MENGOBATI KELESUAN EKONOMI DENGAN SILATURAHMI

images9.jpg Motto hidup yang luar biasa “Bersilaturahmi akan memperluas rezeki dan memanjangkan umur”, sangat relevan untuk dibumikan dalam segala aspek kehidupan, terlebih dalam aktivitas ekonomi. Sepanjang sejarah negara yang maju dalam perekonomian adalah negara yang memiliki hubungan baik dengan negara lain dan berhubungan dengan banyak negara. Demikian pula halnya dengan individu manusia, seseorang yang banyak memiliki hubungan baik dengan sesama manusia, berpengaruh kepada tingkat kesejahteraannya dan bahagia dalam mengarungi kehidupannya. Bersilaturahmi identik dengan membangun relasi, semakin banyak relasi artinya sedang membangun jaringan kehidupan di dalamnya. Semakin luas jaringan, sama artinya dengan semakin luas kesempatan untuk menebar kebaikan antar sesama, demikian pula dengan meluasnya jaringan akan meningkatkan jumlah saudara yang berhubungan mutualisma dengan kita. Pada kondisi tertentu, terdapat contoh buruk implementasi hubungan antar manusia yang berlindung kepada konsep silaturahmi, padahal sedang melakukan eksploitasi, sebagai contoh : Pola kemitraan dalam memproduksi komoditas, misalnya kemitraan dalam dunia bordir yang terjadi di Tasikmalaya. “Masyarakat yang kreatif diajak oleh “pengusaha” untuk bekerjasama membuat pakaian berdesain bordir, dengan pola kerja sebagai berikut : masyarakat diberi bahan baku (kain, benang), diberi pinjaman mesin (yang kadang dicicil dalam waktu tertentu sehingga akhirnya mesin jadi milik masyarakat), namun pemeliharaan mesin ditanggung masyarakat, termasuk biaya listrik dan lainnya. Pada saat pakaian telah jadi, maka pakaian tersebut harus dijual kepada pengusaha bersangkutan dengan harga yang telah ditentukan oleh pengusaha tersebut”. Kondisi tersebut di atas seolah sebuah hubungan yang saling menguntungkan, padahal yang sesungguhnya masyarakat telah dijadikan sebagai buruh kerja (Maklun), dengan bangunan pabriknya adalah daerah dimana masyarakat tersebut tinggal. Jika kita maknai perilaku pengusaha yang budiman tersebut sesungguhnya seorang penjahat yang licik, sebab pengusaha bersangkutan tidak perlu membangun pabrik untuk membuat komoditi, menghindar dari pajak, menghindar dari biaya listrik, menghindar dari biaya asuransi kecelakaan kerja, menghindar dari biaya/uang makan, dan biaya lain yang berhubungan dengan pekerja/buruh. Hal ini menunjukan bahwa sebenarnya para maklun (masyarakat pembuat bordir) menjadi sapi perahan dengan penghasilan yang sangat minimal, dan mesin yang akan menjadi miliknya nanti adalah mesin yang habis pakai, serta belum tentu efektif untuk kembali digunakan, sementara mereka mencicil dengan harga mesin normal. Dengan demikian maka masyarakat sesungguhnya sedang dirugikan. Contoh riil di atas bukan cerminan dari nilai silaturahmi, namun merupakan penjajahan gaya baru yang sangat melanggar hak azazi manusia. Bagaimanakah sesungguhnya silaturahmi dapat dibumikan dalam aktivitas ekonomi. Mencermati arti silaturahmi yang berkonotasi saling menebar kasih sayang, saling pengertian dan amanah, maka silaturahmi merupakan upaya membuat komunitas di antara mereka untuk saling membahagiakan tanpa ada seorangpun yang teraniaya. Kasus bordir di atas sedang menunjukan terdapat penganiayaan terhadap satu pihak, dipihak lain mengeruk keuntungan dari kelemahan para pekerja. Seyogyanya apabila pola kemitraan di atas dilakukan atas dasar silaturahmi, maka yang lahir adalah kemandirian usaha masyarakat yang dengan leluasa mengembangkan kreasinya, serta memiliki kekuatan pada saat menjual hasil produksinya pada tingkat harga yang saling menguntungkan antara penjual dan pembeli. Lebih jauh, menebar silaturahmi dalam aktivitas bisnis, sama artinya dengan membangun jaringan bisnis. Silaturahmi antara pengusaha bahan baku dengan pembuat barang, serta silaturahmi antara pembuat barang dengan pengguna barang, menunjukan jaringan usaha diantara mereka. Praktik yang sangat menarik apabila terjadi silaturahmi antara “Koperasi pengusaha bahan baku, koperasi produksi, dengan koperasi penjual/pemasar”, yang berada pada lingkungan perekonomian daerah, dan atau pada lingkungan perekonomian suatu negara, maka jaringan bisnis antar koperasi yang terbangun tersebut akan menciptakan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan, disamping seluruh anggota koperasi menikmati hasil dari aktivitas usahanya (memperoleh SHU). Bangunan jaringan bisnis seperti tersebut di atas akan memaksimalkan produktifitas kerja dalam negeri, termasuk memaksimalkan produk yang dihasilkan pengusaha dalam negeri, disamping memperluas jaringan pemasaran dalam negeri. Kondisi ini dapat dipergunakan sebagai alat untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, serta meningkatkan kreatifitas dan inovasi teknologi nasional. Menebar silaturahmi antar sesama di dalam negeri mengandung makna meningkatkan nasionalisme, yang sama artinya dengan meningkatkan ketahanan dan pertahanan nasional. Apabila silaturahmi terjadi antar pelaku ekonomi nasional maka sedang membangun ketahanan dan pertahanan ekonomi nasional. Kondisi persaingan yang tidak sehat antara pengusaha dalam negeri, sebenarnya sedang membangun celah masuknya intervensi asing untuk memporakporandakan perekonomian nasional. Teori ekonomi modern yang mengatakan bahwa keseimbangan pasar terjadi apabila dicapai titik keseimbangan antara jumlah permintaan terhadap komoditas dengan jumlah komoditas yang ditawarkan, dan kekuatan konsumen dengan kekuatan produsen seimbang, sebenarnya bukan hal yang istimewa, sebab praktik silaturahmi antar sesama (yang terkandung didalamnya nilai amanah, fathonah, dan tabligh) menjamin keseimbangan pasar akan diperoleh, ditambah bonus saling menguntungkan dan saling membahagiakan. Kata kunci keberhasilan dalam melakukan aktifitas bisnis adalah “bersilaturahmilah, maka jaringan bisnis akan terbangun, dan pertumbuhan ekonomi serta kekuatan ekonomi akan diperoleh, yang pada akhirnya rezeki akan berlimpah dan masyarakat berbahagia menikmati usianya di dunia”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s