Kamis, 30 Oktober 2008
Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Pesantren itu dunia yang paling sulit untuk distandarisasi keilmuannya. Sebab ada pesantren yang dibentuk setelah adanya pertimbangan yang matang berdasarkan satu visibility study, tetapi juga ada yang dibesarkan karena hobi. Demikian dikatakan KH. Tolhah Hasan pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI.
Yang kemudian terjadi adalah munculnya masalah pada visi keilmuan pesantren itu sendiri. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren kalau mau dilihat secara keilmuan masih-lah sangat njomplang (timpang – red). Keilmuan di pesantren itu terlalu fiqhiyah, orientasi pada ilmu agama ke fiqh. Jarang sekali yang mendalami keilmuan agama seperti tafsir misalnya, imbuhnya.
Lebih lanjut mantan Menteri Agama pada masa Gus Dur ini berujar, di Indonesia ini ada sekian ribu madzhab tahfidzul Qur’an. Tapi sampai pada hari ini, hanya terbatas pada tahfidz. Tidak ada dari sekian ribu itu yang mengembangkan keilmuannya lebih lanjut, menjadi tafhimul Qur’an. Saya melihat contohnya di Sudan, di sana sudah ada Jami’ah al-Qur’anul Karim. Itu yang S3-nya Jami’ah al-Qur’anul Karim ini, asbabun nuzul itu sudah dihafal di luar kepala. Mengapa di Indonesia tidak bisa? Saya sudah berbicara dengan kyai-kyai tahfidzul Qur’an, kenapa tidak melakukan asosiasi? Yang salah satunya nanti diangkat menjadi pesantren tahfidzul Qur’an lanjutan. Sehingga mempelajari ulumul Qur’an tidak terbatas pada tartil dan tahfidz, sampai pada ilmu-ilmu Qur’an semisal asbabun nuzul dan juga yang lain. Sehingga Indonesia memilki ahli-ahli al-Qur’an yang bagus. Sambungnya.
Misalnya di UIN Malang sudah melahirkan seorang ahli fisika yang juga hafal al-Qur’an. Suruh meneruskan saja itu, studi al-Qur’annya dalam bidang fisika. Ini yang namanya Islamisasi keilmuan. Sehingga kita nanti memiliki seorang ahli al-Qur’an yang paham fisika di dalam al-Qur’an. Tapi kita miskin dalam hal gagasan-gagasan semacam ini. Hampir 800 ayat al-Qur’an yang mengandung masalah sains, tapi sampai hari ini di Indonesia itu belum ada satu pun tafsir tentang sains.
Dulu pada masa Presiden Habibie, kami pernah mengusulkan untuk membentuk satu tafsir tematik al-Qur’an ini. Tafsir mengenai politik, tafsir mengenai ekonomi, juga tafsir sains. Sayang di Indonesia ini kalau sudah ganti menteri maka ganti kebijakan. Gagasnya.
Oleh karena itu, mengapa visi keilmuan kita tidak pernah menjadi guru di dunia, karena memang keilmuan kita banyak yang nanggung. Demikian juga dengan referensi bahan bacaan dan fasilitas kita itu terbatas sekali jenisnya maupun jumlahnya. Tafsir yang disediakan di pesantren itu paling banyak hanya tafsir Jalalain. Untung kalau ada misalnya tafsir ibn Qatsir atau tafsir Ibn Qayim. Tafsir yang lain yang termasuk kuning, itu hampir-hampir tidak terbaca.
Beliau lalu bercerita, dulu waktu nyantri di pondok Tebuireng Jombang, al-Kutubus sittah itu dibaca. Dan ijazah tanpa kertas, ijazah safahiyah dari kyai yang mengajarkan pada santri yang mengaji itu. Masalah sanad minal muallif itu jelas. Riwayat guru mengajar murid sampai pada muallif itu ada. Dan sekarang kyai yang baca ini tidak ada.
Memang pesantren sekarang ini berkembang. Jumlahnya tambah dan gedungnya bagus-bagus, tapi dari segi kualitas ini mengalami semacam penurunan. Saya masih mengaji pada Mbah Idris (Tebuireng), sekali dalam seminggu, selama tiga jam dan itu mengaji tiga tafsir sekaligus. Tafsir ibn Qayim, tafsir Baidhawi, dan Tafsir Ibnu Katsir. Sembilan santrinya disuruh membaca sendiri sampai selesai. Tapi kadang, baru setengah jam saja, beliau sudah memberi komentar panjang lebar.
Di pesantren kita itu, kebanyakan tidak seimbang antara pengajian fiqh dan ushul fiqhnya. Fiqihnya sudah fathul wahab, ushulnya baru waraqat. Ini tidak pas. Sehingga pemahaman fiqh hanya sebagai produk tidak sebagai proses. Dari sini dapat dilihat bahwa memang pembacaan pada kitab memang kurang. Kitab bagus semisal karya Said Ramadhan al-Buthi, Dhawahibul Maslahat fi Syar’i Islamiyah, kitab semacam ini sama sekali tidak terbaca. Padahal kalau kita buka apa yang ditulis Said Ramadhan, Ibrahim Sulaiman, ini salafi semua. Mengutip dan menguraikan pendapat-pendapat ulama dahulu.
Mantan Direktur Pascasarjana UIN Malang ini kemudian mengusulkan bahwa pengayaan keilmuan di pesantren kalau kita mau mengembangkan pesantren adalah hal yang wajib, kalau kita mau memperluas cakrawala keilmuan betul-betul dapat diwujudkan. Dan saya mengusulkan bantuan pada pesantren itu bukan dalam bentuk bangunan atau komputer, tapi buatlah perpustakaan yang dapat diakses para santri. Bukan hanya diakses oleh kyai. Sebab kalau perpustakaan itu ada di rumah kyai, maka santri tidak berani masuk. Jadi kiainya yang semakin pintar, sedangkan santrinya tidak. Karena memang kebanyakan perpustakaan di pesantren itu ada di rumah kyai. Padahal ini merupakan satu bagian bentuk penambah dan pembuka cakrawala wawasan santri. Apakah itu perpustakaan dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk digital.
Lebih lanjut beliau berujar, untuk betul-betul memahami agama tidak hanya melalui pembelajaran ilmu agama, tetapi juga harus ada sisi lain yang dilakukan, pengalaman beragama. Pendidikan agama yang kita kembangkan sekarang ini hanyalah pembelajaran ilmu agama. Tapi bukan pengembangan pengalaman agama. Menurut saya, amal-amal yang menjadi bagian-bagian pengalaman keagamaan menentukan sekali kualitas pesantren kita. Banyak sekali misalnya, orang-orang yang pandai sekali berdalil, namun, sekedar dalil untuk mendalili orang lain, dia tidak pernah melakukan apa yang diperintahkannya pada orang lain.
