengan kesegaran dan kenikmatan duniawi, bahkan lebih memilih keindahan dan kebahagiaan sejati yaitu mahabbah ILLAHI.
Bulan Ramadhan merubah paras-paras penuh kernyit dengan wajah-wajah cerah penuh gairah, menyemai senyum keseluruh pelosok menebar kasih sayang sepanjang jalan, para fakir miskin tidak lagi terabaikan, yatim piatu banyak dikunjungi dengan kebahagiaan, dan belenggu yang setiap hari menggoda untuk melakukan kecurangan terhenti karena rasa malu yang menguat dari dasar sanubari. Pada bulan ini hati bersinar menerangi seluruh wajah perjalanan.
Pertengkaran dan perselisihan tidak lagi terdengar menajam, menahan diri menjadi senjata utama dalam menemukan kedamaian, para ilmuwanpun merasa malu dengan suara Takbir yang dikumandangkan, akhirnya kita mengenal bahwa ilmu pengetahuan yang kita miliki hanya percikan kecil dari Keagungan Alloh, dan kita mahluk yang senantiasa berharap untuk selalu dilindungiNYA.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang mengibarkan bendera kemenangan, menang melawan diri sendiri yang selalu diselimuti keinginan untuk menguasai, sehingga Bulan Ramadhan mengantarkan kita semakin mengenal diri, mengenal kekurangannya, mengenal ambisinya, serta mengenal kesucian awalnya.
Kesabaran manusia pada Bulan Ramadhan semakin meninggi mencapai langit keagungan, mencapai surga kesucian. Kepeduliannya tidak lagi pada kenaikan harga BBM maupun harga ELPIJI, namun peduli kepada kenaikan keimanan dan penyerahan pada ILLAHI ROBBI. Manusia Ramadhan senantiasa memanjatkan penyesalan perbuatan maksiat dan kedzaliman, manusia Ramadhan senantiasa berjuang merebut cinta Yang Maha Penyayang, manusia Ramadhan selalu mengalirkan do’a keselamatan untuk dirinya dan keluarga seimannya, serta seluruh mahluk di muka bumi, dan manusia Ramadhan bergairah untuk memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya, terutama kesalahan sosial, sebab kesalahan ini wabah menuai badai di alam akhirat, jika tidak diselesaikan pada masa usia belum sirna di muka bumi.
Manusia Ramadhan adalah manusia yang istiqomah sepanjang jaman, menjadi cahaya ketika kegelapan menimpa, menjadi rasa ketika manusia berputus asa. Manusia Ramadan adalah Manusia yang selalu haus akan Cinta Rohman dan RohimNYA.

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s