Mencari Pola Pengembangan Agribisnis

19 Dec

3248787512.jpg

Pendahuluan

Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang mampu menyediakan kebutuhan pangan dari hasil produksi lokal, sebab jika mengandalkan kebutuhan pangan dalam negeri dari pangan impor akan berdampak pada ketidaksiapan bangsa dalam menghadapi krisis ekonomi, terutama yang bersumber dari krisis keuangan, dimana risiko kekurangan pangan/kelaparan akan terjadi.

Ketersediaan pangan hasil produksi lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri menjadi faktor kunci bagi ketahanan pangan, yang pada akhirnya akan menjadi faktor penentu bagi terpeliharanya kesejahteraan masyarakat (terhindarnya kelaparan dan ketergantungan pangan dari pangan impor). Banyak faktor untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam negeri, diantaranya adalah pengembangan teknologi produksi pertanian, pengembangan sistem keuangan yang berbasis pertanian dan pengembangan jaringan bisnis sektor pertanian.

Pengembangan teknologi produksi pertanian.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan pada bidang pertanian sangat cepat, terlebih pada teknologi transgenik. Jika perkembangan teknologi tersebut tidak diikuti dengan upaya penyebarluasan pengetahuan kepada masyarakat petani secara merata, maka akan berdampak pada ketertinggalan penyerapan teknologi bersangkutan bagi peningkatan produksi pertanian dalam negeri, apalagi jika berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi produksi pertanian hanya merupakan informasi tanpa ada upaya penyebarluasan penggunaan teknologi tersebut kepada para petani, maka petani akan dihadapkan kepada kebingungan memilih alternatif teknologi yang tepat dengan karakteristik daerah pertaniannya serta karakteristik pengetahuan yang dimiliki para petani bersangkutan.

Tepat kiranya jika pada setiap daerah pertanian (sentra industri pertanian) dilengkapi  dengan sarana penelitian dan pengembangan teknologi yang melibatkan unsur pendidikan (lembaga pendidikan tinggi) serta masyarakat petani atau terdapat laboratorium pengembangan teknologi pertanian, agar penerapan teknologi menjadi tepat sasaran dengan karakteristik daerah pertaniannya.

Pengembangan ilmu pengetahuan pertanian dan teknologi pertanian yang dilakukan pada saat ini, yang melibatkan kelompok tani, tenaga penyuluh pertanian dan sarjana pendamping, telah membawa masyarakat petani pada wilayah politik pertanian, sehingga masyarakat tani dipaksa untuk memahami kebutuhan konsumsi masyarakat, tanpa mendahulukan kebutuhan hidup dirinya, yang pada akhirnya gairah untuk mengembangkan usaha tani relatif menurun, sebab dunia pertanian bagi masyarakat tani sendiri (terutama generasi penerusnya) dipandang sebagai dunia yang tidak prospektif untuk  memenuhi kebutuhan hidup dan tidak profitable untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Pola pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semestinya dibangun oleh pemerintah, harus diawali dengan pengembangan pendidikan pertanian. Sesungguhnya pola ini telah dilakukan pada masa Orde Baru dengan memanfaatkan sarana SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas), namun perlu kiranya dikembangkan dengan membangun sarana laboratorium yang memadai serta pembangunan sarana pendidikan, dibangun pada setiap sentra industri pertanian dan/atau pada setiap kecamatan.

Adapun tenaga pendidik dan laboran merupakan tenaga profesional, serta tenaga yang bersumber dari lembaga pemerintahan terkait dan lembaga pendidikan tinggi terkait.

Pola di atas  dilakukan untuk menumbuhkan posisi pertanian sebagai dunia yang layak digeluti dengan sangat serius dan bukan lagi sebagai objek politik, sebab dunia pertanian merupakan faktor penting untuk menjaga ketersediaan pangan di dalam negeri yang pada akhirnya merupakan perekat bagi terpeliharanya kedaulatan rakyat dan persatuan bangsa. Peningkatan pemahaman sejak dini bagi generasi muda terhadap pentingnya pertanian sebagai sarana penyedia pangan melalui SPMA yang dilengkapi sarana laboratorium memadai, akan menumbuhkan gairah penelitian bagi generasi penerus untuk senantiasa melakukan pengembangan ilmu dan teknologi pertanian di masa yang akan datang, sehingga hasil penelitian yang dihasilkan reprensentatif dengan kebutuhan pengembangan industri pertanian dalam negeri, dan bukan lagi pemaksaan teknologi asing yang belum tentu sesuai dengan karakteristik lingkungan hayati negara ini.

