Kemelut kemanusiaan semakin semerawut, tinggi disebut rendah, atas disebut bawah, yang lebih celaka…gelap disebut terang dan sebaliknya. Buta hati buta pula mata kita, gelap hati gulita pula harapan kita…entahlah ????
Sejak reformasi digelar, suara dukungan menggelegar, banyak tali pengikat dilonggarkan bahkan diputuskan, maksiat bukan lagi urusan masyarakat sebab kebebasan hak azazi manusia lebih dilihat. Maka pengadilan hanya berurusan dengan peredaran video porno, sementara hukum azali Islami yang menuntut hukuman mati bagi penzinah istri bersuami diabaikan, Audzubillah
Hitam putih kemanusiaan yang tengah berlangsung, akhirnya menerbitkan pertanyaan :
1. Jika ada wakil rakyat atau pejabat terbukti korup milyaran rupiah, kemudian hasil korupnya sebagian dicuri maling atau rampok kelas bawahan, siapa yang lebih berat hukumannya ?
2. Jika banyak wakil rakyat menjadi narapidana dan masuk dalam bui yang sama, kemudian mereka melakukan rapat, kira-kira apa yah perbedaan keputusan rapatnya dengan hasil rapat di gedung parlemen ?
3. Jika seorang Presiden berkelakar tentang gajinya yang tidak naik-naik selama 7 tahun menjabat, ternyata sangat direspon oleh pejabat berwenang, namun ketika kaum pekerja yang serius memperjuangkan upah minimum regionalnya ternyata harus berteriak, berdemo, bahkan berkelahi dengan saudara sendiri yang bertugas sebagai pengaman/polisi. Lalu siapakah yang harus dilindungi di sebuah negeri ?, mungkinkah rakyat akan kapok untuk memilih dikemudian hari ?
4. Ketika seseorang melakukan bom bunuh diri dan mengakibatkan banyak korban mati dan luka disebut seorang teroris, namun koruptor yang menyebabkan korban rakyat kekurangan gizi kemudian mengakibatkan kematian tidak disebut teroris ?
5. Ketika kita memiliki minyak yang diambil diwilayah negeri sendiri, bahkan diolah oleh bangsa sendiri, namun mengapa harganya harus mengikuti harga minyak negara lain ?
6. Mengapa orang-orang cerdas lulusan perguruan tinggi hanya jadi pegawai perusahaan,bukan menjadi pemilik perusahaan ?
7. Ketika jumlah penduduk 250 jutaan orang, tapi mengapa pemain naturalisasi lebih berperan memberi aroma persepakbolaan negeri ?
8. Ketika kita memiliki lembah emas, aneka ikan, tanaman perkebunan dan aneka tambang namun penduduk masih miskin ?, siapa sih pemilik kekayaan itu ?
9. Ketika kita memiliki kemampuan membuat dinamo pembangkit listrik (Mw), mengapa masih saja kekurangan listrik ?, dijualkah ?
10. Apakah anda punya pertanyaan yang sama, atau mau bertanya ?

Sebuah pertanyaan biasanya diakhiri dengan jawaban…tapi jawabannya tegantung “siapakah anda”….maka jawabannya akan memerlukan jawaban lanjutan…mungkin akan terjawab dengan pasti ketika kita bersama-sama berkumpul di padang penyesalan, setelah sama-sama sepakat bahwa kepemimpinan hanya milik yang berhak, bukan hasil rekayasa maupun hasil jual beli.

About bwfitri

Saya seorang pencari bukan pencuri, dan saya ingin jadi penggali bukan penggila. Saya terlahir di Kota Kecil Tasikmalaya, keseharian melakuk

One Response »

  1. gugun says:

    http://www.menyimak.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s