Waktu Semakin Terbatas

jesneimitef.multiply.com

Perjalanan waktu menuju pada titik akhir perkembangan jaman, pada titik itu terjadi kebutaan kebenaran, meski kebenaran telah tegak namun yang memahaminya semakin condong. Anak-anak kecil yang mulai banyak bertanya, tak memahami lagi mana wanita dan mana laki-laki, identitas jenis kelamin telah mulai sirna. Akibat tontonan yang mengumbar kebebasan, membebaskan keinginan manusia sekehendak nafsunya. Laki-laki bercumbu dengan sejenisnya, demikian pula wanita. Ikatan pernikahan hanya jadi simbol sosial selebihnya untuk menutupi keliaran syahwat yang melampaui batas.

Tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh lainnya terdiam dengan sajian tontonan yang tersebar di media, tiada keberanian untuk menghentikan, tiada perbuatan yang mencegah merebaknya keganjilan ini. Seolah merupakan komedi yang semestinya ditertawakan, padahal anak kecil kebingungan menetapkan definisi hanya sekedar menentukan jenis kelamin.

Berbagai kehendak manusia semakin tak terkendali, yang tidak berkenan hanya bicara dengan lantang dan berbisa, namun tak mempan menghentikan kenistaan, menghentikan kedzaliman, bahkan semakin merebak dan menjalar sampai ke pedesaan dan menular pada keluguan penduduk pegunungan.

Perjalanan waktu semakin mendekati akhir, sebab kehendak Alloh terkalahkan oleh kehendak manusia. Tiada lagi yang khawatir tentang berita Nabi Luth, tiada lagi yang peduli tentang Laki-laki harus menjadi pemimpim kaum wanita, tiada lagi yang peduli untuk saling mengingatkan kebenaran antar sesama, dan tiada lagi yang berani berbuat untuk menghentikan kedzaliman. Kita menebarkan keadilan namun dengan takaran kepentingan, Gedung-gedung keadilan jadi perhelatan persekongkolan, wakil-wakil tak lagi mampu mewakili, dan para pemimpin tak mengenal lagi rakyatnya, bahkan rakyatnya jadi tumbal kelangsungan keuntungan negara, padahal sebuah negara berdiri untuk melindungi dan mensejahterakan rakyatnya, bukan menjadi perusahaan raksasa yang pemimpinnya seorang Direktur dan Dewan Komisaris.

Ketika Al Qur’an melarang perbudakan, ternyata semakin banyak jual beli tenaga kerja dan wanita, bahkan bayi yang baru saja mampu bernafas. Anak-anak dipaksa menjual diri dan dijual masa depannya. Ketika ramai diserukan persamaan hak insani, namun semakin terbangun kasta-kasta, kelompok orang-orang kaya semakin manja, segala keperluannya dilayani para pembantu dan buruh-buruhnya, sementara para pembantu dan buruh dihargai sangat kecil, bahkan tidak cukup untuk hidup satu minggu.

Para karyawan lapangan di perkantoran menyangga kebersihan lingkungan, menjadi tukang sapu, menjadi tukang pel dan pengantar minuman serta pembersih toilet dan WC, mereka begitu berjasa untuk menciptakan suasana nyaman, namun harga yang mereka terima hanya penilaian kasta yang terendah. Seandainya mereka bukan orang-orang sabar dan soleh, tentu mereka akan aksi tidak kerja selama satu bulan. Jika hal itu terjadi maka kantor-kantor menjadi tempat sampah, gedung-gedung berdebu dan taman-taman menjadi hutan rumput, serta jalan-jalan menjadi sarang laba-laba dan lalat, serta kenyamanan pun menghilang.

Ketika anjuran mencari Ilmu untuk mencerahkan ahklak dan meningkatkan keimanan, kini telah mengarah kepada memperoleh ijazah sebagai “tiket” memperoleh penghasilan. Sekolah-sekolah unggulan banyak berdiri dengan slogan promosi, bahwa lulusannya gampang mencari pekerjaan. Kemanakah para Ulama yang mendidik muridnya untuk menjadi Ulama masa datang ? dan bukan mendidik murid-muridnya menjadi penghalang jalan pulang.

Perjalanan masa hampir merapat di dermaga, sebab keimanan telah dikursuskan dan dituangkan dalam sebuah sertifikat kesolehan. Do’a – do’a  telah dikomersilkan untuk meredam penyakit dan gangguan makhluk-makhluk tak berakal. Semakin banyak sertifikat kesolehan diterbitkan, dan semakin banyak do’a – do’a didengungkan di hotel-hotel dan balai pertemuan, namun lumpur Lapindo semakin meluas dan gempa bumi semakin mengguncang tanpa henti, serta Masjid dan tempat-tempat Ibadah semakin tidak dipercaya sebagai ruang pengkajian dan ijabahnya sebait do’a.

Cahaya perjalanan semakin meredup, sebab kita berebut makanan dalam nampan yang terbatas layaknya segerombolan srigala berebut bangkai. Langkah kita semakin pendek, hanya untuk mencukupi kebutuhan perut dan syahwat, selebihnya sedang berhayal menjadi orang soleh dan berbudi luhur, jika kita tak disebut sebagai orang beriman dan berbudi luhur seringkali kita berang dan marah-marah.

Akhir perjalanan tinggal beberapa langkah, sebab bumi tak mampu menahan panas matahari, derasnya hujan, dan desakan panas bumi dan magma. Hingga kebakaran, banjir, gempa bumi dan letusan gunung merapi, mengantri dengan jadwal yang semakin padat.

Sejak lama sayembara diperdengarkan, “ Siapa yang berani memperjuangkan kebenaran dengan niat, ucapan, dan perbuatan (baik dengan harta maupun nyawa) maka disediakan ‘Surga’ “, namun ternyata surga bukan lagi menjadi pilihan.

Semoga genderang perang melawan kebatilan menggelorakan hati kami untuk berbuat sesuai dengan kehendakMU, sebelum terompet Ijrail menghentikan terbit mentari, sehingga tidak sia-sialah hidup ini demi menggapai Cinta yang Engkau Janjikan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s