Oleh karena itu, saya menganjurkan agar gus-gus dari pesantren itu meningkatkan kemampuan mereka dengan menimba ilmu sebanyak mungkin. Dan dari pembicaran kami, Pak Menteri kemarin menjanjikan akan ada 10 tempat yang akan disediakan bagi para gus-gus dari pesantren untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Dan tentunya ini memakai seleksi. Saya usulkan minimal S2, kalau bisa S3. Apa kepentingannya? Pertama, agar supaya memperluas wawasan keilmuan Islam saat ini. Kedua, agar memiliki kredibilitas di kalangan pesantren. Dan ketiga, agar memiliki perbandingan antara pesantren di Indonesia dan di luar. Ini beberapa hal yang ingin kita sampaikan, agar dunia pesantren kita memiliki citra kegemilangannya. Ujarnya. [bet]
Pesantren Selalu Menjadi Prioritas Program Depag
Senin, 27 Oktober 2008
Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Ada kesan bahwa selama menjabat sebagai menteri agama, yang diurusi hanya masalah haji saja. Padahal, pesantren selalu menjadi prioritas utama program-program yang dibuat Departemen Agama. Demikian dikatakan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) kemarin.
Pada acara yang diadakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama ini, Menag lebih lanjut menyatakan bahwa untuk membuktikan keseriusan dan komitmennya menomorsatukan pesantren, selama 4 tahun menjadi menteri, Depag telah membantu pengembangan pondok pesantren tidak kurang dari 700 miliar.
Bantuan ini sebenarnya tidak seberapa dibandingkan jasa pesantren membantu bangsa ini. Telah lahir ribuan tokoh nasional lahir dari kalangan pesantren. Karenanya, pendidikan pesantren yang didalamnya tertanam jiwa kerjasama, rasa saling menghormati, dan kesetiakawanan harus selalu dikedepankan. Sambungnya dihadapan 65 pengasuh pesantren dari berbagai penjuru nusantara ini.
Acara yang berlangsung sehari ini sendiri diisi dengan brainstorming untuk menggali aspirasi dan harapan para pengasuh pondok pesantren terhadap kinerja Departemen Agama, terutama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. “30 tahun lalu, membicarakan pesantren dianggap sensitif, bahkan cenderung tabu. Tetapi sekarang, pesantren selalu dijadikan obyek kajian”. Demikian dikatakan KH. Abdullah Syarwani saat memandu brainstorming dengan para kiai tersebut.
Lebih lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon ini berujar, pesantren adalah institusi agama yang potensinya luar biasa. Diskusi ini sendiri difokuskan pada tiga hal. Pertama, refleksi Menag 4 tahun mengabdi pada pesantren. Kedua, pemetaan konsep pengembangan pesantren ke depan. Dan ketiga, arah kebijakan pengembangan pesantren.
Semenata KH. A. Aziz Masyhuri, pengasuh pesantren al-Aziziyah Denanyar Jombang yang menjadi salah satu peserta halaqah menyatakan, perlu kajian dan pendalaman yang lebih atas kitab kuning. Ini karena pengajian dan pengkajian pada kitab kuning akhir-akhir ini menurun.
Acara ini sendiri ditutup oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Dalam sambutan penutupannya, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama RI ini menyatakan, perlu visi yang baru dan jelas dalam pengembangan pesantren. [bet]
Manajeman Organisasi dan Upaya Peningkatan Sumber Daya Manusia
Jumat, 26 September 2008
Bogor (www.pondokpesantren.net) – Manajemen organisasi mempersyaratkan adanya sumber daya manusia (pegawai) yang berkualitas, komitmen, disiplin dan mempunyai tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugasnya, tak terkecuali pada lembaga pemerintahan. Untuk itu diperlukan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan pemberdayaan pegawai, sehingga dapat secara mandiri, mampu menjalankan tugas dan berprestasi dengan sebaik-baiknya. Harus seimbang antara pembentukan sistem dan cultur organisasi yang mendorong perubahan, demikian dikatakan Drs. Amin Haedari, M.Pd, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam pada kegiatan In House Training bagi keluarga besar Direktorat PD pontren.
Kegiatan In House Training ini dilaksanakan selama 4 hari di Hotel Grand Pesona Sukabumi Bogor Jawa Barat dari tanggal 1 s/d 4 Agustus 2008 dengan mengambil tema ”Membangun Etos Kerja Sinergi Dalam Lingkungan Yang Harmonis”.
Selain dihadiri oleh seluruh staff Ditpdpontren, hadir juga dalam kesempatan ini Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Dr. Affandi Muchtar, MA, para pegawai yang telah pensiun dan sejumlah pejabat yang sudah tidak lagi di PD Pontren seperti Dr. Mastuki, M.Ag yang saat ini menjabat Kasubdit Kelembagaan dan Kesiswaan Dikti Islam.
Kemandirian seorang pegawai, lanjut Amin, amat ditekankan dalam manajemen modern, sejalan dengan berjalannya sistem manajemen organisasi. Seseorang bisa mencapai kemandirian dan dapat berprestasi dalam melakukan pekerjaan, jika didudukung dengan pengetahuan yang luas, pengalaman yang memadai dan sikap/kesadaran diri dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Oleh karena itu apapun jenis pekerjaan yang dilakukan harus dikerjakan dengan senang,
Pemahaman akan program kerja pada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren harus dimiliki oleh para pegawai, sehingga mampu mengejawantahkan visi, misi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Lebih dari itu teman-teman juga harus memahami program dan kegiatan yang sedang kita lakukan, yang kalau kita ringkas termaktub dalam Tri Logi Pengembangan Pondok Pesantren; yaitu Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pesantren sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, papar alumus Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini dengan mantap.
Ditambahkan oleh Amin Haedari bahwa ”kegiatan semacam ini sengaja dirancang dengan suasana penuh kekeluargaan, santai ditempat yang sejuk sebagai sarana refresing. Bahkan dengan pendekatan out bound nantinya akan lebih menyenangkan”. Hal ini untuk membangun kebersamaan diantara kita dan berupaya untuk meningkatkan etos kerja. Tidak ada yang merasa paling super, semuanya penting dan harus saling mengisi. Bagi Amin, kerja adalah seni, makanya harus dinikmati dan akan berdampak pada kesenangan, pesannya.
Pada akhir in house training, Amin Haedari berpesan kepada para Kasubdit, Kasi dan staf pelaksana agar tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang sudah ada di direktorat. Meskipun kelihatannya santai tetapi kita tetap kenceng. Budaya atau culture akademis harus tetap ditingkatkan dan diciptakan budaya kritis dalam rangka memperbaiki bukan untuk menjatuhkan. Para Kasubdit harus mempunyai feelling (kepekaan dalam merencanakan, merespon persoalan dengan cerdas, jeli dan bijaksana). Hal ini semata-mata untuk meningkatan kinerja Direktorat. (rbs)
Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.
Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.
Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.
Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.
Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
Pemimpin Harus Cakap
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Langkah Mbah Marijan, untuk tetap tinggal dan tidak beranjak dari lingkungan Gunung Merapi saat gunung tersebut mengeluarkan lahar panas adalah langkah pemberani. Dia melawan mainstream keyakinan kebanyakan orang dan dia tetap setia pada komitmen dan keyakinannya memegang amanah, itu adalah sikap seorang pemimpin. Adanya program beasiswa santri berprestasi juga merupakan program brilian yang bukan saja dilakukan oleh seorang birokrat tetapi lebih dari itu adalah langkah seorang pemimpin. Demikian dikatakan Drs. Slamet Efendi Yusuf, M. Si ketika mengawali paparannya tentang leadership di hadapan 75 orang peserta workshop pengembangan organisasi santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Menurut Slamet yang juga anggota DPR RI ini, mengutip Gary A. Yuki (1981), pemimpin yang efektif memiliki beberapa sifat dan kecakapan pokok. Sifat-sifat khusus yang harus dimiliki adalah; mampu menyesuaikan diri, punya perhatian besar terhadap lingkungan sosial, berorientasi pada prestasi, tegas dalam mengajukan pendapat, bersedia kerjasama, tegas dalam membuat keputusan, bisa diandalkan, berusaha mempengaruhi pihak lain, energik atau aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan, istiqomah, yakin akan kemampuan sendiri, tahan menghadapi tekanan, dan bersedia memikul tanggung-jawab.
