Perdagangan Internasional (IESP)

Ujian Tengah Semester

Perdagangan Internasional

Prodi Ekonomi Pembangunan

Oktober 2014

 

  1. Jelaskan, perbedaan pemikiran antara Adam Smith dan David Ricardo mengenai Teori Perdagangan Internasional.
  2. Kemukakan dan jelaskan mekanisme berjalannya “Equalization of Factor Price”, dari “Factor Proportion and Factor Intensity Theory”.
  3. Menurut pendapat Graham dalam teori perdagangan yang dikemukakannya, menyatakan bahwa volume ekspor dan import suatu negara dipengaruhi oleh: a. perubahan kurs valuta asing, b. Kebijakan tingkat upah masing-masing negara yang melakukan perdagangan. Jelaskan bagaimana kedua variable di atas mempengaruhi perubahan jumlah ekspor dan impor suatu negara !
  4. Restriksi dalam perdagangan internasional (Tarif, Quota), dilakukan untuk mempertahankan keberlangsungan industri dalam negeri, khususnya bagi negara berkembang. Sementara negara maju lebih mengharapkan free trade dalam perdagangan internasional. Indonesia sebagai negara berkembang mencoba beradaptasi dengan keinginan negara maju melalui kebijakan pengurangan subsidi serta penghilangan beberapa hambatan impor untuk beberapa komoditas. Menurut pendapat saudara, apakah tepat kebijakan yang telah dilakukan Indonesia?, Jelaskan !.

 

International Trade Theory 

76 thoughts on “Perdagangan Internasional (IESP)

  1. NAMA : ADRIANA GUMBIRA
    NPM : 093401010
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    DAMPAK INTEGRASI YANG DILAKUKAN INDONESIA
    Pemerintah Indonesia sedang berusaha agar pertumbuhan ekonomi nasional dapat tumbuh lebih baik, salah satu caranya yaitu dengan melakukan integrasi ekonomi. Namun penerapan strategi tersebut mempunyai dampak tersendiri. Dampak integrasi ekonomi yang dilakukan pemerintah Indonesia menimbulkan dua hal yaitu sisi positif dan sisi negatif terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di satu sisi, pemerintah mendorong sebanyak mungkin investor untuk masuk, disisi lain pemerintah membatasi investor dengan berbagai pembatasan agar efek negatif dengan masuknya investor dapat dikurangi seperti contohnya meminggirkan pengusaha lokal.
    Setelah penulis membaca mengenai hal-hal yang berkaitan dengan integrasi ekonomi, penulis dapat menyimpulkan bahwa derasnya investasi asing ke Indonesia tersebut karena dipicu tiga pilar. Pertama, roda perekonomian Indonesia ditopang konsumsi domestik yang tinggi. Pilar kedua, adalah sektor komoditas. Sedangkan pilar ketiga, adalah komitmen pemerintah dalam membangun sektor infrastruktur. Untuk itulah, investor asing atau sejumlah negara terus melirik Indonesia sebagai ladang investasi. Tak terkecuali, negara-negara Eropa yang saat ini sedang dihantui krisis ekonomi.
    Selain itu perdagangan bebas dapat juga menimbulkan dampak negatif, diantaranya adalah eksploitasi terhadap negara berkembang, rusaknya industri lokal, keamanan barang menjadi lebih rendah dan sebagainya. Dampak negatif dirasakan oleh produsen dalam negeri yang produknya sejenis dengan produk impor China, yang dipasarkan di dalam negeri dan memiliki tingkat daya saing yang relatif kurang kompetitif.
    Kebijakan pemerintah untuk memperhatikan ekonomi dalam negeri, terutama dengan mengintegrasikan perekonomian dalam negeri, merupakan upaya yang bagus untuk menjaga agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada luar negeri. Indonesia tidak perlu menolak perdagangan internasional, aliran modal asing, dan arus tenaga kerja. Tapi, jangan menjadi amat tergantung pada mereka. Dengan demikian, dukungan dalam negeri pada perekonomian Indonesia akan makin kuat dan perekonomian Indonesia tidak akan mudah digoyah olah krisis ekonomi global.
    Akhirnya penulis pun mengambil kesimpulan bahwa integrasi ekonomi harus mampu meningkatkan kualitas hidup manusia (seperti kesehatan, kepandaian, kemampuan untuk berpindah, dan bebas dari rasa takut), mampu memperbaiki kualitas lingkungan di Indonesia, dan mampu melaksanakan asas good governance dalam tiap kegiatan ekonomi sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin meningkat.

  2. TUGAS UJIAN TENGAH SEMESTER
    RANDY JULIYANDRI
    EKONOMI PEMBANGUNAN
    093401001

    Dampak integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia (ACFTA) terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi.Pengaruh ACFTA terhadap iklim investasi dan kedudukan pengusaha lokal dalam perekonomian Indonesia sampai saat ini cukup besar. Fakta bahwa Indonesia masih belum sepenuhnya siap terhadap persaingan dalam perdagangan bebas, membuat pemerintah harus membenahi infrastruktur perekonomian secara signifikan terutama di sektor-sektor manufaktur. Apabila tidak segera dilakukan, maka akan dapat menimbulkan dampak banyaknya pengusaha lokal Indonesia yang gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan pengusaha negara lain terutama China, dan akan pula berdampak pada iklim investasi yang justru bukan tidak mungkin akan merugikan negara berkembang seperti Indonesia. Keikutsertaan Indonesia dalam perjanjian perdagangan bebas dengan china dalam hal lain(ACFTA),bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi terutama sektor usaha industri kecil dan menengah baik secara nasional maupun internasional yang merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian nasional.ketidaksiapan Indonesia dalam menjajaki perjanjian tesebut malah merugikan Negara sendiri.
    Seperti dua sisi mata uang,pengaruh perdagangan bebas yang dilakukan oleh Indonesia dengan china dalam soal investasi tentunnya sangan menguntungkan bagi pasa investor lokal maupun luar negri,contohnya dalam hal pembangunan infrastruktur.dalam hal ini investor local dibantu pembiayaannya oleh investor luar negri untuk mempercepat pembangunan misalnya proyek jembatan antar pulau maupun infrastruktur lainnya untuk menunjang perekonomian Indonesia.
    Akan tetapi tidak berlaku pada proses pertumbuhan ekonomi nasional,mengapa demikian?Tentunya dampak integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia dengan china berdampak buruk pada laju produktivitas pertumbuhan ekonomi masyarakat.membanjirnya produk china yang kualitasnya jauh lebih bagus dibandingkan dengan produk lokal,akan menjadi boomerang bagi kelangsungan hidup pengusaha lokal.ketidakmampuan pengusaha lokal dalam memproduksi produk sejenis dari china dalam hal kualitas barang tentunya akan mematikan sektor ekonomi,banhkan mengancam pertumbuhan ekonomi Negara.Tentunya ini menjadi PR untuk para penguasa di negeri ini dalam hal merevisi bahkan membatalkan untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah china yang bersangkutan dengan perdagangan bebas,tentu segelintir masyarakat kita selektif membeli barang-barang yang berkualitas baik dengan harga yang jauh lebih murah.pengusaha kita sendiri bukan tidak bisa menciptakan barang yang berkualitas sebanding banhkan jauh melebihi kualitas produk china,akan tetapi persoalan biaya produksi yang mahal,tentunya akan mendorong nilai dari suatu barang tersebut,klasik memang persoalan yang membelit Negara kita ini.
    Banyak infrastruktur yang kurang,misalnya jalan raya untuk menunjang sektor perekonomian bangsa dalam rangka memajukan industri dalam negeri,kalau fasilitas penunjang roda perekonomian sudah terpenuhi secara maksimal,tentunya percepatan pertumbuhan ekonomi juga bisa terlaksana dengan cepat.para pengusaha dalam negeri lebih mudah memasok barang-barangnya ke luar negeri dalam artian mengekspor daripada memasok untuk kebutuhan dalam negeri.para petani pisang di daerah selatan tasikmalaya dalam mendistribusikan barang hasil pertaniannya ke pusat kota harus bersusah payah menempuh jalan raya yang kurang bahkan tidak layak untuk dijadikan sarana percepatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri.Apakah mungkin para pemimpin bangsa ini buta mata dan buta hati dalam menyikapi persoalan ini? Wallahualam Mudah-mudahan secarik tulisan kecil ini bisa membukakan hati para penguasa-penguasa itu,dan menjadi pengetahuan bagi semuanya, Amin….

  3. NAMA : PRATAMA RAMDHANI
    NPM : 093401016
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Dampak Integrasi Ekonomi yang Dilakukan Indonesia Terhadap Iklim Investasi di Indonesia dan Pertumbuhan Ekonomi

    1. Integrasi Ekonomi dengan ASEAN – China Free Trade Agreement (ACFTA)

    Sejak ditandatanganinya integrasi ekonomi yang dilakukan antara Indonesia dengan China atau lebih dikenal dengan sebutan ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), membawa dampak atau perubahan besar bagi Indonesia khususnya bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Akan tetapi, apakah dampak itu berpengaruh positif atau tidak? Nah, setelah saya baca dari beberapa materi dan yang terkait dengan ACFTA, memang secara teori ACFTA ini memberikan manfaat atau tujuan yaitu diantaranya untuk memperkuat dan meningkatkan kerjasama perdagangan dikedua belah pihak serta mengembangkan kerjasama yang saling menguntungkan diantara kedua belah pihak. Selain itu, dampak positif dari adanya ACFTA ini yaitu berdampak positif terhadap perdagangan bilateral China-Indonesia terutama investasi yang dilakukan oleh China semakin besar ke Indonesia. Tapi faktanya adalah hal itu berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dirasakan oleh Indonesia.
    Sejak kemunculan ACFTA, banyak industri lokal yang ada di Indonesia mengalalami gulung tikar karena besarnya jumlah pasokan barang-barang China disertai dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang harga produk lokal Indonesia itu sendiri. Selain itu, dengan besarnya jumlah barang-barang yang mengalir dari China ke Indonesia dikhawatirkan akan menguasai pasar lokal dalam negeri karena konsumen akan berpindah atau lebih memilih produk-produk China ketimbang produk lokal yang mahal harganya. Jika hal ini dibiarkan terus-menerus maka akan terjadi kelumpuhan ekonomi di pasar lokal sehingga akan mengganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setidaknya, pemerintah harus belajar dari kesalahan ini. Integrasi ekonomi yang dilakukan harus dipikir matang-matang terlebih dahulu apakah integrasi yang dilakukan bermanfaat atau tidak bagi masyarakat Indonesia jangan hanya mementingkan golongan pribadi semata.
    Selain itu, dengan adanya ACFTA ini saya rasa Indonesia belum siap melakukan perdagangan bebas dengan China, dimana infrastruktur dan Sumber Daya Manusia yang ada di Indonesia belum mampu atau belum siap bersaing menghadapi perdagangan bebas dengan China. Jikalau keadaannya demikian, maka Indonesia hanya dijadikan sasaran empuk bagi China untuk menjual produk-produknya ke Indonesia. Sebaliknya para pengusaha kecil Indonesia banyak yang akan mengalami kebangkrutan karena pasar dikuasai produk impor. Akibatnya, bukan tidak mungkin lagi pengangguran di tanah air semakin meningkat setiap tahunnya.

  4. NAMA : INDRA YUDACAHYA ASHARI
    NPM : 093401008
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN
    Integrasi ASEAN terjadi karena meningkatnya (industri , investasi,informasi, dan individu) dan hal itu menjadi sebuah kebutuhan untuk saling bekerja sama dan berinteraksi meskipun melampaui batas teritorial negara.
    Integrasi ASEAN merupakan langkah awal untuk menuju dan menembus era globalisasi .proses – proses menuju arah inegrasi tidak dapat di lepaskan begitu saja dengan faktor-faktor lainnya, misal : adanya kerjasama secara institusional dari institusi-institusi yang berpengaruh terhadap proses-proses integrasi , salah satunya adalah kerjasama antar parlementer di negara-negara anggota ASEAN.

    Menurut pendapat saya :
    Dampak dari integrasi ASEAN terhadap Indonesia itu positif terhadap beberapa aspek khususnya aspek perekonomian.Dan dari sisi sektor barang modal industri (non traded), Indonesia dan ASEAN mengalami kenaikan dalam output sektor barang modal, harga barang investasi dan tingkat sewa modal, sedangkan region lainnya mengalami penurunan. Dari sisi sektor barang modal ini dapat diketahui bahwa adanya integrasi ekonomi ASEAN 2 menjadikan aktivitas ekonomi di Indonesia dan ASEAN lebih berkembang.
    Integrasi sangatlah perlu untuk dilakukan karena di era globalisasi sekarang dibutuhkan hal itu agar para negara yang berada di daerah Asia Tenggara khususnya dapat saling memenuhi kebutuhannya dan dapat saling bertukar kebutuhan satu sama lain sesama anggota ASEAN. Untuk itu integrasi tersebut harus menjadi wadah agar Indonesia dan ASEAN semakin kuat dan semakin maju diperlukan juga partisipasi masyarakat-masyarakat dalam proses tersebut.

  5. NAMA :GUN GUN GUNAWAN
    NPM :093401018
    JURUSAN:EKONOMI PEMBANGUNAN
    Era baru yang kini makin membuka kesempatan kerjasama antar negara adalah integrasi
    ekonomi. Era ini ditandai maraknya kesepakatan integrasi bilateral, di mana dalam dua dekade
    terakhir ditandai oleh pesatnya perkembangan integrasi dan proliferasi integrasi ekonomi antar
    negara dan antar kawasan dunia.
    antara lain melalui pembentukan (APEC) di kawasan Asia
    Pasifik, Pada negara-negara Asia Tenggara
    (ASEAN),
    Integrasi ekonomi dilandasi konsep memberikan manfaat ekonomi bagi negara-negara
    anggota maupun non-anggota. Prinsip dasar integrasi ekonomi adalah mengurangi atau
    menghilangkan semua hambatan perdagangan di antara negara anggota dalam kawasan tertentu
    untuk dapat meningkatkan arus barang dan jasa dengan bebas ke luar masuk melintasi batas negara
    masing-masing anggota, sehingga volume perdagangan semakin tinggi. Peningkatan volume
    perdagangan ini mendorong peningkatan produksi, peningkatan efisiensi produksi, peningkatan
    kesempatan kerja, dan penurunan produksi sehingga dapat meningkatkan daya saing produk
    dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
    Integrasi ekonomi juga mendorong dan memperlancar aliran investasi dari satu negara ke
    negara lainnya, baik di dalam negara-negara anggota integrasi maupun masuknya investasi dari
    negara bukan anggota ke negara-negara anggota integrasi. Hal ini menyebabkan terjadi peningkatan
    dan akumulasi investasi yang seterusnya mendorong peningkatan output negara dan kawasan serta
    peningkatan perdagangan antarnegara.

    Integrasi ekonomi ASEAN meliputi bidang politik, keamanan dan
    ekonomi. Sebagai langkah kongkrit integrasi ekonomi dibentuk kerjasama perdagangan bebas
    dan pemberlakuan penurunan tarif.Penurunan tarif ini dilaksanakan secara bertahap sampai pada pelaksanaan AFTA. Namun
    banyak kalangan menilai bahwa kerjasama AFTA tidak secara signifikan dapat meningkatkan volume
    perdagangan dan investasi di ASEAN. Beberapa studi menyimpulkan bahwa AFTA belum
    meningkatkan volume perdagangan intra-ASEAN, karena negara-negara ASEAN memiliki
    sumberdaya yang sama (sebagai kompetitor) sehingga komoditi yang diperdagangkan adalah
    komoditi sejenis.
    Kerjasama ekonomi ASEAN semakin berkembang sampai dengan pembentukan ASEAN
    yang dijadwalkan dan diberlakukan . Krisis ekonomi tahun lalu yang menghantam negara-negara ASEAN dan senantiasa menghantui ekonomi Negara-negara
    ASEAN ke depan, telah menjadi pijakan untuk membentuk kerjasama sektor keuangan di
    ASEAN. Beberapa studi sebelumnya belum menunjukkan konvergensi pada layaknya pembentukan
    di ASEAN. Perkembangan ini memberikan permasalahan apakah integrasi ekonomi
    ASEAN memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan perdagangan, investasi dan
    pertumbuhan ekonomi bagi negara-negara ASEAN.

  6. NAMA: ENUNG NURYANI
    NPM: 093401020

    APEC ( Asia-Pasific Economi Cooperation )
    Lembaga ini merupakan forum kerjasama ekonomi. Anggotanya adalah negara-negara di kawasan Aspas. Tujuan kerja sama ini untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan.
    Keanggotaan APEC terdiri dari banyak negara, termasuk Indonesia. Sejak pembentukannya, berbagai kegiatan APEC telah menghasilkan berbagai komitmen. Di antara komitmen tersebut adalah pengurangan tarif dan hambatan non tarif lainnya. Komitmen lainnya adalah menciptakan kondisi ekonomi yang lebih efisien dan meningkatkan perdagangan.
    Indonesia merupakan salah satu negara yang berperan aktif dalam pembentukan APEC. Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi perdagangan dunia yang bebas. Semua kegiatan tersebut adalah untuk mengamankan kepentingan nasional RI. Kontribusi Indonesia terbesar bagi APEC adalah disepakatinya “Tujuan Bogor” tahun 1994. Di antara tujuan itu adalah iberalisasi perdagangan dan investasi asing. Komitmen ini mendorong percepatan penghapusan tarif maupun peningkatan investasi asing.
    APEC ternyata mampu meningkatkan arus barang, jasa maupun pertumbuhan ekonomi negra anggotanya. Mitra dagang utama Indonesia adalah sebagian besar berasal dari kawasan APEC. Kita memiliki potensi untuk memanfaatkan pasar APEC bagi ekspor maupun investasi.

  7. NAMA: FITRI DEWI
    NPM:093401004

    World Bank (Bank Dunia )
    Bank dunia adalah salah satu badan khusus PBB. Pada awalnya, fokus utama Bank Dunia diperuntukan bagi rekontruksi pasca perang Dunia II. Namun saat ini memfokuskan kegiatan pada upaya penurunan angka kemiskinan.
    Bank Dunia merupakan sumber dana pembangunan terbesar bagi negara-negara di dunia. Kantor pusat Bank Dunia berada di Washington DC. Struktur organisasi Bang Dunia trdiri dari beberapa lembaga khusus, dengan tugas antara lain :
    1. Menanggulangi kemiskinan di seluruh dunia
    2. Peningkatan kualitas hidup masyarakat, yaitu meningkatkan pendidikan, kesejahteraan, dan ksehatannya.
    3. Memfasilitasi pengembangan investasi asing
    Bank dunia memiliki peran penting dalam membantu pembangunan di Indonesia. Bantuan lembaga ini berupa pinjaman berbunga rendah. Bank Dunia merupakan bagian dari CGI (Consultative Group on Indonesia ), lembaga donor bagi Indonesia. Pinjaman dari Bank Dunia kita gunakan untuk pendanaan proyek-proyek pembangunan misalnya, untuk perbaikan gedung sekolah, jalan raya, pembangkit listrik, dan perbaikan infra struktur lainnya.

  8. NAMA: LIGAR CAHYA
    NPM: 093401003

    ADB ( Asian Development Bank )
    ADB adalah lembaga keuangan pembangunan multilateral. Tujuannya membantu upaya mengurangi tingkat kemiskinan di negara-negara kawasan Asia Pasifik (Aspas).
    Tujuan utama ADB adalah memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat di kawasan Aspas. Program bantuan ADB berhubungan langsung dengan tiga pilar utama stratrgi pengentasan kemiskinan. Tiga pilar itu adalah pembangunan berkelanjutan, pembangunan sosial dan pemerintahan yang baik. Prioritas lainnya adalah hukum dan kebijakan reformasi sosial pembangunan. Program ADB didasarkan atas tiga pilar tersebut, diantaranya pertumbuhan ekonomi, pengembangan SDM, persamaan gender, dan pemerintahan yang baik.
    ADB memiliki peranan penting dalam mendukung pembangunan di Indonesia. Bentuknya berupa pinjaman yang diberikan melalui CGI. Pinjaman tersebut antara lain diberikan melalui pembiayaan berbagai proyek-proyek kerjasama. Disamping itu, ADB juga memberikan bantuan hibah kepada Indonesia. Hibah ini berupa tiga bantuan teknis kepada Indonesia guna mendukung program desentralisasi. Pertama, Peingkatan kapasitas manajemen keuangan, perencanaan pembangunan, SDM dan administrasi umum. Kedua, jasa konsultan keuangan untuk Pemda pada proyek infrastruktur perkotaan. Ketiga, pengembangan pemerintahan daerah yang baik.

  9. NAMA : RIDWAN HERDIANTO
    NPM : 093401024
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Dampak ACFTA (ASEAN China Free Trade Agreement) Bagi Perekonomian Indonesia
    Layaknya manusia sebagai mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, negara pun tidak jauh berbeda dengan konsp tersebut. Negara kita tidak bisa mencukupi semua kebutuhan rakyatnya hanya dengan produksi dalam negeri tetapi membutuhkan pasokan kebutuhan yang tidak diproduksi di negara sendiri dari negara lain. Untuk itu harus dilakukan hubungan kerjasama perdagangan dengan negara lain. Oleh karena itu terbentuklah hubungan kerjasama dalam bentuk diplomatik maupun ekonomi dengan negara lain khususnya negara tetangga.
    Akhir-akhir ini Indonesia khusnya umumnya negara-negara asia tenggara (ASEAN) melakukan kerjasama khusus dengan China untuk membuat suatu integrasi ekonomi yang bersifat regional dengan membuat suatu perjanjian perdagangan bebas yang disebut ACFTA dengan kesepakatan untuk menghilangkan segala bentuk hambatan perdagangan seperti tarif, quota, maupun dumping guna menciptakan suatu persaingan usaha yang bersaing secara bebas dan sehat sehingga masyarakat dapat menikmati barang dengan harga yang kompetitif. ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA), yang ditandatangani pada 4 November 2004, sejak tanggal 1 Januari 2010 yang lalu telah masuk pada tahap pelaksanaan.
    Namun apakah ACFTA ini membawa dampak baik atau buruk kah bagi per ekonomian Indonesia. Mari kita telaah satu persatu. Dampak positif: salah satu dampak positif bagi perekonomian Indonesia ialah memudahkan produk-produk Indonesia untuk masuk kenegara ASEAN dan cina tanpa adanya hambatan perdagangan sehingga produk-produk unggulan Indonesia seperti kopra dan kelapa sawit dapat menemukan pasar baru dan mampu lebih berkompetitif dengan produk negara lain karena produk Indonesia untuk bebrapa jenis lebih memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif. Selain itu perdagangan bebas ini mampu memotivasi masyarakat Indonesia untuk lebih produktif dan kreatf dalam membuat produk.
    Sedangkan untuk dampak negatif yang sering di khawatirkan rakyat indoneisa banyak adalah masalah ketenagakerjaan. Dikhawatirkan akan banyak pengangguran yang terjadi karena rata-rata produk Indonesia dan cina banyak memiliki kesamaan sehingga bila industri kita tidak mampu bersaing dengan produk cina bukan hal yang tidak mungkin banyak industri yang akan gulung tikar sehingga ledakan pengangguran dikhawatirkan terjadi. Selain itu ketidak siapan bangsa kita baik dari infrastruktur dan kesiapan industri dikhawatirkan membuat industri kita kalah bersaing dengan poduk cina yang lebih murah. Hal itu dibuktikan dengan membanjirnya buah-buahan impor dari cina seperti pir, jeruk maupun apel yang mampu menggerus buah-buahan local. Hal itu merupakan peringatan awal yang harus diwaspadai bangsa ini.

  10. NAMA : RINI WULANSARI
    NPM : 093401019
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Dampak Integrasi Ekonomi di Indonesia
    Pada zaman sekarang ini banyak produk asing yang beredar di Indonesia. Salah satu produk atau barang impor yang paling banyak yaitu produk dari China. Hampir semua barang – barang elektronik di Negara Indonesia berasal dari China misalnya barang elektronik handphone, hasil tekstil dll. Hubungan perdagangan antara Indonesia dengan China sudah terjalin sejak lama. Dalam lima tahun terakhir sekitar 2004-2009 produk impor dari China sudah menjadi konsumsi masyarakat Indonesia. Perdagangan antara Indonesia dengan China ini sudah ada sebelum diberlakukannya perjanjian ACFTA (Asean China Free Trade Area). Dengan diberlakukannya perjanjian ASEAN China FTA berbagai kalangan, khususnya pengusaha merasa khawatir akan membanjirnya produk China di Indonesia. Kekhawatiran tersebut cukup beralasan mengingat produk China dikenal memiliki harga yang murah.
    Pokok dari perjanjian tersebut adalah masing-masing negara akan menurunkan tarif bea masuk barang dan jasa dari negara-negara yang terlibat perjanjian menjadi nol persen dengan tahapan-tahapan yang disepakati. Jika tarif diturunkan menjadi nol persen maka dapat dipastikan adanya ketergantungan pada barang impor akan semakin tinggi. Dalam hal ini China lebih menguasai perdagangan karena produktivitas tenaga kerja yang tinggi dan penduduk yang banyak. Produk-produk China yang murah sudah membanjiri pasar-pasar nasional dengan harga murah juga.
    Dampak Negatif bagi Indonesia
    Perdagangan bebas ASEAN-China akan membuat banyak industri nasional gulung tikar karena kalah bersaing dengan Industri China. Akibatnya, angka pengangguran diperkiraan meningkat. Pengusaha Indonesia yang tidak mampu bersaing dengan China, akan gulung tikar atau mengurangi kapasitas produksinya. Melihat dampak yang sangat besar dan merugikan sebaiknya harus dilakukan antisipasi yang cepat dan menyeluruh. Langkah awal yang dapat diupayakan adalah pemerintah melakukan negosiasi ulang kesepakatan perdagangan bebas itu, terutama untuk sektor-sektor yang belum siap seperti sektor pertanian, industri elektronik dan tekstil.
    Indonesia perlu melakukan seleksi produk untuk melindungi industri nasional. Di sisi lain, pemerintah harus menyiapkan industri domestik agar bisa lebih kompetitif dengan produk Cina serta memberikan kemudahan dalam bentuk pendanaannya. Masyarakat Industri harus berjuang dengan keras untuk memenangkan persaingan global yang semakin mengancam di Negara ini. Dibutuhkan kreatifitas untuk dapat menembus persaingan global tersebut dalam Perdagangan Internasional. Beberapa hal yang menjadi kelemahan barang industri China adalah kualitasnya. Kelemahan ini harus dimanfaatkan oleh pelaku industri di Indonesia agar Negara kita tidak dijajah oleh produk China sehingga tidak tergantung lagi oleh barang impor dari Negara lain.

  11. Nama : Yoga Permana
    Npm : 093401009
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Dampak integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia di ASEAN terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi

    Dampak integrasi ekonomi yang dilakukan dalam ASEAN secara penuh tentunya akan berdampak besar baik dari sektor ekonomi maupun keuangan pada negara ASEAN begitu pula pada Indonesia. Keberadaan integrasi ekonomi ASEAN semestinya akan memberikan peningkatan perekonomian bagi yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, integrasi ekonomi telah menimbulkan kekhawatiran bahwa integrasi ekonomi malah tidak akan menguntungkan bagi ASEAN itu sendiri begitu pula bagi Indonesia, dengan potensi penduduk dan sumber daya yang besar tenyata tidak menjadikan perekonomian Indonesia sebagai negara terdepan di ASEAN mengingat daya saing Indonesia hanya pada peringkat ke empat di antara negara-negara ASEAN dan hanya peringkat kelima dalam GDP per kapita. Untuk itu, dengan potensi yang ada akankah integrasi ekonomi ASEAN mampu memberikan manfaat bagi Indonesia atau malah tidak memberikan manfaat apapun mengingat posisi daya saing dan GDP per kapita Indonesia yang hanya di atas Filipina dan masih di bawah Thailand.
    Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa integrasi ekonomi ASEAN 2015 berdampak positif pada perekonomian Indonesia dan ASEAN baik dari sisi makro ekonomi maupun dari sisi kondisi persaingan antar region yang terlihat dari penerimaan regional, kondisi alokasi investasi dan komposisi perdagangan internasional . Penurunan kemampuan industri di masing masing region di beberapa sektor dalam menghasilkan output yang berimbas pada turunnya penjualan domestik merupakan gambaran salah satu dampak dari integrasi ekonomi ASEAN 2015 dari sisi sektor barang yang dapat diperdagangkan . Dari sisi sektor barang modal industri (non traded), Indonesia dan ASEAN mengalami kenaikan dalam output sektor barang modal, harga barang investasi dan tingkat sewa modal, sedangkan region lainnya mengalami penurunan. Dari sisi sektor barang modal ini dapat diketahui bahwa adanya integrasi ekonomi ASEAN 2015 menjadikan aktivitas ekonomi di Indonesia dan ASEAN lebih bergairah dibandingkan region lainnya .

  12. NAMA : NENG SOFI SOPIAH
    NPM : 093401016
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    DAMPAK INTEGRASI EKONOMI TERHADAP INVESTASI INDONESIA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    KERJASAMA EKONOMI ASEAN

    Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan, Preferential Trading Arrangement, ASEAN Industrial Complementation scheme, ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme, dan Enhanced Preferential Trading arrangement. Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.

    Pendirian AFTA memberikan implikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang, tetapi juga perdagangan jasa dan investasi.

    KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. KTT juga menetapkan sektor-sektor prioritas yang akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata.

    AEC Blueprint bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif, memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan aliran modal. Selain itu, juga akan diupayakan kesetaraan pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi pada tahun 2015.

    1) Kerjasama di Sektor Industri

    Kerjasama di sektor industri merupakan salah satu sektor utama yang dikembangkan dalam kerjasama ekonomi ASEAN. Kerjasama tersebut ditujukan untuk meningkatkan arus investasi, mendorong proses alih teknologi dan meningkatkan keterampilan negara negara ASEAN, termasuk dalam bentuk pertukaran informasi tentang kebijaksanaan perencanaan indus¬tri nasional masing masing. Kerjasama ASEAN di sektor perindustrian diarahkan untuk menciptakan fasilitas produksi baru dalam rangka mendorong perdagangan intra ASEAN melalui berbagai skema kerjasama yang dikembangkan berdasarkan konsep resource pooling dan market sharing.

    AICO merupakan skema kerjasama antara dua atau lebih perusahaan di kawasan ASEAN dalam pemanfaatan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan, dalam rangka memproduksi suatu barang yang bertujuan meningkatkan daya saing perusahaan ASEAN. AICO menyediakan prasarana untuk menerapkan prinsip economic of scale and scope yang didukung oleh pajak yang rendah untuk meningkatkan transaksi di ASEAN, menumbuhkan kesempatan investasi dari dalam dan luar ASEAN, serta menciptakan pasar regional yang lebih besar.

    AICO diharapkan akan mendorong kerjasama industri antar negara ASEAN dan mendorong investasi pada industri berbasis teknologi dan kegiatan yang memberikan nilai tambah pada produk industri. AICO juga memberikan kesempatan luas kepada perusahaan di negara ASEAN untuk saling bekerjasama guna menghasilkan produk dengan menikmati preferensi tarif. Insentif lain yang juga diberikan kepada perusahaan yang bekerjasama dalam payung AICO berupa akreditasi kandungan lokal serta insentif non-tarif lainnya yang dapat diberikan oleh masing-masing negara anggota.

    2) Kerjasama di Sektor Perdagangan

    a. Kerjasama Perdagangan Barang

    Berkaitan dengan perdagangan barang ini, ASEAN juga berhasil menyelesaikan pembahasan substantif mengenai ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). ATIGA mengintegrasikan semua inisiatif ASEAN yang berkaitan dengan perdagangan barang kedalam suatu comprehensive framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara berbagai inisiatif. ATIGA akan meningkatkan transparansi, kepastian dan meningkatkan AFTA-rules-based system yang merupakan hal yang sangat penting bagi komunitas bisnis ASEAN.

    b. Fasilitasi Perdagangan

    Dalam upaya meningkatkan perdagangan, ASEAN telah menandatangani Protocol 1-Designation of Tansit Transport Routes and Facilities. Implementasi Protocol dimaksud akan memfasilitasi transportasi barang-barang di kawasan serta tidak merintangi akses dan pergerakan kendaraan yang mengangkut barang-barang tersebut di kawasan ASEAN. Berkaitan dengan fasilitasi perdagangan, Indonesia juga telah melakukan pembentukan Nasional Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) merupakan salah satu upaya fasilitasi perdagangan di tingkat nasional dan ASEAN untuk mempermudah dan mempercepat arus perdagangan dalam rangka mendukung proses pembentukan ASEAN Economic Community.

    c. Realisasi ASEAN Free Trade Area

    d. Comprehensive Revised CEPT Rules of Origin

    e. Kerjasama Kepabeanan

    3) Perkembangan Pembentukan FTA ASEAN Dengan Negara-negara Mitra Wicara

    a) ASEAN–China Free Trade Agreement
    Terkait dengan implementasi FTA ASEAN-China di bidang jasa, China telah mengajukan request kepada Indonesia untuk 10 sektor jasa, yaitu business services; komunikasi; konstruksi dan jasa engineering; distribusi; pendidikan; lingkungan; keuangan; jasa sosial dan kesehatan; jasa olah raga ,budaya dan rekreasi; dan jasa transportasi. Berkenaan dengan hal tersebut, telah disepakati bahwa basis offer untuk sektor-sektor yang masuk dalam Komitmen Pertama FTA ASEAN-China bidang Jasa adalah AFAS-4 (business services, telekomunikasi, Konstruksi, Jasa terkait dengan Air Travel dan Kepariwisataan) ditambah dengan jasa maritim, pendidikan, keuangan khusus asuransi dan kesehatan yang kesemuanya telah masuk dalam AFAS-5.

    Perundingan yang masih belum diselesaikan adalah bidang investasi dan kerjasama ekonomi. Namun demikian setelah 4 (empat) tahun berjalan tidak terlihat tanda-tanda dimana akan tercapai kesepakatan. Hal ini dikarenakan perbedaan posisi ASEAN yang tetap menginginkan memakai pendekatan AIA atau negative list approach. Sedangkan China menghendaki penggunaan positive approach.

    b) ASEAN-Canada Trade And Investment Framework Arrangement (TIFA)

    Meskipun FTA ASEAN-Kanada masih merupakan tujuan jangka panjang, kedua belah pihak mengakui mengenai adanya suatu keperluan untuk lebih memformalkan hubungan, dan meminta Sekretariat ASEAN untuk menyusun draft awal ASEAN-Canada Economic Arrangement yang sejenis dengan Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) yang telah ditanda-tangani Kanada dengan MERCOSUR dan ASEAN Community. Sebagai catatan, draft TIFA ASEAN-Kanada terdiri dari 5 sections dengan 1 Annex berupa Trade and Investment Cooperation Arrangement between ASEAN Canada Work Plan, yaitu : Section I Objectives; Section II Principles; Section III Expansion of Trade and Investment; Section IV Joint Council on Trade and Investment; Section V Final Clauses.

    c) ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)

    Terkait dengan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZ FTA), setelah dilakukan perundingan sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah dapat dikatakan selesai kecuali berkaitan dengan ”market access” untuk sektor otomotif. Dalam kaitan ini, Australia mengharapkan agar jika market access dimaksud belum dapat disepakati maka AANZ FTA dapat ditandatangani pada bulan Desember mendatang. Sedangkan isu-isu bilateral yang belum dapat diselesaikan akan diselesaikan setelah AANZ FTA ditandatangani. Dalam kaitan ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah konsekwensi hukum ditandatanganinya AANZFTA apabila belum dapat disepakati/diselesaikannya komitmen bilateral dengan Australia dan New Zealand, mengingat offer dan request Australia serta New Zealand kepada Indonesia belum disepakati.

    d) ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)

    Diharapkan hal ini dapat segera diselesaikan secara bilateral. Di samping itu juga masih terdapat perbedaan pandangan antara ASEAN dengan India berkaitan dengan penurunan tarif di dalam Exclusion List (EL) dan Normal Track (NT).

    e) ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA)

    f) ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership

    4) Kerjasama di Sektor Jasa

    Perkembangan Liberalisasi Jasa ASEAN

    1) Peranan Sektor Jasa ASEAN

    Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi melalui liberalisasi perdagangan di bidang jasa, Negara-negara ASEAN telah menyepakati dan mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS). Selanjutnya untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut, telah dibentuk Coordinating Committee on Services (CCS) yang memiliki tugas menyusun modalitas untuk mengelola negosiasi liberalisasi jasa dalam kerangka AFAS yang mencakup 8 (delapan) sektor, yaitu: Jasa Angkutan Udara dan Laut, Jasa Bisnis, Jasa Konstruksi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pariwisata, Jasa Keuangan, Jasa Kesehatan dan Jasa Logistik.

    Indonesia mendorong liberalisasi sektor jasa melalui Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan, yang bertindak sebagai koordinator (Tim Koordinator Bidang Jasa) di semua forum dan sektor, termasuk sebagai pengelola sektor jasa keuangan non-bank dan jasa profesi (akuntan dan penilai).

    2) Integrasi Sektor Jasa Prioritas Menjelang Realisasi Komunitas Ekonomi ASEAN 2015

    ASEAN telah menetapkan 5 (lima) sektor jasa prioritas dari 12 sektor prioritas integrasi barang dan jasa yang akan diliberalisasi menjelang pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, yaitu: Jasa Kesehatan, Jasa Pariwisata, e-ASEAN, Jasa Logistik dan Jasa Transportasi Udara.

    3) Jasa Angkutan Udara (Air Transport Services)
    4) Jasa Angkutan Laut (Maritime Transport Services)
    5) Jasa Keuangan (Finance Services)
    6) Jasa Telekomunikasi (Telecommunications Services)
    7) Jasa Pariwisata (Tourism Services)
    8) Jasa Logistik (Logistic Services)

    Kerjasama di Sektor Investasi

    Di sektor investasi, kerjasama ASEAN diawali dengan dikemukakannya gagasan pembentukan suatu kawasan investasi ASEAN pada Pertemuan Pemimpin ASEAN di Bangkok pada tahun 1995. Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, pada tahun 1996, dibentuk Komite Kerja Kawasan Investasi ASEAN (WC-AIA), yang berada dibawah naungan SEOM, dengan mandat menyiapkan sebuah Persetujuan Dasar tentang Kawasan Investasi ASEAN (Framework Agreement on ASEAN Investment Area/FA-AIA).

    5) Kerjasama di Sektor Komoditi dan Sumber Daya Alam

    Kerjasama Pertanian

    1) Pangan
    2) Tanaman Pangan (Crops)
    3) Agricultural Training and Extension
    4) Penelitian dan Pengembangan di bidang Pertanian
    5) Codex
    6) Skema Promosi Produk Pertanian dan Kehutanan

    Kerjasama Peternakan

    Kerjasama ASEAN di bidang peternakan semakin berkembang, terutama mengenai Regularization of Production and Utilization of Animal Vaccines; Promotion of International Trade in Livestock and Livestock Products; dan Strengthening Animal Diseases Control Programme. Sejumlah inisiatif baru, termasuk Common Stand on Codex Issues dan Veterinary Drug Residues in Food juga telah dimulai.

    Dalam upaya mengatur produksi dan pemanfaatan vaksin hewan, ASEAN telah menyetujui untuk memperbaiki mekanisme yang ada serta prosedur registrasi vaksin hewan yang diproduksi di dalam dan di luar Negara Anggota ASEAN. Untuk tujuan ini, sebuah mekanisme tunggal akan dipakai. AMAF ke-29 di Bangkok, 2007, telah menyetujui ASEAN Standard for Live Infectious Bronchitis Vaccine dan Inactivated Infectious Bronchitis Vaccine. Para Menteri Pertanian ASEAN juga telah mengakreditasi ulang National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL), Gunung Sindur, Indonesia sebagai laboratorium pengetesan vaksin untuk 9 vaksin hewan selama periode 3 tahun.

    Kerjasama Perikanan

    ASEAN terus melanjutkan kolaborasi dengan SEAFDEC dan telah menyetujui kerja sama untuk memperkuat mekanisme dan implementasi program perikanan kawasan melalui pembentukan “ASEAN-SEAFDEC Strategic Partnership (ASSP)”. Dalam AMAF ke-29, telah ditandatangani Letter of Understanding (LoU) ASSP oleh Sekjen ASEAN dan Sekjen SEAFDEC.

    Kerjasama Kehutanan

    Pengembangan kriteria nasional dan indikator untuk pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM), termasuk pengkajian kebijakan, dan penanaman hutan telah mengalami kemajuan di masing-masing Negara Anggota ASEAN. Pada tingkat regional, pengembangan inisiatif Pan ASEAN Timber Certification telah menggunakan kriteria yang diakui secara internasional untuk memastikan diterimanya produk kayu ASEAN yang bersertifikat di pasar internasional.

  13. NAMA : NENG SOFI SOPIAH
    NPM : 093401002
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    DAMPAK INTEGRASI EKONOMI TERHADAP INVESTASI INDONESIA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    KERJASAMA EKONOMI ASEAN

    Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan, Preferential Trading Arrangement, ASEAN Industrial Complementation scheme, ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme, dan Enhanced Preferential Trading arrangement. Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.

    Pendirian AFTA memberikan implikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang, tetapi juga perdagangan jasa dan investasi.

    KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. KTT juga menetapkan sektor-sektor prioritas yang akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata.

    AEC Blueprint bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif, memungkinkan bebasnya lalu lintas barang, jasa, investasi dan aliran modal. Selain itu, juga akan diupayakan kesetaraan pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi pada tahun 2015.

    1) Kerjasama di Sektor Industri

    Kerjasama di sektor industri merupakan salah satu sektor utama yang dikembangkan dalam kerjasama ekonomi ASEAN. Kerjasama tersebut ditujukan untuk meningkatkan arus investasi, mendorong proses alih teknologi dan meningkatkan keterampilan negara negara ASEAN, termasuk dalam bentuk pertukaran informasi tentang kebijaksanaan perencanaan indus¬tri nasional masing masing. Kerjasama ASEAN di sektor perindustrian diarahkan untuk menciptakan fasilitas produksi baru dalam rangka mendorong perdagangan intra ASEAN melalui berbagai skema kerjasama yang dikembangkan berdasarkan konsep resource pooling dan market sharing.

    AICO merupakan skema kerjasama antara dua atau lebih perusahaan di kawasan ASEAN dalam pemanfaatan berbagai sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan, dalam rangka memproduksi suatu barang yang bertujuan meningkatkan daya saing perusahaan ASEAN. AICO menyediakan prasarana untuk menerapkan prinsip economic of scale and scope yang didukung oleh pajak yang rendah untuk meningkatkan transaksi di ASEAN, menumbuhkan kesempatan investasi dari dalam dan luar ASEAN, serta menciptakan pasar regional yang lebih besar.

    AICO diharapkan akan mendorong kerjasama industri antar negara ASEAN dan mendorong investasi pada industri berbasis teknologi dan kegiatan yang memberikan nilai tambah pada produk industri. AICO juga memberikan kesempatan luas kepada perusahaan di negara ASEAN untuk saling bekerjasama guna menghasilkan produk dengan menikmati preferensi tarif. Insentif lain yang juga diberikan kepada perusahaan yang bekerjasama dalam payung AICO berupa akreditasi kandungan lokal serta insentif non-tarif lainnya yang dapat diberikan oleh masing-masing negara anggota.

    2) Kerjasama di Sektor Perdagangan

    a. Kerjasama Perdagangan Barang

    Berkaitan dengan perdagangan barang ini, ASEAN juga berhasil menyelesaikan pembahasan substantif mengenai ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA). ATIGA mengintegrasikan semua inisiatif ASEAN yang berkaitan dengan perdagangan barang kedalam suatu comprehensive framework, menjamin sinergi dan konsistensi di antara berbagai inisiatif. ATIGA akan meningkatkan transparansi, kepastian dan meningkatkan AFTA-rules-based system yang merupakan hal yang sangat penting bagi komunitas bisnis ASEAN.

    b. Fasilitasi Perdagangan

    Dalam upaya meningkatkan perdagangan, ASEAN telah menandatangani Protocol 1-Designation of Tansit Transport Routes and Facilities. Implementasi Protocol dimaksud akan memfasilitasi transportasi barang-barang di kawasan serta tidak merintangi akses dan pergerakan kendaraan yang mengangkut barang-barang tersebut di kawasan ASEAN. Berkaitan dengan fasilitasi perdagangan, Indonesia juga telah melakukan pembentukan Nasional Single Window (NSW) dan ASEAN Single Window (ASW) merupakan salah satu upaya fasilitasi perdagangan di tingkat nasional dan ASEAN untuk mempermudah dan mempercepat arus perdagangan dalam rangka mendukung proses pembentukan ASEAN Economic Community.

    c. Realisasi ASEAN Free Trade Area

    d. Comprehensive Revised CEPT Rules of Origin

    e. Kerjasama Kepabeanan

    3) Perkembangan Pembentukan FTA ASEAN Dengan Negara-negara Mitra Wicara

    a) ASEAN–China Free Trade Agreement
    Terkait dengan implementasi FTA ASEAN-China di bidang jasa, China telah mengajukan request kepada Indonesia untuk 10 sektor jasa, yaitu business services; komunikasi; konstruksi dan jasa engineering; distribusi; pendidikan; lingkungan; keuangan; jasa sosial dan kesehatan; jasa olah raga ,budaya dan rekreasi; dan jasa transportasi. Berkenaan dengan hal tersebut, telah disepakati bahwa basis offer untuk sektor-sektor yang masuk dalam Komitmen Pertama FTA ASEAN-China bidang Jasa adalah AFAS-4 (business services, telekomunikasi, Konstruksi, Jasa terkait dengan Air Travel dan Kepariwisataan) ditambah dengan jasa maritim, pendidikan, keuangan khusus asuransi dan kesehatan yang kesemuanya telah masuk dalam AFAS-5.

    Perundingan yang masih belum diselesaikan adalah bidang investasi dan kerjasama ekonomi. Namun demikian setelah 4 (empat) tahun berjalan tidak terlihat tanda-tanda dimana akan tercapai kesepakatan. Hal ini dikarenakan perbedaan posisi ASEAN yang tetap menginginkan memakai pendekatan AIA atau negative list approach. Sedangkan China menghendaki penggunaan positive approach.

    b) ASEAN-Canada Trade And Investment Framework Arrangement (TIFA)

    Meskipun FTA ASEAN-Kanada masih merupakan tujuan jangka panjang, kedua belah pihak mengakui mengenai adanya suatu keperluan untuk lebih memformalkan hubungan, dan meminta Sekretariat ASEAN untuk menyusun draft awal ASEAN-Canada Economic Arrangement yang sejenis dengan Trade and Investment Framework Arrangement (TIFA) yang telah ditanda-tangani Kanada dengan MERCOSUR dan ASEAN Community. Sebagai catatan, draft TIFA ASEAN-Kanada terdiri dari 5 sections dengan 1 Annex berupa Trade and Investment Cooperation Arrangement between ASEAN Canada Work Plan, yaitu : Section I Objectives; Section II Principles; Section III Expansion of Trade and Investment; Section IV Joint Council on Trade and Investment; Section V Final Clauses.

    c) ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA)

    Terkait dengan ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZ FTA), setelah dilakukan perundingan sejak 3 (tiga) tahun terakhir sudah dapat dikatakan selesai kecuali berkaitan dengan ”market access” untuk sektor otomotif. Dalam kaitan ini, Australia mengharapkan agar jika market access dimaksud belum dapat disepakati maka AANZ FTA dapat ditandatangani pada bulan Desember mendatang. Sedangkan isu-isu bilateral yang belum dapat diselesaikan akan diselesaikan setelah AANZ FTA ditandatangani. Dalam kaitan ini, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah konsekwensi hukum ditandatanganinya AANZFTA apabila belum dapat disepakati/diselesaikannya komitmen bilateral dengan Australia dan New Zealand, mengingat offer dan request Australia serta New Zealand kepada Indonesia belum disepakati.

    d) ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA)

    Diharapkan hal ini dapat segera diselesaikan secara bilateral. Di samping itu juga masih terdapat perbedaan pandangan antara ASEAN dengan India berkaitan dengan penurunan tarif di dalam Exclusion List (EL) dan Normal Track (NT).

    e) ASEAN-EU Free Trade Agreement (AEFTA)

    f) ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership

    4) Kerjasama di Sektor Jasa

    Perkembangan Liberalisasi Jasa ASEAN

    1) Peranan Sektor Jasa ASEAN

    Dalam upaya meningkatkan kerjasama ekonomi melalui liberalisasi perdagangan di bidang jasa, Negara-negara ASEAN telah menyepakati dan mengesahkan ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS). Selanjutnya untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut, telah dibentuk Coordinating Committee on Services (CCS) yang memiliki tugas menyusun modalitas untuk mengelola negosiasi liberalisasi jasa dalam kerangka AFAS yang mencakup 8 (delapan) sektor, yaitu: Jasa Angkutan Udara dan Laut, Jasa Bisnis, Jasa Konstruksi, Jasa Telekomunikasi, Jasa Pariwisata, Jasa Keuangan, Jasa Kesehatan dan Jasa Logistik.

    Indonesia mendorong liberalisasi sektor jasa melalui Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan, yang bertindak sebagai koordinator (Tim Koordinator Bidang Jasa) di semua forum dan sektor, termasuk sebagai pengelola sektor jasa keuangan non-bank dan jasa profesi (akuntan dan penilai).

    2) Integrasi Sektor Jasa Prioritas Menjelang Realisasi Komunitas Ekonomi ASEAN 2015

    ASEAN telah menetapkan 5 (lima) sektor jasa prioritas dari 12 sektor prioritas integrasi barang dan jasa yang akan diliberalisasi menjelang pembentukan Komunitas Ekonomi ASEAN 2015, yaitu: Jasa Kesehatan, Jasa Pariwisata, e-ASEAN, Jasa Logistik dan Jasa Transportasi Udara.

    3) Jasa Angkutan Udara (Air Transport Services)
    4) Jasa Angkutan Laut (Maritime Transport Services)
    5) Jasa Keuangan (Finance Services)
    6) Jasa Telekomunikasi (Telecommunications Services)
    7) Jasa Pariwisata (Tourism Services)
    8) Jasa Logistik (Logistic Services)

    Kerjasama di Sektor Investasi

    Di sektor investasi, kerjasama ASEAN diawali dengan dikemukakannya gagasan pembentukan suatu kawasan investasi ASEAN pada Pertemuan Pemimpin ASEAN di Bangkok pada tahun 1995. Untuk menindaklanjuti gagasan tersebut, pada tahun 1996, dibentuk Komite Kerja Kawasan Investasi ASEAN (WC-AIA), yang berada dibawah naungan SEOM, dengan mandat menyiapkan sebuah Persetujuan Dasar tentang Kawasan Investasi ASEAN (Framework Agreement on ASEAN Investment Area/FA-AIA).

    5) Kerjasama di Sektor Komoditi dan Sumber Daya Alam

    Kerjasama Pertanian

    1) Pangan
    2) Tanaman Pangan (Crops)
    3) Agricultural Training and Extension
    4) Penelitian dan Pengembangan di bidang Pertanian
    5) Codex
    6) Skema Promosi Produk Pertanian dan Kehutanan

    Kerjasama Peternakan

    Kerjasama ASEAN di bidang peternakan semakin berkembang, terutama mengenai Regularization of Production and Utilization of Animal Vaccines; Promotion of International Trade in Livestock and Livestock Products; dan Strengthening Animal Diseases Control Programme. Sejumlah inisiatif baru, termasuk Common Stand on Codex Issues dan Veterinary Drug Residues in Food juga telah dimulai.

    Dalam upaya mengatur produksi dan pemanfaatan vaksin hewan, ASEAN telah menyetujui untuk memperbaiki mekanisme yang ada serta prosedur registrasi vaksin hewan yang diproduksi di dalam dan di luar Negara Anggota ASEAN. Untuk tujuan ini, sebuah mekanisme tunggal akan dipakai. AMAF ke-29 di Bangkok, 2007, telah menyetujui ASEAN Standard for Live Infectious Bronchitis Vaccine dan Inactivated Infectious Bronchitis Vaccine. Para Menteri Pertanian ASEAN juga telah mengakreditasi ulang National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL), Gunung Sindur, Indonesia sebagai laboratorium pengetesan vaksin untuk 9 vaksin hewan selama periode 3 tahun.

    Kerjasama Perikanan

    ASEAN terus melanjutkan kolaborasi dengan SEAFDEC dan telah menyetujui kerja sama untuk memperkuat mekanisme dan implementasi program perikanan kawasan melalui pembentukan “ASEAN-SEAFDEC Strategic Partnership (ASSP)”. Dalam AMAF ke-29, telah ditandatangani Letter of Understanding (LoU) ASSP oleh Sekjen ASEAN dan Sekjen SEAFDEC.

    Kerjasama Kehutanan

    Pengembangan kriteria nasional dan indikator untuk pengelolaan hutan berkelanjutan (sustainable forest management/SFM), termasuk pengkajian kebijakan, dan penanaman hutan telah mengalami kemajuan di masing-masing Negara Anggota ASEAN. Pada tingkat regional, pengembangan inisiatif Pan ASEAN Timber Certification telah menggunakan kriteria yang diakui secara internasional untuk memastikan diterimanya produk kayu ASEAN yang bersertifikat di pasar internasional.

  14. NAMA : A INDRA PERMANA
    NPM : 093401007
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN
    perdagangan antar negara yang tanpa hambatan berpeluang memberi manfaat bagi masing-masing negara karena bisa mendapatkan keuntungan bagi negara tersebut yang mengekspor barang-barang nya. Namun ada juga dampak negatif nya, apabila di Eropa sedang terjadi krisis keuangan, maka akan terjadi penurunan produksi dalam kegiatan ekonomi, karena disebabkan masuknya barang impor yang terlalu banyak, sehingga menaikan kegiatan ekonomi.
    Sekarang perdangan bebas yang terjadi di Asia persaingannya sangat ketat, contohnya China yang melakukan impor, ditambah lagi barang-barang yang d impor dari China harganya sangat relatif murah dibandingkan dengan harga barang yang di produksi oleh Indonesia, sehingga rakyat Indonesia sendiri lebih memilih barang-barang dari China, tentu saja ini sangat merugikan bagi pengusaha di Indonesia. Apalagi Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor. Tentu saja ini sangat mengganggu sekali pada pengusaha-pengusaha di Indonesia.

  15. Riyan Setiawan (083401012)

    DAMPAK INTEGRASI EKONOMI YANG DILAKUKAN INDONESIA TERHADAP IKLIM INVESTASI DI INDONESIA DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    Integrasi Ekonomi dapat diartikan sebagai perjanjian antar pelaku ekonomi (negara) untuk mengurangi, ( hingga pada akhirnya menghilangkan ) hambatan tarif dan non tarif atas barang dan jasa serta faktor produksi. Tumbuhnya integrasi ekonomi karena di dorong oleh potensi ekonomi dimaksimalkan sehingga mempunyai daya saing lebih baik.
    Tapi disisi lain walaupun secara teori perdagangan yang tidak dibatasi dapat meningkatkan produksi barang dan jasa (karena spesialisasi), tidak semua negara mengadopsi peraturan tersebut, karena dalam integrasi ekonomi terdapat berbagai permasalahan diantaranya jika dilihat dari segi politik, contohnya terciptanya ketergantungan antar negara anggota sehingga perlu insentif untuk kerjasama politik agar potensi konflik dapat ditekan, tetapi sangat sulit integrasi secara penuh karena pertimbangan kedaulatan nasional.
    Dan dampak integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia terhadap iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi bagi negara Indonesia itu sendiri menurut saya dapat di deskripsikan sebagai berikut, Indonesia sebagai negara besar, kurang bergantung pada kebutuhan ekspor. Selain itu, banyak negara telah mengincar Indonesia sebagai pasar dan lokasi produksi yang menarik. Indonesia misalnya juga telah diincar oleh banyak negara sebagai lokasi untuk menghasilkan pangan untuk menjamin kebutuhan pangan di negara-negara yang tidak memiliki tanah yang subur, maka sangat tepat jika pemerintah kini memberi prioritas tinggi pada integrasi perekonomian dalam negeri dan memanfaatkan pasar dan lokasi produksi yang luas di dalam negeri.
    Indonesia tidak perlu menolak perdagangan internasional, aliran modal asing, dan arus tenaga kerja. Tapi, jangan terlalu bergantung pada aspek tersebut. Integrasi ekonomi dalam negeri juga berarti penyebaran kegiatan ekonomi, yang akan mengurangi kebutuhan orang untuk melakukan perjalanan yang jauh. Namun, perhatian pada integrasi ekonomi dalam negeri sering dicurigai oleh pihak luar sebagai usaha proteksionis bagi mereka atau negara-negara penganjur perdagangan bebas, mereka juga mengatakan ingin membantu negara berkembang melalui penanaman modal mereka di negara berkembang walau sebenarnya mereka sangat diuntungkan dengan investasi tersebut. Mereka sering mengatakan bahwa investasi asing adalah satu-satunya cara bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk maju. Tetapi mengapa negara Indonesia sulit maju?? agar suatu perekonomian maju, masyarakat di perekonomian itu harus mampu melakukan investasi. Namun, rakyat di negara miskin tidak punya tabungan. Karena tidak mempunyai tabungan, mereka tidak dapat berinvestasi. Karena tidak dapat berinvestasi, mereka tetap miskin. Lingkaran seperti ini sering disebut dengan perangkap kemiskinan. Oleh sebab itu, menurut teori ini, cara keluar dari perangkap kemiskinan adalah mendatangkan investasi dari luar masyarakat itu sendiri. Artinya perlu investasi asing. Dengan masuknya investasi asing, kesempatan menaikkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan dapat meningkat. Penyelesaian lain untuk keluar dari perangkap kemiskinan adalah melalui keluarga berencana. Keluarga di negara miskin biasanya mempunyai banyak anak. Akibatnya, konsumsi terlalu tinggi, sehingga tak ada yang ditabung. Dengan keluarga berencana, pengeluaran untuk anak dapat dikurangi.

    Selain itu, orangtua dapat lebih bebas bekerja untuk keluar dari kemiskinan.Kemudian, akan terjadi tabungan, dan tabungan dapat digunakan untuk investasi, sehingga keluar dari kemiskinan. Teori lain mengatakan, bahwa suatu perekonomian tetap miskin karena daya beli di masyarakat itu rendah. Mereka tidak berani berproduksi dalam jumlah yang besar, karena mereka tahu produksi mereka tidak akan dapat dijual di perekonomian mereka. Walau jumlah penduduk besar, menurut teori ini, kemiskinan menyebabkan keterbatasan pasar dalam negeri. Maka, penyelesaiannya adalah melakukan ekspor, menjual produksi dalam negeri ke negara lain yang ekonominya sudah maju. Negara yang disebut dengan “macan Asia” (Korea Selatan, Hong Kong,Taiwan, dan Singapura) sering disebut telah melakukan tiga kebijakan ini bersamaan.

  16. RAHMAN BUDIMAN
    093401011

    Dampak Integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia
    Integrasi ekonomi dilakukan adalah untuk meningkatkan kerjasama perekonomian antar Negara dan sudah berlangsung sejak lama.
    Ada 2 dampak dari berlangsungnya integrasi ekonomi tersebut.
    Dampak positifnya adalah Dengan adanya integrasi ekonomi maka akan mendorong masuknya investasi-investasi ke indonesia, namun dengan meningkatnya investasi-investasi diindonesia maka akan mendorong pula pertumbuhan ekonomi indonesia, dan dengan bertumbuhnya perekonomian diindonesia maka secara otomatis pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kemiskinan dan ini adalah keuntungan bagi Indonesia dari adanya inetgrasi tersebut.
    Namun adanya integrasi ekonomi juga mempunyai dampak negative terhadap Indonesia antara lain dampak negativenya adalah akan banyaknya Tenaga kerja dan produksi barang-barang atau jasa dari Negara lain dalam satu kawasan akan masuk dengan hambatan yang lebih ringan. Dan Hal ini berpotensi akan menimbulkan banyaknya pengangguran di dalam negeri dan ketergantungan akan produk impor yang lebih murah dan efisien. Dampak itu pun sekarang sudah terasa oleh Indonesia yaitu ketergantungan akan barang-barang impor yang lebih murah dari barang yang diproduksi diindonesia misalkan berasal dari china, Vietnam, india , jepang dll.

  17. NAMA : ENDANG NURJAMAN
    NPM :093401006
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    APEC (Asia-Pasific Economic Coorperation ) atau kerjasama Ekonomi Asia Pasifik, didirikan pada tahun 1989 bertujuan untuk mengukuhkan pertumbuhan ekonomi dan mempererat komunitas negara – negara di Asia Pasifik.Indonesia berperan aktif mendukung peranan APEC untuk meningkatkan kerjasama ekonomi.
    Dapat kita lihat, peran APEC bagi Indonesia setelah Bogor Goals (1994) merupakan sebuah misi APEC untuk kemajuan liberalisasi perdagangan dan investasi bagi Indonesia. APEC masih membawa pengaruh positif bagi ekonomi Indonesia. Bagi Indonesia, anggota – anggota yang tergabung dalam APEC merupakan mitra dagang yang utama. Peran lain APEC bagi Indonesia adalah sebagai komunitas bisnis pengembangan kebijakan seperti pengembangan kapasitas melalui pemanfaatan proyek-proyek, forum bertukar pengalaman, forum yang memungkinkan Indonesia untuk memproyeksikan kepentingan-kepentingannya dan mengamankan posisinya dalam tata hubungan ekonomi internasional yang bebas dan terbuka. Sebelumnya pertemuan APEC di Yakohama, Jepang pada tahun 2010 mengusulkan agar diterapkannya free trade oleh semua anggota APEC.

    Menurut pendapat saya APEC sangat berperan bagi Indonesia dalam meningkatkan kerjasama perdagangan dan investasi dan juga mengatasi masalah – masalah yang menggangu tercapainya kepentingan nasional. Indonesia masih memiliki daya saing yang rendah. Sehingga perdagangan yang terlalu liberal masih sulit dilaksanakan melihat kondisi dalam negeri yang belum mencukupi. Walaupun perdagangan bebas yang dideklarasikan pemimpin APEC di Yakohama masih sulit diterapkan di Indonesia, APEC di Indonesia dapat mengamankan perekonomian Indonesia dan mensejahterakan masyarakat.

  18. Nama : Deni sopiat
    NPM : 093401012
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Masyarakat Ekomomi ASEAN
    Di lihat dewasa ini kita bisa menilai perekonomian di ASEAN sangat meningkat cukup tinggi karena hal ini di tunjang dengan masing-masing negara mempunyai keunggulan keunggulan yang sangat menujang untuk peningkatan ekonomi masyarakatnya.
    Ekonomi masyarakat ASEAN sangat di untungkan dengan ada 2 wilayah daratan yang strategis untuk kegiatan ekonomi, tidak seperti halnya uni eropa yang mempunyai satu daratan wilayah yang memungkinkan peningkatannya lebih baik dari negara ASEAN, sebenarnya ekonomi masyarakat ASEAN bisa lebih meningkat melebihi dari masyrakat uni eropa karena negara-negara ASEAN lebih memiliki sumber daya alam yang baik dari pada negara-negara eropa.
    Untuk bisa lebih maju dan mengalahkan ekonomi uni eropa maka masyarakat ASEAN harus bisa menyatukan dua wilayah ekonomi tersebut, wilayah satu diantaranya myanmar, laos, singapura dan wilayah dua indonesia, malaysia, brunei. Jika saja kedua wilayah tersebut bersatu maka masyarakat ekonomi ASEAN akan lebih maju.
    Keuntungan integrasi masyarakat ASEAN untuk indonesia diantaranya adalah indonesia merupakan negara yang sangat strategis untuk perlintasan perdagangan bebas, bahkan indonesia sangat berkompeten untuk menjadi negara pengeskpor karena di dukung dengan SDA yang sangat berlimpah luah.
    Dengan adanya integrasi ini bisa saja mejadi pengacu meningkatnya pertumbuhan masyarakat ekonomi indonesia dengan berdatangannya investor asing yang mau memberi modal utuk pengelolaan sumber daya alam negara ini, selain itu dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja, bermunculannya wirausaha kecil yang dapat membantu pertumbuhan masyarakat ekonomi.
    Selain itu dengan ada nya integrasi ini bisa meningkatkan eskpor barang indonesia karena akan banyaknya kerja sama yang akan terjalin contohnya indonesia dengan singapura, indonesia mengeskpor kayu, pasir, dan lain-lain.

  19. Nama : Hendi Setiawan
    NPM : 093401017
    Ekonomi Pembangunan

    AFTA adalah bentuk dari Free Trade Area di kawasan Asia Tenggara merupakan kerjasama regional dalam bidang ekonomi mempunyai tujuan untuk meningkatkan volume perdagangan di antara negara anggota melalui penurunan tarif beberapa komoditas tertentu, termasuk di dalamnya beberapa komoditas pertanian, dengan tarif mendekati 0-5 persen. Inti AFTA adalah CEPT (Common Effective Preferential Tariff), yakni barang-barang yang diproduksi di antara negara ASEAN yang memenuhi ketentuan setidak-tidaknya 40 % kandungan lokal akan dikenai tarif hanya 0-5 %.
    Indonesia sebagai Negara yang menyetujui AFTA, sebentar lagi akan masuk ke dalam era perdagangan bebas, sehingga bangsa ini akan bersaing dengan bangsa-bangsa ASEAN lainnya. Dengan kondisi bangsa Indonesia dan perekonomian Indonesia saat ini, Indonesia dapat dikatakan masih belum siap dalam menghadapi persaingan global. Sumber daya manusia Indonesia dengan masih banyaknya masyarakat dengan tingkat pendidikan dan keahlian yang minim membuat Indonesia diprediksikan akan kalah dalam persaingan. Situasi politik dan hukum di Indonesia yang amat sangat tidak pasti juga menambah jumlah nilai minus Indonesia dalam menghadapi AFTA.

  20. NAMA : BIAN LAZUARDI

    NPM : 093401023

    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Manfaat APEC Bagi Indonesia antara lain sebagai berikut :
    1. APEC merupakan forum yang fleksibel untuk membahas isu-isu ekonomi internasional.
    2. APEC merupakan forum konsolidasi menuju era perdagangan terbuka dan sejalan dengan prinsip perdagangan multilateral
    3. Peningkatan peran swasta dan masyarakat Indonesia menuju liberalisasi perdagangan
    Salah satu pilar APEC yaitu fasilitasi perdagangan dan investasi secara langsung akan memberikan dampak positif bagi dunia usaha di Indonesia. Beberapa inisiatif APEC yang memberikan manfaat kepada dunia usaha di Indonesia antara lain melalui pelaksanaan APEC Business Travel Card (ABTC) serta penyederhanaan prosedur kepabeanan.
    4. Peningkatan Human and Capacity Building
    Indonesia dapat memanfaatkan proyek-proyek APEC untuk peningkatan kapasitas dan peningkatan sumber daya manusia, baik yang disponsori oleh anggota ekonomi tertentu maupun melalui skema APEC.
    5. Sumber peningkatan potensi ekonomi perdagangan dan investasi Indonesia. Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan potensi pasar APEC bagi peningkatan ekspor maupun arus investasi, khususnya karena mitra dagang utama Indonesia sebagian besar berasal dari kawasan APEC.
    6. APEC sebagai forum untuk bertukar pengalaman
    Forum APEC yang pada umumnya berbentuk policy dialogue memiliki manfaat yang sangat besar terutama untuk menarik pelajaran dan pengalaman positif maupun negatif (best practices) anggota APEC lainnya dalam hal pengambilan dan pembuatan kebijakan liberalisasi perdagangan dan investasi.
    7. Memproyeksikan kepentingan-kepentingan Indonesia dalam konteks ekonomi internasional
    8. APEC merupakan salah satu forum yang memungkinkan Indonesia untuk memproyeksikan kepentingan kepentingannya dan mengamankan posisinya dalam tata hubungan ekonomi internasional yang bebas dan terbuka.

    B. Kelemahan APEC : Dampak Globalisasi Pertanian
    Globalisasi secara teoretis penuh dengan tuntutan atas negara-negara yang ingin (dipaksa harus) terlibat, seperti mengendurkan bea masuk, mengendurkan proteksi, mengurangi subsidi, memangkas regulasi ekspor- impor, perburuhan, investasi, dan harga, serta melakukan privatisasi atas perusahaan milik negara. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa produk-produk lokal ke pasar internasional. Sekalipun perusahaan-perusahaan TNCs dibebani tanggungjawab sosial, namun fenomenanya tidak akan jauh berbeda dengan pola kemitraan atau contrac farming yang pada hakekatnya bermodus eksploitasi. Syarat-syarat yang ditetapkan sesungguhnya merupakan perangkap yang sulit ditembus oleh negara dunia ketiga. Kecenderungannya akan mempercepat proses penurunan daya saing produk lokal. Pada perkembangnnya, segala sesuatu yang berbau lokal akan melemah dan hilang. Mahatir (Kompas, 5/2/2004) berpendapat bahwa pengintegrasian perekonomian dunia hanya akan membawa malapetaka bagi negara berkembang. Itu bukan hanya merusak ekonomi lokal, tetapi juga akan menciptakan perlambatan ekonomi, anarki ekonomi, dan kekacauan sosial
    Globalisasi cenderung menghancurkan tatanan dan modal-modal sosial. Meskipun gagasannya dituangkan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat sebagai penampakan corporate social responsibility TNCs, namun hasilnya tetap tidak pernah terwujud. Menurut Pollnac (1988) dan Garkovich (1989), menghadirkan sebuah lembaga baru dalam suatu masyarakat dengan maksud memotong struktur hubungan atau jaringan (sosial, komunikasi, kerja) yang telah terpola atau berlangsung mapan, merupakan skenario yang tidak mengindahkan karakteristik sosio-budaya dan pranata lokal, dan dengan ini kegagalan bisa terjadi. Impor berbagai produk dan bahan baku pertanian kian hari kian meningkat. Meskipun jumlah produk pertanian yang diekspor dan dipasarkan di pasar domestik jauh lebih tinggi daripada impor, namun selisih nilainya hanya 2 persen. Nilai 2 persen sesungguhnya tidak berarti, karena jika dianalisis, nilai transaksi berjalan produk pertanian Indonesia itu sesungguhnya devisit. Betapa tidak, produk pertanian yang diekspor oleh Indonesia sesungguhnya adalah produk yang padat dengan input luar (impor). Keunggulan produk tersebut jelas sangat bersifat kompetitif semu. TNCs sebagai pihak yang paling tahu akan efisiensi memandang bahwa proses produksi usahatan (on-farm) sangat rentan terhadap risiko dan ketidakpastian, untuk itu ia menerapkan strategi kemitraan atau contract farming. Sebagaimana dikatakan Evans (1979) dan Warren (1980), negara ketiga bisa menikmati kemajuan meskipun berada dalam kondisi ketergantungan, suatu proses yang disebutnya sebagai dependent development. Namun keuntungan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya dan kerugian yang harus ditanggung, seperti gangguan kesehatan, pencemaran lingkungan, serta risiko dan ketidakpastian lainnya. Dampak yang paling kentara adalah terjadinya “kemandegan inovasi” dalam seluruh sistem agribisnis. Ini merupakan implikasi dari ketergantungan pada produk-produk impor. Pemikiran efisiensi yang diadopsi secara mentah-mentah telah menyebabkan bangsa yang kaya akan sumber daya ini jatuh pada budaya instan dan malas. Produk-produk yang senyatanya dapat diproduksi di dalam negeri didatangkan dari luar hanya karena alasan murah. Para pelaku importir yang sesungguhnya merupakan perpanjangan tangan dari TNCs dapat dengan mudah mendatangkan produk-produk dari luar karena longgarnya regulasi ekspor-impor. Dampak budayanya adalah melemahnya penghargaan atas produk-produk lokal, sebagai akibat dari berkembangnya budaya konsumerisme yang kebarat- baratan (western). Kondisi ini jelas sangat menguntungkan TNCs, karena secara perlahan inovasi lokal tercerabut dari budayanya. Ini merupakan peluang besar bagi investasi. Dampak lainnya adalah tidak berperannya kelembagaan-kelembagaan pendukung pertanian lokal. Hal ini terjadi karena TNCs selaku pihak yang kuasa, telah memasok segala kebutuhan petani (buruh) secara langsung. Pada kondisi seperti ini kreativitas dan keinovatifan kelembagaan pendukung pertanian pemerintah malah menjadi mandul. Pada ujungnya, globalisasi membawa seluruh warga dunia ke situasi yang serba spekulatif. Meningkatnya dominasi dan persaingan tidak menutup kemungkinan akan mendorong pihak yang lemah untuk menerapkan strategi picik, seperti polusi dan kekacauan pasar (market chaos), instabilitas dan polusi politik, penghancuran komoditas lewat penyebaran virus secara terencana, social chaos, dan pembentukan opini publik.

    Menurut saya,ASIA-Pacific Economic Cooperation (APEC) tidak bisa dipisahkan dari peranan Indonesia. Indonesia memainkan peran yang sangat menentukan untuk merumuskan visi APEC. Indonesia juga berperan aktif dalam mencetuskan Bogor Goals, yaitu mewujudkan kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka tahun 2010 untuk negara maju serta 2020 untuk negara berkembang. Anggota APEC saat ini merepresentasikan sepertiga populasi dunia dan hampir 50% kekuatan perekonomian global. potensi pasar global dan gravitasi aktivitas ekonomi dunia berada di kawasan ini. Masalahnya kini, seberapa jauh manfaat dan efektivitas forum APEC bagi perdagangan dan investasi Indonesia.
    Para pendukung APEC mengajukan keuntungan APEC sebagai berikut. Pertama, APEC masih dapat bermanfaat bagi Indonesia, khususnya dalam hal peningkatan fasilitas perdagangan dan investasi serta kerja sama ekonomi dan teknis. Kerja sama APEC tetap relevan mengingat anggotanya dapat mendiskusikan isu-isu perdagangan dan investasi tanpa harus bernegosiasi.Suatu hal yang tidak dapat dilakukan di World Trade Organization (WTO). sesuai dengan Bogor Goals, liberalisasi perdagangan akan dilaksanakan pada 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang.Hal tersebut bisa menjadi:
    a. benchmark untuk mengukur tingkat kesuksesan liberalisasi perdagangan forum kerja sama tersebut,
    b. memacu Indonesia mempersiapkan diri secara serius menuju era liberalisasi perdagangan dan investasi.
    c. prinsip open regionalism masih tetap kental dalam forum APEC. Artinya, isu nondiskriminasi dan perlakuan yang sama bagi negara nonanggota, tetap merupakan salah satu daya tarik APEC.
    d, pertemuan para pemimpin informal (informal leaders meeting) terbukti masih dapat digunakan untuk memecahkan isu-isu yang dianggap sensitif, baik pada level bilateral, trilateral maupun multilateral.

