Benarkah Gus Dur Membela Ahmadiyah ?

Sosok kontroversial yang ditampilkan Guru Bangsa K.H. Abdurahman Wahid, merangsang semua kaum untuk berpikir keras memahami makna yang tersirat dari seluruh ungkapan yang disampaikannya. Diantara pihak yang pemikirannya bersebrangan akan serta merta menuding Beliau dengan sebutan yang kurang mengena, dan memancing orang-orang yang menghormatinya bereaksi.

Kami mencoba menafsirkan ungkapan populer yang disampaikan Gus Dur berkenaan dengan pembubaran ahmadiyah. Tokoh ini mengungkap pembelaan terhadap individu penganut ahmadiyah sebagai warga negara di akhir ungkapan pembelaannya jika ahmadiyah dibubarkan. Kalimat terakhir ini yang menjadi pusat perhatian kami, bahwa sesungguhnya Beliau sedang mengkhawatirkan bahaya yang lebih besar, yaitu

1.       Apabila ahmadiyah dibubarkan akan berdampak kepada penistaan warga negara penganut ahmadiyah, jika sebelumnya para pengikut ahmadiyah tidak dijamin keselamatan dirinya, keluarga dan harta bendanya. Kita telah memiliki contoh kejadian masa lalu mengenai pembubaran PKI, dengan tanpa perlindungan terhadap warga negara penganut paham tersebut (padahal mereka mengakui paham dengan terpaksa) menghasilkan gejala penindasan terhadapnya, dan menciptakan bahaya laten yang berkepanjangan. Bahaya yang terpendam tersebut menjadi sukar dideteksi perkembangannya serta memungkinkan organisasi asing ikut serta memperkeruh dan mencari keuntungan di dalamnya. Pembubaran dengan tanpa perlindungan sosial terhadap pengikutnya, dan mengasilkan penganiayaan terhadapnya, akan melahirkan dendam berkepanjangan bagi generasi penerus keluarga penganut ahmadiyah tersebut. Bibit dendam harus dihilangkan sejak dini, agar masa yang akan datang penuh dengan kedamaian.

2.       Faktor penistaan terhadap warga negara penganut ahmadiyah dan bahaya laten setelah ahmadiyah dibubarkan itulah yang sangat dikhawatirkan Gus Dur, sehingga kehati-hatian tindakan Gus Dur sesungguhnya sedang berupaya meminimalisasi dampak buruk terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara dimasa depan, serta memperkecil kecenderungan pihak asing mencampuri serta memperkeruh suasana bernegara. Ahmadiyah merupakan sasaran empuk bagi pihak asing untuk menjadi umpan instabilitas di dalam negeri, sebagaimana kita tahu pihak asing akan mengadili Indonesia dengan jerat pengingkaran HAM, apabila pembubaran ahmadiyah tidak melalui jalan damai dan dialogis. Pada kondisi kehidupan rakyat yang sangat berat, dimana harga pangan dan harga BBM sedang tinggi, maka kejadian sekecil apapun yang mencerminkan terjadinya instabilitas keamanan di dalam negeri, dapat menyulut keamanan negara terganggu, dan kondisi instabilitas inilah yang sesungguhnya dinantikan asing untuk semakin memperbesar pengaruhnya ke Indonesia dengan berbagai rangsangan bantuan luar negeri, atau investasi dengan penguasaan dan perimbangan hasil yang lebih menguntungkan mereka. Lebih jauh mereka menginginkan pengaruh yang sangat besar berupa invasi ekonomi, sehingga ketergantungan Indonesia terhadap mereka semakin mengikat.

Kebijakan pembubaran ahmadiyah membutuhkan kecerdasan yang lebih dalam penanganannya, sebab dukungan asing sebagai pemicu kerusuhan diyakini sangat berkepentingan untuk memporakporandakan perkembangan pemikiran dan pembangunan Islam di Indonesia, serta berkepentingan mengambil keuntungan dari kepemilikan sumberdaya Indonesia yang berlimpah dan menciptakan perbudakan dari jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat pendidikan yang rendah.

Pilihan untuk menyelesaikan persoalan ahmadiyah sebelum organisasinya dibubarkan, adalah menciptakan suasana nyaman yang menjamin warga negara penganut ahmadiyah terhindar dari penganiayaan dikemudian hari. Pendekatan militan akan semakin memperparah kondisi keamanan dalam negeri, sebab bagaimanapun kekuatan asing masih lebih besar dibandingkan organisasi militan, baik dari sisi finansial, maupun dari kemampuan penguasaan. Menjaga stabilitas keamanan dalam negeri serta menjamin warga negara untuk melakukan aktifitas kehidupannya, serta membangun kekuatan Akidah Islamiah dengan mengutamakan perdamaian yang disertai kecerdasan antisifasi terhadap kemungkinan skenario asing untuk menghancurkan Islam di Indonesia, akan jauh lebih bermanfaat dan mempercepat terwujudnya Islam sebagai Rahmat bagi semesta alam.

Berkenaan dengan tafsiran terhadap pemikiran Gus Dur di atas, maka saran kami mengenai penyelesaian ahmadiyah di Indonesia adalah :

1.       Pihak organisasi Islam di Indonesia (NU, Muhammadiyah, dan lainnya), mengajak dialog terhadap para pengikut ahmadiyah, untuk meluruskan keyakinannya, diantaranya mengajak mereka kearah aqidah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist. Dialog ini sangat penting, karena penganut ahmadiyah berkeyakinan bahwa mereka termasuk salah satu golongan dalam Islam. Bagaimanapun pengalihan keyakinan sangat sukar, oleh karenanya ajakan dari tokoh-tokoh Islam yang mampu menjelaskan kedudukan ahmadiyah dalam Islam terhadap para pengikutnya sangat diperlukan, agar mereka memahami dengan hati nuraninya. Para pengikut ahmadiyah diyakini memiliki kegamangan keyakinan pada saat ini, dan sebelum keyakinan mereka semakin kuat jika tokoh ahmadiyah melakukan penguatan dengan aktivitas lain yang mungkin merugikan pengikutnya, maka melalui pendekatan dialogis dengan para pengikutnya oleh pemuka organisasi Islam Indonesia, kami yakin akan mencerahkan hati mereka, dan para tokoh aliran ini akan kabur meninggalkan Indonesia. Selanjutnya pernyataan pengakuan pelurusan aqidah Islamiah oleh pengikut aliran ahmadiyah, menjadi batasan dikeluarkannya keputusan pembubaran ahmadiyah oleh Pemerintah, serta seluruh sarana peribadatan ahmadiyah di Nasionalisasi dan dijadikan asset negara yang diperuntukan bagi fasilitas sosial kemasyarakatan, atau sebagai sarana pusat studi Agama Islam.

2.       Keputusan lain yang menjadi pilihan adalah dikeluarkannya kebijakan pemerintah (keputusan pemerintah) bahwa ahmadiyah bukan salah satu aliran (madzhab) dalam Islam, namun merupakan aliran kepercayaan yang dilindungi oleh Undang-undang, seperti halnya aliran kepercayaan lainnya yang diakui Indonesia. Keputusan ini akan memberikan angin baik bagi umat Islam Indonesia, sebab ahmadiyah yang diyakini sesat tidak berada dalam rumpun Islam yang menodai aqidah Islamiah.

3.       Keinginan untuk membubarkan FPI sebaiknya diurungkan, sebab organisasi ini terbukti efektif memberangus kemaksiatan yang dikelola pihak asing, maupun yang dikelola warga negara yang bermental yahudi, ketika pihak kepolisian negara belum memiliki personil yang cukup untuk menanganinya. Terlebih FPI telah membuktikan keberaniannya melindungi umat Islam yang teraniaya oleh pihak-pihak pengecut, seperti tragedi Poso dan tragedi lainnya.

Penduduk Indonesia mayoritas umat Islam, maka keberpihakan negara terhadap umat Islam mencerminkan keberpihakan terhadap bangsa. Apabila terdapat kecenderungan asing untuk mengkerdilkan penduduk mayoritas karena beragama Islam, maka FPI terbukti menjadi pejuang untuk tetap mempertahankan martabat bangsa dari kehendak asing tersebut. Selama FPI berjuang dengan menyebut Asma Alloh dimulut dan dihatinya, kami yakin kekerasan bukan perbuatan mereka, tetapi pihak lain yang ingin menodai perjuangannya.

Saran atau pendapat di atas, hanya sebagai urun rembuk dan sebagai sarana pembelajaran terhadap buah pikir Gus Dur yang selama ini saya kagumi keluasan ilmunya. Dan kami yakin tokoh agama Islam yang berada diberbagai organisasi memilki kesamaan tujuan untuk mencapai dan mewujudkan Islam Rahmatan fil Alamin bagi seluruh mahluk di jagat raya ini. “Umat Islam takkan pernah menodai kesucian Islam, kecuali oleh orang-orang munafik yang menginginkan Islam berada dalam kegelapan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s