Sedangkan kecakapan/keahlian khusus seorang pemimpin lanjut Slamet Effendi adalah; pintar, punya kemampuan konseptual, kreatif, mampu berdiplomasi, mampu berbicara, punya kemampuan organisasional atau administratif, mampu meyakinkan orang lain, dan memiliki kemampuan mengembangkan hubungan sosial.
Ditambahkan saat ini, menurut alumnus Fak. Syari’ah UIN (dulu IAIN, red) Sunan Kalijaga Jogjakarta, generasi muda Islam sedang menghadapi tantangan dunia internasional yaitu sistem kapitalisme internasional yang menggurita dan secara nasional adalah aktor yang kian melemah dalam menghadapi tekanan Internasional. Makanya generasi muda Islam harus mampu mengorganisir kekuatan yang dimilikinya. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri sebagai landasan idiologi, moral dan spiritual.
Islam, papar Slamet Effedi, merupakan komunitas terbesar di Indonesia, identitas kolektif politik muslim dan juga masih terbukanya ruang identitas politik Islam serta Islam merupakan kekuatan potensial karena didukung oleh prinsip khuwah Islamiyah.
Secara intelektual, tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), mahasiswa Islam dibentuk oleh tradisi yang kuat, dibekali oleh pemahaman dan gagasan politik modern. Namun demikian kelemahan generasi muda Islam yang dirasakannya adalah lemahnya leadership dan manajerial. Oleh karena itu dibutuhkan lapisan muda yang kritis terhadap dinamika internasional dan nasional, yang bisa menemukan bentuk organisasinya yang baik dengan kepemimpinan efektif, yang akan menggerakkan perubahan (sosial politik) jangka panjang sekaligus sebagai alternatif politik identitas. Perubahan ada di tangan anda semua kalangan generasi muda pondok pesantren. (rbs)
Pesantren Harus Selamatkan Manuskrip Islam Nusantara
Jumat, 05 September 2008
(Yogyakarta) “Prospek pesantren ke depan tidak bergantung pada pihak lain, tetapi lebih tergantung pada kalangan pesantren itu sendiri. Apalagi dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, posisi pesantren semakin legitimate sebagai 2 (dua) pilar pendidikan di tanah air yang memiliki kewajiban dan hak yang sama,” demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Drs. H. Amin Haedari, M.P d, ketika memberikan Kuliah Umum Mahasiswa Baru Program Beasiswa S-2 Tahqiq al-Kutub, Rabu, 03 September 2008, bertempat di Ruang Promosi Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kuliah Umum yang bertema “Dinamika Pesantren di Indonesia” itu dilaksanakan dalam rangka orientasi mahasiwa baru Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang di dalamnya termasuk 26 orang mahasiswa baru Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang merupakan hasil seleksi lebih dari 850 orang peserta dari berbagai pondok pesantren se-Indonesia.
“Pada tataran teori, sistem belajar di pendidikan pesantren yang dilakukan sepanjang hari atau 24 jam itu secara kualitas mestinya bisa melebihi sistem belajar di pendidikan selain pesantren yang rata-rata hanya dilaksanakan selama 8 jam. Tapi secara realitasnya hal ini masih memerlukan waktu,” kata Amin.
Berkaitan dengan hal itu, papar Amin lebih lanjut, untuk menghantarkan pesantren menjadi lembaga yang berkualitas, pemerintah melalui Departemen Agama, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, melakukan beberapa kebijakan ke depan, antara lain; Pertama, memberikan pelayanan yang optimal kepada pondok pesantren dengan 3 (tiga) peran yang dimainkan yakni sebagai lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan. Kedua, memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada pondok pesantren untuk berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Ketiga, menghindari intervensi kepada lembaga tersebut selama pendidikan di pondok pesantren tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional.
Sementara itu, terkait dengan adanya Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang baru pertama kalinya diadakan dan bekerjasama dengan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, menurutnya, diluncurkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada kalangan pesantren (kyai, ustadz/ah, santri) untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang S-2. Melalui program ini diharapkan akan muncul para muhaqqiq (ahli di bidang tahqiq) berasal dari pesantren yang akan membangkitkan tradisi ilmiah pesantren dan menyelamatkan naskah/manuskrip Islam Nusantara.
Program tersebut, menurut Direktur yang merupakan alumnus Fakultas Adab UIN (dulu IAIN, red.) Sunan Kalijaga ini bertujuan; Pertama, memberikan kesempatan bagi kalangan pesantren untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang strata dua (S-2) dalam bidang Tahqîq Al-Kutub. Kedua, menumbuhkan tradisi ilmiah dan keilmuan pesantren yang berbasis kuat pada tradisi kitab kuning (turats) melalui telaah, analisis, dan kajian terhadap kitab-kitab karya ulama Muslim (Timur Tengah maupun Nusantara). Ketiga, mentransformasikan pengetahuan dan keahlian men-tahqiq kepada kalangan akademisi pesantren dan perguruan tinggi Islam sebagai upaya menggerakkan kembali tradisi pemikiran Islam Indonesia.
Lebih lanjut Direktur yang telah lama menyelami seluk-beluk dunia pesantren itu memaparkan bahwa perkembangan dunia telah melahirkan suatu kemajuan zaman yang modern. Perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosio-kultural seringkali membentur pada aneka kemapanan. Hal ini berakibat pada keharusan untuk mengadakan usaha kontekstualisasi bangunan-bangunan sosio-kultural dengan dinamika modernisasi, tak terkecuali dengan sistem pendidikan pesantren. Karena itu, sistem pendidikan pesantren harus selalu melakukan upaya rekonstruksi pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam agar tetap relevan dan survive. Pesantren modern berarti pesantren yang selalu tanggap terhadap perubahan dan tuntutan zaman, berwawasan masa depan, selalu mengutamakan prinsip efektifitas dan efisiensi dan sebagainya. Namun demikian, “modernisasi pesantren tidak harus mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren. Demikian pula, nilai-nilai pesantren tidak perlu dikorbankan demi program modernisasi pesantren. Kendati harus berubah, menyesuaikan, metomorphose, atau apa pun namanya, dunia pesantren harus tetap hadir dengan jati dirinya yang khas. Di sinilah, program Tahqîq Al-Kutub menjadi sentral untuk dikaji bersama”, tegas Direktur lebih lanjut.
Sementara itu Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Iskandar Zulkarnain dalam sambutannya mengatakan: “Selamat datang kepada para mahasiswa baru di Ngayogyokarto Hadiningrat. Usahakan kuliah di sini bisa selesai tepat waktu.” Berkaitan dengan eksistensi pesantren, menurutnya, secara historis pesantren memang memiliki kontribusi yang luar biasa dalam perkembangan Islam di Indonesia. Namun demikian, di era sekarang ini pesantren harus bisa merespons berbagai tuntutan perubahan. “Semoga ke depan jumlah peserta beasiswanya bisa ditambah dan bahkan kalau mungkin juga dibuatkan asramanya di sini,” harapnya lebih lanjut.