Terintegrasinya para pendidik, tenaga laboratorium dari tenaga profesional, lembaga pemerintah dan lembaga pendidikan tinggi, diharapkan menghasilkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi produksi pertanian yang mampu diserap dan diimplementasikan dengan mudah oleh para petani, sebab informasi kebutuhan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya mudah diperoleh dari masyarakat sebab kedudukan sekolahnya pun berada pada lingkungan petani.

Bagaimanapun pola pengembangan ilmu dan teknologi pertanian harus dikembangkan oleh Pemerintah, sebab kondisi petani di Indonesia rata-rata memiliki lahan yang sempit dan kondisi ekonominya relatif rendah, sehingga kondisi ini tidak memungkinkan para petani melakukan kegiatan pengembangan secara mandiri, dan pemerintah senantiasa menjaga dan memelihara kondisi infrastruktur pertanian yang sudah dibangun dan melakukan pengembangan infrastrutur searah dengan kebutuhan peningkatan produksi pertanian, serta tidak mengeluarkan kebijakan pengembangan wilayah yang berseberangan dengan pengembangan sektor pertanian yang sudah ditata, agar tidak terjadi pengrusakan sarana dan prasarana yang telah dibangun sebelumnya.

Pengembangan Sistem Keuangan yang Berbasis Pertanian

Sistem keuangan yang diberlakukan oleh lembaga keuangan pada saat ini terutama sistem kredit, masih berstandar kredit untuk usaha manufaktur, dimana analisa kredit berdasarkan kepada agunan dan kemampuan mengembalikan pinjaman dalam rentang waktu tertentu dengan pembayaran cicilan setiap bulan. Sistem keuangan seperti ini tidak mendukung terhadap sistem keuangan pertanian, sebab mereka memiliki periode produksi setiap musim, sehingga kemampuan mengembalikan pinjaman dan bunga sangat bergantung pada periode panen.

Pada kondisi dimana sektor pertanian memerlukan pendanaan yang cukup untuk meningkatkan produksi, maka diperlukan lembaga keuangan pertanian yang memenuhi kebutuhan pendanaan dengan karakteristik usaha tani. Sepanjang lembaga keuangan masih memberlakukan sistem kredit konvensional, maka perkembangan usaha tani cenderung tidak meningkat.

Lembaga keuangan Perbankan yang berbasis daerah (baik BPR, maupun Bank Umum lainnya), seyogyanya menyediakan sarana kredit usaha tani dengan sistem yang telah disebutkan di atas, sebab lembaga ini berfungsi sebagai Agent Of Development, apabila lembaga keuangan tidak menyediakan sarana KUT berbasis Usaha Tani, dan masyarakat Indonesia sebagian besar sebagai petani, maka sesungguhnya Perbankan tersebut tidak menjadi agen pembangunan bangsa, tetapi sebagai agen yang menggeser struktur perekonomian agraris menjadi struktur ekonomi industri yang tidak fundamental bagi pembangunan bangsa ini.

Alternatif penyediaan dana pinjaman bagi sektor pertanian, dapat digunakan model Koperasi pertanian, dimana koperasi ini menyediakan fasilitas Simpan Pinjam yang berbasis usaha tani, serta koperasi bersangkutan menyediakan pula sarana produksi pertanian dan sekaligus sebagai pasar hasil produksi pertanian. Diharapkan melalui koperasi pertanian hambatan pendanaan bagi proses produksi, hambatan kekurangan sarana produksi dan hambatan kemacetan distribusi sarana produksi (pupuk dll), dan distribusi hasil produksi dapat dipecahkan secara menyeluruh.

Koperasi pertanian dalam operasionalnya harus bekerjasama dengan lembaga keuangan yang menyediakan dana pinjaman murah, dan/atau melakukan hubungan langsung dengan Bank Indonesia dalam upaya penyaluran kredit program usaha tani, demikian pula koperasi pertanian harus melakukan hubungan langsung dengan perusahaan yang memproduksi sarana produksi (baik peralatan pertanian, perlengkapan usaha tani, benih, pupuk dan lainnya) dan dengan perusahaan yang memerlukan hasil produksi pertanian sebagai bahan baku industrinya, serta koperasi berfungsi sebagai pemasok hasil produksi ke pasar tradisional maupun pasar modern.

Koperasi pertanian yang kokoh dan didukung dengan kebijakan pemerintah yang konsisten, akan meningkatkan kesejahteraan petani disamping akan memperbaiki perekonomian bangsa secara keseluruhan, disamping akan menghilangkan panjangnya distribusi sarana produksi pertanian maupun distribusi hasil produksi pertanian.