    Adanya mekanisme untuk membahas isuisu baru seperti competition policy and investment serta non-economic issues tanpa melalui negosiasi. Kritik terhadap APEC bukannya tidak ada. APEC tidak efektif dan kurang responsif. Bahkan mempertanyakan relevansi APEC dalam memajukan kesejahteraan masyarakat. Ini bisa dipahami karena beberapa perkembangan di dalam APEC itu sendiri seperti trade facilitation dan capacity building sulit diukur manfaatnya. Selain itu, meskipun pembentukan APEC lebih berdasarkan pada globalisasi dan liberalisasi ekonomi, sejak 2001 APEC mulai memasukkan isu-isu yang tidak terkait dengan ekonomi seperti isu keamanan dan sosial. Memang harus diakui, indikator-indikator ekonomi dimaksud tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan sosial (social welfare).

  21. NAMA : BIAN LAZUARDI

    NPM : 093401023

    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Manfaat APEC Bagi Indonesia antara lain sebagai berikut :
    1. APEC merupakan forum yang fleksibel untuk membahas isu-isu ekonomi internasional.
    2. APEC merupakan forum konsolidasi menuju era perdagangan terbuka dan sejalan dengan prinsip perdagangan multilateral
    3. Peningkatan peran swasta dan masyarakat Indonesia menuju liberalisasi perdagangan
    Salah satu pilar APEC yaitu fasilitasi perdagangan dan investasi secara langsung akan memberikan dampak positif bagi dunia usaha di Indonesia. Beberapa inisiatif APEC yang memberikan manfaat kepada dunia usaha di Indonesia antara lain melalui pelaksanaan APEC Business Travel Card (ABTC) serta penyederhanaan prosedur kepabeanan.
    4. Peningkatan Human and Capacity Building
    Indonesia dapat memanfaatkan proyek-proyek APEC untuk peningkatan kapasitas dan peningkatan sumber daya manusia, baik yang disponsori oleh anggota ekonomi tertentu maupun melalui skema APEC.
    5. Sumber peningkatan potensi ekonomi perdagangan dan investasi Indonesia. Indonesia memiliki potensi untuk memanfaatkan potensi pasar APEC bagi peningkatan ekspor maupun arus investasi, khususnya karena mitra dagang utama Indonesia sebagian besar berasal dari kawasan APEC.
    6. APEC sebagai forum untuk bertukar pengalaman
    Forum APEC yang pada umumnya berbentuk policy dialogue memiliki manfaat yang sangat besar terutama untuk menarik pelajaran dan pengalaman positif maupun negatif (best practices) anggota APEC lainnya dalam hal pengambilan dan pembuatan kebijakan liberalisasi perdagangan dan investasi.
    7. Memproyeksikan kepentingan-kepentingan Indonesia dalam konteks ekonomi internasional
    8. APEC merupakan salah satu forum yang memungkinkan Indonesia untuk memproyeksikan kepentingan kepentingannya dan mengamankan posisinya dalam tata hubungan ekonomi internasional yang bebas dan terbuka.

    B. Kelemahan APEC : Dampak Globalisasi Pertanian
    Globalisasi secara teoretis penuh dengan tuntutan atas negara-negara yang ingin (dipaksa harus) terlibat, seperti mengendurkan bea masuk, mengendurkan proteksi, mengurangi subsidi, memangkas regulasi ekspor- impor, perburuhan, investasi, dan harga, serta melakukan privatisasi atas perusahaan milik negara. Kondisi tersebut tidak akan banyak membawa produk-produk lokal ke pasar internasional. Sekalipun perusahaan-perusahaan TNCs dibebani tanggungjawab sosial, namun fenomenanya tidak akan jauh berbeda dengan pola kemitraan atau contrac farming yang pada hakekatnya bermodus eksploitasi. Syarat-syarat yang ditetapkan sesungguhnya merupakan perangkap yang sulit ditembus oleh negara dunia ketiga. Kecenderungannya akan mempercepat proses penurunan daya saing produk lokal. Pada perkembangnnya, segala sesuatu yang berbau lokal akan melemah dan hilang. Mahatir (Kompas, 5/2/2004) berpendapat bahwa pengintegrasian perekonomian dunia hanya akan membawa malapetaka bagi negara berkembang. Itu bukan hanya merusak ekonomi lokal, tetapi juga akan menciptakan perlambatan ekonomi, anarki ekonomi, dan kekacauan sosial
    Globalisasi cenderung menghancurkan tatanan dan modal-modal sosial. Meskipun gagasannya dituangkan dalam kerangka pemberdayaan masyarakat sebagai penampakan corporate social responsibility TNCs, namun hasilnya tetap tidak pernah terwujud. Menurut Pollnac (1988) dan Garkovich (1989), menghadirkan sebuah lembaga baru dalam suatu masyarakat dengan maksud memotong struktur hubungan atau jaringan (sosial, komunikasi, kerja) yang telah terpola atau berlangsung mapan, merupakan skenario yang tidak mengindahkan karakteristik sosio-budaya dan pranata lokal, dan dengan ini kegagalan bisa terjadi. Impor berbagai produk dan bahan baku pertanian kian hari kian meningkat. Meskipun jumlah produk pertanian yang diekspor dan dipasarkan di pasar domestik jauh lebih tinggi daripada impor, namun selisih nilainya hanya 2 persen. Nilai 2 persen sesungguhnya tidak berarti, karena jika dianalisis, nilai transaksi berjalan produk pertanian Indonesia itu sesungguhnya devisit. Betapa tidak, produk pertanian yang diekspor oleh Indonesia sesungguhnya adalah produk yang padat dengan input luar (impor). Keunggulan produk tersebut jelas sangat bersifat kompetitif semu. TNCs sebagai pihak yang paling tahu akan efisiensi memandang bahwa proses produksi usahatan (on-farm) sangat rentan terhadap risiko dan ketidakpastian, untuk itu ia menerapkan strategi kemitraan atau contract farming. Sebagaimana dikatakan Evans (1979) dan Warren (1980), negara ketiga bisa menikmati kemajuan meskipun berada dalam kondisi ketergantungan, suatu proses yang disebutnya sebagai dependent development. Namun keuntungan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan biaya dan kerugian yang harus ditanggung, seperti gangguan kesehatan, pencemaran lingkungan, serta risiko dan ketidakpastian lainnya. Dampak yang paling kentara adalah terjadinya “kemandegan inovasi” dalam seluruh sistem agribisnis. Ini merupakan implikasi dari ketergantungan pada produk-produk impor. Pemikiran efisiensi yang diadopsi secara mentah-mentah telah menyebabkan bangsa yang kaya akan sumber daya ini jatuh pada budaya instan dan malas. Produk-produk yang senyatanya dapat diproduksi di dalam negeri didatangkan dari luar hanya karena alasan murah. Para pelaku importir yang sesungguhnya merupakan perpanjangan tangan dari TNCs dapat dengan mudah mendatangkan produk-produk dari luar karena longgarnya regulasi ekspor-impor. Dampak budayanya adalah melemahnya penghargaan atas produk-produk lokal, sebagai akibat dari berkembangnya budaya konsumerisme yang kebarat- baratan (western). Kondisi ini jelas sangat menguntungkan TNCs, karena secara perlahan inovasi lokal tercerabut dari budayanya. Ini merupakan peluang besar bagi investasi. Dampak lainnya adalah tidak berperannya kelembagaan-kelembagaan pendukung pertanian lokal. Hal ini terjadi karena TNCs selaku pihak yang kuasa, telah memasok segala kebutuhan petani (buruh) secara langsung. Pada kondisi seperti ini kreativitas dan keinovatifan kelembagaan pendukung pertanian pemerintah malah menjadi mandul.

    Menurut saya,ASIA-Pacific Economic Cooperation (APEC) tidak bisa dipisahkan dari peranan Indonesia. Indonesia memainkan peran yang sangat menentukan untuk merumuskan visi APEC. Indonesia juga berperan aktif dalam mencetuskan Bogor Goals, yaitu mewujudkan kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka tahun 2010 untuk negara maju serta 2020 untuk negara berkembang. Anggota APEC saat ini merepresentasikan sepertiga populasi dunia dan hampir 50% kekuatan perekonomian global. potensi pasar global dan gravitasi aktivitas ekonomi dunia berada di kawasan ini. Masalahnya kini, seberapa jauh manfaat dan efektivitas forum APEC bagi perdagangan dan investasi Indonesia.
    Para pendukung APEC mengajukan keuntungan APEC sebagai berikut. Pertama, APEC masih dapat bermanfaat bagi Indonesia, khususnya dalam hal peningkatan fasilitas perdagangan dan investasi serta kerja sama ekonomi dan teknis. Kerja sama APEC tetap relevan mengingat anggotanya dapat mendiskusikan isu-isu perdagangan dan investasi tanpa harus bernegosiasi.Suatu hal yang tidak dapat dilakukan di World Trade Organization (WTO). sesuai dengan Bogor Goals, liberalisasi perdagangan akan dilaksanakan pada 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang.Hal tersebut bisa menjadi:
    a. benchmark untuk mengukur tingkat kesuksesan liberalisasi perdagangan forum kerja sama tersebut,
    b. memacu Indonesia mempersiapkan diri secara serius menuju era liberalisasi perdagangan dan investasi.
    c. prinsip open regionalism masih tetap kental dalam forum APEC. Artinya, isu nondiskriminasi dan perlakuan yang sama bagi negara nonanggota, tetap merupakan salah satu daya tarik APEC.
    d, pertemuan para pemimpin informal (informal leaders meeting) terbukti masih dapat digunakan untuk memecahkan isu-isu yang dianggap sensitif, baik pada level bilateral, trilateral maupun multilateral.

    Adanya mekanisme untuk membahas isuisu baru seperti competition policy and investment serta non-economic issues tanpa melalui negosiasi. Kritik terhadap APEC bukannya tidak ada. APEC tidak efektif dan kurang responsif. Bahkan mempertanyakan relevansi APEC dalam memajukan kesejahteraan masyarakat. Ini bisa dipahami karena beberapa perkembangan di dalam APEC itu sendiri seperti trade facilitation dan capacity building sulit diukur manfaatnya. Selain itu, meskipun pembentukan APEC lebih berdasarkan pada globalisasi dan liberalisasi ekonomi, sejak 2001 APEC mulai memasukkan isu-isu yang tidak terkait dengan ekonomi seperti isu keamanan dan sosial. Memang harus diakui, indikator-indikator ekonomi dimaksud tidak selalu sejalan dengan kesejahteraan sosial (social welfare).

  22. Nama : Taufik Hidayatulloh
    NPM : 093401015
    Ekonomi Pembagunan

    Dampak integrasi ekonomi yang dilakukan Indonesia terhadap iklim investasi di Indonesia dan pertumbuhan ekonomi.

    Indonesia harus segera memperkuat produk unggulan nasional dalam integrasi dan liberalisasi ekonomi yang menjadi salah satu kesepakatan pertemuan puncak pemimpin ekonomi forum Kerja Sama Asia Pasifik (APEC). Sejalan dengan itu, lobi-lobi intensif di bidang politik dan ekonomi internasional juga perlu lebih diintensifkan.
    APEC diharapkan lebih fokus pada upaya memperkuat integrasi ekonomi guna mewujudkan kawasan perdagangan bebas Asia Pasifik sehingga nantinya berbagai tarif perdagangan dihilangkan dan tidak ada lagi tarif-tarif baru yang akan muncul. volume perdagangan negara-negara anggota APEC meningkat 7,1 persen setiap tahun sedangkan nilai perdagangan intra-APEC meningkat tiga kali lipat dari periode sama. Sedangkan investasi asing yang masuk dan keluar kawasan APEC tumbuh 13 persen pada periode 1994-2008. Nilai rata-rata tarif perdagangan di kawasan Asia Pasifik turun dari 10,8 persen pada 1996 menjadi 6,6 pada 2008.

  23. Randy Juliyandri
    093401001
    Ekonomi Pembangunan
    @randyjuliyandri@blogspot.com

    “Kegiatan keuangan tidak rasional yang dilakukan orang eropa dan amerika menimbulkan krisis ekonomi,mengapa indonesia tidak mengalaminya?”

    Perekonomian dunia saat ini sedang dihantui oleh krisis keuangan yang melanda Eropa dan Amerika Serikat (AS). Beberapa Negara diantaranya dinilai mengalami krisis berat, dan ada yang sudah sangat akut. Dampaknya krisis keuangan pada keseluruhan dinamika ekonomi sudah terasa dan dikhawatirkan akan terus memburuk. Sementara itu, pengamat ekonomi dan keuangan Indonesia rajin mengingatkan, otoritas ekonomi Indonesia pun telah menyatakan kewaspadaannya. Bagaimanapun, harus selalu diwaspadai bahwa AS kini tengah mengalami masalah besar, dimana ketidakseimbangan internal maupun eksternal terjadi dan terus berlanjut. Secara teoritis, seharusnya akan terjadi proses penyesuaian (adjustment) pada mata uangnya, serta pada imbal hasil surat utangnya. Namun, posisi AS diuntungkan oleh posisinya sebagai penyedia likuiditas global, sehingga ekonominya sejauh ini terkesan “normal” dan tetap bisa berutang pada dunia dengan biaya yang sangat murah. Sedangkan krisis di Yunani sejauh ini “ditanggung” oleh Eurozone, khususnya oleh beberapa negara inti.
    Mengapa hal tersebut tidak mempengaruhi Negara Indonesia? Melihat komposisi ekspor impor Indonesia sekarang ini, memang pengaruh langsung krisis seandainya terjadi semakin parah di AS dan Eropa memang akan lebih kecil dibanding pada tahun 1997/ 1998 lalu. Namun jika dilihat arus keluar masuk uang dan modal, pengaruhnya justru bisa lebih besar. Dengan harapan, perimbangan serta penyesuaian arus uang dan modal dunia, termasuk memperhitungkan dana yang dimiliki Cina dan Negara-negara Timur Tengah yang kaya, krisis finansial tak terjadi lagi di Indonesia. Diperkuat oleh masih cukup besarnya cadangan devisa milik kita. Bagaimanapun, situasi dan kondisi yang berlangsung ini belum ada presidennya yang setara sehingga ada berbagai kemungkinan yang tak teramal. Pasar keuangan Indonesia memang terasa dampak negatif dari krisis AS dan Eropa seperti di pasar saham. Akan tetapi, banyak negara di dunia mengalami dampak yang lebih buruk dibanding Indonesia. Indonesia tetap menunjukan kinerja ekonomi yang kuat dan tidak terganggu signifikan terhadap krisis global, fundamental ekonomi makro di Indonesia yang positif merupakan penopang pertahanan utama dalam menghadapi gejolak pasar yang terus berlangsung. pasar saham di negara-negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan akan tetap tumbuh kuat pada 2012. Hal ini, disebabkan pertumbuhan ekonomi di “emerging markets” lebih kuat dibanding dengan negara-negara maju seperti AS dan di Eropa. Akibatnya, dana-dana asing tetap akan memburu instrumen investasi di pasar emerging markets, khususnya kawasan Asia. peringkat investasi Indonesia saat ini belum naik menjadi investment grade (negara layak investasi), namun dana asing terus masuk ke dalam negeri meski kondisi ekonomi global tengah bergejolak. Banyak hal yang dilakukan Indonesia dalam mengantisipasi berbagai krisis yang terjadi, sehingga pada akhirnya Indonesia lolos dan dapat bertahan dari goncangan krisis. Pemerintah berusaha keras di antaranya dengan melakukan penghematan dan disiplin tinggi serta melakukan reformasi besar-besaran dalam memperbaiki kondisi perekonomian Negara.Bank Indonesia adalah tandem dari pemerintah melalui Menteri Keuangan untuk mengelola kebijakan ekonomi makro. Menteri keuangan menangani kebijakan fiskal, sedang bank sentral menangani kebijakan moneter. Selain itu, Bank Indonesia juga bertugas mengatur sistem pembayaran serta mengatur dan mengawasi perbankan
    Di sisi lain, dampak krisis utang di Eropa membuat Indonesia lambat dalam melakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan dan jembatan, ujar Doktor Ekonomi dari Universitas Paris, Sorbonne, Perancis. Untungnya Indonesia mempunyai sumber alam dan nilai ekspor Indonesia terus bertambah, sehingga neraca pembayaran Indonesia selalu mengalami suplus.Sementara itu, Bagi para pejuang ekonomi syariah perlu diingat bahwa kejatuhan sistem moneter dunia, bahkan kehancuran sistem kapitalis seandainya terjadi tidak serta merta membuat ekonomi Islam dapat tampil menjadi alternatif. Pertama, kejatuhan dan kehancuran itu akan berdampak buruk dahulu pada seluruh umat manusia, dan syukur-syukur jika tidak membuat kolaps perekonomian global. Kedua, ekonomi Islam perlu memberi bukti afirmatif yang lebih banyak dan kuat. Dari sisi optimis, memang krisis ini adalah peluang. Wallahu’alam.

  24. TUGAS PERDAGANGAN INTERNASIONAL
    ALASAN TIDAK TERJADI KRISISI DI INDONESIA SEPERTI TERJADINYA DI EROPA DAN AMERIKA

    NAMA : RIDWAN HERDIANTO
    NPM : 093401024
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN 2009

    MEE merupakan salah satu bentuk kesuksesan integrasi ekonomi antar kawasan di suatu benua. Hal ini ditunjukan dengan diterbitkannya mata uang euro yang didengungkan akan menggantikan posisi dolar sebagai mata uang internasional. Namun kebanggaan ini tidak bertahan lama. Guncangan krisis menghantui Negara-negara ini dari tahun 2008 sampai sekarang dan di prediksi semakin parah di 2012.

    Guncangan itu datang dari sistem anggaran Yunani dimana sekarang APBN negara itu bobol setelah sekian lama menahan beratnya belanja publik. Dana asuransi dan pensiun, simbol kemakmuran Eropa, yang selama ini sebagian dibiayai dari utang, sudah tidak bisa ditanggung sistem keuangan.

    Dalam perjalannnya, krisis utang tidak hanya bertahan di Yunani dan pasar obligasinya, tetapi terjadi di negara lain, sebagian karena terkontaminasi krisis utang, tetapi sebagian karena memang mengalami nasib yang sama, anggaran dijebol oleh beban utang.

    Pasalnya, tipikal konsumsi masyarakat dan Pemerintah Yunani terlihat tidak jauh berbeda dengan anggota zona euro lain, seperti Irlandia, Portugal, Italia, Spanyol, Belgia, dan Prancis, bahkan negara di luar zona euro, seperti Inggris, Islandia, Hungaria, dan Swiss. Ini menunjukkan kelangsungan predikat negara kaya dan makmur di Benua Biru perlu dipertanyakan kembali.

    Krisis utang Yunani kemudian menginfeksi dunia karena tidak seperti Jepang yang berutang pada investor domestik, Yunani banyak meminjam kepada investor dan perbankan asing.

    Untuk mengatasi krisis ini uni eropa telah melakukan berbagai upaya. Bank sentral Eropa telah melakukan intervensi pasar dengan membeli obligasi Yunani, Portugal, dan Irlandia. Selain aksi nyata, para pemimpin Uni Eropa juga aktif menyampaikan kebijakan normatif.

    Paket bantuan darurat juga sudah diatur sedemikian rupa, tetapi tidak semudah itu. Eropa masih dihadapkan sejumlah tantangan dalam menjalankan strategi keluar dari krisis. Dari dalam negeri negara pengutang, muncul penolakan. Rakyat tidak rela dengan paket penghematan anggaran yang langsung dirasakan dengang berkurangnya belanja publik, seperti asuransi dan aturan dana pensiun yang selama ini menjadi kebanggaan dan simbol kemamkuran Eropa.

    Selain pangkas defisit, negara diwajibkan menjual saham pemerintah di BUMN strategis, seperti perusahaan di sektor telekomunikasi, pelabuhan, bandara, perbankan, dan pertambangan kepada asing. Kebijakan itu menuai aksi protes rakyat. Pasalnya, pengetatan anggaran yang terlalu berlebihan dapat merusak kegiatan ekonomi. Apalagi dunia sedang terancam masuk resesi. Usulan solusi lain adalah menerbitkan aturan baru untuk memberlakukan disiplin fiskal bersama.

    Krisis ekonomi yang melanda negara Eropa, dinilai tidak mengkhawatirkan bagi Indonesia. Pasalnya, tingkat Konsumsi Rumah Tangga dan output ekonomi di sektor jasa menjadi bagian terbesar dari pendapatan perekonomian Indonesia.
    Sebanyak 60% hasil produksi Indonesia dikonsumsi sendiri di dalam negeri dan output ekonomi Indonesia di sektor jasa sebanyak 40% lebih besar dari sektor pertanian dan industri, Indonesia tidak mengalami ketergantungan ekspor-impor dengan Eropa, berbeda dengan Singapura yang 250% output ekonominya dari sektor perdagangan dunia. Utang luar negeri pemerintah Indonesia per tahun 2011 sebanyak US$ 130 miliar dan swasta sebesar US$ 100 miliar, masih relatif aman, jika dibandingkan dengan output ekonomi Indonesia yang besarnya US$ 774,726 miliar dalam kurun tahun 2011 ini. (sumber::inance.detik.com)
    Indonesia juga bisa terhindar dari efek buruk krisis ekonomi Eropa bilamana jumlah wirausahawan semakin bertambah dan mengurangi anggaran belanja untuk menggaji pegawai-pegawai negeri. Jika kita melihat pada krisis ekonomi Eropa yang bermula di Yunani pada tahun 2008, salah satu faktornya adalah belanja untuk gaji pegawai pemerintahan di Yunani sebesar 60% dari total anggarannya.

    Posisi Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G-20, yang bertengger di posisi 15 dari tingkat Gross Domestic Product Purchasing Power Parity (GDP PPP) atau Produk Domestik Bruto-nya, setingkat di bawah Kanada, serta bersaing dengan China dan India yang paling cepat pertumbuhan ekonominya, membawa rasa optimisme yang tinggi untuk kemajuan perekonomian Indonesia.

  25. Nama : Rini Wulansari
    NPM : 093401019
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Tugas Perdagangan Internasional
    Dampak Krisis Eropa di Indonesia

    Krisis utang Eropa yang dipicu dari tumbangnya perekonomian Yunani menimbulkan efek domino terhadap negara-negara di kawasan tersebut. Penularan krisis yang kemudian terjadi ke Spanyol, Portugal, dan terakhir merembet ke Italia. Memburuknya perekonomian di kawasan Eropa juga disusul dengan melambatnya pemulihan ekonomi dan angka pengangguran di Amerika Serikat yang mencapai 9%. Secara global, masalah ini jelas akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi internasional.

    terjadinya situasi ini tidak menentu, berakibat pada semakin berkurangnya belanja masyarakat hal ini terjadi pada golongan masyarakat menengah ke bawah termasuk masyarakat menengah atas. Sebagian besar dari masyarakat yang tinggal di kawasan Eropa beranggapan bahwa penyatuan mata uang euro menjadi pemicu utama tepuruknya kondisi ekonomi masing-masing negara.

    Sebelum terjadinya krisis utang Eropa, beberapa negara Italia, Prancis, Spanyol, dan Belanda telah merasakan akibat buruk dari penggunaan mata uang tunggal. Negara-negara itu merupakan tempat tujuan wisata yang tidak pernah sepi pengunjung.

    Krisis utang yang terjadi di Eropa membuat pemerintah berlomba-lomba untuk memangkas jaminan sosial untuk warga negaranya. Pemangkasan sejumlah jaminan sosial ini membuat masyarakat mulai mencari pekerjaan di negara lain seperti Kanada. Sementara itu, warga Eropa yang biasanya mencari pekerjaan di Amerika Serikat, tidak dapat tertampung karena di negara Paman Sam sendiri, angka pengangguran sudah mencapai 9%.

    Mereka yang bermodal besar lebih fokus untuk bagaimana mencari tempat baru untuk berinvestasi. Kawasan Asia merupakan wilayah yang menjadi lirikan para investor yang berlangganan berinvestasi di Amerika Serikat dan Eropa.

    Pelarian modal ke kawasan Asia ini dikarenakan kawasan ini dianggap cukup kuat untuk menghadapi krisis global

    Dampak krisis eropa terhadap Indonesia bisa dikatakan tidak begitu mengkhawatirkan. Indonesia melakukan banyak perdagangan dengan negara-negara Asia lainnya dan negara berkembang bukan dengan negara-negara Eropa. Sehingga Indonesia telah melakukan 16,4 persen dari perdagangan luar negeri dengan Jepang, 8,89 persen dengan Amerika Serikat dan 7,48 persen dengan Singapura. Pasar eropa bukan merupakan pasar utama bagi perdagangan luar negeri indonesia. perdagangan luar negeri Indonesia dengan negara-negara Eropa yang relatif kecil. Jika digabungkan, perdagangan indonesia dengan anggota Uni Eropa rekening negara hanya 11,3 persen dari keseluruhan perdagangan luar negeri Indonesia.

    perekonomian suatu negara ditentukan oleh tiga faktor, pergerakan orang, uang dan barang. Dimana faktor terakhir yang bersangkutan, perekonomian Indonesia tidak akan terpengaruh oleh krisis ekonomi Eropa. 60 persen dari pertumbuhan ekonomi domestik disumbangkan oleh konsumsi swasta dan 6-7 persen oleh konsumsi pemerintah. konsumsi swasta atau rumah tangga terdiri bagian terbesar dari perekonomian Indonesia. Secara keseluruhan, konsumsi swasta memainkan peran penting dalam pertumbuhan ekonomi Negara
    Kendati ekonomi beberapa negara besar di Eropa tengah terjadi, namun pengaruhnya tidak begitu besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, ekonomi Indonesia tidak berhubungan langsung dengan negara-negara yang ada di Eropa.

    Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi yang tengah dihadapi benua biru sekarang ini. Karena, kita tidak sepenuhnya terhubung dengan eropa.
    pengaruh krisis ekonomi eropa tentu saja ada pengaruhnya bagi perekonomian bagi ekonomi di Indonesia. Tapi, Indonesia memiliki pondasi ekonomi yang kuat. Pondasi itu adalah seperti cadangan devisa Indonesia yang tinggi dan juga sisi ekspor juga kuat.

    Ekspor Indonesia hanya 25 persen terhadap pertumbuhan GDP. Sehingga jika ada gangguan terhadap ekspor, Indonesia bias mengantisipasi gangguan tersebut dengan mengekspansi market domestik Indonesia.
    Sudah banyak langkah yang diambil pemerintah untuk mengantisipasi krisis ekonomi yang melanda negara-negara di Eropa. mulai dari protokol untuk menjaga pasar SUN, modal keuangan kita, market domestic, ekspor Negara Indonesia.

  26. Nama : Pratama Ramdhani
    NPM : 093401016
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Tugas Kuliah

    Indonesia tidak terkena dampak krisis Eropa :

    Dalam krisis yang melanda kawasan Eropa, Indonesia beruntung tidak terkena dampak dari adanya krisis Eropa tersebut. Kalaupun Indonesia terkena dampaknya, dampak krisis itu sangat minimal, hanya terjadi pada beberapa sektor saja, contohnya yaitu Sejumlah usaha kerajinan kayu di Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) terkena dampak krisis ekonomi Eropa. Pasalnya selama ini para perajin banyak memasarkan produk mereka ke sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Spanyol dan Turki. Dari empat unit usaha yang ada di kabupaten setempat, yang beroperasi tinggal satu itu pun mengalihkan pasar ke luar Eropa.

    Dalam hal ini ada beberapa faktor pendukung yang menyebabkan Indonesia tidak terkena dampak resesi dari krisis Eropa yaitu karena Indonesia dinilai memiliki banyak kekuatan seperti permintaan domestik yang cukup tinggi, permintaan domestik yang besar ini menjadi kunci pertumbuhan utama, terlebih lagi Indonesia tidak terlalu bergantung dengan negara lain seperti Amerika dan Eropa dibanding negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia. Ekspor mereka ke Eropa dan Amerika cukup besar, sehingga jika Amerika terkena resesi, akan merusak ekspor mereka. Di Indonesia persentase lebih rendah, sehingga masih kuat. Selain itu, para investor tidak mau memegang surat berharga Eropa dan mereka lebih memilih menambatkan dananya ke pasar Asia. Investor asing yang masuk ke Indonesia tentunya dapat mendorong likuiditas dan harga pasar menjadi lebih baik, meski dihantui krisis Eropa. Jadi, yield (imbal hasil) dan credit rating kita pun semakin baik.

    Jika dikaitkan dengan analisis ISLM, factor pendukung yang lain yang menyebabkan Indonesia tidak terkena dampak dari krisis yang dialami oleh kawasan Eropa adalah luasnya pasar tenaga kerja dan pasar modal domestic yang dimiliki Indonesia. Indonesia memiliki banyak populasi muda atau SDM yang usianya masih produktif. Mungkin 51 persen di Indonesia terdiri dari kalangan muda. Ini adalah hal yang positif, karena pada 20 tahun lagi mereka akan memasuki dunia kerja. Mereka akan menjadi pribadi yang produktif, dan berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi. Hal ini sangat menarik, sekitar 15-20 tahun lagi dari sekarang, mereka akan memiliki pekerjaan, memiliki rekening, membeli rumah, membutuhkan pinjaman, kartu kredit dan ini menguntungkan bagi dunia perbankan khususnya di Indonesia.

    Ekonomi Indonesia juga diuntungkan oleh situasi internasional di mana Eropa dan AS sedang mengalami pelemahan ekonomi dan banyak lembaga keuangan dan investor mencari negara tujuan investasi yang lebih berprospek di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Ini semua mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih kuat sehingga dampak yang ditimbulkan oleh krisis Eropa ke Indonesia akan seminimal mungkin dirasakan oleh Indonesia. Kalau pun dampaknya nyata terlihat, hal itu terjadi melalui jalur sektor keuangan. Sementara untuk jalur sektor perdagangan internasional, dampaknya relatif minimal.

    Kendati demikian, Indonesia harus tetap waspada dari ancaman krisis Eropa ini. Ekspor Indonesia ke negara-negara yang terkena krisis ekonomi seperti Yunani dan Italia memang kecil, namun Indonesia mengekspor ke China yang merupakan negara pengekspor ke negara-negara yang terkena krisis. kalau sampai China terpengaruh, Indonesia juga akan terpengaruh. Dalam jangka pendek, hubungan (dampak) langsung antarbank adalah kecil, namun dalam jangka menengah panjang, kita akan terkena dampak. Itulah mengapa Indonesia dikatakan tidak resisten terhadap krisis.

  27. Nama:Gun GUn Gunawan
    NPM :093401018
    JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN

    Tugas Perdagangan Iternasional
    Alasan Tidak Terjadinya Krisis Di Indonesia Seperti Terjadi Di Eropa Dan Amerika

    Indonesia, seperti saya katakan, memiliki kebijakan makro ekonomi yang solid, kepercayaan investor pada pembangunan fisik, booming harga komoditas dunia, pertumbuhan konsumsi yang intensif, dan pertumbuhan kelas menengah. Ini semua mendorong pertumbuhan ekonomi.Ekonomi Indonesia juga diuntungkan oleh situasi internasional di mana Eropa dan AS sedang mengalami pelemahan ekonomi dan banyak lembaga keuangan dan investor yang tengah mencari pasar di negara berkembang untuk investasi. Krisis ekonomi lebih parah dari tahun 1998 diperkirakan Assosiasi Pengusaha Nasional Indonesia (APINDO) terjadinya kembali di Indonesia jika pemerintah tidak mampu mencegahnya. Untuk itu, Apindo menyarankan pemerintah memperkuat pasar untuk industri dalam negeri dengan membatasi masuknya barang-barang impor dan percepatan pembangunan infrastruktur.
    Demikian disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) APINDO kepada wartawan di Bandara Polonia Medan, Senin (26/9) ketika ditanya seputar kondisi terkini perekonomian Indonesia.
    sejumlah pengurus pusat di antaranya Kris Kanter dan Ketua Umum Apindo Sumut Parlindungan Purba SH menggatakan, situasi ancaman krisis ekonomi tahun depan bakal lebih jelek disebabkan beberapa negara di kawasan Eropa dan Amerika mulai mengalami goncangan ekonomi seperti Junani, Irlandia dan Portugal yang akan disusul negara Spanyol dan Italia.
    Kalau tahun 2008 itu krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia hanya disebabkan perusahaan-perusahaan anjlok seperti Lyman di Amerika Serikat. Makanya, kalau negara-negara Eropa dan Amerika Serikat goncang, krisis yang melanda Indonesia akan lebih parah lagi,” ujarnya. Krisis keuangan di negara-negara Eropa, lanjutnya, menurunkan volume perdagangan atau ekspor produk-produk utamanya komoditi ekspor unggulan dari Indonesia seperti kelapa sawit dan migas bakal. Kita masih ada kontrak ekspor terutama komoditi unggulan seperti sawit dan migas. Kalau kontrak diperpanjang, kemungkinan harga belinya bakal lebih rendah. Karena krisis keuangan di negara-negara itu susah, bank-bank pun memperketat pemberian pinjaman demi menyelamatkan bank-banknya,” jelasnya.
    Selain itu investor asing yang sudah komit untuk menanamkan investasinya di Indonesia pun pasti akan menunda dulu. “Untuk apa dia membangun pabrik atau industri di sini (Indonesia-red) kalau pabriknya pun berlebihan dimana-mana sementara produk-produknya nanti tidak bisa terjual,” terangnya.
    Untuk mengantisipasi agar tidak terjadi krisis ekonomi yang lebih parah di Indonesia, Apindo, memberi saran agar pemerintah memperkuat pemasaran produk-produk dalam negeri, jangan sampai diambil alih produk-produk dari luar negeri yang selama ini terkesan dibiarkan terlalu bebas masuk.Saran yang disampaikan APINDO berikutnya lanjut pemerintah harus menambah anggaran untuk pembangunan infrastruktur dalam APBN tahun 2012 mendatang. Soalnya, dari Rp 1200 Triliun APBN tahun anggaran 2011 kata dia, sector infrastruktur hanya mendapat porsi 8 persen. Sementara tahun 2010 lalu anggaran untuk infrastruktur bisa sampai 20 persen.
    “Alasan pemerintah, karena subsidi untuk minyak, pertanian dan lain-lain maka budget untuk pembangunan infrastruktur hanya tinggal 8 persen. Itu pun anggarannya belum bisa dilaksanakan secara cepat dan masih banyak yang tertunda-tunda. Ini harus diperbaiki pada 2012 kalau kita tidak mau mengalami krisis ekonomi yang lebih parah,”

  28. Nama : Ligar Cahya Solihat
    NPM : 093401003
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Kuliah Perdagangan Internasional
    Permasalahan krisis utang ini sebenarnya bukanlah hal baru, karena sejak 2009 mulai melilit beberapa negara Eropa seperti Yunani, Irlandia, Potugal, Italia dan Spanyol. Bahkan kabar terakhir, Perancis pun sudah terindikasi masalah yang sama. Dengan bergabungnya AS kedalam pusaran krisis utang dan defisit anggaran ini, maka diprediksi akan terjadi pelemahan terhadap pemulihan ekonomi global yang terhantam badai subprime mortgage pada 2008 lalu. Masih terbuka kemungkinan lembaga pemeringkat dunia seperti S&P menurunkan peringkat utang negara-negara maju tersebut.
    Para pemimpin dunia merespon situasi genting tersebut dengan melakukan beberapa kebijakan tanggap darurat dan berkomitmen untuk mengintervensi pasar sepanjang diperlukan. Bank Sentral Eropa (ECB), BOJ (Jepang) dan lainnya juga menegaskan untuk mengantisipasi kepanikan pasar global. Kebijakan Eropa ini diharapkan membantu The Fed (AS) yang sudah kepayahan karena ruang manuvernya semakin sempit. Namun komitmen Bank Sentral Eropa juga masih diragukan pasar karena dia sendiri sudah terbebani masalah krisis utang anggotanya. Bahkan IMF sendiripun sudah dianggap gagal menyelamatkanYunani. Peringkat utang Yunani pada 2009 adalah A- menjadi “Junk Bond” pada 2011 sekalipun IMF sudah aktif membantu sejak Mei 2010.
    Perekonomian AS yang dekade sebelumnya begitu adidaya mulai kehilangan perannya dalam percaturan ekonomi global. Penurunan peringkat utang AS benar-benar menampar kewibawaan AS. Para ekonom dan analis keuangan global, meprediksi bahwa lansekap aristektur keuangan global akan segera bergeser ke Asia seiring melemahnya ekonomi AS danEropa. Meningkatnya kekuatan ekonomi Asia membuat kawasan ini berpotensi menjadi pusat gravitasi ekonomi global yang baru dalam 15-20 trahun mendatang. Hal tersebut didukung bahwa pemberi pinjaman terbesar bagi AS saat ini adalah Jepang dan China.
    Perekonomian AS dan Eropa yang sebelumnya dibangun melalui kebijakan industri yang solid dan intergratif plus dukungan teknologi tinggi terbukti mampu menjadi pusat ekonomi global. Namun secara sistematis, kebijakan industri barat mulai tergantikan oleh kebijakan liberalisasi keuangan yang didukung penuh oleh para ekonomnya. Policy makers AS khususnya lebih berusaha meningkatkan daya saing perekonomiannya pada lewat industri keuangan dan meninggalkan kebijakan industrinya. Industri keuangan AS dan Eropa memang dikenal sangat canggih berkembang pesat dan pada akhirnya “menguasai” perekonomian dunia terutama di pasar finansial global. Krisis subprime mortgage pada 2008 lalu, merupakan babak final kejayaan liberalisasi keuangan sekaligus sinyal kuat akan potensi kekacauan ekonomi global di masa depan. Ketidakseimbangan kebijakan industri dan liberalisasi pasar keuangan terutama perdagangan instrumen derivatif telah memicu AS dan Eropa masuk ke dalam kubangan krisis ekonomi yang melelahkan.
    Di sisi lain, lembaga pemeringkat melihat potensi pemulihan ekonomi AS semakin lemah apalagi setelah defisit anggarannya dibatasi. Rasio utang terhadap PDB AS sudah hampir 100% juga menunjukkan bahwa perekonomiannya sudah sangat sulit bergerak sehingga prospek pertumbuhannya semakin pesimis. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, kembali The Fed akan segera mengeuarkan Quantitative Easing III (QE3) sebesar USD447 miliar untuk mencoba menstimulus ekonomi AS. Namun QE3 juga tidak benar-benar memberikan harapan positif bagi AS karena kebijakan QE3 tersebut hanyalah sekadar upaya pencegahan agar krisis ekonomi tidak semakin parah dan merambat terlalu cepat. Jadi secara umum, kondisi pemulihan ekonomi AS dan global masih rapuh sekalipun QE3 direalisasikan sepenuhnya dan sebaliknya akan menciptakan overliquidity di pasar global. Limpahan likuiditas tersebut justru berpotensi mengkerek harga komoditas dan emas serta mengalir ke emerging market seperti Indonesia, misalnya.
    Sepanjang September 2011, Wall Street diliputi ketidakpastian sehingga bursa AS tersebut kurang bergairah. Indeks Dow Jones turun dan S&P melemah. Ini penurunan terendah sejak 22/08/11 lalu. Salah satu penyebab lesunya pasar modal global adalah masalah krisis utang Yunani yang semakin tidak jelas namun pasar masih sedikit berharap pada pencairan QE3 dan bantuan Jerman. Situasi tersebut diperburuk oleh obligasi Yunani sudah diambang default dan potensi penurunan peringkat utang Eropa.
    Arus dana akan terus membanjiri Indonesia sepanjang pemulihan ekonomi AS dan Eropa masih belum menjanjikan investor. Krisis utang AS dan Eropa memang mengancam BEI, namun itu hanya dalam jangka pendek saja. Diprediksi ancaman krisis tersebut hanya sekitar 6-9 bulan ke depan saja. Namun dalam jangka menengah panjang, merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk menampung dana dari AS dan Eropa tersebut. Bukan hanya SUN tetapi juga pasar modal. Sekarang semua tergantung kepada kesiapan pasar finansial kita tentunya. Mungkin hanya beberapa swasta nasional dan BUMN yang siap bersaing mendapatkan dana asing yang murah dan mudah tersebut. Maka dapat diprediksi dengan struktur pasar modal yang begitu rentan terhadap ekses likuiditas eksternal ditopang kapasitas ekonomi nasional yang mudah overheating, maka akan memicu berbagai masalah moneter baru. Sementara di tingkat regional Asia perekonomian China yang selama 5 tahun terakhir tumbuh pesat juga berpotensi mengalami penggelembungan nilai aset pasar finansialnya. Salah satu indikatornya adalah meroketnya harga properti di China. Sedangkan pada tingkat global, ketidakpastian masih begitu tinggi dengan berbagai kejutan yang tidak diharapkan pasar. Ketidakpastian solusi krisis utang Eropa semakin membuat outlook ekonomi global pada 2012 diprediksi suram. Hal ini semua akan memberikan imbas risiko investasi yang sulit diprediksi pada pasar finansial Indonesia. Pemerintah dan BI harus terus waspada menggunakan protokol teknikal yang ada serta anggaran yang memadai untuk meredam fluktuasi hingga 15% dalam periode 3 bulan.
    Tekanan pasar uang Eropa memberikan imbas yang cukup signifikan terhadap pelemahan rupiah. Indonesia hanya memiliki instrumen manajemen protokol krisis ekonomi, yang bisa dijadikan alat peredam terhadap dampak krisis yang berkelanjutan tersebut. Meski begitu Asia, dan salah satunya Indonesia sebagai emerging market yang prospektif, memiliki kesempatan karena tingginya pertumbuhan GDP, inflasi yang terkendali, disertai meningkatnya nilai aset ekuitas dan obligasi. Dampak negatif bagi Indonesia terasa di sektor saham. Namun, dampak positif dinilai lebih terasa seperti di obligasi, pasar uang, kredit perbankan, dan perekonomian domestik. BI memiliki mandat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dan pembelian SBN untuk menjaga agar rupiah tidak membanjiri pasar.
    Melihat kondisi perekonomian AS dan Eropa saat ini, maka wajar jika banyak pihak, baik para analis, periset, ekonom hingga investor masih meragukan pemulihan ekonomi AS dan Eropa dalam waktu singkat. George Soros, kampiun investor global mengatakan bahwa “perekonomian dunia dalam mara bahaya dan akan menimbulkan konsekuensi politik tak terhitung”. Pihak World bank berpendapat bahwa perekonomian Eropa yang parah dan stagnasi ketenagakerjaan di AS mengidikasikan pertumbuhan ekonomi yang pesimis. Hal ini terjadi akibat AS, Eropa dan Jepang terlalu lama menunda-nunda keputusan sulit.

  29. Nama : Adriana Gumbira
    NPM : 093401010
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    “Mengapa di Indonesia Tidak Terjadi Krisis Ekonomi Pada Tahun 2008 Seperti di Eropa & Amerika?”

    Krisis ekonomi global 2008 akhirnya terjadi juga dan dampaknya mulai terasa di Indonesia juga di seluruh dunia. Pasar modal di AS, Eropa, Asia dan seluruh bagian dunia lainnya hancur luluh diterpa badai krisis. Struktur keuangan global sudah hampir “melting down”, begitu kata beberapa sumber terpercaya dunia
    .
    Krisis ini dimulai dari hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi yaitu Subprime Mortgage yaitu semacam kredit KPR bagi orang-orang yang sebenarnya tidak layak mendapat kredit. Di AS, setiap orang yang akan mendapatkan kredit dari bank harus mempunyai credit score dengan jejak rekam baik yang dikeluarkan oleh semacam lembaga independen. Angka pada credit score didasarkan data historis kemampuan dan kepatuhan anda dalam membayar cicilan (repayment) hutang bank atau lembaga finansial lainnya selama ini. Lalu terjadi perubahan penilaian dari tim ekonomi Bush, yaitu mengijinkan bank untuk memberikan kredit kepada orang yang tidak masuk kategori layak kedit yang disebut subprime. Selanjutnya dikenal umum sebagai subprime mortgage. Tentu bunganya lebih tinggi, karena resiko gagal cicilannya (repayment default) juga lebih besar.

    Bangkrutnya beberapa raksasa finansial dan asuransi dunia itu, tentu sangat mencemaskan pasar keuangan global, lambat laun mengkikis kepercayaan sehingga menimbulkan rasa takut di pasar modal. Seiring dengan itu, krisis kredit macet semakin tidak terkendali lagi dan mulai merembet ke berbagai sektor di AS, Eropa dan Jepang. Bahkan peringkat obligasi beberapa perusahaan kaliber dunia seperti General Electric, FMC, Chrysler, dan GM pun diturunkan.

    Wall street sebagai raksasa bursa saham terbesar di dunia mulai goyah, lalu pelan tapi pasti menuju kehancuran dibarengi kepanikan pasar yg irrasional luar biasa. Long bearish trend pun dimulai yang diikuti seluruh pasar modal dunia. Sebelumnya, beberapa upaya konvensional dilakukan oleh The Fed seperti menurunkan suku bunga bartahap sampai hanya 1%, bahkan zero percent regime pun diberlakukan di AS. Namun upaya The Fed ternyata masih belum menolong ekonomi yang semakin lemah. Maka krisis ekonomi globalpun dimulai, Wall Steet mengalami penurunan tajam dalam 7 hari berturut-turut sampai saat ini masih berkutat di bottom level nya sekitar 8000 an, sekalipun program dana talangan ”bail-out” senilai USD 900 milyar sudah dikucurkan

    Lalu kenapa dampaknya begitu cepat menjadi krisis ekonomi global? 1. Wall Street menjadi barometer pasar keuangan dunia, sehingga jatuhnya Wall Street akan merusak struktur finansial global. 2. Lalu, ternyata ”surat berharga” subprime dengan segala teknik “mix and match” nya itu juga sangat diminati oleh sebagian besar investor dunia?. Banyak lembaga keuangan AS, Eropa dan Asia terpandang memborong surat berharga yang beracun itu. Karena subprime mortgage merupakan sarana investasi yang menjanjikan saat fundamental ekonomi AS mulai slow down.

    Otomatis krisis menjadi sangat cepat merambat keseluruh penjuru dunia, termasuk pasar modal Eropa dan Asia yang babak belur dibuatnya. Kejatuhan Wall Street tentu akan mengubur pasar modal global, tidak peduli seberapa kuatnya pasar modal Eropa dan Jepang dan lainnya di dunia. Ditambah lagi perilaku transaksi short selling (transaksi semu) yang dilakukan pelaku pasar bermoral rendah, menambah situasi pasar bertambah runyam. Maka hampir semua pemerintah di seluruh dunia melakukan intervensi pada pasar modal dan pengendalian nilai tukar yang terus menurun, termasuk Indonesia.

    Kebijakan Bank Indonesia dalam Menghadapi Krisis Global

    Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang mempunyai independensi dari pemerintah mempunyai kewajiban menjaga stabilitas moneter serta mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak dari krisis global. Bank Indonesia telah menerapkan beberapa kebijakan, yakni:

    Pertama, Kebijakan dalam sektor moneter. BI mengarahkan kebijakan pada penurunan tekanan inflasi yang didorong oleh tingginya permintaan agregat dan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM yang sempat mendorong inflasi mencapai 12,14 persen pada bulan September 2008. Untuk mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi, BI menaikkan BI rate dari 8 persen secara bertahap menjadi 9,5 persen pada Oktober 2008. Dengan kebijakan moneter tersebut ekspektasi inflasi masyarakat tidak terakselerasi lebih lanjut dan tekanan neraca pembayaran dapat dikurangi.

    Selanjutnya, memasuki triwulan II-2008, seiring dengan turunnya harga komoditi dunia serta melambatnya permintaan agregat sebagai imbas dari krisis keuangan global, BI memperkirakan tekanan inflasi ke depan menurun, sehingga BI Rate pada bulan Desember 2008 diturunkan sebesar 25 basis point (bps) menjadi 9,25 bps.

    Kedua, Kebijakan dalam sektor perbankan. Kebijakan tersebut diarahkan pada upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan, khususnya dalam upaya persiapan implementasi Basel II. Basel II dibuat berdasarkan struktur dasar the 1988 accord yang memberikan kerangka perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk sensitive) serta memberikan insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank. Hal ini dicapai dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari kerugian kredit dan juga dengan memperkenalkan perubahan perhitungan modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko dari kerugian akibat kegagalan operasional.

    Basel II bertujuan meningkatkan keamanan dan kesehatan sistem keuangan, dengan menitikberatkan pada perhitungan permodalan yang berbasis risiko, supervisory review process, dan market discipline. Framework Basel II disusun berdasarkan forward-looking approach yang memungkinkan untuk melakukan penyempurnaan dan penyesuaian dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan bahwa framework Basel II dapat mengikuti perubahan yang terjadi di pasar maupun perkembangan-perkembangan dalam manajemen risiko.

    Ketiga, Kebijakan di sektor pembayaran. Bank Indonesia turut berupaya mencegah terjadinya guliran krisis global terhadap kelancaran sistem pembayaran nasional. Dalam mencegah risiko sistemik dari risiko gagal bayar peserta yang cenderung meningkat pada kondisi krisis dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, BI telah melakukan perubahan jadwal setelmen sistem pembayaran pada hari tertentu.

    Kebijakan BI dalam sistem pembayaran terus dilakukan untuk meningkatkan pengedaran uang yang cepat, efisien, aman, dan handal, meningkatkan layanan kas prima, dan meningkatkan kualitas uang. Sementara kebijakan non tunai diarahkan untuk memitigasi risiko sistem pembayaran melalui pengawasan sistem pembayaran, mengatur kegiatan money remittances, meningkatkan efisiensi pengelolaan rekening pemerintah, dan meningkatkan pembayaran non tunai.

    Sebagai Bank Sentral, BI memang mempunyai tanggung jawab dalam membuat kebijakan-kebijakan dalam menstabilkan kondisi moneter Indonesia. Dengan demikian diharapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat BI merupakan kebijakan yang strategis dan tepat sasaran dalam meminimalisir dampak krisis keuangan. Kebijakan moneter yang diambil BI juga diharapkan dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sektor riil dan selanjutnya pada kesejahteraan masyarakat.

  30. Nama : Enung Nuryani
    NPM : 093401020

    Indonesia memang mengalami krisisekonomi, namun krisis yang di alami Indonesia masih dapat dikendalikan. Tidak seperti di negara-negara Eropa dan Amerika, yang merupakan negara pengkonsumsi terbesar di dunia baik barang-barang jadi maupun bahan mentah.
    Penyebab krisis ekonomi saat ini disebabkan oleh kredit macet, sifat manusi yang konsumtif menyebabkan dirinya memilih kartu kredit untuk mendapatkan barang-barang yang diinginkan tanpa memikirkan akibat yang akan di terimanya.
    Penyebab Indonesia tidak mengalami krisis dalam kartu kredit misalnya :
    1. Pendapatan Masyarakat yang Rendah
    Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang mayoritas masyrakatnya memiliki pendapatan yang masih rendah dan hanya segelintir orang yang memiliki pendapatan tinggi sehingga sedikit pula yang memiliki dan menggunakan kartu kredit.
    2. Pemahaman Tentang Kartu Krdit
    Masyarakat Indonesia kurang memahami kartu kredit, juga dalam penggunaannya pun mereka belum memahaminya sehingga dengan kurangnya pemahaman masyarakat tentang kartu kredit maka orang-orang enggan untuk menggunakan kartu kredit tersebut.

    3. Kemiskinan
    Masyarakat Indonesia yang mayoritas merupakan kalangan orang miskin, yang memiliki pendapatan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokoknya saja, sehingga mereka tidak perlu menggunakan kartu kredit.
    Sementara itu, Bank Indonesia melakukan salah satu usaha untuk menanggulangi likuiditas di Perbankan akibat pengaruh krisis ekonomi global yaitu dengan cara menjual Dollar dan membeli SUN ( Surat Utang Negara) dalam satu operasi sehingga likuiditas Rupiah di pasar tetap besar.

  31. NAMA : FITRI DEWI NURFITRIANI
    NPM : 093401004
    Dalam bertransaksi, hanya ada dua alternatif cara pembayaran. Yaitu tunai atau kredit. Transaksi pembelian barang secara kredit biasanya dipilih oleh konsumen yang sangat membutuhkan barang, namun tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar secara tunai. Di era modern sekarang, uang plastik ini seakan sudah menjadi “penghuni wajib” di dompet. Bahkan, cukup banyak orang yang memiliki kartu kredit dalam jumlah yang berlebihan.
    Kondisi ini bisa memberikan potensi besar bagi orang yang memiliki banyak kartu kredit untuk bertindak cenderung konsumtif, bahkan berbelanja jauh melampaui kemampuannya untuk membayar. Padahal setiap penggunaan uang plastik ini sejatinya adalah hutang yang harus dibayar, bukan uang tambahan.Disinilah kartu kredit berperan sebagai alat kemudahan dalam bertransaksi. Gesek sekarang, bayar belakangan. Transaksi dengan menggunakan kartu kredit memang memberikan beberapa keuntungan :
    1. praktis dan aman, karena tidak perlu membawa uang tunai yang banyak jumlahnya serta dapat digunakan untuk keperluan yang sifatnya sangat mendesak
    2. bisa digunakan di banyak tempat ( dari dunia nyata sampai dunia maya )
    3. ada tenggang waktu pembayaran tanpa dikenakan bunga ( grace period ) asalkan membayar lunas tagihan pada saat jatuh tempo
    4. dapat mengkonsolidasikan banyak tagihan ( telepon, listrik, TV Kabel dll )
    5. kemungkinan adanya fasilitas tambahan bagi pemegang kartu berupa program promosi maupun reward lainnya.
    Grace period adalah kelonggaran waktu yang diberikan oleh institusi perbankan untuk membayar tagihan kartu kredit tanpa bunga. Fitur inilah yang merupakan keuntungan nyata dari penggunaan kartu kredit. Pemilihan waktu transaksi belanja yang tepat memungkinkan pemanfaatan grace period secara optimal. Yang menyebabkan Indonesia tidak krisis setelah banyak yang menggunakan kartu kredit yaitu:
    • Banyak Nasabah Yang Tidak Menngerti Tentang Kartu Kredit
    Bank Indonesia menilai banyak nasabah yang kurang memahami cara menggunakan kartu kredit. Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan salah satu penyebab timbulnya kredit macet karena nasabah tidak mengetahui tingginya bunga bank. Kekurangpahaman inilah yang kerap dimanfaatkan perbankan untuk mengiming-imingi calon nasabah memakai kartu kredit. Untuk itu BI akan terus mendidik calon nasabah.
    “Upaya lain yang sedang dan terus kami lakukan sama-sama dengan industri adalah edukasi terhadap pemegang kartu kredit. Hal ini kami anggap penting karena beberapa kasus itu menunjukkan ketidak mampuan atau kekurang pengertian pemegang kartu untuk membayar tunggakan kartu kredit sehingga macet. Adalah sumbernya kekurang pahaman.
    Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution menambahkan pihaknya juga telah memanggil penerbit kartu kredit dan asosiasi kartu kredit untuk melindungi nasabah bank pemegang kartu kredit. Sebelumnya, seorang nasabah Citibank, Irzen Octa tewas setelah diinterogasi penagih utang bank yang berpusat di Amerika tersebut. Menurut Kepolisian, Sekretaris Jenderal Partai Pemersatu Bangsa itu diduga meninggal karena dianiaya saat mempertanyakan pembengkakan tagihan kartu kreditnya. Kepolisian telah menetapkan 4 tersangka dalam kasus ini.
    • Kemiskinan
    Tak jarang masyarakat yang berpenghasilan rendah bahahan pas-pasan di negara kita ini, dan tak jarang juga bahkan banyak yang tak menginginkan mempunyai utang yang tak sanggup ia bayar di akhirnya nanti. Disinilah masyarakat akan berfikir dulu menggunakan kartu kredit yang notabenenya di pakai untuk orang-orang “berkelas”. Dengan biaya hidup yang meningkat dan penghasiln yang rendah masyarakat akan enggan menggunakan kartu kredit.
    • Tidak Bijak Menggunakan Kartu Kredit
    Jeratan hutang akibat bunga yang tinggi dapat dihindari jika pemegang kartu menggunakannya secara bijak. Kembalikan fungsi utama kartu kredit sebagai kemudahan dalam bertransaksi, bukan kemudahan dalam berhutang.
    Terjerumus dalam lilitan hutang kartu kredit dapat mengakibatkan bencana financial bagi keluarga, tercemarnya nama baik, rusaknya karir, bahkan sampai kehilangan nyawa.
    Sekedar tips tambahan dari para perencana keuangan professional dalam menggunakan kartu kredit : berbelanjalah sesuai kemampuan, maksimalkan manfaat grace period maupun fitur tambahan lainnya, jangan menunggak pembayaran dan memiliki 2 kartu kredit sudah sangat lebih dari cukup. Ringkasnya : nikmati madunya, tolak racunnya.
    Selamat berbelanja dengan bijak!

  32. NAMA :INDRA
    NPM :093401008
    JURUSAN:EKONOMI PEMBANGUNAN

    Kendati ekonomi beberapa negara besar di Eropa tengah terjadi, namun pengaruhnya tidak begitu besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, ekonomi Indonesia tidak berhubungan langsung dengan negara-negara yang ada di Eropa.

    Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi yang tengah dihadapi benua biru sekarang ini. “Karena, kita tidak sepenuhnya terconnected dengan eropa.Pengaruh krisis ekonomi eropa tentu saja ada pengaruhnya bagi perekonomian bagi ekonomi di Indonesia. “Tapi, kita memiliki shock bemper yang kuat,” katanya. Hatta menjelaskan, shock bemper, itu adalah seperti cadangan devisa Indonesia yang tinggi. Sisi ekspor juga kuat.

    Ekspor negara kita itu hanya 25 persen saja sharenya terhadap GDP, terhadap pertumbuhan. Sehingga kalau ada gangguan terhadap ekspor, kita dengan mengekspansi market domestik kita, kita bisa cover itu,” ungkap bekas Menteri Perhubungan RI, itu.

    Indonesia juga memiliki beberapa protokol untuk menghadapi capital flight. Tapi,tidak melihat adanya capital flight yang membuat perekonomian Indonesia, terlalu khawatir berlebihan. “Kenapa? Karena, yang namanya money atau capital, itu flight to policy. Dia akan menghinggap ke suatu negara yang memiliki peluang, untuk yield yang baik. Indonesia memiliki itu, dibanding yang lain,” ungkap pria berambut putih, itu.
    Yang harus diwaspadai negeri ini, adalah akibat sembilan perbankan di eropa yang diberlakukan dereting, karena kesulitan keuangan akan terjadi pengeringan likuiditas keuangan disana.

    “Kalau terjadi pengeringan likuiditas, mereka untuk menutupi itu akan menjual asetnya tentu saja di negara asia, walaupun belum terlihat di Indonesia. Tapi hal-hal seperti itu, perlu kita waspadai

  33. NAMA : HENDI SETIAWAN
    NPM :093401017
    JURUSAN :EKONOMI PEMBANGUNAN

    Ada semacam kekhawatiran akan ancaman krisis ekonomi yang tengah terjadi di Eropa dan Amerika akan berimbas terhadap perekonomian Indonesia mulai awal kwartal pertama tahun depan walaupun Pemerintah mengklaim bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat seperti cadangan devisa yang stabil serta masih baiknya tingkat pertumbuhan ekonomi sampai tahun depan yang diprediksi masih tumbuh diatas 6%. Namun apakah semua itu akan menjamin perekonomian tak akan goyah di terjang resesi ekonomi global? kita berharap jangan sampai terulang kembali masa kelam waktu krisis moneter 1997-1998.
    Mungkin hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa Pemerintah tidak konsisten mengenai kebijakan pembatasan subsidi BBM selain ketidaksiapan masalah infrastruktur, di satu sisi teriak-teriak bahwa APBN bisa jebol kalau subsidi tak di batasi tapi di sisi lain ragu dalam mengeksekusi masalah subsidi yang bersinggungan langsung dengan hajat hidup orang banyak ini. Kecemasan masalah dampak krisis global, inflasi yang masih tinggi dan tentunya resiko politik yang mesti di tanggung membuat Pemerintah mencoba bertahan dengan kebijakan konservatif ini.
    Ada pepatah “Sedia payung sebelum hujan” rupanya masih relevan dan baik sekali daripada sudah kejadian nanti bisa repot, jangan berbangga diri dengan berbagai keberhasilan yang telah di raih karena itu semua tidaklah bisa menjamin perekonomian akan terhindar dari resesi apalagi situasi di Eropa masih belum menentu dimana penyelesaian masalah obligasi semakin tak jelas . Dan satu hal yang tidak boleh di abaikan adalah antisipasi krisis pangan apabila mengamati cuaca ekstrim akhir-akhir ini. Beras yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat sampai awal tahun depan masih tetap akan tinggi meskipun pihak Pemerintah terus melakukan kebijakan impor yang banyak di kritik orang.
    Pemerintah sejauh ini bisa bertahan mengcounter serangan politik baik dari predator parlemen (DPR) ataupun dari parlemen jalanan seperti demo buruh, LSM,mahasiswa dsb. Tapi kalau tsunami ekonomi menerjang jangan harap bisa menghindar dari tekanan rakyat jelata yang selama ini termarjinalkan.

  34. Nama : Yoga Permana
    Npm : 093401009
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Mengapa di indonesia tidak terjadi krisis ekonomi seperti di Amerika dan Eropa??
    Kita berharap, krisis financial AS tidak akan menjadi kambing hitam bagi permasalahan yang banyak kita hadapi saat ini. Justru bagi pemerintahan SBY, upaya menghadapi ancaman badai krisis ekonomi global dapat dijadikan sebagai tolok ukur menilai kualitas kepemimpinannya dalam 5 tahun terakhir. Bila kita benar-benar dapat sukses menghadapi dampak badai krisis global maka tampaknya tidak dapat diragukan bahwa SBY akan dapat memimpin kembali Indonesia untuk lima tahun kedua. Sebaliknya jika gagal maka akan banyak peluang bagi lawan-lawan politiknya untuk menggesernya.

    Krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat saat ini tidaklah kecil. Permasalahannya bukan hanya karena factor kesalahan pemerintahan Bush, seperti banyak membelanjakan uang untuk perang, terutama di Irak yang kini masih berlangsung. Jika kita membaca buku karya bersama Donald Trump & Robert T Kyosaki (Why We Want You To Be Rich), kita dapat banyak mengetahui kondisi keuangan dan ekonomi AS yang dapat saja mengalami kemerosotan atau bahkan kebangkrutan. Trump dan Robert melihat AS dan juga dunia dapat mengalami bencana ekonomi dalam 5 sampai 10 tahun ke depan. Kehancuran pasar saham sudah diramalkan oleh Trump dan Robert dalam buku yang dilucurkan pada tahun 2006 tersebut.

    Malahan Robert Kyosaki lebih dulu sudah meramalkannya pada tahun 2001 dalam buku Rich Dad`s Prophecy. Robert mengatakan, antara sekarang hingga tahun 2010 ada kemungkinan besar terjadinya kehancuran pasar saham terbesar dalam sejarah. “Masalah financial yang saat ini kita semua hadapi lebih besar daripada yang bisa ditangani oleh pemerintah AS sendiri. Namun, masalah belum terpecahkan dan sekarang mulai menjadi masalah global, melampaui batas Negara dan kendali pemimpin politik,” kata Robert T Kyosaki yang sangat popular di dunia dengan buku seri Rich Dad Poor Dad-nya.

    Robert dan Trump mengingatkan tentang menciutnya jumlah kelas menengah di AS sehingga memunculkan orang kaya yang semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Inti penyebabnya disebutkan bahwa selama ini rakyat AS kurang mendapatkan pendidikan financial di semua tingkat sehingga Amerika telah berubah dari Negara terkaya di dunia menjadi Negara pengutang terbesar dalam sejarah dengan begitu cepat. Padahal, lanjutnya, ekonomi dan dolar Amerika yang lemah (mata uang cadangan di dunia) tidak baik untuk stabilitas dunia. “Jika Amerika bersin, dunia terkena flu,” kata Robert dan Trump.

    Robert dalam bukunya menyebutkan, dunia kita menghadapi sejumlah masalah financial serius. Banyak permasalahan saling berkaitan dan beberapa yang mendesak menyangkut; defisit perdagangan yang terus membengkak, nilai dolar yang jatuh, utang nasional yang terus meningkat, generasi Baby Boom mulai pensiun tanpa uang, harga minyak yang semakin tinggi, perbedaan antara yang kaya dan yang lain membesar, upah menurun, social security dan medicare mulai bangkrut, tabungan menjadi tidak bernilai, pengurangan pajak untuk orang kaya serta pendidikan financial kurang diajarkan.

    Permasalahan AS yang disorot oleh Robert dan Trump itu, tampaknya banyak menyangkut orientasi masyarakat AS dan juga dunia yang terlalu banyak mengandalkan pemerintah untuk kehidupan masa depan mereka. Dalam konteks kita, bisa disebutkan sebagai banyaknya orang berorientasi ingin menjadi pegawai karena akan mendapatkan kenyamanan dalam bekerja dan tunjangan pensiun hari tua. Kemampuan pengelolaan keuangan dan entrepreunership cenderung diabaikan. Artinya, kebijakan untuk membuka peluang usaha bagi usaha kecil dan menengah cenderung dilirik sebelah mata.

    Tampaknya pengalaman kita ketika menghadapi krisis 1997 memang mengajarkan bahwa krisis ekonomi dan keuangan yang paling besar terkena adalah terhadap perusahaan konglomerasi, sementara sektor informal biarpun juga terkena imbas tetap dapat lebih mampu bertahan. Pemerintahan SBY jika merasa yakin bahwa telah berbuat banyak bagi pengembangan ekonomi kecil dan menengah tentu saja pantas untuk optimistik bahwa kita memang siap menghadapi ancaman krisis ekonomi global. Secara mental malah kita lebih siap karena kita memang pernah mengalami krisis sehingga dapat belajar darinya.

    Sebagaimana dikatakan Donald Trump, “pemimpin adalah orang yang mengganti rasa takut dengan kebijaksanaan.” Artinya, krisis financial yang melanda AS saat ini boleh jadi menjadi krisis global dan berdampak ke Indonesia tetapi dengan sikap dan kebijakan yang diambil oleh Presiden SBY, kita tidak perlu memiliki kecemasan atau rasa takut yang membuat kita panik. Justru sesungguhnya, bukanlah karena dampak krisis financial yang dapat membuat kita menjadi ikut terpuruk, melainkan karena kepanikan dan ketaktan kitalah yan g menjadi pangkal pemicunya.

    “Pemecahan masalah akan lebih mudah jika anda menganggap masalah sebagai tantangan. Anda mungkin juga harus melihatnya seperti itu karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Melihat masalah dari sudut yang baik tak pelak lagi akan memberikan lebih banyak energi kepada anda,” kata Trump memberi nasihat dalam kita menghadapi masalah.

    Tampaknya, krisis yang mengancam harus kita lihat hanya sebagai sebuah tantangan yang membuat kita lebih kuat. Bagi AS pun, sebesar apapun badai krisis yang mereka hadapi, dengan segudang pengalaman sejarah bangsa dan negara itu yang terbiasa menghadapi tantangan, maka krisis merekapun nantinya akan dapat tertangani. Masalahnya, jangan sampai terjadi krisis AS mereda justru kita terus gelagapan dilanda krisis.

    Mengingat kita baru saja berlebaran maka mudah-mudahan, pengalaman puasa Ramadhan masih dapat juga kita petik hikmahnya. Puasa yang sering kita pahami sebagai ajang latihan menempa diri, membangun mental yang dapat mengendalikan diri, dapat kita jadikan modal untuk siap-siap menghadapi ujian yang sesungguhnya dalam kehidupan keseharian kita. Mudah-mudahan, puasa lalu, kita tak sekadar memetik hikmah lapar dan haus semata. Kinilah saatnya kita menerapkan pengalaman religiusitas Ramadhan untuk menghadapi berbagai tantangan, termasuk menyikapi dampak krisis financial AS.

  35. Nama : Neng Sofi Sopiah
    NPM : 093401002
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Kuliah Perdagangan Internasional

    Faktor Penyebab Indonesia Tidak Mengalami Krisis seperti di Eropa

    Dalam waktu yang sama, kita semua menghadapi empat macam krisis global, yang bermuara dari lokasi geografis yang berbeda-beda. Krisis tampak berlangsung dengan pelan, tapi makin lama empat krisis ini makin meluas dan mendalam. Kalau empat krisis ini menjadi makin dalam dan terjadi bersamaan, kekacauan sosial dan politik dapat terjadi,selain malapetaka dari bencana alam dan kemiskinan. Siapkah kita menghadapi hal ini? Pertama, krisis utang pemerintah. Dimulai di Eropa Barat, dengan amat besarnya utang pemerintah di beberapa negara. Krisis ini telah menyebabkan digantinya perdana menteri Yunani dan Italia.

    Dampak bagi Indonesia

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan krisis global akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Untuk itu perlu memperhatikan tiga jalur utama dalam mengantisipasi krisis. Menurut Darmin, jalur pertama yaitu jalur perdagangan. Meski ekspor Indonesia ke Eropa tidak terlalu besar yaitu berada pada posisi ketiga. “Masih kalah dengan ekspor ke China, tapi akan ada dampaknya,” kata Darmin dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2012 : Badai Krisis Ekonomi dan Jebakan Liberalisasi, di Jakarta, Rabu, 30 November 2011. Dampak dari sektor perdagangan tidak akan terlalu besar karena intra-regional trade di Asia dan negara emerging market semakin menguat. Sehingga perdagangan dengan negara Eropa semakin berkurang. Jalur kedua, adalah jalur keuangan.

    Saat ini BI tetap mencermati perkembangan bank swasta yang tergantung pada sistem pembiayaan keuangan dari Eropa. “Tetap bukan yang terbesar, karena pinjaman terbesar itu ke Asia, Eropa itu pada posisi kedua atau ketiga, tapi tetap kita cermati,” kata dia. Sedangkan jalur ketiga yaitu imported inflation.Inflasi global dengan harga komoditas diperkirakan akan terkoreksi turun. Hal Ini tercermin dari harga emas yang mengalami koreksi dalam tiga bulan terakhir dan ikut mengkoreksi inflasi inti (core inflation) di Indonesia dari 5,15 persen (yoy) pada Agustus 2011 menjadi 4,43 persen (yoy). Inflasi inti hhingga Oktober sebesar 3,72 persen.

    Agus Martowardojo memastikan pemerintah siap dalam menghadapi dampak krisis utang di Eropa yang diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan. “Jadi tentu pemerintah itu sudah dua bulan ini mempersiapkan diri kalau kondisi global yang memburuk itu harus kita lihat berdampak kepada Indonesia. Menkeu melanjutkan pemerintah terus melakukan kajian, persiapan serta koordinasi mulai tingkat menteri hingga Presiden sebagai antisipasi apabila krisis di Eropa makin memburuk. Menurut dia, pemerintah telah belajar mengantisipasi gejolak ekonomi dari krisis finansial yang melanda dunia pada 2008 hingga 2009. “Dalam banyak hal, kita melihat pengalaman kita di 2008/2009 masih relevan dengan kondisi kita sekarang. Yaitu suatu kondisi krisis bisa datang dengan sangat tiba-tiba, atau pun krisis itu bisa datang dengan bertahap.

    Menkeu menjelaskan asumsi serta rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 juga telah siap dalam menahan gejolak krisis, walau harga ICP minyak serta lifting minyak perlu mendapatkan perhatian tersendiri.”Secara umum APBN kita 2012 itu baik, memadai, dan di dalam APBN kita itu karena prosesnya memang sejak Mei, kita sudah memperhitungkan perkembangan yang terjadi di bulan September-Oktober ini, yaitu krisis yang lebih buruk di Eropa,” ujar mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini.

    Menkeu juga mengatakan dalam APBN 2012 juga terdapat pasal-pasal yang dapat digunakan untuk merespon apabila krisis tiba, dan menyiapkan antisipasi lanjutan yang dapat dipersiapkan dalam APBN Perubahan. “Kita sudah sepakat dengan DPR untuk memasukkan pasal-pasal yang merupakan pasal antisipasi kalau terjadi krisis. Jadi kalau terjadi krisis, dan terjadi kondisi perkembangan ekonomi yang berbeda jauh dari asumsinya, kita juga bisa melakukan APBN perubahan. Menkeu optimis sektor keuangan serta pasar modal Indonesia pada 2012 masih dalam kondisi stabil dan mampu bertahan dari gejolak krisis di Eropa.

  36. INDRA YUDACAHYA
    093401008
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Kendati ekonomi beberapa negara besar di Eropa tengah terjadi, namun pengaruhnya tidak begitu besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, ekonomi Indonesia tidak berhubungan langsung dengan negara-negara yang ada di Eropa.

    Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi yang tengah dihadapi benua biru sekarang ini. “Karena, kita tidak sepenuhnya terconnected dengan eropa,
    pengaruh krisis ekonomi eropa tentu saja ada pengaruhnya bagi perekonomian bagi ekonomi di Indonesia. “Tapi, kita memiliki shock bemper yang kuat,shock bemper, itu adalah seperti cadangan devisa Indonesia yang tinggi. Sisi ekspor juga kuat.