Materi Perkuliahan yang akan diperoleh selama 2 tahun oleh para mahasiswa program Tahqîq Al-Kutub itu sebanyak 44 sks (termasuk tesis) yang meliputi 4 (empat) jenis mata kuliah, yaitu: Pertama, Mata Kuliah Dasar Keahlian yang meliputi: Studi al-Qur’an: Teori & Metodologi, Studi Hadis: Teori & Metodologi, Filsafat Ilmu, Sejarah Pemikiran & Peradaban Islam (Tarikh al-Turats al-Islami). Kedua, Mata Kuliah Keahlian yang meliputi: Manhaj al-Bahts fi Tahqiq al-Kutub (Metodologi Penelitian Tahqiq Kitab), Pendekatan Interdisipliner dalam Pengkajian Islam (Tafsir, Hadis, Kalam, Falsafah, Fiqh/Ushul Fiqh, danTasawuf), Ulum al-Lughah I (Nahwu, Sharaf dan Balaghah Terapan), Ulum al-Lughah II (Fiqh al-Lughah, Sosio-Psiko Linguistik, Stilistika/Uslub, dan Semantik), ’Ilm al-Fahm (Hermenetika) dan Semiotika. Ketiga, Mata Kuliah Konsentrasi yang meliputi: Ulum al-Tahqiq I/Naskah Arab (Teori dan Praktek), Ulum al-Tahqiq II/Naskah Nusantara (Teori dan Praktek), Naqd al-Nushus, Ilm al-Rasm, Ilmu Tarajim wa al-Thabaqat.. Keempat, Mata Kuliah Penunjang yang meliputi: Seminar Proposal Tesis dan Tesis. (S.A6).
“Pesantren Merupakan Benteng Terakhir…”
Senin, 25 Agustus 2008
(Yogyakarta) “Pesantren merupakan benteng terakhir dalam menciptakan manusia yang pintar dan benar, karena di pondok pesantren itu belajar agama dilakukan secara mendalam dan meluas”, demikian disampaikan KH. Asyhari Abta ketika mengisi acara pengajian umum dalam rangka Haflah Akhirissanah dan Harlah ke-23 Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, Ahad Malam, 24 Agustus 2008 lalu.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib –semoga Allah memuliakannya– di dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, menurut penceramah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ini menuturkan bahwa “akan datang suatu zaman pada umat Islam di mana Islam hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid ramai tetapi akan kosong dari dzikir kepada Allah dan yang paling jelek pada zaman itu adalah para ulamanya karena akan banyak menimbulkan fitnah.” Kemudian ia menguraikan secara panjang lebar tentang fenomena yang akan terjadi pada umat Islam di zaman akhir tersebut.
“Dengan masih adanya pondok pesantren, insya-Allah Islam tidak hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an tidak hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid tidak akan sepi dari dzikir kepada Allah dan ulama yang ada tidak akan banyak menimbulkan fitnah”, tegas penceramah yang juga menjadi Rois Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta ini lebih lanjut.
Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah, KH. Muslim Nawawi dalam sambutannya setelah mewisuda para siswa Madrasah Diniyah Nurul Ummah mengatakan: “bersyukurlah kepada Allah, karena saudara semua termasuk orang-orang beruntung sehingga bisa menyelesaikan pendidikan di madrasah diniyah sampai dengan selesai tingkat II ulya. Hal ini tentu sesuai dengan pesan yang pernah disampaikan oleh al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuqi (pengasuh sebelumnya). Semua ini benar-benar merupakan karunia Allah. Apalagi bila mengingat bahwa karena berbagai macam alasan tidak semua siswa di sini dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai dengan selesai. Percayalah, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat,” ungkapnya seraya mengutip ayat al-Qur’an Surat al-Mujaadilah ayat 11. “Kami nantikan kiprah kalian di pondok ini,” harap pengasuh yang pernah mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini lebih lanjut.
Sedangkan Drs. H. Djalaluddin, SH., Pengurus Yayasan Pendidikan Bina Putra, dalam sambutannya menegaskan bahwa betapa pentingnya belajar itu dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama), karena akan bisa membangkitkan motivasi dan semangat, sehingga akan cepat bisa dalam mempelajari sesuatu. “Pengalaman saya dulu, misalnya, ketika belajar al-Qur’an dengan banyak teman itu tidak cepat bosan sehingga tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa membacanya dengan baik dan benar,” katanya. Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan tentang usaha-usaha yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh yayasan dalam rangka melengkapi sarana prasarana pendidikan maupun perkembangan lembaga-lembaga yang ada di Pondok Pesantren Nurul Ummah yang berada di bawah naungan yayasan yang dipimpinnya itu.
Acara Pengajian Umum di pondok pesantren yang didirikan oleh oleh al-Maghfurlah KH. Marzuqi Romli 23 tahun yang lalu itu, menurut ketua panitia penyelenggara, M. Ghufron, merupakan puncak acara dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya selama seminggu, 18-24 Agustus 2008. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama sepekan itu meliputi: lomba-lomba keagamaan dan umum untuk para santri serta bakti sosial bagi masyarakat sekitar pesantren. (S.A6).
PP 55/2007 “Untungkan” Pesantren
Jumat, 01 Agustus 2008
Munculnya PP no. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Diniyah dan Pendidikan Keagamaan sebenarnya sangat berpihak dan menguntungkan pesantren. Demikian dikatakan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI dalam sambutannya pada pembukaan pertemuan pimpinan pesantren mu’adalah dan Depag RI di Hotel Millenium (30/7/08).
Lebih lanjut dia menuturkan, keberpihakan PP no 55 tahun 2007 terhadap dunia pesantren karena dalam PP itu mengatur guru atau ustadz dari pesantren salafiyah yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu di luar kemampuan bidang keagamaan, keahlian tersebut bisa diakui juga di lembaga formal atau lembaga-lembaga lainnya.
Misalnya aturan tentang SKS (Sistem Kredit Semester) di perguruan tinggi. Orang-orang pesantren yang memiliki kualifikasi keilmuan, langsung bisa bisa ditransfer dengan menghitung kualitas yang dimilikinya. “Jadi orang-orang dari pesantren kalau kuliah tidak perlu lagi 4 sampai 5 tahun. Mungkin cukup 2 atau 3 tahun saja. Jadi tidak harus mulai dari semester satu” sambungnya.
Namun begitu, menurut alumni Fak Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pesantren juga harus mengikuti tata aturan yang sudah diundangkan. Pesantren harus siap dengan aturan-aturan formal yang ada. Jika nantinya pesantren mu’adalah berubah menjadi diniyah formal, maka guru-guru atau ustadz-ustadz yang ada harus disiapkan. Misalnya ustadz harus memiliki ijazah S1.
Ketika disinggung apakah semua diniyah yang ada di pesantren akan berubah menjadi diniyah formal. Pria kelahiran Ciamis ini menyebut bahwa pendidikan diniyah formal hanyalah alternatif. “jika pesantren menginginkan pendidikan diniyahnya menjadi diniyah formal, maka akan kita bantu. Tetapi jika tidak, ya tidak apa-apa. Ini hanya pilihan saja” sambungnya. (bet)
Keilmuan di Pesantren Harus Terus Dikembangkan
Kamis, 30 Oktober 2008
Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Pesantren itu dunia yang paling sulit untuk distandarisasi keilmuannya. Sebab ada pesantren yang dibentuk setelah adanya pertimbangan yang matang berdasarkan satu visibility study, tetapi juga ada yang dibesarkan karena hobi. Demikian dikatakan KH. Tolhah Hasan pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI.
