PERPUSTAKAAN UNTUK ANAK-ANAK PINGGIRAN

www.nutricoach.net

 

Problem rendahnya daya beli masyarakat dan disertai dengan kebijakan sekolah yang sering berganti buku pelajaran setiap perubahan tahun ajaran, menghasilkan dampak terjadinya pemborosan penggunaan buku, padahal materi pelajaran dan perkembangan ilmu pengetahuan tidak secepat pergantian buku pelajaran.

Banyak cerita miring mengenai masalah di atas, terutama bagi pemerhati pendidikan. Seringkali muncul pertanyaan, “apakah buku-buku pelajaran tahun akademik sebelumnya sudah tidak layak lagi sebagai sumber pengetahuan (kadaluarsa)”, padahal perubahan kurikulum nasional direvisi tidak setiap tahun. “Apakah hanya sebuah permainan sekolah, dalam upaya mempertahankan kerjasama dengan pihak penerbit buku pelajaran?”.

Setiap pergantian semester artinya terkumpul buku-buku yang tidak lagi dapat dipergunakan (padahal materi pelajaran tidak terdapat perubahan), hal ini sama artinya disetiap keluarga terdapat buku yang kadaluarsa (misalnya : disuatu daerah terdapat 1000 murid, maka terdapat 1000 buku pelajaran yang siap menjadi sampah pada setiap pergantian tahun ajaran). “Bagaimana penanggulangan pemborosan ini, dan bagaimana memanfaatkannya ?”.

Mengingat jumlah masyarakat miskin di Indonesia masih banyak, dan memungkinkan bertambah banyak apabila kebijakan peningkatan harga BBM ditetapkan, maka jumlah anak usia sekolah yang tidak dapat melanjutkan sekolah semakin banyak, bahkan yang tidak mampu untuk sekolah akan semakin besar pula, hal ini terbukti dari meningkatnya jumlah pengamen dan anak jalanan disetiap daerah. Penanganan masalah pemborosan buku dan kekhawatiran menurunnya tingkat pendidikan bagi generasi penerus bangsa akibat tidak mampu sekolah adalah dengan menyediakan sarana belajar informal yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh lembaga-lembaga sosial lainnya. Diantaranya adalah pembuatan perpustakaan desa, atau perpustakaan mandiri lainnya yang dikelola oleh pemerintah desa, atau Lembaga Sosial masyarakat, Karang Taruna Desa, bahkan bisa pula dilakukan oleh organisasi kepanduan (PRAMUKA).

Perpustakaan Desa atau perpustakaan Mandiri merupakan perpustakaan dimana buku yang disediakannya merupakan titipan buku pelajaran yang dimiliki keluarga yang tidak dipergunakan lagi , sehingga buku-buku yang semula siap untuk menjadi sampah tertampung di perpustakaan tersebut dan dapat dimanfaatkan oleh anak-anak usia sekolah yang tidak mampu bersekolah.

Kendala sarana perpustakaan dalam bentuk bangunan, atau ruang perpustakaan, sesungguhnya dapat diatasi, apabila Kepala Desa, PRAMUKA, Karang Taruna, dan LSM bekerjasama dengan BUMN yang berada di wilayah pemerintahannya. Misalnya pada setiap ruang yang memungkinkan PT Telkom menyediakan tempat/ruang perpustakaan yang dapat diakses oleh anak-anak tersebut di atas, disamping PT Telkom menyediakan pula sarana pengembangan pengetahuan dan pelatihan kepada mereka mengenai proses pembelajaran melalui teknologi internet dll. Demikian pula dengan lembaga Keuangan Bank atau bahkan Bank Indonesia bekerjasama dengan lembaga keuangan Bank lainnya untuk menyediakan sarana perpustakaan seperti contoh di atas.

Bebagai upaya untuk mewujudkan perpustakaan yang memanfaatkan buku-buku “kadaluarsa” yang masih bermanfaat bagi anak-anak bangsa lainnya, sesungguhnya dapat direalisasikan selama masyarakat pemilik buku kadaluarsa bersedia untuk menitipkannya diperpustakaan tersebut, dan lembaga-lembaga profit berkeinginan meningkatkan tingkat kecerdasan anak-anak bangsa di masa yang akan datang. Demikian pula halnya dengan Pemerintah yang konsisten dalam merealisasikan UUD-45 tentang mencerdaskan kehidupan bangsa, serta upaya Ppemerintah Daerah untuk meningkatkan IPM bidang Pendidikan semakin ditingkatkan, maka mewujudkan perpustakaan desa/perpustakaan mandiri sangat mudah untuk dilaksanakan.

Pengembangan perpustakaan desa/perpustakaan mandiri diupayakan sebagai pusat pelatihan keterampilan, baik keterampilan yang berkaitan dengan teknologi informasi, maupun yang berkaiatan dengan keahlian. (pertanian, kerajinan, dll). Hal ini dapat diwujudkan apabila setiap BUMN, Dinas-dinas terkait, dan para dermawan bersedia menitipkan buku-buku yang berkaitan dengan keahlian tersebut di perpustakaan desa/mandiri, sehingga sumber ilmu yang tersedia diperpustakaan menjadi lengkap dan bermanfaat bagi peningkatan penguasaan ilmu pengetahuan. Terlebih apabila BUMN dan Pemerintah bersedia memfasilitasi perlengkapan praktik pelatihan keterampilan, maka perpustakaan mewujud menjadi tempat melahirkan anak-anak cerdas yang siap memanfaatkan dirinya untuk pembangunan bangsa.

Buku adalah sumber ilmu, dan anak-anak terlantar sangat memerlukannya.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s