Kurikulum Generasi Kreatif

kurikulum.jpg

Kurikulum berbasis kompetensi yang dialirkan otoritas pendidikan negeri ini, diadaptasi beragam oleh institusi/lembaga pendidikan, berbagai upaya implementasi diarahkan kepada kompetensi berbasis sekolah bahkan berbasis kelas. Perkembangan sejauh ini menuntut setiap lembaga pendidikan menyediakan perangkat peralatan pendidikan yang berdaya guna dan sumberdaya manusia yang profesional. Keadaan ini melahirkan biaya operasional pendidikan menjadi mahal, yang pada akhirnya berimbas kepada sumbangan penyelenggaraan pendidikan (SPP) yang harus ditanggung peserta didikpun meningkat.

Standarisasi kurikulum berbasis kompetensi pada setiap lembaga pendidikan menjadi semakin beragam, hal ini bergantung kepada besar kecilnya akses lembaga pendidikan terhadap sumberdana, maupun bergantung kepada kepedulian organisasi orangtua siswa/mahasiswa dalam merespon perkembangan sekolah/perguruan tinggi. Semakin tinggi akses dan semakin besar kepedulian orang tua siswa/mahasiswa akan mendorong percepatan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang dibutuhkan oleh tuntutan kurikulum berbasis kompetensi.Searah dengan pergantian waktu, masyarakat mulai mempertanyakan arah kurukulum (KBK) tersebut, respon masyarakat tertuju pada output (lulusan) yang dihasilkan dari produk kurikulum kompetensi (terutama untuk SMA dan perguruan tinggi), Fenomena keinginan masyarakat lebih tervacus kepada tingkat penyerapan lulusan di pasar kerja, mereka sangat mengkhawatirkan tingginya tingkat pengangguran yang mungkin menimpa peserta didik (anaknya).Kekhawatiran mereka sangat beralasan, karena banyak diantara para lulusan dan orang tua lulusan menilai prestasi lulusan melalui terserap atau tidaknya lulusan tersebut di pasar kerja, atau dapatkan lulusan menjadi pegawai/karyawan pada salah satu lembaga/institusi. Lebih jauh ukuran prestasi lulusan ditentukan oleh bonafiditas institusi/lembaga yang menyerap lulusan, dan yang lebih ironis, dimana lulusan memiliki prestasi tinggi apabila diserap oleh perusahaan asing.Kenyataan dari opini publik tersebut di atas melahirkan kekhawatirkan terhadap penurunan perkembangan ilmu pengetahuan, menurunnya inovator lokal, menurunnya jumlah pengusaha/wirausaha baru dimasa yang akan datang. Bagaimana mungkin bangsa ini memiliki akselerasi pembangunan yang tinggi, apabila lulusan yang pintar dan cerdas diserap oleh perusahaan asing (menjadi pegawai/karyawan/buruh perusahaan asing), pada kapasitas mereka sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas pembangunan bangsa.Motivasi lulusan yang lebih mengarah menjadi pegawai, serta kurikulum yang lebih ditujukan agar lulusannya siap menjadi karyawan/pegawai/buruh, dan lembaga akreditasi yang menilai kualitas lembaga pendidikan tinggi salah satunya dari tingkat penyerapan lulusan di pasar kerja. Kondisi tersebut semakin menghambat lahirnya inovator baru, pebisnis/wirausaha lokal. Kenyataan ini menjadi pemicu penciptaan penganguran dimasa datang ketika dijumpai rasionalisasi perusahaan akibat terdapat kejenuhan permintaan komoditi di dalam negeri, atau dipicu oleh gejolak instabilitas politik maupun iklim usaha dan faktor lain yang berimbas kepada keengganan perusahaan asing melanjutkan usahanya/investasinya di dalam negeri. Pengangguran yang tercipta pada kondisi di atas adalah penganggur yang cerdas namun terbelenggu oleh karakter sebagai pekerja/karyawan/buruh.Layaknya bangsa yang besar seperti Indonesia, membangun kurikulum lembaga pendidikan dengan pembuatan perencanaan yang terintegrasi dengan lembaga lain, serta searah dengan rencana pembangunan jangka panjang, sebab pelaku pembangunan masa yang akan datang adalah lulusan yang pada saat ini sedang melakukan proses pendidikan. Kurikulum yang diramu menjadi menu materi pengajaran yang melahirkan peserta didik yang mandiri dalam melakukan inovasi dan peserta didik yang memiliki jiwa wirausaha, merupakan keharusan dalam meningkatkan akselerasi peningkatan kesejahteraan bangsa.Menu materi pengajaran yang melahirkan kemandirian lulusan, ternyata harus ditopang dengan berbagai kebijakan yang mendukung integritas kemandirian tersebut dengan kebijakan perlindungan terhadap inovator baru dari duplikasi maupun pencurian oleh pihak yang tidak bertanggungjawab, serta perlindungan terhadap pengusaha/wirausaha baru (infant industry) untuk mencapai tingkat efisiensi produksi maupun pengelolaan, sehingga mereka mampu bersaing dalam pasar persaingan global.Dilematika globalisasi ekonomi dan liberalisasi perdagangan yang mengharuskan Indonesia membuka restriksi perdagangan (tarif impor, quota impor), sesungguhnya dapat diminimalisir, ketika pemerintah lebih mengutamakan perkembangan ekonomi dalam negeri, serta pemerintah tidak berkehendak bangsa ini menjadi bangsa buruh/pegawai/karyawan. Upaya pelarangan barang impor untuk komoditas yang di dalam negeri telah diproduksi dan dikembangkan pengusaha/wirausaha lokal (baik industri manufaktur, maupun industri pertanian), akan berdampak kepada keleluasaan pengusaha muda, dan masyarakat kreatif untuk mengembangkan diri dan meningkatkan pemanfaatan kemampuannya untuk kesejahteraan bangsa.Program pengembangan kurikulum yang searah dengan kebijakan pembangunan jangka panjang, berkonotasi bahwa seluruh elemen pengelola bangsa (seluruh departemen) ikut bertanggungjawab terhadap penciptaan generasi penerus yang mandiri dan generasi yang bangga terhadap produk dalam negeri (baik produk pemikiran, produk seni budaya, maupun produk barang dan jasa), sehingga Indonesia tidak lagi bergantung kepada kebijakan bangsa lain dalam pembangunan bangsanya, serta tidak terangsang oleh pinjaman luar negeri yang sesungguhnya menjerat kemandirian bangsa dimasa mendatang. Kurikulum yang diarahkan menciptakan kemandirian bangsa, dan melahirkan generasi yang mampu mandiri sangat diperlukan untuk memaksimalkan potensi sumberdaya yang dimiliki Indonesia, dan pada akhirnya teknologi informasi, teknologi komunikasi, teknologi transfortasi, serta teori-teori sosial ekonomi terlahir dari nuansa meng-Indonesia, dan bangsa ini tidak lagi mendewakan pemikiran-pemikiran bangsa lain yang masih dipertanyakan kebenarannya, serta penerapannya bagi kehidupan berbangsa Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s