Yang kemudian terjadi adalah munculnya masalah pada visi keilmuan pesantren itu sendiri. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren kalau mau dilihat secara keilmuan masih-lah sangat njomplang (timpang – red). Keilmuan di pesantren itu terlalu fiqhiyah, orientasi pada ilmu agama ke fiqh. Jarang sekali yang mendalami keilmuan agama seperti tafsir misalnya, imbuhnya.
Lebih lanjut mantan Menteri Agama pada masa Gus Dur ini berujar, di Indonesia ini ada sekian ribu madzhab tahfidzul Qur’an. Tapi sampai pada hari ini, hanya terbatas pada tahfidz. Tidak ada dari sekian ribu itu yang mengembangkan keilmuannya lebih lanjut, menjadi tafhimul Qur’an. Saya melihat contohnya di Sudan, di sana sudah ada Jami’ah al-Qur’anul Karim. Itu yang S3-nya Jami’ah al-Qur’anul Karim ini, asbabun nuzul itu sudah dihafal di luar kepala. Mengapa di Indonesia tidak bisa? Saya sudah berbicara dengan kyai-kyai tahfidzul Qur’an, kenapa tidak melakukan asosiasi? Yang salah satunya nanti diangkat menjadi pesantren tahfidzul Qur’an lanjutan. Sehingga mempelajari ulumul Qur’an tidak terbatas pada tartil dan tahfidz, sampai pada ilmu-ilmu Qur’an semisal asbabun nuzul dan juga yang lain. Sehingga Indonesia memilki ahli-ahli al-Qur’an yang bagus. Sambungnya.
Misalnya di UIN Malang sudah melahirkan seorang ahli fisika yang juga hafal al-Qur’an. Suruh meneruskan saja itu, studi al-Qur’annya dalam bidang fisika. Ini yang namanya Islamisasi keilmuan. Sehingga kita nanti memiliki seorang ahli al-Qur’an yang paham fisika di dalam al-Qur’an. Tapi kita miskin dalam hal gagasan-gagasan semacam ini. Hampir 800 ayat al-Qur’an yang mengandung masalah sains, tapi sampai hari ini di Indonesia itu belum ada satu pun tafsir tentang sains.
Dulu pada masa Presiden Habibie, kami pernah mengusulkan untuk membentuk satu tafsir tematik al-Qur’an ini. Tafsir mengenai politik, tafsir mengenai ekonomi, juga tafsir sains. Sayang di Indonesia ini kalau sudah ganti menteri maka ganti kebijakan. Gagasnya.
Oleh karena itu, mengapa visi keilmuan kita tidak pernah menjadi guru di dunia, karena memang keilmuan kita banyak yang nanggung. Demikian juga dengan referensi bahan bacaan dan fasilitas kita itu terbatas sekali jenisnya maupun jumlahnya. Tafsir yang disediakan di pesantren itu paling banyak hanya tafsir Jalalain. Untung kalau ada misalnya tafsir ibn Qatsir atau tafsir Ibn Qayim. Tafsir yang lain yang termasuk kuning, itu hampir-hampir tidak terbaca.
Beliau lalu bercerita, dulu waktu nyantri di pondok Tebuireng Jombang, al-Kutubus sittah itu dibaca. Dan ijazah tanpa kertas, ijazah safahiyah dari kyai yang mengajarkan pada santri yang mengaji itu. Masalah sanad minal muallif itu jelas. Riwayat guru mengajar murid sampai pada muallif itu ada. Dan sekarang kyai yang baca ini tidak ada.
Memang pesantren sekarang ini berkembang. Jumlahnya tambah dan gedungnya bagus-bagus, tapi dari segi kualitas ini mengalami semacam penurunan. Saya masih mengaji pada Mbah Idris (Tebuireng), sekali dalam seminggu, selama tiga jam dan itu mengaji tiga tafsir sekaligus. Tafsir ibn Qayim, tafsir Baidhawi, dan Tafsir Ibnu Katsir. Sembilan santrinya disuruh membaca sendiri sampai selesai. Tapi kadang, baru setengah jam saja, beliau sudah memberi komentar panjang lebar.
Di pesantren kita itu, kebanyakan tidak seimbang antara pengajian fiqh dan ushul fiqhnya. Fiqihnya sudah fathul wahab, ushulnya baru waraqat. Ini tidak pas. Sehingga pemahaman fiqh hanya sebagai produk tidak sebagai proses. Dari sini dapat dilihat bahwa memang pembacaan pada kitab memang kurang. Kitab bagus semisal karya Said Ramadhan al-Buthi, Dhawahibul Maslahat fi Syar’i Islamiyah, kitab semacam ini sama sekali tidak terbaca. Padahal kalau kita buka apa yang ditulis Said Ramadhan, Ibrahim Sulaiman, ini salafi semua. Mengutip dan menguraikan pendapat-pendapat ulama dahulu.
Mantan Direktur Pascasarjana UIN Malang ini kemudian mengusulkan bahwa pengayaan keilmuan di pesantren kalau kita mau mengembangkan pesantren adalah hal yang wajib, kalau kita mau memperluas cakrawala keilmuan betul-betul dapat diwujudkan. Dan saya mengusulkan bantuan pada pesantren itu bukan dalam bentuk bangunan atau komputer, tapi buatlah perpustakaan yang dapat diakses para santri. Bukan hanya diakses oleh kyai. Sebab kalau perpustakaan itu ada di rumah kyai, maka santri tidak berani masuk. Jadi kiainya yang semakin pintar, sedangkan santrinya tidak. Karena memang kebanyakan perpustakaan di pesantren itu ada di rumah kyai. Padahal ini merupakan satu bagian bentuk penambah dan pembuka cakrawala wawasan santri. Apakah itu perpustakaan dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk digital.
Lebih lanjut beliau berujar, untuk betul-betul memahami agama tidak hanya melalui pembelajaran ilmu agama, tetapi juga harus ada sisi lain yang dilakukan, pengalaman beragama. Pendidikan agama yang kita kembangkan sekarang ini hanyalah pembelajaran ilmu agama. Tapi bukan pengembangan pengalaman agama. Menurut saya, amal-amal yang menjadi bagian-bagian pengalaman keagamaan menentukan sekali kualitas pesantren kita. Banyak sekali misalnya, orang-orang yang pandai sekali berdalil, namun, sekedar dalil untuk mendalili orang lain, dia tidak pernah melakukan apa yang diperintahkannya pada orang lain.
