Mungkinkah Agama, Seni, dan Ilmu Terpisah Kedudukannya ?

k2.jpg

Menyimak tulisan Dr. Dedi Sufyadi (semoga beliau selalu dalam lindungan Alloh SWT) yang mengetengahkan arti penting kedudukan Agama dalam pergaulan seni dan keilmuan, kami merasa ingin berdiskusi mengenai kedudukan masing-masing kajian yang diketengahkan, yaitu kedudukan seni, kedudukan ilmu dan kedudukan agama. Dalam pandangan kami ketiganya tidak berada dalam ruang dan waktu yang terpisah.

Isyarat siapakah bahwa ilmu dan seni bukan sebuah kesatuan ?, dan agama memiliki tempat tersendiri ?. Jika pemikiran seperti ini tersebar luas, maka akan banyak manusia yang memilih salah satu darinya, memilih ilmu atau memilih seni, dan atau memilih agama. Keadaan seperti ini menghadirkan kebenaran yang samar dan tersamarkan, bahkan orang yang memilih agama akan mengklaim dirinya pemilik kebenaran yang mutlak.

Agama Islam bagi penganutnya merupakan agama yang multidimensi (saya termasuk yang meyakininya), Jika keyakinan itu menyelimuti khasanah hati muslimin maupun muslimat, maka tidak terdapat ruang bagi dimensi-dimensi lain yang secara parsial berdiri sendiri. Jika kita simak Asma Alloh yang tertuang dalam Al-Qur’an dan diperintahkanNya untuk disandarkan pada nama-nama IndahNya seluruh keinginan manusia, sebut saja Asma Alloh Yang Maha Pencipta keindahan (ALBADII’), Maha Pembentuk (ALMUSHAWWIR), adakah dengan AsmaNya yang mulia ini akan melahirkan keraguan, bahwa agama Islam memaknai seni merupakan bagian darinya yang tidak terpisah, bahkan Alloh SWT menamai dirinya sebagai pencipta seni yang luhur, (Bukankah seni itu cerminan keindahan, dan Alloh memiliki Asma pencipta keindahan). Dengan demikian maka seni tidak berdiri sendiri kedudukannya, bahkan ummat Islam harus menyatakan sebagai pencinta seni/pencinta keindahan, sebab pencinta keindahan artinya mencintai Pencipta Keindahan.

Demikian pula halnya dengan Ilmu, merupakan Nama Alloh yang Maha Indah Al’Aliim (Maha Mengetahui), sekaligus sebagai sifat Alloh yang Agung yaitu sifat ILMU. Memperhatikan Asma ALLOH dan Sifat ALLOH, sudah tidak ada lagi tempat bagi para ahli filsafat ilmu untuk menterjemahkan ilmu sebagai bagian yang mandiri kedudukannya, dan menjadikan filsafat ilmu untuk mensifatkan agama sebagai bagian dari Aksiologi dalam filsafat ilmu.

Sejatinya ilmu merupakan sesuatu yang dituju oleh seluruh ummat manusia, sebab ilmu merupakan NamaNya, serta SifatNya, berarti orang yang mengkaji ilmu adalah orang yang sedang beribadah kepadaNya, atau sedang menuju kepadaNya. Seringkali dibedakan antara Ilmu Agama dan Ilmu Non Agama, padahal Al-Qur’an sudah menyatakan bahwa segala aspek kehidupan baik itu Biologi, Teknologi,  Pertanian, Ekonomi, Kedokteran, maupun Astronomi, dan lainnya sudah disuratkan didalamnya. Hal ini menunjukan bahwa ilmu Agama terutama Islam, telah menyatakan bahwa ilmu-ilmu di atas sudah terangkum sebagai ilmu agama (bukan hanya ilmu Fikih, Ahlak, dll).Kesukaan manusia terhadap Ilmu dan Seni/Keindahan, sesungguhnya sedang mengarah kepada kesukaan/cinta terhadap Maha Pencipta Keindahan (Albadii’) dan Maha Mengetahui  (Al’Aliim). Dipermukaan bumi ini, “Adakah seni yang tidak didasari ilmu, dan adakah ilmu yang tidak didasari seni?”, serta “Apakah seni dan ilmu merupakan bagian yang terpisah dan mandiri dari Agama?”.Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa, seni yang buruk serta menyesatkan, dan ilmu yang sesat telah  disuratkan untuk ditinggalkan oleh manusia, hal ini menunjukan bahwa ilmu dan seni merupakan bagian dari agama, serta segala sesuatu yang menyangkut ilmu sesat dan seni sesat telah diatur sedemikian, sehingga manusia tidak tersesat dalam mengarungi jalan ilmu dan jalan keindahan untuk mencapai Albadii’ dan  Al’Aliim. Pernyataan yang sering dilontarkan khalayak berupa :          Ilmu tanpa seni adalah…..          Seni tanpa ilmu adalah……          Agama tanpa ilmu adalah…..          Agama tanpa seni adalah …..

Pernyataan tersebut hendaklah diganti dengan “Manusia tanpa Beribadah Kepada Alloh adalah manusia tanpa seni dan tanpa ilmu”, sebab beribadah kepadaNya mencakup keyakinan terhadap keindahan ciptaanNya dan mencakup seluruh ilmu yang telah difirmankanNya.

Berdzikir tentang Keindahan CiptaanNya dan berdzikir tentang IlmuNya, merupakan jalan ibadah kepadaNya, dengan demikian, maka kebenaran akan dicapai pula melalui jalan tersebut, hal ini menyiratkan arti, bahwa beragama (terutama Agama Islam) mengharuskan manusia untuk berfikir komperehensif, sebab kebenaran bukan milik pengkaji kebenaran saja, tetapi seluruh ruang dan waktu yang meliputi seluruh mahlukNya (kecuali Iblis dan pengikutnya), memiliki keluasan yang sama untuk mencapai kebenaran, dengan jalan yang terhampar sesuai kemampuan dan kemapanan masing-masing dalam pencapaiannya, termasuk didalamnya para pecinta seni, dan seniman, serta ilmuwan.

Semoga kita termasuk golongan manusia yang mengetahui/berilmu dan mencintai keindahan serta selalu berada pada lindungan dan kasih sayang Arrohmaan dan Arrohiim, amiin.

Iklan
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s