BAHAN KULIAH

handout Ekonomi Industri

Materi 1

materi 1a

materi 1b

Industrial Organization.ppt

ek. industri

hand-out-makroekonomi

perdagangan-internasional-da-bisnis-internasional

EKONOMI PERTANIAN

ekonomi pertanian-1a(2)

SEKTOR PERTANIAN DAN INDUSTRi

PKM8 diklat-jatiluhur

perencanaan_agribisnis_prof_aziz

PIP_Lecture_12

msa_prof_johannes

MA-PENDAHULUAN

Ekonomi_Pertanian(2)

ekonomi pertanian-1a1(2)

29 thoughts on “BAHAN KULIAH

  1. Keilmuan di Pesantren Harus Terus Dikembangkan

    Kamis, 30 Oktober 2008
    Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Pesantren itu dunia yang paling sulit untuk distandarisasi keilmuannya. Sebab ada pesantren yang dibentuk setelah adanya pertimbangan yang matang berdasarkan satu visibility study, tetapi juga ada yang dibesarkan karena hobi. Demikian dikatakan KH. Tolhah Hasan pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) yang diadakan oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI.
    Yang kemudian terjadi adalah munculnya masalah pada visi keilmuan pesantren itu sendiri. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren kalau mau dilihat secara keilmuan masih-lah sangat njomplang (timpang – red). Keilmuan di pesantren itu terlalu fiqhiyah, orientasi pada ilmu agama ke fiqh. Jarang sekali yang mendalami keilmuan agama seperti tafsir misalnya, imbuhnya.

    Lebih lanjut mantan Menteri Agama pada masa Gus Dur ini berujar, di Indonesia ini ada sekian ribu madzhab tahfidzul Qur’an. Tapi sampai pada hari ini, hanya terbatas pada tahfidz. Tidak ada dari sekian ribu itu yang mengembangkan keilmuannya lebih lanjut, menjadi tafhimul Qur’an. Saya melihat contohnya di Sudan, di sana sudah ada Jami’ah al-Qur’anul Karim. Itu yang S3-nya Jami’ah al-Qur’anul Karim ini, asbabun nuzul itu sudah dihafal di luar kepala. Mengapa di Indonesia tidak bisa? Saya sudah berbicara dengan kyai-kyai tahfidzul Qur’an, kenapa tidak melakukan asosiasi? Yang salah satunya nanti diangkat menjadi pesantren tahfidzul Qur’an lanjutan. Sehingga mempelajari ulumul Qur’an tidak terbatas pada tartil dan tahfidz, sampai pada ilmu-ilmu Qur’an semisal asbabun nuzul dan juga yang lain. Sehingga Indonesia memilki ahli-ahli al-Qur’an yang bagus. Sambungnya.

    Misalnya di UIN Malang sudah melahirkan seorang ahli fisika yang juga hafal al-Qur’an. Suruh meneruskan saja itu, studi al-Qur’annya dalam bidang fisika. Ini yang namanya Islamisasi keilmuan. Sehingga kita nanti memiliki seorang ahli al-Qur’an yang paham fisika di dalam al-Qur’an. Tapi kita miskin dalam hal gagasan-gagasan semacam ini. Hampir 800 ayat al-Qur’an yang mengandung masalah sains, tapi sampai hari ini di Indonesia itu belum ada satu pun tafsir tentang sains.

    Dulu pada masa Presiden Habibie, kami pernah mengusulkan untuk membentuk satu tafsir tematik al-Qur’an ini. Tafsir mengenai politik, tafsir mengenai ekonomi, juga tafsir sains. Sayang di Indonesia ini kalau sudah ganti menteri maka ganti kebijakan. Gagasnya.

    Oleh karena itu, mengapa visi keilmuan kita tidak pernah menjadi guru di dunia, karena memang keilmuan kita banyak yang nanggung. Demikian juga dengan referensi bahan bacaan dan fasilitas kita itu terbatas sekali jenisnya maupun jumlahnya. Tafsir yang disediakan di pesantren itu paling banyak hanya tafsir Jalalain. Untung kalau ada misalnya tafsir ibn Qatsir atau tafsir Ibn Qayim. Tafsir yang lain yang termasuk kuning, itu hampir-hampir tidak terbaca.

    Beliau lalu bercerita, dulu waktu nyantri di pondok Tebuireng Jombang, al-Kutubus sittah itu dibaca. Dan ijazah tanpa kertas, ijazah safahiyah dari kyai yang mengajarkan pada santri yang mengaji itu. Masalah sanad minal muallif itu jelas. Riwayat guru mengajar murid sampai pada muallif itu ada. Dan sekarang kyai yang baca ini tidak ada.

    Memang pesantren sekarang ini berkembang. Jumlahnya tambah dan gedungnya bagus-bagus, tapi dari segi kualitas ini mengalami semacam penurunan. Saya masih mengaji pada Mbah Idris (Tebuireng), sekali dalam seminggu, selama tiga jam dan itu mengaji tiga tafsir sekaligus. Tafsir ibn Qayim, tafsir Baidhawi, dan Tafsir Ibnu Katsir. Sembilan santrinya disuruh membaca sendiri sampai selesai. Tapi kadang, baru setengah jam saja, beliau sudah memberi komentar panjang lebar.

    Di pesantren kita itu, kebanyakan tidak seimbang antara pengajian fiqh dan ushul fiqhnya. Fiqihnya sudah fathul wahab, ushulnya baru waraqat. Ini tidak pas. Sehingga pemahaman fiqh hanya sebagai produk tidak sebagai proses. Dari sini dapat dilihat bahwa memang pembacaan pada kitab memang kurang. Kitab bagus semisal karya Said Ramadhan al-Buthi, Dhawahibul Maslahat fi Syar’i Islamiyah, kitab semacam ini sama sekali tidak terbaca. Padahal kalau kita buka apa yang ditulis Said Ramadhan, Ibrahim Sulaiman, ini salafi semua. Mengutip dan menguraikan pendapat-pendapat ulama dahulu.

    Mantan Direktur Pascasarjana UIN Malang ini kemudian mengusulkan bahwa pengayaan keilmuan di pesantren kalau kita mau mengembangkan pesantren adalah hal yang wajib, kalau kita mau memperluas cakrawala keilmuan betul-betul dapat diwujudkan. Dan saya mengusulkan bantuan pada pesantren itu bukan dalam bentuk bangunan atau komputer, tapi buatlah perpustakaan yang dapat diakses para santri. Bukan hanya diakses oleh kyai. Sebab kalau perpustakaan itu ada di rumah kyai, maka santri tidak berani masuk. Jadi kiainya yang semakin pintar, sedangkan santrinya tidak. Karena memang kebanyakan perpustakaan di pesantren itu ada di rumah kyai. Padahal ini merupakan satu bagian bentuk penambah dan pembuka cakrawala wawasan santri. Apakah itu perpustakaan dalam bentuk buku, maupun dalam bentuk digital.

    Lebih lanjut beliau berujar, untuk betul-betul memahami agama tidak hanya melalui pembelajaran ilmu agama, tetapi juga harus ada sisi lain yang dilakukan, pengalaman beragama. Pendidikan agama yang kita kembangkan sekarang ini hanyalah pembelajaran ilmu agama. Tapi bukan pengembangan pengalaman agama. Menurut saya, amal-amal yang menjadi bagian-bagian pengalaman keagamaan menentukan sekali kualitas pesantren kita. Banyak sekali misalnya, orang-orang yang pandai sekali berdalil, namun, sekedar dalil untuk mendalili orang lain, dia tidak pernah melakukan apa yang diperintahkannya pada orang lain.

    Oleh karena itu, saya menganjurkan agar gus-gus dari pesantren itu meningkatkan kemampuan mereka dengan menimba ilmu sebanyak mungkin. Dan dari pembicaran kami, Pak Menteri kemarin menjanjikan akan ada 10 tempat yang akan disediakan bagi para gus-gus dari pesantren untuk dapat melanjutkan studi ke luar negeri. Dan tentunya ini memakai seleksi. Saya usulkan minimal S2, kalau bisa S3. Apa kepentingannya? Pertama, agar supaya memperluas wawasan keilmuan Islam saat ini. Kedua, agar memiliki kredibilitas di kalangan pesantren. Dan ketiga, agar memiliki perbandingan antara pesantren di Indonesia dan di luar. Ini beberapa hal yang ingin kita sampaikan, agar dunia pesantren kita memiliki citra kegemilangannya. Ujarnya. [bet]

    Pesantren Selalu Menjadi Prioritas Program Depag

    Senin, 27 Oktober 2008
    Jakarta (www.pondokpesantren.net) – Ada kesan bahwa selama menjabat sebagai menteri agama, yang diurusi hanya masalah haji saja. Padahal, pesantren selalu menjadi prioritas utama program-program yang dibuat Departemen Agama. Demikian dikatakan Menteri Agama, M. Maftuh Basyuni pada acara Halaqah Pengembangan Pondok Pesantren di Hotel Millennium Jakarta Minggu (26/10/2008) kemarin.
    Pada acara yang diadakan Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama ini, Menag lebih lanjut menyatakan bahwa untuk membuktikan keseriusan dan komitmennya menomorsatukan pesantren, selama 4 tahun menjadi menteri, Depag telah membantu pengembangan pondok pesantren tidak kurang dari 700 miliar.

    Bantuan ini sebenarnya tidak seberapa dibandingkan jasa pesantren membantu bangsa ini. Telah lahir ribuan tokoh nasional lahir dari kalangan pesantren. Karenanya, pendidikan pesantren yang didalamnya tertanam jiwa kerjasama, rasa saling menghormati, dan kesetiakawanan harus selalu dikedepankan. Sambungnya dihadapan 65 pengasuh pesantren dari berbagai penjuru nusantara ini.

    Acara yang berlangsung sehari ini sendiri diisi dengan brainstorming untuk menggali aspirasi dan harapan para pengasuh pondok pesantren terhadap kinerja Departemen Agama, terutama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. “30 tahun lalu, membicarakan pesantren dianggap sensitif, bahkan cenderung tabu. Tetapi sekarang, pesantren selalu dijadikan obyek kajian”. Demikian dikatakan KH. Abdullah Syarwani saat memandu brainstorming dengan para kiai tersebut.

    Lebih lanjut mantan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon ini berujar, pesantren adalah institusi agama yang potensinya luar biasa. Diskusi ini sendiri difokuskan pada tiga hal. Pertama, refleksi Menag 4 tahun mengabdi pada pesantren. Kedua, pemetaan konsep pengembangan pesantren ke depan. Dan ketiga, arah kebijakan pengembangan pesantren.

    Semenata KH. A. Aziz Masyhuri, pengasuh pesantren al-Aziziyah Denanyar Jombang yang menjadi salah satu peserta halaqah menyatakan, perlu kajian dan pendalaman yang lebih atas kitab kuning. Ini karena pengajian dan pengkajian pada kitab kuning akhir-akhir ini menurun.

    Acara ini sendiri ditutup oleh Prof. Dr. Nasaruddin Umar. Dalam sambutan penutupannya, Dirjen Bimas Islam Departemen Agama RI ini menyatakan, perlu visi yang baru dan jelas dalam pengembangan pesantren. [bet]
    Manajeman Organisasi dan Upaya Peningkatan Sumber Daya Manusia

    Jumat, 26 September 2008
    Bogor (www.pondokpesantren.net) – Manajemen organisasi mempersyaratkan adanya sumber daya manusia (pegawai) yang berkualitas, komitmen, disiplin dan mempunyai tanggungjawab yang tinggi dalam menjalankan tugas-tugasnya, tak terkecuali pada lembaga pemerintahan. Untuk itu diperlukan pendidikan, pelatihan, pembinaan dan pemberdayaan pegawai, sehingga dapat secara mandiri, mampu menjalankan tugas dan berprestasi dengan sebaik-baiknya. Harus seimbang antara pembentukan sistem dan cultur organisasi yang mendorong perubahan, demikian dikatakan Drs. Amin Haedari, M.Pd, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam pada kegiatan In House Training bagi keluarga besar Direktorat PD pontren.
    Kegiatan In House Training ini dilaksanakan selama 4 hari di Hotel Grand Pesona Sukabumi Bogor Jawa Barat dari tanggal 1 s/d 4 Agustus 2008 dengan mengambil tema ”Membangun Etos Kerja Sinergi Dalam Lingkungan Yang Harmonis”.

    Selain dihadiri oleh seluruh staff Ditpdpontren, hadir juga dalam kesempatan ini Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam, Dr. Affandi Muchtar, MA, para pegawai yang telah pensiun dan sejumlah pejabat yang sudah tidak lagi di PD Pontren seperti Dr. Mastuki, M.Ag yang saat ini menjabat Kasubdit Kelembagaan dan Kesiswaan Dikti Islam.

    Kemandirian seorang pegawai, lanjut Amin, amat ditekankan dalam manajemen modern, sejalan dengan berjalannya sistem manajemen organisasi. Seseorang bisa mencapai kemandirian dan dapat berprestasi dalam melakukan pekerjaan, jika didudukung dengan pengetahuan yang luas, pengalaman yang memadai dan sikap/kesadaran diri dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Oleh karena itu apapun jenis pekerjaan yang dilakukan harus dikerjakan dengan senang,

    Pemahaman akan program kerja pada Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren harus dimiliki oleh para pegawai, sehingga mampu mengejawantahkan visi, misi serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan diniyah dan pondok pesantren. Lebih dari itu teman-teman juga harus memahami program dan kegiatan yang sedang kita lakukan, yang kalau kita ringkas termaktub dalam Tri Logi Pengembangan Pondok Pesantren; yaitu Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pesantren sebagai lembaga sosial kemasyarakatan, papar alumus Alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini dengan mantap.