Oleh karena itu, saya menganjurkan agar gus-gus dari pesantren itu meningkatkan kemampuan mereka dengan menimba ilmu sebanyak mungkin. Dan dari pembicaran kami, Pak Menteri kemarin menjanjikan akan ada 10 tempat yang akan disediakan bagi para gus-gus dari pesantren untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Dan tentunya ini memakai seleksi. Saya usulkan minimal S2, kalau bisa S3. Apa kepentingannya? Pertama, agar supaya memperluas wawasan keilmuan Islam saat ini. Kedua, agar memiliki kredibilitas di kalangan pesantren. Dan ketiga, agar memiliki perbandingan antara pesantren di Indonesia dan di luar. Ini beberapa hal yang ingin kita sampaikan, agar dunia pesantren kita memiliki citra kegemilangannya. Ujarnya. [bet]
Pesantren Selalu Menjadi Prioritas Program Depag
Senin, 27 Oktober 2008
Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Ada kesan bahwa selama menjabat sebagai menteri agama, yang diurusi hanya masalah haji saja. Padahal, pesantren selalu menjadi prioritas utama program-program yang dibuat Departemen Agama. Demikian dikatakan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) kemarin.
Pada acara yang diadakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama ini, Menag lebih lanjut menyatakan bahwa untuk membuktikan keseriusan dan komitmennya menomorsatukan pesantren, selama 4 tahun menjadi menteri, Depag telah membantu pengembangan pondok pesantren tidak kurang dari 700 miliar.
Bantuan ini sebenarnya tidak seberapa dibandingkan jasa pesantren membantu bangsa ini. Telah lahir ribuan tokoh nasional lahir dari kalangan pesantren. Karenanya, pendidikan pesantren yang didalamnya tertanam jiwa kerjasama, rasa saling menghormati, dan kesetiakawanan harus selalu dikedepankan. Sambungnya dihadapan 65 pengasuh pesantren dari berbagai penjuru nusantara ini.
Acara yang berlangsung sehari ini sendiri diisi dengan brainstorming untuk menggali aspirasi dan harapan para pengasuh pondok pesantren terhadap kinerja Departemen Agama, terutama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. “30 tahun lalu, membicarakan pesantren dianggap sensitif, bahkan cenderung tabu. Tetapi sekarang, pesantren selalu dijadikan obyek kajian”. Demikian dikatakan KH. Abdullah Syarwani saat memandu brainstorming dengan para kiai tersebut.
Lebih lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon ini berujar, pesantren adalah institusi agama yang potensinya luar biasa. Diskusi ini sendiri difokuskan pada tiga hal. Pertama, refleksi Menag 4 tahun mengabdi pada pesantren. Kedua, pemetaan konsep pengembangan pesantren ke depan. Dan ketiga, arah kebijakan pengembangan pesantren.
Semenata KH. A. Aziz Masyhuri, pengasuh pesantren al-Aziziyah Denanyar Jombang yang menjadi salah satu peserta halaqah menyatakan, perlu kajian dan pendalaman yang lebih atas kitab kuning. Ini karena pengajian dan pengkajian pada kitab kuning akhir-akhir ini menurun.
Acara ini sendiri ditutup oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Dalam sambutan penutupannya, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama RI ini menyatakan, perlu visi yang baru dan jelas dalam pengembangan pesantren. [bet]
Manajeman Organisasi dan Upaya Peningkatan Sumber Daya Manusia
Jumat, 26 September 2008
Bogor (www.pondokpesantren.net) – Manajemen organisasi mempersyaratkan adanya sumber daya manusia (pegawai) yang berkualitas, komitmen, disiplin dan mempunyai tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugasnya, tak terkecuali pada lembaga pemerintahan. Untuk itu diperlukan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan pemberdayaan pegawai, sehingga dapat secara mandiri, mampu menjalankan tugas dan berprestasi dengan sebaik-baiknya. Harus seimbang antara pembentukan sistem dan cultur organisasi yang mendorong perubahan, demikian dikatakan Drs. Amin Haedari, M.Pd, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam pada kegiatan In House Training bagi keluarga besar Direktorat PD pontren.
Kegiatan In House Training ini dilaksanakan selama 4 hari di Hotel Grand Pesona Sukabumi Bogor Jawa Barat dari tanggal 1 s/d 4 Agustus 2008 dengan mengambil tema ”Membangun Etos Kerja Sinergi Dalam Lingkungan Yang Harmonis”.
Selain dihadiri oleh seluruh staff Ditpdpontren, hadir juga dalam kesempatan ini Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Dr. Affandi Muchtar, MA, para pegawai yang telah pensiun dan sejumlah pejabat yang sudah tidak lagi di PD Pontren seperti Dr. Mastuki, M.Ag yang saat ini menjabat Kasubdit Kelembagaan dan Kesiswaan Dikti Islam.
Kemandirian seorang pegawai, lanjut Amin, amat ditekankan dalam manajemen modern, sejalan dengan berjalannya sistem manajemen organisasi. Seseorang bisa mencapai kemandirian dan dapat berprestasi dalam melakukan pekerjaan, jika didudukung dengan pengetahuan yang luas, pengalaman yang memadai dan sikap/kesadaran diri dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Oleh karena itu apapun jenis pekerjaan yang dilakukan harus dikerjakan dengan senang,
Pemahaman akan program kerja pada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren harus dimiliki oleh para pegawai, sehingga mampu mengejawantahkan visi, misi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Lebih dari itu teman-teman juga harus memahami program dan kegiatan yang sedang kita lakukan, yang kalau kita ringkas termaktub dalam Tri Logi Pengembangan Pondok Pesantren; yaitu Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pesantren sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, papar alumus Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini dengan mantap.
Ditambahkan oleh Amin Haedari bahwa ”kegiatan semacam ini sengaja dirancang dengan suasana penuh kekeluargaan, santai ditempat yang sejuk sebagai sarana refresing. Bahkan dengan pendekatan out bound nantinya akan lebih menyenangkan”. Hal ini untuk membangun kebersamaan diantara kita dan berupaya untuk meningkatkan etos kerja. Tidak ada yang merasa paling super, semuanya penting dan harus saling mengisi. Bagi Amin, kerja adalah seni, makanya harus dinikmati dan akan berdampak pada kesenangan, pesannya.
Pada akhir in house training, Amin Haedari berpesan kepada para Kasubdit, Kasi dan staf pelaksana agar tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang sudah ada di direktorat. Meskipun kelihatannya santai tetapi kita tetap kenceng. Budaya atau culture akademis harus tetap ditingkatkan dan diciptakan budaya kritis dalam rangka memperbaiki bukan untuk menjatuhkan. Para Kasubdit harus mempunyai feelling (kepekaan dalam merencanakan, merespon persoalan dengan cerdas, jeli dan bijaksana). Hal ini semata-mata untuk meningkatan kinerja Direktorat. (rbs)
Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.
Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.
Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.
Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.
Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
Pemimpin Harus Cakap
Senin, 15 September 2008
Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Langkah Mbah Marijan, untuk tetap tinggal dan tidak beranjak dari lingkungan Gunung Merapi saat gunung tersebut mengeluarkan lahar panas adalah langkah pemberani. Dia melawan mainstream keyakinan kebanyakan orang dan dia tetap setia pada komitmen dan keyakinannya memegang amanah, itu adalah sikap seorang pemimpin. Adanya program beasiswa santri berprestasi juga merupakan program brilian yang bukan saja dilakukan oleh seorang birokrat tetapi lebih dari itu adalah langkah seorang pemimpin. Demikian dikatakan Drs. Slamet Efendi Yusuf, M. Si ketika mengawali paparannya tentang leadership di hadapan 75 orang peserta workshop pengembangan organisasi santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
Menurut Slamet yang juga anggota DPR RI ini, mengutip Gary A. Yuki (1981), pemimpin yang efektif memiliki beberapa sifat dan kecakapan pokok. Sifat-sifat khusus yang harus dimiliki adalah; mampu menyesuaikan diri, punya perhatian besar terhadap lingkungan sosial, berorientasi pada prestasi, tegas dalam mengajukan pendapat, bersedia kerjasama, tegas dalam membuat keputusan, bisa diandalkan, berusaha mempengaruhi pihak lain, energik atau aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan, istiqomah, yakin akan kemampuan sendiri, tahan menghadapi tekanan, dan bersedia memikul tanggung-jawab.
