PILIH WAKIL RAKYAT “BENERAN”

Sebuah partai dibangun dengan idiologi partai, berjalan dalam koridor idiologi tersebut. Filosofi partai adalah merangkul masa yang beridiologi sama dengan partainya dan memperjuangkan idiologi tersebut untuk kesejahteraan anggota dan konstituennya. Perbedaan idiologi antar partai memicu lahirnya konflik antar partai, celakanya jika konflik itu membawa serta anggota partai dengan konstituennya, maka konflik tersebut akan lebih besar dan merugikan kehidupan bernegara.

Sangat tepat jika partai-partai di Indonesia dibangun tidak dengan idiologi yang beragam, tetapi lebih mengedepankan strategi partai dalam pengembangan kesejahteraan rakyat, sehingga setiap partai bersaing dalam memproduksi visi dan misi untuk mendapat dukungan dari rakyat sebagai calon pemilihnya.

Persoalan yang masih menyisakan masalah dalam setiap partai, adalah calon anggota DPR/DPRD yang menjadi ujung tombak partainya dalam memperjuangkan aspirasi konstituen yang memilihnya. Seringkali terdapat anggota DPR/DPRD yang tidak konsisten dengan perjuangan partai dan menghianati pemilihnya, katakanlah anggota parlemen yang menjadi calo proyek pemerintah, melakukan pelecehan seksual, melakukan korupsi, serta penyelewengan lain yang menjijikan dan menghianati rakyat yang mempercayainya sebagai wakil.

Tepat kiranya jika setiap partai memberikan biografi yang lengkap mengenai calon anggota DPR/DPRD yang akan ditawarkan kepada para pemilih, dan terlebih dahulu pihak manajemen partai melakukan pendekatan moral bagi para calon anggota parlemen tersebut. Kegiatan rekruitmen ketat bagi calon anggota parlemen sangat diperlukan, sebab masyarakat yang memilih suatu partai sebenarnya sedang memilih anggota parlemen dari partai tersebut.

Keterwakilan rakyat oleh anggota parlemen, sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan kemampuan anggota parlemen tersebut dalam memahami keinginan rakyat yang diwakilinya. Apabila rakyat yang memilihnya petani tetapi anggota parlemennya seorang kontraktor bangunan atau bahkan tidak memiliki keahlian, apakah anggota parlemen sebagai wakil rakyat tersebut akan mampu memperjuangkan aspirasi rakyat pemilihnya ?. Selayaknya jika suatu partai menghendaki petani atau buruh sebagai target konstituen partai, maka calon parlemen yang diajukan adalah ahli bidang pertanian dan ahli bidang ketenagakerjaan, sehingga perwujudan anggota parlemen sebagai wakil rakyat semakin nyata.

Apabila ternyata anggota parlemen (DPR/DPRD) melakukan korupsi atau melakukan praktik percaloan proyek, maka anggota parlemen tersebut merupakan anggota parlemen yang diusung oleh partai yang menghendaki para koruptor dan para calo untuk memilihnya. Jika sebagian besar anggota parlemen melakukan praktik korupsi hal ini mencerminkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia sebagai pemilih adalah koruptor, sebab anggota parlemen tersebut wakil rakyat.

Kenyataan di atas tentu sangat tidak dikehendaki, sebab rakyat Indonesia memiliki kemuliaan nurani dan kecerdasan yang tinggi, sehingga dalam pelaksanaan pemilu 2009 rakyat Indonesia akan menyingkirkan partai-partai yang mengusung calon anggota DPR/DPRD yang berindikasi korupsi dan tidak memiliki kemampuan, serta rakyat akan mempedulikan partai-partai yang dengan terbuka menjelaskan calon anggota parlemen yang dijagokannya, baik keahlian, keterampilan, kemampuan, ahlaknya, serta track record profesinya yang menggambarkan keterwakilan bagi rakyat yang akan memilihnya.

Mencari calon anggota parlemen yang multi profesi sangat sukar diperoleh, maka calon yang memiliki kemampuan dan keahlian bidang tertentu (misalnya ahli bidang pertanian) relatif representatif sebagai wakil rakyat bagi rakyat petani sebagai pemilihnya, serta aspirasi rakyat petani akan sangat dipahami oleh anggota parlemen tersebut, dan memudahkan anggota parlemen tersebut untuk memperjuangkan aspirasi rakyat pemilihnya.

Bagi partai yang mengusung calon anggota DPR/DPRD yang tidak memiliki keahlian/profesi, sesungguhnya sedang memfungsikan lembaga parlemen sebagai lapangan pekerjaan. Jika hal itu terjadi maka lembaga DPR/DPRD menjadi institusi di bawah Departemen Tenaga Kerja, dan sedang menempelkan pengumuman di gedung DPR/DPRD slogan “Lowongan Kerja sebagai Anggota DPR/DPRD”. Apabila kondisi ini terjadi, maka jangan berharap anggota parlemen peduli terhadap aspirasi rakyat pemilihnya, sebab mereka bukan sebagai anggota parlemen yang menghasilkan pemikiran cerdas dan menemukan solusi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat, namun sebaliknya rakyat dijadikan objek penghasilan bagi mereka.

Patut dipertanyakan kepada orang yang berani menanggung beban sebagai wakil rakyat serta berpromosi diri tentang kemampuannya sebagai wakil rakyat, kecuali rakyat memilih mereka untuk mewakilinya karena rakyat tahu kapasitas individu calon yang dipilihnya. Pengetahuan rakyat tersebut bersumber dari informasi yang lengkap, benar, tanpa intimidasi, dan iming-iming materi, dari partai yang akan mencalonkan anggota parlemen tersebut, dan partai yang bertanggungjawab adalah partai yang menawarkan calon anggota DPR/DPRD yang memiliki keahlian dan kepribadian mulia, serta memiliki kemampuan memikul beban sebagai wakil rakyat.

Semoga pemilu 2009 melahirkan wakil rakyat yang cerdas, soleh, dan memiliki kemampuan sebagai wakil rakyat Indonesia.

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s