    Ditambahkan oleh Amin Haedari bahwa ”kegiatan semacam ini sengaja dirancang dengan suasana penuh kekeluargaan, santai ditempat yang sejuk sebagai sarana refresing. Bahkan dengan pendekatan out bound nantinya akan lebih menyenangkan”. Hal ini untuk membangun kebersamaan diantara kita dan berupaya untuk meningkatkan etos kerja. Tidak ada yang merasa paling super, semuanya penting dan harus saling mengisi. Bagi Amin, kerja adalah seni, makanya harus dinikmati dan akan berdampak pada kesenangan, pesannya.

    Pada akhir in house training, Amin Haedari berpesan kepada para Kasubdit, Kasi dan staf pelaksana agar tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang sudah ada di direktorat. Meskipun kelihatannya santai tetapi kita tetap kenceng. Budaya atau culture akademis harus tetap ditingkatkan dan diciptakan budaya kritis dalam rangka memperbaiki bukan untuk menjatuhkan. Para Kasubdit harus mempunyai feelling (kepekaan dalam merencanakan, merespon persoalan dengan cerdas, jeli dan bijaksana). Hal ini semata-mata untuk meningkatan kinerja Direktorat. (rbs)

    Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan

    Senin, 15 September 2008
    Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
    Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.

    Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.

    Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
    Kepemimpinan di Pesantren Mengalami Penurunan

    Senin, 15 September 2008
    Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Kepemimpinan di pondok pesantren selama ini pada umumnya bercorak alami (natural) dan mengikuti garis keturunan (geneologis). Dalam upaya pengembangan pesantren maupun proses pembinaan calon pimpinan, belum memiliki bentuk dan mekanisme yang tetap dan teratur. Dengan kharisma yang dimiliki sering pendiri pesantren belum dapat mewariskan kepemimpinan yang sama kepada penggantinya. Meski saat ini ada beberapa perubahan kepemimpinan pesantren, pola kepemimpinan yang umum kerapkali menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dengan berlangsungnya pergantian pimpinan dari generasi pendiri ke penerus, demikian diungkapkan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidkan Islam pada pembukaan Workshop Pengembangan Organisasi Santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
    Dikatakan lebih lanjut, salah satu persoalan yang belum tercermin dalam kepemimpinan di pesantren adalah lemah budaya organisasi. Budaya dalam arti ‘budaya pesantren’ memang sudah tumbuh seperti keikhlasan, kemandirian, disiplin dan keuletan, tetapi “kultur” organisasi dalam pengertian modern (kepercayaan/trust, keterbukaan, dorongan berprestasi, dan seterusnya) belum tumbuh. Suatu budaya organisasi yang akan menggerakkan warga untuk memahami nilai-nilai dan bersama-sama secara sadar untuk mencapai tujuan. Pada tingkat inilah inisiasi tentang budaya organisasi di pesantren diperlukan.

    Di sisi lain masyarakat sedang menghadapi masalah serius baik dalam persoalan ke-Islam-an maupun ke-Indonesia-an. Pesantren dapat mengimplementasikan nilai-nilai ke-Islam-an yang inklusif, terbuka dan berpihak kepada yang lemah (mustadh’afin) seiring dengan problematika kebangsaan yang saat ini berada pada titik memprihatinkan. Oleh karena itu diperlukan wawasan calon-calon pemimpin yang lahir dari garba pesantren yang dapat menggabungkan dua misi sekaligus yaitu misi ke-islam-an dan kebangsaan, kata putra kelahiran Ciamis.

    Pada kesempatan ini, lanjut kandidat Doktor Universitas Negeri Jakarta, dia mengharapkan agar para pembina santri di pesantren untuk tetap mendampingi dan memantau perkembangan para santri yang saat ini sedang mendapatkan beasiswa Departemen Agama di Perguruan Tinggi. Karena diakui tugas Departemen Agama kian hari kian berat maka harus dikerjakan bersama secara sistemik. Kepada para santri, Direktur yang mantan aktivis mahasiswa ini berpesan agar tetap menjaga nilai-nilai dan tradisi pesantren, walaupun hidup di kota besar seperti Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta dan Bogor dan di kampus umum. Para santri harus dapat mewarnai suasana kehidupan kampus yang “sekuler” dengan suasana pesantren yang religius. (rbs)
    Pemimpin Harus Cakap

    Senin, 15 September 2008
    Jogjakarta (www.pondokpesantren.net) – Langkah Mbah Marijan, untuk tetap tinggal dan tidak beranjak dari lingkungan Gunung Merapi saat gunung tersebut mengeluarkan lahar panas adalah langkah pemberani. Dia melawan mainstream keyakinan kebanyakan orang dan dia tetap setia pada komitmen dan keyakinannya memegang amanah, itu adalah sikap seorang pemimpin. Adanya program beasiswa santri berprestasi juga merupakan program brilian yang bukan saja dilakukan oleh seorang birokrat tetapi lebih dari itu adalah langkah seorang pemimpin. Demikian dikatakan Drs. Slamet Efendi Yusuf, M. Si ketika mengawali paparannya tentang leadership di hadapan 75 orang peserta workshop pengembangan organisasi santri di Hotel Galuh Tirtomolo Prambanan Klaten (12/07/08).
    Menurut Slamet yang juga anggota DPR RI ini, mengutip Gary A. Yuki (1981), pemimpin yang efektif memiliki beberapa sifat dan kecakapan pokok. Sifat-sifat khusus yang harus dimiliki adalah; mampu menyesuaikan diri, punya perhatian besar terhadap lingkungan sosial, berorientasi pada prestasi, tegas dalam mengajukan pendapat, bersedia kerjasama, tegas dalam membuat keputusan, bisa diandalkan, berusaha mempengaruhi pihak lain, energik atau aktif melibatkan diri dalam berbagai kegiatan, istiqomah, yakin akan kemampuan sendiri, tahan menghadapi tekanan, dan bersedia memikul tanggung-jawab.

    Sedangkan kecakapan/keahlian khusus seorang pemimpin lanjut Slamet Effendi adalah; pintar, punya kemampuan konseptual, kreatif, mampu berdiplomasi, mampu berbicara, punya kemampuan organisasional atau administratif, mampu meyakinkan orang lain, dan memiliki kemampuan mengembangkan hubungan sosial.

    Ditambahkan saat ini, menurut alumnus Fak. Syari’ah UIN (dulu IAIN, red) Sunan Kalijaga Jogjakarta, generasi muda Islam sedang menghadapi tantangan dunia internasional yaitu sistem kapitalisme internasional yang menggurita dan secara nasional adalah aktor yang kian melemah dalam menghadapi tekanan Internasional. Makanya generasi muda Islam harus mampu mengorganisir kekuatan yang dimilikinya. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri sebagai landasan idiologi, moral dan spiritual.

    Islam, papar Slamet Effedi, merupakan komunitas terbesar di Indonesia, identitas kolektif politik muslim dan juga masih terbukanya ruang identitas politik Islam serta Islam merupakan kekuatan potensial karena didukung oleh prinsip khuwah Islamiyah.

    Secara intelektual, tegas mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), mahasiswa Islam dibentuk oleh tradisi yang kuat, dibekali oleh pemahaman dan gagasan politik modern. Namun demikian kelemahan generasi muda Islam yang dirasakannya adalah lemahnya leadership dan manajerial. Oleh karena itu dibutuhkan lapisan muda yang kritis terhadap dinamika internasional dan nasional, yang bisa menemukan bentuk organisasinya yang baik dengan kepemimpinan efektif, yang akan menggerakkan perubahan (sosial politik) jangka panjang sekaligus sebagai alternatif politik identitas. Perubahan ada di tangan anda semua kalangan generasi muda pondok pesantren. (rbs)
    Pesantren Harus Selamatkan Manuskrip Islam Nusantara

    Jumat, 05 September 2008
    (Yogyakarta) “Prospek pesantren ke depan tidak bergantung pada pihak lain, tetapi lebih tergantung pada kalangan pesantren itu sendiri. Apalagi dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, posisi pesantren semakin legitimate sebagai 2 (dua) pilar pendidikan di tanah air yang memiliki kewajiban dan hak yang sama,” demikian disampaikan oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ditjen Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Drs. H. Amin Haedari, M.P d, ketika memberikan Kuliah Umum Mahasiswa Baru Program Beasiswa S-2 Tahqiq al-Kutub, Rabu, 03 September 2008, bertempat di Ruang Promosi Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
    Kuliah Umum yang bertema “Dinamika Pesantren di Indonesia” itu dilaksanakan dalam rangka orientasi mahasiwa baru Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang di dalamnya termasuk 26 orang mahasiswa baru Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang merupakan hasil seleksi lebih dari 850 orang peserta dari berbagai pondok pesantren se-Indonesia.

    “Pada tataran teori, sistem belajar di pendidikan pesantren yang dilakukan sepanjang hari atau 24 jam itu secara kualitas mestinya bisa melebihi sistem belajar di pendidikan selain pesantren yang rata-rata hanya dilaksanakan selama 8 jam. Tapi secara realitasnya hal ini masih memerlukan waktu,” kata Amin.

    Berkaitan dengan hal itu, papar Amin lebih lanjut, untuk menghantarkan pesantren menjadi lembaga yang berkualitas, pemerintah melalui Departemen Agama, dalam hal ini Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, melakukan beberapa kebijakan ke depan, antara lain; Pertama, memberikan pelayanan yang optimal kepada pondok pesantren dengan 3 (tiga) peran yang dimainkan yakni sebagai lembaga keagamaan, lembaga pendidikan dan lembaga kemasyarakatan. Kedua, memberikan peluang yang seluas-luasnya kepada pondok pesantren untuk berkreasi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Ketiga, menghindari intervensi kepada lembaga tersebut selama pendidikan di pondok pesantren tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional.
    Sementara itu, terkait dengan adanya Program Beasiswa Studi Lanjut (S2) Kader Ulama Konsentrasi Tahqîq Al-Kutub yang baru pertama kalinya diadakan dan bekerjasama dengan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, menurutnya, diluncurkan dalam rangka memberikan kesempatan kepada kalangan pesantren (kyai, ustadz/ah, santri) untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang S-2. Melalui program ini diharapkan akan muncul para muhaqqiq (ahli di bidang tahqiq) berasal dari pesantren yang akan membangkitkan tradisi ilmiah pesantren dan menyelamatkan naskah/manuskrip Islam Nusantara.

    Program tersebut, menurut Direktur yang merupakan alumnus Fakultas Adab UIN (dulu IAIN, red.) Sunan Kalijaga ini bertujuan; Pertama, memberikan kesempatan bagi kalangan pesantren untuk mengikuti pendidikan akademis jenjang strata dua (S-2) dalam bidang Tahqîq Al-Kutub. Kedua, menumbuhkan tradisi ilmiah dan keilmuan pesantren yang berbasis kuat pada tradisi kitab kuning (turats) melalui telaah, analisis, dan kajian terhadap kitab-kitab karya ulama Muslim (Timur Tengah maupun Nusantara). Ketiga, mentransformasikan pengetahuan dan keahlian men-tahqiq kepada kalangan akademisi pesantren dan perguruan tinggi Islam sebagai upaya menggerakkan kembali tradisi pemikiran Islam Indonesia.

    Lebih lanjut Direktur yang telah lama menyelami seluk-beluk dunia pesantren itu memaparkan bahwa perkembangan dunia telah melahirkan suatu kemajuan zaman yang modern. Perubahan-perubahan mendasar dalam struktur sosio-kultural seringkali membentur pada aneka kemapanan. Hal ini berakibat pada keharusan untuk mengadakan usaha kontekstualisasi bangunan-bangunan sosio-kultural dengan dinamika modernisasi, tak terkecuali dengan sistem pendidikan pesantren. Karena itu, sistem pendidikan pesantren harus selalu melakukan upaya rekonstruksi pemahaman tentang ajaran-ajaran Islam agar tetap relevan dan survive. Pesantren modern berarti pesantren yang selalu tanggap terhadap perubahan dan tuntutan zaman, berwawasan masa depan, selalu mengutamakan prinsip efektifitas dan efisiensi dan sebagainya. Namun demikian, “modernisasi pesantren tidak harus mengubah atau mereduksi orientasi dan idealisme pesantren. Demikian pula, nilai-nilai pesantren tidak perlu dikorbankan demi program modernisasi pesantren. Kendati harus berubah, menyesuaikan, metomorphose, atau apa pun namanya, dunia pesantren harus tetap hadir dengan jati dirinya yang khas. Di sinilah, program Tahqîq Al-Kutub menjadi sentral untuk dikaji bersama”, tegas Direktur lebih lanjut.

    Sementara itu Direktur Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H. Iskandar Zulkarnain dalam sambutannya mengatakan: “Selamat datang kepada para mahasiswa baru di Ngayogyokarto Hadiningrat. Usahakan kuliah di sini bisa selesai tepat waktu.” Berkaitan dengan eksistensi pesantren, menurutnya, secara historis pesantren memang memiliki kontribusi yang luar biasa dalam perkembangan Islam di Indonesia. Namun demikian, di era sekarang ini pesantren harus bisa merespons berbagai tuntutan perubahan. “Semoga ke depan jumlah peserta beasiswanya bisa ditambah dan bahkan kalau mungkin juga dibuatkan asramanya di sini,” harapnya lebih lanjut.

