Antisipasi Krisis Ekonomi Episode II

12 Jun

Sinyal terjadinya krisis ekonomi Indonesia pada 3 sampai 4 tahun ke depan telah nampak. Sinyalemen itu terlihat dari penurunan daya beli masyarakat, serta kecenderungan terjadinya penurunan produk nasional.
Pasca kenaikan harga BBM dan peningkatan harga pangan dunia menjadi pemicu potensial terjadinya krisis. Kedua faktor tersebut sangat efektif menurunkan daya beli masyarakat. Fenomena penurunan daya beli disiasati oleh masyarakat dengan memaksimalkan produk jasa kredit perbankan, kondisi ini terjadi karena masyarakat enggan untuk merubah pola konsumsi yang telah dilakukan sebelumnya.
Jalan yang ditempuh masyarakat dengan meningkatkan pinjaman bank, menyebabkan jumlah kredit konsumtif semakin besar, bahkan jumlahnya cenderung melebihi jenis kredit produktif. Solusi instan yang tengah digandrungi masyarakat Indonesia menimbulkan beban keuangan masyarakat di masa datang, sehingga untuk menutupi/ melunasi pinjaman pada saat daya beli rendah, yakni dengan melakukan pinjaman yang lebih besar di masa datang. Pada keadaan tersebut besarnya permintaan masyarakat terhadap komoditas sebenarnya bukan permintaan riil, sebab jumlah permintaan menunjukan jumlah pinjaman yang dilakukan masyarakat.
Sangat rasional apabila masyarakat mencari komoditas yang dibutuhkannya berharga murah pada saat daya beli rendah, namun kenyataannya komoditas yang berharga murah tersebut (terutama komoditas pangan dan sandang (pakaian, peralatan elektronik dll)) lebih banyak barang impor. Indonesia dibanjiri oleh komoditas sandang dari China , Korea, dan komoditas pangan dibanjiri oleh produk terigu Amerika dan beras Vietnam. Dengan demikian besarnya kredit konsumtif yang dilakukan masyarakat ditujukan untuk meningkatkan permintaan terhadap barang-barang impor. Gejala ini menghasilkan penurunan permintaan terhadap komoditas dalam negeri, penurunan permintaan ini berdampak pada kemungkinan kerugian produsen dalam negeri, yang pada akhirnya akan menurunkan gairah usaha di dalam negeri, serta menurunkan produksi nasional yang menjadi cerminan menurunnya perekonomian Indonesia. Kondisi lain akibat meningkatnya permintaan terhadap barang impor adalah meningkatnya permintaan terhadap mata uang asing (USD/$) yang dipergunakan untuk pengadaan barang impor tersebut. Gejala peningkatan permintaan terhadap mata uang USD/$ menyebabkan meningkatnya harga mata uang tersebut, dan akibatnya jumlah beban hutang luar negeri Indonesia akan semakin besar, serta terdapat kecenderungan meningkatnya spekulasi di pasar uang untuk memperoleh keuntungan dari kepemilikan mata uang USD. Gejala spekulasi yang tinggi menyebabkan bergesernya fungsi uang sebagai alat perantara pembayaran menjadi komoditas yang diperdagangkan dan menguntungkan, sehingga sektor riil dianggap tidak lagi menguntungkan bagi para Investor dibandingkan dengan kegiatan spekulasi mata uang USD/$. Kondisi tersebut akan semakin menurunkan jumlah produksi nasional, serta akan semakin kecil jumlah Investasi yang terjadi di dalam negeri, baik yang bersumber dari modal dalam negeri,maupun bersumber dari modal asing.
Meningkatnya jumlah kredit konsumtif masyarakat mengindikasikan menurunnya jumlah tabungan masyarakat, artinya jumlah persediaan modal untuk investasi dalam negeri mengalami penurunan. Gejala ini akan berpengaruh terhadap :1). upaya menciptakan pinjaman luar negeri baru (utang Luar negeri) untuk menambah modal Investasi dalam negeri, 2). meningkatnya jumlah defisit APBN sehingga untuk menutupinya melalui peningkatan harga-harga komoditas publik (misalnya BBM), atau upaya menjual aset-aset negeri (BUMN) kepada pihak asing untuk menutupi defisit anggaran tersebut.
Apabila upaya di atas dilakukan oleh pemerintah, maka beban negara akan semakin besar, dan masyarakat akan senantiasa bergantung kepada komoditas impor tanpa didukung oleh peningkatan daya beli bahkan akan terjadi penurunan daya beli pada skala yang lebih besar. Menurunnya jumlah perusahaan di dalam negeri (produsen nasional), tentu akan berimbas kepada peningkatan jumlah pengangguran. Maka kemungkinan terjadinya krisis ekonomi episode kedua sedang di depan mata.
Kondisi psikologis masyarakat yang termiskinkan akibat peningkatan harga BBM, tidak terangkat gairah usahanya, sebab solusi penanggulangan kemiskinan dilakukan pemerintah dengan model sumbangan darurat, hal demikian menunjukan makna, bahwa penanggulangan kemiskinan diartikan dengan penanggulangan korban bencana alam. Pada beberapa waktu ke depan ketika program BLT telah usai maka masyarakat miskin akan kembali kepada kondisi semula, sebab tidak terdapat penangulangan jangka panjang dan tidak didukung dengan peningkatan kemampuan masyarakat miskin untuk melakukan aktifitas produktif.
Pada kondisi perekonomian yang sangat labil ini, maka diperlukan langkah-langkah konkrit untuk mencari sumber dana dalam negeri sebagai modal investasi nasional, agar produksi dalam negeri masih tetap berjalan, bahkan terjadi peningkatan, dan menghalau keinginan menambah jumlah pinjaman luar negeri, serta mengusir keinginan menjual aset-aset bangsa kepada pihak asing.
Sumber dana potensial yang dapat digali adalah :
1. Menarik dana yang berada ditangan koruptor secepatnya, yang disinyalir berjumlah triliunan rupiah.
2. Mengembalikan modal dari luar negeri yang bersumber dari pelarian modal keluar negeri yang dilakukan oleh pengusaha-pengusaha nasional.
3. Mengupayakan penanaman modal asing pada sektor pertanian untuk menopang ketersediaan pangan dalam negeri, dan mengupayakan diversifikasi produk pangan yang berbasis hasil produksi pertanian dalam negeri, sehingga memperkecil ketergantungan terhadap komoditas pangan impor (memperkecil ketergantungan masyarakat untuk mengkonsumsi mie instan dan roti, sebab komoditi tersebut berbahan baku gandum, dimana Indonesia sangat mengandalkan gandum/terigu impor)

