KERIS

Bukti jati diriPertahanan dan keamanan wilayah suatu negeri memang perlu dipelihara, agar masyarakat negeri itu tidak terancam oleh invasi asing maupun penganiayaan dari sekelompok orang yang ingin mengambil keuntungan dari bangsanya sendiri. Berbagai cara dilakukan, diantaranya membuat peralatan pertahanan semisal keris pada masa lalu.

Masa yang penuh dengan tantangan, sekarang maupun masa lalu, menggiring manusia mencari alat untuk mempertahankan diri, banyak korban dari alat yang dipergunakan, sebagian penggunanya jadi pahlawan, yang lainnya jadi pecundang, maupun penghianat.

Nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas mempertahankan diri, terhampar bermacam makna, namun rata-rata nilai mempertahankan identitas diri lebih banyak menonjol.

Masa lalu, sebutlah masa kerajaan Padjadjaran, yang berdiri  abad 5 – 6 Masehi di pelataran Gunung Galunggung Kabupaten Tasikmalaya . Padjadjaran yang di pimpin Sri Baduga Maharaja Diraja, merupakan masa yang penuh dengan tantangan dijamannya, tantangan dari ancaman negara/kerajaan lain, terutama dari kerajaan China dan, Mongol, senantiasa membuat Sang Raja berupaya membuat peralatan yang dapat digunakan untuk mempertahankan kedaulatan negerinya. Maka terciptalah senjata yang khas pada jaman itu, yakni keris dan tombak.

Kerajaan Padjadjaran yang sering disudutkan sebagai kerajaan yang sirna karena keengganan Sang Raja mengakui Islam sebagai ajaran resmi negerinya, ternyata memiliki hubungan diplomatik yang sangat erat dengan beberapa negara-negara Afrika (Mesir) dan negara-negara yang berada di jajirah Arab, serta telah memiliki hubungan dagang dengan Mekah pada abad 5 – 6 Masehi. Dan Sang Raja dengan bijaksana menyuruh sang Putra Mahkota untuk berguru kepada Nabi Muhammad dan Ali bin Abu Thalib. Hal ini menunjukan bahwa Sri Baduga Maharaja Diraja telah lebih awal mengetahui kebenaran Kerasulan Muhammad SAW.

Seperti halnya negara/Kerajaan  lain di dunia untuk mempertahankan kedaulatan dan keyakinan negaranya, maka senjata selalu dijadikan sebagai alat pertahanan. Memang sangat pelik urusan mempertahankan kebenaran, tidak cukup dengan perangkat teori dan retorika, namun ternyata pertempuran harus dilakukan untuk menegakannya.

Keris-keris yang dibuat dimasa Padjadjaran merupakan bukti, bahwa sangat mahal harga sebuah penegakan kebenaran, dan sangat mahal pula mempertahankan kedaulatan sebuah negara, harus mengorbankan ksatria-ksatria tangguh yang tingkat kecintaan terhadap kebenaran dan kedaulatan negerinya melebihi kecintaan terhadap dirinya.

Para Ksatria menandatangani kontrak mati untuk mewujudkan kemerdekaan negara, untuk menegakan kebenaran keyakinannya. Seperti halnya ksatria Padjadjaran kontrak mati untuk menegakkan Syari’ah Islamiah dan kedaulatan negaranya dari invasi asing yang akan memporakporandakan kehidupan masyarakatnya. Sebutlah Syeh Maulana Syarif Hidayatullah ksatria Padjadjaran sejati yang menduduki derajat Waliyulloh, serta Prabu Kian Santang murid seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, Ali bin Abi Tholib RA menjadi bukti ksatria-ksatria yang mempertahankan dan mengobarkan semangat mempertahankan kebenaran dan kedaulatan bangsa.

Ketika sebuah bangsa telah kehilangan ksatria-ksatria sejatinya, dan kehilangan senjata-senjata unggulnya, maka dengan mudah bangsa lain akan memangsa seluruh kehidupannya, sebab tidak terdapat penghalang yang berarti bagi mereka untuk memporakporandakan kehidupan.

Ketika Keris menjadi senjata unggul pada masa itu, maka hari ini Senapan Mesin, Tank, Pesawat Tempur sebagai pengantinya, ketika ksatria menjadi kebanggaan bangsanya dalam mempertahankan negaranya, maka hari ini prajurit dan pendekar yang kontrak mati untuk mempertahankan negeri sebagai gantinya.

Budaya Bangsa Indonesia sekarang telah teracuni budaya asing tanpa ada penangkal, banyak sumberdaya Indonesia terkuras oleh bangsa asing tanpa kendali, banyak pencuri dan perampok asing menjarah produk seni, modal, emas, minyak, bahkan bayi dari negeri ini tanpa hambatan yang berarti. Apakah semua ini menunjukkan berkurangnya ksatria-ksatria bangsa, dan berkurangnya jumlah keris negara ini, sehingga bangsa asing sangat meremehkan Indonesia ?. Jika ternyata jawabannya YA, mari kita pinjam keris-keris kerajaan Padjadjaran, atau keris-keris para ksatria masa lalu untuk menghalau cecunguk asing dan penghianat bangsa yang tengah memporakporandakan negeri tercinta Indonesia. Merdekaaaaaa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s