    Materi Perkuliahan yang akan diperoleh selama 2 tahun oleh para mahasiswa program Tahqîq Al-Kutub itu sebanyak 44 sks (termasuk tesis) yang meliputi 4 (empat) jenis mata kuliah, yaitu: Pertama, Mata Kuliah Dasar Keahlian yang meliputi: Studi al-Qur’an: Teori & Metodologi, Studi Hadis: Teori & Metodologi, Filsafat Ilmu, Sejarah Pemikiran & Peradaban Islam (Tarikh al-Turats al-Islami). Kedua, Mata Kuliah Keahlian yang meliputi: Manhaj al-Bahts fi Tahqiq al-Kutub (Metodologi Penelitian Tahqiq Kitab), Pendekatan Interdisipliner dalam Pengkajian Islam (Tafsir, Hadis, Kalam, Falsafah, Fiqh/Ushul Fiqh, danTasawuf), Ulum al-Lughah I (Nahwu, Sharaf dan Balaghah Terapan), Ulum al-Lughah II (Fiqh al-Lughah, Sosio-Psiko Linguistik, Stilistika/Uslub, dan Semantik), ’Ilm al-Fahm (Hermenetika) dan Semiotika. Ketiga, Mata Kuliah Konsentrasi yang meliputi: Ulum al-Tahqiq I/Naskah Arab (Teori dan Praktek), Ulum al-Tahqiq II/Naskah Nusantara (Teori dan Praktek), Naqd al-Nushus, Ilm al-Rasm, Ilmu Tarajim wa al-Thabaqat.. Keempat, Mata Kuliah Penunjang yang meliputi: Seminar Proposal Tesis dan Tesis. (S.A6).
    “Pesantren Merupakan Benteng Terakhir…”

    Senin, 25 Agustus 2008
    (Yogyakarta) “Pesantren merupakan benteng terakhir dalam menciptakan manusia yang pintar dan benar, karena di pondok pesantren itu belajar agama dilakukan secara mendalam dan meluas”, demikian disampaikan KH. Asyhari Abta ketika mengisi acara pengajian umum dalam rangka Haflah Akhirissanah dan Harlah ke-23 Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta, Ahad Malam, 24 Agustus 2008 lalu.

    Sayyidina Ali bin Abi Thalib –semoga Allah memuliakannya– di dalam kitab Tanbih al-Ghafilin, menurut penceramah yang merupakan alumnus Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ini menuturkan bahwa “akan datang suatu zaman pada umat Islam di mana Islam hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid ramai tetapi akan kosong dari dzikir kepada Allah dan yang paling jelek pada zaman itu adalah para ulamanya karena akan banyak menimbulkan fitnah.” Kemudian ia menguraikan secara panjang lebar tentang fenomena yang akan terjadi pada umat Islam di zaman akhir tersebut.

    “Dengan masih adanya pondok pesantren, insya-Allah Islam tidak hanya akan tinggal namanya, al-Qur’an tidak hanya akan tinggal tulisannya, masjid-masjid tidak akan sepi dari dzikir kepada Allah dan ulama yang ada tidak akan banyak menimbulkan fitnah”, tegas penceramah yang juga menjadi Rois Syuriah PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta ini lebih lanjut.

    Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummah, KH. Muslim Nawawi dalam sambutannya setelah mewisuda para siswa Madrasah Diniyah Nurul Ummah mengatakan: “bersyukurlah kepada Allah, karena saudara semua termasuk orang-orang beruntung sehingga bisa menyelesaikan pendidikan di madrasah diniyah sampai dengan selesai tingkat II ulya. Hal ini tentu sesuai dengan pesan yang pernah disampaikan oleh al-Maghfurlah KH. Asyhari Marzuqi (pengasuh sebelumnya). Semua ini benar-benar merupakan karunia Allah. Apalagi bila mengingat bahwa karena berbagai macam alasan tidak semua siswa di sini dapat menyelesaikan jenjang pendidikannya sampai dengan selesai. Percayalah, Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat,” ungkapnya seraya mengutip ayat al-Qur’an Surat al-Mujaadilah ayat 11. “Kami nantikan kiprah kalian di pondok ini,” harap pengasuh yang pernah mondok di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur ini lebih lanjut.

    Sedangkan Drs. H. Djalaluddin, SH., Pengurus Yayasan Pendidikan Bina Putra, dalam sambutannya menegaskan bahwa betapa pentingnya belajar itu dilakukan secara berjama’ah (bersama-sama), karena akan bisa membangkitkan motivasi dan semangat, sehingga akan cepat bisa dalam mempelajari sesuatu. “Pengalaman saya dulu, misalnya, ketika belajar al-Qur’an dengan banyak teman itu tidak cepat bosan sehingga tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk bisa membacanya dengan baik dan benar,” katanya. Dalam kesempatan itu ia juga menyampaikan tentang usaha-usaha yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh yayasan dalam rangka melengkapi sarana prasarana pendidikan maupun perkembangan lembaga-lembaga yang ada di Pondok Pesantren Nurul Ummah yang berada di bawah naungan yayasan yang dipimpinnya itu.

    Acara Pengajian Umum di pondok pesantren yang didirikan oleh oleh al-Maghfurlah KH. Marzuqi Romli 23 tahun yang lalu itu, menurut ketua panitia penyelenggara, M. Ghufron, merupakan puncak acara dari serangkaian kegiatan yang dilaksanakan sebelumnya selama seminggu, 18-24 Agustus 2008. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama sepekan itu meliputi: lomba-lomba keagamaan dan umum untuk para santri serta bakti sosial bagi masyarakat sekitar pesantren. (S.A6).
    PP 55/2007 “Untungkan” Pesantren

    Jumat, 01 Agustus 2008
    Munculnya PP no. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Diniyah dan Pendidikan Keagamaan sebenarnya sangat berpihak dan menguntungkan pesantren. Demikian dikatakan H. Amin Haedari, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI dalam sambutannya pada pembukaan pertemuan pimpinan pesantren mu’adalah dan Depag RI di Hotel Millenium (30/7/08).

    Lebih lanjut dia menuturkan, keberpihakan PP no 55 tahun 2007 terhadap dunia pesantren karena dalam PP itu mengatur guru atau ustadz dari pesantren salafiyah yang memiliki keahlian dalam bidang tertentu di luar kemampuan bidang keagamaan, keahlian tersebut bisa diakui juga di lembaga formal atau lembaga-lembaga lainnya.

    Misalnya aturan tentang SKS (Sistem Kredit Semester) di perguruan tinggi. Orang-orang pesantren yang memiliki kualifikasi keilmuan, langsung bisa bisa ditransfer dengan menghitung kualitas yang dimilikinya. “Jadi orang-orang dari pesantren kalau kuliah tidak perlu lagi 4 sampai 5 tahun. Mungkin cukup 2 atau 3 tahun saja. Jadi tidak harus mulai dari semester satu” sambungnya.

    Namun begitu, menurut alumni Fak Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pesantren juga harus mengikuti tata aturan yang sudah diundangkan. Pesantren harus siap dengan aturan-aturan formal yang ada. Jika nantinya pesantren mu’adalah berubah menjadi diniyah formal, maka guru-guru atau ustadz-ustadz yang ada harus disiapkan. Misalnya ustadz harus memiliki ijazah S1.

    Ketika disinggung apakah semua diniyah yang ada di pesantren akan berubah menjadi diniyah formal. Pria kelahiran Ciamis ini menyebut bahwa pendidikan diniyah formal hanyalah alternatif. “jika pesantren menginginkan pendidikan diniyahnya menjadi diniyah formal, maka akan kita bantu. Tetapi jika tidak, ya tidak apa-apa. Ini hanya pilihan saja” sambungnya. (bet)

  2. RANDY JULIYANDRI
    093401001
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    1. Keunggulan Kompetitif
    Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.

    2. Keunggulan Komparatif.
    Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.

    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnya

  3. NAMA : RIDWAN HERDIANTO
    NPM : 093401024
    JURUSAN : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Perdagangan Internasional (perbandingan teori komparatif dan kompetitif)

    Teori keunggulan komparatif (David Ricardo)
    Merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya,perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh Amerika dan Jepang sama-sama memproduksi mobil dan Hp. Amerika mampu memproduksi HP secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi mobil secara efisien dan murah. Sebaliknya, Jepang mampu dalam memproduksi mobil secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi HP secara efisien dan murah. Dengan demikian, Amerika memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi HP dan Jepang memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi Mobil.Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar Mobil dan HP.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    Keunggulan kompetitif (Michael Porter )
    Keunggulan kompetitif adalah teori yang berusaha untuk mengatasi beberapa kritik dari keunggulan komparatif. Michael Porter teori meusulkan pada tahun 1990. Teori Keunggulan kompetitif menunjukkan bahwa negara-negara dan bisnis harus mengejar kebijakan yang membuat barang-barang berkualitas tinggi untuk menjual dengan harga tinggi di pasar. Porter menekankan pertumbuhan produktivitas sebagai fokus strategi nasional. Keunggulan kompetitif bersandar pada gagasan bahwa tenaga kerja murah dan sumber daya alam di mana-mana tidak diperlukan bagi ekonomi yang baik. Teori lain, keunggulan komparatif dapat menyebabkan negara-negara untuk mengkhususkan diri dalam mengekspor barang primer dan bahan baku yang menjebak negara dalam ekonomi upah rendah karena hal perdagangan Keunggulan kompetitif upaya untuk mengoreksi masalah ini dengan menekankan skala ekonomi memaksimalkan dalam goods services yang mengumpulkan harga premium.
    Keunggulan kompetitif terjadi ketika sebuah negara mengakuisisi atau mengembangkan atribut atau kombinasi atribut yang memungkinkan untuk mengungguli kompetitornya. Atribut ini dapat mencakup akses ke sumber daya alam, seperti bijih kadar tinggi atau kekuasaan murah, atau akses ke personil yang sangat terlatih dan terampil sumber daya manusia.. teknologi baru seperti robotika dan teknologi informasi baik untuk dimasukkan sebagai bagian dari produk, atau untuk membantu membuatnya

  4. Nama : Rini Wulansari
    Npm : 093401019
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan

    Perbandingan Teori Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

    Keunggulan Komparatif
    Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.
    Teori keunggulan komparatif menurut JS Mill menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative diadvantage(suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar ).Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut.
    Contoh kasus teori keunggulan komparatif:
    Jepang dan Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam penguasaan teknologi canggih dibanding Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relatif jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat akan lebih cocok jika bermain di industri padat modal (misalnya industri otomotif, industri barang- barang elektronik, dan sebagainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industri padat karya (misalnya industri sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).

    Keunggulan Kompetitif
    Teori keunggulan kompettif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
    Keunggulan kompetitif (competitive advantage) dapat dicapai oleh suatu perusahaan dengan menciptakan customer value yang lebih baik daripada kompetitor dengan harga yang sama atau menciptakan customer value yang sama dengan kompetitor, tetapi harga lebih rendah (Hansen & Mowen, 1997).
    Contohnya :
    Di Indonesia banyak sekali konsumen yang membutuhkan alat komunikasi penghubung seperti HP,sedangkan harga untuk HP merk terkenal sangatlah masih mahal,tetapi didukung juga dengan kecanggihan yang juga tidak ketinggalan. tetapi perekonomian di Indonesia sendiri bukan termasuk Negara yang royal dalam hal seperti itu tetapi dari Negara Cina banyak menciptakan HP dengan bentuk body yang sama dan harga sangat murah sehingga dapat merangsang daya beli warga Indonesia tanpa harus dengan harga yang mahal.juga dapat menikmatinya walaupun hanya HP replica ataupun tiruan,dengan kecanggihan yang tidak kalah dengan HP merk terkenal lainnya.

  5. Nama : Ridwan Herdianto
    Npm : 093401024
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Perdagangan Internasional Perbandingan Teori Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

    Teori keunggulan komparatif (David Ricardo)
    Merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya,perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh Amerika dan Jepang sama-sama memproduksi mobil dan Hp. Amerika mampu memproduksi HP secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi mobil secara efisien dan murah. Sebaliknya, Jepang mampu dalam memproduksi mobil secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi HP secara efisien dan murah. Dengan demikian, Amerika memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi HP dan Jepang memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi Mobil.Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar Mobil dan HP.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    Keunggulan kompetitif (Michael Porter )
    Keunggulan kompetitif adalah teori yang berusaha untuk mengatasi beberapa kritik dari keunggulan komparatif. Michael Porter teori meusulkan pada tahun 1990. Teori Keunggulan kompetitif menunjukkan bahwa negara-negara dan bisnis harus mengejar kebijakan yang membuat barang-barang berkualitas tinggi untuk menjual dengan harga tinggi di pasar. Porter menekankan pertumbuhan produktivitas sebagai fokus strategi nasional. Keunggulan kompetitif bersandar pada gagasan bahwa tenaga kerja murah dan sumber daya alam di mana-mana tidak diperlukan bagi ekonomi yang baik. Teori lain, keunggulan komparatif dapat menyebabkan negara-negara untuk mengkhususkan diri dalam mengekspor barang primer dan bahan baku yang menjebak negara dalam ekonomi upah rendah karena hal perdagangan Keunggulan kompetitif upaya untuk mengoreksi masalah ini dengan menekankan skala ekonomi memaksimalkan dalam goods services yang mengumpulkan harga premium.
    Keunggulan kompetitif terjadi ketika sebuah negara mengakuisisi atau mengembangkan atribut atau kombinasi atribut yang memungkinkan untuk mengungguli kompetitornya. Atribut ini dapat mencakup akses ke sumber daya alam, seperti bijih kadar tinggi atau kekuasaan murah, atau akses ke personil yang sangat terlatih dan terampil sumber daya manusia.. teknologi baru seperti robotika dan teknologi informasi baik untuk dimasukkan sebagai bagian dari produk, atau untuk membantu membuatnya

  6. Nama : Rini Wulansari
    Npm : 093401019
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Perbandingan Teori Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

    Keunggulan Komparatif
    Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.
    Teori keunggulan komparatif menurut JS Mill menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative diadvantage(suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar ).Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut.
    Contoh kasus teori keunggulan komparatif:
    Jepang dan Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam penguasaan teknologi canggih dibanding Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relatif jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat akan lebih cocok jika bermain di industri padat modal (misalnya industri otomotif, industri barang- barang elektronik, dan sebagainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industri padat karya (misalnya industri sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).

