Memahami Perbedaan Menuju Kecerdasan

Faktanya alam semesta tercipta dalam hamparan perbedaan, perbedaan yang nampak maupun yang tersembunyi. Berbagai mahluk penghuni alam semesta, tiada satupun yang sama, baik rupa, warna, perilaku, cara berpikir dan bertindak, maupun cara mempertahankan kehidupan. Kombinasi perbedaan yang ada dimuka bumi dan alam jagat raya memancarkan keindahan dan kesempurnaan, ketika perbedaan tersebut berpadu dalam keharmonisan. Perbedaan yang saling mengisi, perbedaan yang saling melengkapi, merangkai menjadi sebuah bangunan kemegahan yang berwarna dan bervariasi. Sungguh penciptaan yang Maha Sempurna.
Sistem alam yang dibangun dengan rantai kehidupan yang bersimbiosa, merupakan sistem yang menjaga keseimbangan kehidupan tersebut, terputusnya salah satu rantai, maka keseimbangan akan tercerai berai, dan sangat susah untuk merajutnya kembali. Keseimbangan yang terganggu mengakibatkan munculnya prilaku parsial, masing-masing menampakan eksistensinya tanpa memandang bahwa perbedaan merupakan bagian dalam dirinya.
Seluruh manusia yang berada dipermukaan bumi tidak satupun berada pada kesamaan, masing-masing ditetapkan dengan perbedaan, baik rupa, warna, struktur tubuh, bahasa, perilaku, serta cara berpikir. Sehingga dengan perbedaan ini terwujud berbagai keahlian dan keterampilan yang berlainan antara individu dengan individu lainnya dalam memecahkan persoalan hidup dan kehidupan. Perbedaan antar manusiapun melahirkan keharusan antar individu untuk membuat jalinan antar sesama, saling mengisi dan saling melengkapi, sehingga keseimbangan kehidupan terjaga dalam bingkai kerjasama dan persaudaraan.
Seiring dengan berjalannya waktu, dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dialami manusia, serta manusia diberikan anugrah akal yang merupakan perangkat untuk memilih, dimana perangkat ini hanya dimiliki olehnya, maka pilihan untuk mempertahankan kehidupan memiliki cabang yang berlainan arah. Arah pertama konsisten menjaga keseimbangan hidup, dan pilihan lainnya mengarah kepada peningkatan eksistensi individual.
Proses pembelajaran dan proses penggalian ilmu pengetahuan yang dilakukan manusia, membentuk karakteristik yang berbeda-beda. Biasanya proses penggalian yang dilakukan dengan seksama dan memenuhi tahapan penggalian, akan melahirkan kearifan dan kebijaksanaan berprilaku, namun seandainya proses penggalian bersifat instan dan mengabaikan tahapan penggalian ilmu pengetahuan akan terhempas pada perlombaan memperoleh eksistensi diri. Manusia yang motivasi hidupnya menggapai kekuasaan sebagai salah satu bentuk pencapaian eksistensi diri, biasanya proses penggalian ilmu yang dilakukannya lebih ditujukan pada pengakuan sebagai seorang ilmuan, bukan menggali esensi ilmu dan manfaatnya, sehingga perbedaan pandangan dan perbedaan cara berpikir yang diungkapkan oleh orang lain menjadi sebuah ancaman bagi keutuhan eksistensinya. Salah satu upaya menjaga keutuhan eksistensi diri, diantaranya dengan meraih kekuasaan dengan cara yang rendah, sebab kekuasaan merupakan alat penyingkir efektif dari munculnya perbedaan pemikiran yang akan mengganggu cara berpikir dan bertindaknya.
Pemegang kekuasaan yang diperoleh dengan cara-cara hina, sesungguhnya merupakan sosok otoriter dan egois, dimana perilaku dan tindakannya senantiasa akan merendahkan dan melecehkan sesuatu yang berbeda dengan dirinya. Ketika ketinggian kedudukan diagungkan olehnya, sesungguhnya sedang terperosok kepada pengingkaran SUNATULLOH bahwa menerima perbedaan merupakan kekayaan, dan menangkap perbedaan sebagai hikmah merupakan kebahagiaan dan kemuliaan.
Berprinsip hidup menghidari perbedaan merupakan tindakan tidak manusiawi, sebab sesungguhnya melalui perbedaan kita mampu mengenali dan memahami segala sesuatu, dan kita mampu membuat definisi tentang sesuatu. Mengenali perbedaan berarti memahami bahwa diri kita merupakan salah satu bagian darinya, hal ini mengandung makna, bahwa diri tidak memiliki makna tanpa kehadiran perbedaan tersebut. Pada bingkai perbedaan kita hanya sebuah noktah, dan merupakan salah satu atom dalam samudra mahluk yang tercipta. Mengingkari perbedaan adalah kesombongan yang tidak berarti, sebab tidak mengenal makna keterbatasan sebagai mahluk dimuka bumi.
Memahami keterbatasan diri berarti mengerti bahwa eksistensi diri tidaklah mandiri. Mana mungkin manusia dapat menggapai kemandirian eksistensi, sebab eksistensi hanya dimiliki ILLAHI ROBBI, sebagaimana ketinggian kekuasaan firaun terhapus kematian, setelah itu tercatat sebagai perilaku yang harus dihindari oleh manusia yang mau berfikir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s