Pengembangan Jaringan Bisnis Sektor Pertanian

Panjangnya rantai distribusi hasil produksi menuju pasar hasil produksi pertanian, mengakibatkan petani tidak memperoleh nilai tambah dari mekanisme pasar hasil produksi. Hal ini menunjukan bahwa petani hanya merupakan tukang/buruh bagi para pelaku pasar hasil produksi pertanian. Keadaan ini cenderung mengurangi minat masyarakat tani untuk mengembangkan proses produksi pertanian, yang pada akhirnya peningkatan hasil produksi sulit di peroleh, disamping kualitas hasil pertanianpun cenderung tidak menjadi sasaran utama dalam pengembangan usahanya. Dampak negatif bagi konsumsi pangan dalam negeri adalah ketergantungan kepada bahan pangan impor, dengan biaya yang sangat mahal (penghamburan devisa), dimana devisa yang tersedia sejatinya untuk pertumbuhan kualitas kehidupan rakyat dari sisi pendidikan, kesehatan, keamanan dan sektor-sektor lainnya.

Jejaring bisnis sektor pertanian sesungguhnya dapat diperbaiki melalui pemanfaatan data nasabah lembaga keuangan perbankan, maupun lembaga keuangan lainnya. Daftar nasabah yang bertransaksi kredit, biasanya akan diketahuai jenis usaha yang dikelolanya demikian pula dengan skala usahanya, data tersebut yang tersedia disetiap lembaga keuangan dapat dijadikan sebagai informasi pasar antar nasabah bersangkutan, dengan kata lain, untuk memperoleh informasi perusahaan mana dan perusahaan apa yang membutuhkan hasil produksi pertanian dapat diketahui dengan cepat. Dengan demikian lembaga keuangan bisa berfungsi sebagai basis data bagi terbangunnya jejaring bisnis anatar pengusaha yang menjadi nasabahnya.

Koperasi Pertanian dalam aktivitasnya dapat mempergunakan sumber data pengusaha yang tersedia dilembaga keuangan perbankan, sehingga untuk menjalin jaringan usaha dengan pihak pengusaha lainnya, relatif lebih mudah sebab informasi jenis usaha dan skala usaha dari perusahaan yang akan dijadikan mitra usaha dengan mudah diperoleh dari data base lembaga keuangan perbankan.

Lembaga keuangan sebagai penyedia data pengusaha dan menjadi penyedia sarana informasi jenis usaha dan skala usaha perusahaan nasabah, pada akhirnya akan memperoleh manfaat dari jejaring bisnis antar nasabahnya, diantaranya terdapat kepastian pengembalian pinjaman yang dikelolanya, serta memperoleh keleluasaan pengelolaan keuangan bagi para nasabahnya yang termasuk ke dalam jaringan bisnis tersebut, sebab ketika terdapat pengusaha baru/koperasi baru yang memanfaatkan basis data pengusaha nasabah bank dapat secara langsung dipertemukan dengan nasabah bersangkutan dan jika terdapat janji mitra bisnis antara keduanya dan menjadi rekanan bisnis, maka pihak bank dengan mudah menganalisis kredit ketika pengusaha baru tersebut memerlukan bantuan pendanaan dari pihak perbankan.

Khusus untuk usaha tani yang memiliki risiko pengembalian pinjaman lebih lambat dari jenis usaha lainnya, maka pihak perbankan dapat mengurangi keterlambatan pengembalian pinjaman tersebut, dengan memanfaatkan pengelolaan koperasi pertanian (jika sistem kredit masih konvensional), dimana pihak koperasi pertanian yang bertanggungjawab terhadap pengembalian pinjaman (Koperasi sebagai pihak yang menjembatani kebutuhan pembiayaan usaha tani apabila diperlukan).

Alternatif lainnya yang dapat dipergunakan untuk membuat jejaring bisnis usaha tani, adalah memanfaatkan data base departemen Koperasi, dimana data base koperasi tersebut dikelompokan kepada Koperasi produksi sarana pertanian, Koperasi pengusaha industri pengolahan hasil produk pertanian, koperasi perdagangan hasil produksi pertanian, dan koperasi produksi hasil pertanian. Apabila pengelompokan tersebut sudah terjadi dan kemudian dilakukan penyebaran informasi antar koperasi yang memiliki aliran usaha tani yang sejenis (Industri Jagung dll), maka dengan sendirinya jaringan bisnis tersebut akan terbentuk, sehingga antar koperasi bersangkutan memiliki hubungan bisnis yang memudahkan dalam distribusi dan pemasaran hasil produksi masing-masing.