    Keunggulan Kompetitif
    Teori keunggulan kompettif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.

    Keunggulan kompetitif (competitive advantage)dapat dicapai oleh suatu perusahaan dengan menciptakan customer value yang lebih baik daripada kompetitor dengan harga yang sama atau menciptakan customer value yang sama dengan kompetitor, tetapi harga lebih rendah (Hansen & Mowen, 1997).
    Contohnya :
    Di Indonesia banyak sekali konsumen yang membutuhkan alat komunikasi penghubung seperti HP,sedangkan harga untuk HP merk terkenal sangatlah masih mahal,tetapi didukung juga dengan kecanggihan yang juga tidak ketinggalan. tetapi perekonomian di Indonesia sendiri bukan termasuk Negara yang royal dalam hal seperti itu tetapi dari Negara Cina banyak menciptakan HP dengan bentuk body yang sama dan harga sangat murah sehingga dapat merangsang daya beli warga Indonesia tanpa harus dengan harga yang mahal.juga dapat menikmatinya walaupun hanya HP replica ataupun tiruan,dengan kecanggihan yang tidak kalah dengan HP merk terkenal lainnya.

  7. FITRI DEWI
    093401004
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    A. KEUNGGULAN KOMPARATIF (David Ricardo)

    Keunggulan komparatif (comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    B. KEUNGGULAN KOMPETITIF
    Perusahaan tidak akan pernah berhenti menghadapi permasalahan di dalam dan di luar perusahaan. Permasalahan di dalam menyangkut aspek retrukturisasi organisasi perusahaan, akuisisi, dan merger serta aliansi strategik. Dalam aspek yang lebih operasional menyangkut manajemen finansial, produksi, pemasaran, manajemen administrasi dan manajemen sumberdaya manusia. Sementara itu masalah eksternal ditandai oleh aktifitas ekonomi pasar sedemikian dinamisnya seperti tuntutan pelanggan terhadap mutu dan keamanan produk, fluktuasi harga input dan output, ekspansi pasar perusahaan lain, teknologi dan pesaing. Dalam upaya mencapai keunggulan kompetitif, perusahaan harus menghadapi tantangan bahkan tekanan-tekanan internal dan eksternal itu. Salah satu pendekatannya adalah bagaimana mengefektifkan potensi sumberdaya yang ada.
    Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk. Jadi ada berbagai macam definisi keunggulan kompetitif jika di lihat dari lingkunganya itu sendiri. Jika didefinisikan secara umum keunggulan kompetitif adalah suatu keunggulan atau juga bisa di sebut sebagai potensial yang menunjang suatu unsur yang begitu kompleks.
    Sudut Pandang Nilai Pelanggan.Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
    Sudut Keunikan. Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda. Ciri-ciri Keunikan:
    1. Kemampuan finansial dan ekonomis. Ciri keunikan ini ditunjukan oleh adanya kemudahan perusahaan untuk memperoleh sumber finansial dengan relatif cepat dengan bunga yang relatif lebih rendah dari pada bunga pasar. Selain itu dapat berupa kemampuan perusahaan menekan harga produk yang lebih murah ketimbangan harga produk yang sama dari perusahaan lain.
    2. Kemampuan menciptakan produk strategi. Bentuk jenis keunikan ini berupa kelebihan ciri-ciri produk Anda dibanding produk yang sama dari perusahaan lain. Antara lain dapat dilihat dari aspek rasa, ukuran, penampilan dan keamanan produk serta suasana lingkungan bisnis Anda. Kembali ke contoh terdahulu, misalnya Anda menyajikan sate dengan ukuran daging yang lebih besar, bumbu yang lebih bervariasi, minuman tradisional, kematangan yang merata, ada musik khas, ada tempat bermain untuk anak-anak, oleh-oleh buat anak-anak tanpa harus mengurangi keuntungan bisnis Anda dsb.
    3. Kemampuan teknologi dan proses. Perusahaan harus memiliki ciri berbeda dalam membuat dan menyajikan produk ke para pelanggan dibanding perusahaan lain.Hal ini dicirikan oleh alat yang digunakan apakah alat tua ataukah yang modern dan sudah sangat dikenal kehandalannya di kalangan luas pelanggan. Biasanya pelanggan sudah mempunyai pilihan favorit tentang alat-alat dan proses tertentu yang digemarinya. Contoh lain adalah penggunaan alat-alat canggih seperti sistem komputer dan fasilitas pabrik pengolahan produksi modern .
    4. Kemampuan keorganisasian. Keunikan disini dicirikan oleh kelebihan perusahaan dalam pengelolaan sistem keorganisasian yang sepadan dengan kebutuhan pelanggan. Perusahaan termasuk karyawannya perlu memiliki daya tanggap, sensitif dan adapatasi yang tinggi dalam mengikuti perubahan-perubahan karakter pelanggan, teknologi, keadaan pasokan, peraturan, dan kondisi ekonomi. Dengan demikian para pelanggan akan senang hati untuk selalu loyal kepada perusahaan.

    C. PERBEDAAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DENGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Ditulis pada April 15, 2008 oleh hidayaters. Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitif dan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :
    1. Keunggulan Kompetitif Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.
    2. Keunggulan Komparatif.Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keungggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lain.

  8. ENUNG NURYANI
    093401020
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    1. TEORI KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Para Ekonom klasik, khususnya Adam Smith, David Richardo, dan John Stuart Mill, memberikan kontribusi besar bagi justifikasi ekonomi teoritikal terhadap perdagangan internasional.
    Setiap Negara mempunyai kekhasan dalam corak dan ragam, serta kualitas dan kuantitas sumber dayanya, baik kekayaan alam, sumber daya manusia, penguasaan teknologi dan sebagainya. Perbedaan sumber daya antar Negara mendorong mereka untuk melakaukan spesialisasi. Kegiatan produksi barang dan kreasi jasa diarahkan untuk mengeksploitasi kelebihan ayang dimiliki, sehigga dapat dihasilkan barang dan jasa yang lebih efisien dan bermutu. Barang dan jasa ini akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagian akan diekspor ke Negara lain. Sebagai gantinya, akan diimpor barang dana jasa dari Negara lain yang memiliki keunggulan dalam memproduksi dan mencipta barang dan jasa tersebut. Uraian singkat diatas merupakan benang merah dari konsep yang diajukan mashab klasik, yang dikenal dengan teori keunggulan komparatif. Teori keunggulan komparatif pada dasarnya merupakan perluasan dari teori keunggulan “absolut” yang dikemukakan oleh Adam Smith, dimana keunggulan absolute merupakan kasus khusus dari dari keunggulan komparatif. Menurut teori keunggulan absolute, setiap Negara mampu memproduksi barang tertentu secara lebih efisien daripada Negara lain (dengan kata lain memiliki keunggulan absolute untuk barang tersebut) melalui spesialisasi dan pengelompokan kerja secara internasional (international division of labor). Perdagangan diantara dua Negara, dimana masing-masing memilikii keunggulan absolute dalam produksi barang yang berbeda, akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keunggulan absolute bias diperoleh karena adanya perbedaan dalam factor-faktor seperti ikllim, kualitas tanah, anugerah sumber daya alam, tenaga kerja, modal, teknologi atau kewirausahaan (entrepreneurship).
    Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa perdagangan yang saling menguntungkan tidak selalu menuntut setiap Negara harus memiliki keunggulan absolute disbanding mitra dagangnya. Misalnya Negara A memiliki keunggulan absolute pada produksi kalkulator dan TV disbanding Negara B. Bila semata-mata diasarkan pada teori keunggulan absolute, maka tidak akan ada perdagangan antar Negara A dan Negara B. karena jelas saja negar A tidak bersedia membeli barang apapun dari negar B yang harganya jauh lebih mahal.
    Penjelasan alternatif atas kasus ini adalah teori keunggulan komparatif yang dikembangkan oleh David Richardo. Menurut teori ini, sekalipun sebuah negar memiliki keunggulan absolute dalam produksi sebuah barang, tetapi selama nnegara yang lebih lemah memiliki keunggulan komparatif pada produksi salah satu barang tersebut , maka perdagangan tetap bisa dilakukan. Cotoh kasus teori keunggulan komparatif Jepang dan Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam penguasaan teknologi canggih disbanding Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relative jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat , oleh karena itu akan lebih cocok jika bermain di industry pada modal (misalnya industry otomotif, industry barang- barang elektronik, dan sebgainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industry padat karya (misalnya industry sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).
    2. TEORI KEUNGGULAN KOMPETITIF
    Konsep ini dikembangkan oleh Michael E. Porter (1990) dalam bukunya berjudul “The Competitive Advantage of Nations”. Menurutnya terdapat empat atribut utama yang bisa membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan local berkompetisi sedemikian rupa, sehingga mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Keempat atribut tersebut meliputi:
    a. Kondisi faktof produksi (factor conditions), yaitu posisi suatu Negara dalam factor produksi (misalnya tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan teknologi) yang dibutuhkan untuk bersaing dalam industry tertentu.
    b. Kondisi permintaan (demand conditions), yakni sifat permintaan domestic atas produk atau jasa industry tertentu.
    c. Industry terkait dan industry pendukung (related and supporting industries), yaitu keberadaan atau ketiadaan industry pemasok dan “industry terkait” yang komoetitif secara internasional di Negara tersebut.
    d. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan, yakni kondisi dalam negeri yang menentukan bagaiman perusahaan-perusahaan dibentuk, diorganisasikan, dan dikelola serta sifat persaingan domestic.
    Faktor-faktor ini, baik secara individu maupun sebagai satu system, menciptakan konteks dimana perusahaan-perusahaan dalam sebuah Negara dibentuk dan bersaing. Ketersediaan sumber daya dan ketrampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif dalam suatu Industri informasi yang membentuk peluang apa saja yang dirasakan dan arahan kemana sumber dan daya dan ketrampilan dialokasikan,tujuan pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat dalam atau yang melakukan kompetisi, dan yang jauh lebih penting, tekanan terhadap perusahaan untuk berinvestasidan berinovasi.
    PERBEDAAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DENGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Ditulis pada April 15, 2008 oleh hidayaters. Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitif dan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :
    1. Keunggulan Kompetitif Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.
    2. Keunggulan Komparatif.Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keungggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lain.

  9. HENDI SETIAWAN
    093401017
    PERBANDINGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF dan KEUNGGULAN KOMPETITIF

    KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Teori Keunggulan Komparatif Para Ekonom klasik, khususnya Adam Smith, David Richardo, dan John Stuart Mill, memberikan kontribusi besar bagi justifikasi ekonomi teoritikal terhadap perdagangan internasional. Setiap Negara mempunyai kekhasan dalam corak dan ragam, serta kualitas dan kuantitas sumber dayanya, baik kekayaan alam, sumber daya manusia, penguasaan teknologi dan sebagainya. Perbedaan sumber daya antar Negara mendorong mereka untuk melakaukan spesialisasi. Kegiatan produksi barang dan kreasi jasa diarahkan untuk mengeksploitasi kelebihan ayang dimiliki, sehigga dapat dihasilkan barang dan jasa yang lebih efisien dan bermutu. Barang dan jasa ini akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan sebagian akan diekspor ke Negara lain. Sebagai gantinya, akan diimpor barang dana jasa dari Negara lain yang memiliki keunggulan dalam memproduksi dan menciota barang dan jasa tersebut. Uraian singkat diatas merupakan benang merah dari konsep yang diajukan mashab klasik, yang dikenal dengan teori keunggulan komparatif. Teori keunggulan komparatif pada dasarnya merupakan perluasan dari teori keunggulan “absolut” yang dikemukakan oleh Adam Smith, dimana keunggulan absolute merupakan kasus khusus dari dari keunggulan kkomparatif. Menurut teori keunggulan absolute, setiap Negara mampu memproduksi barang tertentu secara lebih efisien daripada Negara lain (dengan kata lain memiliki keunggulan absolute untuk barang tersebut) melalui spesialisasi dan pengelompokan kerja secara internasional (international division of labor). Perdagangan diantara dua Negara, dimana masing-masing memilikii keunggulan absolute dalam produksi barang yang berbeda, akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keunggulan absolute bias diperoleh karena adanya perbedaan dalam factor-faktor seperti ikllim, kualitas tanah, anugerah sumber daya alam, tenaga kerja, modal, teknologi atau kewirausahaan (entrepreneurship). Akan tetapi dalam perkembangan selanjutnya disadari bahwa perdagangan yang saling menguntungkan tidak selalu menuntut setiap Negara harus memiliki keunggulan absolute disbanding mitra dagangnya. Misalnya Negara A memiliki keunggulan absolute pada produksi kalkulator dan TV disbanding Negara B. Bila semata-mata diasarkan pada teori keunggulan absolute, maka tidak akan ada perdagangan antar Negara A dan Negara B. karena jelas saja negar A tidak bersedia membeli barang apapun dari negar B yang harganya jauh lebih mahal. Penjelasan alternatif atas kasus ini adalah teori keunggulan komparatif yang dikembangkan oleh David Richardo. Menurut teori ini, sekalipun sebuah negar memiliki keunggulan absolute dalam produksi sebuah barang, tetapi selama nnegara yang lebih lemah memiliki keunggulan komparatif pada produksi salah satu barang tersebut , maka perdagangan tetap bisa dilakukan.
    Cotoh kasus teori keunggulan komparatif: Jeang dan Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam penguasaan teknologi canggih disbanding Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relative jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat , oleh karena itu akan lebih cocok jika bermain di industry pada modal (misalnya industry otomotif, industry barang- barang elektronik, dan sebgainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industry padat karya (misalnya industry sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).