    “Dan jangan lupa, ekspor kita itu hanya 25 persen saja sharenya terhadap GDP, terhadap pertumbuhan. Sehingga kalau ada gangguan terhadap ekspor, kita dengan mengekspansi market domestik kita, kita bisa cover itu,

    Indonesia juga memiliki beberapa protokol untuk menghadapi capital flight.tidak adanya capital flight yang membuat perekonomian Indonesia, terlalu khawatir berlebihan. “Kenapa? Karena, yang namanya money atau capital, itu flight to policy. Dia akan menghinggap ke suatu negara yang memiliki peluang, untuk yield yang baik. Indonesia memiliki itu, dibanding yang lain,
    yang harus diwaspadai negeri ini, adalah akibat sembilan perbankan di eropa yang diberlakukan dereting, karena kesulitan keuangan akan terjadi pengeringan likuiditas keuangan disana.

    “Kalau terjadi pengeringan likuiditas, mereka untuk menutupi itu akan menjual asetnya tentu saja di negara asia, walaupun belum terlihat di Indonesia. Tapi hal-hal seperti itu, perlu kita waspadai juga,

    Sudah banyak langkah mengantisipasi krisis ekonomi yang melanda negara-negara di Eropa. “Banyak sekali, mulai dari protokol untuk menjaga pasar SUN, modal keuangan kita, market domestic, ekspor kita, semua sudah kita antisipasi.

  37. NAMA : A.INDRA PERMANA
    NPM :093401007
    JURUSAN: EKONOMI PEMBANGUNAN

    DUNIA dalam kondisi yang tidak menentu. Dalam waktu yang sama, kita semua menghadapi empat macam krisis global, yang bermuara dari lokasi geografis yang berbeda-beda.

    Krisis tampak berlangsung dengan pelan, tapi makin lama empat krisis ini makin meluas dan mendalam. Kalau empat krisis ini menjadi makin dalam dan terjadi bersamaan, kekacauan sosial dan politik dapat terjadi,selain malapetaka dari bencana alam dan kemiskinan. Siapkah kita menghadapi hal ini? Pertama, krisis utang pemerintah. Dimulai di Eropa Barat, dengan amat besarnya utang pemerintah di beberapa negara. Krisis ini telah menyebabkan digantinya perdana menteri Yunani dan Italia.

    Krisis belum berhenti dan tampaknya akan meluas ke berbagai negara di Eropa.Krisis di Eropa ini dapat menular ke China,Jepang, Amerika Serikat, dan sebagian besar negara yang sangat mengandalkan pada perdagangan dan keuangan internasional.Akhirnya, krisis dapat meluas ke seluruh dunia seperti yang terjadi pada 2008–2009. Kedua, krisis politik terhadap pemerintah yang otoriter, yang sering dikenal dengan Arab Spring. Bermula di Tunisia, diikuti oleh Mesir,dan Libya,lalu meluas ke beberapa negara Arab lainnya.

    Gema perlawanan masyarakat terhadap pemimpin otoriter yang telah berkuasa lama ini tidak hanya berdampak di negaranegara Arab, tetapi juga meluas ke negara otoriter lainnya, terutama yang pemimpinnya telah lama berkuasa. Negara otoriter di Asia telah terus memperhatikan apa yang terjadi di negara-negara Arab agar hal serupa tidak terjadi di negara mereka. Ketiga, krisis politik akibat kemuakan pada dominasi sektor keuangan, yang penuh dengan kegiatan spekulasi, dan ketimpangan ekonomi yang amat mencolok di negara demokratis dengan ekonomi yang sudah maju.

    Bermula dengan Occupy Wall Street di Amerika Serikat.Orang mengkritik Wall Street, salah satu simbol utama keuangan dunia. Masyarakat marah terhadap kesombongan para pelaku sektor keuangan yang menikmati keuntungan yang luar biasa besarnya, tetapi mereka juga yang menjadi sumber hampir semua krisis keuangan. Gerakan “Occupy….” ini meluas ke berbagai daerah di Amerika Serikat dan bahkan di banyak negara kaya yang demokratis lainnya. Gerakan ini akan terus bergulir,bahkan diam-diam telah masuk ke negara kaya dengan sistem otoriter.

    Keempat, krisis perubahan iklim. Tidak jelas dari mana krisis ini terjadi.Namun, konsumsi masyarakat sedunia terhadap barang dan jasa yang dihasilkan dengan input dan proses yang tidak ramah lingkungan amat mungkin merupakan sumber utama rusaknya lingkungan, dan perubahan iklim yang amat cepat. Berbagai bencana alam, termasuk yang karena ulah manusia, makin sering terjadi, memperparah berbagai kondisi yang memang sudah rawan bencana. Banjir besar yang berlangsung berbulanbulan di Bangkok dapat saja terjadi di kawasan lain di Asia Tenggara.

    Dampak terhadap Indonesia

    Apa yang akan terjadi di Indonesia? Indonesia, seperti pada 2008–2009, tampaknya tak akan banyak terkena dampak krisis utang pemerintah ini. Perekonomian Indonesia banyak disumbang oleh konsumsi domestik.(Ada yang mengatakan, sebagian dari konsumsi domestik ini berasal dari praktik korupsi,walau belum ada penelitian ilmiah mengenai hal ini). Selain itu, kita juga beruntung bahwa sistem keuangan Indonesia belum berhasil terhubungkan dengan baik ke sistem keuangan internasional.

    Indonesia juga beruntung, karena ekspor Indonesia belum terlalu berhasil,sehingga Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor. Arab Spring juga tak akan banyak berdampak ke Indonesia, karena Indonesia telah melakukan hal ini pada 1998. Dampak ini dapat menjadi penting bila Indonesia kembali ke sistem otoriter.

    Gema gerakan Occupy Wall Street juga tak akan terasa penting di Indonesia, karena di Indonesia masyarakat menganggap wajar bahwa orang menjadi kaya raya bila bekerja di sektor keuangan, ikut dalam kegiatan spekulasi. Orang lebih suka membeli rumah dan tanah untuk menabung, daripada pergi ke bank untuk menabung.

    Menyimpan uang di bank menyebabkan uang makin rendah nilainya karena harga-harga naik dengan pesat. Namun, perubahan iklim tak dapat dihindarkan oleh Indonesia. Bila banyak negara di dunia mengalami kekacauan politik karena Arab Spring, bila banyak negara lain mengalami ketidakstabilan politik yang bermula dari Occupy Wall Street, bila banyak negara mengalami kemerosotan ekonomi gara-gara utang pemerintah di Eropa, bila semua negara menderita dari perubahan iklim, Indonesia pun akhirnya akan mengalami dampak yang tidak menguntungkan. Ketika tsunami terjadi di Aceh, Nias, dan Sumatera Barat, ketika gempa bumi terjadi di Yogya, dan ketika banyak bencana alam lainnya terjadi, Indonesia mendapat bantuan yang banyak dari berbagai negara lain.

  38. RAHMAN BUDIMAN
    093401011

    Alasan Indonesia tidak terjadi krisis seperti di eropa
    Kendati ekonomi beberapa negara besar di Eropa tengah terjadi krisis, namun pengaruhnya tidak begitu besar bagi perekonomian Indonesia. Sebab, ekonomi Indonesia tidak berhubungan langsung dengan negara-negara yang ada di Eropa.
    Indonesia memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi yang tengah dihadapi benua biru sekarang ini. “Karena, kita tidak sepenuhnya terconnected dengan eropa,”. Akan tetapi kalau misalkan kita berhubungan langsung dengan Negara-negara yang ada di benua biru tersebut pasti akan terkena krisis seperti yang tegah di hadapi benua biru tersebut.
    pengaruh krisis ekonomi eropa tentu saja ada pengaruhnya bagi perekonomian bagi ekonomi di Indonesia. “Tapi, kita memiliki shock bemper yang kuat,” shock bemper, itu adalah seperti cadangan devisa Indonesia yang tinggi. Sisi ekspor juga kuat.

  39. Nama : Neng Sofi Sopiah
    NPM : 093401002
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Kuliah Perdagangan Internasional

    Faktor Penyebab Indonesia Tidak Mengalami Krisis seperti di Eropa

    Dalam waktu yang sama, kita semua menghadapi empat macam krisis global, yang bermuara dari lokasi geografis yang berbeda-beda. Krisis tampak berlangsung dengan pelan, tapi makin lama empat krisis ini makin meluas dan mendalam. Kalau empat krisis ini menjadi makin dalam dan terjadi bersamaan, kekacauan sosial dan politik dapat terjadi,selain malapetaka dari bencana alam dan kemiskinan. Siapkah kita menghadapi hal ini? Pertama, krisis utang pemerintah. Dimulai di Eropa Barat, dengan amat besarnya utang pemerintah di beberapa negara. Krisis ini telah menyebabkan digantinya perdana menteri Yunani dan Italia.

    Dampak bagi Indonesia

    Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengatakan krisis global akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Untuk itu perlu memperhatikan tiga jalur utama dalam mengantisipasi krisis. Menurut Darmin, jalur pertama yaitu jalur perdagangan. Meski ekspor Indonesia ke Eropa tidak terlalu besar yaitu berada pada posisi ketiga. “Masih kalah dengan ekspor ke China, tapi akan ada dampaknya,” kata Darmin dalam Seminar Proyeksi Ekonomi Indonesia 2012 : Badai Krisis Ekonomi dan Jebakan Liberalisasi, di Jakarta, Rabu, 30 November 2011.

    Dampak dari sektor perdagangan tidak akan terlalu besar karena intra-regional trade di Asia dan negara emerging market semakin menguat. Sehingga perdagangan dengan negara Eropa semakin berkurang. Jalur kedua, adalah jalur keuangan. Saat ini BI tetap mencermati perkembangan bank swasta yang tergantung pada sistem pembiayaan keuangan dari Eropa. “Tetap bukan yang terbesar, karena pinjaman terbesar itu ke Asia, Eropa itu pada posisi kedua atau ketiga, tapi tetap kita cermati,” kata dia. Sedangkan jalur ketiga yaitu imported inflation.Inflasi global dengan harga komoditas diperkirakan akan terkoreksi turun. Hal Ini tercermin dari harga emas yang mengalami koreksi dalam tiga bulan terakhir dan ikut mengkoreksi inflasi inti (core inflation) di Indonesia dari 5,15 persen (yoy) pada Agustus 2011 menjadi 4,43 persen (yoy). Inflasi inti hhingga Oktober sebesar 3,72 persen.

    Agus Martowardojo memastikan pemerintah siap dalam menghadapi dampak krisis utang di Eropa yang diperkirakan masih berlanjut hingga tahun depan. “Jadi tentu pemerintah itu sudah dua bulan ini mempersiapkan diri kalau kondisi global yang memburuk itu harus kita lihat berdampak kepada Indonesia. Menkeu melanjutkan pemerintah terus melakukan kajian, persiapan serta koordinasi mulai tingkat menteri hingga Presiden sebagai antisipasi apabila krisis di Eropa makin memburuk. Menurut dia, pemerintah telah belajar mengantisipasi gejolak ekonomi dari krisis finansial yang melanda dunia pada 2008 hingga 2009. “Dalam banyak hal, kita melihat pengalaman kita di 2008/2009 masih relevan dengan kondisi kita sekarang. Yaitu suatu kondisi krisis bisa datang dengan sangat tiba-tiba, atau pun krisis itu bisa datang dengan bertahap.

    Menkeu menjelaskan asumsi serta rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 juga telah siap dalam menahan gejolak krisis, walau harga ICP minyak serta lifting minyak perlu mendapatkan perhatian tersendiri.”Secara umum APBN kita 2012 itu baik, memadai, dan di dalam APBN kita itu karena prosesnya memang sejak Mei, kita sudah memperhitungkan perkembangan yang terjadi di bulan September-Oktober ini, yaitu krisis yang lebih buruk di Eropa,” ujar mantan Direktur Utama Bank Mandiri ini. Menkeu juga mengatakan dalam APBN 2012 juga terdapat pasal-pasal yang dapat digunakan untuk merespon apabila krisis tiba, dan menyiapkan antisipasi lanjutan yang dapat dipersiapkan dalam APBN Perubahan. “Kita sudah sepakat dengan DPR untuk memasukkan pasal-pasal yang merupakan pasal antisipasi kalau terjadi krisis. Jadi kalau terjadi krisis, dan terjadi kondisi perkembangan ekonomi yang berbeda jauh dari asumsinya, kita juga bisa melakukan APBN perubahan. Menkeu optimis sektor keuangan serta pasar modal Indonesia pada 2012 masih dalam kondisi stabil dan mampu bertahan dari gejolak krisis di Eropa.

  40. dampak integrasi yang dilakukan Indonesia

    Dengan disepakatinya cetak biru integrasi ASEAN 2015 pada bulan November 2007 di Singapura menandakan dipercepatnya integrasi ekonomi dan keuangan ASEAN yang pada mulanya akan dilakukan pada tahun 2020. Penyatuan kawasan ASEAN melalui integrasi ekonomi secara penuh tentunya akan berdampak besar baik dari sektor ekonomi maupun keuangan. Keberadaan integrasi ekonomi ASEAN semestinya akan memberikan peningkatan perekonomian (trade creation) bagi region yang terlibat di dalamnya. Akan tetapi, dengan melihat hasil temuan dan kriteria OCA yang belum mendukung bagi ASEAN untuk melakukan integrasi ekonomi telah menimbulkan kekhawatiran bahwa integrasi ekonomi malah tidak akan menguntungkan bagi ASEAN itu sendiri . Begitu pula bagi Indonesia, dengan potensi penduduk dan sumber daya yang besar temyata tidak menjadikan perekonomian Indonesia sebagai negara terdepan di ASEAN mengingat daya saing Indonesia hanya pada peringkat ke empat di antara negara-negara ASEAN dan hanya peringkat kelima dalam GDP per kapita. Untuk itu, dengan potensi yang ada akankah integrasi ekonomi ASEAN mampu memberikan manfaat bagi Indonesia atau malah tidak memberikan manfaat apapun mengingat posisi daya saing dan GDP per kapita Indonesia yang hanya di atas Filipina dan masih di bawah Thailand. Untuk menganalisis pengaruh integrasi ekonomi ASEAN 2015 terhadap beberapa region dan secara khusus terhadap perekonomian Indonesia, penelitian ini menggunakan model Global Trade Analysis Project (GTAP). Dengan database GTAP versi 6 yang mempunyai tahun dasar 2001 dan terdiri dari 57 sektor komoditas dan 87 regionlnegara, penelitian ini melakukan agregasi data atas database yang ada dengan mengelompokkannya menjadi 7 sektor dan 6 region yang kemudian menamakannya dengan model IASE 7X6. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa integrasi ekonomi ASEAN 2015 berdampak positif pada perekonomian Indonesia dan ASEAN baik dari sisi makroekonomi maupun dari sisi kondisi persaingan antar region yang terlihat dari penerimaan regional, kondisi alokasi investasi dan komposisi perdagangan internasional . Penurunan kemampuan industri di masingmasing region di beberapa sektor dalam menghasilkan output yang berimbas pada turunnya penjualan domestik merupakan gambaran salah satu dampak dari integrasi ekonomi ASEAN 2015 dari sisi sektor barang yang dapat diperdagangkan . Dari sisi sektor barang modal industri (non traded), Indonesia dan ASEAN mengalami kenaikan dalam output sektor barang modal, harga barang investasi dan tingkat sewa modal, sedangkan region lainnya mengalami penurunan. Dari sisi sektor barang modal ini dapat diketahui bahwa adanya integrasi ekonomi ASEAN 2015 menjadikan aktivitas ekonomi di Indonesia dan ASEAN lebih bergairah dibandingkan region lainnya . Kata kunci: Integrasi Ekonomi ASEAN 2015, GTAP, Makroekonomi, Perdagangan, Investasi

  41. nama : taufik hidayatulloh
    npm : 093401015
    ekonomi pembangunan

    di indonesia tidak terjadi krisis ekonomi

    Dihadapan peserta Sidang Kabinet Paripurna pada tanggal 15 Oktober 2008 di Gedung Utama Setneg Lantai 3, Presiden RI menjelaskan adanya situasi yang berbeda antara tahun 1998 pada saat Indonesia menghadapi krisis keuangan, dengan situasi 2008 saat ini. Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998 merupakan efek dari krisis yang terjadi di Asia. Krisis tersebut disebabkan oleh tiga hal utama, yakni fundamental, market panic dan vulnerabilities, yang akhirnya menghantam Indonesia sampai pada titik nadir, yakni membuat terjadinya perubahan kepemimpinan. Krisis di Indonesia menjadi sangat ”severe” karena faktor-faktor lain ikut memperburuk situasi, seperti misgovernment, corruption, political transition, insecurity of the ethnic chinese, the fall of oil price, suffered from drought, dan the break down in public order and communal effect.

    Situasi perekonomian Indonesia waktu itu lebih buruk lagi, yang ditandai oleh lack of demand, drastic decline in private investment, public investment expenditures were reduced significantly, drastic fall in output, dan drastic fall in real income. Sementara itu budget deficit pada tahun 1998 mencapai 8,5 % dari GDP. Tidak seperti yang dianjurkan Keynes mengenai ekspansi fiskal – yakni anggaran diperuntukkan bagi stimulasi pertumbuhan-, pada kenyataannya anggaran lebih banyak digunakan untuk food and othes subsidies for the poor atau social safety net.

    Pada tahun 1999, proses recovery atas kondisi krisis disandarkan pada 4 (empat) langkah kebijakan, yakni the restoration of private demands, the restoration of confidence, the efficient cleaning up of the banking system, and the corporate debt resolution. Sampai dengan tahun 2008, telah banyak kemajuan yang dicapai oleh pemerintahan di era reformasi. Berbagai macam perbaikan pada semua sektor mulai dilakukan, sehingga menyebabkan situasi yang ada pada tahun 2008 berbeda dengan situasi pada tahun 1998 pada saat menghadapi krisis.

    Berbagai macam capaian dan kemajuan dalam perekonomian, merupakan modal tersendiri bagi Indonesia untuk menghadapi krisis keuangan 2008 dengan optimis dan percaya diri sehingga diharapkan tidak lagi menjadi krisis ekonomi serius seperti tahun 1998. Situasi tersebut antara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jalur di atas 6 %, size perekonomian meningkat lebih dari dua kali yang diiringi dengan pendapatan per kapita, sumber pertumbuhan makin bertumpu pada sumber dalam negeri, risiko ekonomi makro makin menurun, perbankan yang jauh lebih sehat, dan persiapan menghadapi krisis yang lebih baik.

  42. LIBERALISASI PERDAGANGAN DAN PERSPEKTIF EKONOMI PERTANIAN DI INDONESIA

    MAKALAH

    Diajukanuntuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
    Perdagangan Internasional

    Oleh

    Fitri Dewi 093401004

    PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
    FAKULTAS EKONOMI
    UNIVERSITAS SILIWANGI
    TASIKMALAYA
    2011
    KATA PENGANTAR

    Bissmillahirrahmanirrahim

    Segala puji penulis ucapkan kepada Allah SWT. Yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Shalawat serta salam penulis sampaikan kepada nabi kita Muhammad SAW yang telah memberikan warna ilahiyah dalam peradaban manusia.
    Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perdagangan Internasional. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan ungkapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
    Kesempurnaan hanya milik Allah semata-mata, saya hanya hamba yang lemah dan banyak kekurangan. Jika terdapat kekurangan dalam penulisan saya ini, saya minta maaf. Semoga Allah (s.w.t) sentiasa memberikan taufiq dan hidayah kepada kita dalam menjalani kehidupan harian dan semoga hidup kita sentiasa diberkati oleh Allah (s.w.t).

    Tasikmalaya, Desember 2011

    Penulis,

    i
    DAFTAR ISI

    KATA PENGANTAR …………………………………. i
    DAFTAR ISI ………………………………… ii
    BAB I PENDAHULUAN ………………………………….1
    A. Latar Belakang Masalah ………………………………….1
    B. Rumusan Masalah. ………………………………….4
    C. Tujuan Penulisan Makalah. ………………………………….5
    BAB II PEMBAHASAN ………………………………….6
    A. Persoalan Pertanian di Indonesia ………………………………….6
    B. Dorongan dan Telanan Liberalisasi ………………………………….8
    C. Kajian Teoritis Walfare Effect dalam Perdagangan ………………………………….9
    D. Kondisi Perdagangan Bebas ………………………………………………………………………………..10
    E. Kondisi Pemberlakuan Tarif Impor ………………………………………………………………………10
    F. Kondisi Pemberlakuan Kuota Impor dan Tarif Impor ……………………………………………..11
    G. Kebijakan Harga Dasar dan Subsidi …………………………………………………………………….12
    BAB III PENUTUP ……………………………….19
    A.Simpulan ……………………………….19
    DAFTAR PUSTAKA …………………………………iii

    ii
    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Sektor pertanian tetap mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga dan meningkatkan kualitas pembangunan ekonomi. Sektor pertanian merupakan sumber pertumbuhan output nasional, menurut Herliana (2004) sektor pertanian memberikan kontribusi 19,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dari keseluruhan sektor perekonomian Indonesia. Meskipun secara absolut masih lebih kecil dari sektor lainnya seperti jasa (43,5 persen) dan manufaktur (23,9 persen) namun sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar yaitu sebesar 47,1 persen
    Suatu kebijakan pembangunan yang baik harus mengandung tiga unsur yaitu ecological security, livelihood security dan food security. Suatu sustainable agriculture adalah suatu sistem pertanian yang mendasarkan dirinya pada pemanfaatan sumberdaya alam (lahan, air dan kenearagaman hayati lainnya) secara lestari. Praktek pertanian yang demikian akan berubah pada era globalisasi dan perdagangan bebas dengan munculnya berbagai kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh badan-badan internasional, misalnya World Trade Orgazation (WTO) yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan praktek pertanian di seluruh dunia, termasuk Indonesia.(Hardono, dkk. 2004)
    Kebijaksanaan tentang Trade Related Intelllectual Propoerty Right dan berbagai keputusan lain yang menyangkut pertanian, akan mengubah ketiga aspek dasar kebijakan ketahanan ekologis suatu sistem pertanian, karena keputusan seperti itu akan mendorong terciptanya konsentrasi pemilikan sumberdaya alam, dengan cara menghilangkan batasan kepemilikan terhadap sumber alam tersebut. Nampaknya liberalisasi pardagangan produk-produk pertanian tidak menjadikan pertanian menjadi bebas. Sebaliknya liberalisasi perdagangan justru memperkuat sentralisme pembangunan pertanian. Dalam era perdagangan bebas, ketika negara tidak lagi mencampuri urusan pengembangan sektor pertanian, negara tidak mengembalikan kekuasaan dan fungsi petani untuk mengatur usaha tani mereka, tetapi justru memfasilitasi penyerahan penguasaan sumber-sumber alam, sistem produksi, sistem pemasaran dan perdagangan kepada perusahaan agribisnis global. Terkait dengan aspek perdagangan internasional, pemerintah justru banyak meliberalisasi pasar produk pertanian padahal aturan WTO masih memberi kesempatan pemerintah untuk melindungi pasar domestik. Subsidi pertanian seperti subsidi input dikurangi sangat drastis oleh pemerintah padahal negara-negara maju masih memberikan subsidi sampai 300 milliar US$ tiap tahunnya kepada sektor pertanian (The New York Times, 2 Desember 2002).
    Selain ketidak-fair-an dalam hal subsidi input dan subsidi ekspor, hal lain yang sangat terasa pada lemahnya perlindungan petani kita adalah rendahnya penerapan tarif produk pertanian impor. Proteksi yang luar biasa pada sektor pertanian di negara-negara maju ditunjukan dengan perlindungan produk dalam negeri melalui penerapan tarif impor yang tinggi. Bahkan di sejumlah negara eksportir beras, gula dan produk pertanian lainnya tarif impornya sangat tinggi. Untuk gula, Uni Eropa menerapkan 297 persen, Jepang 361 persen, sedangkan Indonesia hanya 30 persen. Dimensi pertanian nasional mencakup aspek ketersediaan, distribusi, dan konsumsi serta keamanan pangan. Pada aspek ketersediaan pangan termasuk elemen: produksi domestik, impor, ekspor, cadangan dan transfer pangan dari pihak atau negara lain. Adanya elemen ekspor-impor pada aspek ketersediaan pangan menunjukkan bahwa kinerja ketahanan pangan nasional tidak terlepas dari dinamika peran perdagangan. Dinamika fakta empiris yang terkait dengan Growth Domestic Product (GDP) dan produksi agregat pertanian memberikan beberapa informasi menarik sebagai berikut (Arifin 2003; Simatupang et al. 2004):
    1) GDP dan produksi agregat pertanian mengalami pertumbuhan yang relatif tinggi dalam periode 1967- 1986 karena adanya dukungan pengembangan lahan pertanian dan infrastruktur, kelembagaanpenyuluhan, kelembagaan koperasipedesaan, kredit bersubsidi, dan insentifharga.
    2) Kontradiksi kebijakan pada periode berikutnya, yang ditunjukkan oleh penurunan alokasi anggaran dan insentif sektor pertanian, berdampak pada makin meningkatnya kendala pengembangan produksi pertanian.
    3) Sumber utama pertumbuhan produksi dalam periode 1967−1986 adalah produktivitas lahan, yang kemudian menurun drastis dalam periode 1997−2001 dan bahkan mengalamipertumbuhan negatif pada tahun 1997- 2001 karena menurunnya produktivitas lahan dan tenaga kerja pertanian.
    Di samping permasalahan yang terkait dengan ketersediaan dan pengembangan lahan beririgasi, ketersediaan, akses, dan penerapan varietas unggul baru serta teknologi spesifik lokasi, pengembangan produksi pertanian juga menghadapi permasalahan yang terkait dengan ketersediaan anggaran pembangunan dan penyediaan sistem insentif untuk mendorong peningkatan produksi dan pendapatan petani. Keragaman dinamika investasi pemerintah di sektor pertanian menunjukkan bahwa (Rusastra et al. 2005) proporsi pengeluaran untuk pengembangan irigasi,penelitian dan pengembangan, serta penyuluhan tahun 2002 hanya 48,20% (Rp418 juta) dari pengeluaran tahun 1985/96 (Rp867 juta). Pupuk yang bersifat komplemen dengan pengembangan infrastruktur pertanian juga mengalami penurunan subsidi secara signifikan sejak pertengahan 1980-an. Penurunan anggaran pemerintah dalam pengembangan infrastruktur dan subsidi pupuk berdampak terhadap stagnasi atau penurunan produktivitas dan produksi komoditas pertanian. Insentif yang diterima petani terdiri atas dua komponen utama, yaitu subsidi sarana produksi (pupuk, benih, kredit dan mekanisasi pertanian) dan proteksi harga hasil produksi. Sejak pertengahan 1980-an, total insentif pemerintah secara bertahap menurun. Penurunan subsidi sarana produksi berdampak terhadap peningkatan biaya produksi dan penurunan pendapatan petani. (Simatupang et al. 2004).

    B. Rumusan Masalah

    Seperti telah disebutkan pada latar belakang, bahwa kebijakan liberalisasi perdagangan melalui penghapusan tarif tidak selalu memberikan yang terbaik bagi suatu negara. Meski secara teoritis kebijakan perdagangan internasional mampu menjelaskan keuntungan yang diperoleh oleh suatu negara secara agregat, namun dalam kenyataannya akan ada kelompok yang diuntungkan dan kelompok yang dirugikan oleh kebijakan tersebut.
    Impor terutama untuk komoditi pertanian akan meningkat. Peningkatan impor ini memang di satu sisi akan menguntungkan konsumen karena para konsumen bisa mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah ketimbang barang domestik, akan tetapi di sisi lain kondisi ini akan merugikan produsen dalam negeri. Pemerintah harus mempertimbangkan hal ini mengingat jumlah tenaga kerja yang berkerja di sektor pertanian mencapai 43 persen. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana dampak penghapusan tarif oleh negara-negara anggota WTO terhadap permintaan tenaga kerja di Indonesia?
    C. Tujuan Penulisan Masalah
    Secara khusus bertujuan melihat dampak penghapusan tarif oleh semua negara anggota WTO terhadap permintaan tenaga kerja baik tenaga kerja terdidik maupu tenaga kerja buruh.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    A. Persoalan Pertanian di Indonesia
    Persoalan pertanian khususnya tanaman pangan tidak hanya berkait dengan konsumsi dan produksi tetapi juga soal daya dukung sektor pertanian yang komprehensif. Ada empat aspek yang menjadi prasyarat melaksanakan pembangunan pertanian (Samsul Bahri, 2004):
    1. akses terhadap kepemilikan tanah,
    2. akses input dan proses produksi,
    3. akses terhadap pasar dan
    4. akses terhadap kebebasan.
    Dari keempat prasyarat tersebut, nampaknya yang belum dilaksanakan secara konsisten adalah membuka akses petani dalam kepemilikan tanah dan membuka ruang kebebasan untuk berorganisasi dan menentukan pilihan sendiri dalam berproduksi. Pemerintah hingga kini selalu menghindari kedua hal itu karena dianggap mempunyai resiko tinggi. Kebijakan pemerintah lebih banyak difokuskan pada produksi dan pasar. Konsep agribisnis saat ini merupakan konsep yang cocok untuk melihat permasalahan pertanian karena maju mundurnya pertanian semata-mata tidak hanya diakibatkan oleh permasalahan teknis produksi saja namun juga disebabkan oleh faktor diluar hal tersebut. Pada akhirnya permasalahan kesejahteraan petani tidak hanya dipengaruhi oleh on-farm agribusiness tetapi juga oleh off-farm agribusiness.
    Arifin (2001:100) menyatakan bahwa dunia agribisnis di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia umumnya merupakan suatu “sistem pertanian rakyat” dan hanya sedikit saja yang berupa “sistem perusahaan pertanian”. Walaupun keduanya tidak dapat dipisahkan dan sangat menentukan kinerja secara keseluruhan pertanian Indonesia, akan tetapi perbedaan pada skala usaha, penguasaan teknologi, kemampuan manajemen dan perspektif pemasaran sudah cukup mewakili kenyataan bahwa keduanya merupakan entitas yang sangat berbeda. Permasalahan off-farm agribusiness yang dihadapi petani saat ini adalah mengalirnya arus globalisasi. Makna globalisasi pada dasarnya adalah semakin menipisnya batas-batas hubungan antar negara yang satu dengan negara yang lain dalam berbagai hal, antara lain dalam hal ekonomi, politik, migrasi, komunikasi dan transportasi.
    Pihak-pihak yang mendapat banyak keuntungan dari globalisasi berpendapat bahwa globalisasi adalah kehidupan yang nyaman karena kehidupan antar negara hampir tanpa batas ibaratnya sebuah desa saja (global village), tetapi sebaliknya pihak yang dirugikan berpendapat bahwa kehidupannya penuh dengan kerugian dan mengalami banyak kehilangan sehingga merasa mengalami sebagai penjarahan global (global pillage). Nampaknya masyarakat tani di Indonesia juga tidak dapat menghindari arus perubahan besar globalisasi, salah satu cara yang biasa ditempuh adalah mengikuti dan memanfaatkan arus perubahan besar untuk mengambil kesempatan secara maksimal. Dampak arus globalisasi dalam bidang pertanian adalah ditandai dengan masuknya produksi pertanian impor yang relatif murah karena diproduksi dengan cara efisien dan pemberian subsidi yang besar pada petani di negara asalnya, produk tersebut membanjiri di pasar-pasar domestik di Indonesia. Gejala perdagangan bebas ditandai dengan mengalirnya beras, gula, kedele, jagung, ayam potong dari beberapa negara tetangga, bahkan akhir-akhir ini udangpun masuk dari China ke Indonesia.
    Beberapa masalah mendasar yang masih banyak dihadapi oleh petani dan sektor pertanian di Indonesia adalah masih lemahnya interlinkage antara penyedia input, pasar, industri pengolahan dan lembaga keuangan dengan para petani kita. Sebenarnya negara kita memiliki potensi pertanian dan sumber bahan baku yang luar biasa namun belum dikelola dengan efisien. Komoditas perikanan, perkebunan, tanaman pangan dan hutan yang luar biasa belum dikelola secara profesional dan efisien untuk meningkatkan daya saing dan memberikan nilai tambah bagi petani yang terlibat di dalamnya.

    B. Dorongan dan Tekanan Liberalisasi
    Menurut Chacholiades (1978) partisipasi dalam perdagangan internasional bersifat bebas (free) sehingga keikutsertaan suatu negara pada kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela. Dari sisi internal, keputusan suatu negara melakukan perdagangan internasional merupakan pilihan (choice), maka sering dikatakan perdagangan seharusnya memberikan keuntungan pada kedua pihak (mutually benefited). Dalam sistem ekonomi tertutup (autarky) negara hanya dapat mengkonsumsi barang dan jasa sebanyak yang diproduksi sendiri. Akan tetapi dengan melakukan perdagangan (open economic) suatu negara memiliki kesempatan mengkonsumsi lebih besar dari kemampuannya berproduksi karena terdapat perbedaan harga relatif dalam proses produksi yang mendorong spesialisasi (Chacoliades, 1978; Chaves et al., 1993). Perbedaan harga relatif itu muncul sebagai dampak perbedaan penguasaan sumberdaya dari bahan baku proses produksi (resource endowment) antar negara. Derajat penguasaan sumberdaya dan emampuan mencapai skala usaha dalam proses produksi secara bersama akan menjadi determinan daya saing dan menentukan arah serta intensitas partisipasi negara dalam pasar internasional (Susilowati, 2003).
    Menurut pendapat sebagian pakar ekonomi, perdagangan antar negara sebaiknya dibiarkan secara bebas dengan seminimum mungkin pengenaan tarif dan hambatan lainnya. Hal ini didasari argumen bahwa perdagangan yang lebih bebas akan memberikan manfaat bagi kedua negara pelaku dan bagi dunia, serta meningkatkan kesejahteraan yang lebih besar dibandingkan tidak ada perdagangan (Kindleberger dan Lindert, 1978). Namun karena terdapat perbedaan penguasaan sumberdaya yang menjadi komponen pendukung daya saing, sebagian pakar yang lain berpendapat liberalisasi pasar berpotensi menimbulkan dampak negatif karena mendorong persaingan pasar yang tidak sehat. Atas dasar itu maka timbul pandangan pentingnya upaya-upaya proteksi terhadap produksi dalam negeri dan kepentingan lainnya dari tekanan pasar internasional melalui pemberlakuan kendala atau hambatan perdagangan (Abidin, 2000).
    Pada kondisi semakin kuatnya tekanan untuk meliberalisasi pasar, efektivitas pem-berlakuan kendala atau hambatan tersebut dalam perdagangan akan menentukan derajat keterbukaan pasar. Keterbukaan pasar semakin tinggi bila pemerintah suatu negara menurunkan tarif (bea masuk) produk yang diperdagangkan (tariff reduction) dan menghi-langkan hambatan-hambatan nontarif (non tariff barriers). Hal sebaliknya terjadi bila pemerintah cenderung menaikkan tarif dan meningkatkan hambatan nontarif. Liberalisasi perdagangan mewarnai perdagangan komoditas di pasar internasional dalam era globalisasi saat ini, tidak terkecuali perdagangan pangan. Sebagai negara ekonomi terbuka dan ikut meratifikasi berbagai kesepakatan kerjasama ekonomi dan perdagangan regional maupun global, tekanan liberalisasi melalui berbagai aturan kesepakatan kerja-sama tersebut bukan tidak mungkin pada akhirnya akan berbenturan dengan kebijakan internal dan mengancam kepentingan nasional.

    C. Kajian Teoritis Welfare Effect dalam Perdagangan
    Secara konsep, penghapusan berbagai bentuk intervensi dan hambatan menjadikan penerapan liberalisasi perdagangan akan mendorong peningkatan volume perdagangan lebih besar sehingga nilai tambah yang diciptakan juga makin besar. Kondisi tersebut selanjutnya akan memacu pertumbuhan ekonomi dunia. Untuk mengetahui manfaat perdagangan, ukuran umum yang digunakan adalah kesejahteraan/welfare (Ilham, 2003). Analisis terhadap perubahan kesejahteraan masyarakat akibat perdagangan atau penerapan instrumen liberalisasi perdagangan dapat dilakukan dengan menggunakan konsep surplus konsumen (consumers surplus) dan surplus produsen (producers surplus). Ilustrasi grafis dampak pemberlakuan tarif dan kuota secara parsial disajikan pada Gambar 1.

    D. Kondisi Perdagangan Bebas
    Di bawah rezim pasar bebas keseimbangan pasar berada pada harga PW, dimana jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan dan ditunjukkan oleh OQ1. Pada tingkat keseimbangan ini, penawaran yang dipenuhi produksi dari dalam negeri (domestik) adalah sebesar OQ0 karena dibatasi oleh kurva penawaran Sd. Adapun kekurangan pasokan sebesar Q0Q1 dipenuhi dari impor. Surplus konsumen adalah daerah yang berada di atas garis harga tetapi di bawah kurva permintaan. Pada Gambar 1, surplus konsumen merupakan penjumlahan dari daerah (a+b+c+d+e+f+g+h+i). Surplus produsen adalah daerah yang berada di atas
    E. Kondisi Pemberlakuan Tarif Impor
    Pemberlakuan tarif impor akan mengakibatkan terjadinya kenaikan harga produk sehingga keseimbangan terjadi pada harga Pw*. Pada harga keseimbangan jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan, yaitu sebesar OQ4. Dari jumlah penawaran tersebut, sebesar OQ3 merupakan penawaran dalam negeri dan kekurangannya sebesar Q3Q4 berasal dari impor. Dengan demikian, perubahan harga keseimbangan menjadi Pw mengakibatkan perubahan surplus produsen menjadi sebesar (a). Adapun surplus konsumen menjadi sebesar (a+b+c+d) atau berkurang sebesar (e+f+g+h+j) jika dibandingkan dengan kondisi perdagangan bebas. Adanya tarif sebesar (Pw*-Pw) akan memberikan penerimaan kepada pemerintah sebesar (g+h), sehingga total perubahan kesejahteraan adalah pengurangan sebesar (f+i).

    Sd

    a
    Pd
    b
    Pw* c d Sw*
    e f g h i Sw
    Pw j
    Dd

    Q0 Q3 Q2 Q4 Q1
    Gambar 1.
    Dampak Tarif dan Kuota terhadap Kesejahteraan

    F. Kondisi Pemberlakuan Kuota Impor dan Tarif Impor
    Dalam skenario ini maka keseimbangan pasar berada pada tingkat harga PW*, dimana jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan sebesar OQ4. Pada tingkat penawaran tersebut, sebesar OQ2 merupakan penawaran dari dalam negeri dan Q2Q4 berasal dari impor. Dampak adanya kuota dan pemberlakuan tarif impor secara bersamaan menyebabkan terdapat surplus produsen seperti pada skenario (4), yaitu sebesar (b+e+j). Akan tetapi di sisi lain pengambilan opsi kebijakan tersebut mengakibatkan surplus konsumen berkurang sebesar (b+c+e+f+g+h+i) atau sebesar (a+d). Adapun perubahan penerimaan pemerintah adalah sebesar (h) dan total perubahan kesejahteraan (c+f+g+i).
    G. Kebijakan Harga Dasar dan Subsidi
    Selain kebijakan yang bersifat protektif, dalam perdagangan juga dikenal kebijakan promotif. Kebijakan promotif ditujukan untuk mendorong pertumbuhan perdagangan dari dalam negeri (ekspor). Salah satu contoh kebijakan promotif terdapat pada sektor pertanian yang terkait erat dengan aspek ketahanan pangan. Pada dasarnya terdapat dua tipe kebijakan pemerintah di bidang pertanian yaitu development policy dan compensating policy (Saifullah, 2001). Development policy biasanya dilakukan pemerintah untuk mendorong produksi pertanian dengan tujuan yang ingin dicapai adalah meningkatan produksi dan pendapatan petani. Dalam compensating policy, tujuan utama kebijakan adalah meningkatkan pendapatan petani tetapi dengan kecenderungan menekan produksi. Development policy banyak dilakukan oleh negara yang kekurangan (defisit) produk pertanian, sedangkan compensating policy banyak dilakukan oleh negara yang mengalami surplus dan sulit memasarkan produknya.
    Kebijakan harga dasar dan kebijakan subsidi, seperti kebijakan harga gabah dan subsidi pupuk yang pernah diberlakukan di Indonesia, dapat dikatagorikan sebagai development policy. Tujuan kedua kebijakan tersebut adalah mendorong produksi beras agar meningkat, di sisi lain petani mendapat harga yang wajar. Dalam konteks kesejahteraan, dampak pemberlakuan kebijakan harga dasar dan subsidi secara grafis dapat dijelaskan sebagai berikut :
    G.1. Cost dan Benefit Perdagangan Internasional Komoditas Pertanian
    Menurut Indrawati (1995), Uruguay Round merupakan persetujuan yang paling ambisius dibandingkan putaran-putaran GATT sebelumnya karena bertujuan mengontrol proliferasi segala bentuk proteksionisme baru untuk menuju pada kecenderungan liberalisasi perdagangan antarnegara. Uruguay Round diperkirakan akan meningkatkan perdagangan sehingga mencapai US $ 5 triliun pada tahun 2005 atau kenaikan ekstra perdagangan 12 persen. Disebutkan pula bahwa dampak liberalisasi perdagangan dunia terhadap negara berkembang terutama akan menyangkut produk yang sangat vital, yaitu sektor pertanian serta komoditas tekstil dan produk tekstil, dimana tarif produk pertanian akan diturunkan sebesar 24 persen di negara berkembang dan 36 persen di negara maju. Sedangkan tarif tekstil akan dipangkas sebesar 25 persen.
    Proteksi yang dilakukan negara maju terhadap sektor pertanian melalui kebijaksanaan harga (price support), bantuan langsung (direct payment), dan bantuan pasokan (supply management program) telah menyebabkan distorsi perdagangan hasil pertanian dunia. Distorsi terjadi seiring dengan meningkatnya hasil produksi pertanian dari negara-negara maju yang mengakibatkan penurunan harga dunia untuk produk pertanian. Meskipun harga produk pertanian yang rendah menolong negara pengimpor tetapi faktor rendahnya harga produk pertanian tersebut juga akan memukul negara-negara berstatus produsen netto.
    Studi tentang dampak liberalisasi perdagangan terhadap pertanian di Indonesia oleh Erwidodo (1999) menunjukkan beberapa temuan sebagai berikut:
    Pertama, sebelum tahun 1985 Indonesia sangat mengutamakan kebijakan proteksi pasar domestik. Kebijakan ini menimbulkan ekonomi biaya tinggi dan manfaat ekonomi lebih banyak dinikmati oleh sebagian besar penerima proteksi tersebut. Dalam rangka mendorong reformasi menuju perdagangan bebas yang digulirkan sejak awal 1980-an pemerintah memperkenalkan beberapa kebijakan berikut
    1. penyederhanaan prosedur kepabeanan termasuk dikeluarkannya undang-undang kepabeanan yang baru,
    2. menurunkan tarif dan pungutan-pungutan,
    3. mengurangi lisensi impor dan hambatan nontarif,
    4. deregulasi dari sistem distribusi,
    5. deregulasi rezim investasi, dan
    6. memantapkan batas wilayah dan prosedur ekspor. Salah satu sektor yang mendapat proteksi cukup tinggi adalah sektor makanan dan minuman (food and beverage).
    Kedua, Jepang, Amerika Serikat dan Singapura merupakan tiga negara sumber utama impor Indonesia. Di sisi lain, total ekspor Indonesia ke ketiga negara tersebut juga dominan. Tahun 1985-1996 ekspor pertanian Indonesia tumbuh dengan laju 10,6 persen per tahun, pada waktu yang sama laju pertumbuhan impor pertanian tumbuh sebesar 15,0 persen per tahun. Dengan demikian surplus perdagangan komoditas pertanian Indonesia cenderung menurun dari waktu ke waktu. Ketiga, liberalisasi perdagangan potensi memperluas akses pasar untuk Indonesia khususnya ke negara industri. Penurunan tarif pada berbagai pasar ekspor utama akan memperluas akses pasar Indonesia. Hambatan tarif global produk industri ke Indonesia akan diturunkan sekitar 42 persen, tarif di negara-negara industri akan turun rata-rata empat persen. Di Jepang rata-rata tarif turun 4,4 persen (di luar minyak), Uni Eropa turun sekitar 6,0 persen dan USA turun sekitar 6,5 persen.
    Keempat, beberapa produk ekspor utama Indonesia akan mengalami pemotongan tarif cukup besar di pasar ekspor utama. Penurunan tarif terbesar dikenakan pada komoditas kayu, pulp, kertas dan furniture sebesar 69 persen; produk mineral dan logam utama sebesar 59 persen; biji berminyak dan lemak sebesar 40 persen; serta kopi, teh, kakao dan gula sebesar 34 persen. Perolehan ekspor dari berbagai komoditas tersebut meningkat dari 21 persen menjadi 50 persen dari total nilai ekspor. Penurunan tarif substantif juga akan dikenakan pada komoditas tertentu seperti buah-buahan dan sayuran (36 %), bumbu-bumbu (35 %), biji-bijian (39 %) dan produk pertanian lainnya (48 %).
    Kelima, kesepakatan Uruguay Round diperkirakan akan meningkatkan pendapatan dunia secara signifikan dan terdistribusi secara luas diantara negara maju dan negara berkembang. Uruguay Round akan berdampak positif terhadap upah riil terutama di negara berkembang. Sejalan dengan hal itu Uruguay Round diharapkan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Dalam hal ini Indonesia akan memperoleh manfaat baik dari perdagangan maupun pendapatan. Hasil studi juga menunjukkan indikasi, adanya deregulasi perdagangan dengan partner dagang Indonesia mengakibatkan tidak hanya kehilangan daya saing ekspor tetapi juga kemungkinan penurunan kesejahteraan masyarakat.
    Keenam, seberapa besar Indonesia akan memperoleh manfaat diterapkannya liberalisasi perdagangan melalui kesepakatan Uruguay Round tergantung juga pada upaya dalam membuka pasar Indonesia sendiri. Hasil simulasi menunjukkan bahwa nilai dan volume ekspor Indonesia masing-masing dapat meningkat sebesar 0,4 persen dan 12,4 persen, dan diterapkannya kesepakatan Uruguay Round secara keseluruhan diestimasi dapat meningkatkan pendapatan rumahtangga dan faktor produksi masing-masing sebesar 2,0 persen dan 4,2 persen. Secara agregat diterapkannya kesepakatan Uruguay Round akan meningkatkan manfaat sosial bersih (net social benefit) sekitar $ 782 juta, nilai ini setara dengan 0,75 persen dari PDB Indonesia tahun 1992.
    Studi Erwidodo dan Hadi (1999) tentang dampak liberalisasi perdagangan terhadap produksi, konsumsi, perdagangan dan pemasaran beberapa komoditas terpilih (beras, kedelai, jagung, ubikayu dan kentang) di Indonesia menunjukkan bahwa di tingkat makro, pada kondisi sebelum krisis ekonomi, liberalisasi perdagangan antar negara melalui penurunan tarif untuk komoditas substitusi impor akan menurunkan harga di tingkat pedagang besar, harga produsen, kuantitas suplai dan surplus produsen. Namun liberalisasi perdagangan tersebut berdampak meningkatkan kuantitas permintaan, impor dan surplus konsumen. Dampak secara keseluruhan akan meningkatkan net surplus atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi besarnya perubahan-perubahan tersebut sangat tergantung pada elastisitas transmisi dari tarif pada harga di tingkat pedagang besar, elastisitas transmisi dari harga di pedagang besar pada harga produsen, dan elastisitas harga penawaran dan permintaan. Elastisitas transmisi tarif yang lebih tinggi akan berdampak negatif besar pada surplus produsen tetapi juga berdampak positif besar pada surplus konsumen dan secara total berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat.
    Di tingkat usahatani studi tersebut menunjukkan, penurunan tarif akan menurunkan harga di tingkat produsen. Melalui efek harga sendiri dan harga silang, penurunan harga produsen akan menurunkan penggunaan input seperti pupuk dan tenaga kerja yang akan menurunkan produktivitas dan penerimaan bersih usahatani. Seperti terefleksikan pada elastisitas transmisi harga, besarnya dampak pada tingkat usahatani akan tergantung pada sistem pemasaran masing-masing komoditas. Makin efisien sistem pemasaran makin besar elastisitas transmisi harga.
    Dari studi dampak kebijakan ekonomi dan liberalisasi perdagangan terhadap penawaran dan permintaan beras di Indonesia 1971-2000, Sitepu (2002) menunjukkan bahwa areal sawah telah mencapai kondisi closing cultivation frontier, yaitu mencapai batas maksimum lahan subur yang layak untuk areal sawah akibat meningkatnya kompetisi penggunaan lahan. Sementara produktivitas padi telah mengalami pelandaian produksi (levelling off), sebagai akibat penggunaan pupuk yang tidak berimbang sehingga respon produksi terhadap harganya menjadi inelastis. Lebih lanjut dikemukakan oleh Sitepu (2002), kebijakan harga dasar gabah akan menyebabkan net surplus bertambah, sedangkan kebijakan penghapusan subsidi harga input berdampak pada penurunan produksi dan pendapatan petani. Namun demikian total net surplus akan mengalami peningkatan. Pemberlakuan liberalisasi perdagangan (dalam hal ini melalui penghapusan peran Bulog dalam pengadaan dan penyaluran gabah/beras serta penghapusan tarif) tidak efisien dan tidak tepat untuk dilaksanakan karena keuntungan yang diterima oleh konsumen lebih kecil dibandingkan dengan kerugian yang diterima oleh produsen, sehingga total net surplus berkurang. Alternatif kebijakan ini merugikan petani kecil yang umumnya miskin dan akan memperburuk distribusi pendapatan.
    Indikasi dampak negatif dari liberalisasi terhadap petani (pertanian) juga terjadi di negara maju seperti Jepang. Studi Kamiya (2002) menyebutkan, liberalisasi menyebabkan harga komoditas pertanian di pasar domestik Jepang yang semula sangat tinggi karena diproteksi menjadi terus menurun. Penurunan harga tersebut mengakibatkan pengusahaan komoditas pertanian menjadi tidak menguntungkan. Akibat selanjutnya, banyak areal pertanian yang dibiarkan tidak tergarap di samping semakin sedikit petani yang bersedia mengusahakan.
    Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka sehingga keterkaitan pasar domestik dengan pasar dunia (global) menjadi sulit dihindarkan, termasuk untuk pasar pangan. Masalahnya, dengan tekanan liberalisasi yang semakin kuat bagaimana pemerintah dapat memanfaatkan peluang pasar global untuk mendukung ketahanan pangan nasional tetapi dengan menghindari kemungkinan dampak negatif pengaruh liberalisasi terhadap produsen pangan di dalam negeri.
    Sebagai anggota WTO Indonesia terikat pada Perjanjian Pertanian (Agreement on Agricultural, AoA) dalam perdagangan pangan internasional, di samping perjanjian SPS (Agreement on Sanitary and Phytosanitary). Namun implementasi Perjanjian Pertanian yang meliputi elemen:
    1. peningkatan akses pasar,
    2. pengurangan subsidi eskpor, dan
    3. pengurangan bantuan domestik,
    selama ini dianggap terlalu mengedepankan peningkatan akses pasar di negara-negara berkembang sehingga harga komoditas menjadi tertekan (Sawit, 2003). Di Indonesia tarif impor komoditas pertanian, kecuali beras dan gula pasir telah diturunkan hingga tinggal 0-5 persen dan subsidi input pertanian telah dicabut sejak tahun 1998. Dengan demikian, sektor pertanian di Indonesia telah mengalami liberalisasi dan hanya mengacu pada sinyal pasar (Hadi, 2003). Studi Erwidodo (1999) menunjukkan bahwa selama periode 1985-1996 total perdagangan Indonesia meningkat sekitar 12 persen, dimana laju peningkatan ekspor mencapai 11 persen dan laju peningkatan impor sebesar 13 persen. Relatif besarnya laju peningkatan impor mengindikasikan terjadinya kecenderungan surplus perdagangan yang makin menurun dalam kurun periode tersebut. Meskipun kontribusi terhadap pembentukan PDB relatif kecil, perdagangan komoditas pertanian juga mengalami surplus perdagangan. Akan tetapi berbeda dari neraca perdagangan secara agregat (nasional), neraca perdagangan komoditas ini masih mengalami surplus yang cenderung meningkat.
    BAB III
    SIMPULAN

    Meskipun secara teori, liberalisasi akan menghasilkan manfaat bagi para pelaku perdagangan, dalam implementasinya terjadi ketimpangan dan perbedaan. Negara produsen pertanian Negara Negara berkembang pada umumnya berada pada posisi yang dirugikan atau sedikit sekali memperoleh benefit perdagangan internasional komoditas pertanian. Liberalisasi dapat mengakibatkan dampak buruk yang bias mengancam pasar domestic dan kepentingan domestic lainnya menyangkut kesejahteraan petani produsen dan ketahanan pangan. Hal tersebut bias terjadi karena perbedaan dalam kepemilikan sumber daya, penguasaan teknologi produksi, perkembangan ekonomi dan komitmen pemerintah untuk membela kepentingan sektor pertanian.
    Kemampuan sektor pertanian dalam peningkatan produksi sangat bergantung pada kemampuannya dalam mengatasi kendala pengembangan yang dihadapi saat ini, yang mencakup keterbatasan pengembangan lahan beririgasi, teknologi varietas unggul, ketersediaan anggaran pembangunan, dan penyediaan sistem insentif untuk mendorong peningkatan produksi dan pendapatan petani. Kebijakan strategis yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah:
    1. peningkatan investasi pemerintah dalam pengembangan infrastruktur utama seperti irigasi, penelitian dan pengembangan serta penyuluhan,
    2. mendorong dan memfasilitasi keterlibatan swasta dalam pembangunan pertanian,
    3. peningkatan insentif usaha tani (input, output, kapital) dalam spirit koreksi kegagalan pasar, dan
    4. memfasilitasi perkembangan agroindustri padat tenaga kerja di pedesaan.

    Daftar Pustaka

    Abidin Z,. 2000, Dampak Liberlasasi Perdagangan terhadap Keragaan Industri Gula Indonesia: Suatu Analisis Kebijakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

    Arifin, Bustanul, 2003, Dekomposisi Pertumbuhan Pertanian Indonesia, Paper, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

    Herliana, L,. 2004. Peranan Pertanian dalam Perekonomian Indonesia: Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi dalam Perspektif Structural Path Analysis. Tesis Magister. Sekolah Sekolah Pascasarjana, IPB, Bogor.

    iii

  43. PENGARUH PENGHAPUSAN TARIF
    TERHADAP PERDAGANGAN INTERNASIONAL

    MAKALAH

    Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
    Mata Kuliah Ekonomi Internasional

    Oleh :
    ENUNG NURYANI
    NPM : 093401020

    EKONOMI PEMBANGUNAN
    FAKULTAS EKONOMI
    UNIIVERSITAS SILIWANGI TASIKMALAYA
    2011
    BAB I
    PENDAHULUAN

    I. LATAR BELAKANG MASALAH

    Dalam melakukan kegiatan perdagangan internasional, setiap pelaku bisnis tidak bias terlepas dari interaksi dengan Negara lain untuk memperluas wilayah pemasarannya agar dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hal ini juga dapat didukung oleh terpenuhinya permintaan dalam negeri sehingga harga berkurang dan atau meningkatnya permintaan luar negeri sehingga harga lebih tinggi atau sebab lain yang lebih menguntungkan.
    Dengan demikian, maka setiap pelaku bisnis, dalam hal ini ekportir, menghendaki adanya kebebasan dalam melakukan transaksi di negara lain. Namun, ketika suatu jenis produk masuk kepasar domestic suatu Negara bertemu dengan jenis produk lokal yang sama dan terjadi persaingan, maka produk local cenderung akan dilindungi oleh kebijakan Negara tersebut. Chang dan Grabel menyatakan bahwa hamper tidak ada negara di dunia ini yang tidak melindungi industry dalam negerinya, apalagi itu menyangku tindustr ikunci. Pada awal pembangunan industri di Amerika Serikat (AS), Inggeris, Jerman, Perancis, mereka melakukan berbagai macam proteksi. Banyak Negara industri di Asia seperti India, Jepang, Taiwan, Korea Selatan dan Malaysia mengikuti kebijakan yang mirip dengan itu.

    II. RUMUSAN MASALAH
    Berdasarkan latar belakang di atas dapat di tarik beberapa rumusan masalah di antaranya :
    1. Apa bentuk kerja sama yang berkaitan dengan pembebasan tarifperdagangan internasional ?
    2. Bagaimana pengaruh penghilangan tarif terhadap perdagangan internasional ?

    III. TUJUAN MAKALAH
    Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
    1. Untuk mengetahui bentuk kerja sama yang berkaitan dengan pembebasan tarif perdagangan internasional.
    2. Untuk mengetahui pengaruh penghilangan tarif terhadap perdagangan internasional.

    IV. SISTEMATIKA PENULISAN
    BAB I PENDAHULUAN
    I. Latar Belakang Masalah
    II. Rumusan Masalah
    III. Tujuan Makalah
    IV. Sistematika Penulisan
    BAB II PEMBAHASAN
    I. Bentuk kerja sama yang berkaitan dengan pembebasan tarif perdagangan internasional
    II. Bagaimana pengaruh penghilangan tarif terhadap perdagangan internasional
    III. BAB III
    Kesimpulan

    BAB II
    PEMBAHASAN

    I. Bentuk Kerjasama yang Berkaitan dengan Pembebasan Tarif

    Seiring berkembangnya zaman, dunia perdagangan internasional telah mengalami kemajuan yang sangat pesat.Negara sebagai salah satu actor utama dalam perdagangan internasional telah berusaha menyepakati sebuah mekanisme atau aturan agar kegiatan perdagangan ini dapat lancer dan efektif berjalan.
    Kegiatan perdagangan ini dilakukan oleh setiap. Negaras ecara global, maka tercetus sebuah ide untuk membentuk sebuah aturan dalam mengatu rbidang perdagangan internasional yang berlaku secara global. Salah satu aturan yang diterapkan adalahs ystem free trade atau perdagangan bebas.Perdagangan bebas yang berbasis liberalism ini berpendapat bahwa perdagangan internasional akan bekerja lebih efektif dan menguntungkan melalui pengurangan hingga penghilangan hambatan–hambatan berupa tariff dan non tarif. Pemikiran ini disetujui oleh negara-negara pada saat itu dan dituangkan dalam General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) pada tahun 1947.
    GATT merupakan sebuah instrument hokum sekaligus sebuah lembaga semu dalam mengatur perdagangan internasional dengan tujuan menghilangkan hambatan-hambatan dalam peragangan internasional. Hingga pada tahun 1994 akhirnya terbentuk sebuahorganisasi nyata dalam perdagangan internasional yang dinamakan World Trade Organization (WTO).
    GATT 1994 yang dihasilkan dari pertemuan Putaran Uruguay ini dengan jelas dimaksudkan sebagai upaya untuk memperjuangkan terciptanya perdagangan bebas, adil dan menstabilkan system perdagangan internasional, dan memperjuangkan penurunan tariff bea masuk serta meniadakan hambatan-hambatan perdagangan lainnya. Lebih lanjut, tujuan kesepakatan GATT ini adalah untuk menciptakan system perdagangan internasional yang lebih bebas dana dil dengan tetap memperhatikan kepentingan negara-negara berkembang pada khususnya yang dijabarkan sebagaiberikut :
    1. Akse spasar (access to market) bagi produk-produk ekspor melalui upaya penurunan dan penghapusan tariff bea masuk, pembatasan kuantitatif maupun hambatan-hambatan perdagangan non-tariflainnya;
    2. Memperluas cakupan produk perdangan internasional, termasuk perdagangan di bidang jasa, pengaturan mengenai aspek-aspek dagang dari Hak Atas Kekayaan Intelektual, dan kebijakan investasi yang berkaitan dengan perdagangan;
    3. Peningkatan peranan GATT dalam mengawasi pelaksanaan komitmen yang telah dicapai, dan memperbaiki system perdagangan multi lateral berdasarkan prinsip-prinsip dan ketentuan-ketentuan yang tertuang dalam GATT;
    4. Peningkatan sistem GATT supaya lebih tanggap terhadap perkembangan situasi perekonomian, serta mempererathubungan GATT dengan organisasi-organisasi internasional yang terkait khususnyan dengan prospek perdagangan produk-produk berteknologi tinggi;
    5. Pengembangan bentuk kerja sama pada tingkat nasional maupun internasional dalam rangka memadukan kebijakan perdagangan dan kebijakan ekonomi lain yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian, melalui usaha memperbaiki system moneter internasional.
    II. Pengaruh Penghilangan Tarif Terhadap Perdagangan Internasional
    1. Dampak Penghapusan Tarif
    Dampak Penghapusan Tarif Perdagangan Terhadap Ekspor dampak penghapusan tarif (melalui beberapa tahapan pengurangan) terhadap kinerja ekspor Indonesia. Terlihat bahwa sebagian besar komoditi Indonesia menunjukkan peningkatan ekspor sebagai dampak dari penghapusan tarif secara global. Dari 17 sektor, terdapat 12 komoditi yang mengalami peni ngkatan ekspor. Kesembilan komoditi tersebut adalah hortikultura, kedele, gula, kapas, ternak, susu, kehutanan, perikanan, mi nyak nabati, makanan, dan sektor primer l ainnya.
    Komoditi ternak Indonesia adalah komoditi yang akan mengalami peningkatan ekspor dengan persentase terbesar diantara semua kelompok komoditi. Komoditi ini akan meningkat sebesar 7,56 pesen jika semua negara menghapus tarif terhadap barang yang diimpor sebesar 10 persen. Besarnya peningkatan ekspor ini menandakan bahwa komoditi ternak Indonesia sesungguhnya mampu bersaing dengan komoditi negara lain jika semua negara di dunia menurunkan tarif. Gambar 4 mempertegas temuan bahwa semakin besar penghapusan tarif oleh negara-negara di dunia maka akan semakin pula dampaknya terhadap perubahan peningkatan ekspor Indonesia. Peningkatan ekspor Indonesia akan lebih tajam jika semua negara melakukan penghapusan tarif. Komoditi lain yang juga mengalami peningkatan ekspor cukup tajam bila semua negara mengurangi atau menghapus tarif adalah minyak nabati. Temuan ini cukup beralasan mengingat Indonesia adalah negara penghasil minyak nabati yang cukup besar di dunia. Salah satu komoditi yang masuk dalam kelompok minyak nabati adalah Minyak Sawit. Untuk komoditi ini, Indonesia adalah penghasil dan sekaligus pengekspor terbesar kedua di dunia setelah Malaysia. Komoditi yang juga mengalami peningkatan ekspor cukup besar adalah kedele, hortikultura, gula, dan susu dan kehutanan. Secara keseluruhan komoditi-komoditi ini akan meningkat antara 17 persen hingga 45 persen. Ekspor komoditi lainnya seperti makanan, kapas, dan kelompor sektor primer lainnya meskipun meningkat namun masih dibawah dua digit.
    Ternyata tidak semua komoditi akan meningkat apabila seluruh negara-negara di dunia melakukan pengurangan apalagi penghapusan tari f impor. Komoditi Indonesia yang akan mengalami penurunan ekspor bila semua negara termasuk Indonesia mengahapus tarif adalah komoditi padi, gandum, jagung, manufaktur, dan jasa. Komoditi yang mengalami penurunan ekspor tersebut selama ini ter masuk dalam komoditi strategis Indonesia. Ini berarti bahwa penurunan ekspor untuk komoditi ini akan cukup berdampak terhadap kinerja ekonomi Indonesia

    Diantara semua komoditi tersebut, komoditi padi adalah komoditi yang akan mengalami penurunan ekspor terbesar yaitu sebesar 467 persen. Penurunan ekspor yang begitu besar menunjukkan bahwa sektor i ni betul-betul kalah bersaing dibandingkan dengan komoditi yang sama yang berasal dari luar negeri. Menurut beberapa penelitian (Amang, 2002; Haryadi, 2005; dan Erwi dodo, 2002), ekspor beras Indonesia selama ini bukanlah dikarenakan
    keunggulan dalam bersaing, akan tetapi dikarenakan adanya kelebihan stokberas dan sifatnya hanya sementara. Untuk menghindari kerusakan, makaberas tersebut diekspor ke luar negeri dan bila dibutuhkan lagi maka akan dilakukan impor beras dari negara lain. Indonesia (khususnya untuk komoditi beras) tampaknya akan mengalami penurunan ekspor yang relative sangat besar bila seluruh negara menghapus tarif secara total. yang menunjukkan penurunan tajam ekspor ketika tarif impor dirubah dari pengurangan 80 persen menjadi penghapusan 100 persen. Dampak negatit terhadap ekspor yang cukup besar juga terhadi pada komoditi gandum yang akan menurun sebesar 10 persen. Kebijakan penghapusan tarif secara total juga akan berdampak negatif pada ekspor manufaktur dan jasa. Meskipun persentase penurunan ekspor manufaktur dan jasa belum melampaui dua digit, namun secara total penurunan ini cukup merugikan Indonesia mengingat ekspor manufaktur adalah andalan utama Indonesia dalam meraup devisa. Kondisi yang sama juga terjadi pada sektor jasa, sektor ini selama ini cukup besar mengiri m tenaga kerja keluar negeri. Walaupun secara nominal ti dak menghasilkan devisa sebesar yang diperoleh dari manufaktur, namun sektor ini berhasil mengurangi angka pengangguran di Indonesia

    2. Dampak Penghapusan Tarif terhadap Permintaan Tenaga Kerja Buruh

    Dampak penghapusan hambatan perdagangan berupa penghapusaN tarif impor oleh semua negara/wilayah terhadap impor Indonesia. diketahui bahwa 14 dari 17 kelompok komoditi Indonesia ternyata akan mengalami kenaikan impor bila semua negara mengurangi tarif yang selama ini berlaku. Hasil simulasi ini membuktikan teori perdagangan yang menyatakan bahwa penghapusan tarif akan berdampak terhadap peningkatan impor oleh negara yang melakukan penghapusan tarif tersebut.
    Walaupun ada beberapa komoditi yang mengalami penurunan impor, namun penurunan tersebut di duga disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan dalam negeri meningkat. Contoh komoditi Indonesia yang impornya menurun adalah kapas, kehutanan, dan manufaktur. Salah satu faktor yang diduga kuat berpengaruh terhadap penurunan i mpor adalah karena pemerintah menggalakkan penggunaan produksi dalam negeri.
    Kenaikan impor yang terjadi pada hampir semua komoditi cukup mengkhawatirkan. Adalah benar bahwa di satu sisi dengan penurunan tarif impor maka konsumen dalam negeri akan dapat membeli barang dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang saat masih di kenakan tarif impor, namun di sisi lain penurunan tarif impor tersebut akan menyebabkan produksi domestik (untuk komoditi yang selama ini masih kalah bersaing) menurun. Kondisi ini jelas akan merugikan produsen dalam negeri. hampir semua komoditi tersebut adalah komoditi yang bersifat padat karya. Oleh karena itu, kenaikan impor sebagian besar komoditi tersebut diperkirakan akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja sebagai dampak dari penurunan produksi dalam negeri. Dengan demikian, penurunan tarif justru berdampak pada semakin mengecilnya peluang kerja bahkan berpotensi untuk menciptakan pengangguran. Berpijak dari kenyataan diatas, maka dapat dimaknai bahwa peningkatan impor tidak sepenuhnya menguntungkan perekonomian Indonesia.
    3. Dampak Penghapusan Tarif terhadap Neraca Perdagangan

    Dampak penghapusan hambatan perdagangan terhadap PDB. dari 17 komoditi, 7 komoditi menunjukkan neraca perdagangan defisit. Secara rinci komoditi-komoditi yang mengalami defisit tersebut adalah padi, gandum, jagung, kedele, gula, makanan, manufaktur, dan jasa. Diantara komoditi yang masuk dalam simulasi, defisit terbesar akan terjadi pada komoditi manufaktur yakni US$1.449,58 Juta, sementara komoditi kedua yang defisitnya juga cukup besar adalah padi. Namun demikian, bila dibandingkan dengan nilai ekspor kedua komoditi tersebut, maka
    persentase defisit untuk komoditi padi ternyata lebih besar karena kontribusi ekspor dan impornya relatif lebih kecil dibandingkan dengan ekspor untuk komoditi manufaktur.

    Temuan yang cukup menarik diantaranya adalah besaran perubahan persentase ekspor dan impor tidak serta merta merubah neraca perdagangan pada komoditi bersangkutan. Hal ini ditunjukkan oleh dua kejadian yaitu (1) ketika i mpor dan ekspor meningkat secara bersamaan,
    Meskipun secara persentase kenaikan ekspor pada komoditi tertentu melebihi persentase kenaikan impornya, namun neraca pembayarannya bisa saja tetap mengalami defisit. Kondisi seperti ini terjadi pada komoditi kedelai neraca perdagangan kedelai mengalami defisit walaupun persentase kenaikan ekspornya lebih besar dibandingkan persentase kenaikan impornya. Ini dapat dipahami mengingat secara nominal nilai ekspor kedelai jauh lebih kecil dibandingkan dengan nilai impornya, (2) ketika impor meningkat secara bersamaan, meskipun secara persentase impor dan ekspor suatu komoditi mengalami penurunan secara bersamaan, namun karena penurunan eksporna lebih besar maka neraca perdagangannya tetap mengalami defisit. Contoh seperti ini terlihat pada komoditi manufaktur. Berdasarkan hasil simulasi, impor manufaktur mengalami penurunan 0,51 persen, namun karena ekspornya juga menurun dengan angka yang lebih besar
    maka neraca perdagangan untuk komoditi ini tetap mengalami defisit.
    BAB III
    PENUTUP

    Kesimpulan

    Secara keseluruhan dapat dimaknai bahwa semakin besar pengurangan tarif, maka dampak yang ditimbul kannya baik terhadap ekpor, impor, maupun neraca perdagangan semakin besar.. Semakin besar pengurangan tarif maka perubahan yang ditimbulkannya semakin menjauh dari titik nol atau saat sebelum kebijakan tersebut dilakukan
    Penerapan kebijakan penghapusan tarif akan menurunkan sebagian besar ekspor Indonesia baik itu untuk komoditi pertanian maupun komoditi manufaktur. Meski kebijakan tersebut tidak menurunkan semua ekspor semua komoditi, namun penurunan ekspor pada beberapa komoditi strategis cenderung akan merugikan Indonesia.
    Penerapan kebijakan penghapusan tarif akan meningkatkan impor pada hampir semua komoditi. Meski kebijakan tersebut tidak meningkatkan impor semua komoditi, namun kenaikan impor yang akan terjadi pada beberapa komoditi cenderung akan merugikan Indonesia.
    Penerapan kebi jakan penghapusan tarif akan menyebabkan neraca perdagangan unt uk beberapa komodi ti mengalami defisit terutama untuk beberapa komoditas strategis di sektor pertanian, dan manufaktur secara keseluruhan. Ini berarti bahwa kebijakan tersebut memperburuk neraca perdagangan Indonesia.

  44. Randy JUliyandri
    093401001
    Ekonomi Pembangunan
    randyjuliyandri.blogspot.com

    “Penentuan kurs mata uang dan dampak apresiasi rupiah dolar terhadap perdagangan dalam negeri dan eksport”

    Penentuan Kurs Mata Uang Asing
    Kurs adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu mata uang, jika dipertukarkan dengan mata uang pembandingnya. Nilai kurs suatu mata uang dapat berubah-ubah setiap saat. Kurs terbentuk jika permintaan terhadap suatu mata uang sama dengan penawarannya. Kondisi itu disebut sebagai keseimbangan kurs mata uang.

    Keseimbangan kurs mata uang ditentukan oleh interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran mata uang. Faktor-faktor tersebut antara lain laju inflasi relatif, tingkat pendapatan relatif, tingkat bunga relatif, kontrol pemerintah, dan penghargaan pasar. Perubahan keseimbangan kurs mata uang merupakan hasil interaksi dari keseluruhan faktor.

    Pemahaman terhadap mekanisme pembentukan kurs mata uang sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa nilai suatu mata uang berapresiasi atau terapresiasi. selain itu, pemahaman tersebut juga bermanfaat untuk meramalkan perubahan kurs, dimana kemampuan ini dapat digunakan sebagai salah satu bekal untuk meraih keuntungan melalui spekulasi di pasar valuta asing.

    Dampak Apresiasi Terhdap Perdagangan Dalam Negeri dan Eksport

    Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini terus mengalami penguatan atau apresiasi. Jika pada awal krisis keuangan global – yang dipicu oleh krisis keuangan global – sempat mencapai Rp 12.000 per dolar AS maka kini rupiah terus menguat mendekati Rp 9.000,-. Ketika artikel ini ditulis ( 12/10 2009) kurs rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 9. 421 per dolar AS. Ada yang meramalkan nilai tukar rupiah per dolar AS tersebut bahkan bisa mencapai Rp. 8.500,- per dolar AS.
    Ada beberapa penyebab apresiasi rupiah terhadap dolar AS tersebut. Pertama, terus mengalirnya valuta asing ke Indonesia akibat sentimen positif tentang Indonesia. Ada minimal dua sentimen positif. Sentimen positif pertama adalah dinaikkannya peringkat kemampuan membayar kredit dan berinvestasi di Indonesia oleh Moody’s Investor’s Service dari Ba3 menjadi Ba2. Peringkat ini merupakan yang tertinggi setelah krisis tahun 1998. Moody’s melihat bahwa resiko memberikan kredit dan berinvestasi di Indonesia menurun karena beberapa hal antara lain: tetap poistifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia ketika semua negara (kecuali juga RRC dan India) mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sebagai dampak dari krisis keuangan global yang lalu. Sentimen positif kedua adalah direvisinya pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2009 oleh Bank Dunia dari semula 3,5 persen menjadi 4,3 persen.
    Kedua, sebab datang dari AS sendiri. Salah satunya adalah kebijakan defisit APBN yang dilakukan oleh Presiden Barrack Obama yang meneruskan kebijakan Presiden Bush. Yang menjadi persoalan adalah defisit tersebut ditutup dengan pencetakan uang baru yang menyebabkan tingkat inflasi di AS meningkat. Bertambahnya jumlah dolar AS – sementara banyak mata uang negara-negara lain jumlahnya konstan – telah menyebabkan penurunan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang termasuk rupiah.
    Ketiga, sejak krisis finansial di AS tahun 2008 dan 2009 yang sampai sekarang belum pulih benar telah menyebabkan para pencari rente atau spekulan dalam valuta asing memindahkan investasinya dari dolar AS ke mata uang lain misalnya ke Euro. Akibatnya banyak dolar AS yang dijual ke pasaran sehingga nilai tukar dolar AS terhadap mata uang lain mengalami penurunan atau terdepresiasi atau nilai tukar mata uang lain terhadap dolar AS mengalami kenaikan atau terapresiasi.
    Keempat, adanya tambahan pasokan Special Drawing Right (SDR) dari IMF sebesar SDR 1,74 atau setara dengan 2,7 milyar dolar AS. Sebagaimana diketahui Special Drawing Rights (SDR) adalah semacam surat berharga yang dikeluarkan oleh IMF untuk membantu negara-negara yang membutuhkan pasokan valuta asing karena berbagai sebab misal karena defisit neraca pembayaran internasionalnya SDR ini bisa diperlakukan sebagai cadangan valuta asing atau devisa. Akibat tambahan SDR dari IMF ini maka cadangan devisa Indonesia telah bertambah menjadi 62,3 milyar dolar AS. Pertambahan devisa bisa diartikan sebagai tambahan pasokan dolar AS. Jika rupiah yang beredar jumlahnya tetap maka jika dolar AS bertambah jumlahnya akan mengakibatkan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah turun (terdepresiasi) atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik atau terapresiasi.
    Pertanyaannya kemudian adalah apakah kecenderungan apresiasi rupiah terhadap dolar AS ini kabar baik ataukah kabar buruk bagi perekonomian Indonesia? Jawaban singkatnya adalah ada kabar baiknya tetapi juga ada kabar buruknya.

    Kabar Baiknya
    Kabar baik dari terapresiasinya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ada beberapa. Pertama, beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri baik milik pemerintah maupun swasta (perusahaan) akan berkurang.
    Kedua, menguatnya nilai tukara rupiah terhadap dolar AS juga akan membuat Indonesia lebih percaya diri untuk membuat kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak tergantung pada komando AS dan lembaga-lembaga yang selama ini menjadi bonekanya. Kuatnya pengaruh nilai tukar terhadap keputusan-keputusan suatu negara untuk “melawan” dominasi AS tampak pada kasus perang As melawan Irak. Karena nilai tukar Euro terhadap dolar AS lebih kuat maka banyak negara-negara Eropa termasuk Inggeris yang menentang agresi AS ke Irak waktu itu. Padahal sebelumnya negara-negara Eropa selalu mendukung apapun kebijakan AS.
    Ketiga, perusahaan-perusahaan yang selama ini memakai bahan baku dan mesin yang diimpor akan diuntungkan karena harga barang impor menjadi lebih murah jika terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dengan harga bahan baku yang lebih murah maka marjin keuntungannya akan lebih tinggi (jika ia tidak menurunkan harga) atau jika ia menurunkan harga maka ia akan bisa meningkatkan volume penjualannya sehingga pangsa pasarnya akan membesar. Membesarnya pangsa pasar akan memberikan berbagai keuntungan misalnya membentengi perusahaan baru yang akan masuk dan semakin luasnya pengenalan masyarakat akan produk yang dijual.
    Keempat, menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga akan memberikan semacam “surplus” dalam APBN 2009 karena asumsi nilai tukar yang lebih rendah dari yang sekarang terjadi. Sebagaimana diketahui asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam APBN Perubahan (APBN-P) tahun 2009 adalah Rp 10.600,- per dolar AS. Dengan realisasi nilai tukar yang lebih tinggi maka akan ada tambahan pemasukan dari pajak ekspor baiki migas maupun non-migas dan penerimaan bukan pajak berupa penerimaan ekspor migas maupun non-migas. Sementara itu, di sisi pengeluaran akan bisa dihemat subsidi BBM dan pembayaran cicilan serta bunga utang luar negeri.

    Berita Buruknya
    Namun, menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mempunyai sis buruk atau membawa berita buruk. Pertama, bagi produsen atau pengusaha yang orientasi pasarnya adalah ekspor. Dengan apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS maka harga produk Indonesia menjadi lebih mahal dipandang dari sisi mata uang asing (dolar AS). Maka hal tersebut akan mengurangi ekspor.
    Kedua, seperti disebutkab di depan, apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan membuat harga barang-barang impor menjadi lebih murah. Hal tersebut akan menguntungkan bagi pengusaha yang bahan baku dan peralatan mesinnya diimpor. Akan tetapi impor Indonesia tidak hanya bahan baku dan mesin tetapi juga barang-barang jadi. Akibatnya juga harga barang-barang jadi (barang konsumsi) impor turun. Ini akan merupakan pukulan bagi produsen-produsen dalam negeri. Jika produsen dalam negeri mengalami kesulitan dan sampai mengalami penyusutan omset dan produksi maka dampak berikutnya adalah pengusaha akan mengurangi jumlah tenaga kerja yang dipekerjakannya. Maka upaya penanggulangan kemiskinan akan menghadapi pukulan berat pula.

    Lebih Mendasar
    Selain menimbang baik dan buruknya BI dan pemerintah perlu membenahi masalah-masalah yang sifatnya lebih mendasar. Pertama, bukan apresiasi atau depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang penting tetapi berapa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang wajar dan nyaman (favourable) bagi semua pihak. Ada yang menyatakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang wajar dan nyaman bagi semua pihak itu berkisar antara Rp 9.000 sampai Rp 9.500,-. Jika penguatan rupiah sampai di bawah Rp 9.000,- maka rupiah sudah dinilai terlalu tinggi (overvalued).
    Kedua, fokus dan energi dari BI dan pemerintah hendaknya tidak dihabiskan pada menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar dan mencari nilai tukar Rp/dolar AS yang wajar tetapi juga bagaimana mendorong sektor riil yang langsung bersinggungan dengan masyarakat banyak. Beberapa pkerjaan rumah untuk membenahi sektor riil tersebut adalah pembenahan infrastruktur, penciptaan iklim usaha yang lebih sehat antara lain dengan pemberantasan suap dan korupsi, dan menciptakan regulasi yang nyaman bagi dunia usaha
    Ketiga, masalah penanggulangan kemiskinan juga harus menjadi fokus utama dan ditangani secara mendasar. Selama ini kemiskinan hanya ditanggulangi secara ad hoc dengan BLT. Itupun dilakukan menjelang pemilu. Meskipun “politik uang” tersebut sangat manjur untuk memenangi pemilu dan tampaknya akan menjadi tren bagi partai penguasa maupun oposisi, tetapi itu bukanlah cara yang benar untuk memerangi kemiskinan. Dibutuhkan langkah lebih fundamental, misalnya dengan pendirian lembaga penjaminan kredit bagi UMKM.

    Dalam menganalisis permaslahan khususnya dalam bidang ekonomi banyak dijumpai model-model kuantitatif seperti model simultan, regresi berganda, dan model non parametrik lainnya. Salah satu model kuantitatif yang masih jarang dipakai dalam penelitian kasus-kasus ekonomi adalah model Analisis Jalur (Path Analysis). Dalam analisis jalur akan diungkapkan apakah suatu variabel akan berpengaruh secara langsung dengan variabel lain, atau pengaruh tersebut harus memlalui variabel antara. Tulisan ini akan mencoba mengaplikasikan alat analisis jalur pada kasus penurunan nilai mata uang rupiah dan dampaknya terhadap term of trade dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Periode waktu yang dipilih antara tahun 19980 hingga tahun 1995. Dipilihnya periode waktu ini mengingat antara tahun 1980 hingga tahun 1995 penurunan nilai rupiah murni akibat dari permintaan dan penawaran di pasar. Sedangkan periode setelah itu penurunan nilai rupiah lebih diakibatkan oleh gejolak politik dan kondisi ekonomi dunia yang tidak stabil.
    Jika diamati perkonomian Indonesia sejak masa Orde Baru, sudah bersifat terbuka. Keterbukaan ini dapat dilihat dari beberapa aspek. Dari sisi pengeluaran Produk Domestik Bruto (PDB), terdapat besaran angka yang cukup menonjol dari nilai ekspor maupun impor. Selain itu, setiap saat terdapat transaksi penerimaan dan pengeluaran antara Indonesia dengan negara lain, baik berupa uang, modal, komoditas, maupun teknologi. Dilihat dari sistem pengaturan devisa, sejak tahun 1968 Indonesia telah menganut sistem devisa bebas, dalam arti tidak ada larangan untuk membawa, menyimpan, atau menggunakan devisa dalam jumlah berapapun. Hal ini menunjukkan kemudahan aliran uang dan modal asing untuk masuk maupun keluar dari Indonesia. Dilihat dari sistem penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Indonesia masih mengandalkan bantuan dan pinjaman dari luar negeri sebagai upaya menambah penerimaan negara untuk membiayai pembangunan.
    Implikasi dari adanya keterbukaan tersebut, maka perkembangan perekonomian Indonesia sangat dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian internasional. Hal ini tercermin dari pola perdagangan Indonesia yang mengalami fluktuasi sebagai akibat perkembangan nilai ekspor dan impor yang mengalami fluktuasi.
    Ditinjau dari komposisi nilai ekspor Indonesia terlihat bahwa pada awal pembangunan di Idonesia dominasi minyak bumi dan gas alam masih cukup besar. Namun perkembangan selanjutnya nampak peranan ekspor migas semakin menurun, bahkan sejak tahun 1987 terlihat terjadi pergeseran komposisi ekspor dari migas ke non migas. Keadaan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong ekspor non migas guna menggantikan posisi migas sebagai penyumbang utama devisa negara. Walaupun posisi ekspor non migas telah berhasil menggeser posisi ekspor migas, namun bila ditinjau dari keadaan transaksi berjalan dalam neraca pembayaran yang terus menerus mengalami defisit akibat pengeluaran jasa yang semakin besar, menunjukkan bahwa penerimaan ekspor terutama non migas belum mampu untuk menutupi kebutuhan impor dan pembayaran jasa-jasa seperti pada masa kejayaan harga minyak bumi.
    Kondisi transaksi berjalan dalam neraca pembayaran yang mengalami defisit terus menerus, dan menyadari harga minyak bumi yang kian tidak menentu, maka upaya untuk meningkatkan penerimaan ekspor non migas mutlak diperlukan. Salah satu upaya untuk mendorong peningkatan ekspor adalah dengan mempengaruhi nilai tukar mata uang (Branson, W, 1978).
    Atas dasar inilah pemerintah Indonesia sejak tahun 1986 (devaluasi terakhir) mengambil kebijakan untuk mengambangkan nilai mata uang rupiah. Jika pada periode sebelumnya kurs rupiah masih menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat sebagai standar utama, maka sejak tahun 1986 nilai mata uang rupiah sudah dikaitkan dengan beberapa mata uang dunia yang kuat (basket currencies). Tujuan utama kebijakan ini adalah agar nilai tukar rupiah menjadi lebih realistis, karena tingkat kurs yang berlaku ditetapkan atas permintaan dan penawaran pasar. Dalam sistem ini nilai mata uang akan mengalami kenaikan (apresiasi) dan penurunan (depresiasi), sehingga daya saing ekspor akan dapat dipertahankan.
    Namun dalam kenyataannya sejak diberlakukannya kebijakan tersebut nilai rupiah cenderung mengalami penurunan terus menerus (depresiasi). Keadaan ini walaupun mungkin memberikan dampak yang baik terhadap peningkatan ekspor, namun demikian belum tentu menimbulkan dampak yang baik terhadap kegiatan ekonomi lainnya, seperti nilai tukar dagang (terms of trade), neraca pembayaran, dan bahkan pada laju pertumbuhan ekonomi dalam negeri. .
    dampak penurunan nilai tukar mata uang (depresiasi) terhadap nilai tukar dagang (terms of trade) dan pertumbuhan ekonomi. Dampak depresiasi nilai mata uang terhadap terms of trade dan pertumbuhan ekonomi suatu negara dapat dianalisis sebagai dampak penurunan nilai mata uang akibat kebijakan devaluasi. Hal ini mengingat dalam sistem kurs mengambang, baik devaluasi maupun depresiasi dalam jangka panjang mempunyai dampak yang sama, bahkan depresiasi dalam jangka panjang sering disebut sebagai devaluasi terselubung.
    Dampak depresiasi maupun devaluasi terhadap terms of trade (Px/Pm) dapat ditelusuri dengan melihat apakah kemampuan mengimpor negara yang mengalami depresiasi tersebut meningkat sebagai akibat perolehan ekspor atau justru kemampuan tersebut semakin menurun. Jika kemampuan mengimpor ini semakin menurun, maka terms of trade semakin memburuk. Hal ini berarti kenaikan harga impor akibat depresiasi lebih tinggi dari harga ekspor yang terjadi. Semakin membaik atau semakin memburuknya terms of trade akibat depresiasi sangat tergantung pada elastisitas permintaan dan penawaran terhadap impor dan terhadap ekspor. Elastisitas ini dapat ditentukan dengan melihat dampak depresiasi tersebut terhadap harga ekspor dan harga impor.

  45. NAMA : LIGAR CAHYA SOLIHAT
    NPM : 093401003
    Ekonomi Pembangunan
    Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
    Mata kuliah perdagangan internasional

    BAB I
    PENDAHULUAN
    I.I LATAR BELAKANG MASALAH
    Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran. Inti masalah ekonomi adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Permasalahan tersebut kemudian menyebabkan timbulnya kelangkaan. Maka untuk mengatasi kelangkaan tersebut terjadilah pertukaran atau perdagangan dalam negeri maupun luar negeri, sehingga dalam perdagangan tersebut ada faktor saling melengkapi.
    Dalam perdagangan dalam negeri ataupun luar negeri terdapat kebijakan-kebijakan perdagangan. Kebijakan tersebut penting karena kebijakan di suatu sektor bertujuan untuk meningkatkan kinerja dari sektor tersebut. Namun demikian, karena di dalam suatu ekonomi, sektor-sektor ekonomi saling terkait satu dengan lainnya, langsung dan tidak langsung, maka efektivitas dari suatu kebijakan terhadap kinerja dari sektor bersangkutan sangat ditentukan oleh (selain faktor-faktor lain) kebijakan-kebijakan lain di sektor-sektor lainnya.
    Kerjasama ekonomi dan keuangan khususnya dibidang perdagangan internasional dewasa ini mengarah kepada pembentukan kerjasama guna mewujudkan integrasi ekonomi dan keuangan secara regional.Integrasi ekonomi (economic integration) adalah salah satu bentuk kerjasama ekonomi antarnegara yang terorganisir, dengan tujuan untuk mempermudah transaaksi ekonomi sehingga setiap negara dapat mengambil keuntungan dari perdagangan tersebut.
    Proses globalisasi dalam berbagai bidang serta perkembangan teknologi dan informasi menimbulkan gejala menyatunya ekonomi semua negara dan bangsa. Terjadi hubungan saling ketergantungan dan integrasi ekonomi nasional ke dalam ekonomi global. Proses itu terjadi secara bersamaan dengan bekerjanya mekanisme pasar yang dijiwai persaingan. Tindakan persaingan antar pelaku usaha tidak jarang mendorong dilakukannya persaingan curang, baik dalam bentuk harga maupun bukan harga (price or nor price competition). Dalam bentuk harga misalnya terjadi diskriminasi harga (price discrimination) yang dikenal dengan istilah dumping. Dumping merupakan salah satu bentuk hambatan perdagangan yang bersifat nontarif, berupa diskriminasi harga.

    I.II RUMUSAN MASALAH
    1. Kerjasama dan Organisasi perdagangan internasional ?
    2. Kebijakan non tarif ?
    3. Dampak penghilangan tarif ?
    I.III TUJUAN MASALAH
    1. Mengetahui organisasi pedangan internasional.
    2. Mengetahui bagaimana kebijakan non tarif.
    3. Mengetahui dampak penghilangan tarif.

    BAB II
    PEMBAHASAN
    I.3.I Kerjasama dan Organisasi perdagangan internasional
    Tahapan perkembangan hukum perdagangan internasional dapat dijelaskan melalui perjalanan sejarah. Pertama adalah hukum itu berawal dari kegiatan para pedagang. Hukum yang dibuat mereka yang kini lazim disebut dengan Lex Mercatoria ( Law of Merchant). Kedua adalah perkembangan hukum dagang yang terjadi di tiap-tiap negara. Perkembangan pada tahap ini, tiap negara mulai memasukkan hukum dagang internasional ke dalam aturan nasional. Ketiga; mulai munculnya hukum perdagangan internasional serta organisasi-organisasi internasional di bidang perdagangan. Tahap ini dipengaruhi oleh banyaknya perjanjian-perjanjian internasional di bidang perdagangan baik yang bersifat bilateral maupun multilateral.
    Signifikansi perkembangan hukum perdagangan internasional mulai terasa sejak berakhirnya Perang Dunia kedua. Kehancuran ekonomi di sebagian besar dunia (khususnya Eropa) pada saat itu telah menyadarkan masyarakat internasional bahwa ekonomi dan perdagangan antarnegara merupakan sebuah satu-kesatuan. Kerjasama internasional ini kemudian dikenal dengan Bretton Wood System, yaitu pendirian Bank Dunia (World Bank), Dana Moneter International (IMF) dan GATT. Tujuan ketiga lembaga tersebut memiliki tugas-tugas yang khusus dan berbeda, namun pada dasarnya mendukung kebijakan pasar bebas ( free market) dan persaingan bebas (free competition).
    GATT merupakan kesepakatan antarnegara untuk menghilangkan tarif yang dapat menghambat perdagangan dan persaingan bebas dalam pasar dunia. Tujuan itu tercantum dalam bagian “Preambule” perjanjian. Usaha untuk mencapai tujuan GATT dilakukan para negara anggota dengan menghilangakn hambatan-hambatan perdagangan bebas. Salah satu tindakan yang dianggap dapat menganggu tersebut adalah subsidi. Akan tetapi , karena perbedaaan sistem ekonomi dan tingkat kesejahteraan negara anggota yang berbeda pada saat itu , maka tidak memungkinkan untuk menghapus subsidi sama sekali. Oleh karena itu pengaturan subsidi diperbolehkan dengan adanya pembatasan. Ketentuan subsidi diatur GATT dalam Pasal 16 (Article XVI). Ketentuan subsidi dalam pasal tersebut menyebutkan bahwa setiap tindakan subsidi yang diambil para pihak harus diberitahukan kepada para pihak perjanjian lainnya. Larangan subsidi juga diberlakukan atas produk-produk utama, yang memungkinkan akan terjadinya gangguan dalam perdagangan internasional.
    Berbeda dengan kedua lembaga yang dibentuk (World Bank dan IMF), GATT bukanlah sebuah lembaga. Hal ini dikarenakan rencana pembentukan lembaga perdagangan internasional (International Trade Organization / ITO) gagal tercipta setelah dilakukan penolakan oleh Amerika Serikat. Melihat kenyataan yang ada bahwa lembaga perdagangan internasional (ITO) gagal terbentuk, negara-negara mulai mengambil inisiatif untuk memberlakukan GATT melalui “Protocol of Provisional Application” yang ditandatangani oleh 22 negara anggota asli GATT pada akhir 1947.

     KERJASAMA YANG BERSIFAT MULTILATERAL INTERNASIONAL
    Merupakan suatu organisasi kerjasama perdagangan internasioanl yang anggotanya terdiri dari hampir seluruh negara di dunia.Contohnya adalah GAAT/WTO, UNCTAD, WCO/CCC

    GATT(General Agreement on Trade and Tariff) adalah organisasi internasional mengenai persetujuan umum tetang tarif dan perdagangan yang didirikan berdasarkan Havana Charter pada tahun 1948. Tujuannya adalah meningkatkan arus perdagangan internasioanl yang bebas terbuka dan kompetitif dengan prinsip-prinsip yang disebut GAAT Clause yang berisi antara lain:
    a.Prinsip Free Trade dengan menghilangkan / mengurangi berbagai hambatan perdagangan internasional baik yang bersifat tarif maupun non tarif
    b.Prinsip Resiprositas dan nondiskriminasi yang dikenal sebagai Most Favirised Nation Clause (MFNC) yang mengharuskan setiap negara untuk memberikan perlakuan yang sama dalam kebijaksanaan perdagangan internasioanl kepada negara penanda tangan lain.
    Kelebagaan GATT disempurnakan beradasarkan hasil putaran Uruguay tahuan 1993 dengan membentuk World Trade Organization(WTO) yang mulai berfungsi sejak 1 Januari 1995.
    UNCTAD(United Nation Conference on Trade and Development) yaitu suatu organisasi yang diditrikan PBB tahun 1964 yang disponsori oleh kelompom 77. Tujuanya untuk meningkatkan kerjasama perdagangan dan pembangunan diantara kelompok negara industri maju dan negara sedang berkembang.
    WCO/CCC (World Customs Organization) yang sebelumnya disebut dengan CCC( Customs Cooperation Council) merupakan organisasi bea dan cukai sedunia yang didirikan pada tanggal 15 Desember 1950 di Brussel Belgia. Tujuannya adalah untuk memperbaiki dan mengharmoniskan cara kerja bea dan cukai sedunia, sehingga dapat memperlancar arus lalu lintas perdagangan dan penumpang serta investasi internasional.

     ORGANISASI MULTILATERAL REGIONAL
    Adalah organisasi kerjasama ekonomi perdagangan yang anggotanya terdiri dari beberapa negara di kawasan/wilayah tertentu. Contohnya AFTA, NAFTA, LAFTA, APEC, EEC.
    KERJASAMA BILATERAL
    Kerjasama yang bersifat bilateral adalah kerjasama perdagangan antara dua negara, misalnya kerjasama anatara Indonesia dengan Jepang, Indonesia dengan Amerika Serikat dsb.
    KERJASAMA SEKTORAL
    Kerjasama menyangkut sektor/bidang tertentu yang banyak dilakukan oleh negara sedang berkembang dalam bentuk International Commodity Agreement (ICA). Dengan tujuan meningkatkan harga ekspor dan pendapatannya.Ada tiga tipe ICA masing masing
    1.Tipe Buffer Stocks dengan cara membeli komoditi untuk menambah stock sewaktu harga jatuh dibawah harga yang disepakati dan selanjutnya menjual stock ke pasar waktu harga komoditi itu tinggi.
    2.Tipe Export controls, bertujuan mengatur jumlah komoditi yang boleh diekspor oleh masing-masing negara anggota agar stabilitas harga komoditi yang bersangkutan dapat terjaga.
    3.Purchase contract, yaitu persetujuan multilateral dalam jangka panjang antara negara produsen dengan negara konsumen dengan sutu persetujuan dan ketentuan yang telah disepakati bersama.

    I.3.2 Kebijakan non tarif
    Tarif adalah Kebijaksanaan yang dilakukan pemerintah untuk mengenakan pajak atau bea terhadap barang import. Tujuannnya adalah untuk melindungi kepentingan ekonomi atau industri dalam negeri, untuk salah satu sumber penerimaan Negara dan untuk pemerataan distribusi pendapatan nasional.
    Bentuk-Bentuk tarif :
    1.advalorem dutyàpengenaan tarif berdasarkan nilai barang import (misalnya 10% dari harga)
    2.Specific taxàpengenaan tarif per unit barang impor (misalnya Rp 10.000 perunit/per kg dsb)
    3.Compound tariff àkombinasim antara (1) dan (2).
     Kebijakan Non Tarif
    Quota adalah pembatasan jumlah atau volume fisik terhadap barang yang melewati batas suatu negara baik ekspor maupun impor, sehingga ada dua quota yaitu quota impor dan quota ekspor. Tujuan Quota:
    1.melindungi kepentingan industri dan hasil pertanian
    2.Keseimbangan Neraca pembayaran
    3.Melindungi kepentingan ekonomi nasional
    Macam-macam Quota :
    1.absolute/unilateral quotaàditetapkan oleh satu negara secara sepihak
    2.negotiated/bilateral quotaàquota berdasarkan kesepakatan/perjanjian antar dua negara 3.Tarif quotaàkombinasi pengenaan tarif dan quota.
    I.3.3 Dampak Penghilangan Tarif
    Kebijakan liberalisasi (deregulasi) perdagangan telah dilakukan pemerintah sejak awal 1980an. Secara gradual pemerintah membuka perekonomian dengan mengeluarkan serangkaian kebijakan penurunan tarif dan menghilangkan kebijakan non-tarif yang menghambat masuknya barang impor secara bertahap. Di samping itu, Indonesia juga melakukan kerjasama perdagangan regional melalui ASEAN Free Trade Area (AFTA). Selanjutnya kebijakan liberalisasi perdagangan makin meningkat sejalan dengan derasnya arus globalisasi dan masuknya Indonesia dalam kerjasama internasional melalui World Trade Organization (WTO). Sementara itu, krisis nilai tukar yang berlanjut menjadi krisis finansial pada 1997 membuka kebijakan perdagangan yang harus sejalan dengan komitmen yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan IMF sebagai bagian dari IMF conditionalities. Ada beberapa hal yang belum menjadi komitmen Indonesia dalam WTO yang harus dilaksanakan sesuai dengan LoI tersebut. Keuntungan yang sering dijadikan argumen dalam melakukan kebijakan liberalisasi perdagangan antara lain untuk meningkatkan efisiensi. Peningkatan efisiensi tersebut dilakukan melalui beberapa jalur berikut. Pertama, melalui peningkatan produktivitas karena makin efisiennya alokasi sumber daya baik dalam suatu industri maupun antar industri. Kedua, melalui peningkatan persaingan. Liberalisasi berpotensi untuk meningkatkan kompetisi antara produsen domestik dengan luar negeri, sehingga produsen domestik yang tidak efisien akan keluar dari industri selanjutnya industri secara keseluruhan akan menjadi lebih efisien. Disamping itu, dengan makin efisien dan makin meningkatnya tingkat persaingan suatu industri maka akan mendorong penurunan excess profit (marjin keuntungan yang berlebih) menjadi normal profit pada produsen domestik yang sebelumnya menikmati proteksi dalam sistem pasar yang oligopolistik. Hal ini akan mendorong harga barang domestik dan impor menjadi relatif lebih rendah dan selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkat inflasi. Pengendalian inflasi merupakan tugas pokok Bank Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, studi mengenai dampak kebijakan liberalisasi perdagangan terhadap pembentukan harga produk industri dipandang perlu. Hal ini dapat meningkatkan kemampuan memprediksi secara akurat tingkat inflasi dari sektor industri dan selanjutnya dapat meningkatkan akurasi prediksi inflasi indeks harga konsumen (IHK).
    Liberalisasi perdagangan sudah merupakan fenomena dunia yang nyaris tidak dapat dihindari oleh semua negara sebagai anggota masyarakat internasional. Fenomena ini ditengarai oleh terbentuknya blok-blok perdagangan bebas, yang menurut Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO) sudah hampir mencapai angka 250. Blok perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dapat di-bentuk secara bilateral diantara nya yang berdampak langsung pada Indonesia seperti AFTA, ACFTA, AKFTA, AANZFTA, IJEPA, APEC hingga WTO. Liberalisasi perdagangan secara bertahap dilakukan secara Multirateral, Regional dan Bilateral, yang secara berurutan merupakan prinsip the first best choice , second best choice dan third best choice.
    Preferensi Perdagangan Internasional dijelaskan bahwa FTA membawa dampak ekspansi perdagangan dunia, menghilangkan hambatan perdagangan dan bertujuan meningkatkan perdagangan antar anggota. Kesepakatan paling utama dalam perdagangan bebas adalah penghilangan hambatan tarif dan non-tariff diantara anggota, hal ini lah yang merupakan bentuk Preferensi dalam perdagangan internasional.
    Dampak ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) terhadap perdagangan Indonesia yaitu dimulai dengan latar belakang terjadinya ACFTA yang merupakan kesepakatan antara negara-negara anggota ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan barang baik tarif ataupun non tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para Pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China. Kesepakatan yang telah dihasilkan antara lain adalah penurunan Tarif dalam kerangka kerjasama ACFTA dilaksanakan dalam tiga tahap yaitu :
    1. Normal Track ; (target of tariff rate = 0%)
    2. Sensitive List ; Tahun 2012 tarif menjadi 20%, dan tahun 2018 menjadi 0 – 5%
    3. Highly Sensitive List ; Tahun 2015 tarif maks. 50% (untuk produk yang pada
    tahun 2002 tingkat tariff nya > 50%).

    BAB III
    KESIMPULAN
    Kebijakan liberalisasi perdagangan yang ditempuh Indonesia melalui kerangka WTO, AFTA,
    maupun IMF conditionality telah meningkatkan keterbukaan Indonesia terhadap perdagangan
    internasional. Keterbukaan tersebut secara umum berdampak pada tren meningkatnya porsi
    barang impor dalam pasokan total barang di pasar domestik dan porsi ekspor terhadap output
    industri. Meskipun keterbukaan perdagangan internasional berdampak positif terhadap penurunan biaya input industri dan penetrasi di pasar global, namun belum mendorong perilaku pembentukan harga industri yang wajar. Perilaku tersebut diindikasikan oleh peningkatan marjin keuntungan sehingga kurang meningkatkan kesejahteraan masyarakat (public welfare) sementara di lain pihak, produsen semakin diuntungkan. Perilaku pembentukan harga tersebut menandakan adanya fenomena kekakuan penurunan marjin keuntungan (downward profit margin rigidity) yang menyebabkan inflasi menjadi persisten.
    Peningkatan efisiensi biaya produksi, interaksi dan hubungan kausalitas dua arah antara
    marjin keuntungan dengan konsentrasi pasar dan dengan kompetisi impor, serta peningkatan
    porsi output yang diekspor, merupakan faktor-faktor yang dapat menjelaskan fenomena
    tersebut. Lebih jauh temuan tersebut membawa indikasi bahwa secara umum pelaku industri
    yang mampu bertahan di pasar, cukup kompetitif menghadapi meningkatnya persaingan pasar. Karakteristik hubungan positif antara marjin keuntungan dan interaksi konsentrasiketerbukaan perdagangan membawa implikasi dua pilihan kebijakan industri, yaitu mendorong merger atau dekonsentrasi industri. Merger meningkatkan konsentrasi pasar sehingga di satu sisi dapat mengarah pada kebijakan tingkat harga dan marjin keuntungan yang meningkat, namun di sisi lain dapat menurunkan biaya melalui faktor skala ekonomi. Kondisi itu dapat menimbulkan rijiditas penurunan marjin keuntungan (downward profit-margin rigidity). Sebaliknya kebijakan pengurangan konsentrasi industri mendorong perilaku penetapan harga dan keuntungan yang tidak berlebihan, sementara perusahaan didorong untuk melakukan efisiensi biaya karena adanya tekanan kompetisi yang meningkat. Jika pasar kurang terkonsentrasi, tidak terdapat cukup banyak perusahaan besar yang dapat menetapkan harga produk industri di pasar. Akibatnya peningkatan efisiensi akan mendorong penurunan PCM karena pasar domestik yang bertambah kompetitif. Pada gilirannya hal ini akan memperlambat laju kenaikan harga atau bahkan mendorong penurunan harga. Kebijakan ini relatif lebih memberikan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Persistensi inflasi yang bersumber dari kenaikan marjin keuntungan industri pengolahan sebenarnya menunjukkan adanya potensi penurunan inflasi IHK ke depan. Potensi tersebut cukup besar karena barang industri pengolahan memiliki bobot yang besar, yaitu sekitar 70%, dalam keranjang IHK. Prospek penurunan inflasi itu antara lain tergantung pada efektivitas kebijakan yang mendukung dekonsentrasi industri dan kebijakan yang menyangkut deregulasi struktur dan rantai perdagangan barang manufaktur. Potensi penurunan inflasi dari efektivitas kebijakan industri dan perdagangan menjadi masukan bagi penentuan sasaran inflasi jangka menegah-panjang yang ditetapkan pemerintah Perilaku pembentukan harga yang mendorong persistensi inflasi merupakan tantangan bagi Bank Indonesia dalam usahanya mencapai sasaran inflasi jangka menengah-panjang. Oleh karena itu upaya mempercepat peningkatan kredibilitas sasaran inflasi perlu menjadi perhatian. Upaya tersebut antara lain dengan memperjelas sinyal arah dan konsistensi kebijakan moneter untuk pencapaian sasaran inflasi serta terus meningkatkan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.

  46. ADRIANA GUMBIRA
    093401010
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Penentuan Kurs Mata Uang
    Kurs adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu mata uang, jika dipertukarkan dengan mata uang pembandingnya. Nilai kurs suatu mata uang dapat berubah-ubah setiap saat. Kurs terbentuk jika permintaan terhadap suatu mata uang sama dengan penawarannya. Kondisi itu disebut sebagai keseimbangan kurs mata uang.

    Keseimbangan kurs mata uang ditentukan oleh interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran mata uang. Faktor-faktor tersebut antara lain laju inflasi relatif, tingkat pendapatan relatif, tingkat bunga relatif, kontrol pemerintah, dan penghargaan pasar. Perubahan keseimbangan kurs mata uang merupakan hasil interaksi dari keseluruhan faktor.

    Pemahaman terhadap mekanisme pembentukan kurs mata uang sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa nilai suatu mata uang berapresiasi atau terapresiasi. selain itu, pemahaman tersebut juga bermanfaat untuk meramalkan perubahan kurs, dimana kemampuan ini dapat digunakan sebagai salah satu bekal untuk meraih keuntungan melalui spekulasi di pasar valuta asing.

    Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar
    Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah :
    a. Laju inflasi relatif
    Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika Amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika
    juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis permintaan terhadap barang dagangan relatif mengalami penurunan.
    b. Tingkat pendapatan relatif
    Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relatif dibandingkan
    dengan supply yang tersedia.
    c. Suku bunga relatif
    Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri.
    d. Kontrol pemerintah
    Menurut Madura (2003:114), bahwa kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk :
    a. Usaha untuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing.
    b. Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri.
    c. Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang. Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah :
    1. Untuk memperlancar perubahan dari nilai tukar uang domestik yang bersangkutan.
    2. Untuk membuat kondisi nilai tukar domestik di dalam batas-batas yang ditentukan.
    3. Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara.
    d. Berpengaruh terhadap variabel makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan.
    e. Ekspektasi
    Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar di masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas bereaksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. Dan sebagai contoh, berita mengenai bakal melonjaknya inflasi di AS mungkin bisa menyebabkan pedagang valas menjual Dollar, karena memperkirakan nilai Dollar akan menurun di masa depan. Reaksi langsung akan menekan nilai tukar Dollar dalam pasar.
    Kemudian menurut Madura (2003:111-123), untuk menentukan perubahan nilai tukar antar mata uang suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di negara yang bersangkutan yaitu selisih tingkat inflasi, selisih tingkat suku bunga, selisih tingkat pertumbuhan GDP, intervensi pemerintah di pasar valuta asing dan expectations
    (perkiraan pasar atas nilai mata uang yang akan datang).

    Sistem-Sistem Nilai Tukar
    Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain :
    a. Fixed exchange rate system
    Sistem nilai tukar yang ditahan secara tahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensi untuk memeliharanya dalam batas-batas yang dikehendaki.
    b. Freely floating exchange rate system.
    Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar tanpa intervensi dari pemerintah.
    c. Managed floating exchange rate system.
    Sistem nilai tukar yang terletak diantara fixed system dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchange system, yaitu pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu. Sedangkan bedanya dengan free floating, managed float masih lebih
    fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap.
    d. Pegged exchange rate system
    Sistem nilai tukar dimana nilai tukar mata uang domestik dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.

    Mekanisme dan Dampaknya
    Pergerakan kurs dibentuk oleh beberapa faktor-faktor ekonomi dan faktor non-ekonomi, diantaranya: suku bunga, jumlah uang beredar, dan neraca pembayaran (faktor-faktor ekonomi), dan keamanan, keadaan politik, tingkat korupsi, serta lain-lain (faktor-faktor non ekonomi). Perbedaan nilai tukar mata uang suatu negara (kurs) pada prinsipnya ditentukan oleh besarnya permintaan dan penawaran mata uang tersebut (Levi, 1996:129), Akibatnya timbul depresiasi dan apresiasi. Depresiasi mata uang negara membuat harga barang-barang domestik menjadi lebih murah bagi pihak luar negeri. Sedang apresiasi rupiah terhadap dollar AS adalah kenaikan rupiah terhadap dollar AS. Apresiasi mata uang suatu negara membuat harga barangbarang domestik menjadi lebih mahal bagi pihak luar negeri (Sukirno, 1981:297).
    Dinamisasi dari pergerakan kurs dan flukutasinya dapat dilihat pada grafik berikut ini:
    Jika kita lihat pergeseran kurs rupiah terhadap dollar amerika dari 1 januari 2010 hingga 9 Mei 20010 terjadi fluktuasi pada awal bulan Mei. Salah satu faktornya adalah imbas dari pemberitaan dalam negeri terhadap pemunduran jabatan Sri Mulyani dari Menteri Keuangan menjadi Managing Director Bank Dunia.Dunia investor panik sehingga menarik sejumlah investasinya didalam negeri. Ketidakpercayaan investor, terutama investor asing akhirnya membawa fluktuasi terhadap depresiasi kurs rupiah itu sendiri.
    Pada hakekatnya fluktuasi kurs mata uang tidak perlu terjadi kalau sistem moneter internasional menggunakan mata uang tunggal, misalnya dengan menggunakan standar emas dan atau perak dan atau perunggu. Pergerakan nilai tukar yang fluktuatif ini mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memegang uang, selain faktor-faktor yang lain seperti tingkat suku bunga dan inflasi. Kondisi ini didukung oleb laju inflasi yang meningkat tajam dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan nasional.
    Fluktuasi kurs menjadi sangat menganggu dalam dunia perdagangan internasional, karena harus menggunakan standar kurs yang tepat agar tidak terjadi kerugian bagi pengespor atau pengimpor. Berbagai kalangan dunia usaha telah meminta pemerintah dan otoritas moneter menjaga fluktuasi nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS tidak terlalu tajam atau paling tinggi lima persen agar mereka masih bisa bersaing di pasar internasional maupun domestik. Adapun di sisi lain, Boediono (wakil presiden Indonesia) menghendaki agar kurs terhadap dolar tidak dipatok karena dapat dijadikan ajang bagi para spekulan untuk berspekulasi yang justru akan merugikan masyarakat.
    Sistem devisa bebas dan ditambah dengan penerapan sistem floating exchange rate di Indonesia sejak tahun 1997, menyebabkan pergerakan nilai tukar di pasar menjadi sangat rentan oleh pengaruh faktor-faktor ekonomi maupun non ekonomi. (Triyono, 2008), sebaiknya pemerintah selalu melakukan usaha-usaha agar nilai tukar tetap terkendali. Baru-baru ini, pemerintah yakni kementerian keuangan menetapkan Nilai Kurs sebagai Dasar Pelunasan Bea Masuk, Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Ekspor, dan Pajak Penghasilan yang diterima atau diperoleh berupa uang asing harus terlebih dahulu dinilai ke dalam uang rupiah. Sebagai contoh, 1 dollar amerika mempunya nilai dasar kurs 9.019,00 rupiah. Hal ini untuk mengarai terjadinya fluktuasi kurs, sehngga diperlukan peletakan nilai dasar kurs .

    Dampak Positif dan Negatif Menguatnya Nilai Tukar Rupiah

    Rupiah menjadi mata uang berkinerja paling bagus dalam tiga tahun terakhir ini. Pada periode Januari 2008-April 2011, rupiah terapresiasi (menguat) 28 persen, paling tinggi dibanding dengan won Korea 22 persen, ringgit Malaysia 17 persen, dollar Singapura 16 persen, peso Filipina 10 persen, atau pun yuan China 4 persen.

    Terdapat beberapa faktor, baik eksternal atau pun internal yang mendorong terjadinya apresiasi rupiah. Pertama, pemulihan perekonomian AS dipandang masih sangat volatile, sebagaimana terindikasi dari lambatnya penurunan penganggguran dari 9,8 persen (Januari 2010) menjadi 8,8 persen (April 2011).Hal ini memaksa the Fed (Bank Sentral AS) mematok dan menahan suku bunga rendah pada level 0,25 persen. Selain itu, the Fed memberikan sinyal untuk tetap menerapkan kebijakan stimulus dalam skema quantitative easing senilai 600 miliar dollar AS. Dua kebijakan itu membuat suplai USD di pasar bertambah banyak dan nilainya terhadap rupiah (dan beberapa mata uang lainnya) mengalami penurunan.

    Kedua, proses pemulihan perekonomian AS membuat permintaan di negara itu terhadap produk-produk yang dihasilkan negara lain mengalami peningkatan cukup signifikan.

    Ketiga, suku bunga acuan yang ditetapkan BI (BI Rate) sebesar 6,75 persen lebih tinggi dibanding dengan suku bunga di beberapa negara kompetitor, seperti Malaysia (2,75 persen), Thailand (2,75 persen), dan China (3,25 persen). Hal ini membuat pasar keuangan Indonesia relatif lebih menarik daripada pasar keuangan di beberapa negara tersebut. Menariknya, pasar keuangan membuat arus dana asing (capital inflow) yang meminta rupiah mengalir deras ke negeri ini.

    Keempat, agresifnya pemerintah dan perusahaan menerbitkan obligasi membuat permintaan USD terhadap rupiah mengalami peningkatan.Tingginya permintaan terhadap obligasi ini membuat nilai rupiah terkerek naik ke atas.

    Berkah dan Masalah

    Penguatan rupiah bisa menimbulkan berkah dan masalah bagi perekonomian Indonesia. Dalam kaitan dengan berkah, beberapa hal yang kemungkinan bisa dinikmati perekonomian Indonesia adalah. Pertama, dalam APBN 2011, pemerintah mengalokasikan 38,6 persen dari belanjanya (301,2 triliun rupiah) untuk bayar utang (dalam dan luar negeri) dan subsidi. Beberapa komoditas yang disubsidi (BBM) harus diimpor dari luar negeri. Karena itu, penguatan rupiah akan membuat kewajiban bayar utang (dari luar negeri) dan anggaran subsidi mengalami penurunan.Tidak mengherankan bila muncul prediksi bahwa setiap rupiah menguat 100 rupiah, maka belanja negara akan bisa dihemat sebesar 400 miliar rupiah.

    Kedua, penguatan rupiah mengurangi tekanan infl asi yang berasal dari imported infl ation. Penurunan infl asi year-on-year dari 6,65 persen (Maret 2011) menjadi 6,16 persen (April 2011) sedikit banyak dipengaruhi apresiasi rupiah. Karena itu, BI memunyai sedikit ruang untuk tidak menaikkan BI Rate yang bisa bersifat kontraproduktif terhadap bunga kredit yang dibutuhkan sektor riil.

    Ketiga, apresiasi rupiah juga memberikan keuntungan bagi importir. Jika barang-barang yang diimpor itu merupakan barang modal (mesin dan peralatan) dan bahan baku (gandum), maka kapasitas produksi perekonomian bisa ditingkatkan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan secara relatif akan menjadi lebih murah.

    Namun demikian, apresiasi rupiah juga berpotensi membawa masalah bagi perekonomian, utamanya pada sisi neraca perdagangan.Artinya, di satu sisi, industri dengan orientasi ekspor, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, dan elektronik, adalah mereka yang akan mendapatkan masalah dari terjadinya penguatan rupiah. Secara relatif, produk-produk mereka di pasar ekspor akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi menekan pendapatan (dalam rupiah) mereka.

    Selain itu, produk-produk ekspor Indonesia akan mendapatkan persaingan (dari sisi harga) yang lebih ketat dari produk yang berasal dari negara dengan apresiasi mata uang lebih rendah dari rupiah, seperti Malaysia, Thailand, dan China.Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Tanpa adanya peningkatan kualitas, dengan harga yang relatif menjadi lebih mahal, boleh jadi produk-produk ekspor Indonesia tidak akan mampu mempertahankan posisinya di beberapa negara tujuan ekspor.

    Di sisi yang lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penguatan rupiah akan meningkatkan intensitas penetrasi produk-produk impor.Kondisi seperti ini akan membuat industri penghasil barang-barang konsumsi dengan orientasi pasar domestik akan mendapatkan persaingan yang lebih ketat dari barang-barang konsumsi impor.

    Pada gilirannya, penurunan ekspor dan peningkatan impor ini akan menekan neraca perdagangan. Laporan BPS (2/5) yang menunjukkan terjadinya penurunan surplus perdagangan dari 2,4 dollar AS pada Februari menjadi 1,81 miliar dollar AS pada Maret 2011 boleh jadi merupakan akibat dari semakin kuatnya nilai tukar rupiah.

    Beranjak dari analisis bahwa apresiasi rupiah membawa berkah sekaligus masalah, BI tampaknya perlu lebih proaktif memonitor dan mengawal penguatan rupiah. Dalam kaitan ini, ada baiknya BI memiliki batas toleransi sampai pada level berapa rupiah boleh mengalami apresiasi.

    Pada kondisi ketika batas toleransi itu sudah terlewati, BI perlu melakukan intervensi, meskipun dengan konsekuensi mengeluarkan biaya moneter yang tidak murah. Secara psikologis, intervensi yang dilakukan BI ini akan menambah keyakinan pelaku usaha bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian, sesuatu yang sudah sangat jarang dirasakan pelaku usaha akhir-akhir ini.

  47. Kelompok : Indra Yudha Cahya
    Rini Wulan sari
    Ridwan Herdianto
    TUGAS : Perdagangan Internasional (Analisis Dampak Perubahan Kurs ……………………..Terhadap Perdagangan)

    PENGERTIAN NILAI TUKAR (KURS)

    Definisi Nilai Tukar
    Nilai tukar adalah harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya (Salvatore 1997:9). Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing.

    Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar
    Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah :
    a. Laju inflasi relatif
    Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika Amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika
    juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis permintaan terhadap barang dagangan relatif mengalami penurunan.
    b. Tingkat pendapatan relatif
    Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relatif dibandingkan
    dengan supply yang tersedia.
    c. Suku bunga relatif
    Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri.
    d. Kontrol pemerintah
    Menurut Madura (2003:114), bahwa kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk :
    a. Usaha untuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing.
    b. Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri.
    c. Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang. Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah :
    1. Untuk memperlancar perubahan dari nilai tukar uang domestik yang bersangkutan.
    2. Untuk membuat kondisi nilai tukar domestik di dalam batas-batas yang ditentukan.
    3. Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara.
    d. Berpengaruh terhadap variabel makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan.
    e. Ekspektasi
    Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar di masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas bereaksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. Dan sebagai contoh, berita mengenai bakal melonjaknya inflasi di AS mungkin bisa menyebabkan pedagang valas menjual Dollar, karena memperkirakan nilai Dollar akan menurun di masa depan. Reaksi langsung akan menekan nilai tukar Dollar dalam pasar.
    Kemudian menurut Madura (2003:111-123), untuk menentukan perubahan nilai tukar antar mata uang suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di negara yang bersangkutan yaitu selisih tingkat inflasi, selisih tingkat suku bunga, selisih tingkat pertumbuhan GDP, intervensi pemerintah di pasar valuta asing dan expectations(perkiraan pasar atas nilai mata uang yang akan datang).

    Tiga sistem Nilai Tukar Internasional
    1. Fixed exchange rate system
    Era fixed exchange rate system ditandai dengan berlakunya Bretton Woods System sejak 1 Maret 1947. Sistem ini menuntut agar nilai suatu mata uang dikaitkan atau convertible terhadap emas atau gold exchange standard. Pada waktu itu, mata uang dolar AS menjadi acuan (numeraire), di mana semua mata uang yang terikat dengan sistem ini dikaitkan dengan USD. Untuk mencipta uang senilai $35, Federal Reserve Bank (Bank Sentral Amerika) harus mem-backup dengan emas senilai 1 ounce atau 28,3496 gram. Dengan demikian, nilai mata uang secara tidak langsung dikaitkan dengan emas melalui USD.
    Namun ternyata, The Fed tergiur mencipta dollar melebihi kapasitas emas yang dimiliki. Akibatnya, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap dolar AS. Hal tersebut ditandai dengan peristiwa penukaran dollar secara besar-besaran oleh negara-negara Eropa. Adalah Perancis, pada masa pemerintahan Charles de Gaule, negara yang pertama kali menentang hegemoni dollar dengan menukaran sejumlah 150 juta dollar AS dengan emas. Tindakan Perancis ini kemudian diikuti oleh Spanyol yang menarik sejumlah 60 juta dollar AS dengan emas. Praktis, cadangan emas di Fort Knox berkurang secara drastis. Ujungnya, secara sepihak, Amerika membatalkan Bretton Woods System melalui Dekrit Presiden Nixon pada tanggal 15 Agustus 1971, yang isinya antara lain, USD tidak lagi dijamin dengan emas. ‘Istimewanya’, dollar tetap menjadi mata uang internasional untuk cadangan devisa negara-negara di dunia. Pada titik ini, berlakulah sistem baru yang disebut dengan floating exchange rate.
    2. Floating Exchange Rate system
    Floating exchange rate atau sistem kurs mengambang adalah sistem yang ditetapkan melaui mekanisme kekuatan permintaan dan penawaran di bursa valas dan sama sekali tidak dijamin logam mulia. Pemerintah melalui Bank Sentral bebas menerbitkan sejumlah berapapun uang. Hal inilah yang menyebabkan nilai mata uang cenderung terdepresiasi, baik terhadap mata uang kuat (hard currency) maupun terhadap harga barang. Kondisi ini kemudian diperparah oleh aksi spekulan yang mengakibatkan nilai mata uang berfluktuasi secara bebas. Meski bisa dikendalikan melalui intervensi—yang dikenal dengan managed floating, otoritas pemerintah suatu negara cenderung menghindari hal ini karena membutuhkan sumber daya yang sangat besar yang berupa cadangan devisa. Berakhirnya fixed exchange rate dan bermulanya floating exchange rate, konon ditengarai sebagai awal dari berbagai rangkaian kesulitan moneter yang dikenal dengan “krisis moneter internasional” (Hamdy Hady, 2001).
    3. Pegged exchange rate system
    Sistem yang ketiga, pegged exchange rate ditetapkan dengan jalan mengaitkan mata uang suatu negara dengan mata uang negara lain atau sejumlah mata uang tertentu yang biasanya merupakan mata uang kuat (hard currency). Sistem ini pernah dijalankan antara lain oleh negara-negara Afrika serta Eropa. Secara hakikat, sistem ini tak jauh beda dengan floating exchange rate system. Hal ini dikarenakan mekanisme hard currency sebagai mata uang yang dipagu (pegged) masih ditentukan melalui kekuatan supply dan demand pada bursa valas dalam hal mata uang yang dijadikan sebagai acuan.

    Dampak perubahan nilai tukar terhadap perdagangan Indonesia

    Secara teoritis, perubahan nilai tukar rupiah memiliki beberapa konsekuensi ekonomi. Salah satu dampak yang dirasakan adalah depresiasi atau penurunan nilai rupiah terhadap dolar Amerika dan yen Jepang secara langsung mempengaruhi jumlah hutang luar negeri yang harus dibayar baik oleh pemerintah Indonesia maupun sektor swasta. Besarnya proporsi hutang luar negeri Indonesia dalam bentuk dolar dan yen menyebabkan beban hutang luar negeri semakin besar seiring dengan terdepresiasinya rupiah. Hal ini tentu akan berpengaruh pada program pembangunan ekonomi karena semakin menipisnya cadangan devisa dalam bentuk mata uang asing akan menyebabkan rupiah terus terdepresiasi, selain itu semakin berkurangnya smiler pembiayaan impor bagi kepentingan produksi di sektor rill dalam negeri di sisi lainnya. Keadaan ini dikhawatirkan akan menyebabkan terhambatnya proses pemulihan ekonomi.
    Di samping dampak negatif seperti diungkapkan di atas, depresiasi rupiah juga secara teoritis memberi peluang bagi Indonesia untuk memperhaiki neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor dan pengurangan impor. Hal ini dimungkinkan karena harga relatif komoditi dalam negeri lebih kompetitif dibandingkan harga komoditi luar negeri.
    Perbaikan dalam neraca perdagangan sangat panting bagi Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, peningkatan ekspor akan berdampak pada meningkatnya cadangan devisa yang diharapkan mampu menopang nilai rupiah yang stabil. Kedua, di samping itu, meningkatnya penerimaan ekspor akan berdampak pada semakin tersedianya devisa untuk kepetingan impor input primer dan antara untuk kepentingan produksi industri di dalam negeri, sehingga perekonomian domestik dapat bergerak kembali. Akhirnya meningkatnya aktivitas ekspor akan berdampak pada meningkatnya lapangan pekerjaan yang sangat sedikit tersedia akibat krisis ekonomi. Namun demikian, dugaan teoritis bahwa ekspor Indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan akibat depresiasi rupiah terhadap mata uang asing tidak tercermin dalam data kinerja ekspor Indonesia sejak terjadinya krisis ekonomi 1997.
    Muncul kemudian pertanyaan sejauh mana perubahan nilai tukar mata suatu negara mampu mempengaruhi kinerja ekspor dan impor negara tersebut? Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kedua kasus perdagangan bilateral, dalam jangka pendek secara umum dampak perubahan nilai tukar pada neraca perdagangan tidak begitu jelas. Dalam kasus Indonesia-Jepang berhubungan negatif sedangkan dalam kasus Indonesia-Amerika Serikat berhubungan positif dan negatif. Simpulan ini sesuai dengan beberapa penelitian yang dilakukan peneliti yang berasal dari negara yang memiliki karakteristik seperti Indonesia dalam perdagangan internasional (Felmingham. 1988).
    Pada perspektif jangka panjang, juga ditemukan bahwa depresiasi Rupiah terhadap Yen dan Dollar tidak memperbaiki neraca perdagangan Indonesia relatif terhadap kedua negara mitra dagang tersebut. Salah satu argumen mendasar dari tidak membaiknya neraca perdagangan dalam jangka panjang adalah tidak terpenuhinya Marshall-Lemer condition, di mana penjumlahan elastisitas permintaan impor dan elastisitas permintaan ekspor harus lebih besar dari satu jika ingin neraca perdagangan membaik ketika terjadi depresiasi suatu mata uang. Berkaitan dengan topik penelitian hubungan antara neraca perdagangan dengan nilai tukar, maka penelitian selanjutnya dapat diarahakan pada penghitungan dan analisis elastislias permintaan impor dan ekspor pada berbagai produk yang diimpor dan di ekspor oleh Indonesia. Sehingga dari penelitian tersebut Marshall-Lerner condition dapat diketahui terjadi atau tidak dalam kasus perdagangan intemasional antara Indonesia dengan mitra dagangnya. Pada aspek kebijakan, diversifikasi pasar ekspor dan sumber impor harus dilakukan agar Indonesia memiliki fleksibilitas dalam melakukan perdagangan internasional ketika terjadi gangguan dalam nilai tukar seperti yang terjadi pada pertengahan tahun 1997.

  48. Anggota : Randy Juliyandri (093401001)
    Yoga Permana (093401009)
    Pratama Ramdhani (093401016)

    PENENTUAN KURS MATA UANG DAN DAMPAK PENINGKATAN HARGA RUPIAH TERHADAP DOLLAR/APRESIASI RUPIAH DOLLAR TERHADAP PERDAGANGAN DI DALAM NEGERI DAN EKSPOR INDONESIA KE LUAR NEGERI

    Disusun untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan
    oleh dosen mata kuliah Perdagangan Internasional

    Disusun oleh :

    Randy Juliyandri 093401001
    Yoga Permana 093401009
    Pratama Ramdhani 093401016

    PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
    FAKULTAS EKONOMI
    UNIVERSITAS SILIWANGI
    TASIKMALAYA
    2011

    KATA PENGANTAR

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Illahi Robbi atas rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Penentuan Kurs Mata Uang dan Dampak Apresiasi Rupiah Dollar Terhadap Perdagangan di Dalam Negeri dan Ekspor Indonesia ke Luar Negeri”.
    Tujuan utama kami menyusun makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Perdagangan Internasional. Disamping itu kami juga memiliki tujuan lain, yaitu untuk dapat memberikan bacaan yang bermanfaat kepada pembaca.
    Rasa terima kasih kami sampaikan kepada dosen pembimbing, dan semua pihak yang telah membantu kami dalam penyusunan dan penyelesaian makalah ini.
    Kami sadari dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami senantiasa memohon saran maupun kritik yang sekiranya dapat menjadi dorongan dan motivator dalam penyusunan makalah selanjutnya. Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    Tasikmalaya, 17 Desembe 2011

    Penyusun

    DAFTAR ISI
    KATA PENGANTAR
    DAFTAR ISI
    BAB I PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    1.2 Rumusan Masalah
    1.3 Tujuan Penulisan
    1.4 Manfaat Penulisan
    1.5 Metode Penulisan
    BAB II PEMBAHASAN
    2.1 Pembahasan Teori
    BAB III PENUTUP
    3.1 Simpulan
    3.2 Saran

    BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Nilai tukar merupakan indikator ekonomi penting yang memiliki peran strategis dalam suatu perekonomian. Pergerakan nilai tukar berpengaruh luas terhadap berbagai aspek perekonomian, termasuk perkembangan harga (inflasi), kinerja ekspor-impor yang pada gilirannya berpengaruh pada output perekonomian. Selain berpengaruh luas, pergerakan nilai tukar bagaikan pedang bermata dua, misalnya, pada saat terjadi depresiasi pihak eksportir diuntungkan karena harga relatif produk ekspor Indonesia yang menjadi lebih murah.
    Sebaliknya, depresiasi rupiah merugikan importir dan debitur utang luar negeri dengan meningkatnya biaya impor dan beban pembayaran utang LN (ekivalen dalam mata uang domestik). Depresiasi juga meningkatkan tekanan inflasi dimana apabila inflasi meningkat cukup signifikan akan berdampak negatif bagi seluruh perekonomian. Dampak akhirnya akan sangat bergantung pada perbandingan besarnya dampak positif dan negatif dari depresiasi rupiah. Pada kasus apresiasi rupiah akan berlaku sebaliknya.
    Mengingat pergerakan nilai tukar rupiah yang cukup volatile dan dampak negatifnya yang luas bagi perekonomian, upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah merupakan tantangan yang tidak mudah bagi Bank Indonesia di tengah perekonomian yang sangat terbuka dengan sistem devisa bebas dan regim nilai tukar mengambang. Stabilitas rupiah menjadi semakin krusial terkait dengan pencapaian target inflasi mengingat dampak nilai tukar terhadap inflasi dan ekspektasi inflasi yang cukup besar (Kurniati, 2007, Kurniati dkk, 2008).
    Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, makalah ini membahas tentang penentuan kurs mata uang dan dampak apresiasi rupiah dollar terhadap perdagangan di dalam negeri dan ekspor Indonesia ke luar negeri.

    1.2 Rumusan Masalah
    Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah yang diajukan adalah tentang tentang penentuan kurs mata uang dan dampak apresiasi rupiah dollar terhadap perdagangan di dalam negeri dan ekspor Indonesia ke luar.

    1.3 Tujuan Penulisan
    Adapun tujuan penulisan pembuatan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi dan memberikan gambaran tentang dampak apresiasi rupiah dollar terhadap perdagangan di dalam negeri dan ekspor Indonesia ke luar.

    1.4 Manfaat Penulisan
    1. Bagi pembaca :
    Dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang dampak apresiasi rupiah dollar terhadap perdagangan di dalam negeri dan ekspor Indonesia ke luar.

    2. Bagi penulis selanjutnya :
    Pembuatan makalah ini dapat dijadikan koreksi dan pertimbangan untuk menghasilkan makalah yang lebih sempurna.

    1.5 Metode Penulisan
    Makalah ini disusun dengan menggunakan metode study pustaka atau referensi dari berbagai sumber.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1 Pembahasan Teori

    A. Penentuan Kurs Mata Uang Asing
    Kurs adalah perbandingan nilai antar mata uang yang menunjukkan harga suatu mata uang, jika dipertukarkan dengan mata uang pembandingnya. Nilai kurs suatu mata uang dapat berubah-ubah setiap saat. Kurs terbentuk jika permintaan terhadap suatu mata uang sama dengan penawarannya. Kondisi itu disebut sebagai keseimbangan kurs mata uang.
    Keseimbangan kurs mata uang ditentukan oleh interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran mata uang. Faktor-faktor tersebut antara lain laju inflasi relatif, tingkat pendapatan relatif, tingkat bunga relatif, kontrol pemerintah, dan penghargaan pasar. Perubahan keseimbangan kurs mata uang merupakan hasil interaksi dari keseluruhan faktor.
    Pemahaman terhadap mekanisme pembentukan kurs mata uang sangat diperlukan untuk menjelaskan mengapa nilai suatu mata uang berapresiasi atau terapresiasi. selain itu, pemahaman tersebut juga bermanfaat untuk meramalkan perubahan kurs, dimana kemampuan ini dapat digunakan sebagai salah satu bekal untuk meraih keuntungan melalui spekulasi di pasar valuta asing. Adapun faktor- faktor yang mempengaruhi kurs adalah :
    a. Perubahan dalam citarasa masyarakat;
    b. Perubahan harga barang Ekspor dan Impor
    c. Kenaikan harga umum (inflasi)
    d. Perubahan suku bunga dan tingkat pengembalian investasi
    e. Pertumbuhan ekonomi

    B. Penyebab Apresiasi Rupiah Terhadap Dolar
    Terdapat beberapa faktor, baik eksternal atau pun internal yang mendorong terjadinya apresiasi rupiah. Pertama, pemulihan perekonomian AS dipandang masih sangat volatile, sebagaimana terindikasi dari lambatnya penurunan penganggguran dari 9,8 persen (Januari 2010) menjadi 8,8 persen (April 2011).Hal ini memaksa the Fed (Bank Sentral AS) mematok dan menahan suku bunga rendah pada level 0,25 persen. Selain itu, the Fed memberikan sinyal untuk tetap menerapkan kebijakan stimulus dalam skema quantitative easing senilai 600 miliar dollar AS. Dua kebijakan itu membuat suplai USD di pasar bertambah banyak dan nilainya terhadap rupiah (dan beberapa mata uang lainnya) mengalami penurunan.
    Kedua, proses pemulihan perekonomian AS membuat permintaan di negara itu terhadap produk-produk yang dihasilkan negara lain mengalami peningkatan cukup signifikan.
    Ketiga, suku bunga acuan yang ditetapkan BI (BI Rate) sebesar 6,75 persen lebih tinggi dibanding dengan suku bunga di beberapa negara kompetitor, seperti Malaysia (2,75 persen), Thailand (2,75 persen), dan China (3,25 persen). Hal ini membuat pasar keuangan Indonesia relatif lebih menarik daripada pasar keuangan di beberapa negara tersebut. Menariknya, pasar keuangan membuat arus dana asing (capital inflow) yang meminta rupiah mengalir deras ke negeri ini.

    Keempat, agresifnya pemerintah dan perusahaan menerbitkan obligasi membuat permintaan USD terhadap rupiah mengalami peningkatan.Tingginya permintaan terhadap obligasi ini membuat nilai rupiah terkerek naik ke atas.

    C. Dampak Apresiasi Rupiah Dolar Terhadap Perdagangan Dalam Negeri
    Penguatan rupiah bisa menimbulkan berkah(dampak positif) dan masalah(dampak negatif) bagi perdagangan di dalam negeri. Dalam kaitan dengan berkah(dampak positif), beberapa hal yang kemungkinan bisa dinikmati perekonomian Indonesia adalah :
    1. Dalam APBN 2011, pemerintah mengalokasikan 38,6 persen dari belanjanya (301,2 triliun rupiah) untuk bayar utang (dalam dan luar negeri) dan subsidi. Beberapa komoditas yang disubsidi (BBM) harus diimpor dari luar negeri. Karena itu, penguatan rupiah akan membuat kewajiban bayar utang (dari luar negeri) dan anggaran subsidi mengalami penurunan.Tidak mengherankan bila muncul prediksi bahwa setiap rupiah menguat 100 rupiah, maka belanja negara akan bisa dihemat sebesar 400 miliar rupiah.
    2. Penguatan rupiah mengurangi tekanan inflasi yang berasal dari imported inflation. Penurunan inflasi year-on-year dari 6,65 persen (Maret 2011) menjadi 6,16 persen (April 2011) sedikit banyak dipengaruhi apresiasi rupiah. Karena itu, BI memunyai sedikit ruang untuk tidak menaikkan BI Rate yang bisa bersifat kontraproduktif terhadap bunga kredit yang dibutuhkan sektor riil.
    3. Apresiasi rupiah juga memberikan keuntungan bagi importir. Jika barang-barang yang diimpor itu merupakan barang modal (mesin dan peralatan) dan bahan baku (gandum), maka kapasitas produksi perekonomian bisa ditingkatkan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan secara relatif akan menjadi lebih murah.
    4. Beban pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri baik milik pemerintah maupun swasta (perusahaan) akan berkurang.
    5. Perusahaan-perusahaan yang selama ini memakai bahan baku dan mesin yang diimpor akan diuntungkan karena harga barang impor menjadi lebih murah jika terjadi apresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dengan harga bahan baku yang lebih murah maka marjin keuntungannya akan lebih tinggi (jika ia tidak menurunkan harga) atau jika ia menurunkan harga maka ia akan bisa meningkatkan volume penjualannya sehingga pangsa pasarnya akan membesar. Membesarnya pangsa pasar akan memberikan berbagai keuntungan misalnya membentengi perusahaan baru yang akan masuk dan semakin luasnya pengenalan masyarakat akan produk yang dijual.
    Sedangkan dampak negatif dari adanya penguatan nilai rupiah terhadap dolar adalah :
    1. Apresiasi rupiah juga berpotensi membawa masalah bagi perekonomian, utamanya pada sisi neraca perdagangan.Artinya, di satu sisi, industri dengan orientasi ekspor, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, dan elektronik, adalah mereka yang akan mendapatkan masalah dari terjadinya penguatan rupiah. Secara relatif, produk-produk mereka di pasar ekspor akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi menekan pendapatan (dalam rupiah) mereka.
    2. Selain itu, produk-produk ekspor Indonesia akan mendapatkan persaingan (dari sisi harga) yang lebih ketat dari produk yang berasal dari negara dengan apresiasi mata uang lebih rendah dari rupiah, seperti Malaysia, Thailand, dan China.Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Tanpa adanya peningkatan kualitas, dengan harga yang relatif menjadi lebih mahal, boleh jadi produk-produk ekspor Indonesia tidak akan mampu mempertahankan posisinya di beberapa negara tujuan ekspor.
    3. Impor mengalami kenaikan, hal ini disebabkan karena harga produk luar negeri yang ada di Indonesia mengalami penurunan yang menyebabkan peningkatan permintaan produk luar negeri di Indonesia mengingat gaya hidup konsumen Indonesia yang lebih menyukai produk-produk luar negeri, sehingga untuk memenuhi permintaan konsumen akan barang luar negeri yang meningkat tersebut para importir akan menambah impor barang-barang.
    4. Di sisi yang lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penguatan rupiah akan meningkatkan intensitas penetrasi produk-produk impor. Kondisi seperti ini akan membuat industri penghasil barang-barang konsumsi dengan orientasi pasar domestik akan mendapatkan persaingan yang lebih ketat dari barang-barang konsumsi impor.
    5. Produksi Indonesia mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena menurunnya eksport sehingga menyebabkan para produsen dalam negeri menurunkan tingkat produksinya karena berkurangya permintaan dai luar negeri yang menyebabkan berkurangnya pasar untuk produk – produk dalam negeri yang di produksi.

    D. Dampak Apresiasi Rupiah Dolar Terhadap Ekspor Indonesia ke Luar Negeri
    Ekspor Indonesia akan terganggu bila penguatan rupiah berlanjut. Harga produk luar negeri yang ada di Indonesia akan mengalami penurunan karena dengan menguatnya nilai rupiah maka nilai dollar amerika akan mengalami penurunan.
    Selain itu, Ekspor Indonesia akan mengalami penurunan, hal ini disebabkan karena harga barang-barang Indonesia di luar negeri akan mengalami kenaikan sehingga menyebabkan konsumen luar negeri segan untuk membeli barang-barang dari Indonesia dan menyebabkan permintaan luar negeri menurun.
    Akibat dari hal itu, negara akan mengalami penurunan dalam penerimaan devisanya. Pada intinya, dengan adanya apresiasi rupiah terhadap dolar ini Daya saing ekspor Indonesia akan berkurang dan akhirnya produk impor menyerbu pasar dalam negeri

    E. Solusi
    Beranjak dari analisis bahwa apresiasi rupiah membawa berkah sekaligus masalah, BI tampaknya perlu lebih proaktif memonitor dan mengawal penguatan rupiah. Dalam kaitan ini, ada baiknya BI memiliki batas toleransi sampai pada level berapa rupiah boleh mengalami apresiasi.
    Pada kondisi ketika batas toleransi itu sudah terlewati, BI perlu melakukan intervensi, meskipun dengan konsekuensi mengeluarkan biaya moneter yang tidak murah. Secara psikologis, intervensi yang dilakukan BI ini akan menambah keyakinan pelaku usaha bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian, sesuatu yang sudah sangat jarang dirasakan pelaku usaha akhir-akhir ini.
    Selain itu, Sektor manufaktur harus dibenahi. Produk pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya berguna bagi masyarakat Indonesia. Perbaikan kualitas infrastruktur dan transportasi akan meningkatkan kelancaran jalur distribusi yang selanjutnya akan membuat harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif.

    BAB III
    PENUTUP

    3.1 Simpulan
    Secara garis besar, penyebab penguatan rupiah dapat dikategorikan menjadi dua faktor, yakni eksternal dan internal. Faktor eksternal, penguatan rupiah karena pelemahan dollar AS secara umum. Dari faktor internal, penguatan rupiah didorong oleh fundamental ekonomi Indonesia saat ini yang ”relatif” lebih baik dibandingkan dengan negara maju yang masih resesi.
    Penguatan rupiah memiliki implikasi terhadap perekonomian. Sisi positif penguatan rupiah dapat dilihat melalui (1) berkurangnya tekanan inflasi, (2) potensi bisa tetap rendahnya suku bunga dalam negeri, dan (3) berkurangnya tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Adapun potensi implikasi negatif dari rupiah yang terlalu kuat adalah (1) potensi anjloknya daya saing ekspor, dan (2) risiko gejolak kurs jika terjadi pembalikan.

    3.2 Saran
    Fokus dari BI dan pemerintah hendaknya tidak hanya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar, tetapi juga bagaimana mendorong sektor riil yang langsung bersinggungan dengan masyarakat banyak karena daya saing jangka panjang Indonesia bukan ditentukan oleh kurs mata uang, tetapi oleh ketersediaan infrastruktur, ketahanan energi, ketahanan pangan, dan kualitas sumber daya manusia.

  49. NAMA : INDRA YUDACAHYA
    NPM : 093401008
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    KATA PENGANTAR
    Puji syukur penulis panjatkan kepada allah swt karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Bank Central”.
    Makalah ini berisikan mengenai Bank Central yang terdiri dari Bank Indonesia sebagai badan hukum, misi,visi dan sasaran strategis Bank Indonesia, tujuan dan tugas Bank Indonesia,
    Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
    1. Bapak Budi selaku dosen mata kuliah Bank dan Lembaga keuangan, yang telah membantu dan membimbing penyusunan makalah ini.
    2. Rekan-rekan seangkatan yang turut membantu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini.
    3. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Semoga allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda.
    Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan,baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisanya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.
    Tasikmalaya, Oktober 2010
    Penulis

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang
    Liberalisasi perdagangan sudah merupakan fenomena dunia yang nyaris tidak dapat dihindari oleh semua negara sebagai anggota masyarakat internasional. Fenomena ini ditengarai oleh terbentuknya blok-blok perdagangan bebas, yang menurut Organisasi Perdagangan Dunia(World Trade Organization/ WTO)
    sudah hampir mencapai angka 250. Blok perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) dapat di-bentuk secara bilateral, misalnya antara Amerika Serikat dengan Singapura, Amerika Serikat dengan Chile; Jepang dengan Singapura; maupun regional seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), North America Free Trade Area (NAFTA) dan Uni Eropa.

    B. Rumusan Masalah

    Dampak dari penghilangan tarif perdagangan dari dalam negeri.

    C. Tujuan Penulisan
    Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu evaluasi kerja terstruktur mata kuliah Perdagangan Internasional. Selain itu juga untuk memberikan pemahaman bagi pembaca mengenai dampak dari penghilangan tarif perdagangan dalam negeri.
    D. Metode Penulisan
    Metode penulisan yang digunakan untuk memperoleh data adalah metode studi literature. Metode tersebut yang dilakukan dengan membaca buku-buku mengenai obligasi. Keuntungan dari metode tersebut adalah data yang didapat jelas dan akurat. Selain mengunakan studi literature, penulis juga mencari data melalui internet karena lebih mudah dan banyak sumber yang dapat dijadikan referensi.

    E. Sistematika Penulisan
    Makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu bab pertama mengenai pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab kedua berisikan pembahasan materi dan bab ketiga mengenai penutup yang terdiri dari kesimpulan. Terakhir adalah daftar pustaka.