Penutup

Ketiga Pola pengembangan Agribisnis tersebut di atas senantiasa diintegrasikan, sehingga

  1. Pihak petani memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang cukup untuk pengembangan usahanya, disamping menyediakan tenaga terampil yang dipersiapkan melalui lembaga pendidikan pertanian (SPMA).
  2. Pihak Pemerintah memperoleh kemudahan dalam menentukan kebijakan pengembangan sektor pertanian, sebab data akurat dapat diperoleh melalui lembaga keuangan perbankan, Dinas Koperasi, maupun dari lembaga penelitian yang terlibat dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian.
  3. Koperasi Pertanian yang dikembangkan dibangun pada daerah sentra industri pertanian/wilayah kecamatan, sehingga pola pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diterapkan kepada masyarakat dapat diimplementasikan dengan dukungan dana koperasi pertanian.
  4. Kedudukan Koperasi Pertanian yang berada diwilayah pertanian/wilayah kecamatan, memudahkan pihak berwenang untuk melakukan pengawasan maupun melakukan penelitian untuk pengembangan di masa mendatang, dan memudahkan bagi koperasi untuk melakukan hubungan usaha dengan koperasi lain yang berada di Kecamatan dalam daerah Kabupaten atau Kota, maupun dengan Kecamatan yang berada di daerah lainnya di seluruh Indonesia.
  5. Sebaiknya Bank Indonesia dalam menyalurkan kredit programnya bekerjasama dengan Koperasi, yang terlebih dahulu koperasi bersangkutan telah memiliki jaringan usaha yang jelas dengan pihak koperasi lainnya, atau dengan pengusaha yang menjadi aliran proses produksi dan dengan lembaga keuangan perbankan yang mendukung pembiayaan usahanya.
  6. Pihak lembaga keuangan perbankan selayaknya menyalurkan kredit usaha tani dengan sistem kredit yang berbasis usaha tani, dimana waktu panen dijadikan standar penilaian kemampuan pengembalian pinjaman. Atau pihak perbankan bekerjasama dengan Koperasi Pertanian yang telah menerapkan pinjaman berbasis usaha tani.
  7. Pihak Lembaga Pendidikan Tinggi melakukan penelitian dengan basis lingkungan usaha tani disetiap sentra usaha tani.

Pola Pengembangan Agribisnis yang kami sarankan, semoga menjadi salah satu cara dalam menanggulangi masalah yang dihadapi sektor pertanian dalam upaya peningkatan produksi hasil pertanian, kelancaran distribusi sarana pertanian dan hasil produksi pertanian, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

One Response to “Mencari Pola Pengembangan Agribisnis”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Mencari Pola Pengembangan Agribisnis « zhezsalim - August 8, 2012

    […] : https://bwfitri.wordpress.com/2007/12/19/mencari-pola-pengembangan-agribisnis/ Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this. This entry was posted in […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

BWFITRI

JUJUR BERKATA JUJUR

ernizem

Just another WordPress.com site

nurjamilah97

Just another WordPress.com site

rinrinrintiani

Just another WordPress.com site

nenengnurjanah

Just another WordPress.com site

mohyosep

Just another WordPress.com site

diyansumirat

Just another WordPress.com site

ninayunalis

Just another WordPress.com site

achile90

Just another WordPress.com site

Ilham Afriansyah

lakukan yang terbaik agar dapat dirasakan kebaikannya kepada seluruh umat manusia

abdhie17

WordPress.com site

Ilis khoeriyah Alawiyah

Hidup Penuh dengan Misteri

rahmatdizez

Just another WordPress.com site

abdulrojak35

Just another WordPress.com site

paridridwan92

Just another WordPress.com site

aanguno

Just another WordPress.com site

usep66

Just another WordPress.com site

Myl1v3's Blog

Just another WordPress.com weblog

Niendin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

Bahadursing's Weblog

HIDUP HANYA SEKALI, GUNAKAN WAKTU YANG BAIK

Adekomaludin's Weblog

Just another WordPress.com weblog

MTs Bahrul Ulum

Aktif - Kreatif - Inopatif

Nahwa Blog

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Nazrul Budak Cidahu

Just another WordPress.com site

Edisae's Blog

Just another WordPress.com weblog

E-one Hermawan's Blog

Just another WordPress.com weblog

UMFalah's Blog

Ruang Kreatifitas

boyzybozz

Just another WordPress.com site

pandasepti

Just another WordPress.com site

Rani Rahman

Siliwangi University. Edutrain Consultant

Media Belajar Akuntansi

Mengabdi demi Ilmu Pengetahuan & Beribadah

Google adsense

Just another WordPress.com weblog

WordPress Plugins

Just another WordPress.com weblog

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.

%d bloggers like this: