Maksimalkan Kemampuan Berpikir

hollygent.blogs.friendster.com

Daya tampung otak manusia yang sangat luar biasa untuk menyimpan memori, memungkinkan manusia melakukan berbagai upaya penyerapan informasi dari berbagai sumber. Sumber informasi yang terhampar dipermukaan bumi dan alam semesta merupakan kekayaan bagi manusia, ketika sumber informasi tersebut secara kreatif diakses ke dalam otaknya. Sumber informasi yang banyak tersedia dan sangat mudah diperoleh, tanpa harus melakukan proses kontemplasi atau proses perenungan/berpikir yang rumit, adalah buku. Melalui buku manusia dapat secara langsung mengkonsumsi hasil pemikiran yang diproduksi oleh orang lain, dan biasanya di dalam buku tersebut tersedia metoda berpikir penulis serta bahan dan sumber tulisannya yang disertai dengan buah pikir penulis bersangkutan.

Hasil pemikiran para kreator dan inovator yang dikemas dalam sebuah tulisan (buku), menjadi jalan pintas bagi para peminat buku untuk menikmati berbagai macam ilmu pengetahuan tanpa harus menguras energi untuk mencari sendiri ilmu pengetahuan yang diinginkannya, sehingga hanya dengan membaca buku seseorang dengan sangat cepat menjadi pemilik ilmu pengetahuan.

Mengkonsumsi ilmu pengetahuan yang bersumber dari buku dan hanya bersifat menyimpan memori bacaan dalam otak, cenderung menciptakan pembaca dan peminat buku yang mengutamakan hapalan. Kecenderungan mengutamakan hapalan menggiring manusia bersifat statis (status quo) dan terpola, yang pada akhirnya langkah membuat keputusan bagi kehidupannya relatif text book thinking.

Menghindar dari hanya menghapal isi bacaan merupakan langkah besar dalam mencapai kematangan berpikir, artinya materi hapalan yang telah tertuang dalam otak dikembangkan melalui jalan perenungan dan atau jalan kontemplasi (Tafakur).

Seringkali Al Qur’an menuangkan seruan “Wahai orang-orang yang berakal”, “Wahai Orang yang Berpikir”, “……Bagi orang-orang yang berpikir”. Seruan ini diyakini setelah kita memahami seruan “Bacalah” dalam Surat Al ‘Alaq. Makna yang dapat kita nikmati dari seruan tersebut adalah rangkaian tahapan berpikir yang di awali dengan proses membaca, yang selanjutnya dilakukan langkah perenungan (tafakur) dari hasil bacaan tersebut.

Berbagai keterbatasan yang dimilki manusia secara individu dalam melakukan tafakur yang menghasilkan kesimpulan pengetahuan yang benar, mengharuskan kita memiliki relasi pertemanan atau komunitas untuk saling berbagi dan saling bertukar pendapat, sehingga hasil perenungan bersama dapat dijadikan mufakat sementara dalam memutuskan sebuah perkara ilmu pengetahuan.

Adapun langkah-langkah yang perlu kita lakukan dalam memahami substansi dan esensi bacaan adalah :

1.    Bacalah buku yang ditulis oleh tokoh ternama yang kita yakini bahwa beliau memahami dan ahli dibidangnya, misalnya Buku karya Al Ghozali, Djalaludin Rumi, Nurcholis Madjid, Jalaludin Rahmat, dan tokoh lainnya. Hindari membaca buku yang memanjakan syahwat (buku pemujaan terhadap harta, sex, dan kedudukan) sebab mengkonsumsi buku seperti ini akan mengundang keresahan dan gundah gulana. Jika kita mau bertamasya dengan buku, maka bacalah buku sejarah peradaban atau biografi tokoh terpuji, buku mengenai mahluk hidup dan alam semesta, dan buku lainnya yang dapat menyegarkan kalbu kita.

2.   Bacalah buku lain yang satu topik dengan buku yang sudah dibaca, untuk mencari perbedaan pemikiran di dalamnya, sehingga kita memperoleh pembendaharaan cara pandang dari beberapa tokoh ternama.

3.   Luangkan waktu minimal 30 menit pada setiap malam, pada saat keheningan sudah mulai terasa untuk merenungkan isi bacaan yang telah selesai kita baca (sebaiknya setiap Bab bacaan direnungkan, sebelum melanjutkan pada Bab berikutnya).

4.   Tuliskanlah hasil perenungan kita untuk dibaca ulang, atau sebagai bahan diskusi dengan rekan kelompok diskusi.

5.   Buatlah kelompok diskusi (kelompok pertemanan/komunitas diskusi) untuk membahas salah satu topik dari buku yang kita baca.

6.   Buat catatan hasil diskusi sebagai evaluasi kemajuan berpikir kita.

7.   Upayakan mengikuti pertemuan ilmiah, seminar, diskusi ilmiah yang dilakukan oleh institusi atau lembaga tertentu yang mengupas mengenai buku yang sedang kita konsumsi, atau mengenai topik yang kita minati, serta upayakan berinteraksi dengan nara sumber untuk memperoleh tambahan pemikiran dan kejelasan makna hasil diskusi.

8.   Yang paling penting kita harus memiliki Guru yang kita anggap memenuhi kriteria dan berkarakteristik mengayomi, untuk memperoleh tanggapan dan arahan, agar kita terhindar dari jalan kesesatan berpikir. Jika kita belum menjumpai Guru yang tepat, maka berkomunikasilah dengan pengarang buku (jika beliau masih ada) untuk mendiskusikan topik yang perlu pendalaman.

Hasil bacaan dan perenungan yang mengharuskan dilakukannya implementasi dalam praktik berkehidupan/bermasyarakat, maka perlu dilakukan aktivitas tersebut, sebab ilmu adalah aktivitas, tanpa aktivitas maka hasil bacaan dan perenungan baru mencapai tahap pengetahuan.

Aktivitas dapat dilakukan individu, namun akan lebih cepat dan bergairah dalam melakukannya apabila kelompok pertemanan/kelompok diskusi difungsikan pula sebagai kelompok aktivitas dan atau kelompok kreatifitas.

 

Motto : “Jangan menghindar dari perbedaan pendapat, sebab manusia ditakdirkan berbeda satu dengan lainnya, dan perbedaan adalah kekayaan dan harta bagi keluasan ilmu, serta ladang untuk bertafakur”.

 

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s