    BAB II

    Maraknya pembentukan FTA diantaranya disebabkan oleh kurang berhasilnya Pertemuan Tingkat Menteri WTO di Seattle tahun 1999 dan buntunya perkembangan perundingan WTO sampai saat ini, terutama oleh mandeknya proses kesepakatan dalam pengaturan produk pertanian. Sejumlah negara seolah berlomba untuk melakukan free trade agreement karena khawatir akan dampak hilangnya pasar yang sebelumnya mereka kuasai, yang kemudian beralih diantara mitra yang melakukan FTA (trade diversion). Misalnya, apabila terbentuk FTA antara Jepang dengan Thailand, maka pangsa pasar milik Indonesia yang sebelumnya dinikati di pasar Jepang, akan terdorong untuk beralih dan dinikmati oleh Thailand. Hal ini terjadi karena dengan FTA, arus barang dagangan dua arah akan bebas hambatan dan bebas tariff dibandingkan tanpa FTA yang mungkin terkena tarif yang lebih tinggi.
    Insentif tariff ini akan dinikmati oleh eksportir, karena meningkatnya daya saing, oleh importir karena membuat margin keuntungan lebih besar, dan oleh konsumen karena harga menjadi lebih murah. Insentif tariff merupakan pendorong utama terjadinya peningkatan arus barang dari satu negara ke negara lainnya.
    Dalam perundingan FTA dengan negara mitra dagang, kepentingan domestik merupakan salah satu faktor yang menjadi prioritas perhatian, sehingga dalam proses pembentukan FTA harus diperhatikan dampak langsung maupun tidak langsung yang akan dialami dengan memperhatikan antara lain daya saing perusahaan didalam negeri, kesempatan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pendapatan pemerintah dari bea masuk impormeskipun nilainya tidak terlalu signifikan.
    Blok Perdagangan, FTA, atau disebut juga Regional Trade Agreement (RTA) didefinisikan dan diatur dalam Artikel XXIV GATT 1994/ WTO yang memberikan rambu-rambu pembentukan wilayah pabean bersama atau pabean tunggal (customs union) dan FTA. FTA atau blok perdagangan memberikan kontribusi penting terhadap kemajuan liberalisasi perdagangan multilateral dalam forum WTO sebagai “the first best choice”. FTA regionnal sebagai “the second best” dan FTA bilateral sebagai “the third best” bagi negara anggota merupakan langkah awal (playing field) sebelum memantapkan posisinya pada FTA multilateral. Pada umumnya, negara anggota mendapatkan kepercayaan diri dalam negosiasi FTA regional yang kemudian berkembang dalam FTA bilateral dan akhirnya percaya diri dalam membawa FTA multilateral pada forum WTO. Perundingan diantara anggota FTA regional, misalnya AFTA dengan 10 pendapat negara anggota yang berbeda, jauh lebih mudah menghasilkan keputusan dibandingkan forum WTO dengan hampir 150 negara anggota yang memiliki posisi masing-masing.
    Manfaat FTA
    FTA dibentuk karena memberikan manfaat kepada anggotanya, antara lain terjadinya trade creation dan trade diversion. Trade creationadalah terciptanya transaksi dagang antar anggota FTA yang sebelumnya tidak pernah terjadi, akibat adanya insentif-insentif karena terbentuknya FTA. Misalnya dalam konteks AFTA, sebelumnya Cambodia tidak pernah mengimpor obat-obatan, namun setelah menjadi anggota ASEAN, dengan berjalannya waktu, tercipta daya beli yang menyebabkan Cambodia memiliki devisa cukup untuk mengimpor obat dari Indonesia demi peningkatan kesehatan rakyatnya.
    Trade diversion terjadi akibat adanya insentif penurunan tariff, misalnya Indonesia yang sebelumnya selalu mengimpor gula hanya dari Chinaberalih menjadi mengimpor gula dari Thailand karena menjadi lebih murah dan berhenti mengimpor gula dari China. Manfaat trade creation jauh lebih besar dibandingkan trade diversion. Selain itu juga terjadi pemanfaatan bersama sumber daya regional dan peningkatan efisiensi akibat terbentuknya spesialisasi diantara para pelaku industri dan perdagangan yang terpacu oleh adanya insentif liberalisasi tarif dan non-tarif. Dalam kerangka FTA, posisi tawar ekonomi regional menjadi lebih kuat dalam menarik mitra dagang dan investor asing maupun domestik yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan penduduk negara anggota. FTA dapat pula menciptakan sinergi baik antar anggota maupun secara kelompok regionnalnya dengan regional lainnya sebagai manfaat berganda (multiplier effect) yang menguntungkan perekonomian dunia.
    Sisi Negatif
    FTA memungkinkan terbentuknya ekonomi biaya tinggi bila berlangsung secara tidak efektif akibat implementasi penurunan tarif, yang kemudian segera digantikan oleh kenaikan hambatan non-tarif sehingga tidak terjadi preferensi dagang yang sesungguhnya dan mengakibatkan gagalnya peningkatan perdagangan antar anggota yang seharusnya menjadi pokok tujuan kesepakatan ini.
    Duplikasi pos tarif dimungkinkan terjadi karena pada satu negara anggota, paling tidak terdapat tarif Most Favored Nation (MFN), preferensi tarif antar anggota FTA, dan mungkin masih ditambah tarif-tarif lain yang berbeda dengan jadwal waktu yang berbeda pula sehingga menimbulkan kesulitan di lapangan (spaghetti ball phenomena). Terdapat pula masalah dalam mempertahankan anggota bila terjadi overlapping, yaitu suatu negara menjadi anggota lebih dari satu kesepakatan FTA, misalnya Singapura selain menjadi anggota AFTA, juga menjalin FTA dengan Jepang dan dengan Amerika Serikat, atau Thailand selain menjadi anggota AFTA juga membentuk FTA lain dengan negara-negara Asia Selatan. FTA regional maupun bilateral juga dikhawatirkan memberi kontribusi dalam mengganggu negosiasi perdagangan bebas pada tingkat multilateral.
    Blok perdagangan sebenarnya sangat erat kaitannya dengan WTO karena merupakan upaya yang paralel dengan upaya WTO dalam membebaskan perdagangan dunia dari hambatan tarif maupun non-tarif, seperti diatur pada artikel XXIV. Blok perdagangan memberikan kontribusi positip terhadap akselerasi liberalisasi perdagangan dunia, sebagai pilihan terbaik kedua setelah liberalisasi multilateral, sehingga pihak yang mengkhawatirkan bahwa FTA mengganggu proses pencapaian perdagangan dunia yang bebas hambatan sebenarnya merupakan opini yang masih bisa diperdebatkan.

    PENUTUP
    Persetujuan untuk menghapuskan tarif dimulai pada awal tahun 2003. Perdagangan antara China dan ASEAN mencapai US$ 41,6 miliar pada tahun 2002, menjadikan China sebagai mitra dagang keenam terbesar bagi ASEAN. Sementara ASEAN adalah merupakan mitra dagang kelima terbesar bagi China. Pada kuartal pertama tahun 2003, perdagangan antara China dan ASEAN meningkat sebanyak 27,1 persen atau mencapai US$ 38,55 miliar. Ekspor ASEAN ke China juga meningkat 27 persen, sedangkan ke negara-negara lain senilai hampir 50%.
    Negara-negara Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand merupakan enam anggota ASEAN yang akan merealisasikan per-janjian di bawah kerangka kerja Kawasan Perdagangan Bebas (FTA) dalam waktu delapan tahun mendatang, sampai men-jelang tahun 2010.
    Hubungan China-ASEAN telah sampai ke tahap yang tidak pernah dicapai sebelum ini dalam sejarah. Pemerintah China menjanjikan bantuan yang berkesinambungan kepada ASEAN untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. FTA ini akan diperluas ke negara-negara anggota ASEAN lainnya menjelang 2015 yaitu Myanmar, Viet Nam, Laos dan Kemboja.

  50. nama : taufik Hidayatulloh
    npm :093401015
    ekonomi pembangunan

    “penentuan kurs mata uang dan dampak peningkatan terhadap dolar dan perdagangan dalam negeri dan ekspotr indonesia”.

    .BAB I
    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang
    Penguatan atau melemahnya trend nilai kurs rupiah terhadap mata uang asing dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
    Faktor Dalam Negeri:
    •Dampak inflasi yang cenderung meningkat
    •Dampak negatif dari tingginya harga minyak terhadap neraca perdagangan migas
    •Sentimen negative dari kelangkaan BBM
    •Kekhawatiran dari dampak tingginya harga minyak terhadap kesinambungan fiscal (fiscal sustainability)
    • Nilai rupaih sudah “undervalued”, karena itu ruang untuk penguatan rupiah cukup terbuka
    Faktor Luar Negeri
    •Dolar Amerika Serikat menguat terhadap hamper semua mata uang
    •Ekonomi Amerika menguat
    •Tingkat suku bunga Amerika Serikat merambat naik

    1.2. Rumusan masalah

    Adapun rumusan masalah yang diambil yaitu bagaimana “penentuan kurs mata uang dan dampak peningkatan terhadap dolar dan perdagangan dalam negeri dan ekspotr indonesia”.?

    1.2 Tujuan

    tujuan di buatnya maklah ini yaitu untuk mengatahui tentang “penentuan kurs mata uang dan dampak peningkatan terhadap dolar dan perdagangan dalam negeri dan ekspotr indonesia”.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    2.1 Penentuan kurs mata uang dan dampak peningkatan terhadap dolar dan perdagangan dalam negeri dan ekspotr indonesia

    Apresiasi berarti meningkatnya nilai mata uang Apresiasi berarti meningkatnya nilai mata uangsuatu negara relatif terhadap mata uang lainnyasuatu negara relatif terhadap mata uang lainnyaDepresiasi berarti sebaliknya, yaitu menurunnya nilaiDepresiasi berarti sebaliknya, yaitu menurunnya nilaimata uang suatu negara relatif terhadap matamata uang suatu negara relatif terhadap mata uang lainnya
    Jika pada awal tahun kurs Rp3.000/US$ dan pada Jika pada awal tahun kurs Rp3.000/US$ dan padaakhir tahun menjadi Rp 4.000/US$ maka dolar akhir tahun menjadi Rp 4.000/ US$ maka dolar mengalami apresiasi terhadap rupiah, sebaliknyamengalami apresiasi terhadap rupiah, sebaliknyarupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS.
    Apresiasi dan Depresiasi berbeda dengan revalusi dan devaluasi
    Devaluasi berarti menurunnya nilai atau kursberarti menurunnya nilai atau kursmata uang terhadap mata uang lainnyamata uang terhadap mata uang lainnyasecara resmi.
    Revaluasi sebaliknyameningkatnya nilai atau kurs mata uangmeningkatnya nilai atau kurs mata uangterhadap mata uang lainnya secara resmi Situasi semacam ini biasanya terjadi diSituasi semacam ini biasanya terjadi dinegara yang menganut sistem kurs tetap.
    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KURS
    A. Permintaan terhadap uang
    Permintaan terhadap rupiah meningkat Permintaan terhadap rupiah meningkatmengakibatkan kurs rupiah menguatmengakibatkan kurs rupiah menguatrelatif terhadap terhadap dolar,relatif terhadap terhadap dolar,sedangkan permintaan terhadap barangsedangkan permintaan terhadap barang AS menurun (harga barang AS menurun (harga barang–barang ASbarang ASmahal) mengakibatkan permintaanmahal) mengakibatkan permintaan terhadap dolar turun Permintaan dolar yang semakin kecil mengakibatkan kursyang semakin kecil mengakibatkan kursdolar melemahdolar melemah.

    .
    B. Perbedaan Tingkat Bunga Antar Negara
    Kenaikan tingkat bunga di AS relatif Kenaikan tingkat bunga di AS relatif terhadap tingkat bunga di Indonesia akanterhadap tingkat bunga di Indonesia akanmenyebabkan banyak investor mengalihmenyebabkan banyak investor mengalih–kan investasinya dari instrumen keuangankan investasinya dari instrumen keuangandengan denominasi dolar. Investor berusaha memanfaatkan tingkat bungaberusaha memanfaatkan tingkat bungayang lebih tinggi, sebagai akibatnya dolar yang lebih tinggi, sebagai akibatnya dolar akan menguat (apresiasi) terhadap rupiah,akan menguat (apresiasi) terhadap rupiah,atau rupiah mengalami depresiasiatau rupiah mengalami depresias iterhadap dolar.

    Rupiah menjadi mata uang berkinerja paling bagus dalam tiga tahun terakhir ini. Pada periode Januari 2008-April 2011, rupiah terapresiasi (menguat) 28 persen, paling tinggi dibanding dengan won Korea 22 persen, ringgit Malaysia 17 persen, dollar Singapura 16 persen, peso Filipina 10 persen, atau pun yuan China 4 persen. terdapat beberapa faktor, baik eksternal atau pun internal yang mendorong terjadinya apresiasi rupiah. Pertama, pemulihan perekonomian AS dipandang masih sangat volatile, sebagaimana terindikasi dari lambatnya penurunan penganggguran dari 9,8 persen (Januari 2010) menjadi 8,8 persen (April 2011).Hal ini memaksa the Fed (Bank Sentral AS) mematok dan menahan suku bunga rendah pada level 0,25 persen. Selain itu, the Fed memberikan sinyal untuk tetap menerapkan kebijakan stimulus dalam skema quantitative easing senilai 600 miliar dollar AS. Dua kebijakan itu membuat suplai USD di pasar bertambah banyak dan nilainya terhadap rupiah (dan beberapa mata uang lainnya) mengalami penurunan. Kedua, proses pemulihan perekonomian AS membuat permintaan di negara itu terhadap produk-produk yang dihasilkan negara lain mengalami peningkatan cukup signifikan. Ketiga, suku bunga acuan yang ditetapkan BI (BI Rate) sebesar 6,75 persen lebih tinggi dibanding dengan suku bunga di beberapa negara kompetitor, seperti Malaysia (2,75 persen), Thailand (2,75 persen), dan China (3,25 persen). Hal ini membuat pasar keuangan Indonesia relatif lebih menarik daripada pasar keuangan di beberapa negara tersebut. Menariknya, pasar keuangan membuat arus dana asing (capital inflow) yang meminta rupiah mengalir deras ke negeri ini. Keempat, agresifnya pemerintah dan perusahaan menerbitkan obligasi membuat permintaan USD terhadap rupiah mengalami peningkatan.Tingginya permintaan terhadap obligasi ini membuat nilai rupiah terkerek naik ke atas.

    Berkah dan Masalah
    Penguatan rupiah bisa menimbulkan berkah dan masalah bagi perekonomian Indonesia. Dalam kaitan dengan berkah, beberapa hal yang kemungkinan bisa dinikmati perekonomian Indonesia adalah. Pertama, dalam APBN 2011, pemerintah mengalokasikan 38,6 persen dari belanjanya (301,2 triliun rupiah) untuk bayar utang (dalam dan luar negeri) dan subsidi. Beberapa komoditas yang disubsidi (BBM) harus diimpor dari luar negeri. Karena itu, penguatan rupiah akan membuat kewajiban bayar utang (dari luar negeri) dan anggaran subsidi mengalami penurunan.Tidak mengherankan bila muncul prediksi bahwa setiap rupiah menguat 100 rupiah, maka belanja negara akan bisa dihemat sebesar 400 miliar rupiah. Kedua, penguatan rupiah mengurangi tekanan infl asi yang berasal dari imported infl ation. Penurunan infl asi year-on-year dari 6,65 persen (Maret 2011) menjadi 6,16 persen (April 2011) sedikit banyak dipengaruhi apresiasi rupiah. Karena itu, BI memunyai sedikit ruang untuk tidak menaikkan BI Rate yang bisa bersifat kontraproduktif terhadap bunga kredit yang dibutuhkan sektor riil. Ketiga, apresiasi rupiah juga memberikan keuntungan bagi importir. Jika barang-barang yang diimpor itu merupakan barang modal (mesin dan peralatan) dan bahan baku (gandum), maka kapasitas produksi perekonomian bisa ditingkatkan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan secara relatif akan menjadi lebih murah.
    Namun demikian, apresiasi rupiah juga berpotensi membawa masalah bagi perekonomian, utamanya pada sisi neraca perdagangan.Artinya, di satu sisi, industri dengan orientasi ekspor, seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), sepatu, dan elektronik, adalah mereka yang akan mendapatkan masalah dari terjadinya penguatan rupiah. Secara relatif, produk-produk mereka di pasar ekspor akan menjadi lebih mahal sehingga berpotensi menekan pendapatan (dalam rupiah) mereka. Selain itu, produk-produk ekspor Indonesia akan mendapatkan persaingan (dari sisi harga) yang lebih ketat dari produk yang berasal dari negara dengan apresiasi mata uang lebih rendah dari rupiah, seperti Malaysia, Thailand, dan China.Untuk itu, dibutuhkan kreativitas dan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk. Tanpa adanya peningkatan kualitas, dengan harga yang relatif menjadi lebih mahal, boleh jadi produk-produk ekspor Indonesia tidak akan mampu mempertahankan posisinya di beberapa negara tujuan ekspor. Disisi yang lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, penguatan rupiah akan meningkatkan intensitas penetrasi produk-produk impor.Kondisi seperti ini akan membuat industri penghasil barang-barang konsumsi dengan orientasi pasar domestik akan mendapatkan persaingan yang lebih ketat dari barang-barang konsumsi impor. Pada gilirannya, penurunan ekspor dan peningkatan impor ini akan menekan neraca perdagangan. Laporan BPS (2/5) yang menunjukkan terjadinya penurunan surplus perdagangan dari 2,4 dollar AS pada Februari menjadi 1,81 miliar dollar AS pada Maret 2011 boleh jadi merupakan akibat dari semakin kuatnya nilai tukar rupiah. Beranjak dari analisis bahwa apresiasi rupiah membawa berkah sekaligus masalah, BI tampaknya perlu lebih proaktif memonitor dan mengawal penguatan rupiah. Dalam kaitan ini, ada baiknya BI memiliki batas toleransi sampai pada level berapa rupiah boleh mengalami apresiasi. Pada kondisi ketika batas toleransi itu sudah terlewati, BI perlu melakukan intervensi, meskipun dengan konsekuensi mengeluarkan biaya moneter yang tidak murah. Secara psikologis, intervensi yang dilakukan BI ini akan menambah keyakinan pelaku usaha bahwa mereka tidak dibiarkan berjuang sendirian, sesuatu yang sudah sangat jarang dirasakan pelaku usaha akhir-akhir ini.

  51. Nama : Enung Nuryani (093401020)
    Ligar Cahya Solihat (093401003)
    Fitri Dewi (093401004)

    MEKANISME PENENTUAN KURS
    DAN DAMPAK APRESIASI TERHADAP EKSPOR

    1. Mekanisme Penentuan Kurs
    Kurs mata uang adalah perbandingan nilai antar mata uang. Kurs menunjukan harga suatu mata uang jika dipertukarkan dengan mata uang lain. Contoh nilai kurs rupiah per US$ sebesar Rp 10.000,-/US . Berarti bahwa untuk membeli US$ 1 diperllukan Rp 10.000,-
    Dalam sistem mata uang mengambang bebas (free float) apabila harga suatu mata uang menjadi semakin mahal terhadap mata uang lain, maka mata uang itu dikatakan berapresiasi. Sebaliknya jika harga suatu mata uang turun terhaadap mata uang lain, mata uang tersebut di.katakan terdepresiasi. Dalam sistem mata uang tertambat (Pegged), kenaikan nilai suatu mata uang terhadap mata uang lain disebut Revaluasi.
    Keseimbangan kurs tanpa intervensi pemerintah
    • Secara teoriitis dalam kondisi tanpa intervensi pemerintah, harga suatu mata uang ditentukan oleh permintaan dan penawaran terhadap mata uang tersebut.
    • Permintaan terhadap suatu mata uang berbanding terbalik dengan harganya.
    • Semakin tinggi nilai $ (misalnya dibanding Rp) maka keinginan untuk menukar rupiah dengan dolar semakin berkurang.
    Beberapa faktor yang mempengaruhi kurs
    1. Laju inflasi relatif
    2. Tingkat bunga relatif
    3. Tingkat pendapatan relatif
    4. Kontrol ppemerintah
    5. Pengharapan pasar

    2. Dampak Apresiasi terhadap ekspor
    penguatan nilai tukar rupiah terhadap eksportir. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menilai dampak penguatan nilai mata uang Indonesia itu tidak merata bagi seluruh eksportir nasional
    Sementara itu, dampak apresiasi nilai Rupiah terhadap ekspor keseluruhan wilayah. dilihat dari volume ekspor pada tahun 2011 diindikasikan belum berdampak signifikan.
    Dampak ini dirasakan eksportir karena adanya selisih nilai tukar antara hasil penjualan dengan biaya yang dikeluarkan dimana lebih dari 90 persen biaya merupakan biaya domestik.
    Dari data tersebut, tercatat dampak yang dirasakan eksportir beragam, dimana sebanyak 53,4 persen responden mengalami penurunan keuntungan. Dalam menghadapi dampak negatif apresiasi Rupiah ini sebagian besar eksportir yang terkena efek telah melakukan upaya untuk meminimalisir dampak yang dirasakan.
    Seperti melakukan efisiensi biaya dengan melakukan pengalihan bahan bakar dari solar ke gas alam, menghemat penggunaan energi, dan melakukan penghentian sementara sebagian pekerja tidak tetap. Selain itu upaya lain yang dilakukan adalah melakukan negosiasi ulang, melakukan hedging, dan juga meningkatkan kualitas produk serta menahan penjualan.

  52. KATA PENGANTAR
    Puji syukur penulis panjatkan kepada allah swt karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Bank Central”.
    Makalah ini berisikan mengenai Dampak dihilangkannya tarif perdagangan dalam negri dan luar negeri.
    Penulis menyadari bahwa selama penulisan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
    1. Bapak Budi selaku dosen mata kuliah Perdagangan Internasional, yang telah membantu dan membimbing penyusunan makalah ini.
    2. Rekan-rekan seangkatan yang turut membantu dan memotivasi penulis untuk menyelesaikan penyusunan makalah ini.
    3. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu. Semoga allah swt memberikan balasan yang berlipat ganda.
    Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan,baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisanya. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi penulis dan bagi pembaca. Amin.
    Tasikmalaya, Oktober 2010
    Penulis

    BAB I
    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Kebijakan perdagangan internasional adalah berbagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara, baik secara lansung maupun tidak lansung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan arah perdagangan internasional negara tersebut. Kebijakan perdagangan internasional dilaksanakan dengan tujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi nasional, industri dalam negeri, dan lapangan kerja serta menjaga stabilitas ekonomi nasional. Akan tetapi, dalam praktek perdagangan internasional saat ini, kebanyakan pemerintah melakukan campur tangan dalam kegiatan perdagangan internasional menggunakan kebijakan lainnya yang lebih rumit, yaitu kebijakan nontarif barrier (NTB). Hal ini dilakukan negara tersebut untuk menyembunyikan motif proteksi atau sekedar mengecoh negara lainnya. Oleh karena itu, sampai saat ini masih banyak negara yang memberlakukan kebijakan nontarif barrier walaupun beberapa ahli beranggapan bahwa kebijakan nontarif barrier dapat menjadi penghalang untuk tercapainya keterbukaan dalam perdagangan internasional.

    B. Rumusan Masalah
    Dampak yang terjadi bila tarif perdagangan dalam dan luar negeri dihilangkan.

    C. Tujuan Penulisan
    Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai salah satu evaluasi kerja terstruktur mata kuliah Perdagangan Internasional. Selain itu juga untuk memberikan pemahaman bagi pembaca mengenai Dampak non tarif.

    D. Metode Penulisan
    Metode penulisan yang digunakan untuk memperoleh data adalah metode studi literature. Metode tersebut yang dilakukan dengan membaca buku-buku mengenai obligasi. Keuntungan dari metode tersebut adalah data yang didapat jelas dan akurat. Selain mengunakan studi literature, penulis juga mencari data melalui internet karena lebih mudah dan banyak sumber yang dapat dijadikan referensi.

    E. Sistematika Penulisan
    Makalah ini terdiri dari tiga bab, yaitu bab pertama mengenai pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab kedua berisikan pembahasan materi dan bab ketiga mengenai penutup yang terdiri dari kesimpulan. Terakhir adalah daftar pustaka.

    BAB II
    PEMBAHASAN

    Kebijakan perdagangan internasional adalah berbagai tindakan dan peraturan yang dijalankan suatu negara, baik secara lansung maupun tidak lansung, yang akan mempengaruhi struktur, komposisi, dan arah perdagangan internasional negara tersebut. Kebijakan perdagangan internasional dilaksanakan dengan tujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi nasional, industri dalam negeri, dan lapangan kerja serta menjaga stabilitas ekonomi nasional. Akan tetapi, dalam praktek perdagangan internasional saat ini, kebanyakan pemerintah melakukan campur tangan dalam kegiatan perdagangan internasional menggunakan kebijakan lainnya yang lebih rumit, yaitu kebijakan nontarif barrier (NTB). Hal ini dilakukan negara tersebut untuk menyembunyikan motif proteksi atau sekedar mengecoh negara lainnya. Oleh karena itu, sampai saat ini masih banyak negara yang memberlakukan kebijakan nontarif barrier walaupun beberapa ahli beranggapan bahwa kebijakan nontarif barrier dapat menjadi penghalang untuk tercapainya keterbukaan dalam perdagangan internasional.

    A. Berbagai Hambatan Nontarif

    1. Kuota impor

    Kuota impor adalah pembatasan secara lansung terhadap jumlah barang yang boleh diimpor dari luar negeri untuk melindungi kepentingan industri dan konsumen. Pembatasan ini biasanya diberlakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu atau perusahaan domestik untuk mengimpor suatu produk yang jumlahnya dibatasi secara lansung.
    Kuota impor dapat digunakan untuk melindungi sektor industri tertentu dan neraca pembayaran suatu negara. Negara maju pada umumnya memberlakukan kuota impor untuk melindungi sektor pertaniannya. Sedangkan negara-negara berkembang melakukan kebijakan kuota impor untuk melindungi sektor industri manufakturnya atau untuk melindungi kondisi neraca pembayarannya yang seringkali mengalami defisit akibat lebih besarnya impor daripada ekspor.

    Dampak-dampak keseimbangan parsial dari pemberlakuan kuota impor dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

    Dx dan Sx masing-masing adalah kurva penawaran untuk komoditi X di suatu negara. Dalm kondisi perdagangan bebas, harga yang berlaku adalah harga dunia, yakni Px=$1. Jika negara tersebut memberlakukan kuota impor 30X (JH), hal itu mengakibatkan kenaikan harga menjadi Px=$2, dan konsumsi akan turun menjadi 50X (GH), di mana 20X (GJ) di antaranya merupakan produksi domestik sedangkan sisanya adalah impor. Jika pemerintah melelang lisensi impor dalam suatu pasar kompetitif, maka pemerintah akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar $30 (JHNM). Penambahan pendapatan bagi pemerintah sebesar itu sama seperti yang ditimbulkan jika negara tersebut memberlakukan tarif impor sebesar 100%. Namun seandainya kurva penawaran bergeser dari Dx ke Dx’, maka pemberlakuan kuota impor sebesar 30X (J’H’) akan menambah konsumsi dari 50X menjadi 55X (G’H’) dan 25X (G’J’) di antaranya merupakan produksi domestik.

    Perbedaan kuota impor dan tarif impor yang setara :

    a. Pemberlakuan kuota impor akan memperbesar permintaan yang selanjutnya akan diikuti kenaikan harga domestik dan produksi domestik yang lebih besar daripada yang diakibatkan oleh pemberlakuan tarif impor yang setara;

    b. Dalam pemberlakuan kuota impor, jika pemerintah melakukan pemilihan perusahaan yang berhak memperoleh lisensi impor tanpa mempertimbangkan efisiensi, maka akan menyebabkan timbulnya monopoli dan distorsi;

    c. Pada kuota impor, pemerintah akan memperoleh pendapatan secara lansung melalui pemungutan secara lansung pada penerima lisensi impor;

    d. Kuota impor membatasi arus masuk impor dalam jumlah yang pasti, sedangkan tarif impor membatasi arus masuk impor dalm jumlah yang tidak dapat dipastikan.
    Macam-macam kuota impor :
    i. Absolute/ uniteral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan secara sepihak (tanpa negoisasi).
    ii. Negotiated/ bilateral quota, yaitu sistem kuota yang ditetapkan atas kesepakatan atau menurut perjanjian.
    iii. Tarif kuota, yaitu pembatasan impor yang dilakukan dengan mengkombinasikan sistem tarif dengan sistem kuota.
    iv. Mixing quota, yaitu pembatasan impor bahan baku tertent untuk melindungi industri dalam negeri.

    2. Pembatasan Ekspor Secara Sukarela

    Konsep ini mengacu pada kasus di mana negara pengimpor mendorong atau bahkan memaksa negara lain mengurangi ekspornya secara sukarela dengan ancaman bahwa negara pengimpor tersebut akan melakukan hambatan perdagangan yang lebih keras lagi. Kebijakan ini dilakukan berdasarkan kekhawatiran akan lumpuhnya sektor tertentu dalam perekonomian domestik akibat impor yang berlebih.
    Pembatasan ekspor secara sukarela ini kurang efektif, karena pada umumnya negara pengekspor enggan membatasi arus ekspornya secara sukarela. Pembatasan ekspor ini justru membebankan biaya yang lebih mahal bagi negar pengimpor karena lisensi impor yang bernilai tinggi itu justru diberikan pada pemerintah atau perusahaan asing.

    3. Kartel-kartel Internasional

    Kartel internasional adalah sebuah organisasi produsen komoditi tertentu dari berbagai negara. Mereka sepakat untuk membatasi outputnya dan juga mengendalikan ekspor komoditi tersebut dengan tujuan memaksimalkan dan meningkatkan total keuntungan mereka. Berpengaruh tidaknya suatu kartel ditentukan oleh hal-hal berikut:
    a. Sebuah kartel internasional berpeluang lebih besar untuk berhasil dalam menentukan harga jika komoditi yang mereka kuasai tidak memiliki subtitusi;
    b. Peluang tersebut akan semakin besar apabila jumlah produsen, negara, atau pihak yang terhimpun dalam kartel relatif sedikit.

    4. Dumping

    Dumping adalah ekspor dari suatu komoditi dengan harga jauh di bawah pasaran, atau penjualan komoditi ke luar negeri dengan harga jauh lebih murah dibandingkan dengan harga penjualan domestiknya. Dumping diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yaitu:
    a. Dumping terus-menerus atau international price discrimination adalah kecenderungan terus-menerus dari suatu perusahaan monopolis domestik untuk memaksimalkan keuntungannya dengan menjual suatu komoditi dengan harga yang lebih tinggi di pasaran domestik, sedangkan harga yang dipasangnya di pasar luar negeri sengaja dibuat lebih murah;
    b. Dumping harga yang bersifat predator atau predatory dumping praktek penjualan komoditi di bawah harga yang jauh lebih murah ketimbang harga domestiknya. Proses dumping ini pada umumnya berlansung sementara, namun diskriminasi harganya sangat tajam sehingga dapat mematikan produk pesaing dalam waktu singkat;
    c. Dumping sporadis atau sporadic dumping adalah suatu komoditi di bawah harga atau penjualan komoditi itu ke luar negeri dengan harga yang sedikit lebih murah daripada produk domestik, namun hanya terjadi saat ingin mengatasi surplus komoditi yang sesekali terjadi tanpa menurunkan harga domestik.

    5. Subsidi Ekspor
    Subsidi ekspor adalah pembayaran lansung atau pemberian keringanan pajak dan bantuan subsidi pada para eksportir atau calon eksportir nasional, dan atau pemberian pinjaman berbunga rendah kepada para pengimpor asing dalam rangka memacu ekspor suatu negara. Analisis subsidi ekspor disajikan secara grafis pada grafik berikut ini :
    Dalam kondisi perdagangan bebas, harga yang berlaku adalah Px=$3,5. Dalam kondisi tersebut, negara 2 yang merupakan sebuah negara kecil akan memproduksi komoditi X sebanyak 35 unit (A’C’), sebagian di antaranya yakni sebanyak 20 unit akan dikonsumsi sendiri (A’B’), sedangkan sisanya 15 unit akan diekspor (B’C’). namun setelah pemerintah negara 2 memberikan subsidi ekspor sebesar $0,5 untuk setiap unit komoditi X yang diekspor, maka Px meningkat menjadi $4/unit bagi para produsen dan konsumen domestik. Sementara itu harga yang dihadapi oleh produsen dan konsumen luar negeri tetap. Berdasarkan tingkat harga baru Px=$4 tersebut, para produsen di negara 2 akan meningkatkan produksi komoditi X hingga (G’J’). sementara itu para konsumen yang menghadapi harga yang lebih mahal akan menurunkan konsumsinya menjadi 10 unit (G’H’), sehingga jumlah komoditi X yang diekspor juga meningkat menjadi 30 unit (H’J’). kondisi ini mengakibatkan kerugian bagi konsumen domestik sebesar $7,5 (luas bidang a’+b’), sedangkan produsen memperoleh keuntungan tambahan sebesar $18,75 (luas bidang a’+b’+c’). selain itu, pemerintah yang memberikan subsidi akan memikul kerugian sebesar $15 (B’+C’+D’). secara keseluruhan kerugian yang dialami negara 2 (negara proteksi) mencapai $3,75 yang setara dengan penjumlahan luas segitiga B’H’N’ = b’ = $2,5 dan C’J’M’ = d’ = $1,25.
    B. Tinjauan Atas Pengaturan-Pengaturan Pembatasan Ekspor Secara Sukarela Di Sejumlah Negara Maju

    1. Hasil penelitian yang telah dilaksanakan baru-baru ini mengenai dampak dari pembatasan ekspor secara sukarela yang dilakukan di negara-negara maju mengungkapkan bahwa sekitar 67% biaya atau kerugian yang muncul dari kebijakan ini ditanggung oleh konsumen, sehingga ini terhitung sebagai rente yang diperoleh produsen. Dengan kata lain, bagian terbesar dari biaya yang terkandung dalam instrumen lebih merupakan alih pendapatan ke pihak luar, di samping itu juga kerugian berupa kemerosotan efisiensi. Hal ini menegaskan bahwa dari sudut pandang nasional, kebijakan ini lebih merugikan daripada tarif.

    2. Upaya Washington Untuk Membatasi Arus Ekspor Mobil Jepang Ke Amerika Serikat
    Lonjakan tajam harga minyak dan krisis bahan bakar di Amerika pada tahun 1979 mebuat selera pasar bergeser ke mobil berukuran kecil. Jepang sebagai produsen mobil berukuran kecil pun mulai mengekspor produknya ke Amerika. Hal ini menyebabkan tingkat produksi otomotif di Amerika menurun. Untuk melindungi industri domestiknya, Amerika mengadakan perjanjian pembatasan impor dengan Jepang pada tahun 1981. Sebagai tindak lanjut perjanjian ini, produsen mobil Amerika Serikat berusaha meningkatkan efisiensi dan memperbaiki kualitasnya, walaupun dengan begitu harga satuan produknya menjadi relatih lebih tinggi. Perusahaan-perusahaan Jepang sendirimembiarkan diri dipaksa secara tidak lansung untuk menjual hasil produksinya dengan harga yang lebih mahal, sehingga mereka dapat menikmati margin laba yang lebih besar dari setiap unit mobil yang dijualnya pada konsumen Amerika.
    Hal tersebut tentu saja merugikan konsumen Amerika yang terpaksa mebayar lebih mahal untuk mendapatkan satu unit mobil. Akhirnya sejak tahun 1985, Amerika tidak lagi menuntut pembatasan ekspor otomotif dari Jepang, namun Jepang secara sepihak membatasi ekspor mobilnya secara sengaja. Pada tahun 1990-an, perusahaan-perusahaan mobil Jepang melakukan investasi besar-besaran di Amerika dengan membangun pabrik-pabrik perakitan di Amerika. Tanpa memacu ekspornya, Jepang telah dapat menjual begitu banyak mobil di Amerika Serikat melalui pabrik-pabrik yang terdapat di negara itu. Dengan demikian, melalui investasi lansung, perusahaan-perusahaan Jepang mampu mengatasi ancaman hambatan perdagangan dan kontroversi di masa mendatang.
    Penelusuran dampak-dampak dari pengendalian ekspor secara sukarela ini cukup rumit karena adanya beberapa faktor yang berpengaruh. Pertama, mobil-mobil Jepang dan Amerika bukan merupakan subtitusi sempurna. Kedua, sampai tingkat tertentu industri Jepang memberikan reaksi atas pembatasan ini dengan meningkatkan kualitas dan menjual mobil-mobil yang lebih mahal dengan memberikan aksesori tambahan. Ketiga, industri mobil bukan merupakan pasar persaingan sempurna.

    3. Praktek Pemberian Subsidi Pertanian Di Negara-Negara Industri
    Negara-negara industri maju memberikan subsidi pada produsen di sektor pertaniannya dalam jumlah besar dan cenderung meningkat tiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan negara-negara maju memproduksi barang pertanian lebih banyak dari kesanggupan membelinya. Untuk mengatasi peningkatan cadangan yang nyaris tak terkendali, mereka mengekspor kelebihan produksi pertaniannya. Karena harga penyangga barang tersebut lebih tinggi dari harga dunia, maka pemerintah negara majau memberikan subsidi ekspor untuk menghilangkan perbedaan harga dan dapat mengekspor hasil produksinya. Subsidi tersebut cenderung menekan harga dunia dan akibatnya meningkatkan kebutuhan dana subsidi.

    4. Proteksi Terkendali Di Amerika Serikat Dan Negara-Negara Lain
    Proteksi terkendali dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu:
    ¤ Langkah-langkah pengamanan (safeguards), adalah pemberian dukunga khusus bagi para produsen domestik yang terpukul oleh tekanan persaingan impor yang dianggap tidak jujur atau tidak wajar
    ¤ Pajak pengimbangan (countervailling duties), adalah tarif tambahan yang dikenakan terhadap produk-produk impor tertentu yang dianggap memiliki daya saing karena didukung subsidi ekspor dari negara asalnya untuk menghilangkan selisih harga yang timbul akibat subsidi.
    ¤ Tindakan anti-dumping, adalah langkah yang diambil pemerintah suatu negara untuk mengatasi dumping yang dilakukan negara pengekspor.

    5. Hambatan-Hambatan Perdagangan Nontarif Di Amerika Serikat, Uni Eropa, Dan Jepang

    Perdagangan dunia liberal yang telah berjalan baik sejak Perang Dunia II dianggap telah berperan penting bagi peningkatan kesejahteraan dunia. Namun kini berbagai hambatan nontarif menjadi ancaman besar bagi keberadaan dan perkembangan sistem perdagangan dunia liberal.

    C. Putaran Uruguay
    Putaran Uruguay adalah babak 8 negosiasi perdagangan multilateral (MTN) dilakukan dalam kerangka Perjanjian Umum mengenai Tarif dan Perdagangan (GATT), mulai 1986-1994 dan merangkul 123 negara sebagai “pihak kontraktor”. Putaran Uruguay mengubah GATT ke Organisasi Perdagangan Dunia.
    Putaran diberlakukan pada tahun 1995 dan telah diimplementasikan selama periode sampai 2000 (2004 dalam kasus negara berkembang pihak kontraktor) di bawah arahan administratif baru dibuat Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Putaran Uruguay tentang Perjanjian Pertanian, yang dikelola oleh WTO, membawa perdagangan pertanian lebih lengkap di bawah GATT. Putaran Uruguay menyebabkan perubahan pembatasan kuantitatif untuk tarif dan penurunan tarif secara bertahap. Perjanjian tersebut juga memberlakukan aturan dan disiplin pada subsidi ekspor pertanian, subsidi domestik, dan sanitasi dan phytosanitary (SPS) tindakan.
    Hasil dari Putaran Uruguay antara lain :
    1. Soal tarif. Negara-negara anggota sepakat untuk menurunkan tarif yang selama ini masih diberlakukan untuk produk-produk industri dari rata-rata 4.7% menjadi 3 %, sedangkan proporsi produk yang dibebaskan dari tarif akan ditingkatkan dari 20-22 % menjadi 40-45 %. Tarif untuk beberapa sektor tertentu dihapuskan sama sekali misalnya untuk sektor farmasi, peralatan, konstruksi, perlengkapan medis, produk kertas, dan baja.
    2. Soal kuota, Tingkat tarif untuk produk pertanian turun untuk negara berkembang dari menjadi 24% dan untuk negara industri menjadi 36%. Sedang tarif untuk tekstil turun menjadi 25%.
    3. Soal tindakan anti-dumping. Putaran Uruguay menetapkan ketentuan yang lebih tegas dan cepat, meskipun tidak melarang penggunaan politik dumping.
    4. Mengenai subsidi, volume pertanian yang disubsidi dikurangi hingga 21% dalam periode 6 tahun. Sedangkan subsidi pemerintah untuk kegiatan riset industri yang bersifat penelitian dasar dibatasi 50% dari total biaya riset terapan.
    5. Mengenai ketentuan pengaman khusus, negara-negara masih dimungkinkan untuk meningkatkan tarif atau melakukan restriksi untuk perdagangan tertentu guna meredam lonjakan impor yang diperkirakan dapat memukul perindustrian domestik, kecuali dalam bidang kesehatan.
    6. Mengenai hak cipta, Putaran Uruguay menetapkan bahwa hak cipta memiliki masa 20 tahun, namun ada kelonggaran membayar royalty selama 10 tahun untuk sektor industri farmasi selama 10 tahun.
    7. Mengenai perdagangan sektor jasa, dalam hal ini Amerika gagal memperoleh akses untuk jasa perbankan di negara Jepang, Korea Selatan dan beberapa negara berkembang lainnya. Selain itu Amerika juga gagal memaksa Perancis dan juga negara anggota Uni-Eropa lain agar mengahapuskan hambatan-hambatan masuknya film-film dan acara Amerika secara bebas.
    8. Mengenai industri lain pada umumnya, Amerika dan negara Eropa lain sepakat membatasi subsidi pemerintah bagi subsidi pemerintah bagi pesawat terbang sipil, pembukaan pasar telepon jarak jauh, dan pembatasan subsidi bagi produsen baja, dan Amerika juga membicarakan tentang pembukaan pasar chip semikonduktor di Jepang.
    9. Mengenai aspek-aspek investasi yang berkenaan dengan perdagangan. Putaran Uruguay sepakat menghilangkan berbagai persyaratan bagi para investor luar negeri, misalnya untuk membeli suku cadang lokal atau mengadakan ekspor senilai impornya.
    10. Rencana pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia, negara peserta Putaran Uruguay sepakat untuk membentuk WTO menggantikan GATT.

  53. kelompok 1
    rahman budiman (09)
    gun-gun gunawan (09)
    riyan setiawan (08)
    endang nurjaman (09)

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    Seiring berjalannya waktu sistem pembayaran dalam perdagangan internasional semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang berkembang akhir-akhir ini. Hal tersebut terjadi akibat semakin besarnya volume dan keanekaragaman barang dan jasa yang akan diperdagangkan di negara lain. Oleh karena itu upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valuta asing pada tingkat yang menguntungkan. Penentuan kurs valuta asing menjadi pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan internasional karena kurs valuta asing berpengaruh besar terhadap biaya dan manfaat dalam perdagangan internasional.
    Pembicaraan mengenai penentuan kurs valuta asing sekarang ini semakin banyak diperdebatkan. Jika dilihat dari sudut pandang pendekatan moneter, para ekonom pada umumnya melihat kurs valuta asing dipengaruhi oleh variabel fundamental ekonomi , antara lain jumlah uang beredar, tingkat output riil dan tingkat suku bunga ( Mac Donald daan Taylor, 1992,4) .Sementara itu Tucker etal (1991) menambahkan variabel inflasi dalam model tersebut. Selain itu ada pula ekonom yang mempertimbangkan asa pasar ( market sentiment) sebagai faktor yang menentukan tinggi rendahnya kurs valuta asing. Pendekatan moneter merupakan pengembangan konsep paritas daya beli dan teori kuantitas uang. Pendekatan ini menekankan bahwa ketidakseimbangan kurs valuta asing terjadi karena ketidakseimbangan di sektor moneter yaitu terjadinya perbedaan antara permintaan uang dengan penawaran uang ( jumlah uang beredar) ( Mussa, 1976,47)
    2. Rumusan Masalah
    a. Membhas tentang “Dampak Meningkatnya Harga Rupiah-Dollar Terhadap Perdagangan Dalam Negeri Dan Ekspor Indonesia”

    3. Manfaat Penulisan
    1. Bagi pembaca :
    Dapat digunakan sebagai sumber bacaan yang bermanfaat, sehingga pengetahuan kita bertambah.
    2. Bagi penyusun selanjutnya :
    Pembuatan makalah ini dapat dijadikan koreksi dan pertimbangan untuk menghasilkan makalah yang lebih sempurna dan juga menambah wawasan bagi penyusun tentang materi “Dampak Meningkatnya Harga Rupiah-Dollar Terhadap Perdagangan Dalam Negeri Dan Ekspor Indonesia”.

    BAB II
    PEMBAHSAN

    1. Pegertian Kurs
    Adapun pengertian dari kurs/ nilai tukar menurut beberapa tokoh ekonomi adalah sebagai berikut:
    Menurut Dominic Salvatore (1997) kurs atau nilai tukar merupakan harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya, juga merupakan sebuah harga aktiva atau harga asset (asset price), sehingga prinsip-prinsip pengaturan harga aset-aset lainnya juga berlaku dalam pengaturan kurs.
    Sedangkan menurut Paul R. Krugman dan Maura Obsrfeld (1994), kurs adalah harga sebuah mata uang dari suatu negara yang diukur dalam mata uang lainnya.
    Menurut Nopirin (1992) kurs adalah perbandingan nilai atau harga antara kedua mata uang tersebut. Menurut Samuelson dan Nodhaus (1996), nilai kurs atau yang lazimnya disebut kurs adalah harga mata uang Negara asing dalam satuan mata uang domestik.
    Setiap negara menggunakan mata uang yang berbeda. Amerika Serikat menggunakan Dollar, Inggris menggunakan Pounsterling, Indonesia menggunakan Rupiah dan seterusnya. Oleh karena itu agar perdagangan internasional dapat berjalan maka diadakan transaksi jual beli mata uang atau valuta. Nilai tukar merupakan semacam harga di dalam pertukaran apabila suatu mata uang yang berbeda maka akan terdapat perbandingan nilai/ harga antara kedua mata uang tersebut. Perbandingan nilai inilah yang disebut dengan kurs (exchange rate).
    Menurut Agung Nusantara dan Abdul Azis (2002), kurs adalah harga mata uang dalam negeri dari mata uang luar negeri. Menurut penelitiannya diasumsikan bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia menggunakan dollar Amerika sebagai alat pembayarannya. Penggunaan dollar Amerika didasarkan atas alasan sebagai berikut: “Saat emas masih merupakan alat pembayaran utama bagi transaksi Internasional, sejalan dengan menanjaknya Amerika Serikat dalam perekonomian dunia setelah perang dunia pertama. Dollar Amerika menjadi alat pembayaran tidak bisa lagi mengimbangi pertumbuhan perdagangan Internasional yang sangat pesat”. (Agung Nusantara dan Abdul Azis, 2002).
    2. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Nilai Tukar
    Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah :
    a. Laju inflasi relative
    Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika Amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis permintaan terhadap barang dagangan relatif mengalami penurunan.
    b. Tingkat pendapatan relative
    Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relative dibandingkandengan supply yang tersedia.
    c. Suku bunga relative
    Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri.
    d. Kontrol pemerintah
    Menurut Madura (2003:114), bahwa kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk :
    a. Usaha untuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing.
    b. Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri.
    c. Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang.

    Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah :
    1. Untuk memperlancar perubahan dari nilai tukar uang domestik yang bersangkutan.
    2. Untuk membuat kondisi nilai tukar domestik di dalam batas-batas yang ditentukan.
    3. Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara.
    d. Berpengaruh terhadap variabel makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan.
    e. Ekspektasi
    Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar di masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas bereaksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. Dan sebagai contoh, berita mengenai bakal melonjaknya inflasi di AS mungkin bisa menyebabkan pedagang valas menjual Dollar, karena memperkirakan nilai Dollar akan menurun di masa depan. Reaksi langsung akan menekan nilai tukar Dollar dalam pasar. Kemudian menurut Madura (2003:111-123), untuk menentukan perubahan nilai tukar antar mata uang suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di negara yang bersangkutan yaitu selisih tingkat inflasi, selisih tingkat suku bunga, selisih tingkat pertumbuhan GDP, intervensi pemerintah di pasar valuta asing dan expectations (perkiraan pasar atas nilai mata uang yang akan datang).

    3. Sistem Kurs
    Sistem kurs valuta asing akan sangat tergantung dari sifat pasar dalam pasar bebas, kurs akan berubah sesuai dengan perubahan permintaan dan penawaran, tingkat kurs juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.
    Berikut ini adalah beberapa sistem kurs :
    a. Sistem kurs Berubah-ubah (Flexible)
    Di dalam pasar bebas perubahan kurs dipengaruhi oleh faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Permintaan dan penawaran valuta asing berasal dari adanya transaksi autonomous debit dan credit (eksport dan import) yang dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: harga, pendapatan, dan tingkat bunga. Segala sesuatu yang mempengaruhi ketiga faktor ini akan mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing dan akan mempengaruhi tingkat kurs. Selain ketiga faktor tersebut, ada faktor non ekonomis yang mempengaruhi perubahan kurs, yaitu: faktor politis psikologis seperti kepanikan didalam negeri yang mengakibatkan larinya dana ke luar negeri, sehingga kurs valuta asing akan naik.
    Nilai positif dari penerapan sistem kurs yang berubah-ubah adalah :
    1. Meningkatnya efisiensi alokasi faktor-faktor produksi. Kurs adalah harga yang dalam pasar bebas berperan mengatur alokasi faktor poduksi secara efisien.
    2. Mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi ketidakseimbangan neraca pembayaran internasional. Proses penyeimbangan cukup melalui perubahan kurs, tidak perlu menyediakan dana untuk menyeimbangkan.
    3. Nilai kurs lebih stabil karena pasar valuta asing adalah sangat kompetitif serta penawaran dan permintaan sangat elastis terhadap harga. Dengan demikan apabila terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran, maka hanya diperlukan perubahan kurs yang sangat kecil.
    Sedangkan dampak negatif dari diterapkan sistem kurs yang berubah-ubah adalah :
    1. Timbulnya kegiatan spekulasi. Kenaikan suatu mata uang yang mengakibatkan para spekulan berharap bahwa nilai mata uang tersebut akan terus naik, pembelian pun naik terus. Demikian pula bila terjadi penurunan harga. Kesimpulannya kegiatan spekulasi menyebabkan ketidakstabilan.
    2. Adanya ketidakstabilan didalam lalulintas pembayaran Internsional sehingga dapat mengurangi volume perdagangan. Bagi negara yang sangat tergantung pada perdagangan luar negeri, perubahan kurs akan mempengaruhi harga di dalam negeri.

    b. Sistem Kurs yang Stabil
    Sistem kurs yang berubah-ubah sering menimbulkan tindakan spekulatif sebagi akibat ketidaktentuan didalam kurs valuta asing, karenanya banyak negara yang menerapkan kebijakan untuk menstabilkan kurs.
    Pada dasarnya kurs yang stabil dapat timbul secara :
    1. Aktif yakni pemerintah menyediakan dana untuk tujuan stabilisasi kurs (Stabilization Fund).
    2. Pasif yakni negara yang menggunakan Standar Emas.
    Segi positif dari diberlakukanya sistem kurs yang stabil adalah :
    1. Nilai kurs lebih stabil sehingga dapat menjaga kestabilan lalulintas pembayaran Internasional, sehingga dapat mencegah penurunan volume perdagangan.
    2. Dapat mencegah tindakan spekulasi yang dilakukan para pedagang valuta asing.
    Sedangkan segi negatif dari penerapan sistem kurs yang stabil yaitu : Bahwa pemerintah harus menyediakan dana yang sangat besar untuk melakukan stabilisasi kurs, terutama untuk mencegah kenaikan kurs valuta asing. Di dalam hal ini biasanya pemerintah menghadapi keterbatasan penyediaan cadangan devisa valuta asing.
    4. Kebijakan Kurs
    Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain :
    a. Fixed exchange rate system
    Sistem nilai tukar yang ditahan secara tahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensi untuk memeliharanya dalam batas-batas yang dikehendaki.
    b. Freely floating exchange rate system.
    Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar tanpa intervensi dari pemerintah.
    c. Managed floating exchange rate system.
    Sistem nilai tukar yang terletak diantara fixed system dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchange system, yaitu pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu. Sedangkan bedanya dengan free floating, managed float masih lebih
    fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap.
    d. Pegged exchange rate system
    Sistem nilai tukar dimana nilai tukar mata uang domestik dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.

    5. Dampak meningkatnya Harga Rupiah-Dollarterhadap Perdagangan Dalam Negeri Dan Ekspor Indonesia
    Secara teoritis, perubahan nilai tukar rupiah memiliki beberapa konsekuensi ekonomi. Salah satu dampak yang dirasakan adalah depresiasi atau penurunan nilai rupiah terhadap dolar Amerika dan yen Jepang secara langsung mempengaruhi jumlah hutang luar negeri yang harus dibayar baik oleh pemerintah Indonesia maupun sektor swasta. Besarnya proporsi hutang luar negeri Indonesia dalam bentuk dolar dan yen menyebabkan beban hutang luar negeri semakin besar seiring dengan terdepresiasinya rupiah. Hal ini tentu akan berpengaruh pada program pembangunan ekonomi karena semakin menipisnya cadangan devisa dalam bentuk mata uang asing akan menyebabkan rupiah terus terdepresiasi, selain itu semakin berkurangnya smiler pembiayaan impor bagi kepentingan produksi di sektor rill dalam negeri di sisi lainnya. Keadaan ini dikhawatirkan akan menyebabkan terhambatnya proses pemulihan ekonomi.
    Di samping dampak negatif seperti diungkapkan di atas, depresiasi rupiah juga secara teoritis memberi peluang bagi Indonesia untuk memperhaiki neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor dan pengurangan impor. Hal ini dimungkinkan karena harga relatif komoditi dalam negeri lebih kompetitif dibandingkan harga komoditi luar negeri.
    Perbaikan dalam neraca perdagangan sangat panting bagi Indonesia karena beberapa alasan. Pertama, peningkatan ekspor akan berdampak pada meningkatnya cadangan devisa yang diharapkan mampu menopang nilai rupiah yang stabil. Kedua, di samping itu, meningkatnya penerimaan ekspor akan berdampak pada semakin tersedianya devisa untuk kepetingan impor input primer dan antara untuk kepentingan produksi industri di dalam negeri, sehingga perekonomian domestik dapat bergerak kembali. Akhirnya meningkatnya aktivitas ekspor akan berdampak pada meningkatnya lapangan pekerjaan yang sangat sedikit tersedia akibat krisis ekonomi. Namun demikian, dugaan teoritis bahwa ekspor Indonesia akan mengalami peningkatan yang signifikan akibat depresiasi rupiah terhadap mata uang asing tidak tercermin dalam data kinerja ekspor Indonesia sejak terjadinya krisis ekonomi 1997.
    6. Hubungan inflasi dengan variabel ekonomi lainnya
    a. Hubungan Inflasi dengan Kurs
    Nilai tukar dibedakan menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar riil. Nilai tukar nominal menunjukkan harga relatif mata uang dan dua negara, sedangkan nilai tukar riil menunjukkan tingkat ukuran (rate) suatu barang dapat diperdagangkan antar negara. Jika nilai tukar riil tinggi berarti harga produk luar negeri relatif murah dan harga produk domestic relatif mahal. Persentase perubahan nilai tukar nominal sama dengan persentase perubahan nilai tukar riil ditambah perbedaan inflasi antara inflasi luar negeri dengan inflasi domestik (persentase perubahan harga inflasi). Jika suatu Negara luar negeri lebih tinggi inflasinya dibandingkan domestik (Indonesia) maka Rupiah akan ditukarkan dengan lebih banyak valas. Jika inflasi meningkat untuk membeli valuta asing yang sama jumlahnya harus ditukar dengan Rupiah yang makin banyak atau depresiasi Rupiah (Herlambang, dkk, 2001 : 282)
    b. Hubungan Suku Bunga dengan Kurs
    Kebijakan yang dapat digunakan untuk mencapai sasaran stabilitas harga atau pertumbuhan ekonomi adalah kebijakankebijakan moneter dengan menggunakan instrumen moneter (suku bunga atau agregat moneter). Salah satu jalur yang digunakan adalah jalur nilai tukar, berpendapat bahwa pengetatan moneter yang mendorong peningkatan suku bunga akan mengakibatkan apresiasi nilai tukar karena adanya pemasukan modal dan luar negeri (Arifin, 1998: 4).
    c. Hubungan Nilai Impor dengan Kurs
    Di dalam pasar bebas perubahan kurs tergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi permintaan dan penawaran valuta asing. Bahwa valuta asing diperlukan guna melakukan transaksipembayaran keluar negeri (impor). Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relatif terhadap negara lain) makin besar kemampuan untuk impor makin besar pula permintaan akan valuta asing. Kurs valuta asing cenderung meningkat dan harga mata uang sendiri turun. Demikian juga inflasi akan menyebabkan impor naik dan ekspor turun kemudian akan menyebabkan valuta asing naik. (Nopirin, 1997: 148)
    BAB III
    KESIMPULAN DAN SARAN
    1. Kesimpulan
    Dari yag dibahas di atas maka penyusun menyimpulkan bahwa dengan meningkatnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar maka Indonesia akan menanggung jumlah utang luar negeri yang lebih besar dikarenakan nilai dollar naik, dengan naiknya jumlah utang luar negeri maka sangat berpengaruh pada pembangunan ekonomi.
    Akan tetapi dengan ada peningkatan pada nilai rupiah terhadap dollar juga secara teoritis memberi peluang bagi Indonesia untuk memperhaiki neraca perdagangan melalui peningkatan ekspor dan pengurangan impor.

  54. Nama : Adriana Gumbira
    NPM : 093401010
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Ikan hias adalah komoditas perikanan yang sebagian telah dapat dibudidayakan. Potensi pengembangan ikan hias di Indonesia begitu besar. Oleh karenanya tidak salah jika Ditjen Perikanan Budidaya menargetkan pencapaian produksi budidaya ikan hias pada tahun 2014 sebesar 1,5 milyar ekor.

    Pada tahun 2011 ini produksi budidaya ikan hias ditargetkan mencapai sebesar 700 juta ekor. Angka sementara sampai dengan bulan oktober, produksi ikan hias hasil kegiatan budidaya mencapai 591.901.086 ekor sehingga target produksi ikan hias baru mencapai 84,56 persen.
    Perkembangan produksi ikan hias selama tiga tahun terakhir ini cukup baik. Hal ini terlihat dari tren produksi ikan hias yang terus menanjak naik setiap tahunnya. Pada tahun 2009 produksi ikan hias mencapai 566.342.000 ekor dan pada tahun 2010, produksi ikan hias mencapai 605.054.000 ekor.
    Perkembangan produksi ikan hias juga dikatakan cukup potensial untuk dikembangkan. Hal ini tergambar dari capaian target produksi ikan hias yang pada tahun 2009 dan 2010 mencapai target yang telah ditetapkan. Pada tahun 2009, pencapaian target produksi ikan hias sebesar 113,27 persen dan pada tahun 2010 capaiannya sebesar 100,84 persen.
    Ikan hias Indonesia, beberapa spesies merupakan komoditas ekspor dan memiliki nilai yang sangat tinggi. Botia, discus dan arwana adalah contoh ikan hias yang merupakan komoditas ekspor. Pasar ekspor ikan hias Indonesia adalah Negara Singapura, USA, Eropa dan lainnya.
    Pertumbuhan perdagangan ikan hias Indonesia dengan pangsa pasar ekspor cukup baik selama tiga tahun terakhir ini. Volume ekspor ikan hias Indonesia ke luar negeri terus naik selama tiga tahun ini. Nilai perdagangan ikan hias selama tiga tahun terakhir ini pun terus merambat naik. Pada tahun 2010 yang lalu, Biro Pusat Statistik mencatat volume ekspor ikan hias Indonesia mencapai 2.371.089 kilogram dengan nilai ekspornya sebesar US$ 19.766.172.
    Sedangkan pertumbuhan impor ikan hias ke Indonesia Selama tiga tahun terakhir initerus alami penurunan. Pada tahun 2008, volume impor ikan hias Indonesia mencapai 225.926 ekor dengan nilai sebesar US$ 168.228. Tahun 2009, volume impor ikan hias sebesar 29.892 ekor dengan nilai sebesar US$ 13.080 dan tahun 2010 yang lalu, volume impor ikan hias turun lagi menjadi sebesar 17.395 ekor dengan nilainya sebesar US$ 46.922.
    Selama tiga tahun terakhir ini kinerja pencapaian target produksi ikan hias sangat bagus namun perkembangan budidaya ikan hias di Indonesia bukannya tanpa hambatan dan kendala dalam kerangka pencapaian target produksi ikan hias tersebut. Berikut adalah beberapa kendala dan hambatan dalam rangka pencapaian produksi ikan hias, yaitu :
    1. Penyediaan data statistik produksi budidaya ikan hias yang akurat dan tepat waktu di daerah belum optimal
    2. Belum berkembangnya teknologi pemuliaan ikan hias utk menghasilkan strain baru di UPT pusat dan daerah
    3. Masih terbatasnya Induk Unggul Ikan Hias khususnya induk Ikan Koi yang ada di Blitar sudah lebih dari 10 tahun, sehingga yang ada sekarang kualitasnya kurang baik
    4. Banyaknya Asosiasi dalam 1 jenis atau beberapa jenis ikan Hias yang masih sulit untuk bersatu dan berkoordinasi
    5. Harga pasar didominasi oleh pihak pengumpul dan eksportir
    6. Masih lemahnya kelembagaan kelompok dalam pengelolaan manajemen produksi sampai dengan pemasaran
    7. Masih terbatasnya SNI Ikan Hias baru 1(satu) jenis Cory Albino (Corydoras alpeno)
    8. Hampir lebih dari 90 % Ikan Hias Laut masih berasal dari hasil tangkapan dan kurang dari 10 % dari hasil budidaya
    Kendala dan permasalahan di atas tidak menjadikan Ditjen Perikanan menjadi pesimis dalam pencapaian produksi ikan hias sampai dengan tahun 2014. Justru hal tersebut menjadi tantangan bagi Ditjen Perikanan Budidaya dalam mencapai produksi ikan hias.
    Dalam rangka pengembangan produksi ikan hias dari kegiatan budidaya maka ditetapkanlah strategi pengembangan produksi ikan hias. Berikut ini adalah beberapa strategi tersebut, yaitu:
    1. Mengoptimalkan penyediaan data statistik produksi budidaya ikan hias yang lebih akurat dan tepat waktu di daerah
    2. Kegiatan pemuliaan dan penyediaan benih ikan hias serta paket teknologi dan usaha jenis ikan hias yg diperdagangkan
    3. Penyediaan induk ikan hias unggul di UPT pusat maupun daerah
    4. Bermitra dengan Komisi Ikan Hias, Dewan Ikan Hias Indonesia (DIHI)
    5. Pemberdayaan dan Penguatan Kelembagaan Kelompok Pembudidaya Skala Kecil (Temu Lapang, Percontohan, dll)
    6. Penyediaan paket Bantuan Pembudidaya Pemula melalui PUMP dan bantuan lainnya
    7. Pengembangan dan penguatan kawasan minapolitan ikan hias yang saat hanya daerah Blitar – Jawa Timur saja yang menjadi kawasan minapolitan khusus ikan hias.
    8. Pembinaan dan mengoptimalkan BBI ikan hias dan subraiser utk produksi ikan hias di beberapa daerah yg dibangun melalui DAK;
    9. Penyusunan RSNI produksi ikan hias
    10. Mengadakan forum dan workshop ikan hias sebagai sarana pertukaran informasi dan peningkatan wawasan dalam berbudidaya ikan hias.
    11. Pengembangan Pasar ikan hias melalui strategi sebagai berikut :
    1. Peningkatan produksi komoditas ikan hias nasional dengan kualitas yang dapat bersaing di pasar global.
    2. Pengembangan dan penguatan kawasan minapolitan ikan hias
    3. Pemberlakuan regulasi perdagangan ekspor ikan hias
    4. Penguatan dan pengembangan jejaring pemasaran domestik ikan hias
    5. Perluasan dan penguatan pasar tujuan ekspor ikan hias
    6. Penguatan branding ikan hias
    7. Optimasi Raiser Ikan Hias
    Dengan melihat potensi ikan hias yang dimiliki Indonesia sangat besar dan sangat sayang bila hal ini tidak dapat dikembangkan. Bila dibandingkan dengan ikan konsumsi, usaha ikan hias lebih menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, yaitu :
    1. Tidak memerlukan lahan yang luas. Budidaya ikan hias dapat dilakukan dengan lahan yang sempit bahkan dengan akuarium pun dapat dilakukan. Berbeda dengan ikan konsumsi yang memerlukan lahan yang sangat luas.
    2. System penjualan ikan hias tidak menggunakan system kiloan tapi menggunakan system perekor sehingga dari sisi bisnis usaha lebih menguntungkan
    3. Hasil budidaya ikan hias lebih menekankan kualitas dapat dilakukan sebagai usaha sampingan
    4. Nilai jual ikan hias lebih tinggi dibandingkan dengan ikan konsumsi
    5. Beberapa ikan hias dapat dibudidayakan dengan waktu yang tidak lama sampai ukuran siap jual.
    6. Pemasaran ikan hias relative tidak sulit dibandingkan dengan ikan konsumsi
    Sentra budidaya ikan hias terkonsentrasi di pulau Jawa terutama di Jakarta, dan Jawa Tengah namun saat ini perkembangan ikan hias telah merambah provinsi di luar pulau Jawa seperti Sumatera, Kalimantan dan Bali.
    Ikan hias yang lebih mementingkan kualitas menyebabkan banyak berkembang penelitian-penelitian ikan hias sehingga banyak strain-strain baru bermunculan dalam satu jenis ikan hias. Ikan hias dikembangkan lebih pada keindahan pada warna, bentuk dan corak. Sangat berbeda dengan ikan konsumsi yang lebih mementingkan kuantitas.
    Dengan potensi yang sangat besar dimiliki oleh Indonesia dan fakta bahwa beberapa komoditas ikan hias telah dilarang untuk dilakukan penangkapan maka prospek budidaya ikan hias sangatlah besar. Apalagi permintaan dunia akan ikan hias dari Indonesia memiliki kecenderungan meningkat setiap tahunnya. Oleh karenanya wajar bila Ditjen Perikanan Budidaya sangat optimis dengan capaian targetnya khusus ikan hias.

  55. Nama : LIGAR CAHYA SOLIHAT
    NPM : 093401003
    Tugas analisis penawaran dan permintaan komoditas perikanan (Udang) Indonesia di pasar global

    Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas adalah udang. Konsumsi udang dunia terus meningkat, sementara itu sumber daya pantai Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, dilihat dari sisi produksi, prospek industri udang Indonesia adalah sangat cerah. Ekspor udang Indonesia selama 25 tahun terakhir ini dengan laju pertumbuhan rata rata volume sebesar 6.03% dan 11.79% untuk laju pertumbuhan nilainya.
    Pasar udang terbesar di dunia saat ini adalah Jepang dan Amerika Serikat. Impor udang Jepang pada tahun 1995 diperkirakan sebesar 292.909 ribu ton dan Amerika impor udangnya mencapai 270.893 ribu ton, sedangkan negara lain yang impornya cukup besar pula adalah Singapura (FAO,1996). Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat sejalan dengan kenaikan jumlah penduduk dan tingkat pendapatannya. Ekspor udang Indonesia ke Jepang pada tahun 1981 memiliki pangsa pasar sebesar 96.9% dari seluruh volume ekspor perikanan Indonesia namun pada tahun 1997 pangsa itu menurun sampai 53.0%.
    Adanya penurunan pangsa ekspor udang Indonesia di pasar internasional ini penting untuk dipelajari, sehingga dapat dicari pemecahannya. Oleh karena itu menjadi penting dilakukan penelitian tentang kinerja penawaran udang Indonesia dipasar internasional.
    Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar internasional, dengan negara-negara tujuan ekspor Jepang, USA, Hongkong, dan Singapura. Namun akhir-akhir ini volume ekspor udang Indonesia mengalami penurunan. Turunnya ekspor udang Indonesia tersebut dapat diakibatkan oleh turunnya penawaran udang domestik dan juga turunnya ekspor udang Indonesia ke negara – negara tujuan ekspor utama. Turunnya volume ekspor udang domestik ini dimungkinkan akibat pengaruh eksternal seperti turunnya harga udang dunia ataupun pengaruh internal di Indonesia akibat dari kebijakan makro ekonomi Indonesia yang kurang mendukung, seperti tingkat bunga yang selalu meningkat. Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi permasalahan umum penelitian ini adalah bagaimana kinerja penawaran udang Indonesia.

    a. Permintaan
    Namun, secara kualitatif diperoleh informasi bahwa untuk pasar lokal permintaan datang dari perseorangan, restoran dan hotel di Jakarta, Cilegon, Medan, Semarang, Surabaya, Batam, Yogyakarta dan terutama Bali. Peminat udang di Bali terutama adalah turis asing. Permintaan udang konsumsi di Bali tergolong cukup tinggi (tahun 2001 mencapai 700 kg per hari) sementara produksinya hanya antara 100-200 kg per hari, sehingga perlu didatangkan dari Yogyakarta dan Jawa Barat. Untuk memperkirakan angka permintaan ekspor didekati dengan menggunakan data ekspor udang tahun 1991-2000 sebagaimana disajikan pada Tabel dibawah. Dari tabel tersebut terlihat bahwa volume dan nilai ekspor udang tahun 1991-2000 masing-masing meningkat rata-rata sebesar 1,97%% dan 2,67% per tahun. Untuk DIY, permintaan udang berasal dari rumah makan dan pasar swalayan. Pemintaan udang berfluktuasi. Peningkatan permintaan terjadi pada bulan Desember-Januari, bulan Juni-Juli, bulan penyelenggaraan wisuda sarjana dan bulan hajatan, sedangkan penurunan terjadi pada bulan Suro (kalender Jawa) dan pada saat pendaftaran sekolah.