    KEUNGGULAN KOMPETITIF
    (Rona Wajah) Perusahaan tidak akan pernah berhenti menghadapi permasalahan di dalam dan di luar perusahaan. Permasalahan di dalam menyangkut aspek retrukturisasi organisasi perusahaan, akuisisi, dan merger serta aliansi strategik. Dalam aspek yang lebih operasional menyangkut manajemen finansial, produksi, pemasaran, manajemen administrasi dan manajemen sumberdaya manusia. Sementara itu masalah eksternal ditandai oleh aktifitas ekonomi pasar sedemikian dinamisnya seperti tuntutan pelanggan terhadap mutu dan keamanan produk, fluktuasi harga input dan output, ekspansi pasar perusahaan lain, teknologi dan pesaing. Dalam upaya mencapai keunggulan kompetitif, perusahaan harus menghadapi tantangan bahkan tekanan-tekanan internal dan eksternal itu. Salah satu pendekatannya adalah bagaimana mengefektifkan potensi sumberdaya yang ada.
    Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
    Ø sudut Pandang Nilai Pelanggan. Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
    Ø Sudut Keunikan. Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda. Apa saja keunikan itu?
    Ciri-ciri Keunikan
    (1) Kemampuan finansial dan ekonomis. Ciri keunikan ini ditunjukan oleh adanya kemudahan perusahaan untuk memperoleh sumber finansial dengan relatif cepat dengan bunga yang relatif lebih rendah dari pada bunga pasar. Selain itu dapat berupa kemampuan perusahaan menekan harga produk yang lebih murah ketimbangan harga produk yang sama dari perusahaan lain.
    (2) Kemampuan menciptakan produk strategik.Bentuk jenis keunikan ini berupa kelebihan ciri-ciri produk Anda dibanding produk yang sama dari perusahaan lain. Antara lain dapat dilihat dari aspek rasa, ukuran, penampilan dan keamanan produk serta suasana lingkungan bisnis Anda. Kembali ke contoh terdahulu, misalnya Anda menyajikan sate dengan ukuran daging yang lebih besar, bumbu yang lebih bervariasi, minuman tradisional, kematangan yang merata, ada musik khas, ada tempat bermain untuk anak-anak, oleh-oleh buat anak-anak tanpa harus mengurangi keuntungan bisnis Anda dsb.
    (3) Kemampuan teknologi dan proses. Perusahaan harus memiliki ciri berbeda dalam membuat dan menyajikan produk ke para pelanggan dibanding perusahaan lain.Hal ini dicirikan oleh alat yang digunakan apakah alat tua ataukah yang modern dan sudah sangat dikenal kehandalannya di kalangan luas pelanggan. Biasanya pelanggan sudah mempunyai pilihan favorit tentang alat-alat dan proses tertentu yang digemarinya. Contoh lain adalah penggunaan alat-alat canggih seperti sistem komputer dan fasilitas pabrik pengolahan produksi modern .
    (4) Kemampuan keorganisasian. Keunikan disini dicirikan oleh kelebihan perusahaan dalam pengelolaan sistem keorganisasian yang sepadan dengan kebutuhan pelanggan. Perusahaan termasuk karyawannya perlu memiliki daya tanggap, sensitif dan adapatasi yang tinggi dalam mengikuti perubahan-perubahan karakter pelanggan, teknologi, keadaan pasokan, peraturan, dan kondisi ekonomi. Dengan demikian para pelanggan akan senang hati untuk selalu loyal kepada perusahaan.

  10. PRATAMA RAMDHANI
    093401016
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Perbandingan komparatif dan kompetitif menurut beberapa tokoh :
    1. Menurut Adi Sasono dalam bukunya yang berjudul “Solusi Islam atas problematika umat: ekonomi, pendidikan, dan dakwah” mengenai keunggulan kompetitif dan komparatif dapat dijelaskan sebagai berikut :
     Faktor produksi utama dari keunggulan komparatif yaitu modal fisik, sedangkan factor produksi utama dari keunggulan kompetitif yaitu pengetahuan yang diterpakan dalam inovasi dan pengembangan IPTEK lewat pengembangan SDM.
     Dalam penentuan keunggulannya, keunggulan kompetitif lebih bertumpu pada sumberdaya manusia berketerampilan tinggi dan penguasaan teknologi yang memadai (meskipun tidak harus teknologi tinggi). Ini sangat berbeda dengan keunggulan komparatif, di mana ia lebih didasarkan pada faktor kandungan yang melimpah, yaitu sumber daya alam dan buruh murah yang tidak berketrampilan.
     Orientasi produksi dari keunggulan komparatif yaitu terkonsentrasi pada satu pusat pertumbuhan, sedangkan orientasi produksi dari keunggulan kompetitif yaitu tersebar dengan banyak pusat pertumbuhan di daerah dengan mengendalikan sumberdaya manusia trampil dengan teknologi komuniksai dengan transportasi modern untuk menjembatani jarak.
     Selain itu, jika dilihat dari strategi perdagangannya dari keunggulan komparatif, perdagangan bebas diterapkan dengan deregulsai perdagangan menurut pembagian kerja internsaional, yaitu pemanfaatan buruh yang murah. Sedangkan strategi perdagangan jika dilihat dari keunggulan kompetitif yaitu mengandalkan keunggulan produk industri-industri strategis yang dikembangkan secara selektif.

    2. Menurut Simatupang (1991) maupun Sudaryanto dan Simatupang (1993), konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam arti daya saing yang akan dicapai pada perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Aspek yang terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi dan yang terkait dengan keunggulan kompetitif adalah adalah kelayakan finansial dari suatu aktivitas. Sudaryanto dan Simatupang (1993) mengemukakan bahwa konsep yang lebih cocok untuk mengukur kelayakan finansial adalah keunggulan kompetitif atau revealed competitive advantage yang merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perejonomian yang aktual.

  11. GUN GUN GUNAWAN
    093401018
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    1)Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
     Sudut Pandang Nilai Pelanggan.
    Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
     Sudut Keunikan.
    Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda. Apa saja keunikan itu?
    Ciri-ciri Keunikan
    (1) Kemampuan finansial dan ekonomis. Ciri keunikan ini ditunjukan oleh adanya kemudahan perusahaan untuk memperoleh sumber finansial dengan relatif cepat dengan bunga yang relatif lebih rendah dari pada bunga pasar. Selain itu dapat berupa kemampuan perusahaan menekan harga produk yang lebih murah ketimbangan harga produk yang sama dari perusahaan lain.
    (2) Kemampuan menciptakan produk strategik.Bentuk jenis keunikan ini berupa kelebihan ciri-ciri produk Anda dibanding produk yang sama dari perusahaan lain. Antara lain dapat dilihat dari aspek rasa, ukuran, penampilan dan keamanan produk serta suasana lingkungan bisnis Anda. Kembali ke contoh terdahulu, misalnya Anda menyajikan sate dengan ukuran daging yang lebih besar, bumbu yang lebih bervariasi, minuman tradisional, kematangan yang merata, ada musik khas, ada tempat bermain untuk anak-anak, oleh-oleh buat anak-anak tanpa harus mengurangi keuntungan bisnis Anda dsb.
    (3) Kemampuan teknologi dan proses.Perusahaan harus memiliki ciri berbeda dalam membuat dan menyajikan produk ke para pelanggan dibanding perusahaan lain.Hal ini dicirikan oleh alat yang digunakan apakah alat tua ataukah yang modern dan sudah sangat dikenal kehandalannya di kalangan luas pelanggan. Biasanya pelanggan sudah mempunyai pilihan favorit tentang alat-alat dan proses tertentu yang digemarinya. Contoh lain adalah penggunaan alat-alat canggih seperti sistem komputer dan fasilitas pabrik pengolahan produksi modern .
    (4) Kemampuan keorganisasian. Keunikan disini dicirikan oleh kelebihan perusahaan dalam pengelolaan sistem keorganisasian yang sepadan dengan kebutuhan pelanggan. Perusahaan termasuk karyawannya perlu memiliki daya tanggap, sensitif dan adapatasi yang tinggi dalam mengikuti perubahan-perubahan karakter pelanggan, teknologi, keadaan pasokan, peraturan, dan kondisi ekonomi. Dengan demikian para pelanggan akan senang hati untuk selalu loyal kepada perusahaan.

    2)Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

  12. ADRIANA GUMBIRA
    093401010
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Perbandingan Antara Keunggulan Komparatif & Keunggulan Kompetitif
    1. Keunggulan Komparatif
    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    2. Keunggulan Kompetiif
    Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
    Ø Sudut Pandang Nilai Pelanggan.
    Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
    Ø Sudut Keunikan.
    Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda.
    Ciri-ciri Keunikan
    (1) Kemampuan finansial dan ekonomis.
    (2) Kemampuan menciptakan produk strategik.
    (3) Kemampuan teknologi dan proses.
    (4) Kemampuan keorganisasian.

  13. NENG SOFI SOPIAH
    093401002
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    1. KEUNGGULAN KOMPARATIF
    (David Ricardo)
    keunggulan komparatif (comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi

    2. KEUNGGULAN KOMPETITIF
    (Rona Wajah)
    Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
    ØSudut Pandang Nilai Pelanggan.
    Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
    ØSudut Keunikan.
    Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda. Apa saja keunikan itu?
    Ciri-ciri Keunikan
    (1)Kemampuan finansial dan ekonomis. Ciri keunikan ini ditunjukan oleh adanya kemudahan perusahaan untuk memperoleh sumber finansial dengan relatif cepat dengan bunga yang relatif lebih rendah dari pada bunga pasar. Selain itu dapat berupa kemampuan perusahaan menekan harga produk yang lebih murah ketimbangan harga produk yang sama dari perusahaan lain.
    (2)Kemampuan menciptakan produk strategik.Bentuk jenis keunikan ini berupa kelebihan ciri-ciri produk Anda dibanding produk yang sama dari perusahaan lain. Antara lain dapat dilihat dari aspek rasa, ukuran, penampilan dan keamanan produk serta suasana lingkungan bisnis Anda. Kembali ke contoh terdahulu, misalnya Anda menyajikan sate dengan ukuran daging yang lebih besar, bumbu yang lebih bervariasi, minuman tradisional, kematangan yang merata, ada musik khas, ada tempat bermain untuk anak-anak, oleh-oleh buat anak-anak tanpa harus mengurangi keuntungan bisnis Anda dsb.
    (3)Kemampuan teknologi dan proses.Perusahaan harus memiliki ciri berbeda dalam membuat dan menyajikan produk ke para pelanggan dibanding perusahaan lain.Hal ini dicirikan oleh alat yang digunakan apakah alat tua ataukah yang modern dan sudah sangat dikenal kehandalannya di kalangan luas pelanggan. Biasanya pelanggan sudah mempunyai pilihan favorit tentang alat-alat dan proses tertentu yang digemarinya. Contoh lain adalah penggunaan alat-alat canggih seperti sistem komputer dan fasilitas pabrik pengolahan produksi modern .
    (4)Kemampuan keorganisasian. Keunikan disini dicirikan oleh kelebihan perusahaan dalam pengelolaan sistem keorganisasian yang sepadan dengan kebutuhan pelanggan. Perusahaan termasuk karyawannya perlu memiliki daya tanggap, sensitif dan adapatasi yang tinggi dalam mengikuti perubahan-perubahan karakter pelanggan, teknologi, keadaan pasokan, peraturan, dan kondisi ekonomi. Dengan demikian para pelanggan akan senang hati untuk selalu loyal kepada perusahaan

  14. PRATAMA RAMDHANI
    093401016
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Perbandingan menurut beberapa tokoh Indonesia :

    1. Menurut Adi Sasono dalam bukunya yang berjudul “Solusi Islam atas problematika umat: ekonomi, pendidikan, dan dakwah” mengenai keunggulan kompetitif dan komparatif dapat dijelaskan sebagai berikut :
     Faktor produksi utama dari keunggulan komparatif yaitu modal fisik, sedangkan factor produksi utama dari keunggulan kompetitif yaitu pengetahuan yang diterpakan dalam inovasi dan pengembangan IPTEK lewat pengembangan SDM.
     Dalam penentuan keunggulannya, keunggulan kompetitif lebih bertumpu pada sumberdaya manusia berketerampilan tinggi dan penguasaan teknologi yang memadai (meskipun tidak harus teknologi tinggi). Ini sangat berbeda dengan keunggulan komparatif, di mana ia lebih didasarkan pada faktor kandungan yang melimpah, yaitu sumber daya alam dan buruh murah yang tidak berketrampilan.
     Orientasi produksi dari dari keunggulan komparatif yaitu terkonsentrasi pada satu pusat pertumbuhan, sedangkan orientasi produksi dari keunggulan kompetitif yaitu tersebar dengan banyak pusat pertumbuhan di daerah dengan mengendalikan sumberdaya manusia trampil dengan teknologi komuniksai dengan transportasi modern untuk menjembatani jarak.
     Selain itu, jika dilihat dari strategi perdagangannya dari keunggulan komparatif, perdagangan bebas diterapkan dengan deregulsai perdagangan menurut pembagian kerja internsaional, yaitu pemanfaatan buruh yang murah. Sedangkan strategi perdagangan jika dilihat dari keunggulan kompetitif yaitu mengandalkan keunggulan produk industri-industri strategis yang dikembangkan secara selektif.

    2. Menurut Simatupang (1991) maupun Sudaryanto dan Simatupang (1993), konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam arti daya saing yang akan dicapai pada perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Aspek yang terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi dan yang terkait dengan keunggulan kompetitif adalah adalah kelayakan finansial dari suatu aktivitas. Sudaryanto dan Simatupang (1993) mengemukakan bahwa konsep yang lebih cocok untuk mengukur kelayakan finansial adalah keunggulan kompetitif atau revealed competitive advantage yang merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian yang aktual.