Sedangkan kecakapan/keahlian khusus seorang pemimpin lanjut Slamet Effendi adalah; pintar, punya kemampuan konseptual, kreatif, mampu berdiplomasi, mampu berbicara, punya kemampuan organisasional atau administratif, mampu meyakinkan orang lain, dan memiliki kemampuan mengembangkan hubungan sosial.
Ditambahkan saat ini, menurut alumnus Fak. Syari’ah UIN (dulu IAIN, red) Sunan Kalijaga Jogjakarta, generasi muda Islam sedang menghadapi tantangan dunia internasional yaitu sistem kapitalisme internasional yang menggurita dan secara nasional adalah aktor yang kian melemah dalam menghadapi tekanan Internasional. Makanya generasi muda Islam harus mampu mengorganisir kekuatan yang dimilikinya. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri sebagai landasan idiologi, moral dan spiritual.
Islam, papar Slamet Effedi, merupakan komunitas terbesar di Indonesia, identitas kolektif politik muslim dan juga masih terbukanya ruang identitas politik Islam serta Islam merupakan kekuatan potensial karena didukung oleh prinsip khuwah Islamiyah.
Secara intelektual, tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), mahasiswa Islam dibentuk oleh tradisi yang kuat, dibekali oleh pemahaman dan gagasan politik modern. Namun demikian kelemahan generasi muda Islam yang dirasakannya adalah lemahnya leadership dan manajerial. Oleh karena itu dibutuhkan lapisan muda yang kritis terhadap dinamika internasional dan nasional, yang bisa menemukan bentuk organisasinya yang baik dengan kepemimpinan efektif, yang akan menggerakkan perubahan (sosial politik) jangka panjang sekaligus sebagai alternatif politik identitas. Perubahan ada di tangan anda semua kalangan generasi muda pondok pesantren. (rbs)
Pesantren Harus Selamatkan Manuskrip Islam Nusantara
Jumat, 05 September 2008
(Yogyakarta) “Prospek pesantren ke depan tidak bergantung pada pihak lain, tetapi lebih tergantung pada kalangan pesantren itu sendiri. Apalagi dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, posisi pesantren semakin legitimate sebagai 2 (dua) pilar pendidikan di tanah air yang memiliki kewajiban dan hak yang sama,” demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Drs. H. Amin Haedari, M.P d, ketika memberikan Kuliah Umum Mahasiswa Baru Program Beasiswa S-2 Tahqiq al-Kutub, Rabu, 03 September 2008, bertempat di Ruang Promosi Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kuliah Umum yang bertema “Dinamika Pesantren di Indonesia” itu dilaksanakan dalam rangka orientasi mahasiwa baru Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang di dalamnya termasuk 26 orang mahasiswa baru Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang merupakan hasil seleksi lebih dari 850 orang peserta dari berbagai pondok pesantren se-Indonesia.
“Pada tataran teori, sistem belajar di pendidikan pesantren yang dilakukan sepanjang hari atau 24 jam itu secara kualitas mestinya bisa melebihi sistem belajar di pendidikan selain pesantren yang rata-rata hanya dilaksanakan selama 8 jam. Tapi secara realitasnya hal ini masih memerlukan waktu,” kata Amin.
Berkaitan dengan hal itu, papar Amin lebih lanjut, untuk menghantarkan pesantren menjadi lembaga yang berkualitas, pemerintah melalui Departemen Agama, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, melakukan beberapa kebijakan ke depan, antara lain; Pertama, memberikan pelayanan yang optimal kepada pondok pesantren dengan 3 (tiga) peran yang dimainkan yakni sebagai lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan. Kedua, memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada pondok pesantren untuk berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Ketiga, menghindari intervensi kepada lembaga tersebut selama pendidikan di pondok pesantren tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional.
Sementara itu, terkait dengan adanya Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang baru pertama kalinya diadakan dan bekerjasama dengan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, menurutnya, diluncurkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada kalangan pesantren (kyai, ustadz/ah, santri) untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang S-2. Melalui program ini diharapkan akan muncul para muhaqqiq (ahli di bidang tahqiq) berasal dari pesantren yang akan membangkitkan tradisi ilmiah pesantren dan menyelamatkan naskah/manuskrip Islam Nusantara.
Program tersebut, menurut Direktur yang merupakan alumnus Fakultas Adab UIN (dulu IAIN, red.) Sunan Kalijaga ini bertujuan; Pertama, memberikan kesempatan bagi kalangan pesantren untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang strata dua (S-2) dalam bidang Tahqîq Al-Kutub. Kedua, menumbuhkan tradisi ilmiah dan keilmuan pesantren yang berbasis kuat pada tradisi kitab kuning (turats) melalui telaah, analisis, dan kajian terhadap kitab-kitab karya ulama Muslim (Timur Tengah maupun Nusantara). Ketiga, mentransformasikan pengetahuan dan keahlian men-tahqiq kepada kalangan akademisi pesantren dan perguruan tinggi Islam sebagai upaya menggerakkan kembali tradisi pemikiran Islam Indonesia.
Lebih lanjut Direktur yang telah lama menyelami seluk-beluk dunia pesantren itu memaparkan bahwa perkembangan dunia telah melahirkan suatu kemajuan zaman yang modern. Perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosio-kultural seringkali membentur pada aneka kemapanan. Hal ini berakibat pada keharusan untuk mengadakan usaha kontekstualisasi bangunan-bangunan sosio-kultural dengan dinamika modernisasi, tak terkecuali dengan sistem pendidikan pesantren. Karena itu, sistem pendidikan pesantren harus selalu melakukan upaya rekonstruksi pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam agar tetap relevan dan survive. Pesantren modern berarti pesantren yang selalu tanggap terhadap perubahan dan tuntutan zaman, berwawasan masa depan, selalu mengutamakan prinsip efektifitas dan efisiensi dan sebagainya. Namun demikian, “modernisasi pesantren tidak harus mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren. Demikian pula, nilai-nilai pesantren tidak perlu dikorbankan demi program modernisasi pesantren. Kendati harus berubah, menyesuaikan, metomorphose, atau apa pun namanya, dunia pesantren harus tetap hadir dengan jati dirinya yang khas. Di sinilah, program Tahqîq Al-Kutub menjadi sentral untuk dikaji bersama”, tegas Direktur lebih lanjut.
Sementara itu Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Iskandar Zulkarnain dalam sambutannya mengatakan: “Selamat datang kepada para mahasiswa baru di Ngayogyokarto Hadiningrat. Usahakan kuliah di sini bisa selesai tepat waktu.” Berkaitan dengan eksistensi pesantren, menurutnya, secara historis pesantren memang memiliki kontribusi yang luar biasa dalam perkembangan Islam di Indonesia. Namun demikian, di era sekarang ini pesantren harus bisa merespons berbagai tuntutan perubahan. “Semoga ke depan jumlah peserta beasiswanya bisa ditambah dan bahkan kalau mungkin juga dibuatkan asramanya di sini,” harapnya lebih lanjut.
