Dunia Merebut Tahta Manusia

Dunia tengah dilanda berbagai bencana, bencana alam dan bencana yang direncanakan manusia. Perubahan suhu udara yang disebabkan oleh ulah manusia serakah yang mengambil sumberdaya alam hanya untuk memuaskan nafsu, berebut memperkaya diri tanpa memberi manfaat bagi sesama. Bencana kelaparan karena harga pangan yang melambung, serta harga energi membumbung tinggi, direncanakan oleh kelompok manusia yang sengaja ingin menciptakan kerajaan, agar penduduk dunia menjadi hamba sahaya.

Seolah keindahan dunia tak lagi berarti bagi kehidupan, angin menampakkan kekuatannya hingga badai menerpa tanpa mampu dihalangi, air membuktikan kekuasaannya hingga tenggelamkan berbagai kota dan pedesaan, tanah tak lagi ramah, seolah enggan disinggahi manusia, mereka merebahkan diri dengan gempa bumi dan meluruhkan asanya dengan longsor dimana-mana, bahkan perutnya memuntahkan lumpur beserta luapan amarahnya. Api memanggang hari-hari hingga banyak tanaman enggan tumbuh dan kekeringan melanda, serta gunung es pun tak lagi ramah melindungi volume air samudra dan bersiap menenggelamkan pulau-pulau dan benua.

Bencana yang lebih besar melanda hati nurani, manusia tak lagi mampu menangis tanda berserah diri, kemampuan menangis muncul setelah teknologi membantunya lewat kursus-kursus kesolehan. Banyak orang berseragam padri dan kiayi, menggunakan terompah berkulit sapi, namun tak tercermin dalam tindakan. Ucapan dan tindakan tidak disertai dengan keberanian dan keyakinan. Banyak tirani yang didukungnya, seolah seragam yang dikenakan menjadi alat promosi dan corong keagungan untuk memberikan jalan bagi kemungkaran dan kebatilan. Mereka menyerukan sabar tapi terdiam tanpa do’a, mereka menyerukan nahi munkar namun jalan yang ditempuh penuh noda dan kemunkaran.

Nama Tuhan diseru seperti sedang membaca puisi, keras berbicara namun disertai kerasnya hati. Bencana apa gerangan yang tengah melanda bumi ini. Seluruh ruang penuh terisi, dari waktu ke waktu tiada henti.

Ternyata akupun didalamnya, tergusur bahkan menggusur, tertarik bahkan menarik, bencana yang terjadi melibatkan aku bersamanya.

Menyelesaikan dan mengobati bencana hanya dalam wacana, diskusi dan seminasi, tanpa tindakan berarti. Pemimpin yang semestinya mengayomi ternyata masih bergelut dengan penyelamatan diri, para ponggawa negeri beramai-ramai mengejar materi, dan penceramah serta ahli dakwah berkelakar dengan petunjuk yang dibawanya, bagaimana dengan umat dan rakyatnya ?.

Nama Tuhan diseru dalam narasi seperti adegan tanpa sutradara, pintar membawa peran hingga penonton terkagum-kagum melihatnya, setelah tontonan selesai semua kembali pada bencana yang tiada henti.

Aku menyadarkan aku, tanpa tuntunan, hingga kebenaran hanya menurut nafsuku, kebaikanku ternilai ketika aku memujinya, selebihnya tak peduli siapapun yang berada disekitarku.

Bencana melanda bumi dan isi hati, seluruh pencarian berujung memperkaya diri, dunia pendidikan dari yang paling dasar hingga yang paling tinggi ditujukan untuk memaksimalkan pencarian materi hingga kelelahan, tidurpun masih mengejar mimpi, dan do’a yang dialirkanpun pamrih.

Menggantungkan harapan pada dunia, padahal dunia sedang dilanda bencana, mungkinkah harapan itu bermakna ?.

Mungkin terdapat golongan yang memperoleh keuntungan dengan hadirnya bencana, sebab nyata tidak ada belasungkawa, dan yang tertawa semakin nampak adanya.

Sejak Adam diciptakan, Alloh menganugrahkan kedudukan sempurna kepadanya dan turunannya, namun manusia mencampakkannya sehingga kini dunia lebih tinggi keberadaannya.

Sejarah yang berulang tertuang dalam kitab-kitab peringatan, Kitab Suci Al Qur’an pun menjelaskan tentangnya, dasar aku diselimuti debu kerakusan dan keraguan, hingga teori-teori kebimbangan lebih diutamakan daripada firmanNYA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s