  15. INDRA YUDACAHYA
    093401008
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    PERBEDAAN KEUNGGULAN KOMPETITIF DENGAN KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitif dan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :
    1. Keunggulan Kompetitif
    Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.
    2. Keunggulan Komparatif.
    Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnya

    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

  16. Nama : Yoga Permana
    NPM : 093401009

    Perbandingan teori kompetitif dengan teori komparatif

    Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitifdan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :
    1.Keunggulan Kompetitif

    Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994),dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan.Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.
    Teori Keunggulan Kompetitif menunjukkan bahwa setiap orang adalah lebih baik jika keputusan dibuat berdasarkan pada keunggulan kompetitif di semua tingkat – nasional, perusahaan, lokal, dan individu. Cukup dinyatakan, itu tidak lebih dari meminta untuk pemanfaatan optimal sumber daya dan globalisasi manufaktur dan jasa di seluruh dunia seperti jika kita tinggal di bingkai (baca: datar) dunia.Sayangnya, kita tidak hidup di dunia tanpa batas karena ada politisi dan batas-batas tebal yang mendefinisikan wilayah negara dan politisi, karena itu isu seputar hilangnya pekerjaan karena offshoring dan penggunaan langkah-langkah proteksionis.
    Dalam dunia yang sempurna, membiarkan seseorang melakukan pekerjaan yang memiliki keuntungan lebih dari Anda (karena sumber daya alam atau manusia, kemampuan unik, kompetensi atau biaya) tidak permainan zero sum karena menawarkan lebih baik membayar off untuk semua orang yang terlibat, sehingga menciptakan situasi menang-menang. Namun, hal ini mengasumsikan bahwa sumber daya dan modal bisa mengalir bebas di seluruh dunia. Jika kekuatan pasar diizinkan untuk beroperasi secara bebas, yang secara otomatis akan terjadi.
    Dalam dunia nyata, yang belum tentu terjadi karena ada beberapa friksi yang tidak hanya mencegah aliran bebas dari sumber daya tetapi juga kemampuan untuk memanfaatkan keuntungan yang dihasilkan dari penggunaan keunggulan kompetitif. Biarkan aku memikirkan ini sedikit lebih.
    Teori ini didasarkan pada asumsi dasar bahwa kesempatan kerja yang memadai tersedia bagi mereka yang terlibat sendiri untuk keuntungan kompetitif memanfaatkan orang lain untuk tingkat bahwa mereka dapat mengoptimalkan potensi mereka sendiri – misalnya, naik ke rantai nilai jika mereka dibatasi sehingga jauh karena kapasitas bukan kemampuan. Demikian pula, diasumsikan bahwa sumber daya akan pindah ke mana mereka menemukan kesempatan kerja yang terbaik terlepas dari perbedaan sosio-budaya (air akan menemukan level jika tidak ada buatan manusia obstruksi). Itu tidak selalu terjadi di dunia nyata, tapi itu tidak sepenuhnya benar baik.
    2. Keunggulan Komparatif.

    Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnya
    David Ricardo, yang bekerja di bagian awal abad ke-19, menyadari bahwa keunggulan absolut adalah kasus terbatas dari suatu teori yang lebih umum. Perhatikan Tabel 1. Hal ini dapat dilihat bahwa Portugal dapat menghasilkan baik gandum dan anggur lebih murah daripada Inggris (yakni memiliki keunggulan absolut dalam kedua komoditas). Apa yang David Ricardo lihat adalah bahwa hal itu masih bisa saling menguntungkan bagi kedua negara untuk mengambil spesialisasi dan perdagangan.
    Tabel 1
    Negara Gandum Anggur
    Biaya Per Unit Dalam Jam Manusia Biaya Per Unit Dalam Jam Manusia
    Inggris 15 30
    Portugal 10 15

    Dalam Tabel 1, unit anggur di Inggris biaya jumlah yang sama untuk memproduksi sebagai 2 unit gandum. Produksi unit ekstra anggur sarana produksi sebelumnya dari 2 unit gandum (yaitu biaya kesempatan dari unit anggur adalah 2 unit gandum). Di Portugal, sebuah unit dari biaya 1,5 unit anggur gandum untuk menghasilkan (yaitu biaya kesempatan dari unit anggur adalah 1,5 unit gandum di Portugal).Karena biaya relatif atau komparatif berbeda, masih akan saling menguntungkan bagi kedua negara untuk perdagangan meskipun Portugal memiliki keunggulan absolut di kedua komoditas.
    Portugal relatif lebih baik dibandingkan gandum memproduksi anggur: Portugal sehingga dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam produksi anggur. Inggris relatif lebih baik dalam memproduksi gandum dari anggur: sehingga Inggris dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam produksi gandum.
    Tabel 2 menunjukkan bagaimana perdagangan mungkin menguntungkan. Biaya produksi adalah sebagai ditetapkan dalam Tabel 1. Inggris diasumsikan memiliki 270 orang jam tersedia untuk produksi. Sebelum perdagangan berlangsung menghasilkan dan mengkonsumsi 8 unit gandum dan 5 unit anggur. Portugal sumber daya tenaga kerja yang lebih sedikit dengan 180 jam orang kerja yang tersedia untuk produksi.Sebelum perdagangan berlangsung menghasilkan dan mengkonsumsi 9 unit gandum dan 6 unit anggur. Total produksi antara kedua negara adalah 17 unit 11 unit gandum dan anggur.
    Tabel 2
    C ountry Produksi
    Sebelum Perdagangan Setelah Perdagangan
    Gandum Anggur Gandum Anggur
    E ngland 8 5 18 0
    P ortugal 9 6 0 12
    T otal 17 11 18 12
    Jika kedua negara sekarang spesialisasi, Portugal memproduksi anggur saja dan Inggris hanya memproduksi gandum, total produksi adalah 18 unit 12 unit gandum dan anggur. Spesialisasi telah memungkinkan perekonomian dunia untuk meningkatkan produksi sebesar 1 unit gandum dan 1 unit anggur.
    Teori keunggulan komparatif sederhana diuraikan di atas membuat sejumlah asumsi penting:
    • Tidak ada biaya transportasi.
    • Biaya adalah konstan dan tidak ada skala ekonomi.
    • Hanya ada dua negara memproduksi dua barang.
    • Teori ini mengasumsikan bahwa barang yang diperdagangkan adalah homogen (yaitu identik).
    • Faktor-faktor produksi diasumsikan sempurna mobile.
    • Tidak ada tarif atau hambatan perdagangan lainnya.
    • Ada pengetahuan yang sempurna, sehingga semua pembeli dan penjual tahu di mana barang termurah dapat ditemukan internasional.

    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya.
    Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika Negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

  17. NAMA : ENDANG NURJAMAN
    NPM : 093401006
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN 2009

    Teori keunggulan komparatif
    (comparative advantage theory) dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini berlandaskan pada asumsi:

    1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya.2. Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.

    3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran

    4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh.

    5. Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.

    Paham klasik dapat menerangkan comparative advantage yang diperoleh dari perdagangan luar negeri timbul sebagai akibat dari perbedaan harga relatif ataupun tenaga kerja dari barang-barang tersebut yang diperdagangkan.

    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.

    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    1. Keunggulan Kompetitif
    Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.

  18. NAMA : RINI WULANSARI
    NPM : 093401019
    JURUSAN : EKONOMI PEMBANGUNAN 2009
    TUGAS PERDAGANGAN INTERNASIONAL

    Keunggulan Komparatif
    Teori keuntungan komparatif ini dikembangkan oleh David Ricardo, yang menyatakan bahwa setiap negara akan memperoleh keuntungan jika ia menspesialisasikan pada produksi dan ekspor yang dapat diproduksinya pada biaya yang relatif lebih murah, dan mengimpor apa yang dapat diprosuksinya pada biaya yang relatif lebih mahal.
    Teori keunggulan komparatif menurut JS Mill menyatakan bahwa suatu Negara akan menghasilkan dan kemudian mengekspor suatu barang yang memiliki comparative advantage terbesar dan mengimpor barang yang dimiliki comparative diadvantage(suatu barang yang dapat dihasilkan dengan lebih murah dan mengimpor barang yang kalau dihasilkan sendiri memakan ongkos yang besar ).Teori ini menyatakan bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh banyaknya tenaga kerja yang dicurahkan untuk memproduksi barang tersebut.
    Contoh kasus teori keunggulan komparatif:
    Jepang dan Amerika Serikat memiliki keunggulan komparatif dalam penguasaan teknologi canggih dibanding Indonesia dan Vietnam. Sebaliknya Indonesia dan Vietnam memiliki keunggulan komparatif dalam upah kerja yang relatif jauh lebih murah dibandingkan upah pekerja di Jepang dan Amerika serikat. Perusahaan-perusahaan Jepang dan Amerika serikat akan lebih cocok jika bermain di industri padat modal (misalnya industri otomotif, industri barang- barang elektronik, dan sebagainya). Sementara itu, perusahaan-perusahaan di Indonesia dan Vietnam akan lebih tepat jika berusaha di industri padat karya (misalnya industri sepatu, tekstil, garmen, dan sebagainya).

    Keunggulan Kompetitif
    Teori keunggulan kompettif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
    Keunggulan kompetitif (competitive advantage)dapat dicapai oleh suatu perusahaan dengan menciptakan customer value yang lebih baik daripada kompetitor dengan harga yang sama atau menciptakan customer value yang sama dengan kompetitor, tetapi harga lebih rendah (Hansen & Mowen, 1997).
    Contohnya :
    Di Indonesia banyak sekali konsumen yang membutuhkan alat komunikasi penghubung seperti HP,sedangkan harga untuk HP merk terkenal sangatlah masih mahal,tetapi didukung juga dengan kecanggihan yang juga tidak ketinggalan. tetapi perekonomian di Indonesia sendiri bukan termasuk Negara yang royal dalam hal seperti itu tetapi dari Negara Cina banyak menciptakan HP dengan bentuk body yang sama dan harga sangat murah sehingga dapat merangsang daya beli warga Indonesia tanpa harus dengan harga yang mahal.juga dapat menikmatinya walaupun hanya HP replica ataupun tiruan,dengan kecanggihan yang tidak kalah dengan HP merk terkenal lainnya.

  19. Nama : Ridwan Herdianto
    NPM : 093401024
    Jurusan : Ekonomi Pembangunan
    Tugas Perbandingan Teori Komparatif dan Teori Kompetitif

    Teori keunggulan komparatif (David Ricardo)
    Merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya,perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh Amerika dan Jepang sama-sama memproduksi mobil dan Hp. Amerika mampu memproduksi HP secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi mobil secara efisien dan murah. Sebaliknya, Jepang mampu dalam memproduksi mobil secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi HP secara efisien dan murah. Dengan demikian, Amerika memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi HP dan Jepang memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi Mobil.Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar Mobil dan HP.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    Keunggulan kompetitif (Michael Porter )
    Keunggulan kompetitif adalah teori yang berusaha untuk mengatasi beberapa kritik dari keunggulan komparatif. Michael Porter teori meusulkan pada tahun 1990. Teori Keunggulan kompetitif menunjukkan bahwa negara-negara dan bisnis harus mengejar kebijakan yang membuat barang-barang berkualitas tinggi untuk menjual dengan harga tinggi di pasar. Porter menekankan pertumbuhan produktivitas sebagai fokus strategi nasional. Keunggulan kompetitif bersandar pada gagasan bahwa tenaga kerja murah dan sumber daya alam di mana-mana tidak diperlukan bagi ekonomi yang baik. Teori lain, keunggulan komparatif dapat menyebabkan negara-negara untuk mengkhususkan diri dalam mengekspor barang primer dan bahan baku yang menjebak negara dalam ekonomi upah rendah karena hal perdagangan Keunggulan kompetitif upaya untuk mengoreksi masalah ini dengan menekankan skala ekonomi memaksimalkan dalam goods services yang mengumpulkan harga premium.
    Keunggulan kompetitif terjadi ketika sebuah negara mengakuisisi atau mengembangkan atribut atau kombinasi atribut yang memungkinkan untuk mengungguli kompetitornya. Atribut ini dapat mencakup akses ke sumber daya alam, seperti bijih kadar tinggi atau kekuasaan murah, atau akses ke personil yang sangat terlatih dan terampil sumber daya manusia.. teknologi baru seperti robotika dan teknologi informasi baik untuk dimasukkan sebagai bagian dari produk, atau untuk membantu membuatnya

  20. Perbedaan Teori Keunggulan Komparatif dengan Kompetitif

    1. Teori Keunggulan Komparatif
    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi
    2. Teori Keunggulan Kompetitif
    Konsep ini dikembangkan oleh Michael E. Porter (1990) dalam bukunya berjudul “The Competitive Advantage of Nations”. Menurutnya terdapat empat atribut utama yang bisa membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan local berkompetisi sedemikian rupa, sehingga mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Keempat atribut tersebut meliputi:

    a. Kondisi faktof produksi (factor conditions), yaitu posisi suatu Negara dalam factor produksi (misalnya tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan teknologi) yang dibutuhkan untuk bersaing dalam industry tertentu.
    b. Kondisi permintaan (demand conditions), yakni sifat permintaan domestic atas produk atau jasa industry tertentu.
    c. Industry terkait dan industry pendukung (related and supporting industries), yaitu keberadaan atau ketiadaan industry pemasok dan “industry terkait” yang komoetitif secara internasional di Negara tersebut.
    d. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan, yakni kondisi dalam negeri yang menentukan bagaiman perusahaan-perusahaan dibentuk, diorganisasikan, dan dikelola serta sifat persaingan domestic.
    Factor-faktor ini, baik secara individu maupun sebagai satu system, menciptakan konteks dimana perusahaan-perusahaan dalam sebuah Negara dibentuk dan bersaing. Ketersediaan sumber daya dan ketrampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif dalam suatu Industry; informasi yang membentuk peluang apa saja yang dirasakan dan arahan kemana sumber dan daya dan ketrampilan dialokasikan; tujuan pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat dalam atau yang melakukan kompetisi; dan yang jauh lebih penting, tekanan terhadap perusahaan untuk berinvestasi dan berinovasi