Materi Perkuliahan yang akan diperoleh selama 2 tahun oleh para mahasiswa program Tahqîq Al-Kutub itu sebanyak 44 sks (termasuk tesis) yang meliputi 4 (empat) jenis mata kuliah, yaitu: Pertama, Mata Kuliah Dasar Keahlian yang meliputi: Studi al-Qur’an: Teori & Metodologi, Studi Hadis: Teori & Metodologi, Filsafat Ilmu, Sejarah Pemikiran & Peradaban Islam (Tarikh al-Turats al-Islami). Kedua, Mata Kuliah Keahlian yang meliputi: Manhaj al-Bahts fi Tahqiq al-Kutub (Metodologi Penelitian Tahqiq Kitab), Pendekatan Interdisipliner dalam Pengkajian Islam (Tafsir, Hadis, Kalam, Falsafah, Fiqh/Ushul Fiqh, danTasawuf), Ulum al-Lughah I (Nahwu, Sharaf dan Balaghah Terapan), Ulum al-Lughah II (Fiqh al-Lughah, Sosio-Psiko Linguistik, Stilistika/Uslub, dan Semantik), ’Ilm al-Fahm (Hermenetika) dan Semiotika. Ketiga, Mata Kuliah Konsentrasi yang meliputi: Ulum al-Tahqiq I/Naskah Arab (Teori dan Praktek), Ulum al-Tahqiq II/Naskah Nusantara (Teori dan Praktek), Naqd al-Nushus, Ilm al-Rasm, Ilmu Tarajim wa al-Thabaqat.. Keempat, Mata Kuliah Penunjang yang meliputi: Seminar Proposal Tesis dan Tesis. (S.A6).
“Pesantren Merupakan Benteng Terakhir…”
Senin, 25 Agustus 2008
(Yogyakarta) “Pesantren merupakan benteng terakhir dalam menciptakan manusia yang pintar dan benar, karena di pondok pesantren itu belajar agama dilakukan secara mendalam dan meluas”, demikian disampaikan KH. Asyhari Abta ketika mengisi acara pengajian umum dalam rangka Haflah Akhirissanah dan Harlah ke-23 Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, Ahad Malam, 24 Agustus 2008 lalu.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib –semoga Allah memuliakannya– di dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, menurut penceramah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ini menuturkan bahwa “akan datang suatu zaman pada umat Islam di mana Islam hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid ramai tetapi akan kosong dari dzikir kepada Allah dan yang paling jelek pada zaman itu adalah para ulamanya karena akan banyak menimbulkan fitnah.” Kemudian ia menguraikan secara panjang lebar tentang fenomena yang akan terjadi pada umat Islam di zaman akhir tersebut.
“Dengan masih adanya pondok pesantren, insya-Allah Islam tidak hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an tidak hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid tidak akan sepi dari dzikir kepada Allah dan ulama yang ada tidak akan banyak menimbulkan fitnah”, tegas penceramah yang juga menjadi Rois Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta ini lebih lanjut.
Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah, KH. Muslim Nawawi dalam sambutannya setelah mewisuda para siswa Madrasah Diniyah Nurul Ummah mengatakan: “bersyukurlah kepada Allah, karena saudara semua termasuk orang-orang beruntung sehingga bisa menyelesaikan pendidikan di madrasah diniyah sampai dengan selesai tingkat II ulya. Hal ini tentu sesuai dengan pesan yang pernah disampaikan oleh al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuqi (pengasuh sebelumnya). Semua ini benar-benar merupakan karunia Allah. Apalagi bila mengingat bahwa karena berbagai macam alasan tidak semua siswa di sini dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai dengan selesai. Percayalah, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat,” ungkapnya seraya mengutip ayat al-Qur’an Surat al-Mujaadilah ayat 11. “Kami nantikan kiprah kalian di pondok ini,” harap pengasuh yang pernah mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini lebih lanjut.
Sedangkan Drs. H. Djalaluddin, SH., Pengurus Yayasan Pendidikan Bina Putra, dalam sambutannya menegaskan bahwa betapa pentingnya belajar itu dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama), karena akan bisa membangkitkan motivasi dan semangat, sehingga akan cepat bisa dalam mempelajari sesuatu. “Pengalaman saya dulu, misalnya, ketika belajar al-Qur’an dengan banyak teman itu tidak cepat bosan sehingga tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa membacanya dengan baik dan benar,” katanya. Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan tentang usaha-usaha yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh yayasan dalam rangka melengkapi sarana prasarana pendidikan maupun perkembangan lembaga-lembaga yang ada di Pondok Pesantren Nurul Ummah yang berada di bawah naungan yayasan yang dipimpinnya itu.
Acara Pengajian Umum di pondok pesantren yang didirikan oleh oleh al-Maghfurlah KH. Marzuqi Romli 23 tahun yang lalu itu, menurut ketua panitia penyelenggara, M. Ghufron, merupakan puncak acara dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya selama seminggu, 18-24 Agustus 2008. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama sepekan itu meliputi: lomba-lomba keagamaan dan umum untuk para santri serta bakti sosial bagi masyarakat sekitar pesantren. (S.A6).
PP 55/2007 “Untungkan” Pesantren
Jumat, 01 Agustus 2008
Munculnya PP no. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Diniyah dan Pendidikan Keagamaan sebenarnya sangat berpihak dan menguntungkan pesantren. Demikian dikatakan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI dalam sambutannya pada pembukaan pertemuan pimpinan pesantren mu’adalah dan Depag RI di Hotel Millenium (30/7/08).
Lebih lanjut dia menuturkan, keberpihakan PP no 55 tahun 2007 terhadap dunia pesantren karena dalam PP itu mengatur guru atau ustadz dari pesantren salafiyah yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu di luar kemampuan bidang keagamaan, keahlian tersebut bisa diakui juga di lembaga formal atau lembaga-lembaga lainnya.
Misalnya aturan tentang SKS (Sistem Kredit Semester) di perguruan tinggi. Orang-orang pesantren yang memiliki kualifikasi keilmuan, langsung bisa bisa ditransfer dengan menghitung kualitas yang dimilikinya. “Jadi orang-orang dari pesantren kalau kuliah tidak perlu lagi 4 sampai 5 tahun. Mungkin cukup 2 atau 3 tahun saja. Jadi tidak harus mulai dari semester satu” sambungnya.
Namun begitu, menurut alumni Fak Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pesantren juga harus mengikuti tata aturan yang sudah diundangkan. Pesantren harus siap dengan aturan-aturan formal yang ada. Jika nantinya pesantren mu’adalah berubah menjadi diniyah formal, maka guru-guru atau ustadz-ustadz yang ada harus disiapkan. Misalnya ustadz harus memiliki ijazah S1.
Ketika disinggung apakah semua diniyah yang ada di pesantren akan berubah menjadi diniyah formal. Pria kelahiran Ciamis ini menyebut bahwa pendidikan diniyah formal hanyalah alternatif. “jika pesantren menginginkan pendidikan diniyahnya menjadi diniyah formal, maka akan kita bantu. Tetapi jika tidak, ya tidak apa-apa. Ini hanya pilihan saja” sambungnya. (bet)