Kampanye Seyum Rakyat Indonesia

sinthionk.multiply.com

Rakyat Indonesia tengah menanti perubahan nyata, perubahan suasana kehidupan ekonomi yang semakin membaik, perubahan suasana politik yang menyegarkan, suasana sosial yang menjamin keselamatan, keamanan, keadilan, dan kesejahteraan. Rakyat Indonesia telah melakukan langkah-langkah perbaikan kehidupan, mereka senantiasa beradaptasi dengan berbagai kebijakan pemerintah. Ketika harga BBM naik, ketika harga gas elpiji naik rakyat tetap bertahan dengan segala kesulitannya, namun tetap tegar menghadapinya. Rakyat Indonesia memandang masa depan dengan keimanan terhadap Tuhannya, setiap keraguan dan keluh kesah diserahkan kepada Yang Maha Mencipta. Kesabaran Rakyat Indonesia mengalahkan kerancuan berbagai kebijakan ekonomi yang tidak memihak kepadanya.

Rakyat Indonesia memandang dan mendengar dengan baik seluruh kebijakan kenaikan harga gas elpiji dengan senyum dan setengah mencibir, mereka tahu bahwa dirinya tidak menjadi prioritas dalam menikmati kekayaan alam negerinya, mereka tahu bahwa harga dunia lebih menjadi prioritas, artinya mereka sedang dipersamakan dengan konsumen gas elpiji dunia, meskipun daya beli mereka tidak sama dengan daya beli konsumen dunia.

Tetapi rakyat Indonesia sempat tertegun, ketika mereka mampu membuat pakaian, makanan, dan barang-barang lainnya ternyata tidak mampu di jual di dalam negerinya, sebab kalah bersaing dengan pakaian, makanan, dan barang-barang impor yang harganya lebih murah. Mereka bertanya “siapa yang harus beradaptasi ?, barang-barang imporkah yang harus beradaptasi dengan barang produk mereka ?, atau barang produk dalam negeri yang harus beradaptasi dengan harga produk impor?,. Rakyat Indonesia berpikir, jika pilihan kedua menjadi wajib, bagaimana mungkin dapat dilakukan sebab harga factor produksi di negeri ini harganya mahal (harga BBM mahal, harga gas elpiji mahal), serta daya beli konsumen Indonesia rendah. Jika pilihan kedua dipilih, sama artinya sedang bunuh diri. Rakyat Indonesia berpikir siapa sesungguhnya yang teramat bloon dalam mengatur tata niaga di negeri ini ?.

Senyum rakyat Indonesia semakin kelihatan, tetapi jauh dari suasana ceria. Ketika rakyat harus menjadi manusia cerdas, mereka kesulitan mencari sekolah dengan harga terjangkau. Konon katanya ada bantuan (BOS), namun ternyata masih terdapat beban biaya yang ditanggung masih terasa berat, ketika memilih salah satu perguruan tinggi untuk meningkatkan kecerdasan ternyata mereka tidak memiliki kemampuan, sebab perguruan tinggi khusus bagi rakyat makmur yang jumlahnya sangat sedikit di negeri ini. Akhirnya rakyat Indonesia hanya bisa terseyum sambil menonton ketoprak humor para petinggi bangsa yang menjadi penghianat rakyatnya sendiri. Mereka dengan tulus berdo’a, semoga ALLOH SWT mengampuni segala dosanya.

Menjelang PEMILU rakyat menjadi komoditi iklan kampanye, para calon pemimpin bangsa seolah sangat dekat dengan rakyat, mereka merangkul, mereka mencium, mereka bergaul, mereka peduli, namun sayang hanya dalam tayangan iklan yang berdurasi 5 menit. Rakyat miskin kembali terseyum, ternyata kemiskinan dan kesengsaraan mereka bermanfaat sebagai alat promosi, aktivitas ini dilakukan sejak lama, namun kemiskinan tetap saja menjadi iklan dan alat promosi pemilihan umum maupun pilkada. Rakyat Indonesia berpikir, jika kemiskinan sudah musnah iklan apa yang akan digunakan dalam kampanye ?.

Berbagai upaya agar rakyat Indonesia terseyum renyah dilakukan, bermacam program dan proyek pengembagan ekonomi rakyat digelar, kredit usaha mikro, kecil, dan menengah disalurkan, bahkan terdapat kredit usaha rakyat dan koperasi, namun para petani (padi) yang jumlahnya banyak relatif kurang disentuh, dengan alasan bisnis pertanian sangat berisiko sebab time lagnya panjang, serta bergantung kepada musim yang sukar diprediksi kepastiannya, sehingga lembaga keuangan (bank) dihadapkan kepada resiko kredit macet yang besar. Rakyat Indonesia kembali tertegun, bukankan negeri ini agraris ?, bagaimana mungkin sektor pertanian diabaikan, bukankah kemacetan kredit terbesar terjadi pada perusahaan besar dan telah menenggelamkan ekonomi bangsa kepada krisis yang begitu lama ?.

UMKM dibangkitkan dengan dana proyek yang sangat besar, tetapi pasar-pasar tradisional diratakan, berganti dengan super market dan mall yang memperdagangkan lebih banyak barang impor. Akhirnya pengusaha UMKM meningkat kemampuan produksinya namun kehilangan pasar untuk menjual hasil produksinya.

Rakyat Indonesia mendambakan seyum bahagia di masa depan, ketika mereka memiliki kemampuan untuk menentukan nasibnya sendiri, dengan langkah tegap mementingkan keperluan rakyat dalam negeri, berorientasi kepada kesejahteraan rakyat dalam negeri, setelah rakyat Indonesia mampu, baru berpikir untuk mensejahterakan rakyat dunia dan beradaptasi dengan perilaku dunia yang adil. Jika perilaku kehidupan dunia tidak adil maka Indonesia menjadi penentang utamanya.

Rakyat Indonesia ingin terseyum cerah, bukan seyum kalut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s