  21. RAHMAN BUDIMAN
    093401011
    Ekonomi Pembangunan
    Perbedaan Teori Keunggulan Komparatif dengan Kompetitif

    1. Teori Keunggulan Komparatif
    Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi
    2. Teori Keunggulan Kompetitif
    Konsep ini dikembangkan oleh Michael E. Porter (1990) dalam bukunya berjudul “The Competitive Advantage of Nations”. Menurutnya terdapat empat atribut utama yang bisa membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan local berkompetisi sedemikian rupa, sehingga mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Keempat atribut tersebut meliputi:

    a. Kondisi faktof produksi (factor conditions), yaitu posisi suatu Negara dalam factor produksi (misalnya tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan teknologi) yang dibutuhkan untuk bersaing dalam industry tertentu.
    b. Kondisi permintaan (demand conditions), yakni sifat permintaan domestic atas produk atau jasa industry tertentu.
    c. Industry terkait dan industry pendukung (related and supporting industries), yaitu keberadaan atau ketiadaan industry pemasok dan “industry terkait” yang komoetitif secara internasional di Negara tersebut.
    d. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan, yakni kondisi dalam negeri yang menentukan bagaiman perusahaan-perusahaan dibentuk, diorganisasikan, dan dikelola serta sifat persaingan domestic.
    Factor-faktor ini, baik secara individu maupun sebagai satu system, menciptakan konteks dimana perusahaan-perusahaan dalam sebuah Negara dibentuk dan bersaing. Ketersediaan sumber daya dan ketrampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif dalam suatu Industry; informasi yang membentuk peluang apa saja yang dirasakan dan arahan kemana sumber dan daya dan ketrampilan dialokasikan; tujuan pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat dalam atau yang melakukan kompetisi; dan yang jauh lebih penting, tekanan terhadap perusahaan untuk berinvestasi dan berinovasi

  22. Ligar Cahya Solihat
    093401003
    Ekonomi Pembangunan
    KEUNGGULAN KOMPARATIF
    Keunggulan komparatif (comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi
    KEUNGGULAN KOMPETITIF
    Perusahaan tidak akan pernah berhenti menghadapi permasalahan di dalam dan di luar perusahaan. Permasalahan di dalam menyangkut aspek retrukturisasi organisasi perusahaan, akuisisi, dan merger serta aliansi strategik. Dalam aspek yang lebih operasional menyangkut manajemen finansial, produksi, pemasaran, manajemen administrasi dan manajemen sumberdaya manusia. Sementara itu masalah eksternal ditandai oleh aktifitas ekonomi pasar sedemikian dinamisnya seperti tuntutan pelanggan terhadap mutu dan keamanan produk, fluktuasi harga input dan output, ekspansi pasar perusahaan lain, teknologi dan pesaing. Dalam upaya mencapai keunggulan kompetitif, perusahaan harus menghadapi tantangan bahkan tekanan-tekanan internal dan eksternal itu. Salah satu pendekatannya adalah bagaimana mengefektifkan potensi sumberdaya yang ada.
    Keunggulan kompetitif adalah kemampuan perusahaan untuk memformulasi strategi pencapaian peluang profit melalui maksimisasi penerimaan dari investasi yang dilakukan. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip pokok yang perlu dimiliki perusahaan untuk meraih keunggulan kompetitif yaitu adanya nilai pandang pelanggan dan keunikan produk.
     Sudut Pandang Nilai Pelanggan.
    Keunggulan kompetitif akan terjadi apabila terdapat pandangan pelanggan bahwa mereka memperoleh nilai tertentu dari transaksi ekonomi dengan perusahaan tersebut. Untuk itu syaratnya adalah semua karyawan perusahaan harus fokus pada kebutuhan dan harapan pelanggan. Hal demikian baru terwujud ketika pelanggan dilibatkan dalam merancang proses memproduksi barang dan atau jasa serta didorong membantu perusahaan merancang sistem Manajemen SDM yang akan mempercepat pengiriman barang dan jasa yang diinginkan pelanggan.
     Sudut Keunikan.
    Keunikan dicirikan oleh barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tidak dapat mudah ditiru oleh pesaing. Misalnya Anda membuka rumah makan dengan menyajikan sop dan sate kambing serta sayur asem. Tidak berlangsung lama ada pesaing membuka rumah makan di sebelah rumah makan Anda. Jenis sajiannya semua sama termasuk rasa dan harga dengan yang Anda sajikan. Dapat terjadi Anda akan kehilangan keuntungan karena sebagian pelanggan pindah ke rumah makan baru itu kecuali kalau Anda mampu menciptakan sesuatu yang unik yang sulit ditiru pesaing Anda. Apa saja keunikan itu?
    Ciri-ciri Keunikan
    (1) Kemampuan finansial dan ekonomis. Ciri keunikan ini ditunjukan oleh adanya kemudahan perusahaan untuk memperoleh sumber finansial dengan relatif cepat dengan bunga yang relatif lebih rendah dari pada bunga pasar. Selain itu dapat berupa kemampuan perusahaan menekan harga produk yang lebih murah ketimbangan harga produk yang sama dari perusahaan lain.
    (2) Kemampuan menciptakan produk strategik.Bentuk jenis keunikan ini berupa kelebihan ciri-ciri produk Anda dibanding produk yang sama dari perusahaan lain. Antara lain dapat dilihat dari aspek rasa, ukuran, penampilan dan keamanan produk serta suasana lingkungan bisnis Anda. Kembali ke contoh terdahulu, misalnya Anda menyajikan sate dengan ukuran daging yang lebih besar, bumbu yang lebih bervariasi, minuman tradisional, kematangan yang merata, ada musik khas, ada tempat bermain untuk anak-anak, oleh-oleh buat anak-anak tanpa harus mengurangi keuntungan bisnis Anda dsb.
    (3) Kemampuan teknologi dan proses.Perusahaan harus memiliki ciri berbeda dalam membuat dan menyajikan produk ke para pelanggan dibanding perusahaan lain.Hal ini dicirikan oleh alat yang digunakan apakah alat tua ataukah yang modern dan sudah sangat dikenal kehandalannya di kalangan luas pelanggan. Biasanya pelanggan sudah mempunyai pilihan favorit tentang alat-alat dan proses tertentu yang digemarinya. Contoh lain adalah penggunaan alat-alat canggih seperti sistem komputer dan fasilitas pabrik pengolahan produksi modern .
    (4) Kemampuan keorganisasian. Keunikan disini dicirikan oleh kelebihan perusahaan dalam pengelolaan sistem keorganisasian yang sepadan dengan kebutuhan pelanggan. Perusahaan termasuk karyawannya perlu memiliki daya tanggap, sensitif dan adapatasi yang tinggi dalam mengikuti perubahan-perubahan karakter pelanggan, teknologi, keadaan pasokan, peraturan, dan kondisi ekonomi. Dengan demikian para pelanggan akan senang hati untuk selalu loyal kepada perusahaan.
    Teori keunggulan kompetitif (Michael Porter 1990)
    • Kondisi permintaan – sifat dasar permintaan domestik. Jika ada permintaan dari pelanggan, maka produsen akan berusaha memproduksi sebaik mungkin (berkualitas tinggi dan inovatif) dan menjadi produk yang dapat keuntungan persaingan global disbanding Negara yang permintaan domestiknya kecil.
    • Industri terkait dan pendukung, cenderung membentuk kelompok dilokasi tertentu (walau perusahaan mereka telah mendominasi.
    • Kondisi komposisi faktor produksi, porter ,membedakan faktor dasar seperti (buruh,sumber alam,geografi) dan faktor lanjutan (infrastruktur suatu Negara). Juga faktor yang dibuat (investasi) dan faktor warisan (alam, lokasi) kekurangan karunia alam akan membuat bangsa melakukan investasi dalam rangka pencipataan faktor lanjutan seperti pendidikan tenaga kerja, pelabuhan bebas, dan memajukan sistem komuntikasi untuk memungkinkan industri mereka maju secara global.
    • Strategi, struktur dan persaingan perusahaan perluasan persaingan domestik, adanya hambatan masuk, serta organisasi dan gaya manajemen perusahaan.
    Perbedaan keunggulan kopetitif dengan keunggulan komparatif
    Dalam kehidupan pemerintah, sering kali kita mendengar atau banyak orang menyebut adanya Keunggulan Kompetitif dan Keuanggulan Komparatif, untuk memahami kedua keunggulan ini, penulis mencoba memberikan pemahaman dan pengertian, seperti yang akan jelaskan dibawah ini :
    1. Keunggulan Kompetitif
    Menurut Tangkilisan (dalam bukunya Strategi Keunggulan Pelayanan Publik Manajemen SDM, 2003) bahwa Keunggulan Kompetitif adalah merujuk pada kemampuan sebuah organisasi untuk memformulasikan strategi yang menempatkannya pada suatu posisi yang menguntungkan berkaitan dengan perusahaan lainnya. Keunggulan Kompetitif muncul bila pelanggan merasa bahwa mereka menerima nilai lebih dari transaksi yang dilakukan dengan sebuah organisasi pesaingnya. Kemudian di dalam Kamus Bahasa Indonesia oleh Badudu-Zain (1994), dinyatakan bahwa keunggulan kompetitif bersifat kompetisi dan bersifat persaingan. Bertitik tolak dari kedua sumber diatas, kami berpendapat bahwa keunggulan kompetitif adalah keunggulan yang dimiliki oleh organisasi, dimana keunggulannya dipergunakan untuk berkompetisi dan bersaing dengan organisasi lainnya, untuk mendapatkan sesuatu, Contoh, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam bidang Perbankan, masing-masingnya bagaimana berusaha untuk menarik nasabah sebanyak-banyaknya dengan cara berkompetisi sesuai dengan keuanggulan yang dimilikinya.
    2. Keunggulan Komparatif.
    Pengertian Keunggulan Komparatif dapat dilihat pada kamus Bahasa Indonesia, oleh Badudu-Zain (1994), dimana komparatif diartikan bersifat perbandingan atau menyatakan perbandingan. Jadi keunggulan komparatif adalah suatu keunggulan yang dimiliki oleh suatu organisasi untuk dapat membandingkannya dengan yang lainnya. Dengan mengacu arti tersebut, kami berpendapat, bahwa keunggulan komparatif, adalah keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh organisasi seperti SDM, fasilitas, dan kekayaan lainnya, yang dimanfaatkan untuk mencapai tujuan organisasi atau perpaduan keuanggulan beberapa organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Contoh, beberapa instansi / lembaga pemerintahan, dengan memanfaatkan segala keuanggulan yang dimilikinya, dan mereka mempunyai satu tujuan bersama, yakni untuk mewujudkan VISI dan MISI yang telah dibuatnya bersama-sama.
    Oleh sebab itu, jelaslah bahwa keunggulan komparatif, bagaimana untuk mencapai tujuan bersama dengan segala keunggulan yang dimiliki baik oleh organisasi maupun terhadap organisasi lainnya, sedangkan keunggulan kompetitif, bagaimana memanfaatkan keunggulan yang dimiliki oleh organisasi untuk bisa mendapatkan tujuan organisasi, dengan cara berkompetisi dengan organisasi lainnya

  23. BIAN LAZUARDI
    093401023
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    1.Teori keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya, Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efisiensi tinggi
    2. Teori Keunggulan Kompetitif
    Konsep ini dikembangkan oleh Michael E. Porter (1990) dalam bukunya berjudul “The Competitive Advantage of Nations”. Menurutnya terdapat empat atribut utama yang bisa membentuk lingkungan dimana perusahaan-perusahaan local berkompetisi sedemikian rupa, sehingga mendorong terciptanya keunggulan kompetitif. Keempat atribut tersebut meliputi:

    a. Kondisi faktof produksi (factor conditions), yaitu posisi suatu Negara dalam factor produksi (misalnya tenaga kerja terampil, infrastruktur, dan teknologi) yang dibutuhkan untuk bersaing dalam industry tertentu.
    b. Kondisi permintaan (demand conditions), yakni sifat permintaan domestic atas produk atau jasa industry tertentu.
    c. Industry terkait dan industry pendukung (related and supporting industries), yaitu keberadaan atau ketiadaan industry pemasok dan “industry terkait” yang komoetitif secara internasional di Negara tersebut.
    d. Strategi, struktur dan persaingan perusahaan, yakni kondisi dalam negeri yang menentukan bagaiman perusahaan-perusahaan dibentuk, diorganisasikan, dan dikelola serta sifat persaingan domestic.
    Factor-faktor ini, baik secara individu maupun sebagai satu system, menciptakan konteks dimana perusahaan-perusahaan dalam sebuah Negara dibentuk dan bersaing. Ketersediaan sumber daya dan ketrampilan yang diperlukan untuk mewujudkan keunggulan kompetitif dalam suatu Industry; informasi yang membentuk peluang apa saja yang dirasakan dan arahan kemana sumber dan daya dan ketrampilan dialokasikan; tujuan pemilik, manajer, dan karyawan yang terlibat dalam atau yang melakukan kompetisi; dan yang jauh lebih penting, tekanan terhadap perusahaan untuk berinvestasidan berinovasi.
    Catatan:
    “industry terkait” adalah industry dimana perusahaan dapat berbagi aktivitas dalam rantai nilai (misalnya saluran distribusi, pengembangan teknologi) dan mentranSfer ketrampilan tertentu dari suatu industry ke indudstri yang lain.
    Contoh ketiga industry terkait adalah: mobil (cars), truk ringan (light trucks), dan forklift trucks (digunakan untuk menangani material didalam dan di luar pabrik dan gudang).