    Tabel
    Ekspor Udang Tahun 1991-2000

    Tahun Volume (ton) Nilai (1000 US $)
    1991 95.626 769.982
    1992 100.455 764.850
    1993 98.569 876.703
    1994 99.523 1.007.380
    1995 94.551 1.037.006
    1996 100.230 1.017.892
    1997 93.043 1.011.136
    1998 142.689 1.011.467
    1999 109.650 888.982
    2000 116.188 1.002.123

    Sumber : Departemen Kelautan dan Perikanan, tahun 2002

    b. Penawaran
    Produksi udang di DIY pada tahun 2001 adalah sebagaimana terlihat pada Tabel berikut.
    Tabel
    Produksi Udang di DIY Tahun 2001
    No. Kabupaten Produksi (Ton)
    1. Sleman 15,4
    2. Gunung Kidul 0
    3. Bantul 65,1
    4. Kulonprogo 15,4
    5. Yogyakarta 0
    Total 95,9
    Sumber : Peluang Usaha Perikanan dan Kelautan di DIY,
    Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi DIY, 2002
    Selain DIY, sentra produksi udang adalah Bali. Propinsi lain yang sedang mengembangkan budidaya udang adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 2002, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai sentra pengembangan dan pembibitan udang dengan lahan usaha sekitar 9.100 hektare. Kabupaten Ciamis dan Sukabumi Jawa Barat juga menawarkan wilayahnya sebagai lahan yang cocok untuk investasi budidaya udang terutama udang galah.
    Mengenai potensi luas lahan budidaya udang di Indonesia pada saat ini belum ada data yang pasti, namun dilihat dari segi persyaratan teknis budidaya, udang dapat dikembangkan pada daerah-daerah pengembangan budidaya perikanan air tawar, daerah persawahan, dan tambak darat.
    Kinerja ekspor dan produksi ydang indonesia di analisis dengan melihat gambaran perkembangan ekspor dan negara tujuan. Berdasarkan data perkembangan ekspor udang mengindikasikan bahwa harga ekspor udang dari indonesia cenderung menurun. Pada tahun 1997 harga ekspor udang rata-rata mencapai US $ 10,87/kg, kemudian menurun tajam pada tahun 1998 menjadi US $ 7,09/kg, walaupun demikian eksportir saat itu masih mendapat keuntungan yang cukup besar dari naiknya nilai dolar terhadap rupiah. Pada tahun 1999 dan 2000 terjadi peningkatan harga ekspor udang yang mencapai US $ 8,11 dan US $ 8,62/kg dan kemudian menurun tajam lagi pada tahun 2001 yang hanya mencapai US $ 7,26/kg.
    Tabel
    Perkembangan ekspor udang menurut volume dan nilai ekspor tahun 1997-2001 (dalam ton dan 1000 US $)
    1997 1998 1999 2000 2001
    Volume (Ton)
    -Udang Total 93.043 142.689 109.650 116.187 128.831
    -Udang Budidaya 65.130 99.882 76.755 81.331 90.181
    -Udang Tangkap 27.913 42.807 32.895 34.856 38.650

    Nilai (1000 US $)
    -Udang Total 1.001.135 1.011.467 88.982 1.002.124 934.989
    -Udang Budidaya 707.795 708.027 622.287 701.486 654.492
    -Udang Tangkap 303.340 303.340 266.695 300.638 280.497
    Sumber : Statistik kelautan dan perikanan DKP

    Ekspor udang yang dihasilkan dari kegiatan budidaya ternyata lebih besar apabila dibandingkan udang yang ditangkap dari laut. Dari tabel dibawah, menunjukan bahwa 70% ekspor udang dari indonesia adalah dari jenis udang budidaya, sedangkan sisanya adalah udang tangkap. Volume ekspor udang mencapai pucaknya pada tahun 1998, dimana pada saat itu puncak krisis terjadi di Indonesia dan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS sangat rendah serkali (depresias), sehingga menarik eksportir untuk memperbesar volume ekspornya sehingga akan diperoleh keuntungan yang melimpah akibat selisih nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cukup besar tersebut.
    Terdapat lima jenis udang yang diekspor yaitu udang karang, udang besar, udang kecil dan biasa, udang sungai dan udang lainnya. Pada tahun 2000, volume ekspor udang terbesar Indonesia adalah yang tergolong jenis udang kecil dan biasa yang mencapai 97,5 ribu ton dalam bentuk beku dan 5,7 ribu ton dalam bentuk segar dan jenis inilah yang memperoleh harga tertinggi diantara jenis-jenis tersebut yaitu mencapai US $ 9.544/ton dalam bentuk beku dan US $ 2.618/ton dalam bentuk segar. Namun dibandingkan jenis udang sungai ternyata harganya jauh lebih tinggi, baik dalam bentuk beku maupun segar yaitu mencapai US $ 8.636/ton dan US $ 9.288/ton (Departemen kelautan dan perikanan, 2002)
    Tabel
    Volume ekspor dari Indonesia menurut negara tujuan utama, tahun 1996 sampai dengan 2001 (dalam ton)
    NO Negara tujuan 1996 1997 1998 1999 2000 2001
    1 Jepang 60.181 54.824 88.259 50.402 54.064 59.503
    2 Asia Lainnya 18.627 19.182 18.160 27.867 25.480 29.526
    3 Amerika serikat 9.973 10.975 15.842 14.828 16.216 17.360
    4 UniI Eropa 4.630 7.068 18.448 14.299 17.378 20.615
    5 Australia 356 464 424 458 939 1.100
    6 Lainnya 790 530 1.132 1.796 2.110 727
    7 Total Eksport 94.557 93.043 142.689 109.650 116.187 128.831
    Sumber : Statistik kelautan dan perikanan DKP

    Dari tabel diatas tersebut terlihat bahwa, pasar terbesarbudang dari indonesia adalah Jepang dan negara asia lainnya (Hongkong, Singapura, Cina, Taiwan, Korea selatan dan Thailand) yang mencapai lebih dari 70% total ekspor udang. Pasar potensial lainnya adalah Amerika Serikat dan Uni Eropa. Namun negara-negara tersebut menerapkan sistem pengawasan mutu yang sangat ketat sehingga tampaknya sulit bagi eksportir udang dari Indonesia untuk meningkatkan atau mendominasi pasar karena berbagai kendala yang dihadapi.
    Selain itu, komoditas perikanan Indonesia mempunyai potensi terhambat dipasaran ekspor jauh lebih besar dibandingkan komoditi pertanian lainnya. Isu-isu lingkungan, seperti penggunaan jaring yang masih memungkinkan penyu yang dilindungi terbawa, adanya residupestisida dan antibiotika yang akan mempengaruhi kesehatan konsumen dan keamanan produk lainnya untuk dikonsumsi, merupakan permasalahan yang harus dihadapi eksportir.
    Sebagai salah satu negra produsen produk perikanan terbesar di Asia, ternyata tergolong lambat dalam mengantisipasi setiap hambatan perdagangan non tarif tersebut. Ancaman serius muncul dari kawasan Uni eropa, dimana sejak Agustus 2000 yang tertuang dalam Council Directive 96/23/EC, tentang persetujuan ekspor kekawasan Uni eropa untuk berbagai produk asal hewan termasuk ikan ini memasyarakatkan adanya sistem pemantauan atas kandungan residu (residu monitoring plans) obat-obatanyang digunakan selama budidaya atau bahan kimia lain terutama antibiotik yang mempunyai efek anabolic.
    Selama ini, ekspor udang dari Indonesia ke Uni eropa menikmati fasilitas generalizerd system of preferences (GSP), sehingga bea masuk yang diberlakukan bervariasi antara 4,2 sampai dengan 7%. Hal ini jauh lebih rendah dari bea yang seharusnya diterima apabila tidak mendapat fasilitas tersebut. Tarif normal bea masuk ekspor udang ke Uni eropa sebesar 12%,dengan fasilitas GSP hanya membayar 4,5%. Namun sejak awal 1997, fasilitas GSP tersebut dicabut, maka bea masuk untuk ekspor udang dari indonesia dapat mencapai 8,5 (udang segar beku) sampai dengan 16,5% (udang rebus beku), sedangkan produk kalengan bea masuk mencapai 24%. Tarif bea masuk tersebut sering diberlakukan secara diskriminatif dimana negara-negara bekas jajahannya Afrikan Carribean Pacifik (ACP) diberi keringanan atau bahkan dibebaskan sehingga terlihat dominasi ekspor bergeser dari negara-negara di ASEAN ke negara-negara ACP terutama Afrika di pasaran Uni Eropa. Demikian juga ekspor udang ke Amerika Serikat mengalami hambatan yang diduga akibat larangan impor paha ayam dari Indonesia, tetapi diawali tuduhan Amerika Serikat atas pelanggaran ketentuan penggunaan alat pemisah ikan (API) untuk perlindungan penyu.
    Selain itu, masalah mutu juga banyak dikeluhkan dan menjadi alasan untuk menolak atau menahan ekspor hasil perikanan Indonesia, seperti adanya residu hormon dan antibiotik pada udang. Masalah ini muncul ketika ekspor udang Imdonesia ke Jepang dicurigai mencuri antibiotik. Chioro Tetra Cycline (CTC) dan Oxy Tetra Cycline (OTC). Selain Jepang sejak awal tahum 2000, komisi eropa lebih megetatkan pengawasan terhadap residu hormon dan antibiotik bagi negara yang tidak mematuhi aturan ini diancam akan dikenakan temporary supension (penghentian sementara) terhadap ekspor produk perikanan budidaya oleh komisi Eropa.
    Isu-isu lingkungan juga banyak menghambat perdagangan ekspor komoditi perikanan seperti masalah By-Catcth Extrude Device (BAD) dan Turtle Excluded Device (TED) pada udang. Oleh karena itu perdagangan Internasional produk perikanan tidak lagi hanya ditentukan faktor permintaan dan penawaran, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh berbagai konvensi Internasional di bidang perikanan terutama Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) dan Convention on International Trade of Endangerous Species (CITES), selain itu juga akan segera diberlakukan Compulsory Ecotabelling terhadap semua produk perikanan yang diperdagangkan di pasar Internasional.

    Tabel
    Nilai Ekspor udang menurut negara tujuan (dalam ribu us $) tahun 1996 sampai dengan 2001

    NO Negara tujuan 1996 1997 1998 1999 2000 2001
    1 Jepang 774.275 698.505 635.204 517.562 612.460 562.047
    2 Asia lainnya 81.919 100.302 95.779 101.260 69.160 83.560
    3 Amerika serikat 109.656 136.573 163.217 143.957 170.187 146.935
    4 Uni Eropa 42.591 65.592 101.833 113.290 117.168 184.025
    5 Australia 2.516 3.957 3.227 3.009 5.853 7.565
    6 Lainnya 6.935 6.207 12.193 9.904 25.295 –
    7 Total 1.017.892 1.011.136 1.011.467 888.982 1.002.123 934.989
    Sumber : Statistik kelautan dan perikanan DKP

    Dari tabel-tabel diatas menunjukan bahwa harga ekspor udang ke negara jepang cenderung menurun dari US $ 12,86/kg pada tahun 1996 menjadi US $ 7,19/kg pada tahun 1998 yang kemudian membaik lagi pada tahun 1999 dan 2000 yang masing-masing mencapai US $ 10,2 dan US $ 11,3/kg, tetapi mengalami penurunan kembali pada tahun 2001 yang hanya mencapai US $ 9,44/kg sementara dipasar Amerika serikat harga ekspor udang dari Indonesia relatif stabil walaupun sedikit berfluktuatif yaitu berkisar US $ 10/kg. Untuk tahun 2001 ekspor udang kenegara-negara pengimpor utama seperti jepang, dan Amerika serikat dibandingkan dengan tahun sebelumnya harga ekspor mengalami penurunan yaitu dari US $ 11,3 dan US $ 10,49 menjadi US $ 9,44 dan US $ 8,46/kg.
    Cina, Taiwan, Malaysia, Filiphina dan negara lain di Asia kecuali Arab kini menjadi produsen udang pesaing Indonesia dipasar ekspor. Harga udang ekspor masih menjanjikan dan mengalami kenaikan akibat melonjaknya dolar AS terhadap nilai rupiah.Harga udang dipasaran ekspor saat ini mencapai Rp 80.000 sampai dengan Rp 120.000/kg sesuai dengan jenis dan kualitasnya. Namun peluang tersebut semakin sulit dimanfaatkan eksportir udang Indonesia karena kurang bersaingnya produk perikanan Indonesia akibat lemahnya sumber daya nelayan dan sarana penunjang lainnya.

    Tabel
    Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia Tahun 2000

    NO Negara Volume Ekspor (Ton)
    1 Jepang 54.064
    2 Amerika Serikat 16.216
    3 Hongkong 7.164
    4 Belanda 6.900
    5 Singapura 6.572
    6 Malaysia 5.236
    7 Inggris 4.218
    8 Taiwan 2.623
    9 RRC 2.223
    10 Belgia & Luxemburg 2.011
    Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
    Departemen Kelautan & Perikanan,
    Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2000, Agustus 2002.
    Dalam program ekspor hasil perikanan tahun 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan menetapkan target ekspor hasil perikanan sebesar USD 6,78 milyar. Untuk mencapai target nilai ekspor tersebut, produksi perikanan harus mencapai 6,06 juta ton dimana 1,11 juta ton (18,3%) dari perikanan budidaya yaitu hasil perikanan yang tidak diperoleh dari penangkapan. Untuk memenuhi target tersebut, udang galah mempunyai potensi untuk dijadikan komoditi ekspor karena perdagangan udang galah telah meluas di dunia, harganya cukup tinggi dan permintaannya dari tahun ke tahun diperkirakan semakin meningkat. Pada saat ini ekspor udang galah dilakukan melalui pelabuhan Surabaya, Jakarta dan Medan.
    Strategi Pemasaran Udang
    Dalam menetukan strtegi pemasaran suatu komoditidapat dilakukan dengan bebagai cara, dimana antara lain adalah pertama, dianalisis berdasarkan posisi dari penawaran dan permintaan akan komoditas tersebut, kedua, dianalisis dengan menggunakan metode AHP dengan melihat bobot faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan terhadap suatu pilihan strategi, ketiga, dengan menggunakan analisis SWOT, yaitu untuk menentukan pilihan strategi berdasarkan keempat faktor utama yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam produksi dan pemasaran suatu komoditas. Analisis strategi pemasaran udang akan difokuskan pada analisis penawaran dan permintaan dan analisis SWOT, sedangkan metode AHP sebagai salah satu cara menentukan strategi pemasaran hanya akan diulas sekilas, khususnya dalam menetukan pilihan negara tujuan ekspor berdasarkan faktor-faktor utama yang dianggap paling mempengaruhi.

    Kesimpulan
    Dari segi pemasaran hasil menunjukan bahwa indonesia yang sebelumnya merupakan negara eksportir utama di Asia untuk pasar dunia, beberapa tahun terakhir ini mendapat pesaing dari negara lain yang cenderung meningkat teknologi penangkapn maupun budidayanya. Selain itu, produk udang dari Indonesia tidak selalu diterima dipasaran dunia atau negara importir sehingga harga yang diterima cenderung menurun setiap tahunnya.
    Selama ini, ekpor perikanan Indonesia hanya berkonsentrasi pada komoditi tertentu (udang dan tuna cakalang) serta pasar tertentu (Jepang dan Amerika Serikat). Apabila dipasar ekspor utama terjadi gejolak maupun perubahan kebijakan ekonomi, maka akan berdampak pada kinerja sektor perikanan khususnya penghasil udang serta pengerutan pasar luar negeri. Untuk menghadapi persainganbebas yang sudah mulai kita hadapi maka diperlukan suatu strategi untuk meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia (khususnya komoditas udang) dipasar internasional.
    Komoditas udang dari Indonesia untuk dapat masuk kepasar dunia masih mempunyai banyak hambatan. Kelemahan dalam menghasilkan produk yang memenuhi persyaratan mutu negara importir merupakan salah satu kendalanya. Permasalahan lain adalah adanya ketergantungan pasar terhadap negara tertentu sehingga apabila negara-negara tersebut sedang mengalami krisis ekonomi atau hubungan yang memburuk karena faktor politik maka akan menimbulkan dampak terhambatnya arus perdagangan dengan alasan yang tidak jelas dan tidak didukung bukti-bukti yang kuat, seperti pada saat Indonesia menolak impor paha ayam dari Amerika serikat, maka ekspor udang kenegara tersebut dihambat dengan alasan dihasilkan dari tangkapan yang menggunakan peralatan yang memungkinkan satwa (penyu) yang dilindungi terbawa. Sementara udang hasil tangkapan nelayan hanya 30% dari total ekspor udang sedangkan sisanya 70% berasal dari budidaya tambak. Oleh karena itu alasan ditolaknya udang dari Indonesia tersebut hanya mencari-cari kesalahan / kekurangan yang diduga berkaitan dengan ditolaknya impor paha ayam tersebut.
    Sementara untuk memasuki pasar global, maka produk tidak lagi dibuat untuk memenuhi permintaan suatu negara saja tetapi sudah untuk konsumsi pasar dunia. Oleh karena itu kebutuhan dan keinginan konsumen dunia harus diketahui, selalu mengikuti dan mengkaji perubahan-perubahan lingkungan internasional, serta beranu bersaing dalam harga, kualitas dan kesinambungan pasokan dengan produk sejenis yang masuk pasar dunia.

  56. NAMA :FITRI DEWI
    NPM :093401004

    ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN DAN PELUANG USAHA (JAHE)

    A. Potensi Sumberdaya
    Untuk mengembangkan suatu komoditas pertanian sangat diperlukan dukungan sumberdaya alam, yang meliputi sumberdaya lahan dan air, serta sumberdaya manusia dalam jumlah maupun kualitas yang memadai.
    A.1. Sumberdaya Lahan
    Penyebaran tanaman jahe sudah tentu tidak dapat dipisahkan dari keanekaragaman tipe agroklimat di setiap kawasan. Di Indonesia dikenal beberapa klon jahe seperti jahe kecil atau jahe emprit, jahe merah atau sunti dan jahe gajah. Sampai dengan saat ini secara nasional telah dikoleksi plasma nutfah jahe sejumlah 28 nomor dari berbagai tipe dan daerah. Dengan ketersediaan sumber variasi genetik yang luas itu, memberikan kemungkinan yang leluasa untuk menentukan langkah-langkah perbaikan varietas melalui seleksi dan hibridisasi sehingga didapatkan varietas unggul baru.
    Secara nasional sumberdaya lahan yang dimanfaatkan sebagai areal pengembangan jenis komoditas ini yang tercermin dari luas panen yang diduga terus mengalami peningkatan walaupun secara kuantitatif belum tersedia data yang akurat. Hal ini disebabkan karena meningkatnya permintaan baik dalam dan luar negeri akan komoditas jahe khususnya jahe gajah disamping harga per kg yang lebih mahal dibandingkan dengan jenis jahe lainnya. Di NTT pengembangan komoditas jahe secara intensif di lakukan di Kabupaten Ende. Untuk Kabupaten Kupang, luas areal panen komoditas jahe pada tahun 2004 seluas kira-kira 20 ha atau 2% dari total luas hutan produksi. Ini berarti bahwa potensi sumberdaya lahan untuk mengembangkan komoditas jahe di tingkat wilayah dan masyarakat di Kabupaten Kupang cukup tersedia.
    Pengembangan komoditas jahe di Kabupaten Kupang juga berkaitan erat dengan pola pemanfaatan lahan terutama areal lahan pekarangan dan perkebunan. Dengan demikian untuk menduga ketersediaan areal potensial dapat ditelusuri melalui luasan areal lahan pada sebagian besar wilayah kecamatan penghasil utama. Tercatat sebaran lahan pekarangan di Kabupaten Kupang seluas 28.867 ha dan 16.932 Ha lahan perkebunan (Tabel 1). Namun demikian jika diasumsikan bahwa pengembangan jenis komoditas ini bisa saja memanfaatkan areal lahan perkebunan dan atau lahan perkebunan yang ada, maka secara potensial lokasi pengembangan komoditas jahe di Kabupaten Kupang dapat mencakup tiga wilayah kecamatan yang ada.
    Tabel 1
    Luas dan Sebaran Areal Panen Jahe, Lahan Pekarangan dan Lahan Perkebunan Menurut Kecamatan di Kabupaten Kupang Luas Panen
    NO KECAMATAN LUAS PANEN JAHE PEKARANGAN PERKEBUNAN
    1 Fatuleu 7.68 3557 330
    2 Amfoang Selatan 2.37 348 990
    3 Takari 4.41 521 3071
    Total 14.46 4426 4391
    Rata-rata 4.82 147.533 1463.67
    Sumber : Kupang Dalam Angka, Tahun 2004, BPS Kabupaten Kupang, data diolah.

    A.2 Sumberdaya Air
    Air merupakan salah satu sumberdaya penunjang penting bagi pengembangan tanaman termasuk komoditas jahe karena berperan sangat penting dalam perkembangan umbi atau rimpang jahe. Sumber air bisa saja berasal dari air permukaan yang merupakan limpasan curah hujan serta air tanah.
    Kabupaten Kupang tergolong mempunyai tipe Iklim E menurut sistem klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Data curah hujan dari tahun 1995-2004, rata-rata bulan kering 6,3 bulan ( hujan bulanan lebih kecil dari 60 mm per bulan) dan rata-rata bulan basah 5,7 bulan (curah hujan bulanan lebih besar dari 100 mm per bulan). Curah hujan terbanyak tercatat pada Desember (1101 mm) dan bulan Mei sampai dengan bulan Oktober merupakan bulan-bulan dengan curah hujan yang rendah.
    Rendahnya curah hujan ini menyebabkan pengembangan usaha jahe hanya terkonsentrasi pada beberapa wilayah tertentu saja di Kabupaten Kupang sepert Kecamatan Takari, Amfoang Selatan dan Fatuleu yang memiliki rata-rata curah hujan tahunan yang agak tinggi (>1000mm)/tahun. Perlu diketahui bahwa tanaman jahe dapat bertumbuh secara maksimal apabila diusahakan pada daerah dengan curah hujan relatif tinggi yaitu 2500-3500 mm per tahun dan sangat cocok pada daerah yang bertekstur tanah lempung berpasir, liat berpasir dan tanah laterik.
    A.3 Sumberdaya Manusia
    Untuk menunjang keberhasilan serta keberlanjutan usahatani tanaman sangat dibutuhkan ketersediaan sumberdaya manusia sebagai sumber prinsipal tenaga kerja. Untuk itu jumlah dan kualitas sumberdaya manusia perlu ditelusuri secara cermat terkait dengan perencanaan pengembangan usahatani komoditas jahe kedepan.
    Sampai tahun 2004, jumlah rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian sebanyak 59.697 RT (85%) dari total 70.264 RT di Kabupaten Kupang. Jika diasumsikan bahwa setiap RT petani memiliki 2 tenaga kerja produktif, maka ketersediaan tenaga kerja sektor pertanian potensial di Kabupaten Kupang sebanyak 119.394 jiwa. Namun demikian jika ditelusuri lebih jauh, tampaknya bahwa kendala pengembangan sumberdaya petani masih terkait dengan rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilannya. Kondisi ini justru akan sangat memperlemah proses adopsi dan inovasi teknologi usahatani kedepan.
    B. Lokasi Pengembangan
    Data tahun 2004 menunjukkan bahwa pengembangan usahatani jahe di Kabupaten Kupang tersebar di 3 Kecamatan dari 28 kecamatan yang ada di Kabupaten Kupang. Wilayah kecamatan tersebut adalah Takari, Fatuleu dan Amfoang Selatan. Dari ke tiga wilayah kecamatan pengembangan tersebut lokasi terluas terdapat di Kecamatan Fatuleu dan Takari yakni antara 4,41 Ha – 7,68 Ha. Sementara untuk wilayah kecamatan lainnya relatif terbatas areal pengembangannya, di mana hampir sebagian besar petani mengembangkan komoditas jahe pada luasan yang terbatas dan bukan merupakan komoditas utama.
    C. Sarana dan Prasarana
    Penelusuran tentang ketersediaan sarana dan prasarana penunjang pengembangan komoditas tanaman jahe diperlukan mengingat keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh jumlah, kualitas dan tingkat penyebaran berbagai sarana dan prasarana tersebut. Dalam kajian ini beberapa jenis sarana dan prasarana yang diamati meliputi sarana dan prasarana perhubungan, listrik/penerangan, lembaga keuangan, pendidikan, perdagangan dan kesehatan.
    C.1. Perhubungan
    Untuk mencapai lokasi pengembangan dalam hal ini wilayah kecamatan pengembangan utama komoditas jahe, dapat dikatakan bukan merupakan kendala, sebagai akibat hingga saat ini telah tersedia sarana dan prasarana perhubungan secara memadai.
    Dari 3 Kecamatan seperti Takari, Fatuleu dan Amfoang Selatan umumnya dapat ditempuh melalui jalur perhubungan darat dengan kondisi permukaan jalan yang relatif baik, yakni dari perkerasan sampai beraspal. Demikian juga hingga saat ini tersedia sarana angkutan umum yang secara reguler melayani dari dan ke wilayah kecamatan-kecamatan tersebut.
    C.2. Listrik/Penerangan
    Pelayanan listrik/penerangan sudah dapat menjangkau seluruh wilayah kecamatan walaupun hingga saat ini hanya sebatas pusat/ibukota kecamatan. Sumber pembangkit listrik/penerangan langsung ditangani oleh PT. PLN. Kondisi ini diperkirakan cukup penting dalam mendukung kelancaran berbagai kegiatan atau aktivitas ekonomi produktif yang dilaksanakan di tingkat wilayah dan masyarakat/sektor suasta.

    C.3. Lembaga Keuangan
    Lembaga keuangan yang dimaksud meliputi unit usaha perbankan dan kelompok-kelompok usaha ekonomi yang membantu kelancaran sistem keuangan pedesaan. Keberadaan lembaga keuangan penting dalam membantu permasalahan pembiayaan usahatani pedesaan serta kelancaran transaksi bisnis lainnya. Lembaga perbankan yang hingga saat ini melayani berbagai transaksi bisnis di tingkat kecamatan adalah Bank Rakyat Indonesia dalam bentuk unit pelayanan yang berlokasi di pusat kecamatan. Dari sembilan wilayah kecamatan penghasil komoditas jahe di Kabupaten Kupang, layanan BRI telah tersedia di kecamatan Sabu Barat, Sabu Timur, Amarasi, dan Kupang Timur masing-masing 1 unit. Sementara itu di lima wilayah kecamatan lainnya hingga saat ini belum tersedia. Akan tetapi dengan jarak yang relatif dekat di antara kecamatan lainnya yang telah tersedia unit perbankan, menyebabkan kelancaran pelayanan perbankan mudah untuk diraih.
    Di tingkat masyarakat, tersedia lembaga atau kelompok usaha seperti KSP, UEB, UEP dan lembaga koperasi yang selama ini berperan dalam mengatasi berbagai kebutuhan masyarakat dan usaha produktif lainnya melalui berbagai bantuan permodalan baik modal investasi maupun modal kerja.
    C.4. Pendidikan
    Kualitas sumberdaya manusia dan penduduk terkait erat dengan derajad pendidikannya. Sementara kesempatan untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih baik terkait erat dengan aksesibilitas terhadap prasarana pendidikan yang ada, faktor ekonomi masyarakat serta kesadaran akan pentingnya aspek pendidikan tersebut. Mengacu pada pemahaman tersebut, maka sebaran prasarana pendidikan mu lai dari jenjang pendidikan dasar sampai menengah berikut spesialisasi prasarana pendidikan terutama menengah umum dan kejuruan mutlak diketahui.
    Sampai tahun 2004, dapat dikatakan bahwa penyebaran prasarana pendidikan Sekolah Dasar (SD) telah tersedia di semua wilayah Kecamatan di Kabupaten Kupang, sementara Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) hanya beberapa wilayah kecamatan yang belum tersedia parasarana jenjang pendidikan ini (Tabel 2). Sementara perbandingan antara jumlah prasarana dan sarana pendidikan menengah kejuruan dengan pendidikan menengah umum, relatif ketersediaan prasarana pendidikan menengah umum masih lebih dominan, di mana SMK hanya terdapat di kecamatan Kupang Timur dalam hal ini pendidikan menengah kejuruan di bidang pertanian. Situasi ini apabila dikaitkan dengan penguasaan keterampilan SDM termasuk yang terkait dengan keterampilan pengelolaan usahatani di pedesaan masih merupakan kendala yang perlu diatasi. Terutama jika harapan perbaikan penguasaan pengetahuan dan keterampilan berusaha di tingkat masyarakat dan petani khususnya untuk lebih baik lagi.

    Tabel 2.2
    Jumlah dan Sebaran Prasarana Pendidikan Menurut Kecamatan di Kabupaten Kupang

    NO KECAMATAN SD SLTP SMU SMK
    1 Raijua 3 0 0 0
    2 Sabu Barat 15 0 2 0
    3 Hawu Mehara 8 0 0 0
    4 Sabu Timur 7 0 1 0
    5 Sabu liae 5 0 0 0
    6 Semau 6 0 1 0
    7 Kupang Barat 7 2 1 0
    8 Nekamese 8 0 0 0
    9 Kupang Tengah 13 3 0 0
    10 Amarasi 11 5 1 0
    11 Amarasi Barat 11 1 1 0
    12 Amarasi Selatan 8 2 0 0
    13 Amarasi Timur 7 1 0 0
    14 Kupang Timur 18 1 2 1
    15 Amabi Oefeto Timur 9 1 0 0
    16 Sulamu 10 0 0 0
    17 Fatuleu 25 0 0 0
    18 Takari 16 0 0 0
    19 Amfoang Sel 13 1 0 0
    20 Amfoang Barat Daya 3 0 0 0
    21 Amfoang Utara 10 1 1 0
    22 Amfoang Barat Laut 7 0 0 0
    Jml 222 18 10 1
    Sumber : Kupang Dalam Angka, Tahun 2004, BPS Kabupaten Kupang.
    C.5. Kesehatan
    Simetrik dengan aspek pendidikan, kesehatan juga memegang peranan penting terhadap ketersediaan SDM secara berkualitas. Jumlah dan penyebaran sarana dan prasarana kesehatan di kecamatan–kecamatan basis pengembangan komoditas jahe telah tersedia prasarana puskesmas dan puskesmas pembantu. Puskesmas umumnya berlokasi di pusat/ibukota kecamatan, sementara puskesmas pembantu umumnya berlokasi di desa-desa lainnya di dalam wilayah kecamatan tersebut (Tabel3).
    Tabel 3
    Jumlah dan Sebaran Prasarana Kesehatan Menurut Kecamatan di Kabupaten Kupang
    KEC. PUSKESMAS PUSKESMAS PEMBANTU BALAI PENGOBATAN POLINDES JML
    Raijua 1 4 0 0 5
    Sabu Barat 1 4 0 4 9
    Hawu Mehara 1 5 0 1 7
    Sabu Timur 1 6 0 2 9
    Sabu liae 1 6 0 2 9
    Semau 1 9 0 0 10
    Kupang Barat 1 6 0 1 8
    Nekamese 1 6 0 2 9
    Kupang Tengah 1 4 2 4 12
    Taebenu 1 5 0 0 6
    Amarasi 1 4 1 1 7
    Amarasi Barat 1 7 0 2 10
    Amarasi Selatan 1 3 1 0 5
    Amarasi Timur 1 3 0 1 5
    Kupang Timur 1 9 0 5 15
    Amabi Oefeto Timur 1 5 0 2 8
    Sulamu 1 4 0 0 5
    Fatuleu 1 8 0 4 13
    Takari 1 8 0 0 9
    Amfoang Sel 1 6 0 1 8
    Amfoang Barat Daya 1 2 0 0 3
    Amfoang Utara 1 7 0 2 10
    Amfoang Barat Laut 1 5 0 0 6
    Jml 23 112 4 39 179
    Sumber : Kupang Dalam Angka, Tahun 2006, BPS Kabupaten Kupang.
    Dari Tabel 3 memperlihatkan bahwa jumlah Puskesmas sebanyak 23 buah, sementara puskesmas pembantu sebanyak 112 buah. Selain kedua jenis prasarana tersebut, tersedia juga BKIA dan Polindes masing-masing sebanyak 4 buah da 39 buah.
    Kendala utama yang masih dirasakan berkaitan erat dengan jumlah tenaga medis dan para medis yang umumnya tersedia dengan rasio yang cukup besar dibanding dengan jumlah penduduk yang harus dilayani. Situasi ini tentunya akan berpengaruh terhadap percepatan dan ketepatan pelayanan kesehatan yang harus diterima oleh masyarakat.

    C.6. Perdagangan
    Ketersediaan prasarana perdagangan secara lokal merupakan dorongan penting dalam menggairahkan kelancaran perdagangan barang dan jasa termasuk komoditas hasil pertanian yang dihasilkan masyarakat dan wilayah tersebut. Prasarana yang dimaksud meliputi pasar kecamatan/desa, toko dan kios. Akan tetapi bahwa ketersediaan fasilitas perdagangan yang ada tidak secara eksplisit dan spesifik memperdagangkan berbagai input produksi (obat-obatan dan pupuk) bagi pemenuhan kebutuhan usahatani.
    Pada semua wilayah pusat kecamatan penghasil utama komoditas jahe telah tersedia fasilitas pasar tradisional dan juga toko/kios dengan jumlah yang bervariasi serta jenis produk yang dipasarkan.
    D. Analisis Produksi
    Produksi dan produktivitas komoditas jahe yang mampu dihasilkan oleh masyarakat dan wilayah di Kabupaten Kupang merupakan dasar acuan penting untuk mengambil keputusan apakah potensi yang tersedia mampu menopang usaha komoditas tersebut ke depan. Demikian juga bahwa situasi produksi dan tingkat kebutuhan secara nasional merupakan faktor determinan yang cukup kuat mempengaruhi keputusan untuk mendorong pengembangan dan peningkatan produksi di tingkat lokal.
    Puslitbang Sosek Pertanian tahun 2000 melaporkan bahwa terdapat kesenjangan antara permintaan dan penawaran jahe dimana laju pertumbuhan permintaan lebih besar daripada laju pertumbuhan penawaran. Ini berarti bahwa terjadi kesenjangan yang cukup besar antara penawaran dan permintaan jahe nasional, sehingga masih diperlukan kerja keras termasuk upaya mengembangkan jenis komoditas ini pada sentra produksi baru yang selama ini hanya terbatas di pulau Jawa dan Sumatera.
    Gambaran fenomena di atas pada hakekatnya merupakan tantangan yang perlu disikapi melalui upaya perluasan areal dan peningkatan produksi dan produktivitas terutama pada sentra-sentra produksi baik di Jawa maupun luar Jawa dalam hal ini termasuk NTT. Kabupaten Kupang diharapkan dapat memberikan peran yang cukup signifikan dalam membantu pemenuhan produksi nasional. Akan tetapi fakta dan data memperlihatkan bahwa sampai tahun 2005, produksi jahe di Kabupaten Kupang hanya sebesar 8 ton yang dihasilkan dari areal yang relatif kecil dan menyebar yakni hanya 4,82 ha atau tingkat produktivitas sebesar 1,66 ton/ha padahal secara teknis apabila diusahakan dengan memperhatikan teknik budidaya yang baik maka produktivitas jahe dapat mencapai 25 ton/ha.
    Fakta yang ada memberikan pemahaman bahwa kontribusi produksi komoditas ini di wilayah Kabupaten Kupang sangatlah terbatas, di mana hal ini diduga karena animo masyarakat untuk mengembangkannya sangat rendah. Demikian juga bahwa untuk saat ini peluang pengembangan jahe di Kabupaten Kupang sebagai satu jenis komoditas yang dapat diandalkan bagi peningkatan pendapatan masyarakat dan wilayah masih sulit dilaksanakan.
    E. Analisis Pasar
    Analisis pasar dan pemasaran pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui pasar dan potensinya dari produk yang dihasilkan. Potensi yang dimaksud adalah kuantitas penyerapan, harga, kualitas yang dibutuhkan dan potensi lain yang mendukung kelayakan pasar.
    Santoso (1994) melaporkan bahwa lebih dari 90% produk jahe (jahe segar dan jahe asinan) adalah untuk kebutuhan ekspor. Sebagai salah satu penghasil devisa negara ternyata sumbangan jahe khususnya jahe gajah tidak mengecewakan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa permintaan jahe cenderung meningkat hingga ribuan ton (masih tergolong kecil dibandingkan produk non migas lainnya) ternyata masih tidak mampu dipenuhi oleh produksi dalam negeri apalagi masalah kontiuitas dan kualitas. Prediksi permintaan dan penawaran jahe dunia dapat dilihat pada Tabel 4.
    Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai permintaan komoditas jahe berada di atas nilai penawarannya, sehingga peluang pasar komoditas jahe masih merupakan pasar potensial dunia. Permintaan jahe sampai tahun 1999 mencapai 15,16% dari prakiraan penawaran pada tahun yang sama. Dengan demikian prakiraan penawaran masih dapat ditingkatkan atau dengan istilah produksi yang ada di tingkat dunia masih mampu untuk menampung tambahan produksi yang lebih tinggi. Sedangkan berdasarkan ekuivalen produksi jahe dunia, maka kekurangan penawaran atas permintaan jahe dunia pada tahun 1999 mencapai volume 20,21 ribu ton jahe dengan harga yang berlaku pada prakiraan harga tahun tersebut.
    Tabel 4.
    Proyeksi Permintaan dan Penawaran Jahe Dunia
    No Tahun Nilai (juta US dollar) Ekuivalen (000 ton)
    Permintaan Penawaran Permintaan Penawaran
    1 1990 72.90 54.14 139.63 103.71
    2 1991 71.34 59.01. 141.71 108.13
    3 1992 81.78 63.89 143.61 112.19
    4 1993 86.22 68.76 145.36 115.93
    5 1994 90.65 73.63 146.98 119.38
    6 1995 95.09 78.50 148.48 122.57
    7 1996 99.53 83.37 149.87 125.54
    8 1997 103.97 88.24 151.17 128.38
    9 1998 108.41 93.11 152.38 130.88
    10 1999 112.84 97.99 153.51 133.29
    Sumber : UPN Veteran, 1990/1991
    Gambaran ketimpangan seperti yang ditampilkan pada Tabel 2.4 di atas, mengisyaratkan bahwa pemenuhan kebutuhan permintaan dunia masih terbuka apabila kita berharap untuk meningkatkan jumlah devisa yang berasal dari komoditas ini. Untuk itu perluasan areal tanam dan areal panen yang disertai dengan peningkatan produktivitas hasil merupakan solusi yang dapat ditempuh ke depan.
    Sistem pemasaran di tingkat wilayah produsen jahe di Kabupaten Kupang hingga saat ini masih merupakan kendala yang ditemui oleh para petani, yang pada gilirannya berpengaruh terhadap posisi tawarnya. Sama seperti komoditas pertanian lainnya, transaksi komoditas jahe antara pedagang pengumpul dengan petani produsenberlangsung di lokasi usaha. Keadaan ini di satu sisi dapat menguntungkan petani yakni menekan biaya transpor dan biaya pengumpulan akan tetapi ketergantungan terhadap harga yang diminta pedagang pengumpul sangat kuat, sehingga tingkat harga yang berlaku cenderung kuat ditentukan oleh para pedagang pengumpul. Untuk keluar dari situasi ini tentunya peran pemerintah daerah serta lembaga pemasaran lainnya (seperti KUD) yang dapat menampung produk yang dihasilkan sangat diperlukan.

    F. Aspek Lingkungan
    Aspek lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keputusan mengembangkan suatu jenis komoditas secara lebih baik. Terkait dengan rancangan pengembangan komoditas jahe di Kabupaten Kupang, dan ditinjau dari aspek sosial masyarakat dapat dikatakan bukan merupakan kendala. Hal ini disebabkan usaha budidaya jenis komoditas ini telah dilaksanakan sejak lama. Bahkan ketergantungan ekonomi rumah tangga petani saat ini dari hasil pengusahaan komoditas jahe cukup besar. Demikian juga bahwa masyarakat di wilayah kecamatan penghasil jahe di Kabupaten Kupang cukup memiliki keterbukaan untuk menerima berbagai inovasi dan adopsi teknologi baru, termasuk juga keinginan untuk melakukan investasi di wilayahnya.
    Dari aspek ekonomi masyarakat, dapat dikatakan bahwa kendala yang masih dihadapi berhubungan dengan luas penguasaan dan pengusahaan lahan, serta penguasaan modal baik modal investasi maupun modal kerja. Fakta lapangan menunjukkan bahwa rataan pengusahaan jenis komoditas jahe hanya seluas 0,1 ha per RT petani. Situasi ini di tingkat lokal diatasi dengan menerapkan sistem bagi hasil antara pemilik lahan dengan petani yang miskin lahan.
    Mengacu pada aspek lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa upaya pengembangan komoditas jahe dalam suatu sistem bisnis yang menguntungkan bagi masyarakat dan wilayah di kecamatan-kecamatan sentra di Kabupaten Kupang dapat saja dikembangkan secara lebih baik, melalui investasi dan perbaikan sistem budidaya yang ada.
    G. Aspek Legalitas
    Ditinjau dari aspek legal formal untuk pengurusan berbagai izin investasi dan pembukaan usaha budidaya dan atau pengembangan komoditas jahe di Kabupaten Kupang bukan merupakan kendala yang berarti. Hal ini disebabkan telah tersedia berbagai perangkat aturan daerah berikut kemudahan pengurusan perizinannya.
    Secara ringkas berbagai bentuk perizinan yang menjadi acuan pengurusan terkait izin investasi di Kabupaten Kupang dapat diikuti pada Tabel 2.5. Dapat dijelaskan bahwa pada prinsipnya izin investasi yang menyertai keinginan untuk mengembangkan komoditas ini dalam suatu manajemen bisnis yang lebih menguntungkan, terkait langsung dengan berbagai peraturan yang bersifat nasional demikian juga berbagai peraturan daerah sebagai wujud desentralisasi termasuk di bidang investasi.

    Tabel 5
    Jenis Perizinan Untuk Pengembangan Usaha Budidaya Jahe Di Kabupaten Kupang

    Jenis Perizinan Lembaga Yang Berwenang Waktu Yang DiPerlukan Perkiraan Biaya Keterangan

    Izin Pemerintah Pusat :
    a. ASP Disesuaikan dengan peraturan perundangan yang berlaku
    b. APIT
    c. RPTK
    d. SP Pabean Barang
    Modal
    e. SP Pabean Bahan
    Baku
    f. IUT
    Izin di daerah :
    a. Lokasi Pemerintah 3 bulan
    Kabupaten
    Kupang
    b. Izin HGU Pemerintah 1-2 minggu Rp.2.500,-/m2 Jika Semua Persyaratan Telah Terpenuhi
    Kabupaten
    Kupang dan
    Instansi terkait
    lainnya
    c. IMB Pemerintah 2-3 hari Sesuai Ketetapan Jika Semua Persyaratan Telah Terpenuhi
    Kabupaten
    Kupang dan
    Instansi terkait
    lainnya

    ANALISIS KEUNGGULAN KOMODITAS
    A. Kriteria Keunggulan
    Pemilihan dan penetapan suatu komoditas sebagai produk unggulan paling tidak memenuhi beberapa kriteria. Secara teoritis dan praktis, Daryanto (2003) melaporkan beberapa kriteria keunggulan suatu produk atau komoditas yakni :
    1. Mampu menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi wilayah tersebut. Komoditi tersebut memberikan kontribusi yang signifikan pada peningkatan produksi, pendapatan dan pengeluaran.
    2. Memiliki keterkaitan ke depan ( forward linkage ) dan ke belakang ( backward linkage ) yang kuat, baik antara sesama komoditi unggulan maupun dengan komoditi lainnya.
    3. Mampu bersaing dengan komoditi sejenis dari wilayah lain di pasar nasional, dan international, baik dalam harga, mutu, maupun layanan.
    4. Memiliki keterkaitan dengan wilayah lain dalam hal pasar maupun sumber pasokan bahan baku.
    5. Memiliki status teknologi yang terus meningkat untuk pengembangan inovasi dan adopsi teknologi baru.
    6. Mampu menyerap tenaga kerja bermutu secara optimal sesuai dengan skala produksinya
    7. Mampu bertahan dalam jangka panjang
    8. Mampu bertahan dengan adanya gejolak yang ditimbulkan oleh lingkungan baik internal dan eksternal
    9. Memperoleh dukungan dalam pengembangannya dalam hal pembiayaan,infrastruktur, keamanan, sosial budaya, informasi dan peluang pasar, kelembagaan, fasilitas insentif, serta dukungan lainnya.
    10. Mampu menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.
    Mengacu pada kriteria keunggulan, serta didasarkan pada fakta lapangan dari pengusahaan komoditas jahe di wilayah Kabupaten Kupang saat ini dilakukan analisis keunggulan dengan pendekatan skoring. Adapun prinsip penetapan bobot terhadap kriteria yang dipilih disesuaikan dengan tingkat kepentingan dari masing-masing kriteria serta sifat produksi dari komoditas yang akan dinilai. Demikian juga klasifikasi skoring dibedakan atas tinggi (skor 3), sedang (skor 2) dan rendah (skor 1).
    Berdasarkan hasil multiplikasi antara bobot dari masing-masing kriteria dengan nilai skornya, selanjutnya dilakukan penilaian terhadap keunggulan dari komoditas yang dianalisis. Keputusan tentang tingkat keunggulan komoditas adalah tinggi, jika total nilai > 625; sedang jika 375 < nilai skor < 625, dan rendah jika nilai skor < 375. Dengan pemahaman ini, maka hasil analisis terhadap tingkat keunggulan komoditas jahe di wilayah Kabupaten Kupang, tersaji pada Tabel 6.
    Tabel 6
    Hasil Perhitungan Kriteria Keunggulan Komoditas jahe Di Kabupaten Kupang
    NO KRITERIA KEUNGGULAN BOBOT SKOR TOTAL NILAI
    1 Produktivitas 25 1 25
    2 Permintaan pasar lokal 35 2 70
    3 Peluang ekspor 40 1 40
    4 Luas lahan potensial 10 1 10
    5 Sumberdaya manusia 10 1 10
    6 Perhubungan 10 2 20
    7 Lembaga keuangan 10 2 20
    8 Penerangan 10 1 10
    9 Backward linkage 20 1 20
    10 Forward linkage 20 2 40
    11 Skala usaha 10 1 10
    12 Penyerapan Tenaga Kerja 30 2 60
    13 Peran dalam kebijakan nasional 10 2 20
    14 Ketersediaan teknologi 10 1 10
    Jumlah 365
    Sumber : Hasil Analisis, 2006
    Dari tampilan informasi pada Tabel 6 memperlihatkan bahwa total nilai yang diperoleh sebesar 365 atau lebih rendah dari standar klasifikasi keunggulan yakni 375 untuk klasifikasi keunggulan yang rendah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komoditas jahe di Kabupaten Kupang untuk saat ini bukan merupakan suatu komoditas yang memiliki daya keunggulan untuk dikembangkan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan wilayah.
    Namun demikian harus diakui bahwa ketidakunggulan dari jenis komoditas ini bukan bersifat permanen akan tetapi dapat saja berubah. Faktor yang diduga kuat terkait dengan beberapa kriteria dengan nilai skor antara rendah sampai sedang. Ini berarti bahwa untuk mengaktualisasikannya diperlukan upaya-upaya serius terutama dengan mengatasi berbagai kendala yang masih dihadapi, seperti terkait minimnya infrastruktur, teknologi budidaya yang masih rendah termasuk rendahnya kualitas sumberdaya petani saat ini. Selain itu bahwa faktor kesiapan masyarakat seperti rendahnya animo masyarakat untuk mengembangkan jenis komoditas ini merupakan faktor penentu utama lainnya, sehingga persiapan masyarakat untuk bersedia mengembangkan komoditas jahe perlu dilakukan, termasuk upaya promosi bisnis secara terus menerus dan konsisten.

    B. Peluang Usaha
    Membahas mengenai peluang usaha suatu produk atau komoditas, pada hakekatnya dapat didekati dengan melakukan kajian terhadap prospek pengembangan dan peluang pemanfaatan produk jika ditinjau dalam konteks sebagai suatu usaha bisnis, maupun tingkat kepentingan komoditas tersebut baik kaitannya ke depan dan ke belakang.
    Hasil penelitian UPN Veteran (1990/1991) mengenai prediksi permintaan dan penawaran jahe dunia mengungkapkan bahwa permintaan jahe akan terus meningkat dan lebih besar dari penawarannya. Diungkapkan bahwa pada tahun 1999 permintaan jahe mencapai 15.16% dari perkiraan penawaran pada tahun yang sama. Dari gambaran situasi yang ada dapat disimpulkan bahwa masih tersedia peluang untung mengembangkan jenis komoditas ini terutama pada wilayah sentra produksi baru, dalam hal ini wilayah-wilayah di luar Jawa.
    Selanjutnya bahwa pengetahuan tentang peluang penggunaan produk merupakan cerminan untuk mengkaji peluang usaha jenis komoditas bersangkutan ke depan. Khusus untuk permintaan dalam negeri , penggunaan komoditas jahe dapat dipakai sebagai bahan minuman segar, bumbu masakan dan obat-obatan serta jamu. Bertumbuhnya industri ini tentunya akan meningkatkan permintaan akan produk ini. Dengan demikian maka pada gilirannya akan meningkatkan gairah berproduksi petani penghasil domestik.
    Mensikapi situasi yang terjadi, seyogianya diperlukan berbagai upaya terobosan dengan cara memacu upaya peningkatan produksi misalnya melalui upaya ekstensifikasi pada wilayah sentra produksi baru dan atau intensifikasi pada sentra-sentra produksi yang ada saat ini. Khusus pengembangan pada wilayah sentra produksi baru dapat saja menempati areal di wilayah Jawa dan Sumatera dan atau bisa saja wilayah di luar Jawadan Sumatera termasuk NTT.
    Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kegiatan usaha dan atau pengembangan usaha jahe dalam suatu manajemen bisnis di Kabupaten Kupang sebagai suatu sentra produksi alternatif bisa saja dipertimbangkan, asalkan dilakukan pengentasan terhadap berbagai faktor kendala baik yang bersifat teknis maupun sosial ekonomi. Kendala teknis dimaksud terkait erat dengan perluasan areal tanam, penyediaan sarana dan prasarana penunjang produksi secara lebih baik dan penerapan teknologi produksi yang menguntungkan. Sementara kendala sosial ekonomis seperti animo dan kesiapan masyarakat untuk bersedia mengembangkan jenis komoditas ini, bisa saja dengan penerapan strategi penyuluhan yang kontinu yang disertai dengan pengembangan demo plot secara nyata di lapangan.

  57. RANDY JULIYANDRI
    093401001
    EKONOMI PEMBANGUNAN
    TUGAS : “ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN PRODUK PERTANIAN INDONESIA DI PASAR GLOBAL”

    PENDAHULUAN
    Kedelai dengan nama latin Glycine max (kedelai kuning); Glycine
    soja (kedelai hitam) merupakan sumber protein nabati utama bagi
    sebagian besar penduduk Indonesia. Kedelai merupakan tumbuhan
    serbaguna. Karena akarnya memiliki bintil pengikat nitrogen bebas,
    kedelai merupakan tanaman dengan kadar protein tinggi sehingga
    tanamannya dapat digunakan sebagai pupuk hijau dan pakan ternak.
    Kedelai terutama dimanfaatkan bijinya. Biji kedelai kaya protein dan
    lemak serta beberapa bahan gizi penting lain, misalnya vitamin (asam
    fitat) dan lesitin. Olahan biji kedelai dapat dibuat menjadi berbagai
    bentuk seperti tahu (tofu), bermacam-macam saus penyedap (salah
    satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai hitam), tempe, susu
    kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa), tepung kedelai, minyak
    (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta, krayon,
    pelarut, dan biodiesel), serta taosi atau tauco.
    Produk kedelai yang paling dikenal oleh masyarakat adalah tempe.
    Indonesia merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan
    menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi
    kedelai Indonesia dilakukan dalam bentuk tempe, 40% dalam bentuk
    tahu, dan 10% dalam bentuk produk lain (seperti tauco, kecap, dan lainlain).
    Konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia saat
    ini diduga sekitar 6,45 kg (sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Tempe,
    22-09-2008; 13.55). Namun demikian, pemenuhan kebutuhan akan
    kedelai masih harus diimpor dari luar. Ini terjadi karena kebutuhan
    Indonesia yang tinggi akan jenis kedelai putih. Kedelai putih bukan asli
    tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di
    Jepang dan Cina. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil
    sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain,
    kedelai hitam yang tidak bersifat fotosensitif kurang mendapat perhatian
    dalam pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi
    Indonesia.
    Upaya peningkatan kedelai baik dari kuantitas maupun kualitas terus
    diupayakan oleh pemerintah. Pengembangan komoditas kedelai untuk
    menjadi unggulan sub sektor tanaman pangan perlu mendapat
    dukungan dari semua pihak yang terkait. Berkaitan dengan hal ini
    maka diperlukan adanya data dan informasi yang dapat mendukung
    upaya perencanaan pembangunan pertanian khususnya untuk
    komoditas kedelai.
    Luas panen kedelai tertinggi yang pernah dicapai adalah sekitar
    1,7 juta hektar pada tahun 1992. Rata-rata pertumbuhan pada periode
    1970-1992 secara nasional adalah 4,98%, dimana di Luar Jawa
    pertumbuhan yang terjadi cukup tinggi yaitu sekitar 11,3% sementara di
    Jawa pada periode ini berada di bawah rata-rata pertumbuhan nasional
    yaitu sekitar 2,69%. Saat ini, berdasarkan Angka Ramalan III tahun
    2008, luas panen kedelai di Indonesia adalah 579,59 ribu hektar.
    Angka ini meningkat 26,24% dari tahun sebelumnya setelah sempat
    turun hampir 21% pada tahun 2007. Produktivitas kedelai Indonesia masih di bawah negara-negara Asia
    lainnya seperti Cina, Jepang, Thailand dan Vietnam. Kedelai yang
    banyak dibudidayakan di Indonesia adalah jenis kedelai putih yang
    bukan merupakan tanaman asli daerah tropis. Hal ini mengakibatkan
    teknologi yang dikembangkan untuk pemuliaan serta domestikasi
    belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih.
    Rata-rata produktivitas kedelai dunia selama 5 (lima) tahun terakhir
    mencapai 22,92 ku/ha. Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak bersifat
    fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari
    segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia. Kedelai hitam merupakan
    bahan baku utama kecap yang dari sisi prospek pengembangannya
    juga cukup baik.
    Pola pertumbuhan produksi kedelai di Indonesia hampir sama
    dengan keragaan luas panennya. Produksi kedelai di Indonesia
    berfluktuasi dengan kecenderungan menurun pada periode 1993-2008
    (Gambar 2). Rata-rata pertumbuhan pada periode 1970-2008 adalah
    2,26%, pada periode 1993-2008 terjadi penurunan produksi kedelai
    dengan rata-rata penurunan 4,51% per tahun. Periode 1970-1992
    merupakan periode terbaik, dimana produksi kedelai di Indonesia
    meningkat sebesar 7,19% per tahun. Konsumsi kedelai per kapita, yaitu besaran ketersediaan per kapita
    per tahun dengan pendekatan NBM merupakan ketersediaan yang
    dihitung dari selisih produksi ditambah impor, dikurangi ekspor,
    tercecer, penggunaan pakan, bibit dan untuk industri. Ketersediaan
    kedelai per kapita per tahun dalam kurun 1990–2006 adalah
    berfluktuasi dengan kecenderungan menurun (Gambar 3) dengan ratarata
    pertumbuhan 0,05% setiap tahunnya (Lampiran 2). Permintaan
    kedelai berdasarkan ketersediaan per kapita sempat mengalami
    penurunan hampir 30% pada masa krisis tahun 1998, walaupun
    kemudian kembali meningkat pada tahun berikutnya. Hal ini
    menunjukkan bahwa komoditas pertanian dapat pulih dengan cepat
    pada masa krisis dan menjadi penopang pembangunan nasional.
    Berdasarkan hasil kajian NBM, banyaknya kedelai yang digunakan
    untuk pakan adalah sekitar 1,34%, dan yang tercecer adalah 5%.
    Proyeksi Penawaran Kedelai
    Model penawaran kedelai disusun dari 2 (dua) model yaitu model
    luas panen dan model produktivitas atau hasil per hektar. Model luas
    panen dibuat dengan memilih model deret waktu yang terbaik untuk
    meramalkan luas panen kedelai, yaitu Model Winter’s Multiplikatif.
    Tabel 2. Hasil Analisis Luas Panen Kedelai di Indonesia
    menggunakan Model Multiplikatif.

    Komponen Konstanta pemulusan
    Alpha (Komponen Siklus) 0.2
    Gamma (Komponen Trend) 0,2
    Delta (Komponen Musiman) 0,2
    Tingkat Akurasi MAPE 14

    Hasil analisis fungsi respon untuk produktivitas kedelai
    menyatakan bahwa produktivitas kedelai dipengaruhi secara nyata oleh
    faktor musiman dan trend sebagai representasi dari perkembangan
    teknologi. Koefisien determinasi (R2) sebesar 76,9% menunjukkan
    bahwa keragaman produktivitas kedelai sebesar 76,9% dapat dijelaskan oleh sebaran peubah-peubah bebas yang digunakan dalam
    model (Tabel 2).
    Persamaan modelnya adalah sebagai berikut :
    Yt = 11,32 + 0,0399t -0,325DII
    Dimana: Yt = produktivitas waktu ke-t
    DII = subround ke-2 (dummy variable)
    Tabel 2. Hasil Analisis Fungsi Respon Produktivitas Kedelai di Indonesia.
    Peubah Parameter
    Estimasi
    Standar
    Error Nilai T Nilai P
    Konstanta 11,32 0,1066 106,22 0,000
    Trend Waktu (t) 0,0399 0,00332 12,02 0,000
    Sub Round II (D2) -0,325 0,1012 -3,21 0,002
    R2 = 76,9% P (F-stat) = 0,000
    Berdasarkan model yang telah didapat, selanjutnya dilakukan
    proyeksi luas panen, produktivitas dan produksi kedelai di Indonesia
    untuk periode 2009-2010. Hasil proyeksi menunjukkan rata-rata
    pertumbuhan luas panen kedelai pada tahun 2009-2010 adalah
    sebesar 1,68%. Sementara produktivitas dan produksi masing-masing
    sebesar 0,90% dan 2,60%. Jika dibandingkan dengan ARAM III tahun
    2008, proyeksi luas panen tahun 2009 diperkirakan akan menurun
    sebesar 4,40%. Sementara produktivitas dan produksinya diperkirakan
    akan naik masing-masing sebesar 1,04% dan 1,77%. Demikian juga
    dengan proyeksi tahun 2010, luas panen diperkirakan akan turun
    sebesar 2,79% dibandingkan ARAM III 2008. Produktivitas dan
    produksinya akan naik masing-masing sebesar 1,94% dan 4,41%
    (Tabel 3).
    Tabel 3. Proyeksi Luas Panen, Produktivitas dan Produksi Kedelai
    di Indonesia, 2009-2010.

    (Ha)
    Produktivitas 554.079 563.396
    (Ku/Ha)
    Produksi 737.479 756.641
    (Ton)
    Rata-rata
    pertumbuhan (%) 1,68 0,90 2,60
    2009 thd. ARAM III 2008 (%) -4,40 1,04 1,77
    2010 thd. ARAM III 2008 (%) -2,79 1,94 4,41

    Dalam rangka pembangunan pertanian sub sektor tanaman pangan,
    Ditjen Tanaman Pangan menghitung angka sasaran untuk komoditas kedelai sampai dengan tahun 2010. Jika dibandingkan dengan ARAM
    III dan hasil proyeksi di atas, angka sasaran yang ditetapkan Ditjen
    Tanaman Pangan terlihat sangat optimis. Sasaran luas panen kedelai
    tahun 2008 terlihat berbeda sebesar 23,74% lebih besar jika
    dibandingkan dengan ARAM III yang diterbitkan BPS, demikian juga
    dengan produktivitas dan produksinya lebih besar 14,84% dan 35,04%.
    Tahun 2009 dan 2010, angka sasaran luas panen, produktivitas dan
    produksi kedelai juga lebih tinggi dari hasil proyeksi pada Tabel 3. di
    atas. Sasaran luas panen kedelai tahun 2009 jika dibandingkan
    dengan hasil proyeksi, lebih tinggi 28,87%. Demikian juga produktivitas
    dan produksinya, angka sasaran lebih tinggi masing-masing 5,74% dan
    32,96% dibandingkan hasil proyeksi. Tahun 2010 angka sasaran juga
    sangat optimis, jika dibandingkan hasil proyeksi terlihat lebih tinggi
    berturut-turut untuk luas panen, produktivitas dan produksi 34,49%,
    8,70% dan 40,19% (Lampiran 5).
    Proyeksi Permintaan Kedelai
    Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan yang cukup tinggi
    tingkat konsumsinya di Indonesia, terutama dalam bentuk olahannya
    Permintaan terhadap kedelai dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua)
    kategori, yaitu permintaan langsung untuk dikonsumsi dan permintaan
    tidak langsung. Permintaan tidak langsung ini diantaranya adalah
    permintaan kedelai untuk diolah lebih lanjut, seperti untuk pakan ternak,
    bibit serta produk olahan kedelai. Olahan biji kedelai dapat dibuat
    menjadi berbagai bentuk seperti tahu (tofu), bermacam-macam saus
    penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya dibuat dari kedelai
    hitam), tempe, susu kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa),
    tepung kedelai, minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik,
    resin, tinta, krayon, pelarut, dan biodiesel), serta taosi atau tauco.
    Model permintaan kedelai dibuat dengan metode trend linier dengan
    persamaan sbb:
    Yt = 12.2441 – 0.284902*t
    Ketepatan model yang dihasilkan adalah:
    MAPE : 9.43807
    MAD : 0.857624
    MSD : 1.38686
    Tabel 4. Proyeksi Permintaan Per Kapita dan Total Permintaan Kedelai
    di Indonesia, Tahun 2007-2010.
    Tahun Permintaan 2007 2008 2009 2010
    (kg/kap/th) 7,12 6,83 6,55 6,26
    Jumlah penduduk(000 orang) 224.905 227.779,10 230.632,70 233.477,40
    Total Permintaan(Ton) 1.601.323 1.555.731 1.510.644 1.461.569

    Rata-rata
    Pertumbuhan (%/thn) -4.20 1,25 -3,00
    Konsumsi kedelai berdasarkan hasil proyeksi menunjukkan
    penurunan sebesar 3% untuk total konsumsi dalam ton dan 4,20%
    untuk konsumsi per kapita per tahunnya dalam kg (Tabel 4). Informasi
    ini mengindikasikan adanya pergeseran dalam pemenuhan protein di
    masyarakat. Saat ini masyarakat bergeser mengkonsumsi protein
    hewani dibandingkan protein yang bersumber dari nabati seperti
    kedelai. Jika dilihat data konsumsi per kapita untuk daging dan telur
    sebagai sumber protein hewani, konsumsi produk peternakan tersebut
    mengalami kenaikan dari tahun ke tahunnya. Berdasarkan data Ditjen
    Peternakan Departemen Pertanian, konsumsi perkapita untuk daging
    dan telur pada tahun 2007 naik masing-masing sebesar 3,73% dan
    6,48% dari tahun sebelumnya.
    Penurunan konsumsi kedelai ini merupakan satu hal yang perlu
    menjadi perhatian, karena kedelai merupakan salah satu sumber
    protein nabati yang utama di Indonesia. Sementara di negara-negara
    lain masyarakatnya berupaya untuk meningkatkan konsumsi protein
    nabati dan mengurangi protein hewani.
    Proyeksi Surplus/Defisit Kedelai Tahun 2009-2010
    Berdasarkan hasil proyeksi penawaran dan permintaan kedelai
    tahun 2009-2010, diperkirakan permintaan kedelai dalam negeri cukup
    tinggi, sementara produksi masih terbatas sehingga terjadi defisit setiap
    tahunnya (Tabel 5). Pada tahun 2009 diperkirakan terjadi defisit
    sebesar 771,17 ribu ton dan turun menjadi 704,93 ribu ton pada tahun
    2010. Jika dilihat hasil proyeksi konsumsi kedelai pada tabel
    sebelumnya, dimana konsumsi kedelai diperkirakan cenderung untuk
    turun sementara produksi cenderung naik, maka pada suatu waktu
    Indonesia akan mencapai swasembada kedelai.
    Tabel 5. Proyeksi Surplus/Defisit Kedelai di Indonesia, Tahun 2007-2010.
    Tahun 2009 2010
    Produksi(Ton) 739.479 1.510.644
    Konsumsi(Ton) 756.641 1.461.569
    Surplus/Defisit(Ton) -771.165 -704.928

    KESIMPULAN
    1. Kedelai merupakan salah satu komoditas palawija yang prospek
    pengembangannya masih sangat besar di masa yang akan datang.
    Berdasarkan Angka Ramalan III tahun 2008 (BPS), luas panen
    kedelai di Indonesia adalah 579,59 ribu hektar, produktivitasnya
    adalah 13,13 ku/ha dan produksi 761,21 ribu ton. Laju pertumbuhan
    permintaan kedelai adalah 0,05% per tahun.
    2. Model analisis untuk luas panen dibuat dengan metode Winter
    Multiplicative dengan persamaan Xt = Tt * Ct * St * It dimana nilai
    MAPE-nya 14.
    3. Persamaan model regresi untuk produktivitas adalah Yt = 11,32 +
    0,0399t -0,325DII dengan nilai R2 = 76,9%
    4. Persamaan model trend linier untuk permintaan kedelai adalah Yt =
    12.2441 – 0.284902*t dengan MAPE = 9,44.
    5. Berdasarkan model yang disusun, tahun 2009 dan 2010
    diperkirakan Indonesia masih akan defisit kedelai sebesar 771 ribu
    ton untuk tahun 2009 dan 705 ribu ton untuk tahun 2010. Untuk
    mengantisipasi hal ini maka perlu dilakukan penyusunan kebijakan
    yang tepat untuk dapat mencukupi kebutuhan akan kedelai dalam
    negeri.

  58. Nama : Neng Sofi Sopiah
    NPM : 093401002
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Analisis Penawaran dan Permintaan Komoditas Cabai Merah Indonesia
    di Pasar Global

    Cabai termasuk salah satu komoditas penting rakyat Indonesia. Biasanya paling banyak digunakan dalam bentuk segar maupun olahan untuk konsumsi rumah tangga,industri pengolahan makanan,dan industri makanan. Selain itu cabai merah dimanfaatkan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Cabai merah mempunyai luas areal penanaman paling besar diantara komoditas sayur-sayuran,sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung besar. Oleh sebab itulah, pergerakan harga cabai sangat disoroti , apalagi seperti saat ini menjelang perayaan hari raya Idul Adha yang biasanya kenaikan permintaannya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibanding hari biasa.

    Perkembangan Komoditas Cabai

    Cabai yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia terdiri atas cabai besar, cabai hijau, dan cabai rawit. Diantara ketiga jenis cabai tersebut, cabai besar yang didalamnya termasuk cabai merah, merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, disusul cabai rawit dan cabai hijau. Untuk jenis cabai merah, sebagian besar jenis cabai ini dikonsumsi oleh rumah tangga dengan pangsa penggunaannya yang mencapai 61% dari total konsumsi cabai dalam negeri. Selebihnya cabai merah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baik industri makanan maupun non makanan dan juga untuk keperluan ekspor baik dalam bentuk cabai segar maupun olahan, seperti cabai bubuk dan cabai kering.
    Berdasarkan data SUSENAS, rata-rata tingkat konsumsi cabai merah per kapita mencapai 1.4 kg per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini berada pada kisaran 225 juta orang, maka kebutuhan cabai merah untuk keperluan rumahtangga diperkirakan mencapai 252 ribu ton per tahun. Ke depan, permintaan cabai merah untuk keperluan rumah tangga tersebut diperkirakan akan berkelanjutan dan stabil tinggi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi cabai merah dalam bentuk segar untuk keperluan sehari-hari dan belum terdapatnya bahan yang dapat mensubstitusi kebutuhan cabai tersebut. Meskipun saat ini terdapat industri yang menghasilkan cabai merah olahan, namun jumlah dan skala usahanya relatif masih terbatas dan umumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

    Terkait dengan ekspor, perkembangan volume dan nilai ekspor cabai yang terdiri atas cabai segar dan cabai olahan berada pada tren yang meningkat dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan ekspor cabai produksi Indonesia masih cukup menjanjikan dan memberikan peluang bagi peningkatan ekspor ke depannya melalui peningkatan kapasitas industri pengolahan cabai yang berorientasi ekspor. Negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor cabai Indonesia ada sekitar 51 negara, dengan Saudi Arabia, Singapura dan Malaysia sebagai negara tujuan ekspor utama dengan pangsa masing-masing 23%, 19%, dan 11% terhadap total volume ekspor.

    Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama impor cabai juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat baik dari sisi volume maupun nilainya. Berbeda dengan ekspor, negara asal impor cabai Indonesia cenderung lebih sedikit (17 negara) di mana China, India, dan Thailand sebagai negara asal impor terbesar dengan pangsa masing-masing 43%, 38%, dan 9% terhadap total volume impor. Kebutuhan impor cabai ke Indonesia yaitu untuk benih dan cabai olahan.
    Cabai termasuk di dalamnya cabai merah yang dikonsumsi oleh masyarakat hampir seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri. Untuk cabai merah, hingga saat ini terdapat 29 propinsi yang merupakan daerah penghasil cabai merah dengan tingkat produksi yang beragam 10 – 172 ton per tahun. Propinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara merupakan kontributor utama produksi cabai merah nasional dengan rata-rata pangsa terhadap produksi nasional masing-masing sebesar 26%, 15%, 14%, dan 13% (Grafik 3.40). Secara lebih terinci, kabupaten/kota penghasil cabai merah terbesar di wilayah Jawa adalah Bandung, Garut, Cianjur, Magelang, Temanggung, Brebes, Malang, Banyuwangi dan Blitar. Sementara untuk wilayah Sumatera Utara, kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi cabai merah adalah Karo, Deli Serdang dan Simalungun

    Kondisi Cabai di Pasar Saat Ini

    Menurut berita yang kami dapatkan dari detik.com (5/11), harga cabai di pasaran melambung hingga Rp 40.000/kg. Hal ini disebabkan karena adanya pergesaran titik keseimbangan harga yang diakibatkan oleh pergeseran supply dan demand cabai di pasar dimana terjadinya kenaikan tajam pada permintaan menjelang lebaran sementara kenyataan di lapangan jumlah ketersediaan cabai sangat terbatas. Kondisi ini sebenarnya sudah pasti terjadi di Indonesia apalagi menjelang hari raya Idul Adha, walaupun tidak sebesar kenaikan yang terjadi pada hari raya Idul Fitri.
    Jika dianalisis dari fenomena ini, maka keadaan cabai sedang berada pada kondisi shortage dimana jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran sehingga terjadilah keterbatasan supply cabai di pasaran. Inilah yang kemudian menyebabkan kenaikan harga. Namun walaupun sedemikian mahalnya harga cabai, penjual mengaku barang dagangannya yang sedikit itu tetap saja laku, sebagian besar pembeli memang mengurangi jatah pembeliannya akibat dari kenaikan harga tersebut. Inilah fenomena khusus tersendiri yang terjadi ketika mendekati perayaan hari raya umat Islam dimana permintaan yang cenderung besar dengan terbatasnya jumlah pasokan cabai di masyarakat menyebabkan melambungnya harga cabai.
    Selain itu kondisi terbatasnya jumlah pasokan cabai juga diakibatkan oleh terganggunya produksi yang dialami oleh para petani yang diakibatkan oleh bergesernya perubahan cuaca yang mengganggu pola dan kuantitas produksi cabai. Seperti yang dilansir Kompas (8/11) bahwa biaya produksi cabai naik hingga 3x lipat. Kenaikan biaya produksi ini terjadi dikarenakan serangan hama yang bersamaan dengan datangnya musim hujan. Sehingga petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obata-obatan pengusir hama. Mengingat cabai merupakan jenis komoditas yang mudah membusuk, maka perubahan cuaca ini sangat mempengaruhi produksi cabai yang dikarenakan produksi cabai sangat bergantung kepada cuaca khususnya kelembaban udara dan kadar air tanah. Oleh karena itu banyak petani yang mengalami gagal panen akibat lahannya terkena banjir.

    Permintaan Dalam Negeri

    Konsumsi rata-rata cabai untuk rumah tangga di Jawa adalah 5,937 gram/kapita/hari (2,2 kg/kapita/hari). Pemakaian di perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan (5,696 gram/kapita/hari untuk perkotaan dan 5,900 gram/kapita/hari untuk pedesaan). DKI Jakarta (melalui Pasar Induk Keramat Jati) merupakan daerah tujuan pasar tertinggi dibandingkan dengan propinsi lainnya di Jawa. Jenis cabai yang banyak dikonsumsi di perkotaan adalah cabai merah, kemudian cabai rawit dan hijau. Sedangkan pemakaian di pedesaan terbanyak adalah cabai rawit, kemudian cabai merah dan hijau. Permintaan cabai rata-rata untuk keperluan industri (sedang dan besar) adalah 2.221 ton pada tahun 1990. Permintaan ini meningkat menjadi 3.419 ton pada tahun 1993. Permintaan tersebut diduga terus meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan yang datang dari industri olah lanjut. Sedangkan konsumsi rumah tangga pada tahun 1990 di Jawa mencapai 233.600 ton, pada tahun 1998 konsumsi cabai rumah tangga di Jawa diperkirakan mencapai 258.100 ton dan tahun 2000 diproyeksikan mencapai 264.100 ton. Industri yang menggunakan cabai merah di antaranya adalah industri pengawetan daging, pelumatan buah dan sayuran, industri tepung dari padi-padian dan kacang-kacangan, mie, roti/kue, kecap, kerupuk dan sejenisnya, bumbu masak dan makanan lainnya.

    Konsumsi Cabai Rata-rata untuk Rumah Tangga di Jawa

    No Propinsi Konsumsi (ton/hari) Total
    C. Merah C. Hijau C. Rawit Total
    1 DKI Jakarta 42,20 6,80 16,10 65,30
    2 Jawa Barat 81,00 20,50 97,70 199,20
    3 Jawa Tengah 55,20 17,10 98,30 170,60
    4 Yogyakarta 35,40 2,00 9,70 47,10
    5 Jawa Timur 30,50 6,20 157,40 194,10
    Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.

    Ekspor Dan Impor Cabai

    Berbagai jenis cabai telah di diekspor ke luar negeri, diantaranya dalam bentuk cabai segar/dingin, cabai kering dan saus cabai. Volume ekspor cabai segar pada tahun 1986 sekitar 2.197 kg dengan nilai US $ 1.098 dan pada tahun 1986 meningkat hingga mencapai 135.368 kg nilai ekspor US $ 117.714/ Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1992, sebesar 623.878 kg. Sedangkan ekspor cabai kering pada tahun 1996 adalah 35.174 kg dengan nilai US $ 12.117 dan meningkat lebih besar dibandingkan dengan cabai segar, yakni mencapai 485.450 kg per Septermber 1996 dengan nilai US $ 2.145.235. Perkembangan volume dan nilai ekspor cabai pada periode 1986 – 1996 di sajikan secara rinci dalam tabel 2.
    Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor berbagai jenis cabai dan cabai olahan dari berbagai negara. Volume impor cabai dari berbagai negara tersebut cukup berfluktuasi. Dalam dua tahun terakhir, angka impor cabai mengalami penurunan, dan pada tahun 1996 mencapai 1.788.760 kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan cabai/cabai olahan di dalam negeri masih belum dapat di penuhi oleh petani (industri cabai di Indonesia)

    Volume dan Nilai Ekspor/Impor Cabai Indonesia 1986 – 1996
    Volume Ekspor (Kg) Nilai Ekspor
    Tahun Cabai Segar Cabai Kering Cabai Segar Cabai Kering

    1986 2.197 35 1.098 12.117
    1987 25.778 283 12.307 1.224
    1988 550 10.500 164 6.512
    1989 37.330 160.745 12.168 214.610
    1990 12.930 97.677 2.012 114.026
    1991 349.509 101.357 146.248 117.742
    1992 623.878 342.200 191.989 219.909
    1993 554.325 220.990 129.098 238.583
    1994 565.747 328.406 152.028 543.657
    1995 493.499 591.848 223.654 1.518.310
    1996 135.368 485.450 117.714 2.145.235

    Volume Nilai Impor
    Impor (Kg) (US $)

    3.558.491 2.096.219
    2.952.688 1.944.624
    2.521.469 1.626.669
    3.132.175 2.201.127
    1.999.970 1.373.248
    1.266.467 888.066
    1.014.245 758.553
    2.761.549 2.081.157
    4.843.943 3.417.580
    1.566.101 1.328.527
    1.788.760 1.677.794
    Sumber : BPS di olah oleh Dit Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil , April 1998

    Potensi Pasar

    Pada periode 1992 – 1995 permintaan cabai meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 22,09 % per tahun, sedangkan pada tahun 1995 – 1997 di proyeksikan meningkat sebesar 28, 79 %. Permintaan tersebut di duga akan meningkat terus sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri pengolahan makanan. Kecendrungan permintaan terhadap cabai dapat diikuti dalam Tabel 3.

    Tabel 3. Perkiraan Permintaan Cabai Untuk Rumah Tangga DI Jawa 1998-2000 (Ribuan Ton/Tahun)
    Jenis Cabe 1998 2000
    Cabai Merah 91.80 93.90
    Cabai Hijau 23.10 23.60
    Cabai Rawit 143.20 146.40
    Total Permintaan Cabai 258.10 264.10
    Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.