Adapun kebijakan moneter yang perlu dilakukan adalah :
1. Meningkatkan jumlah kredit usaha kecil dengan pola profit sharing, dan atau mengeluarkan kebijakan tingkat bunga 0% untuk masa pinjaman 1 tahun (Khusus bagi Bank BUMN) bagi akselerasi peningkatan produksi nasional, dan pengusaha yang menerima pinjaman diharuskan memproduksi barang berbasis kepada teknologi yang ditemukan/dikembangkan di dalam negeri, serta memaksimalkan penggunaan bahan baku yang tersedia di dalam negeri (bukan bahan baku impor), agar efisiensi produksi tercapai dan pada akhirnya harga komoditas yang dipasarkan terjangkau konsumen.
Maksud Kebijakan tingkat bunga di atas adalah : jika seorang pengusaha kecil mikro, atau masyarakat yang baru menjadi pengusaha melakukan pinjaman dengan masa waktu 3 tahun, maka diberikan kebijakan bunga 0% untuk 1 tahun masa pinjaman, dan dikenakan tingkat bunga pasar untuk masa pinjaman selanjutnya). Hal ini dilakukan agar pengusaha diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan produksi dan kemampuan pemasaran hasil produksi, sehingga dicapai kemampuan membayar cicilan hutang dan bunga secara nyata.
2. Mengeluarkan kebijakan selective credit, dimana masyarakat yang meminjam untuk tujuan konsumsi terhadap barang impor dibatasi, namun diberlakukan kemudahan bagi pinjaman konsumtif untuk membeli komoditas hasil produksi dalam negeri, agar permintaan terhadap komoditas hasil produksi dalam negeri tetap terjaga demi kelangsungan usaha dan peningkatan skala usaha ke depannya.

Beberapa langkah untuk menekan munculnya krisis moneter tahap kedua, diantaranya :
1. Memberikan insentif kepada para inovator yang menemukan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi penggunaan energi dalam negeri.
2. Memberikan insentif dan kebijakan pengembangan bagi masyarakat yang menemukan energi alternatif, serta diberikan bantuan untuk mengembangkannya menjadi komoditas publik.
3. Memberikan dukungan permodalan dan fasilitas pengembangan bagi masyarakat yang menemukan teknologi pertanian yang mendukung kepada peningkatan produksi pangan dalam negeri, serta memberikan insentif kepada masyarakat yang menemukan keragaman makanan pangan yang tidak berbasis komoditas impor.
4. Melakukan kebijakan perubahan status kepemilikan tanah bagi tanah yang tidak difungsikan oleh pemiliknya, untuk tujuan pertanian atau tujuan produktif lainnya oleh pemerintah, dan pemerintah melakukan penggarapan tanah tersebut untuk meningkatkan produksi pangan nasional, atau untuk lokasi perdagangan/industri pengusaha kecil dalam negeri yang berbasis bahan baku lokal.
5. Mengeluarkan kebijakan tarif barang impor, khususnya komoditas yang nilai konsumtifnya tinggi (peralatan elektronik dll) yang tidak urgen bagi kebutuhan masyarakat, serta kebijakan tarif impor untuk komoditas yang diproduksi di dalam negeri atau komoditas yang akan dikembangkan di dalam negeri, sampai produsen dalam negeri mencapai efisiensi produksi.

Antisipasi sejak dini agar krisis ekonomi tidak terulang di negeri ini, sangat diperlukan agar kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan, dan keutuhan kesatuan bangsa Indonesia tetap terjaga. Yang tidak kalah pentingnya adalah menyadarkan masyarakat tentang perlunya kecintaan terhadap produk nasional, dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang tingginya kualitas hasil produksi dalam negeri, serta tingginya penguasaan teknologi bangsa sendiri. Ketika kebijakan pemerintah mendukung teknologi dalam negeri dan konsisten dengan kebijakan dana pendidikan 20% dari APBN, maka dalam waktu dekat Indonesia akan terlepas dari ketergantungan terhadap teknologi asing, serta komoditas impor. Sebab kita semua tahu kemampuan teknologi kita sangat tinggi ketika terdapat akses yang mudah terhadap laboratorium dan keuangan.
Sudah saatnya Pemerintah dan masyarakat tidak lagi tertegun dengan penemuan yang diperoleh asing, namun kobarkan semangat menggali dan menemukan teknologi oleh bangsa sendiri. Jangan biarkan masyarakat mengembangkan kekaguman dan merasa lebih nyaman menggunakan barang impor, sebab seringkali terjadi, ternyata komoditas impor tersebut dibuat oleh bangsa Indonesia, namun diklaim oleh perusahaan asing dan dijual kembali ke Indonesia dengan label perusahaan asing. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, jangan biarkan negeri ini dikendalikan bangsa asing, sebab pimpinan negeri ini bukan Presiden Amerika maupun Perdana Mentri Inggris, tetapi Presiden Republik Indonesia.

One Response to “Antisipasi Krisis Ekonomi Episode II”

  1. Forum Investor June 13, 2008 at 3:14 am #

    Salah satu cara adalah kurangi kredit konsumtif dan galakan investasi di semua bidang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BWFITRI

JUJUR BERKATA JUJUR

ernizem

Just another WordPress.com site

nurjamilah97

Just another WordPress.com site

rinrinrintiani

Just another WordPress.com site

nenengnurjanah

Just another WordPress.com site

mohyosep

Just another WordPress.com site

diyansumirat

Just another WordPress.com site

ninayunalis

Just another WordPress.com site

achile90

Just another WordPress.com site

Ilham Afriansyah

lakukan yang terbaik agar dapat dirasakan kebaikannya kepada seluruh umat manusia

abdhie17

WordPress.com site

Ilis khoeriyah Alawiyah

Hidup Penuh dengan Misteri

rahmatdizez

Just another WordPress.com site

abdulrojak35

Just another WordPress.com site

paridridwan92

Just another WordPress.com site

aanguno

Just another WordPress.com site

usep66

Just another WordPress.com site

Myl1v3's Blog

Just another WordPress.com weblog

Niendin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Bahadursing's Weblog

HIDUP HANYA SEKALI, GUNAKAN WAKTU YANG BAIK

Adekomaludin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

MTs Bahrul Ulum

Aktif - Kreatif - Inopatif

Nahwa Blog

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Nazrul Budak Cidahu

Just another WordPress.com site

Edisae's Blog

Just another WordPress.com weblog

E-one Hermawan's Blog

Just another WordPress.com weblog

UMFalah's Blog

Ruang Kreatifitas

boyzybozz

Just another WordPress.com site

pandasepti

Just another WordPress.com site

Rani Rahman

Siliwangi University. Edutrain Consultant

Media Belajar Akuntansi

Mengabdi demi Ilmu Pengetahuan & Beribadah

Google adsense

Just another WordPress.com weblog

WordPress Plugins

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: