Seni Budaya Bukan Paket Pariwisata

www.langsing.net

Gairah melestarikan dan mengembangkan seni budaya daerah semakin besar, kesadaran masyarakat untuk melindungi karya cipta bangsanya semakin tinggi, hal ini terdorong oleh bentuk pencurian karya cipta oleh bangsa lain, sehingga tindakan pemeliharaan menjadi sebuah keharusan. Namun tindakan pemeliharaan hanya sebatas “seni budaya” sebagai aset bangsa yang berindikasi aset dalam bentuk kekayaan fisikal bahkan finansial, sehingga sebuah karya seni yang dicuri menjadi sebuah kehilangan harta atau kekayaan.

Sejauh pengetahuan manusia sebuah karya seni dan budaya merupakan karya cipta rasa manusia, artinya merupakan sebuah representasi spiritual seorang seniman/budayawan, dan sebuah kebudayaan merupakan gambaran pola pikir dan cara pandang masyarakat dalam mengarungi kehidupan. Sehingga menilai sebuah karya seni/budaya daerah atau karya seni budaya bangsa (baik tradisional maupun modern) harus dipandang sebagai tingkat spiritual masyarakat suatu bangsa, bukan sebagai produk yang hanya dinilai sisi materi saja.

Menelusuri beberapa karya seni/budaya tradisi masa silam, ternyata dihasilkan oleh orang-orang yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi, sebut saja wayang yang merupakan karya salah seorang Wali Sanga, demikian pula tarian yang dihasilkan oleh budayawan dan seniman kerajaan masa lampau. Hal ini menunjukan bahwa sebuah karya seni/budaya mengandung muatan filosofi kehidupan yang tinggi, serta memiliki muatan pendidikan yang luhur. Banyak kalangan berpendapat bahwa seni tradisional Indonesia merupakan simbol-simbol kehidupan dan pendidikan spiritual, sehingga sebuah karya seni/budaya tersebut dikembangkan menjadi sebuah tontonan untuk menjadi sebuah tuntunan.

Melalui sebuah karya seni/budaya yang dihasilkan oleh sebuah bangsa, pada akhirnya kita dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat spritualisme masyarakat bangsa itu, dan seberapa besar apresiasi masyarakat terhadap sebuah karya seni/budaya dapat mencerminkan kualitas spiritual masyarakat tersebut.

Perkembangan pemeliharaan seni budaya yang lebih diarahkan sebagai suatu tontonan saja, tanpa didasari oleh pengetahuan filosofi seni budaya bersangkutan, akan menggiring sebuah produk keputusan/kebijakan bahwa produk seni budaya hanya merupakan sebuah paket pariwitasa, dan mengabaikan faktor pendidikan dan pencerahan spiritual di dalamnya. Kekeliruan ini mulai menjalar di Indonesia, dimana pengakuan seni budaya berada pada lingkungan Kebudayaan dan Pariwisata, hal ini menunjukan bahwa kebudayaan hanya sebuah produk tontonan atau produk pertunjukan.

Apabila kita simak beberapa cabang ilmu pengetahuan yang banyak diakui oleh berbagai kalangan :

a.      Manajemen adalah sebuah seni pengelola kegiatan dan seni pengatur ……….untuk mencapai tujuan………

b.      Ilmu politik merupak seni mengelola………….

c.       Perang merupakan seni pertempuran untuk………

d.      Arsitektur merupakan seni……

Masih banyak definisi ilmu pengetahuan dan teknologi terapan yang menyebutnya sebagai sebuah aktualisasi karya seni, sehingga seni dicerminkan sebagai aktualisasi keindahan dan kecerdasan. Kenyataan ini menunjukan bahwa pemeliharaan sebuah karya seni/budaya harus bersipat menyeluruh, sebab sebuah seni/budaya mengandung unsur pendidikan/kecerdasan, keindahan, tontonan, dan spiritualisme. Apabila penanganan seni budaya hanya diperuntukan sebagai salah satu komoditas pariwisata, maka sesungguhnya sedang mengabaikan arti penting seni budaya dalam mewarnai kualitas kehidupan bermasyarakat.

Mengamati perkembangan budaya di Indonesia, sebut saja bahwa korupsi sudah menjadi sebuah budaya di Indonesia, maka mencerminkan betapa rendahnya kualitas spritual bangsa ini. Apabila pornografi sudah dipandang sebagai sebuah karya seni, maka dengan gampang kita menilai rendahnya kualitas spiritual dan kualitas intelektualnya (kualitas kecerdasannya). Apabila sebuah bangsa telah melegalisasi budaya dan karya yang tidak bercita rasa seni tersebut di atas, maka kualitas kecerdasan dan kualitas spiritual bangsa itu dapat dikatagorikan “sangat rendah”.

Melalui pemaparan sederhana di atas, masih beranikah mengatakan bahwa karya seni dan budaya tradisi hanya merupakan produk tontonan dan paket pariwisata ?, saya yakin Bangsa Indonesia dibesarkan oleh karya seni dan budaya luhur Leluhurnya yang penuh dengan filosofi kecerdasan, kesolehan, serta budi pekerti yang agung, sehingga Indonesia dikenal sebagai negara Sopan Santun dan Berbudaya tinggi. Ketika banyak generasi muda berapresiasi dengan budaya dan karya seni bangsa lain, semuanya disebabkan karena pembelajaran filosofi seni budaya tradisi Indonesia tidak diberikan ketika mereka berada dibangku sekolah. Jangan salahkan mereka, yang salah adalah sistem pendidikan yang mengedepankan pendidikan materialisme, serta sistem komersialisme pendidikan, sehingga mereka hanya mengejar kebutuhan emosional dan mengabaikan kebutuhan spiritual.

Mengembalikan seni budaya dalam lingkup pendidikan dan kecerdasan spiritual (DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN SENI BUDAYA), setidaknya mengembalikan generasi muda kepada keluhuran budi pekerti yang telah dicontohkan para Wali Alloh di muka bumi Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s