    Distribusian/Pemasaran Dan Harga Cabai

    Dari kegiatan pemasaran cabai di Jawa terutama yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah (Brebes) dapat di jumpai 4 pengendali harga (price leader) yang berperan, yakni :
    1. Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasokan pasar cabai untuk wilayah Jabotabek dan sekitarnya. Harga cabai di pasar induk Keramat Jati dapat di gunakan sebagai patokan harga cabai dari titik produksi yang mampu memasarkan cabainya ke Pasar Induk Kramat Jati. Demikian pula pasar induk di kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta dan kota besar lainnya dapat saja yang sewaktu-waktu disi cabai dari daerah lain.
    2. Pedagang Pengumpul yang terdekat dengan para produsen
    3. Pedagang pengumpul yang mampu memasarkan lebih lanjut ke pasar yang terdekat dengan konsumen.
    4. Industri pengolah yang mendasarkan harga beli bahan baku pada komponen harga pokok penjualan produk olahannya.
    Harga cabai ditingkat pasar diatas sangat fluktuatif. Pada bulan Februari 1996 harga cabai di tingkat konsumen mencapai Rp. 18.000/kg. Tetapi 7 bulan kemudian harga cabai di tingkat petani jatuh hingga di bawah biaya produksi. Ketidak mampuan para petani cabai untuk melaksanakan dengan peramalan produksi dan pasar dapat menyebabkan banyak petani yang tidak mampu menjaga kesinambungan produksinya. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan pada musim berikutnya. Dalam kondisi seperti ini harga cabai cenderung akan meningkat kembali.
    Harga cabai rata-rata per kg di tingkat konsumen pada akhir tahun 1997 adalah sebagai berikut :
    a. Jawa Barat : Rp 2.500
    b. Jawa Tengah : Rp. 2.500
    c. Jawa Timur : Rp. 2.850
    d. Sumatera Utara : Rp. 1.200
    e. Sumatera Barat : Rp. 1.200
    f. Sulawesi Selatan : Rp. 1.250
    g. Bali : Rp. 2.000
    h. Maluku : Rp 900 – 1.200
    Dengan asumsi bahwa pemasaran mata dagangan cabai merah harus dapat memberikan keuntungan yang wajar bagi produsennya maka dalam analisa finansial akan digunakan harga rata-rata nasional yaitu sebesar Rp. 1.600/kg. Tetapi dalam analisa finansial laporan ini akan digunakan sebesar Rp. 1.150/kg.

  59. Nama : Neng Sofi Sopiah
    NPM : 093401002
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Analisis Penawaran dan Permintaan Komoditas Cabai Merah Indonesia di Pasar Global

    Cabai termasuk salah satu komoditas penting rakyat Indonesia. Biasanya paling banyak digunakan dalam bentuk segar maupun olahan untuk konsumsi rumah tangga,industri pengolahan makanan,dan industri makanan. Selain itu cabai merah dimanfaatkan untuk pembuatan obat-obatan dan kosmetik. Cabai merah mempunyai luas areal penanaman paling besar diantara komoditas sayur-sayuran,sehingga permintaan terhadap komoditas ini cenderung besar. Oleh sebab itulah, pergerakan harga cabai sangat disoroti , apalagi seperti saat ini menjelang perayaan hari raya Idul Adha yang biasanya kenaikan permintaannya bisa tiga sampai empat kali lebih besar dibanding hari biasa.

    Perkembangan Komoditas Cabai

    Cabai yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia terdiri atas cabai besar, cabai hijau, dan cabai rawit. Diantara ketiga jenis cabai tersebut, cabai besar yang didalamnya termasuk cabai merah, merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat, disusul cabai rawit dan cabai hijau. Untuk jenis cabai merah, sebagian besar jenis cabai ini dikonsumsi oleh rumah tangga dengan pangsa penggunaannya yang mencapai 61% dari total konsumsi cabai dalam negeri. Selebihnya cabai merah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri baik industri makanan maupun non makanan dan juga untuk keperluan ekspor baik dalam bentuk cabai segar maupun olahan, seperti cabai bubuk dan cabai kering.
    Berdasarkan data SUSENAS, rata-rata tingkat konsumsi cabai merah per kapita mencapai 1.4 kg per tahun. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini berada pada kisaran 225 juta orang, maka kebutuhan cabai merah untuk keperluan rumahtangga diperkirakan mencapai 252 ribu ton per tahun. Ke depan, permintaan cabai merah untuk keperluan rumah tangga tersebut diperkirakan akan berkelanjutan dan stabil tinggi seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain kebiasaan masyarakat yang mengkonsumsi cabai merah dalam bentuk segar untuk keperluan sehari-hari dan belum terdapatnya bahan yang dapat mensubstitusi kebutuhan cabai tersebut. Meskipun saat ini terdapat industri yang menghasilkan cabai merah olahan, namun jumlah dan skala usahanya relatif masih terbatas dan umumnya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan ekspor.

    Terkait dengan ekspor, perkembangan volume dan nilai ekspor cabai yang terdiri atas cabai segar dan cabai olahan berada pada tren yang meningkat dalam empat tahun terakhir. Kondisi tersebut mengindikasikan permintaan ekspor cabai produksi Indonesia masih cukup menjanjikan dan memberikan peluang bagi peningkatan ekspor ke depannya melalui peningkatan kapasitas industri pengolahan cabai yang berorientasi ekspor. Negara yang selama ini menjadi tujuan ekspor cabai Indonesia ada sekitar 51 negara, dengan Saudi Arabia, Singapura dan Malaysia sebagai negara tujuan ekspor utama dengan pangsa masing-masing 23%, 19%, dan 11% terhadap total volume ekspor.

    Sementara itu, dalam kurun waktu yang sama impor cabai juga menunjukkan kecenderungan yang meningkat baik dari sisi volume maupun nilainya. Berbeda dengan ekspor, negara asal impor cabai Indonesia cenderung lebih sedikit (17 negara) di mana China, India, dan Thailand sebagai negara asal impor terbesar dengan pangsa masing-masing 43%, 38%, dan 9% terhadap total volume impor. Kebutuhan impor cabai ke Indonesia yaitu untuk benih dan cabai olahan.
    Cabai termasuk di dalamnya cabai merah yang dikonsumsi oleh masyarakat hampir seluruhnya berasal dari produksi dalam negeri. Untuk cabai merah, hingga saat ini terdapat 29 propinsi yang merupakan daerah penghasil cabai merah dengan tingkat produksi yang beragam 10 – 172 ton per tahun. Propinsi Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara merupakan kontributor utama produksi cabai merah nasional dengan rata-rata pangsa terhadap produksi nasional masing-masing sebesar 26%, 15%, 14%, dan 13% (Grafik 3.40). Secara lebih terinci, kabupaten/kota penghasil cabai merah terbesar di wilayah Jawa adalah Bandung, Garut, Cianjur, Magelang, Temanggung, Brebes, Malang, Banyuwangi dan Blitar. Sementara untuk wilayah Sumatera Utara, kabupaten/kota yang merupakan sentra produksi cabai merah adalah Karo, Deli Serdang dan Simalungun

    Kondisi Cabai di Pasar Saat Ini

    Menurut berita yang kami dapatkan dari detik.com (5/11), harga cabai di pasaran melambung hingga Rp 40.000/kg. Hal ini disebabkan karena adanya pergesaran titik keseimbangan harga yang diakibatkan oleh pergeseran supply dan demand cabai di pasar dimana terjadinya kenaikan tajam pada permintaan menjelang lebaran sementara kenyataan di lapangan jumlah ketersediaan cabai sangat terbatas. Kondisi ini sebenarnya sudah pasti terjadi di Indonesia apalagi menjelang hari raya Idul Adha, walaupun tidak sebesar kenaikan yang terjadi pada hari raya Idul Fitri.
    Jika dianalisis dari fenomena ini, maka keadaan cabai sedang berada pada kondisi shortage dimana jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran sehingga terjadilah keterbatasan supply cabai di pasaran. Inilah yang kemudian menyebabkan kenaikan harga. Namun walaupun sedemikian mahalnya harga cabai, penjual mengaku barang dagangannya yang sedikit itu tetap saja laku, sebagian besar pembeli memang mengurangi jatah pembeliannya akibat dari kenaikan harga tersebut. Inilah fenomena khusus tersendiri yang terjadi ketika mendekati perayaan hari raya umat Islam dimana permintaan yang cenderung besar dengan terbatasnya jumlah pasokan cabai di masyarakat menyebabkan melambungnya harga cabai.
    Selain itu kondisi terbatasnya jumlah pasokan cabai juga diakibatkan oleh terganggunya produksi yang dialami oleh para petani yang diakibatkan oleh bergesernya perubahan cuaca yang mengganggu pola dan kuantitas produksi cabai. Seperti yang dilansir Kompas (8/11) bahwa biaya produksi cabai naik hingga 3x lipat. Kenaikan biaya produksi ini terjadi dikarenakan serangan hama yang bersamaan dengan datangnya musim hujan. Sehingga petani harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli obata-obatan pengusir hama. Mengingat cabai merupakan jenis komoditas yang mudah membusuk, maka perubahan cuaca ini sangat mempengaruhi produksi cabai yang dikarenakan produksi cabai sangat bergantung kepada cuaca khususnya kelembaban udara dan kadar air tanah. Oleh karena itu banyak petani yang mengalami gagal panen akibat lahannya terkena banjir.

    Kemitraan Terpadu – Cabai Merah

    Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu yang melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan dalam nota kesepakatan. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan kelayakan plasma, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara inti dan plasma, serta membantu bank dalam meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien. Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan, perusahaan inti (Industri Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai kedudukan hukum yang setara. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari penyediaan sarana produksi, bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi.

    ORGANISASI

    Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang usaha melibatkan tiga unsur, yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha kecil, (2) Pengusaha Besar atau eksportir, dan (3) Bank pemberi KKPA. Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan bidang usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti Rakyat (PIR). Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini kemudian dikenal sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.
    1. Petani Plasma
    Sesuai keperluan, petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas (a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain, (b) Petani /usaha kecil yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan dalam untuk itu memerlukan bantuan modal. Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan penanaman atau penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok (b), kegiatan dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek usaha. Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Pada setiap kelompok tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para petani anggotanya, didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi dan instansi lainnya yang perlu, sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.

    2. Koperasi
    Para petani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya menjadi anggota suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa melakukan kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran koperasi primer tidak merupakan keharusan

    3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir
    Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan petani plasma/usaha kecil. Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa dikembangkan dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi petani atau plasma. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya, yang kemudian harus dijual kepada Perusahaan Inti. Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan. Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada petani, dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi. Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil, akan semakin besar pula honor yang diterimanya.

    4. Bank
    Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun. Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya pendapatan bersih petani yang paling besar. Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.

    PENYIAPAN PROYEK KEMITRAAN TERPADU

    Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan sebaiknya dan dalam proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan keberhasilan, minimal dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Kalau PKT ini akan mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma, perintisannya dimulai dari :
    a) Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha; Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya;
    b) Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil;
    c) Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent);
    d) Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda);
    e) Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini, harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

    Permintaan Dalam Negeri

    Konsumsi rata-rata cabai untuk rumah tangga di Jawa adalah 5,937 gram/kapita/hari (2,2 kg/kapita/hari). Pemakaian di perkotaan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pedesaan (5,696 gram/kapita/hari untuk perkotaan dan 5,900 gram/kapita/hari untuk pedesaan). DKI Jakarta (melalui Pasar Induk Keramat Jati) merupakan daerah tujuan pasar tertinggi dibandingkan dengan propinsi lainnya di Jawa. Jenis cabai yang banyak dikonsumsi di perkotaan adalah cabai merah, kemudian cabai rawit dan hijau. Sedangkan pemakaian di pedesaan terbanyak adalah cabai rawit, kemudian cabai merah dan hijau. Permintaan cabai rata-rata untuk keperluan industri (sedang dan besar) adalah 2.221 ton pada tahun 1990. Permintaan ini meningkat menjadi 3.419 ton pada tahun 1993. Permintaan tersebut diduga terus meningkat sejalan dengan meningkatnya permintaan yang datang dari industri olah lanjut. Sedangkan konsumsi rumah tangga pada tahun 1990 di Jawa mencapai 233.600 ton, pada tahun 1998 konsumsi cabai rumah tangga di Jawa diperkirakan mencapai 258.100 ton dan tahun 2000 diproyeksikan mencapai 264.100 ton. Industri yang menggunakan cabai merah di antaranya adalah industri pengawetan daging, pelumatan buah dan sayuran, industri tepung dari padi-padian dan kacang-kacangan, mie, roti/kue, kecap, kerupuk dan sejenisnya, bumbu masak dan makanan lainnya.

    Tabel 1. Konsumsi Cabai Rata-rata untuk Rumah Tangga di Jawa
    Konsumsi (ton/hari)
    Konsumsi (ton/hari)
    No. Propinsi C. Merah C. Hijau C. Rawit Total
    1 DKI Jakarta 42,20 6,80 16,10 65,30
    2 Jawa Barat 81,00 20,50 97,70 199,20
    3 Jawa Tengah 55,20 17,10 98,30 170,60
    4 Yogyakarta 35,40 2,00 9,70 47,10
    5 Jawa Timur 30,50 6,20 157,40 194,10

    Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.

    Ekspor Dan Impor Cabai

    Berbagai jenis cabai telah di diekspor ke luar negeri, diantaranya dalam bentuk cabai segar/dingin, cabai kering dan saus cabai. Volume ekspor cabai segar pada tahun 1986 sekitar 2.197 kg dengan nilai US $ 1.098 dan pada tahun 1986 meningkat hingga mencapai 135.368 kg nilai ekspor US $ 117.714/ Ekspor tertinggi terjadi pada tahun 1992, sebesar 623.878 kg. Sedangkan ekspor cabai kering pada tahun 1996 adalah 35.174 kg dengan nilai US $ 12.117 dan meningkat lebih besar dibandingkan dengan cabai segar, yakni mencapai 485.450 kg per Septermber 1996 dengan nilai US $ 2.145.235. Perkembangan volume dan nilai ekspor cabai pada periode 1986 – 1996 di sajikan secara rinci dalam tabel 2.

    Di sisi lain, Indonesia juga mengimpor berbagai jenis cabai dan cabai olahan dari berbagai negara. Volume impor cabai dari berbagai negara tersebut cukup berfluktuasi. Dalam dua tahun terakhir, angka impor cabai mengalami penurunan, dan pada tahun 1996 mencapai 1.788.760 kg. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan cabai/cabai olahan di dalam negeri masih belum dapat di penuhi oleh petani (industri cabai di Indonesia)

    Volume Ekspor (Kg) Nilai Ekspor
    Tahun Cabai Segar Cabai Kering Cabai Segar Cabai Kering
    1986 2.197 35 1.098 12.117
    1987 25.778 283 12.307 1.224
    1988 550 10.5 164 6.512
    1989 37.33 160.745 12.168 214.61
    1990 12.93 97.677 2.012 114.026
    1991 349.509 101.357 146.248 117.742
    1992 623.878 342.2 191.989 219.909
    1993 554.325 220.99 129.098 238.583
    1994 565.747 328.406 152.028 543.657
    1995 493.499 591.848 223.654 1.518.310
    1996 135.368 485.45 117.714 2.145.235

    Volume Nilai Impor
    Impor (Kg) (US $)
    3.558.491 2.096.219
    2.952.688 1.944.624
    2.521.469 1.626.669
    3.132.175 2.201.127
    1.999.970 1.373.248
    1.266.467 888.066
    1.014.245 758.553
    2.761.549 2.081.157
    4.843.943 3.417.580
    1.566.101 1.328.527
    1.788.760 1.677.794

    Sumber : BPS di olah oleh Dit Bina Usaha Tani dan Pengolahan Hasil , April 1998
    Potensi Pasar
    Pada periode 1992 – 1995 permintaan cabai meningkat dengan pertumbuhan rata-rata 22,09 % per tahun, sedangkan pada tahun 1995 – 1997 di proyeksikan meningkat sebesar 28, 79 %. Permintaan tersebut di duga akan meningkat terus sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri pengolahan makanan. Kecendrungan permintaan terhadap cabai dapat diikuti dalam Tabel 3.

    Tabel 3. Perkiraan Permintaan Cabai Untuk Rumah Tangga DI Jawa 1998-2000 (Ribuan Ton/Tahun)
    Jenis Cabe 1998 2000
    Cabai Merah 91.8 93.9
    Cabai Hijau 23.1 23.6
    Cabai Rawit 143.2 146.4
    Total Permintaan Cabai 258.1 264.1
    Sumber : LPM IPB dan Kantor Depnaker Bogor, 1997. Peluang Bisnis Hortikultura. Bahan Pelatihan Pembentukan Pemuda Mandiri Profesional Profesional Melalui Peran serta Perguruan Tinggi Menjadi Pengusaha Pemula 1997.

    Distribusian/Pemasaran Dan Harga Cabai

    Dari kegiatan pemasaran cabai di Jawa terutama yang berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah (Brebes) dapat di jumpai 4 pengendali harga (price leader) yang berperan, yakni :
    1. Pasar Induk Kramat Jati sebagai pasokan pasar cabai untuk wilayah Jabotabek dan sekitarnya. Harga cabai di pasar induk Keramat Jati dapat di gunakan sebagai patokan harga cabai dari titik produksi yang mampu memasarkan cabainya ke Pasar Induk Kramat Jati. Demikian pula pasar induk di kota-kota besar seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta dan kota besar lainnya dapat saja yang sewaktu-waktu disi cabai dari daerah lain.
    2. Pedagang Pengumpul yang terdekat dengan para produsen
    3. Pedagang pengumpul yang mampu memasarkan lebih lanjut ke pasar yang terdekat dengan konsumen.
    4. Industri pengolah yang mendasarkan harga beli bahan baku pada komponen harga pokok penjualan produk olahannya.
    Harga cabai ditingkat pasar diatas sangat fluktuatif. Pada bulan Februari 1996 harga cabai di tingkat konsumen mencapai Rp. 18.000/kg. Tetapi 7 bulan kemudian harga cabai di tingkat petani jatuh hingga di bawah biaya produksi. Ketidak mampuan para petani cabai untuk melaksanakan dengan peramalan produksi dan pasar dapat menyebabkan banyak petani yang tidak mampu menjaga kesinambungan produksinya. Hal ini dapat menyebabkan berkurangnya pasokan pada musim berikutnya. Dalam kondisi seperti ini harga cabai cenderung akan meningkat kembali.
    Harga cabai rata-rata per kg di tingkat konsumen pada akhir tahun 1997 adalah sebagai berikut :
    a. Jawa Barat : Rp 2.500
    b. Jawa Tengah : Rp. 2.500
    c. Jawa Timur : Rp. 2.850
    d. Sumatera Utara : Rp. 1.200
    e. Sumatera Barat : Rp. 1.200
    f. Sulawesi Selatan : Rp. 1.250
    g. Bali : Rp. 2.000
    h. Maluku : Rp 900 – 1.200
    Dengan asumsi bahwa pemasaran mata dagangan cabai merah harus dapat memberikan keuntungan yang wajar bagi produsennya maka dalam analisa finansial akan digunakan harga rata-rata nasional yaitu sebesar Rp. 1.600/kg. Tetapi dalam analisa finansial laporan ini akan digunakan sebesar Rp. 1.150/kg.

  60. Nama : Enung Nuryani
    NPM : 093401020

    Pendahuluan
    Kakao merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan dan juga salah satu komoditas ekspor utama sektor pertanian di Indonesia. Pengembangan kakao ke depan secara global diarahkan pada upaya mewujudkan agribisnis kakao yang efisien dan efektif sehingga tercipta peningkatan pendapatan petani (khususnya petani kakao) dan hasil kakao yang berdaya saing.
    Indonesia merupakan produsen kakao dunia pada urutan ke-tiga (lihat Tabel l.) Produksi kako Indonesia menurun pada tahun 2002, namun terus meningkat hingga 2004/2005.
    Tabel 1. Produksi Kakao Dunia, 2001-2005 (000 ton)
    Kelompok Negara 2001-2002 2002-2003 2003-2004 2004-2005
    Cote d”Ivoire 1.264,7 1.351,5 1.407,2 1.273,0
    Ghana 340,6 497,0 737,0 586,0
    Indonesia 455,0 410,0 420,0 435,0
    Nigeria 185,0 173,2 175,0 190,0
    Total Dunia 2.868,4 3.166,7 3.521,6 3.289,0
    Sumber : International Cocoa Organization, 200
    Selain produsen ke-tiga dunia, Indonesia juga merupakan negara pengekpor kakao dunia. Pada tahun 2003/4 Indonesia merupakan pengekspor ke-tiga dunia.
    Tabel 2. Eksportir Biji Kakao, 2000/1 – 2003/2004
    No. Negara Eksportir Jumlah Ekspor ( 000 ton)
    2000/01 2001/02 2002/03 2003/04
    1 Cameroon 101,56 95,63 108,19 136,08
    2 Pantai Gading 903,39 1.019,25 1.070,98 1.039,48
    3 Ghana 306,83 284,68 310,33 608,10
    4 Nigeria 149,37 160,29 145,09 161,84
    5 Brazil 2,48 3,50 3,59 1,56
    6 Rep. Dominika 33,81 40,25 38,39 40,44
    7 Equador 57,19 58,86 57,37 85,88
    8 Venezuela 7,59 8,20 8,30 7,39
    9 Indonesia 326,46 364,81 365,65 314,10
    10 Malaysia 17,17 18,45 21,11 11,84
    11 Papua New Guinea 38,80 37,92 39,07 38,70
    12 Lainnya 42,07 46,80 47,92 74,38
    Total 1.986,72 2.138,62 2.215,97 2.519,80
    Sumber : International Cocoa Organization, 2004
    Jumlah produksi kakao Indonesia pada tahun 2002/2003 menurut Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (2004), sebesar 425.000 ton sedangkan konsumsinya sebesar 12.000 ton, kelebihan produksi ini ditawarkan Indonesia kepada negara lain melalui kegiatan ekspor.

    PERKEMBANGAN KAKAO INDONESIA
    A. Produksi
    Produksi biji kakao Indonesia pernah mengalami penurunan pada tahun 1997 dan 1999, hal tersebut disebabkan terjadinya musim panas dan penurunan luas areal tanaman kakao itu sendiri. Jika sebelum tahun 1987, produksi biji kakao Indonesia didominasi oleh perkebunan besar Negara dengan porsi 50 sampai 80%, maka semenjak tahun 1987 (lebih dari 50%) pangsa pasar terbesar untuk produksi kakao diduduki oleh Perkebunan Rakyat.
    Tabel 3. Perkembangan Produksi Tanaman Kakao Indonesia Menurut
    Status Pengusahaan, Tahun 1980-2004

    Tahun Perkebunan
    Rakyat (PR) Perkebunan Besar
    Negara (PBN) Perkebunan Besar
    Swasta (PBS) Total
    Produksi
    (Ton) (%) (Ton) (%) (Ton) (%) (Ton) (%)
    1980 1.058 10,29 8.410 81,78 816 7,93 10.284 100
    1981 1.437 10,94 10.429 79,39 1.271 9,67 13.137 100
    1982 3.787 21,94 11.464 66,42 2.009 11,64 17.260 100
    1983 5.401 27,50 11.738 59,77 2.501 12,73 19.640 100
    1984 6.229 23,50 16.561 62,49 3.712 14,01 26.502 100
    1985 8.997 26,62 20.512 60,69 4.289 12,69 33.798 100
    1986 11.761 34,26 18.288 53,28 4.278 12,46 34.327 100
    1987 25.841 51,48 17.658 35,18 6.700 13,35 50.199 100
    1988 39.757 50,11 24.112 30,39 15.466 19,49 79.335 100
    1989 68.259 61,77 26.975 24,41 15.275 13,82 110.509 100
    1990 97.418 68,44 27.016 18,98 17.913 12,58 142.347 100
    1991 119.284 68,20 35.463 20,28 20.152 11,52 174.899 100
    1992 145.563 70,27 35.993 17,38 25.591 12,35 207.147 100
    1993 187.529 72,67 40.638 15,75 29.892 11,58 258.059 100
    1994 198.001 73,34 42.086 15,59 29.894 11,07 269.981 100
    1995 231.992 76,10 40.933 13,43 31.941 10,48 304.866 100
    1996 304.013 81,29 36.456 9,748 33.530 8,96 373.999 100
    1997 263.846 79,90 35.644 10,79 30.729 9,31 330.219 100
    1998 369.887 82,39 46.307 10,32 32.733 7,29 448.927 100
    1999 304.549 82,88 37.064 10,09 25.862 7,04 367.475 100
    2000 363.628 86,34 34.790 8,26 22.724 5,40 421.142 100
    2001 476.924 88,85 33.905 6,32 25.975 4,84 536.804 100
    2002 511.379 89,53 34.083 5,97 25.693 4,50 571.155 100
    2003 634.877 90,85 32.075 4,59 31.864 4,56 698.816 100
    2004* 585.955 90,03 32.881 5,05 32.042 4,92 650.878 100
    Sumber : Ditjen Perkebunan, 200. Statistik Kakao. Departemen Pertanian
    Ket : *) Sementara0

    B. Perdagangan Kakao Indonesia

    Pengembangan tanaman kakao di Indonesia hingga tahun 2003 telah mencapai 964.223 ha dengan produksi 698.816 ton biji kakao kering yang diperkirakan pada tahun 2005 naik menjadi 992.448 ha dengan produksi 652.396 ton biji kakao kering, tersebar di 31 propinsi. Indonesia pada saat ini sebagai negara produsen kakao terbesar ke-tiga dunia setelah Cote d’Ivoire dan Ghana. Jumlah petani kakao mencakup 1,098 juta kepala keluarga. Ekspor komoditi kakao mencapai nilai US $ 546,56 juta dengan volume 0,367 juta ton pada tahun 2004 (Departemen Pertanian, 2006).
    Kelembagaan yang menangani perkakaoan di Indonesia meliputi Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) yang mewakili petani, Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) yang mewakili pengusaha, Direktorat Jenderal Perkebunan yang mewakili pemerintah, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PUSLITKOKA) yang mewakili lembaga penelitian.
    Menurut Askindo 2006, sebagian besar petani kakao belum menjual langsung hasil panennya kepada perusahaan. Hal ini disebabkan antara lain, (1) tempat tinggal petani relatif tersebar dan (2) jumlah produksi kakao seorang petani setiap kali panen relatif sedikit (satu sampai lima kilogram per dua minggu). Mata rantai perdagangan kakao dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini.
    Petani kakao yang bertempat tinggal jauh dari Ibukota Kecamatan/Kabupaten biasanya menjual kakao mereka kepada para pedagang pengumpul, karena jumlah kakao yang akan dijual petani tidak lebih dari 20 kg (Departeman Pertanian dalam Karabain, 2001), sehingga menjual langsung kepada para pedagang menjadi tidak efisien, karena memerlukan ongkos angkut relatif besar. Hal ini akan terus berlangsung selama pengetahuan petani terhadap informasi mengenai kualitas, mutu, serta harga jual kurang. Oleh karena itu pemerintah perlu memberikan informasi atau penyuluhan mengenai penanganan pascapanen agar hasil produksi mereka menjadi lebih baik sehingga akan memperoleh harga jual yang lebih tinggi.
    C. Perdagangan Kakao Dunia
    Perdagangan kakao dunia didominasi oleh biji kakao dan produk akhir (cokelat), sedangkan produk antara (cacao butter, cocoa powder, dan cocoa paste) volumenya relatif kecil. Tahun 2001/02, volume ekspor biji kakao mencapai 2,12 juta ton dan re-ekspor 235 ribu ton. Pada periode yang sama, volume ekspor produk akhir (cokelat) mencapai 2,9 juta ton. Sementara volume ekspor kakao butter, kakao powder, dan kakao paste masing-masing sebesar 528 ribu ton, 594 ribu ton, dan 341 ribu ton (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2004).
    Eksportir utama biji kakao dunia tahun 2003/04 ditempati oleh Pantai Gading dengan total ekspor 1 juta ton. Eksportir terbesar berikutnya adalah Ghana, Indonesia, dan Nigeria dengan volume masing-masing 608 ribu ton, 314 ribu ton, dan 161 ribu ton. Di sisi lain, importir terbesar biji kakao dunia adalah Belanda dengan volume 561 ribu ton, diikuti Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Prancis, Belgia, dan Inggris dengan volume impor masing-masing 488 ribu ton, 212 ribu ton, 181 ribu ton, 154 ribu ton, 139 ribu ton dan 138 ribu ton. Belanda sebagai importir terbesar biji kakao sekaligus berperan sebagai re-ekspor terbesar biji kakao dunia dengan volume 78,2 ribu ton.
    D. Perkembangan Konsumsi Kakao Dunia
    Konsumsi kakao dapat dibedakan antara konsumsi biji kakao dan konsumsi cokelat. Konsumsi biji kakao dihitung berdasarkan kapasitas pengolahan atau grinding capacity, sedangkan konsumsi cokelat dihitung berdasarkan indeks per kapita.
    Dalam perdagangan kakao, konsumsi biji kakaolah yang berkaitan langsung dengan produksi dan interaksi keduanya menentukan harga kakao dunia. Harga kakao bergerak naik jika konsumsi biji kakao lebih besar dari produksinya dan sebaliknya harga kakao akan merosot apabila konsumsi biji kakao lebih kecil dari produksi.
    Konsumsi biji kakao dunia sedikit berfluktuasi dengan kecenderungan terus meningkat. Negara konsumen utama biji kakao dunia adalah Belanda yang mengkonsumsi 445 ribu ton pada tahun 2000/01. Konsumsi negara ini menurun menjadi 418 ribu ton tahun 2001/02 dan 440 ribu ton tahun 2002/03. Namun kembali meningkat pada tahun 2003/04 menjadi 445 ribu ton.
    Konsumen besar lainnya adalah Amerika Serikat, diikuti Pantai Gading, Jerman, dan Brazil yang masing masing mengkonsumsi 440 ribu ton, 265 ribu ton, 225 ribu ton, dan 205 ribu ton pada tahun 2000/01. Tahun 2001/02 dan 2002/03 konsumsi negara-negara konsumen utama kakao dunia ini relatif stabil, dan sedikit mengalami penurunan.
    Sementara itu konsumsi cokelat dunia masih didominasi oleh negara-negara maju terutama masyarakat Eropa yang tingkat konsumsi rata-ratanya sudah lebih dari 1,87kg per kapita per tahun. Konsumsi per kapita tertinggi ditempati oleh Belgia dengan tingkat konsumsi 5,34 kg/kapita/tahun, diikuti Eslandia, Irlandia, Luxembur, dan Austria masing-masing 4,88 kg, 4,77 kg, 4,36 kg dan 4,05 kg/kapita/tahun (Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2004) .
    E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penawaran Ekspor Kakao Indonesia
    1) Produksi Kakao Domestik
    2) Harga Kakao Domestik
    3) Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar AS

  61. NAMA : PRATAMA RAMDHANI
    NPM : 093401016
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Analisis Penawaran dan Permintaan Komoditas Buah Manggis Indonesia
    di Pasar Global

    Indonesia bersama Thailand dan Malaysia adalah negara tropis pensuplai komoditi manggis ke pasar dunia. Berdasarkan data dari Deprtemen Pertanian (2004), neraca perdagangan untuk komoditi manggis cenderung mengalami peningkatan, walaupun pada tahun 2004 dan 2005 terjadi penurunan yang cukup signifikan. berbagai hambatan dalam produksi diduga disebabkan oleh pengaruh perubahan iklim global yang mengakibatkan produksi manggis ’on farm’ terganggu. Nilai perdagangan komoditi ini berdasarkan Tabel dinilai cukup memberi arti bagi devisa negara apalagi bila dikaitkan dengan upaya Indonesia untuk menggalakkan sektor pertanian sebagai sektor andalan ekspor disamping ekspor minyak dan gas bumi.

    Neraca Perdagangan Komoditi Manggis Indonesia Tahun 1999 – 2004
    Volume (kg)
    1999 2000 2001 2002 2003 2004
    Ekspor : 4.743.493 7.182.098 4.868.528 6.512.423 9.304.511 3.045.379
    Impor: 114 – 534 1.387 – 295
    Neraca: 4.743.379 7.182.098 4.867.994 6.511.036 9.304.511 3.045.084
    Nilai (US$)
    Ekspor: 3.887.816 5.885.038 3.953.234 6.956.915 9.306.042 3.291.855
    Impor : 236 – 606 1.644 – 202
    Neraca : 3.887.580 5.885.038 3.952.628 6.955.271 9.306.042 3.291.653
    Sumber: BPS, data diolah Subdit Analisis dan Informasi Pasar (2004).

    Volume Ekspor Manggis Indonesia per Negara Tujuan Tahun 2005-2007
    No. Negara Tujuan 2005 2006 2007
    Volume (kg)
    1 Hongkong 4.241.783 1.258.053 3.225.280
    2 China 3.462.575 3.576.096 4.037.592
    3 Uni Emirat Arab 360.358 394.997 406.478
    4 Singapore 77.697 6.968 104.116
    5 Malaysia 18.86 56.838 776.481
    6 Arab Saudi 100.72 104.983 97.279
    7 Vietnam 79.161 – 138.084
    Sumber : BPS (2007)

    Nilai Ekspor Manggis Indonesia per Negara Tujuan Tahun 2005-2007
    No. Negara Tujuan 2005 2006 2007
    Nilai (US $)
    1 Hongkong 3.581.710 863.148 1.738.288
    2 China 2.185.638 2.067.885 2.162.175
    3 Uni Emirat Arab 289.122 308.831 267.691
    4 Singapore 55.504 78.152 40.064
    5 Malaysia 5.088 29.214 200.797
    6 Arab Saudi 81.76 81.869 67.783
    7 Vietnam 54.554 – 167.997
    Sumber : BPS (2007)

    Volume ekspor yang fluktuatif ke negara tujuan dipengaruhi oleh kondisi dan karakteristik masing-masing negara tujuan. Sebagian besar negara-negara tujuan adalah negara yang tidak mampu memproduksi manggis sendiri. Hal ini dikarenakan tanaman manggis hanya dapat tumbuh di daerah tropis teduh seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Kemampuan memproduksi buah manggis merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk memenuhi permintaan ekspor ke negara-negara tujuan yang sebagian besar tidak hanya menganggap manggis sebagai buah konsumsi namun juga sebagai pelengkap sesaji dalam upacara keagamaan seperti di Hongkong dan China.

    Pemasaran :

    Dari segi pemasaran, pasar manggis pada saat ini menunjukan permintaan yang relatif besar daripada penawarannya, hal ini berlaku untuk pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor. Hal ini tercermin dari harga buah manggis yang jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan harga buah-buahan lainnya. Ekspor manggis Indonesia pada saat musim hujan cukup besar berkisar antara 200-350 ton per bulan, dengan nilai berkisar 250-350 ribu dollar Amerika (Departemen Pertanian, 2005). Sedangkan pada musim kemarau hanya mencapai 40-90 ton per bulan. Tidak kurang dari 9 eksportir yang biasa mengekspor manggis melalui Bandara Soekarno-Hatta, antara lain PT. Asri Duta Pertiwi, PT. Aliandojaya Pratama, PT. Global Inti Product, PT. Agroindo Usahajaya, yang semuanya berkedudukan di Jakarta.

    Segmen pasar buah manggis di dalam negeri berasal dari golongan ekonomi menengah keatas. Namun demikian karena diberlakukan tingkatan mutu kualitas, dari yang paling baik sampai pada mutu yang paling rendah, segmen pasar konsumen buah manggis dapat menjangkau semua lapisan masyarakat. Sasaran konsumen menyebar sesuai dengan strata mutu hasil sortasi.

    Pada saat ini menunjukan permintaan yang relatif besar daripada penawarannya, hal ini berlaku untuk pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor. Permintaan yang besar ini tercermin dari harga buah manggis yang jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan harga buah-buahan lainnya. Ekspor manggis Indonesia pada saat musim hujan cukup besar berkisar antara 200-350 ton perbulan, dengan nilai berkisar 250-350 ribu dollar Amerika (Departemen Pertanian, 2005).

    Sementara itu jika harga buah manggis dikelompokkan pada masing-masing tingkat pelaku usaha manggis, maka akan didapatkan informasi harga sbb:
    􀂃 Harga Petani Rp. 2.500,-/kg sebelum grading
    􀂃 Harga Tengkulak Rp. 3.500,- sebelum grading
    􀂃 Harga Bandar Rp. 6.000,-/kg kelas Super
    􀂃 Hasil grading Rp. 2.000,-/kg kelas BS
    􀂃 Harga Supplier Rp. 8.500,-/kg kelas Super Rp.3.000,-/kg (BS)
    􀂃 Harga Eksportir Rp. 27.500,- di Negara tujuan dalam packing.

    Permintaan Buah Manggis :

    Permintaan dari luar negeri besar sekali, karenanya manggis perlu dikembangkan secara intensif dan berorientasi pada agrobisnis. Negara-negara yang membutuhkan manggis, adalah Perancis, Belanda, Inggris, Austria, Arab, Singapura, Jepang, Korea, Hongkong dan Taiwan. Jika manggis di Indonesia mulai dibudidayakan secara intensif, maka produksinya tidak akan kalah dengan Thailand. Manggis termasuk tanaman tahunan, yang masa hidupnya dapat mencapai puluhan tahun, bahkan sampai usia 20 tahun pun ternyata masih produktif. Permintaan tertinggi manggis, biasanya terjadi pada bulan November sampai Februari. Manggis dari Tasikmalaya paling banyak diminati pembeli, dibandingkan dengan manggis Sumatera, Bogor dan Purwakarta. Manggis Tasikmalaya lebih segar dan harganya lebih tinggi. Tak heran kalau manggis Tasikmalaya jarang ada di pasar lokal, karena biasanya langsung diekspor.

    Panen Manggis :

    Secara umum buah manggis baru dapat dipanen setelah berumur 8-10 tahun jika dikembangkan dari biji dengan umur produktif hingga 80 tahun. Namun dengan pengembangan budidaya sekarang, pohon manggis dengan tinggi hanya 5 meter sudah dapat dipanen pada umur 5-7 tahun. Ciri-ciri buah manggis yang siap panen adalah kulit berwarna ungu kemerah-merahan atau merah muda. Pemanenan buah manggis sangat tegantung pada tujuan pemasaran. Manggis untuk ekspor dipanen pada umur 104-108 hari setelah bunga mekar, dengan criteria kulit buah berwarna ungu kemerah-merahan hingga kulit buah
    masih hijau dengan ungu merah mencapai 10-25 persen (Rukmana 1995).

    Karakteristik Negara Tujuan Utama Ekspor Manggis :

    Negara tujuan utama ekspor manggis Indonesia cenderung tetap dari tahun ke tahun. Dari beberapa negara tujuan ada tiga negara yang selalu mendominasi volume ekspor manggis Indonesia. Ketiga negara tujuan dengan volume ekspor tebesar adalah Hongkong, China, dan Uni Emirat Arab. Negara-negara tersebut dijadikan negara tujuan utama dalam penelitian dikarenakan selain volume ekspor manggis Indonesia ketiga negara tersebut terbesar, juga karena kekontinyuan permintaan dari tahun ke tahun.

    Negara Pesaing Ekspor Manggis :

    Indonesia merupakan salah satu produsen manggis terbesar di dunia. Selain Indonesia, negara dengan produksi manggis yang cukup tinggi adalah Thiland dan Malaysia. Thailand merupakan negara produsen sekaligus eksportir manggis terbesar di dunia. Hingga saat ini Thailand merupakan pemasok manggis ke berbagai negara yang memiliki pangsa pasar paling besar dibandingkan dengan negara-negara penghasil manggis lainnya, khususnya di Asia Tenggara. Sampai dengan tahun 2000, Thailand telah secara intensif mengembangkan tanaman manggis dengan luas areal panen produktif berkisar antara 10.000 hingga 16.000 hektar. Produktivitas manggis Thailand jauh lebih tinggi dibanding manggis Indonesia.
    Di Thailand, satu hektar lahan bisa menghasilkan 30 ton buah manggis, sedangkan Indonesia baru 9-10 ton. Rata-rata volume ekspornya pun lebih tinggi dibanding Indonesia, di mana tiap tahunnya bisa mencapai 30.000 ton.

    Kendala Ekspor Buah Manggis Indonesia :

    Pemasaran manggis Indonesia terkendala oleh masalah ketidaksinambungan pasokan buah oleh eksportir mengingat manggis dari Indonesia hanya berproduksi pada bulan-bulan tertentu saja (antara Januari hingga Mei), sementara Thailand mampu menjaga pasokan manggisnya dengan melakukan pembelian dari berbagai negara untuk menjaga pasokan manggis di pasar yang sudah dikuasainya. Bahkan manggis dari Indonesia pada saat panen raya seringkali dibeli oleh importir Thailand dengan melalukan labelisasi produknya di kebun petani di berbagai sentra manggis di Indonesia. Hal ini terungkap pada saat dilakukan survey pemasaran manggis di tingkat petani pada saat musim panen raya. Dengan demikian sangat dimungkinkan terjadi produk manggisnya dari Indonesia namun labelnya adalah produk Thailand.

    Kebijakan Re-ekspor oleh Negara Tujuan :

    Kebijakan re-ekspor suatu komoditi di negara tujuan adalah perdagangan kembali komoditi yang sudah dibeli dari suatu negara untuk dijual kembali kenegara lain. Beberapa negara tujuan ekspor manggis Indonesia melakukan kegiatan re-ekspor manggis dari Indonesia ke negara lain. Negara-negara tersebut antara lain Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Ketiganya merupakan negara perdagangan bebas yang menerapkan tarif rendah untuk barang masuk dan memposisikan diri sebagai negara persinggahan dan salah satu pusat perdagangan dunia.
    Negara-negara tujuan yang melaksanakan re-ekspor manggis tersebut merupakan negara-negara di mana volume ekspor manggis Indonesia ke negara tersebut relatif tinggi. Salah satu penyebab tingginya ekspor manggis Indonesia ke negara tersebut adalah tersedianya maskapai penerbangan yang relatif lebih banyak dan lebih murah. Hal tersebut dikarenakan negara transit merupakan negara perdagangan yang dikunjungi oleh banyak negara lain untuk melakukan proses jual beli, sehingga persaingan dari maskapai-maskapai penerbangan yang transit ke negara re-ekspor tersebut relatif ketat. Selain itu, kemudahan masuk barang impor di negara transit juga menjadi salah satu daya tarik ekspor ke negara tersebut. Kemudahan itu dilihat dari rendahnya hambatan tarif maupun hambatan non tarif yang diberlakukan di negara transit.

    Kebijakan re-ekspor manggis yang dilakukan oleh negara-negara tersebut, dalam jangka pendek memberikan keuntungan bagi ekspor manggis Indonesia itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan Indonesia dapat melakukan ekspor dengan volume yang besar ke negara-negara transit dengan biaya transportasi yang rendah. Belum mampunya Indonesia untuk menjangkau negara-negara dengan jarak yang relatif jauh dan biaya transportasi yang tinggi dapat teratasi dengan melakukan perdagangan melalui negara transit tersebut. Namun, untuk jangka panjang hal tersebut dinilai merugikan bagi Indonesia karena Indonesia dapat
    kehilangan jati dirinya sebagai salah satu negara produsen manggis terbesar di dunia. Selain itu, Indonesia juga dapat kehilangan nilai tambah yang seharusnya dapat diperoleh dengan langsung mengekspor manggis ke negara tujuan tanpa melalui negara transit.

    Menanggapi kelebihan dan kekurangan adanya kebijakan re-ekspor di negara tujuan, Indonesia diharapkan dapat melakukan evaluasi terhadap kasus tersebut. Dalam jangka pendek Indonesia masih dapat tertolong dengan melakukan pemasaran melalui negara transit, namun tidak untuk jangka panjang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah dengan meningkatkan kualitas produk ekspor agar dapat memasuki pasar yang lebih luas dan membutuhkan persyaratan khusus. Selain itu infrastruktur transportasi juga perlu ditingkatkan
    mengingat masih mahalnya biaya transportasi yang menghubungkan Indonesia dengan negara tujuan khususnya wilayah Eropa.

    Prospek Pengembangan Ekspor Manggis Indonesia :

    Produksi manggis Indonesia didukung oleh beberapa keunggulan yang dimiliki Indonesia sebagai salah satu produsen manggis terbesar di dunia. Ketersediaan lahan pengembangan manggis tersebar luas di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Begitu juga dengan ketersediaan tenaga kerja bidang pertanian yang potensial untuk dikembangkan di masa datang. Untuk varietas manggis unggulan Indonesia saat ini sebenarnya sudah ada tinggal dikembangkan lebih jauh dan penekanan terhadap sosialisasi pada petani budidaya manggis itu sendiri. Dari segi iklim pun mendukung di mana Indonesia memiliki Iklim tropis yang cocok untuk budidaya tanaman manggis.

    Namun, beberapa kendala yang masih dirasakan sampai saat ini antara lain masih kurang baiknya sistem budidaya manggis yang diterapkan di Indonesia mulai dari pengunaan benih masih bersifat lokal dan belum ada benih unggul yang direkomendasi serta permasalahan infrastruktur. Permasalahan lainnya adalah keterbatasan dalam sarana pengolahan (packing house) sehingga berdampak pada standarisasi dan mutu manggis yang dihasilkan. Selain itu pengetahuan dan keterampilan petani masih kurang dalam membudidayakan dan penanganan pasca panen manggis khususnya dalam kegiatan sortasi, grading, packing,dan processing. Dari segi rantai pemasarannya pun belum efisien, sehingga harga sangat rendah dan keuntungan di tingkat petani umumnya rendah bila dibandingkan dengan keuntungan yang diterima pedagang. Lemahnya promosi komoditi manggis ditingkat nasional dan internasional juga masih menjadi kendala yang penting dalam pengembangan komoditas manggis itu sendiri.

  62. NAMA : INDRA YUDACAHYA
    NPM : 093401008
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Karet
    Produksi dan ekspor karet alam dunia sanpai saat ini masih didominasi
    oleh tiga negara, yaitu Thailand, lndonesia dan Malaysia dengan proporsi masing-masing sebesar 33 persen, 25 persen dan 13 persen dari total produksi dunia, dari (Dradjat dan Nanry, 2000a; waivudi et al.,2001). sampai tahun 1990 Malaysia masih merupakan produsen karet alam terbesar dunia yang disusul Thailand dan Indonesia. Thailand mengambil alih posisi tersebut yang diikuti oleh Indonesia dan Malayqia (Tabel 8). Setelah Malaysia yang secara tadisional merupakan produsen karet alam melalukan konversi ke tanaman yang lebih prospektif, utamanya kelapa sawit. sejak tahun 1999 muncul negara pesaing baru, yaitu Vietnam. Selama 1997-2002 laju ekspor karet negara ini mencapai lebih dari 21,1 persen, di mana volume dan nilai ekspor karet tahun 2002 mencapai lebih dari 448 ribu ton dan us $-229juta. Laju ekspor karet alam dari vietnam yang tinggi ini telah menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan di pasar dunia,sehingga harga karet alam di pasar dunia cenderung untuk terus-menurun.
    Produk karet alam Indonesia yang diekspor terutama terdiri atas karet olahan berupa smoke sfteet, SIR 10 dan-SIR 20. penggunaan karet olahan sebagian besar ditujukan untuk industri ban dan komponen-komponen (72 persen), dengan negara importir utama adalah Amerika Serikat (25 persen), Jepang (14 persen), China (9persen), Korea Selatan (6 persen) dan Jerman (5 persen) (Wahyudi et al., 2001a). Dalam tahun 1997 stok karet alam dunia dikuasai oleh negara-negara konsumen (Dradjat dan Nancy,2000a).

    Tabel 8. Perkembangan volume dan Nilai Ekspor Komoditas Karet dari Negara-negara Pesaing Utama,1997-2002
    MALAYSIA THAILAND VIETNAM
    Tahun Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai
    (ton) (x000 US $) (ton) (x000 US $) (ton) (x000 US $)
    1997 898.700 997.000 1.550.964 1.622.890 184.196 190.541
    1998 860.000 633.638 1.582.339 1.123.452 181.000 127.470
    1999 872.184 521.201 1.657.389 986.268 263.364 146.207
    2000 699.000 621.000 2.003.620 1.284.885 273.000 166.022
    2001 740.427 427.149 1.864.996 1.058.810 308.000 165.972
    2002 808.900 580.813 2.053.817 1.415.917 448.600 229.800
    Laju ( %) -1,51 -6,06 6,17 0,68 21,18 6,72

    Ada tujuh negara yang menjadi tujuan utama ekspor smoke sheet Indonesia, yaitu Amerika Serikat, China, Jepang, Federasi Rusia, Jerman, Singapura dan Belgia. Volume dan nilai ekspor smoke sheet Indonesia selama 1995-2002 menunjukan penurunan dengan laju 1,6 persen dan 8,3 persen. Dalam tahun 1995 nilai ekspor komoditas ini mencapai US $ 31,9 juta (tabel 9).
    Tabel 9. Perkembangan volume dan Nilai Ekspor Komoditas Karet menurut Jenis Produk di Indonesia, 1995-2002
    Smoked Sheets SIR 10 SIR 20
    Tahun Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai
    (ton) (x000 US $) (ton) (x000 US $) (ton) (x000 US $)
    1995 61.882 93.615 81.667 119.750 1.083.955 1.595.482
    1996 72.011 103.407 73.118 98.454 1.170.262 1.532.557
    1997 58.266 64.536 72.602 79.089 1.208.322 1.271.891
    1998 45.119 33.833 60.280 40.425 1.457.735 983.694
    1999 58.093 36.687 68.856 39.845 1.290.859 716.225
    2000 42.484 29.171 62.909 41.409 1.211.362 768.523
    2001 32.676 19.902 59.730 33.512 1.273.208 666.413
    2002 44.194 31.909 61.654 42.855 1.317.298 879.291
    Laju ( %) -1,59 -8,31 -3,48 -10,72 3,62 6,41
    Sumber: Statistik Perdagangan Luar Negeri, Ekspor, BPS.

    Ekspor SIR 10 Indonesia sebagian besar ditujukan ke tujuh negara, yaitu Amerika Serikat, Luxemburg, China, Belgia, Brazil,Jerman dan Singapura. Selama 1995-2002 volume dan nilai ekspoe SIR 10 menunjukkan penurunan dengan laju 3,5 persen dan 10,7 persen. Dalam tahun 1995 nilai ekspor sheet mencapai US $ 119,7 juta, dan tahun 2002 menurun drastis menjadi US $ 42,9 juta.
    Ekspor SIR 20 Indonesia sebagian besar ditujukan ke tujuh negara, yaitu Amerika Serikat, Jepang, China, Singapura, Korea Selatan, Jerman dan Kanada. Selama 1995-2002 nilai ekspor SIR 20 menunjukkan penurunan dengan laju 6,4 persen, sementara volume ekspor meningkat dengan laju 3,3 persen. Dalam tahun 1995 nilai ekspor SIR 20 Indonesia sebesar US $ 1.595,5 juta, dan angka ini menurun menjadi US $ 879,3 juta pada tahun 2002.
    Dari ulasan diatas terlihat bahwa selama 1995-2002 harga ekspor karet alam Indonesia di pasar dunia mengalami penurunan. Penurunan itu terjadi akibat kelebihan pasokan pada tingkat permintaan dunia yang relatif stabil. Namun tingkat harga ini diperkirakan akan kembali meningkat, setelah mengalami shock pada bulan September 1999 (Dradjat dan Nancy, 200b). Meskipun demikian, penurunan harga ini telah mendorong produsen karet alam dunia untuk melakukan kesepakatan pengendalian produksi (Wahyudi et al., 2001).

  63. nama: taufik hidayatulloh
    NPM: 093401015
    ekonomi pembangunan

    PERKEMBANGAN PASAR DAN PROSPEK AGRIBISNIS KARET
    DI INDONESIA
    Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor Karet Indonesia selama 20 tahun terakhir terus menunjukkan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US$ 2.0 milyar, dan diperkirakan nilai ekspor karet pada tahun 2006 akan mencapai US $ 4,2 milyar (Kompas, 2006). Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet milik rakyat, dan hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi karet secara nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet. Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatakan pendapatan petani melalui perluasan tanaman karet dan peremajaaan kebun bisa merupakan langkah yang efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan kebun karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif. Pada makalah ini disajikan, (i) perkembangan pasar komoditi karet alam dilihat dari permintaan dan penawaran karet alam sampai dengan tahun 2035, dan (ii) prospek agribisnis karet dilihat dari klon-klon karet rekomendasi dengan potensi produksinya, kebutuhan investasi dan kelayakan finansial pengusahaan 3kebun karet, serta hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam rangka pengembangan agribisnis karet di Indonesia.
    PERKEMBANGAN PASAR KARET ALAM
    Karet merupakan kebutuhan yang vital bagi kehidupan manusia seharihari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.
    Secara fundamental harga karet alam dipengaruhi oleh permintaan (konsumsi) dan penawaran (produksi) serta stock/cadangan, dan masingmasing faktor tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang terlihat pada Gambar 1.

    a. Pertumbuhan Konsumsi Karet Alam
    Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis, walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980-an dan krisis ekonomi Asia pada tahun 1997/1998. Selama tahun 1980-2005 konsumsi karet alam mengalami pertumbuhan yang menurun dan stagnan di Eropa, dan di
    Jepang pada periode 1990 juga stagnan, akan tetapi terjadi pertumbuhan yang tinggi seperti China dan negara berkembang lainnya (IRSG, 2004a). Gambaran keseluruhan mengenai perkembangan konsumsi karet alam untuk tahun 1980-2005 dapat dilihat pada Tabel 1.

    Sumber: Anwar (2005).
    Gambar 1. Faktor-faktor Fundamental yang Mempengaruhi Harga Karet Alam
    Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir, terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang relatif stagnan. Menurut International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan. Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti Bridgestone, Goodyear dan Michelin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035. Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam. Produksi karet alam pada tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1% dan 5Malaysia -2%. Pertumbuhan produksi Indonesia ini dapat dicapai melalui peremajaan atau penaman baru karet yang cukup luas, dengan perkiraan produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta ton

    Tabel 1. Perkembangan Permintaan Karet Alam berdasarkan Negara/Regional
    Konsumen, Tahun 1980-2005
    Negara
    /Regional Konsumsi (1000 ton), tahun Pertumbuhan pertahun (%)
    Konsumen 1980 1990 2000 2005 1980-
    1990 1990-
    2000 2000-
    2005
    Amerika Serikat 585 808 1191 1330 3.81 4 4.74 2.33

    Eropa 1356 1256 1483 1558 -0.74 1.81 1.01

    China 340 600 1080 2085 7.65 8.00 18.61

    Jepang 427 677 752 796 5.85 1.11 1.17

    Lainnya 1062 1839 2834 2976 7.32 5.41 1.00
    Total 3770 5180 7340 8745 3.74 4.17 3.83

    b. Pertumbuhan Produksi Karet Alam
    Penawaran karet alam dunia meningkat lebih dari tiga persen per tahun dalam dua dekade terakhir, dimana mencapai 8.81 juta ton pada tahun 2005 (Tabel 2). Pertumbuhan tersebut berasal dari negara produsen Thailand, Indonesia, Malaysia, India, China dan lainnya. Produksi karet Thailand menjadi dua kali lipat selama periode 1980-1990 dan 1990-2000. Juga India dan China pada periode yang sama akan tetapi negara tersebut masih sebagai net importir untuk karet alam. Malaysia sejak tahun 1991 tidak lagi menjadi produsen utama karet alam dunia tetapi digeser oleh Thailand, sementara itu Indonesia tetap sebagai negara produsen kedua. Thailand memproduksi lebih dari 33% karet alam dunia pada tahun 2005, sementara Indonesia dengan pangsa produksi 26% dan Malaysia tinggal 13%.
    Tabel 2. Perkembangan Produksi Karet Alam berdasarkan Produsen Utama

    Negara
    /Regional produksi (1000 ton), tahun Pertumbuhan pertahun (%)
    produsen 1980 1990 2000 2005 1980-
    1990 1990-
    2000 2000-
    2005
    Thailand 501 1271 2346 2900 17.08 9.4 4.72

    Indonesia 1020 1262 1556 2270 2.64 2.59 9.18

    Malaysia 1530 1291 615 1132 -1.74 -5.82 16.81

    India 155 324 629 772 12.11 10.46 4.55

    Cina 113 264 445 575 14.85 7.62 5.84
    Lainnya 526 798 1219 1164 5.75 5.86 -0.90
    Total 3845 5210 6810 8813 3.94 3.41 5.88

    c. Keseimbangan Penawaran dan Permintaan Karet Alam Dunia
    Bedasarkan data IRSG (2004a), ketakseimbangan (imbalance) penawaran dan permintaan karet alam mulai terlihat sejak tahun 1900-an (surplus/defisit dari penawaran karet alam), dan berpengaruh terhadap cadangan (stock) karet alam dunia. Secara teoritis, harga diharapkan akan bereaksi dengan ketakseimbangan penawaran dan permintaan. Dimana kenaikan harga terjadi karena defisit penawaran dan turunnya harga karena surplus penawaran, akan tetapi hipotesis tersebut tidak didukung kenyataan di lapangan seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2. Hal tersebut tentunya akan menyulitkan bagi pelaku pasar dalam mengambil keputusan. Menurut Ng (1986), tidak berpengaruhnya surplus/defisit pasokan dan cadangan terhadap harga karet dunia, disebabkan oleh adanya imperfect knowledge terhadap penawaran dan permintaan global karet alam pada waktu tertentu (adanya senjang waktu karena masalah akses informasi) serta adanya kegiatan spekulasi dan hedging pada kegiatan pemasaran karet alam dunia seperti forward purchase, future contract, longterm arrangement, dan sebagainya.

    d. Perkembangan Harga Karet Alam
    Karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya relatif lebih stabil dibandingkan dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik yang umumnya diproduksi dan dikonsumsi negara industri, harganya cenderung naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari negara produsen. Hal ini sangat berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi negara konsumen. Untuk menghindari kerugian karena gejolak harga karet alam, pasar berjangka (future trading) karet menyediakan sarana dan mekanisme lindung nilai (hedging). Pasar berjangka karet alam yang saat ini menjadi panutan/pedoman dunia adalah Singapura (SICOM) dan Jepang (TOCOM), serta yang relatif baru di Thailand (AFET) dan China (SHFE). Sedangkan pasar fisik (physical/spot) karet alam, selain di Singapura dan Jepang juga terdapat di negara produsen seperti Malaysia dan Thailand serta di negara-negara konsumen seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Dari 35 mutu karet 8alam yang diperdagangkan dunia secara fisik, hanya tiga mutu (RSS 1, RSS 3, TSR 20) yang dijadikan mata dagangan di pasar berjangka karet. Pasar atau bursa berjangka disebut juga pasar yang terorganisasi dan harga penyerahan hingga 12 bulan ke depan yang terbentuk disebarluaskan. Pada pasar fisik umumnya hanya harga hingga penyerahan tiga bulan kedepan yang terbentuk (BPEN, 2003). Pada pasar karet global, Singapura dan Kuala Lumpur dikenal sebagai pasar dari kawasan produsen. Sementara itu London, New York dan Tokyo sebagai pasar dari kawasan konsumen. Karena perbedaan waktu antara Tokyo (Jepang) dengan negara-negara produsen utama karet hanya sekitar 1- 2 jam, sehingga pasar dari dua kawasan tersebut memperlihatkan pergerakan yang sama. Jepang (Tokyo dan Osaka) sebagai salah satu negara konsumen utama karet alam, kadang-kadang menstimulasi pasar di negara konsumen (Yoko, 2004). Beberapa faktor yang mempengaruhi tren harga karet alam adalah: pasar luar negeri, permintaan dan penawaran (ekspor dan cadangan), situasi politik dan ekonomi internasional, tren nilai tukar, harga karet sintetik (harga SBR dan harga minyak bumi), pertumbuhan ekonomi global (konsumen utama seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan China) dan industri otomotif. Walaupun relatif kecil, harga karet sintetik juga cenderung fluktuatif seperti karet alam (Gambar 3). Sebelum tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik disebabkan oleh kenaikan biaya produksi dan inflasi, setelah tahun 1990 fluktuasi harga karet sintetik lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan harga minyak mentah. Isu utama yang berhubungan dengan industri karet sintetik adalah harga minyak mentah, dan dampaknya terhadap harga dan permintaan karet sintetik. Menurut IRSG (2004b), apabila terjadi kenaikan atau penurunan harga minyak mentah maka dampaknya terhadap industri hilir pada pasar petrokimia, dalam hal ini adalah pasar butadiene dan stryrene, dan dampak tersebut baru terlihat 2-3 bulan kemudian.

  64. ANALISIS PERMINTAAN PENAWARAN KOMODITAS GANDUM
    NAMA : RINI WULANSARI
    NPM : 093401019
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Gandum merupakan komoditi strategis yang dapat menjadi bahan pangan alternatif bagi beras. Gandum memiliki kandungan karbohidrat yang tidak jauh berbeda jika dibanding dengan komoditas serealia lain seperti jagung dan beras sedangkan kandungan proteinnya lebih tinggi dari jagung dan beras. Bahan pangan dari gandum yang dikenal dengan tepung terigu sudah menjadi sumber bahan pangan alternatif yang merata bagi penduduk Indonesia dari kota sampai ke pelosok desa. Konsumsi gandum di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat disebabkan oleh adanya pertambahan jumlah penduduk dan perubahan pola makan masyarakat yang telah bergeser ke makanan yang berbasis tepung terigu seperti mie instan dan roti.

    Meskipun gandum dapat menjadi bahan pangan alternatif namun ketersediaannya yang tidak mencukupi justru malah menjadi permasalahan. Hingga saat ini, untuk memenuhi kebutuhan gandum dalam negeri Indonesia mengimpor gandum dari negara lain. Indonesia merupakan negara pengimpor gandum terbesar ke empat di dunia dengan volume impor mencapai 4,9 juta ton pada tahun 2008.

    Kondisi tersebut merupakan permasalahan bagi agribisnis gandum di Indonesia, karena konsumsi gandum dalam negeri terus meningkat sementara itu Indonesia sendiri belum mampu memenuhi kebutuhan gandum domestik. Jika volume impor gandum terus meningkat maka hal ini akan mengurangi devisa negara. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia tidak memiliki tanaman gandum meskipun produk olahan gandum sudah sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Saat ini Industri pengolahan gandum di Indonesia telah berkembang. Sementara itu gandum yang diolah merupakan gandum impor. Sejak tahun 2001 pemerintah mulai mengembangan agribisnis gandum lokal dan banyak penelitian telah membuktikan bahwa tanaman gandum dapat dikembangkan di Indonesia. Gandum yang dihasilkan oleh Indonesia dikenal dengan gandum lokal.

    Manfaat Gandum
    Manfaat gandum sebagai bahan pangan sangat beragam terutama dalam diversifikasi pangan seperti makanan ringan roti, mi, biscuit, kue dan lain-lain. Sebagai bahan pangan gandum, gandum telah cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia. Manfaat gandum yang beragam merupakan keunggulan yang dimiliki oleh gandum. Salah satu pangan olahan yang berasal dari gandum yang cukup dikenal yaitu roti. Ada dua jenis roti yang berasal dari gandum yaitu roti putih dan roti gandum utuh.

    Namun, saat ini jenis roti yang sudah cukup dikenal oleh pasar yaitu roti putih, sedangkan roti gandum utuh belum banyak dikenal oleh masyarakat. Sebenarnya, roti gandum dan roti putih tidak jauh berbeda, keduanya berasal dari gandum. Yang membedakan roti putih dengan roti gandum utuh yaitu roti putih terbuat dari tepung terigu, sedangkan roti gandum dari tepung gandum. Tepung terigu merupakan hasil penggilingan biji gandum yang paling dalam (endosperm), sedangkan tepung gandum merupakan hasil penggilingan biji gandum utuh yang hanya dibuang kulit luarnya saja, sehingga kandungan seratnya lebih tinggi dibandingkan dengan tepung terigu putih. Itu sebabnya makan roti gandum akan terasa lebih cepat kenyang dan dapat menahan rasa lapar lebih lama.

    Roti gandum utuh memiliki keunggulan dibandingkan roti putih biasa. Beberapa keunggulan roti yang terbuat dari tepung gandum utuh yaitu mengandung serat pangan, antioksidan, fitoestrogen (baik untuk mencegah penyakit jantung dan aneka kanker), vitamin dan mineral yang jauh lebih banyak dibandingkan roti putih. Selain memiliki kandungan serat, vitamin, dan gizi yang tinggi roti gandum juga memiliki beberapa manfaat diantaranya :

    • Dengan kandungan serat yang tinggi roti gandum dapat membantu menghindari kelebihan lemak, lemak jenuh, dan kolesterol; gula, dan natrium serta dapat membantu mengontrol berat badan.
    • Roti gandum sangat baik bagi penderita sembelit karena serat pangan dapat melembekkan feses.

    Dari sudut pandang gizi, roti gandum utuh memiliki nilai gizi yang lebih baik dibandingkan roti putih. Selain itu, roti gandum juga memiliki kandungan gizi yang lebih unggul dibandingkan dengan roti putih. Perbandingan kandungan gizi roti putih dengan roti gandum dapat dilihat pada tabel berikut :

    No Zat Gizi Roti Putih Roti Gandum
    1
    2
    3
    4
    5
    6
    7
    8
    9
    10
    11
    12
    13
    14
    15
    16
    17
    18
    19
    20
    21
    22 Energi (kkal)
    Protein (g)
    Total lemak (g)*
    Karbohidrat (g)
    Kalsium (mg)
    Air (g)
    Serat pangan (g)*
    Besi (mg)*
    Magnesium (mg)*
    Fosfor (mg)*
    Kalium (mg)*
    Seng (mg)*
    Tembaga (mg)*
    Mangan (mg)*
    Selenium (mkg)*
    Vitamin B1 (mg)*
    Vitamin B2 (mg)*
    Niasin (mg)*
    Asam pantotenat (mg)*
    Vitamin B6 (mg)*
    Asam folat (mkg)*
    Vitamin E (mg)* 248,00
    8,00
    0,98
    50,00
    10,00
    40,00
    2,70
    1,20
    22,00
    106,00
    107,00
    0,70
    0,10
    0,70
    33,90
    0,10
    0,04
    1,30
    0,40
    0,04
    26,00
    0,06 249,00
    7,90
    1,90
    49,70
    20,00
    40,00
    12,20
    3,60
    124,00
    332,00
    340,00
    2,80
    0,40
    4,10
    70,70
    0,50
    0,10
    5,70
    0,90
    0,30
    43,00
    1,00

    Produksi Gandum Dunia
    Volume produksi gandum dunia pada periode 2003/2004 hingga 2007/2008 berfluktuasi. Produksi gandum dunia hingga periode 2007/2008 belum dapat mencukupi seluruh jumlah kebutuhan gandum dunia. Selama lima tahun periode, dari periode 2003/2004 hingga 2007/2008 dunia mengalami defisit gandum, hanya pada periode tahun 2004/2005 saja seluruh kebutuhan gandum dunia dapat tercukupi dan mengalami surplus sebesar 10 juta ton. Kondisi tersebut akan menjadi masalah bagi dunia khususnya bagi Indonesia yang saat ini sepenuhnya masih tergantung pada impor. Jika beberapa tahun ke depan Indonesia masih mengimpor seluruh kebutuhan gandum maka hal ini akan menjadi masalah besar bagi Indonesia karena kondisi tersebut sudah pasti terus semakin mengurangi devisa negara. Perkembangan produksi dan permintaan gandum dunia dapat dilihat pada tabel berikut :

    No Tahun Produksi Permintaan Defisit
    1
    2
    3
    4
    5 2003/2004
    2004/2005
    2005/2006
    2006/2007
    2007/2008 554.000
    625.000
    620.851
    596.304
    610.883 585.000
    615.000
    624.000
    616.000
    619.000 (31.000)
    10.000
    (3.149)
    (19.696)
    (8.117)

    Tingginya permintaan gandum dunia ini menunjukkan besarnya konsumsi gandum sebagai bahan pangan karbohidrat non beras. Gandum mempunyai keunggulan yaitu mengandung protein yang mempunyai sifat khas gluten yang tidak dimiliki tanaman serealia lain seperti padi dan jagung, disamping itu tanaman gandum bisa dikembangkan menjadi tepung sementara padi dan jagung dimakan sebagai biji dan kurang dikembangkan, kebutuhan gandum terus meningkat terutama untuk diversifikasi pangan.

    Eksportir Gandum Dunia
    Data ekspor gandum oleh negara-negara eksportir gandum di dunia menunjukan bahwa Amerika menempati urutan pertama sebagai Negara pengekspor dengan volume ekspor terbesar diikuti oleh Kanada diposisi kedua. Sebagai negara penghasil gandum terbesar di dunia, Uni Eropa menempati posisi ketiga sebagai negara pengekspor terbesar di dunia. Dari beberapa Negara eksportir di dunia, negara yang merupakan eksportir gandum utama bagi Indonesia adalah Amerika, Kanada dan Australia. Negara utama pengekspor gandum di dunia dapat dilihat pada tabel berikut :

    Negara Volume
    2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
    Amerika
    Kanada
    Uni Eropa
    Australia
    Rusia
    Ukraina
    Argentina
    Kazakhstan
    Cina
    Brazil
    Total Dunia 27.291
    16.018
    15.694
    16.012
    10.664
    6.461
    9.563
    3.817
    1.397
    807
    116.756 24.725
    19.434
    13.873
    8.728
    10.790
    3.366
    10.500
    8.089
    2.783
    4
    111.201 34.403
    16.116
    12.228
    7.470
    12.220
    1.236
    10.000
    8.181
    2.835
    767
    114.845 27.216
    18.500
    18.000
    14.000
    14.000
    9.000
    7.000
    5.200
    2.000
    1.200
    123.181

    Importir Gandum Dunia
    Negara importir gandum terbesar di dunia yang berada diposisi pertama yaitu Mesir, diikuti oleh Brazil dan Algeria diposisi kedua dan ketiga. Indonesia menempati posisi ke empat sebagai negara importir terbesar di dunia dengan volume impor yang semakin meningkat selama 4 tahun terakhir yaitu pada periode 2005/2006 hingga 2008/2009. Jepang merupakan negara importir terbesar kelima setelah Indonesia diikuti oleh Uni Eropa diposisi keenam. Uni Eropa selain sebagai negara penghasil gandum terbesar di dunia dan sebagai eksportir ketiga di dunia juga merupakan negara pengimpor gandum terbesar keenam didunia. Negara pengimpor gandum di dunia dapat dilihat pada tabel berikut :

    Negara Volume
    2005/2006 2006/2007 2007/2008 2008/2009
    Mesir
    Brasil
    Algeria
    Indonesia
    Jepang
    Uni Eropa
    Korea
    Iran
    Maruko
    Irak
    Total Dunia 7.771
    6.576
    5.469
    4.519
    5.469
    6.758
    3.884
    380
    2.418
    4.878
    110.745 7.300
    7.624
    4.879
    4.640
    5.747
    5.137
    3.884
    1.100
    1.801
    3.000
    113.247 7.700
    7.000
    5.887
    4.770
    5.701
    6.932
    3.439
    200
    4.191
    3.409
    112.116 7.800
    7.000
    5.600
    6.700
    5.500
    5.000
    4.600
    4.500
    4.000
    3.700
    120.832

    Impor Gandum Indonesia
    Pada tahun 1970 jumlah impor tepung gandum baru sekitar 557.000 ton. Pada tahun 1971 jumlah tersebut naik menjadi 620.000 ton yang terdiri dari 532.000 ton tepung gandum dan 88.000 ton gandum. Jumlah impor gandum terus meningkat cukup tajam setiap tahunnya (Megiera 1981 dalam Dirjen Tanaman Pangan 2008). Pada tahun 2000 jumlah impor gandum Indonesia mencapai 4.069.000 ton. Jumlah tersebut sempat mengalami penurunan pada tahun 2001 menjadi sebesar 3.677.000 ton. Namun mulai tahun 2002 hingga 2008 jumlah impor kembali meningkat setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara importir terbesar keempat di dunia. Kebutuhan gandum domestik setiap tahun meningkat disebabkan oleh semakin berkembangnya makanan berbasis tepung terigu. Setiap tahunnya rata-rata kebutuhan gandum meningkat sebesar 9,33 persen. Peningkatan volume impor gandum tersebut akan terus mengurangi devisa negara. Pada Tahun 2008 impor Indonesia mencapai volume tertinggi sebesar 4,9 juta ton dengan nilai impor sebesar US$ 697.546.000. Rata-rata nilai impor Indonesia selama tahun delapan terakhir sebesar US$ 630.114.111.

    Selama ini pasokan kebutuhan gandum nasional sebagian besar didatangkan dari Australia, Kanada, Amerika Serikat, Cina dan Turki. Kebutuhan gandum dalam negeri 60 persen didatangkan dari Australia. Adapun negara utama pengekspor gandum ke Indonesia dapat dilihat pada tabel berikut.

    Negara 2003 2004 2005 2006 2007
    Australia
    Kanada
    Amerika
    Cina
    Turki 1.396
    358
    271
    133
    21 3.144
    686
    113
    164
    24 2.659
    890
    124
    54
    46 3.113
    1.006
    219
    80
    63 1.685
    1.489
    998
    524
    173

    Berdasarkan data di atas dapat kita lihat bahwa negara utama pengekspor gandum ke Indonesia adalah Australia. Rata-rata volume ekspor gandum Australia ke Indonesia selama tahun 2003-2007 yaitu sebesar 2.399.892,78 ton. Rata-rata volume impor gandum oleh Indonesia sejak tahun 2003 hingga 2007 adalah 4.565.800 ton. Dari jumlah rata-rata volume impor tersebut dapat kita lihat bahwa 52,56 persen kebutuhan gandum Indonesia didatangkan dari Australia.

  65. ANALISIS PERMINTAAN PENAWARAN KOMODITAS TEH INDONESIA
    NAMA : RIDWAN HERDIANTO
    NPM : 093401024
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN

    Teh merupakan bahan minuman penyegar yang sudah lama dikenal. Beberapa kandungan senyawa kimia dalam teh dapat memberi kesan warna, rasa, dan aroma yang memuaskan peminumnya. Jadilah teh minuman penyegar yang nikmat.

    Berbekal kenyataan lama bahwa teh dipakai sebagai obat dan sarana meditasi dalam upacara ritual keagamaan, penelitian dalam dasawarsa terakhir abad 20 ini menunjukkan bukti bahwa teh dapat menjaga kesehatan tubuh manusia. Sebagai sarana kesehatan kebiasaan minum teh sehari-hari akan lebih bermanfaat daripada dikonsumsi secara insidentil sebagai sarana pengobatan, oleh karena itu, teh lebih cocok diarahkan sebagai minuman fungsional daripada sebagai obat.

    Karena kondisi tanah dan iklim lingkungannya, hampir 100% tanaman teh di Indonesia adalah C. sinensis varietas assamica . Pucuk teh yang dihasilkan tanaman tersebut 80% diolah menjadi teh hitam, sedangkan sisanya diolah menjadi teh hijau. Teh hitam terutama diproduksi oleh perkebunan besar negara dan sebagian perkebunan besar swasta, sedangkan teh hijau terutama diproduksi oleh pabrik teh swasta yang menerima pasokan bahan baku dari perkebunan teh rakyat. Sebagian perkebunan besar swasta juga memproduksi teh hijau. Hampir seluruh produksi teh hitam Indonesia diekspor dan sebaliknya hampir seluruh teh hijau dikonsumsi di dalam negeri setelah diolah lanjut menjadi teh wangi. Beberapa tahun terakhir teh hijau pun sudah memasuki pasar ekspor.

    Tebel perkembangan produksi teh Indonesia tahun 1994 2003
    | Tahun | Produksi |% |
    | | (Ton) |Naik/Turun |
    | 1994 | 128.289 | – |
    | 1995 | 143.675 | 11,99 |
    | 1996 | 166.256 | 15,71 |
    | 1997 | 153.619 | -7,60 |
    | 1998 | 166.825 | 8,59 |
    | 1999 | 161.003 | -3,48 |
    | 2000 | 157.371 | -2,25 |
    | 2001 | 172.897 | 9,89 |
    | 2002 | 172.792 | -0,06 |
    | 2003 | 168.000 | -2,77 |

    Data statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia. Masalah tersebut disebabkan karena komposisi produk teh yang diekspor Indonesia kurang mengikuti kebutuhan pasar, negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia kurang ditujukan ke negara-negara pengimpor teh yang memiliki pertumbuhan impor teh tinggi, dan daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia yang masih lemah. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekspor teh Indonesia, diperlukan upaya untuk meningkatkan komposisi produk teh melalui peningkatan ekspor teh Indonesia dalam bentuk produk-produk hilir dan teh hijau curah. Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengaruh distribusi pasar. Pada aspek daya saing, posisi daya saing teh Indonesia lebih lemah dibandingkan negara-negara produsen teh lainnya, kecuali Bangladesh.

    Indonesia merupakan Negara produsen teh curah pada urutan ke lima di dunia setelah India, Cina, Srilangka dan Kenya. Pada tahun 2002 total produksi the Indonesia mencapai 172.790 ton atau 5,7 persen dari total produksi the dunia yang sebesar 3.062.632 ton (International tea commitee). Sebagian besar produksi the Indonesia (65%) ditujukan untuk pasar ekspor. Volume ekspor teh Indonesia sebagian besar (94%) masih dalam bentuk the curah.

    Table ekspor impor the Indonesia tahun 1994-2003 (Ton)
    | Tahun | Volume | Volume |
    | | Ekspor |Impor |
    | 1994 | 84.916 | 100 |
    | 1995 | 79.227 | 50 |
    | 1996 | 101.532 | 50 |
    | 1997 | 66.843 | 2300 |
    | 1998 | 67.219 | 2300 |
    | 1999 | 97.847 | 1600 |
    | 2000 | 105.581 | 2200 |
    | 2001 | 99.721 | 3800 |
    | 2002 | 100.185 | 6000 |
    | 2003 | 88.175 | 4700 |

    Penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa, merupakan pasar yang potensial apabila konsumsi teh per kapitanya dapat ditingkatkan. Sebab saat ini, penduduk Indonesia baru mengkonsumsi teh hanya 330 gram per kapita per tahun, jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi per kapita negara-negara produsen lainnya. Seperti Srilangka 1.290 gram per kapita per tahun, Maroko 1.220 gram per kapita per tahun, India 660 gram per kapiota per tahun, Irlandia 3.230 gram per kapita per tahun, dan Qatar 2.220 gram per kapita per tahun.

    Di zaman yang teknologi makin canggih ini sangat mempengaruhi perubahan pada setiap aspek. Terutama aspek perindustrian, baik dalam produksi ataupun pemasarannya. Hal inilah yang memicu semua pasar bersaing dengan keteknologian yang ada agar pasar mampu memperluas daya jualnya, menambah laba pada perusahaan, serta lebih pada efektif dan efisien pada sistem pasar tersebut.
    Hal inilah yang mampu mengubah harga harga teh produksi Indonesia menyamakan di pasaran internasional yang kini masih jauh dari harga produk India yang mencapai 3 dolar AS/kg.

    Dengan cara itulah Indonesia menunjukkan mampu mengikuti perkembangan zaman dan siap bersaing dengan internasional. Meski jauh dari harapan namun hasil perkebunan dan SDA lainnya yang ada di Indonesia ini patut dibanggakan. Pada dasarnya iklim yang mempengaruhi sangat menunjang SDA di Indonesia sehingga hasilnya lebih unggul daripada produk luar negeri.

  66. NAMA : DENI SOPIAT
    NPM : 093401012
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    KETERKAITAN PENAWARAN KELAPA UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN
    INDUSTRI MINYAK KELAPA DAN INDUSTRI MAKANAN-MINUMAN
    Model Ekonometrika yang dibangun dalam studi empiris ini telah mampu menjelaskan prilaku
    penawaran kelapa dan permintaan kelapa untuk industri minyak kelapa, industri makanan-minuman, industri
    kosmetik dan permintaan rumah tangga. Perilaku perkembangan areal kelapa pada ketiga perkebunan (Rakyat,
    BUMN dan Swasta Besar) menunjukkan respon yang elastis terhadap harga kompetitornya.Respon produktivitas kelapa menunjukkan sangat tidak elastis terhadap harga komoditasnya, termasuk kompetitornya, serta harga pasar ekspor. Namun demikian peubah-peubah harga cukup signifikan untuk melihat pengaruhnya terhadap respon produktivitas kelapa. Permintaan kelapa untuk industri minyak kelapa, industri makanan, industri domestik dan rumah tangga sangat respon terhadap perubahan harga komoditas kelapa dan harga substitusi tidak langsung (minyak sawit).

    KETERKAITAN PENAWARAN KELAPA UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN
    INDUSTRI MINYAK KELAPA DAN INDUSTRI MAKANAN-MINUMAN
    (RELATIONSHIP BETWEEN COCONUT SUPPLY TO FULFILL OIL COCONUT
    AND FOOD-BEVERAGES INDUSTRIES DEMAND)

    I. PENDAHULUAN
    Menyongsong abad ke-21, upaya memacu pembangunan nasional terus dilakukan
    mengingat perubahan yang terjadi baik di tingkat regional maupun global sudah sedemikian
    cepat dan dinamis, sehingga tidak ada negara yang tidak terpengaruh oleh perubahan yang
    terjadi di belahan bumi lainnya. Perubahan yang terjadi ditandai oleh kecenderungankecenderungan, yakni arus globalisasi ekonomi dengan sistem ekonomi pasar yang terbuka dan timbulnya kekuatan-kekuatan regional yang mengarah kepada kepentingan kawasan. Perdagangan internasional yang bernuansa global akan mengakibatkan persaingan yang sangat tajam terutama yang terjadi dengan produk yang sama berasal dari negara lain di pasardomestik maupun pasar internasional. Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang memadai, terutama untuk mendukung sektor pertanian. Salah satu komoditas yang telah memasyarakat dan dapat dijadikan produk unggulan adalah kelapa, memiliki areal tanaman seluas 3,7 juta ha, merupakan arela terluas didunia,dengan produksi sekitar 2,7 juta ton (setara kopra).
    Hal ini bukan saja merupakan kekayaan, tetapi bisa dijadikan salah satu sumber kekuatan
    perekonomian nasional. Produk olahan kelapa Indonesia, hasilnya telah dirasakan oleh
    masyarakat, terutama dalam penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat.
    Permintaan pasar terhadap produk kelapa dan produk ikutannya diperkirakan akan terus
    meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.
    Sebagian besar kelapa diolah menjadi kopra yang selanjutnya diproses menjadi minyak
    goreng, selain itu dikonsumsi oleh masyarakat, dan input industri makanan minuman, dan inputindustri kosmetik. Posisi industri minyak goreng kelapa semakin menurun dalam perdagangandomestik maupun ekspor. Pada saat ini perdagangan minyak kelapa di pasar domestik danpasar ekspor bersaing dengan minya sawit sebagai salah satu komoditas substitusi. Adapunpermintaan kelapa segar untuk dikonsumsi masyarakat terus meningkat, hingga mempengaruhiperuntukkan bahan baku minyak goreng kelapa seperti deseccated coconut, santan, gula kelapa,nata de coco, berbagai produk makanan dari daging kelapa, serat sabut kelapa, mebel kayukelapa dan produk kerajinan (handicraft), pencuci dan penyubur rambut, penghalus muka, danlainnya. Potensi produksi kelapa yang cukup besar dan teknologi pengolahan produk kelapalainnya yang semakin dikuasai, akan memberi peluang diversifikasi agroindustri di Indonesia.Keterkaitan penawaran kelapa untuk memenuhi permintaan industri kelapa, industri makanan –
    minuman, industri kosmetik dan permintaan rumah tangga indonesia .
    Hasil studi yang menganalisis respon akibat perubahan harga input dan faktor ekogen
    lainnya, respon produktivitas akibat perubahan harga input, harga kompetitif dan peubah
    eksogen lainnya, permintaan kelapa untuk bahan baku minyak kelapa, konsumsi rumah tangga,bahan baku industri makanan dan minuman dan bahan baku industri kosmetik, disajikansebagai karya tulis ilmiah tentang mengukur parameter keterkaitan dan elastisitas penawarankelapa untuk memenuhi permintaan industri minyak kelapa, industri makanan-minuman,industri kosmetik, dan permintaan rumah tangga di Indonesia.

    II. METODE PENELITIAN
    2.1. Kerangka Pemikiran
    Tanaman kelapa saat ini masih menempati areal terluas dibandingkan dengan tanaman
    perkebunan lainnya seperti karet dan kelapa sawit. Dari areal perkebunan seluas 14,05
    jutahektar, luas tanaman kelapa 3.74 juta hektar atau 27 % dari total area. Areal kelapa tersebut3,59 juta hektar merupakan perkebunan rakyat yang diusahakan secara monokultur, kebuncampuran atau pekarangan.
    Indonesia menempati urutan pertama dalam luas areal kelapa namun produksinya
    menempati urutan kedua setelah Philipina. Menurut Coconut Statistical Year Book (1996),
    Indonesia memberikan kontribusi sebesar 969 ribu ton kopra sementara Philipina pada tahun
    yang sama kontribusinya 1813 ribu ton kopra dalam perdagangan dunia. Secara total pada
    tahun 1996 produksi Indonesia sebesar 2,7 juta ton yaitu kopra 969 ribu ton, minyak kelapa 533ribu ton dan desdiccated coconut 24 ribu ton.
    Kemajuan teknologi dan permintaan pasar telah mendorong terjadinya diversifikasi
    lahan dan produk kelapa, sehingga peranan kelapa dalam perekonomian masa datang akan
    meningkat sebagai sumber pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja, pemenuhan
    konsumsi masyarakat dan sumber devisa. Meningkatnya peranan ini didukung oleh besarnya
    peluang yang dapat dimanfaatkan, seperti ketersediaan sumber daya alam, sumber daya
    manusia, teknologi dan modal. Untuk itu langkah-langkah operasional yang perlu dilaksanakan adalah meningkatkan produksi, diversifikasi, lahan dan produk, pengembangan kelembagaan,kemitraan usaha, dan menemukan teknologi baru melalui kegiatan penelitian dan pengembangan.

    A. Peranan Kelapa dalam Perekonomian
    Produksi kelapa memiliki peranan cukup penting dalam perekonomian nasional,
    diantaranya sebagai berikut :
    1. Sumber pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja
    Pada tahun 1977, areal tanaman kelapa 3,74 hektar, sebagian besar merupakan perkebunan
    rakyat yang menjadi sumber pendapatan dan lapangan kerja petani, baik sebagai usaha
    pokok maupun sebagai usaha tani pekarangan. Jumlah petani yang terlibat dalam usaha
    tani kelapa 7,0 juta KK dengan asumsi rata-rata luas pemilikan 0,5 hektar per KK.
    2. Pemenuhan konsumsi masyarakat
    Kelapa merupakan salah satu sumber minyak nabati utama bagi masyarakat untuk
    memenuhi kebutuhan rumah tangga, karena kelapa memiliki keunggulan dimana beberapa
    produk kelapa seperti kelapa segar dan santan belum dapat disubstitusi oleh produk lainnya.
    Namun demikian, pemenuhan kebutuhan minyak goreng sekarang ini didominasi oleh
    minyak sawit yang diperkirakan konsumsinya mencapai 9 kg per kapitas per tahun sedang
    minyak kelapa hanya sebesar 2 kg per kapita pertahun.
    3. Sumber devisa
    Volume dan nilai ekspor beberapa produk olahan kelapa seperti minyak kelapa, bungkil,
    tepung, arang tempurung dan karbon aktif, cenderung meningkat. Volume ekspor masih
    fluktuatif, hal ini disebabkan oleh pasokan bahan baku dari dalam negeri dan permintaan
    pasar luar negeri. Peranannya sebagai penyumbang devisa masih kecil karena
    kontribusinya terhadap nilai total ekspor juga kecil (0,33%-0,75%). Volume dan nilai
    ekspor minyak kelapa dalam kurun waktu 5 tahun (1992-1996) mengalami peningkatan dari
    351.480 ton dengan nilai US$ 266.474.000 pada tahun 1996.

    4. Sumber bahan baku industri
    Beberapa industri yang menggunakan bahan baku kelapa sangat tergantung pada
    pengembangan usaha tani kelapa. Jenis industri tersebut adalah industri minyak kelapa,
    minyak goreng, santan awet, oleochemical, tepung kelapa dan industri pengolahan air
    kelapa (nata de coco dan cuka). Selain itu adapula hasil sampingan seperti tempurung,
    sabut, lidi, dan batang kelapa dapat mendukung industri rumah tangga, bangunan dan
    furniture.
    Bahan baku kelapa di Indonesia diusahakan oleh perkebunan rakyat, perkebunan besar
    negara dan perkebunan besar swasta. Industri pengolahan kelapa khususnya industri yang
    mengolah produk dengan bahan baku buah kelapa, di Indonesia sudah tumbuh bermacammacamjenis industri baik yang diusahakan dalam industri kecil maupun industri berskala menengha/besar. Pada umumnya industri pengolahan kelapa terkelompok dalam industri makanan-minuman (KLUI 31) seperti industri minyak goreng kelapa, industri kopra,
    tepung kelapa dan nata de coco, selain itu ada juga yang termasuk dalam kelompok industri
    kerajinan (KLUI 39) seperti kerajinan-kerajinan yang menggunakan bahan baku dari
    tempurung kelapa begitu juga dengan sabutnya.
    Keterkaitan penawaran kelapa untuk memenuhi permintaan industri kelapa, industri makanan – minuman, industri kosmetik dan permintaan rumah tangga indonesia .
    Industri yang dapat dikembangkan /diversifikasi, diantaranya:
    a. Industri Minyak Kelapa/Goreng
    b. Industri Tepung Kelapa
    c. Industri Pengolahan Produk Ikutan
    d. Daging Kelapa
    e. Air Kelapa
    f. Tempurung Kelapa
    g. Sabut Kelapa
    h. Teknologi rumah tangga lainnya.
    B. Perkembangan Agribisnis Kelapa
    Usaha perkebunan rakyat saat ini mendominasi 96 % total area perkebunan kelapa.
    Karena itu sejak awal pembangunan perkebunan rakyat ditempatkan pada posisi “tulang
    punggung” pembangunan perkebunan dengan perkebunan besar milik swasta dan BUMN
    sebagai pendukung dan penunjang.
    Perkembangan produksi kelapa di Indonesia ditentukan oleh luas areal perkebunan baik
    penanaman baru maupun peremajaan. Selama kurun waktu 6 tahun dari 1991 sampai tahun
    1996 luas areal menunjukkan kenaikan sebesar 0,8 % per tahun, sedangkan produksi kelapa
    menunjukkan peningkatan rata-rata 1,62 % per tahun. Luas areal tanaman kelapa pada tahun
    1996 mencapai 3,7 ha dengan produksi sekitar 2,7 juta ton.
    Ini berarti produktivitas kelapa adalah 1,03 ton setara kopra/ha, sedangkan potensi
    kelapa unggul dapat mencapai antara 2-3 ton/ha. Hal ini berarti masih ada potensi untuk
    meningkatkan produktivitas, yaitu salah satunya dengan mengganti kelapa yang sudah tidak
    produktif dengan kelapa varietas unggul. Jika dibandingkan dengan produksi kelapa dunia,
    produksi kelapa Indonesia selalu yang tertinggi yaitu 2,7 juta ton setara kopra atau 28,33 % dari produksi dunia, diikuti oleh Philipina (20,53 %). India (20,79 %), Srilangka (5,39 %) dan
    Thailand (3,53 %). Produksi kelapa dunia sendiri dalam kurun waktu 5 tahun (1992-1996)
    meningkat rata-rata 1,6 % pertahun dengan total produksi pada tahun 1996 sebesar 9,6 juta ton.
    Pada tahun 1996 ini terjadi penurunan produksi jika dibandingkan dengan tahun 1995 (10,5
    ton) yang diakibatkan menurunnya produksi kelapa Philipina. Sampai saat ini sebagian besar
    produksi kelapa Indonesia masih dijual dalam bentuk butiran dan kopra. Produk olahan lainnya adalah minyak goreng, gula merah, tepung kelapa, nata de coco dan alkohol.
    Rata-rata 5 tahun dari total produksi kelapa Indonesia yang diolah menjadi minyak
    kelapa sebesar 21,98 %, maka Philipina pada kurun waktu yang sama dapat diolah menjadi
    produk yang sama sebesar 57,86 %. Sedangkan untuk bungkil dan tepung kelapa di Indonesia
    masing-masing sebesar 14,29 % dan 0,82 %, maka di Philipina dapat diolah sekitar 28,85 %
    menjadi bungkil dan 3,65 % menjadi tepung kelapa. Hal ini memperlihatkan bahwa peranan
    agroindustri kelapa di pedesaan Indonesia belum semaju dengan apa yang dilakukan di
    Philipina. Selain itu produk olahan yang dihasilkan oleh Philipina lebih banyak yaitu selain
    menghsilkan produk seperti Indonesia juga menghasilkan crude glyserine, refined glyserine,
    frozen coco meat, coco chips, sabun dan lain-lain. Data tentang diversivikasi produk olahan
    kelapa, seperti nata de coco, coco juice, manisan kelapa dan roti kelapa.
    1. Perkembangan Harga
    Harga produk olahan kelapa baik di dalam negeri maupun di luar negeri mengalami
    kenaikan, kecuali karbon aktif. Harga kelapa bervariasi antara satu daerah dengan daerah
    lainnya. Daerah yang dekat kota besar sebagai pusat konsumen, khususnya di Pulau Jawa
    akan memperoleh harga yang lebih tinggi dari daerah yang jauh dari pusat perkotaan (Luar
    Jawa). Rata-rata harga dalam 5 tahun (1992-1996) untuk daerah kopra (termasuk Sulawesi,
    Maluku, dan Riau) adalah sekitar Rp 716,-, sedangkan di Pulau Jawa lebih tinggi, yaitu Rp
    828/kg.
    Jika dibandingkan dengan harga ekspor dari Philipina ternyata ada perbedaan yang nyata
    untuk harga bungkil, tepung kelapa dan kopra. Untuk harga bungkil dan kopra dari
    Indonesia ternyata lebih tinggi dibandingkan dengan Philipina yaitu sekitar US$ 13 per ton
    untuk bungkil dan US$ 51 per ton untuk kopra, tetapi untuk harga tepung kelapa produk
    dari Philipina jauh lebih tinggi dibandingkan dengan dari Indonesia, yaitu berbeda sekitar
    US$ 159 per ton. Hal ini diduga kualitas produk yang berbeda.

    2. Perkembangan Ekspor dan Impor
    Perolehan devisa dari ekspor kelapa hasil olahannya selama kurun waktu 5 tahun (1992-
    1996) meningkat rata-rata 32,48 % per tahun. Pada tahun 1992 nilai ekspor mencapai US$
    245.382 ribu atau 0,72 % dari seluruh total ekspor Indonesia, sedangkan pada tahun 1996
    menjadi 0,71 %. Minyak kelapa merupakan penyumbang terbesar dari nilai ekspor kelapa
    dan hasil olahannya, yaitu 75,05 % diikuti oleh bungkil (11,88 %) dan tepung kelapa (6,65
    %). Negara tujuan ekpor utama minyak kelapa adalah Belanda diikuti Amerika Serikat, Italia,
    Korea Selatan, Spanyol, Singapura dan Malaysia. Bungkil diekspor ke Jerman, Korea
    Selatan, dan Belanda, sedangkan tepung kelapa sebagian besar diekspor ke Singapura.
    Impor minyak kelapa cenderung berfluktuasi tergantung dari produksi minyak kelapa di
    dalam negeri. Meskipun Indonesia mengekspor minyak kelapa sebesar 378.819 ton pada
    tahun 1996, tetapi impor minyak kelapa ternyata juga cukup besar yaitu 11,51 %.
    Sedangkan impor kopra dapat dikatakan sangat kecil dan hanya terjadi pad tahun 1994 dan
    1995.
    3. Negara Pesaing Indonesia
    Meskipun produksi kelapa Indonesia terbesar di dunia yaitu sebesar 2,7 juta ton setara
    kopra, tetapi ekspor hasil olahan kelapa dari Philipina masih lebih tinggi dari Indonesia.
    Khususnya untuk minyak kelapa, bungkil dan tepung kelapa. Saat ini Philipina menguasai
    pasar kelapa internasional dengan pangsa sbesar 32,76 % untuk tepung kelapa, 61,05 %
    untuk minyak kelapa, dan 54,45 % bungkil. Sedangkan pangsa pasar Indonesia hanya 8,91
    % tepung kelapa, 19,77 % minyak kelapa dan 30,88 % bungkil.

    2.2. Metode Analisis
    A. Fenomena Studi Empiris
    Fenomena yang disusun secara skematis mengenai studi keterkaitan permintaan kelapa
    untuk memenuhi permintaan industri minyak kelapa, industri makanan-minuman, industri
    kosmetik, dan permintaan rumah tangga di Indonesia dapat dilihat pada uraian berikut ini.
    B. Model Operasional
    Berdasarkan pada fenomena ekonomi, dirumuskan berbagai persamaan ekonometrika
    (model operasional), yang dipandang cukup tepat untuk digunakan dalam menganalisis
    pendugaan dari parameter dan elastisitas peubah-peubah sebagaimana tercantum pada gambar
    fenomena tersebut. Persamaan yang dirumuskan berjumlah 17, dengan 10 persamaan
    struktural dan 7 persamaan identitas. Secara lengkap persamaan-persamaan tersebut adalah
    sebagai berikut :
    1. Respon Areal Perkebunan Kelapa Rakyat
    AKRt = a0 + a1HKBt + a2HPrt + a3HFRt + a4HLRt + a5AKLRt-1 + U1
    A0, a1,a6, > 0 a2,a3,a4,a5 0 b2, b3, b4, b5 0 c2, c3, c4, c5 0 d2, d3, d4, 0 e2, e3, e4, 0 f2, f3, f4, 0 g2,g3,g4, 0 h2,h3,h4, 0 i1, i2, i3,i4, < 0
    IKt-1 = Permintaan Kelapa untuk Industri KosmetikTahun Sebelumnya
    17. Permintaan Kelapa Butiran untuk Bahan Baku Minyak Kelapa
    PMKt = j- + j1HMKt + j2HMSt + j3HKOt + j4(HXMKt * ER) + j5(HtMKt * ER) +
    j6POPt + j7MKt-1 + U10
    H1MKt = Harga Impor Minyak Kelapa ($/Kg)
    POPt = Jumlah Penduduk (org)
    PMKt-1 = Produksi Minyak Kelapa Tahun Sebelumnya

    III. HASIL DAN PEMBAHASAN
    Keterkaitan penawaran kelapa untuk memenuhi permintaan industri minyak goreng,
    industri makanan-minuman, industri kosmetik dan permintaan rumah tangga dalam studi
    empiris ini cukup baik. Nilai koefisien determinan (R2) masing-masing persamaan struktural
    dalam model umumnya di atas 0.85, kecuali untuk persamaan struktural produktivitas kelapa
    dari perkebunan swasta besar (R2) hanya mencapai 0.8177 (Tabel 6), dan koefisien DW
    umumnya di atas 2.00, kecuali untuk persamaan permintaan kelapa untuk minyak kelapa (Tabel 10). Dengan demikian secara umum peubah-peubah penjelas yang dimasukkan dalam
    persamaan struktural dalam studi empiris ini mampu menjelaskan dengan baik keragaman
    setiap peubah endogennya. Struktural belum mempunyai parameter pendugaan yang tandanya sesuai dengan harapan dan cukup logis dari sudut pandang teori ekonomi.
    1. Respon Areal Kelapa Perkebunan Rakyat
    Hasil pendugaan persamaan respon areal kelapa perkebunan rakyat disajikan pada Tabel
    1. Nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0.9930 mencerminkan tingginya kemampuan
    peubah-peubah penjelas menerangkan perilaku respon areal kelapa perkebunan rakyat. Harga
    pupuk (HFR) bertanda (+), padahal pupuk masuk sebagai input produksi dan diharapkan
    bertanda (-). Adapun harga kelapa butiran (HKB) memiliki parameter yan cukup tinggi, akan
    tetapi tidak signifikan dan inelastis pada jangaka pendek, tetapi elastis pada jangka panjang.
    Tabel 1 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Areal Kelapa Rakyat (AKR)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 543848 2.419
    HKB 187.656819 0.154 0.601210233 3.240606248
    HPR -2342.960888 -0.891 – –
    HFR 4405.428194 1.617 – –
    HLR -514.924544 -1.297 – –
    AKRLAG 0.814476 8.953 – –
    R2 = 0.9210
    ADJ-R2 = 0.9905
    DW = 2.205
    2. Respon Areal Kelapa Perkebunan BUMN
    Hasil pendugaan persamaan respon areal kelapa perkebunan BUMN disajikan pada Tabel 2.
    Nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0.9210 mencerminkan tingginya kemampuan peubahpeubah
    penjelas menerangkan perilaku respon areal kelapa perkebunan BUMN. Peubah HS,
    HPGS, HFGS, dan HLGS yang diharapkan bertanda (-) yang ada hanya peubah HFGS yang
    bertanda ( – ), bahkan peubah HKO yang diduga akan bertanda (+) sebaliknya. Peubah yang
    signifikan ditemui pada HPGS dan AKGlag, adapun dalam jangka pendek dan jangka panjang hanya HKO dan HLGS yang elastis, sedangkan HS sebagai kompetitif justru sebaliknya. Tabel 2 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Areal Kelapa BUMN (AKG)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 3682.158103 1.41
    HKO -230.991868 -0.99 -10.181 -23.641
    HS 30.379087 0.242
    HPGS 469.417788 1.111
    HFGS -126.454385 -0.404
    HLGS 27.78181811 -0.681
    AKGLAG 0.569333 2.973
    R2 = 0.9210
    ADJ-R2 = 0.8846
    DW = 3.158
    3. Respon Areal Kelapa Perkebunan Swasta Besar.
    Hasil pendugaan persamaan respon areal kelapa perkebunan swasta besar disajikan pada
    Tabel 3. Nilai koefisien determinan (R2) sebesar 0.8792 juga mencerminkan cukup tinggi nya
    kemampuan peubah-peubah penjelas menerangkan perilaku respon areal kelapa perkebunan
    swasta. Hanya peubah HFGS dan HLGS yang memiliki tanda tidak sesuai dengan yang
    diharapkan, yakni keduanya bertanda (+), dilihat dari nilai T-hitung, hanya peubah AKSlag
    yang signifikan. Harga kopra (HKO) sebagai peubah pertama memiliki elastisitas yang tinggi
    pada jangka pendek dan jangka panjang, sedangkan harga sawit (HS) sebagai komoditas
    kompetitif tidak elastis terhadap respon areal kelapa perkebunan swasta.
    Tabel 3 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Areal Kelapa Swasta (AKS)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 16490 1.218
    HKO 375.557852 0.386 5.524 5.043
    HS -313.872353 -0.624 -0.481 -0.926
    HPGS -101.021797 0.061
    HFGS 195.486236 0.165
    HLGS 112.247192 0.68
    AKRLAG 0.480628 1.528
    R2 = 0.8792
    ADJ-R2 = 0.8234
    DW = 2.250

    4. Respon Produktivitas Kelapa Perkebunan Rakyat
    Tabel 4. Menyajikan hasil pendugaan persamaan respon produktivitas kelapa
    perkebunan rakyat. Peubah-peubah penjelas yang dicantumkan pada persamaan produktivitas
    ternyata mampu menerangkan perilaku produktivitas pada tingkat koefisien determinan (R2)
    sebesar 0.9559. T-hitung pada msing-masing peubah cukup signifikan, akan tetapi besaran dan tandanya tidak cukup mewakili. Tingkat elastisitas dalam jangka panjang rendah, apalagi bagi peubah harga pertisida (HPS) sangat tidak elastis. Respon produktivitas dari peubah-peubah input dan kompetitor tidak mempengaruhi secara tepat, sehingga dalam tiap tahunnya
    produktivitas kelapa rakyat tidak terjadi fluktuasi dan peningkatan yang berarti.
    Tabel 4 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Produktivitas Kelapa Rakyat (YR)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 87.079757 1.942
    TKBR -0.159507 -1.591
    HFR 0.001345 0.864 – –
    HPR -0.003962 -2.161 0.0001 0.000113185
    AKR 0.000000165 1.373
    HLR 0.000978 2.528 – –
    HMK 0.006571 2.13
    T -0.043928 -1.928
    YRLAG 0.116491 0.51
    R2 = 0.9559
    ADJ-R2 = 0.9238
    DW = 2.365

    5. Respon Produktivitas Kelapa Perkebunan Swasta Besar
    Hasil pendugaan persamaan respon produktivitas kelapa perkebunan swasta disajikan
    pada Tabel 5. Koefisien determinan (R2) sebesar 0.9913 sangat besar untuk dapat
    menggambarkan pengaruh peubah-peubah penjelas terhadap respon produktivitas kelapa.
    Akan teteapi, besaran dan tandanya tidak begitu sesuai dengan yang tidak secara langsung
    mempengaruhi teknologi dan insentif. Pada jangka pendek dan jangka panjang umumnya
    inelastis , dan peubah harga minyak kelapa (HMK) dan harga ekspor kopra ( HXKOER)
    sangat elastis.
    Tabel 5 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Produktivitas Kelapa BUMN (YG)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 199.652996 1.064
    LKBGS 0.148159 0.184
    LHKO 0.126823 0.194
    LHMK 0.964826 0.814 0.076 0.085042672
    LHLGS 0.670749 0.75
    HXKOER 0.000000529 1.388 0.0001 0.000111898
    HXMKER -0.000000232 -0.929
    AKG -0.000094715 -11.297
    PKG 0.000053467 21.678
    T -0.101239 -1.059
    LYGLAG 0.106331 0.535
    R2 = 0.9913
    ADJ-R2 = 0.9817
    DW = 2.896

    6. Respon Produktivitas Kelapa Perkebunan Swasta Besar
    Hasil pendugaan persamaan respon produktivitas respon produktivitas kelapa
    perkebunan swasta disajikan pada Tabel 6. Koefisien determinan (R2) hanya mencapai
    0.8177 cukup untuk dapat menerangkan pengaruh dari peubah-peubah penjelas terhadap respon produktivitas kelapa. Parameter peubah TKBGS, HKO, AKS, PKSlag, dan T yang sebelumnya diharapkan bertanda (+), ternyata sebaliknya. Signifikansi dari masing-masing peubah cukup tinggi, kecuali harga ekspor kopra (HXKOER) dan harga ekspor minyak kelapa (HXMKER) tidak cukup signifikan. Masing-masing peubah tidak elastis dalam mempengaruhi respon produktivitas kelapa pekebunan swasta baik pada jangka pendek maupun jangka panjang. Tabel 6 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Produktivitas Kelapa Swasta (YS)
    INTERCEP 380.826381 0.756
    TKBGS -0.543865 -0.26
    HKO -0.077976 -2.261 -0.114 0.069833899
    HMK 0.102686 2.272
    HLGS 0.013195 2.607 0.04 -0.024503123
    HXKOER -0.000000715 -0.666
    HXMKER 0.000000281 0.242
    AKS -0.000017937 -1.32
    PKSLAG -0.00016702 -1.3
    T -0.191325 -0.75
    LYGLAG 2.632445 1.462
    R2 = 0.8177
    ADJ-R2 = 0.6151
    DW = 2.719
    7. Produksi Kelapa
    Produksi kelapa merupakan persamaan identitas perkalian dari respon areal kelapa
    terhadap respon produktivitas, dan produksi total meliputi penjumlahan produksi kelapa dari
    perkebunan rakyat, perkebunan BUMN, dan perkebunan swasta besar. Hal ini dapat dilihat
    pada persamaan (7) hingga (10), yaitu :
    (7) PKRt = AKRt * Yrt
    (8) PKGt = AKGt * Ygt
    (9) PKSt = AKSt * Yst
    (10) PKTt = PKRt + PKGt + PKSt
    Tabel 7 Nilai Parameter Dugaan Permintaan Kelapa Untuk Konsumsi Masyarakat
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 21665 0.154
    HKB 335.647261 0.81 3.046 2.959
    HMK 4291.339909 1.854 5.941 5.771
    HMS -4004.679375 -1.781
    BKO 0.560373 3.633 0.042 0.0708
    ICM 0.002199 0.018
    KBMLAG -0.029389 -0.153
    R2 = 0.9882
    ADJ-R2 = 0.9828
    DW = 2.753

    8. Permintaan Kelapa
    Permintaan kelapa merupakan persamaan identitas penjumlahan permintan akan kelapa
    butiran (segar) dan kelapa untuk kopra. Permintaan kelapa butiran diserap dari permintaan
    rumah tangga, industri makanan-minuman, dan industri kosmetik, sedangkan permintaan
    kopra mencerminkan kuantitas untuk bahan baku minyak kelapa. Persamaan-persamaan
    identitas tersebut dapat dilihat pada persamaan (11) hingga (13), berikut ini :
    (11) DKLPt = Kbt + BKOt
    (12) KBt = KBMt + KMMt + Ikt
    (13) BKOt = 1/k * KOt
    Persamaan – persamaan identitas diatas ditetapkan denagn pertimbangan bahwa permintaanpermintan lainnya dinaggap cateris paribus. Besarnya konstanta k berdasarkan hasil studistudi yang dilakukan oleh Puslit Sosek Kehutanan dan Perkebunan sebagai rendemen kopra terhadap kelapa butiran sebesar 0.334.
    Tabel 8 Nilai Parameter Dugaan Permintaan Kelapa Untuk Industri Makanan-Minuman
    (KMM) Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP 40773952 0.356
    HKB 222.338961 0.65 7.861 5.563871991
    HMK -452.76609 -0.474
    HMS 548.634733 0.592
    BKO 0.235767 3.033 0.07 0.049544719
    LT -12374534 -0.356
    GDP -0.204556 -0.68
    KMMLAG -0.412865 -1.539
    R2 = 0.9697
    ADJ-R2 = 0.9520
    DW = 23.698
    9. Permintaan Kelapa Butiran Untuk Rumah Tangga
    Hasil pendugaan persamaan permintaan kelapa butiran untuk rumah tangga dapat dilihat
    pada Tabel 7. Koefisien determinan (R2) sebesar 0.9882 dapat menjelaskan tingginya
    pengaruh peubah-peubah penjelas dalam menentukan besaran permintaan kelapa untuk rumah tangga. Dari 3 peubah subtitusi (tidak langsung), yakni harga minyak kelapa (HMKt), HMSt dan BKOt, hanya HMSt yang memenuhi tanda (-) sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi pengaruh dari HKBt dan pendapatn (ICMt) tidak begitu signifikan, dibanding peubah penjelas Keterkaitan penawaran kelapa untuk memenuhi permintaan industri kelapa, industri makanan – minuman, industri kosmetik dan permintaan rumah tangga indonesia .
    lainnya. Elastisitas tertinggi ditemui pada peubah HKBt dan HMKt pada jangka pendek dan
    jangka panjang, sedangkan HKOt sebaliknya inelastis pada jangka pendek maupun jangka
    panjang.
    10. Pemintaan Kelapa Untuk Industri Makanan-Minuman.
    Tabel 8. Menyajikan hasil pendugaan persamaan permintaan kelapa butiran untuk
    industri makanan-minuman. Pada tabel tersebut terlihat bahwa koefisien determinan (R2)
    sebesar 0.9697 mencerminkan bahwa peubah-peubah penjelas dari persamaan tersebut dapat
    menerangkan perilaku dari permintaan kelapa butiran untuk industri makanan-minuman.
    HMKt dan BKOt yang merupakan substitusi (tidak langsung) diharapkan bertanda (-) namun
    hasilnya sebaliknya. Pengaruh HKBt tidak begitu signifikan, akan tetapi pada jangka pendek
    maupun jangka panjang sangat elastis, dibandingkan dengan peubah BKO yang sangat
    inelastis.

    11. Permintaan Kelapa Untuk Industri Kosmetik
    Tabel 9. yang menyajikan hasil pendugaan persamaan permintan kelapa butiran untuk
    industri kosmetik, memiliki koefisien determinan (R2) yagn cukup besar, yakni 0.9710. Hal ini menunjukkan bahwa peubah-peubah yang ada didalam persamaan tersebut dapat menerangkan perilaku permintaan kelapa butiran untuk industri kosmetik. Dalam tabel tersebut, pareameter dari masing-masing peubah memiliki tanda yang seballiknya dari yang diharapkan, kecuali peubah HMKt dan HMSt yang sesuai diharapkan (+). Elastisitas yang tinggi pada jangka pendek dan jangka panjang ditunjukkan oleh peubah HKBt, sedangkan peubah BKO justru sebaliknya sangat inelastis.
    Tabel 9 Nilai Parameter Dugaan Permintaan Kelapa Untuk Industri Kosmetik (IK)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP -17708263 -0.503
    HKB -67.022867 -0.628 -7.503 -.-8.129746551
    HMK -280.362614 -0.946
    HMS -0.055839 0
    BKO 0.0638452 3.122 0.06 0.065
    LT 5365114 0.502
    GDP -0.011702 -0.124
    IKLAG 0.077093 0.383
    R2 = 0.9710
    ADJ-R2 = 0.9541
    DW = 2.959

    12. Permintaan Kelapa Butiran Untuk Industri Minyak Kelapa
    Permintaan kelapa butiran untuk industri minyak kelapa tidak secara langsung, karena
    bahan baku minyak kelapa adalah kopra. Kopra sepenuhnya berasal dari kelapa butiran,
    dengan sendirinya permintaan kopra untuk industri minyak kelapa diperhitungkan dari jumlah kopra pada tingkat rendemen (k = 0.334) terhadap permintaan kelapa butirannya. Tabel 10 menyajikan hasil pendugaan permintaan kelapa untuk industri munyak kelapa. Harga minyak sawit (HMSt) yang diduga bertanda (-) karena menunjukkan sebagai substitusi (tidak langsung), namun sebaliknya bertanda (+). Hanya peubah lagnya yang culup signifikan, sedangkan peubah lainnya tidak memadai. Elastisitas HMKt dan HKOt pada jangka pendek tidak elastis, sedangkan untuk jangka panjang cukup elastis
    Tabel 10 Nilai Parameter Dugaan Persamaan Permintaan Kelapa Untuk Minyak (PMK)
    Peubah Parameter T- Hitung Elas Jk Pendek Elas Jk Panjang
    INTERCEP -36497 -0.541
    HMK 107.318614 0.268 0.769 1.401
    HMS 186.29757 0.657
    HKO -174.211195 -0.444 0.691 1.259
    HXMKER -0.006449 -0.328
    HIMKER 0.000048383 0.004
    POP 0.520799 0.896
    PMKLAG 0.451477 1.599
    R2 = 0.9793
    ADJ-R2 = 0.9673
    DW = 1.969

    IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI
    Kesimpulan
    Dari hasil studi empiris mengenai keterkaitan penawaran kelapa untuk memenuhi
    permintaan industri minyak kelapa, industri makanan-minuman, industri kosmetik dan
    permintan rumah tangga dapat disimpulkan beberapa hal berikut.
    1. Model ekonometerika yang dibangun dalam studi empiris ini telah mampu menjelaskan
    fenomena dan perilaku penawaran kelapa dan perilaku permintaan kelapa untuk industri
    muinyak kelapa, industri makanan-minuman, industri kosmetik dan permintan rumah
    tangga. Namun demikian, tanda dan besaran dari parameter yang mencerminkan kriteria
    ekonomi belum sepenuhnya terpenuhi, bahkan pada beberapa persamaan struktural terdapat
    peubah yang kurang signifikan.
    2. Perilaku perkembangan areal kelapa pada ketiga perkebunan (rakyat, BUMN, dan Swasta
    besar) menunjukkan respon yang elastis terhadap harga produk tersebut, akan tetapi tidak
    elastis terhasap harga kompetitornya.
    3. Respon produktivitas kelapa untuk ketiga perkebunan menunjukkan sangat tidak elastis
    terhadap harga komoditasnya, termasuk kompetitornya, serta harga pasar ekspor. Namun
    demikian, peubah-peubah harga cukup signifikan untuk melihat pengaruhnya terhadap
    respon peoduktivitas kelapa.
    4. Perilaku permintaan kelapa untuk industri minyak kelapa, industri makanan-minuman,
    industri kosmetik, dan rumah tangga sangat respon terhasap perubahan harga komoditas
    kelapa, dan harga substutusi tidak langsungnya (minyak sawit). Akan tetapi, tingkat
    signifikansi dari peubah-peubahnya umumnya rendah. Di samping itu, memang elastisits
    jangka pendek dan jangka panjang dari peubah harga komoditas cukup tinggi. Kecuali
    untuk elastisitas jangka pendek peubah harga komoditas pada perilaku permintaan minyak
    kelapa inelastis.
    Implikasi
    Dengan memperhatikan hasil studi empiris disana, ada beberapa hal utama yang
    direkomendasikan, yaitu :
    1. Jumlah terbanyak produksi kelapa (diatas 90 %) dihasilkan oleh perkebunan rakyat,
    hendaknya tetap terus dimasyarakatkan, sehingga kelapa identik dengan ‘komoditas milik
    rakyat’. Namun, produktivitas saat ini relatif konstan perlu diperkenalkan dengan
    teknologi tepat guna sehingga bisa mendekati plroduktivitas perkebunan BUMN dan
    Swasta, tetapi tetap dapat efisien.
    2. Produksi minyak kelapa akhir-akhir ini mulai menurun dan beriring dengan terjadinya
    pengurangan areal kelapa pada perkebunan swasta besar. Dampaknya impor minyak
    kelapa untuk memenuhi permintaan domestik tidak bisa dihindarkan. Disamping itu,
    selera konsumen mulai bergeser dari mengkonsumsi minyak kelapa pada minyak kelapa
    sawit, yang diduga minyak sawit memiliki kadar kolesterol lebih rendah dibanding minyak
    kelapa. Namun demikian pertumbuhan populasi yang cukup besar, menyebabkan
    permintaan minyak kelapa terus meningkat. Dengan demikian, dibutuhkan peranan
    pemerintah untuk mendorong dan menciptakan sistem investasi bagi swasta besar untuk
    mengembangkan bisnis (utama dan divbersifikasi) pada produk berbasis kelapa.

  67. Nama : sandi hermawan
    Jurusan : EP
    NPM : 093401014

    Data impor ekspor tembakau Indonesia

    Total produksi tembakau di Indonesia berfluktuasi dari tahun ke tahun. Produksi tembakau pada tahun 2002 adalah 144,7 ribu ton menurut FAO dan 177.667 ton menurut data Departemen Pertanian (Tabel 3.2).

    Tembakau dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Voor-Oogst dan Na-Oogst. Voor-Oogst adalah kelompok tembakau yang biasa ditanam pada musim hujan dan dipanen pada musim kemarau dan kelompok Na-Oogst adalah jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau dan dipanen pada musim hujan. Jenis tembakau Voor-Oogst diantaranya tembakau Virginia, tembakau Rakyat (rajangan) dan tembakau Lumajang. Pengamatan selama 1996-2001 menunjukkan bahwa sekitar 90 – 95% total lahan tembakau digunakan untuk menanam tembakau kelompok Voor-Oogst dan sisanya untuk kelompok Na Oogst.

    Produktifitas lahan tembakau sangat ditentukan banyak faktor diantaranya jenis bibit yang digunakan, musim atau cuaca, cara bercocok tanam dan ketersediaan air. Selama periode 1995-2002, produktifitas lahan tembakau cenderung menunjukkan peningkatan yaitu dari 649 kg/ha menjadi 827 kg/ha

    Untuk tahun 1995-2001, jumlah ekspor daun tembakau mencapai 16–34% dari total produksi domestik. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, jumlah daun tembakau yang diimpor 13–34% dari total produksi domestik. Apabila dilihat rasio impor dan ekspor tembakau setiap tahun, tampak bahwa proporsi produk yang diimpor lebih besar daripada proporsi yang diekspor. Pengecualian terjadi pada tahun 1998. Pada tahun 2000 jumlah impor mendekati ekspor.

  68. A INDRA PERMANA
    093401007
    EKONOMI PEMBANGUNAN
    TUGAS : “ANALISIS PERMINTAAN DAN PENAWARAN PRODUK PERTANIAN INDONESIA DI PASAR GLOBAL”

    Latar Belakang Biji kakao merupakan salah satu komoditas andalan sektor perkebunan, yang peranannya penting bagi perekonomian nasional, khususnya sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Biji kakao merupakan salah satu komoditi ekspor yang mempunyai keunggulan komparatif yang merupakan modal utama yang harus ada pada suatu produk untuk memiliki kekuatan kompetitif. Disamping itu biji kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri yang diharapkan mampu berperan sebagai salah satu komoditi yang akan menciptakan tricle down effect dalam perekonomian nasional dan daerah. Di sisi lain, komoditas biji kakao menempati peringkat ke tiga pada ekspor sektor perkebunan dalam menyumbang devisa negara, setelah komoditas karet dan CPO. Pada 2006 ekspor biji kakao Indonesia mencapai US$ 975 juta atau meningkat 24,2% dibanding tahun 2005 (Dinie Suryani & Zulfebriansyah, 2007).
    Jika dilihat dari segi kualitas, biji kakao Indonesia tidak kalah dengan biji kakao terbaik dunia, apabila dilakukan fermentasi dengan baik, kakao Indonesia dapat mencapai cita rasa setara dengan biji kakao yang berasal dari Ghana. Biji kakao Indonesia mempunyai kelebihan yaitu tidak mudah meleleh, sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar biji kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri.

    Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri biji kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka.
    Pemanfaatan tanaman kakao di Indonesia mengalami peningkatan dari sisi keragaman produk dan kegunaan. Salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dian Anggraeni Elisabeth tentang pembuatan nata de kakao yang baik untuk kesehatan (Tabloid Sinar Tani, 2006). Selain itu upaya diversivikasi dari tanaman kakao ini tidak hanya untuk produk makanan dan minuman yang sudah umum dikenal oleh masyarakat, namun dalam perkembangannya dapat dimanfaatkan untuk kecantikan (masker kakao), sabun mandi dari sari kakao dan limbah dari tanaman yang berupa daun dan kulit buah kakao dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak sebagaimana hasil penemuan pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PPKK) Jember. Penulis menduga daun kakao mengandung minyak kerena sangat mudah terbakar dalam keadaan basah, namun dugaan ini memerlukan penelitian yang lebih lanjut.
    Berdasarkan data ICCO 2007 (International Cocoa Organization) yang terdapat pada Tabel 1.1. Indonesia merupakan produsen biji kakao terbesar ketiga di dunia setelah negara Pantai Gading dan Ghana. Tiga besar negara penghasil biji kakao pada 2001 hingga tahun 2007 sebagai berikut; Produksi biji kakao dunia pada musim panen 2004 mengalami penurunan 4,38 % jika dibandingkan dengan produksi biji kakao dunia tahun 2003. Penurunan produksi biji kakao dunia terutama disebabkan oleh menurunnya produksi biji kakao dari dua negara pengasil utama biji kakao yaitu Ghana dan Pantai Gading yang disebabkan oleh kemarau panjang yang melanda kedua negara tersebut (Dedi Junaedi, 2005). tahun 2001-2006, kontribusi

    rata-rata pemasok utama biji kakao dunia adalah sebagai berikut: Pantai Gading (39,96 %), Ghana (20,7 %) dan Indonesia (13,82 %). Pemasok lainnya adalah Kamerun (4,81%), Brasil (5,5 %), Nigeria dan (5,7%). Walaupun sebagai pemasok utama biji kakao dunia, sejak tahun 2002-2006 rata-rata pertumbuhan produksi Pantai Gading relatif rendah 0,73 % pertahun, sebaliknya Ghana tumbuh 16,35 % per tahun. Sementara Indonesia meningkat rata-rata 3,88 % per tahun.

    Tabel 1.1.
    Produksi Biji Kakao Dunia Berdasarkan Negara Penghasil (2001-2006)
    Produksi Biji Kakao Dunia (ribu ton)
    Negara 2001 2002 2003 2004 2005 2006
    Afrika 1.952 2.231 2.550 2.379 2.642 2.392
    Kamerun 131 160 162 184 166 166
    Pantai Gading 1.265 1.352 1.407 1.286 1.408 1.292
    Ghana 341 497 737 599 740 614
    Nigeria 185 173 180 200 200 190
    Lainya 31 50 64 110 128 129
    Amerika 423 428 462 443 446 411
    Brazil 124 163 163 171 162 126
    Ekuador 81 86 117 116 42 47
    Republik Dominic 45 47 47 31 114 114
    Lainya 173 179 182 157 128 124
    Asia & Oceania 535 510 525 560 636 597
    Indonesia 455 410 430 460 530 490
    Malaysia 25 36 34 29 30 31
    Papua Nugini 38 43 39 48 51 50
    Lainya 19 21 22 23 25 25
    Total Dunia 2.910 3.169 3.537 3.382 3.724 3.400
    Permintaan Input
    Suatu perusahaan tidak bisa memperoleh laba, jika tidak ada permintaan terhadap barang yang diproduksinya. Masyarakat harus bersedia membayar output suatu perusahaan jika ingin menikmati produk tersebut. Di sisi lain, kuantitas output yang diproduksi oleh perusahaan (baik dalam jangka pendek dan jangka panjang) tergantung pada nilai yang dikenakan pasar pada produk perusahaan. Berarti bahwa permintaan input bergantung pada permintaan output dengan kata lain, permintaan input diturunkan (derived) dari permintaan output. Konsep ini sangat tepat untuk diterapkan pada permintaan ekspor biji kakao Sulawesi Tengah oleh Malaysia. Mengingat permintaan ekspor biji kakao oleh Malaysia sebagian merupakan permintaan turunan. Dimana biji kakao yang diekspor Sulawesi Tengah ke Malaysia
    sebagian langsung dijual ke negara lain dan sebagian lagi, diolah menjadi bahan baku untuk pembuatan bahan makanan, minuman, bahan kosmetik dan sebagainya. Dengan konsep permintaan turunan, maka permintaan akan ekspor biji kakao Sulawesi Tengah oleh Malaysia sangat tergatung pada permintaan output dari biji kakao baik permintaan yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri.
    Nilai yang diterapkan pada suatu produk dan input yang dibutuhkan untuk memproduksi, akan menentukan produktivitas input tersebut. Secara formal, produktifitas suatu input adalah jumlah output yang diproduksi per unit input itu.
    Harga dalam pasar input persaingan bergantung pada permintaan perusahaan atas input, penawaran input dan interaksi antara keduanya. Dalam pasar komoditi biji kakao dunia, harga dari biji kakao yang ada di pasaran dunia sangat tergantung pada permintaan perusahaan-perusahaan yang menggunakan biji kakao sebagai inputnya, penawaran (produksi) biji kakao dunia dan interaksi antara permintaan dan penawaran.
    Pada dasarnya input dapat bersifat komplementer dan subtitusi. Dua input digunakan bersama yang digunakan dapat meningkatkan, atau melengkapi satu sama lainya. Biji kakao merupakan salah satu jenis komoditi yang dapat bersifat komplementer dengan gula, susu dan lain-lain dalam pembuatan suatu minuman. Namun tidak selamanya konsep subtitusi dapat diterapkan jika sudah menyangkut cita rasa, manfaat, dan selera.
    Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Ekspor Biji Kakao
    Selain faktor harga yang telah dijelaskan sebelumnya, berikut ini akan diuraikan secara teoritis beberapa faktor yang akan dianalisis dalam penelitian ini.
    Faktor-faktor tersebut adalah: Volatilitas harga internasional, inflasi dan kurs dan pertumbuhan ekonomi.

  69. NAMA :HENDI SETIAWAN
    NPM :093401017
    JURUSAN :EKONOMI PEMBANGUNAN

    SUSU
    Industri susu nasional saat ini meggunakan sekitar 75 persen bahan baku susu olahan yang berasal dari impor. Tingginya penggunaan susu impor terkait dengan rendahnya laju produksi susu sapu di indonesia, sehingga kebutuhan impor menunjukkan peningkatan yang tajam. Produksi susu di Indnesia selama 1995-2002 hanya meningkat dengan laju 3,1 persen, sementara impor susu meningkat dengan laju 3,1 persen (tabel 7). Kenaikan impor susu tahun 1999 dan 2000,yaitu meningkat hampir dua kali lipat dibanding dengan tahun sebelumnya.
    Tabel 7. Perkembangan Produksi, Ekspor, Impor dan Ketersediaan Susu Sapi di Indonesia, 1995-2002 (1000 ton)
    Tahun Produksi Ekspor Impor Ketersediaan
    1995 433 3 66 496
    1996 441 5 52 488
    1997 424 2 49 471
    1998 375 2 33 406
    1999 436 2 60 494
    2000 496 31 117 582
    2001 480 30 120 570
    2002 521 30 108 599
    Laju % 3,11 – 15,68 3,37

    Untuk melindungi peternak sapi perah di dalam negeri, pemerintah sampai saat ini masih menerapkan tarif impor terhadap susu dan produk susu. Besaran tarif yang diterapkan adalah 40 persen untuk condensed milk, 30 persen untuk wholemilk powder dan butter, 20 persen untuk cheese, 15 persen untuk skimmilk powder, dan 5 persen untuk AMF. Dengan tingkat tarif seperti itu, produksi susu di dalam negeri diharapkan dapat terus meningkat.

  70. nama: taufik hidayatulloh
    NPM: 093401015
    ekonomi pembangunan

    PENGAMATAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL EKSPOR IMPORT SAYURAN

    Pada pertengahan 1990-an, perekonomian Indonesia ditandai oleh tingkat pertumbuhan yangtinggi, tetapi disertai pula oleh kecenderungan impor yang semakin meningkat. Kecenderungantersebut tidak saja terjadi pada komoditas impor secara umum, tetapi juga terjadi untuk komoditaspangan. Menimbang situasi pasokan pangan dalam negeri, peningkatan impor pangan merupakancerminan dari beberapa hal sebagai berikut: (a) kelebihan permintaan dalam negeri belum dapatdipenuhi oleh produk domestik, (b) perubahan preferensi konsumen atau perubahan permintaansecara struktural yang kurang diimbangi oleh perubahan struktur produksi, dan (c) kebutuhan bahanbaku yang tidak dapat di produksi di dalam negeri (Susilowati dkk., 1997). Peningkatan impor sebenarnya tidak selalu berdampak negatif jika sebagian besar barang yang diimpor digunakansebagai masukan dalam proses produksi komoditas ekspor. Impor tinggi menjadi masalah apabilaproporsi jenis barang yang diimpor didominasi oleh barang-barang konsumsi.Khusus untuk sayuran, volume impor sampai pertengahan 1995 cenderung terusmenunjukkan peningkatan. Beberapa jenis sayuran yang tercatat menunjukkan peningkatan impor secara nyata adalah kubis bunga, brokoli, bawang putih, bawang merah, bawang bombay, kentang,mentimun, tomat, jamur, kacang kapri dan asparagus. Kelompok sayuran ini diimpor dalam berbagaibentuk, yaitu, segar, beku, setengah olahan, dan olahan. Walaupun sebagian besar impor sayurantersebut merupakan barang konsumsi, terdapat sebagian kecil yang digunakan sebagai masukanproduksi atau bahan baku olahan, misalnya bibit kentang, bibit bawang merah dan pasta tomat.Mengamati impor sayuran yang cenderung meningkat, perkembangannya perlu terus dicermati,terutama menyangkut keberimbangannya dengan ekspor sayuran secara keseluruhan. Pengamatanselanjutnya diharapkan dapat membantu identifikasi alternatif tindakan yang perlu ditempuh untukmenahan laju impor, khususnya untuk barang konsumsi kelompok sayuran.Semakin berkurangnya penerimaan negara dari ekspor migas, terutama karena adanyapenurunan harga migas secara drastis pada awal 1980-an, menyebabkan upaya peningkatan ekspor komoditas pertanian menjadi sangat relevan sebagai salah satu sasaran penting programpembangunan pertanian. Upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang menggembirakan karenasampai saat ini perkembangan ekspor komoditas pertanian Indonesia relatif masih lambat. Indonesiabelum berhasil memanfaatkan peluang pasar ekspor, yang pada umumnya bersifat
    oversupply
    ,sebagai konsekuensi dari masih rendahnya tingkat produktivitas yang dicapai (Sigit, 1996). Impor dunia untuk sayuran segar/kering/beku dari tahun 1989 sampai tahun 1993 meningkat rata-rata 5,9%per tahun. Dalam kurun waktu tersebut, kontribusi ekspor sayuran dari Indonesia baru mencapai0,11% (Soengkono, 1996), jumlah yang sangat kecil dibandingkan dengan potensi yang dimiliki. Hal inipada dasarnya tidak terlepas dari kebijakan domestik pengembangan produksi, industri danperdagangan yang melibatkan komoditas sayuran. Faktor lain yang juga berpengaruh terhadap ekspor sayuran adalah perilaku negara pesaing, mitra dagang dan penataan perdagangan internasionalmelalui berbagai kesepakatan multilateral. Secara umum, permasalahan yang dihadapi dalam upayapengembangan ekspor komoditas pertanian dapat dikelompokkan ke dalam: (a) permasalahan yangtimbul sebagai konsekuensi kebijakan pemerintah, (b) permasalahan yang berkaitan dengankarakteristik komoditas pertanian, dan (c) permasalahan yang berkaitan dengan kebijakanperdagangan yang dilakukan oleh mitra dagang (Dillon dan Suryana, 1990). Krisis moneter yangmelanda Indonesia sejak dua tahun terakhir (semakin menurunnya nilai tukar rupiah relatif terhadapUS dollar) hampir dipastikan akan mendorong peningkatan ekspor produk pertanian jika parameter persyaratan kualitas dapat selalu dipenuhi. Namun demikian, dugaan peningkatan ekspor produkpertanian tersebut, khususnya sayuran, belum dapat dikonfirmasi karena kurangnya data pendukung(kuantitatif).
    Berbagai studi terdahulu telah mengkaji peranan ekspor terhadap pertumbuhan ekonomisecara keseluruhan (Fosu, 1990; Gyimah-Brempong, 1991) serta terhadap pertumbuhan produktivitastotal sektoral (Tybout, 1992; Edward, 1993). Ekspor dapat menstimulasi pertumbuhan produktivitasmelalui berbagai cara: (a) pemanfaatan keunggulan komparatif yang mengarah pada spesialisasi, (b) perluasan pasar internasional yang memungkinkan pemanfaatan skala ekonomi, (c) persainganinternasional dapat mendorong akselerasi adopsi teknologi moderen dan peningkatan efisiensi produk-si, (d) penerimaan ekspor dapat dimanfaatkan untuk membiayai impor masukan penting/moderen sertabarang modal yang diperlukan dalam meningkatkan efisiensi sistem produksi. Pada umumnya, kajianterdahulu juga menunjukkan bahwa ketidak-stabilan ekspor lebih sering dialami oleh negaraberkembang dibandingkan dengan negara maju. Ketidak-stabilan ekspor tersebut secara mikro dapatberpengaruh terhadap kegiatan produksi dan investasi untuk komoditas bersangkutan (Love, 1989;Tybout, 1992; Frisvold and Ingram, 1995), serta secara makro akan berpengaruh terhadap upayapemerintah dalam mengelola cadangan devisa (Savvides, 1984; Fosu, 1992). Di kebanyakan negaraberkembang, ketidak-stabilan ekspor terjadi karena komposisi ekspornya terkonsentrasi pada produkprimer (Massell, 1964). Penelitian lainnya menunjukkan bahwa ekspor bahan pangan ternyata lebihstabil dibandingkan dengan ekspor barang industri (Habeck et al., 1988). Penerimaan ekspor yangtidak stabil ternyata lebih disebabkan oleh adanya ketidak-stabilan volume dibandingkan denganketidak-stabilan harga (Glezakos and Nugent, 1983). Penelaahan ketidak-stabilan ekspor menjadipenting karena tidak saja dapat memberikan gambaran menyangkut status perkembangan ekspor selama periode tertentu, tetapi juga dapat mengidentifikasi faktor dominan (harga atau kuantitaseskpor) sumber ketidak-stabilan tersebut.Kegiatan ekspor-impor tidak terlepas dari aktivitas perekonomian domestik dan internasional.Secara implisit, surplus atau defisit neraca perdagangan yang masih berada dalam batas-bataskewajaran merupakan gejala umum dan dinamika sistem perekonomian yang sedang berkembang.Mengacu pada uraian di atas, studi ini bertujuan untuk mengkaji perkembangan ekspor-impor sayuransecara umum serta mengidentifikasi sumber dominan ketidak-stabilan, khususnya untuk ekspor sayuran
    Secara keseluruhan, pertumbuhan ekspor rata-rata sayuran Indonesia selama periode 1981-1995 adalah sebesar 15,63% per tahun. Ekspor total sayuran dalam kurun waktu 15 tahun tersebut menunjukkan pola pertumbuhan yang konstan. Tingkat pertumbuhan rata-rata untuk 10 komoditas sayuran ekspor yang dianalisis ternyata cukup beragam, yaitu berkisar antara – 184,62% sampai420,90%. Tingkat pertumbuhan terendah diperlihatkan oleh jagung manis, sedangkan tingkat pertum-buhan tertinggi ditunjukkan oleh jamur segar. Besaran tingkat pertumbuhan untuk setiap komoditas memberikan gambaran adanya peningkatan volume ekspor dari tahun ke tahun, bahkan beberapa komoditas (kentang segar, tomat segar, cabai segar/dingin dan jamur segar) menunjukkan rata-rata pertumbuhan di atas 100%. Berdasarkan analisis fungsi pertumbuhan, pola pertumbuhan ekspor dari setiap komoditas ternyata dapat dikategorikan konstan (misalnya, kentang segar, toma tsegar, kubis & kubis bunga, bawang merah segar, wortel, jamur segar, jamur olahan dan jagungmanis) atau meningkat (misalnya, cabai segar/dingin dan cabai kering).Secara keseluruhan, pertumbuhan impor rata-rata sayuran Indonesia selama periode 1981-1995 adalah sebesar 16,05 % per tahun. Ekspor total sayuran dalam kurun waktu 15 tahun tersebut menunjukkan pola pertumbuhan yang meningkat. Tingkat pertumbuhan rata-rata untuk 8 komoditas sayuran impor yang dianalisis ternyata cukup beragam, yaitu berkisar antara – 16,69% sampai 112,35%. Tingkat pertumbuhan terendah diperlihatkan oleh sayuran lain-lain, sedangkan tingkat pertumbuh-an tertinggi ditunjukkan oleh kacang kapri kering. Besaran tingkat pertumbuhan pada untuk setiap komoditas memberikan gambaran adanya peningkatan volume impor dari tahun ke tahun.Berdasarkan analisis fungsi pertumbuhan, pola pertumbuhan impor dari setiap komoditas ternyatadapat dikategorikan konstan (misalnya, bawang bombay segar, bawang merah segar, bawang putihsegar, kacang kapri kering dan cabai kering) atau meningkat (misalnya, bibit kentang, kentang danbawang bombay kering).

  71. Nama : Yoga Permana
    NPM : 093401009
    Jur : Ekonomi Pembangunan

    Kopi

    Perdagangan kopi di pasar dunia saat ini dikuasai oleh kopi Arabika dengan pangsa pasar Iebih dari 75 persen, sedangkan sisanya diisi oleh kopi Robusta. Akibatnya, jika terjadi perubahan volume perdagangan kopi Arabika akan berdarnpak langsung terhadap permintaan kopiRobusta. Kopi Arabika merupakan jenis kopi yang dihasilkan oleh negara-negara d Amerika Latim, terutama Brazil dan Kolumbia. Sedangkan kopi Robusta banyak dihasilkan oleh negara-negara yang berada di daerah tropis di kawasan Asia Flasifik dan Afrika seperti Indonesia dan Vietnam.

    Sebagai produsen utama kopi dunia volume ekspor kopi Brazil selama 1997-2002 meningkat dengan laju 14,4 persen, dengan volume ekspor tertinggi dicapai pada tahun 2002 sebesar lebih dari 1,5 juta ton (Tabel 10). Dalarn periode yang sama volume ekpor kopi India meningkat dengan laju 4,8 persen, sernentara Thailand menurun dengan laju 8,5 persen. Dalam periode 1997-2002 juga terlihat bahwa nilai ekspor kopi menunjukkan peurunan di tengah peningkatan volume ekspor kopi Brazil dan India. Hal ini menunjukan bahwa harga kopi di pasar dunia menunjukkan kecenderungan yang menurun.

    Irnportir utama kopi dunia masihdiduduki oleh Amerika Serikat yang diikuti oleh Jerman, Prancis, Jepang dan ltalia. Selain sebagai konsumen utama kopi dunia, Amerika Serikat juga melakukan ekspor kopi olahan. Secara keseluruhan konsumsi kopi dunia mengalami peningkatan yang cukup stabil, dengan laju sebesar 1,9 persen/tahun (Herman dan Wardnani, 2000).

    Tabel 10. Perkernbangan:Volume dan Nilai Eksfor Komoditas Kopi dari Negara-negara PesaingUtama 1997-2002
    Brazil India Thailand
    tahun volume nilai volume nilai volume nilai
    (ton) (x000US $) (ton) (x000US $) (ton) (x000US $)
    1997 868.439 2.745.289 136.183 344.797 71.249 68.773
    1998 995.212 2.330.874 179.605 334.292 53.487 84.543
    1999 1.271.772 2.230.884 176.830 264.748 28.294 34.011
    2000 967.042 1.559.614 161.508 174.622 58.448 41.550
    2001 1.252.217 1.207.735 150.943 151.905 65.635 25.841
    2002 1.551.410 1.195.531 164.689 142.590 7.094 5.587
    laju (%) 14.36 -1.461 4.84 -1.541 -847 -2.617

    Kopi Arabika dan kopi Robusta memiliki hubungan yang bersifat komplementer, karena industi pengolahan kopi menjadikan kopi Robusta sebagai pencarnpur bagi kopi Arabika (Wahyudi et al., 200l). Saat ini ekspor kopi Indonesia terdiri atas kopi Arabika, kopi Robusta dan kopi lainya. Volume dan nilai ekspor kopi Arabika selama 1993-2002 mengalami kenaikan dengan laju 20,3 persen dan 14,3 persen. Dalam tahun 1995 nilai ekspor kopi Arabika mencapai US $ 51,8 juta tetapi tahun 1996 menurun drastis menjadi US $ 28,3 juta. Dalam tahun-tahun berikutnya nilai ekspor kopi Arabika terus meningkat dan mencapai US $ 76,9 juta pada tahrm 2002 (Tabel 11).
    Tabel 11. Pekembangan Volume dan Nilai Ekspor Komoditas Kopi Menurut Jenis Produk di Indonesia, 1995-2002.
    Kopi Arabika Kopi Robusta Kopi lainnya
    tahun volume nilai volume nilai volume nilai
    ton) (x000US $) (ton) x000US $) (ton) (x000US $)
    1995 14.629 51.772 198.713 501.282 7.549 21.945
    1996 10.803 28.280 327.972 506.471 24.108 54.080
    1997 18.547 62.645 281.184 425.164 8.151 156.889
    1998 21.872 59.802 328.494 512.688 5.291 6.451
    1999 23.488 52.248 320.664 396.218 6.265 9.795
    2000 27.187 58.243 306.864 249.066 3.261 4.523
    2001 42.456 67.136 200.736 110.851 5.733 4.622
    2002 42.295 76.888 273.525 135.187 6.938 6.829
    laju (%) 20.34 14.32 8.94 -1255 26.48 9.22

    Volume ekspor kopi Robusta selama 1995-2002 menunjukkan kenaikan dengan laju 8,9 persen sementara nilai ekspor menunjukkan penurunan sebesar 12,6 persen. Nilai ekspor kopi jenis ini pada tahun 1995 mencapai US $ 501,3 juta, dan meningkat menjadi US$ 512,7 juta pada tahun 1998. Setelah itu nilai ekspor ini, terus menurun, dimana pada tahun 2002 hanya sebesar US$ 135,2 juta. Untuk kopi jenis lainnya terlihat terjadinya kenaikan volume dan nilai ekspor, masing-rnasing sebesar 26,5 persen dan 9,2 persen.

  72. NAMA: RAHMAN BUDIMAN
    NPM :093401011
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    analisis permintaan dan penawaran komoditi kentang di pasar global

    Kentang adalah tanaman dari suku Solanaceae yang memiliki umbi batang yang dapat dimakan dan disebut “kentang” pula. Umbi kentang sekarang telah menjadi salah satu makanan pokok penting di Eropa walaupun pada awalnya didatangkan dari Amerika Selatan.
    Dari dulu kita di Indonesia selalu melakukan ekspor sayuran di antaranya adalah kentang. Diindonesia kentang selalu dijadikan bahan untuk dijadikan sayuran tetapi di Negara-negara lain selalu dijadikan makanan pokok pengganti nasi. Dengan banyaknya Negara-negara yang memerlukan kentang karena di Indonesia kebutuhan sudah terpenuhi oleh para petani kentang yang ada di Indonesia maka dari itu kita ekspor ke Negara lain kentang-kentang yang masih da di Indonesia. Selain untuk memanfaatkan kentang supaya tidak terjadi pemubusukan juga eskpor kentang ini manfaatnya untuk menumbuhkan perekonomian Indonesia.
    Berikut data ekspor kentang mulai Januari/Desember tahun 2006
    Subsektor Komoditi Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember
    Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$)
    Kentang 1,259,194.00 300,459.00 1,388,870.00 329,918.00 1,135,882.00 311,224.00 1,003,281.00 262,810.00 74,794,320.00 2,834,924.00 939,755.00 276,208.00 1,033,964.00 376,806.00 991,602.00 304,883.00 909,577.00 257,207.00 919,339.00 260,635.00 755,058.00 201,173.00 862,965.00 235,649.00
    Akan tetapi, disamping kita mengekspor kentang ke luar negeri Indonesia ini mengimpor kentang dari luar negeri juga, yang akibatnya petani kentang Indonesia terpuruk dan tidak dapat menikmati harga yang optimum. Negara memperbolehkan masuknya impor kentang dengan alasan pemerintah tidak punya solusi lain dalam menstabilkan harga komoditas pertanian di indonesia, selain dengan impor.

    Berikut data ekspor kentang mulai Januari/September tahun 2006
    Subsektor Komoditi Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September
    Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$)

    Kentang 666,839.00 311,650.00 1,016,987.00 493,232.00 753,736.00 356,184.00 672,224.00 351,864.00 140,190.00 120,086.00 148,424.00 101,960.00 245,722.00 180,400.00 457,334.00 347,917.00 290,308.00 143,998.00

    Bias kita lihat diatas jml kentang yang masuk dari luar negeri juga banyak sekali.
    Kalo kita bandingkan kualitas kentang dalam negeri lebih bagus dari pada kentang impor, akan tetapi harga yang relative lebih murah di banding kentang dalam negeri.
    Dengan kebiasaan mengimpor maka dampaknya bias kita lihat sekarang di Indonesia sekarang kebanjiran kentang dari luar negeri dan kentang dalam negeri yang kualitasnya lebih bagus pun pembelinya menurun karena harga dari kentang impor lebih murah.
    Hal ini bias dijadikan contoh sebagai awal dari banyaknya petani yang sudah jarang lagi bertani karena harga komoditinya murah sekali.

  73. Attn!

    Kami memberikan pinjaman dari kisaran $ 1.000 sampai $ 1.5,000,000 USD, sebesar 3%
    suku bunga pinjaman kami juga diasuransikan dan keamanan maksimum adalah kami
    prioritas, BROWN SMITH KEUANGAN RUMAH adalah Inggris yang sah dan terkenal
    pinjaman yang disetujui pinjaman kredit menawarkan company.We kepada individu serta
    organisasi yang memiliki niat rumah merenovasi dan lembaga,
    utang konsolidasi, re-financing dan juga pendirian bisnis
    outfits.We memberikan pinjaman kami dalam USD ($) dan GBP (£) dan setiap mata uang Anda
    pilihan.

    * Apakah Anda secara finansial terjepit?
    * Apakah Anda mencari dana untuk melunasi kredit dan utang
    * Apakah Anda mencari dana untuk mendirikan bisnis Anda sendiri?
    * Apakah Anda membutuhkan pinjaman pribadi atau bisnis untuk berbagai tujuan?
    * Apakah Anda mencari pinjaman untuk melaksanakan proyek-proyek besar
    * Apakah Anda mencari dana untuk proses lainnya berbagai?

    hubungi kami hari ini untuk solusi yang tepat untuk kebutuhan keuangan Anda.

    Email: brownsmithloanfirm75@gmail.com

  74. Pingback: fenomena peradaban maya_3 | Rachmadan[dot]com
  75. langkag apakah yang terbaik dalam mengelola SDA Indonesia untul memperbaiki kinerja neraca pembayaran dan untuk menarik investor asing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s