  24. BIAN LAZUARDI
    EKONOMI PEMBANGUNAN

    Teori keunggulan komparatif (comparative advantage theory) dikemukakan oleh David Ricardo. Teori ini mencoba melihat kuntungan atau kerugian dalam perbandingan relatif. Teori ini berlandaskan pada asumsi:

    1. Labor Theory of Value, yaitu bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk menghasilkan barang tersebut, dimana nilai barang yang ditukar seimbang dengan jumlah tenaga kerja yang dipergunakan untuk memproduksinya.

    2. Perdagangna internasional dilihat sebagai pertukaran barang dengan barang.

    3. Tidak diperhitungkannya biaya dari pengangkutan dan lain-lain dalam hal pemasaran

    4. Produksi dijalankan dengan biaya tetap, hal ini berarti skala produksi tidak berpengaruh.

    5. Faktor produksi sama sekali tidak mobile antar negara. Oleh karena itu , suatu negara akan melakukan spesialisasi dalam produksi barang-barang dan mengekspornya bilamana negara tersebut mempunyai keuntungan dan akan mengimpor barang-barang yang dibutuhkan jika mempunyai kerugian dalam memproduksi.

    Paham klasik dapat menerangkan comparative advantage yang diperoleh dari perdagangan luar negeri timbul sebagai akibat dari perbedaan harga relatif ataupun tenaga kerja dari barang-barang tersebut yang diperdagangkan.

    Teori kompetitif
    “Keunggulan kompetitif tumbuh dari nilai perusahaan mampu menciptakan bagi pembelinya yang melebihi biaya perusahaan menciptakan itu. Nilai adalah apa yang pembeli bersedia untuk membayar, dan nilai yang unggul berasal dari penawaran harga lebih rendah dari pesaing untuk manfaat yang setara atau memberikan manfaat unik yang lebih dari mengimbangi harga yang lebih tinggi. ”

    Kita dapat mengatakan bahwa keunggulan kompetitif mengacu pada situasi di mana perusahaan mampu menghasilkan laba di atas rata-rata industri. Jika kemampuan ini bertahan selama waktu perusahaan dikatakan memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

    Menurut Porter ada dua jenis dasar keunggulan kompetitif: keunggulan biaya dan keuntungan diferensiasi. Sementara ini pembagian dua kali lipat memahami sebagian besar kasus keunggulan kompetitif, analisis lebih dalam dapat dibuat, mogok faktor-faktor yang memungkinkan perusahaan untuk mencapai baik biaya atau keunggulan diferensiasi.

    Diferensiasi, misalnya, dapat dicapai melalui produk inovatif, melalui layanan pelanggan yang lebih baik dan sebagainya. Kepemimpinan biaya, sama, dapat dicapai melalui skala ekonomi, hubungan yang lebih baik dengan pemasok dan sejenisnya.

    Dalam serangkaian posting saya akan menutupi berbagai sumber keunggulan kompetitif dan bagaimana perusahaan dapat memanfaatkan mereka untuk mencapai hasil yang lebih baik di pasar. Menantikan!

  25. Keunggulan Mutlak dan Keunggulan Komparatif
    Teori keunggulan mutlak di kemukakan oleh Adam Smith (1776) dalam bukunya The Wealth of Nation. Adam Smith menganjurkan perdagangan bebas sebgai kebijakan yang mampu medorong kemakmuran suatu negara. Dalam perdagangan bebas, setiap negara dapat menspesialisasikan diri dalam produksi komoditas yang memiliki keunggulan mutlak/absolut dan mengimpor komoditi yang memperoleh kerugian mutlak. Dengan spesialisai, masing-masing negara dapat meningkatkan pertambahan produksi dunia yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama melalui perdagangan internasional. Jadi melalui perdagangan internasional yang berdasarkan keunggulan mutlak, masing-masing negara yang terlibat dalam perdagangan akan memperoleh keuntungan yang serentak melalui spesialisasi, bukan dari pengorbanan negara lain. Contoh: Indonesia dan India memproduksi dua jenis komoditi yaitu pakaian dan tas dengan asumsi (anggapan) masing-masing negara menggunakan 100 tenaga kerja untuk memproduksi kedua komoditi tersebut. 50 tenaga kerja untuk memproduksi pakaian dan 50 tenaga kerja untuk memproduksi tas. Hasil total produksi kedua negara tersebut yaitu:
    • Indonesia : pakaian 40 unit dan tas 20 unit
    • India : pakaian 20 unit dan tas 30 unit
    • Total : pakaian 60 unit dan tas 50 unit
    Berdasrkan informasi di atas, Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam produksi pakaian dibandingkan dengan India, karena 50 tenaga kerja di Indonesia mampu memproduksi 40 tenaga kerja dan India hanya bisa mampu memproduksi 20 unit. Sedangkan India memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi tas karena India bisa membuat 30 tas, Indonesia hanya 20 tas. Jadi Indonesia memiliki keunggulan mutlak dalam memproduksi pakain dan India memiliki keunggulan mutlak dalm produksi tas. Apabila Indonesia dan India melakukan spesialisasi produksi, hasilnya akan sebagai berikut.
    • Indonesia : pakaian 80 unit dan tas 0 unit
    • India : pakaian 0 unit dan tas 60 unit
    • Total : pakaian 80 unit dan tas 60 unit
    Dengan melakukan spesialisasi hasil produksi semakin meningkat. Karena Indonesia dan India memindahkan tenaga kerja dalam produksi komoditi yang menjadi spesialisasi. Sebelum spesialisasi, jumlah produksi sebanyak 60 unit pakaian dan 40 unit tas. Tetapi setelah spesialisasi, jumlah produksi meningkat menjadi 80 unkit pakaian dan 60 unit tas. Jadi keunggulan mutlak terjadi apabila suatu negara dapat menghasilkan komoditi-komoditi tertentu dengan lebih efisien, dengan biaya yang lebih mudah dibandingkan dengan negara lain.
    Teori Keunggulan Komparatif (theoryof comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antar negara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan terapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indoneisa mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah. Sebaliknya, Malaysia mampu memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Mlaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah. Peradagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah
    Dalam teori keunggulan komparatif, suatu negara dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya jika negara tersebut melakukan spesialisasi produksi barang atau jasa yang meiliki produktivitas dan efisiensi tinggi.

    Tugas Perekonomian Internasional.
    A Indra Permana 093401007

  26. Rifka Faradila
    133401024
    Ekonomi Pembangunan

    Pesatnya perkembangan bank di Indonesia membuat Bank Indonesia sebagai bank sentral harus melakukan pengawasan terhadap bank – bank tersebut karena begitu banyaknya bank – bank yang bermunculan. Sesuai dengan peraturan Bank Indonesia nomor 6/10/PBI/2004 tentang sistem penilaian tinkat kesehatan bank umum (lembaran negara republik indonesia tahun 2004 no 38, tmabahan lembar negara nomor 4382) bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan.
    Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek penilaian faktor pemodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas atau sering disebut faktor CAMEL (capital, assets quality, manajemen,earning dan liquidity). Nilai untuk masing- masing faktor dihitung dengan nilai kredit yang bekisar daro 0 – 100, dengna bobot yang berbeda untuk masing-masing faktor.

    Jenis Nilai Kredit (NK) Bobot NK dengan Bobot
    Faktor pemodalan (C) 0 -100 25% 0-25
    Manajemen (M) 0 -100 25% 0-25
    Rentabilitas (R) 0 -100 10% 0-10
    Likuiditas (E) 0 – 100 10% 0-10
    Kualitas aset (AQ) 0 – 100 35% 0-35

    Sesudah menghitung nilai kredit dari masing-masing faktor sesuai dengan bobotnya , maka semua nilai kredirt tersebut di jumlahkan untuk memperoleh nilai kredit terhadap kelima faktor yang dikualifikasikan tersebut. Akan tetapi itu belum menjadi penilaian akhir, karena masih ada beberapa faktor yang akan jadi penambah atau pengurang nilai kredit jika faktor tersebut dilanggar atau dipenuhi.

    Faktor – faktor Dilanggar Dipenuhi
    Kredit Usaha Kecil (KUC) mengurangi Menambah
    Kredit ekspor (KE) mengurangi Menambah
    Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) mengurangi
    Posisi Devisa Netto (PDN) mengurangi

    Jika sudah dilakukan penambahan dan pengurangan nilai kredit, maka hasil penilaian dapat digolongkan menjadi 4 kriteria kesehatan bank :
    1. Sehat 81- 100
    2. Cukup Sehat 66- <81
    3. Kurang Sehat 51- 66
    4. Tidak Sehat 0- <51

    Setelah diketahui predikat dari bank tersebut maka bisa saja terjadi penyesuaian (judgement) atas penilaian yang telah di kuantifikasikan karena terdapat inkonsistensi atau pengaruh materiil terhadap kesehatan bank sehingga mencerminkan tingkat kesehatan bank yang sebenarnya. Adapun hal- hal yang dapat menggugurkan penilaian sehingga menurunkan predikat suatu bank, bila terjadi:
    1. Window dresing
    2. Perselisihan intern
    3. Campur tangan pihak luar
    4. Adanya praktek “bank dalam bank”
    5. Kesulitan keuangan yang megakibatkan pemberhentian dari kliring
    Secara teknis aturan tersebut akan mempermudah Bank Indonesia dalam melakukan pengawasan bank yang mulai menghadapi permasalahan, karena adanya penilaian sendiri secara terintegrasi. Bahkan masalah yang ada pada anak perusahaan pun bisa cepat terdeteksi. Apabila tingkat kesehatan bank menurun menjadi kurang sehat atau tidak sehat serta dalam waktu sembilan bulan tidak bisa ditingkatkan kembali menjadi cukup sehat maka ada kemungkinan bank tersebut akan ditutup

  27. Rifka Faradila
    133401024
    Ekonomi Pembangunan
    Cara Bank Sentral Mengukur Kesehatan Bank Umum

    Pesatnya perkembangan bank di Indonesia membuat Bank Indonesia sebagai bank sentral harus melakukan pengawasan terhadap bank – bank tersebut karena begitu banyaknya bank – bank yang bermunculan. Sesuai dengan peraturan Babk Indonesia nomor 6/10/PBI/2004 tentang sistem penilaian tinkat kesehatan bank umum (lembaran negara republik indonesia tahun 2004 no 38, tmabahan lembar negara nomor 4382) bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan.
    Tingkat kesehatan bank merupakan hasil penilaian kualitatif atas berbagai aspek penilaian faktor pemodalan, kualitas aset, manajemen, rentabilitas, likuiditas atau sering disebut faktor CAMEL (capital, assets quality, manajemen,earning dan liquidity). Nilai untuk masing- masing faktor dihitung dengan nilai kredit yang bekisar daro 0 – 100, dengna bobot yang berbeda untuk masing-masing faktor.

    Jenis Nilai Kredit (NK) Bobot NK dengan Bobot
    Faktor pemodalan (C) 0 -100 25% 0-25
    Manajemen (M) 0 -100 25% 0-25
    Rentabilitas (R) 0 -100 10% 0-10
    Likuiditas (E) 0 – 100 10% 0-10
    Kualitas aset (AQ) 0 – 100 35% 0-35

    Sesudah menghitung nilai kredit dari masing-masing faktor sesuai dengan bobotnya , maka semua nilai kredirt tersebut di jumlahkan untuk memperoleh nilai kredit terhadap kelima faktor yang dikualifikasikan tersebut. Akan tetapi itu belum menjadi penilaian akhir, karena masih ada beberapa faktor yang akan jadi penambah atau pengurang nilai kredit jika faktor tersebut dilanggar atau dipenuhi.

    Faktor – faktor Dilanggar Dipenuhi
    Kredit Usaha Kecil (KUC) mengurangi Menambah
    Kredit ekspor (KE) mengurangi Menambah
    Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) mengurangi
    Posisi Devisa Netto (PDN) mengurangi

    Jika sudah dilakukan penambahan dan pengurangan nilai kredit, maka hasil penilaian dapat digolongkan menjadi 4 kriteria kesehatan bank :
    1. Sehat 81- 100
    2. Cukup Sehat 66- <81
    3. Kurang Sehat 51- 66
    4. Tidak Sehat 0- <51

    Setelah diketahui predikat dari bank tersebut maka bisa saja terjadi penyesuaian (judgement) atas penilaian yang telah di kuantifikasikan karena terdapat inkonsistensi atau pengaruh materiil terhadap kesehatan bank sehingga mencerminkan tingkat kesehatan bank yang sebenarnya. Adapun hal- hal yang dapat menggugurkan penilaian sehingga menurunkan predikat suatu bank, bila terjadi:
    1. Window dresing
    2. Perselisihan intern
    3. Campur tangan pihak luar
    4. Adanya praktek “bank dalam bank”
    5. Kesulitan keuangan yang megakibatkan pemberhentian dari kliring
    Secara teknis aturan tersebut akan mempermudah Bank Indonesia dalam melakukan pengawasan bank yang mulai menghadapi permasalahan, karena adanya penilaian sendiri secara terintegrasi. Bahkan masalah yang ada pada anak perusahaan pun bisa cepat terdeteksi. Apabila tingkat kesehatan bank menurun menjadi kurang sehat atau tidak sehat serta dalam waktu sembilan bulan tidak bisa ditingkatkan kembali menjadi cukup sehat maka ada kemungkinan bank tersebut akan ditutup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s